Jurnal-Dua

Kakak, aku sudah pulang.

Maaf telat. Hari ini agak ramai. Hujan tidak turun beberapa hari. Berkeliaran di jalan harus lebih hati-hati. Hawa panas tampaknya bikin Orang-Orang Sakit itu berjalan lebih cepat.

Sebentar ya, aku ambil makanan dulu.

Ngomong-ngomong, aku tadi melihat si Bangsat. Iya, si Bangsat yang itu. Anak nakal dari sekolah kakak yang sering ikut tawuran, terus nyuruh orang-orang manggil dia Bangsat Jahanam. Yang pernah bikin teman kakak opname sampai enggak naik kelas karena dia tabrak dengan motornya.

Ceritanya, tadi siang di persimpangan tusuk sate depan rumah pagar hijau, ada anjing cokelat putih tiduran di jalanan. Di anjingnya kulihat ada taburan putih kecil-kecil. Begitu kulihat dari dekat, ternyata belatung. Ulat-ulat gendut pendek putih. Anjingnya mungkin udah mati lumayan lama. Baunya amis, banget. Tapi masih lebih busuk lagi bau Orang-Orang Sakit itu.

Si Bangsat ini ada di sana. Lagi ngegerogotin anjing itu. Sekali lihat, aku tahu si Bangsat ini juga udah Sakit. Matanya merah. Kulitnya pucat, putih kehijau-hijauan, dan kendur berkerut mirip kulit tikus botak. Bajunya sobek-sobek ... dan entah kenapa, celananya enggak ada. Untung dia hadap arah lain. Tetesan-tetesan darah dari daerah selangkangannya bikin aku enggak mau bayangin apa yang terjadi padanya.

Harusnya aku langsung pergi saja. Lama-lama di satu tempat itu berbahaya. Tapi, lalu aku pikir, kakak mungkin ingin ngeliatnya. Dia kadang suka ganggu kakak juga’kah? Jadi, yah, ini dia. Lihat saja. Fotonya memang enggak begitu jelas, tapi aku enggak berani terlalu dekat. Takutnya ada rombongan Orang Sakit lain yang datang gara-gara nyium bangkai anjing itu.

Makanan hari ini? Yah ... adonan tepung yang dikasih gula dan garam, dijemur tipis-tipis di atas seng. Iya, memang, makanan yang parah banget. Salahkan tikus sial waktu itu. Tahu-tahu ngerobek plastik bungkusan tepung. Aku mana tahu kalau tikus ternyata juga rakus makan tepung?

Tapi makanannya memang makin kurang ... Sebelum habis aku harus pergi keluar cari makan lagi. Mungkin besok. Kalau hujan sudah turun.

~

Kakak, mau tahu cerita menarik?

Hari ini aku mengadopsi anak perempuan kecil.

Jangan terkejut begitu kak. Aku sendiri juga masih bingung dengan kejadian hari ini.

Begini ceritanya:

Setelah terakhir aku bicara sama kakak, beberapa hari setelahnya (mungkin tiga atau empat hari), paginya mendung. Terus siangnya beneran hujan. Aku langsung siap-siap. Bawa tas berisi perlengkapan ‘menjelajah’. Aku merapatkan pintu keluar, enggak lupa nutup jalan ke tangga pakai kardus dan palang kayu. Supaya susah ditemukan orang lain. Sebenarnya, Mbak Rok Biru yang duduk di tangga lantai satu saja mungkin sudah cukup untuk ngusir orang-orang biasa masuk sini. Tapi lebih baik hati-hati, kan, kak?

Aku turun pelan-pelan pada tangga sambil memberi salam bisu pada Mbak Rok Biru. Kepalanya yang kita tutupi kain putih masih dikerumuni lalat. Mungkin, kalau kita sudah akan pergi dari sini, aku akan menggali kuburan yang pantas untuknya.

Hari ini aku pergi ke daerah pertokoan dekat pasar ikan. Aku belum pernah lewat sini lagi setelah penyakit sialan itu menulari -hampir- semua orang. Memang bahaya, tetapi tinggal ini satu-satunya lokasi yang belum aku periksa. Kalau memang tidak ada ... kita terpaksa menyerah. Harus ke kota lain, sambil makan ‘makanan jalanan’ lagi.

Keadaan kota seperti biasa: seperti belakangan bulan terakhir ini, mulai kosong. Tidak ada kendaraan lewat. Tidak ada teriakan-teriakan perlawanan dari orang-orang yang masih sehat. Bahkan yang sangat samar sekalipun. Mulai sering aku berjalan dan tidak bertemu kehidupan lain apapun, selain hewan-hewan liar seperti kucing yang melintas, anjing tanpa pemilik yang nampak kurus dan tersesat, serta cicipan burung-burung gereja di pohon-pohon yang jarang ada.

Dan sesekali, Orang-Orang Sakit. Mereka biasa, dulu, berjalan bergerombol, entah didorong oleh insting hidup berkelompok saat mereka masih sehat dulu, atau sekedar karena aroma busuk masing-masing tubuh mereka saling menjadi magnet? Aku belum pernah melihat Orang Sakit memakani Orang Sakit, tapi aku cukup yakin itu terjadi. Karena, bila tidak, ke mana orang-orang, yang Sehat dan yang Sakit, yang tersisa, berada? Keheningan kota selalu membuatku bertanya-tanya apakah aku adalah orang sehat terakhir yang ada di dunia saat ini, walau pemikiran logisku yang membawa argumen keberadaan berbagai pasukan ketentaraan di seluruh dunia, selalu berhasil memenangkan protesnya.

Perjalanan hari ini relatif aman, walau ada satu-dua Orang Sakit yang harus kuhindari dengan cara merangkak di dalam selokan (yang untungnya, tinggal berupa lumpur sedalam tiga sentimenter. Tapi sialnya, sangat licin.)

Kira-kira setelah tiga jam berkeliling, dan aku sudah memasuki tiga minimarket yang berbeda. Dan semuanya kosong. Rak-raknya bersih dari segala barang, kecuali tumpukan debu tebal dan sarang laba-laba. Warung-warung dan gerobak-gerobak di jalan juga tandas, hingga beberapa di antaranya aku kira sebagai gubuk kosong.

Pada minimarket ke empat, keadaannya sama. Namun tepat saat itu, entah karena kelaparan, atau frustasi karena ketiadaan keberuntungan, aku memutuskan untuk menjebol masuk ke dalamnya.

Minimarket itu lebih menyerupai rumah. Ruangan depannya dibangun agar bisa memuat barang-barang jualan. Sebuah pintu kokoh menjadi pembatas antara toko dan tempat tinggal pribadi. Dari dalam tas, aku mengeluarkan sebuah linggis besi: senjata serta alat serba guna yang tidak ingin aku keluarkan kecuali terpaksa. Aku selipkan ujung linggis pada celah pintu yang ada, lalu kudorong kuat-kuat (Walau sudah puluhan kali melakukannya, aku tetap merasa enggak enak, kak-- mengingatkanku pada perampok yang dulu pernah masuk ke rumah kita.) Pintu perlahan terbuka disertai suara nyaring papan patah. Aku langsung berbalik, mengawasi keluar. Takut suara itu mengundang Orang-Orang Sakit datang. Tapi jalanan tetap sepi. Jadi aku masuk kembali.

Pintu yang kujebol membawaku pada sebuah tangga, yang mengarah ke lantai dua. Aku menaikinya dan menemukan tiga buah ambang pintu: satu terbuka lebar, satu tertutup, dan satu terbuka separuh, menampakkan dudukan toilet di dalamnya. Aku masuk ke dalam pintu yang terbuka lebar.

Kamar itu mungkin ruang keluarga. Ada lemari-lemari berukuran kecil dan besar, beberapa dipan berkasur serta tumpukan kasur tak terpakai di ujung ruangan. Mungkin untuk tamu-tamu yang tak kebagian tempat tidur. Seprainya terasa lengket dan penuh debu. Karena nampaknya tidak ada yang berguna, aku keluar dan membuka pintu yang tertutup.

Ruangan yang ini sempit dan gelap. Aku harus memakai senter pensil yang ada di kaitan celanaku. Ternyata ruangan itu sempit karena penuh rak kosong, dan yang lebih kentara lagi lantainya dipenuhi bungkusan-bungkusan plastik sampah. Semuanya menguarkan bau asam hasil fermentasi berbagai jejamuran dan aku langsung menutup kamar itu. Mungkin dulu tempat itu digunakan sebagai gudang penyimpanan barang-barang jualan di bawah, dan sekarang menjadi ruang sampah, entah untuk alasan apa. Yang jelas, tumpukan sampah yang membusuk dan beberapa ekor kecoa tidak akan membantuku sama sekali.

Aku baru akan keluar dari rumah itu dengan perasaan kecewa berat. Namun begitu merasakan hasrat ingin kencing, aku berbalik arah.

Saat itulah aku menemukan anak perempuan kecil itu.

Atau mungkin tepatnya, dialah yang menemukanku.

Aku baru melangkah ke depan kloset (genangan air sangat keruh dan berbau seperti akuarium bekas berumur lebih dari tiga bulan) dan membuka retsleting celanaku .. ketika tiba-tiba kepalaku terhantam sesuatu yang keras.

Pikiran pertamaku adalah, langit-langit toilet tersebut runtuh dan menimpa kelapaku. Untung hantaman itu tidak sampai membuat kesadaranku menghilang (lebih baik aku loncat dari puncak gedung pencakar langit daripada jatuh pingsan dengan kepala masuk ke dalam kakus). Aku segera memeriksa lukaku. Begitu yakin kepalaku tidak bocor (tapi berdenyut sakit bukan main), aku memandang ke sebelah kakiku. Di sana tergeletak sebuah .. batu-bata. Yang aku yakin tidak ada di sana sebelumnya.

Aku mendongak ke atas.

Dan melihat sebuah celah tingkap ke langit-langit yang cukup besar.

Dan wajah seorang anak kecil yang ... dipegang di tangannya, di atas kepalanya, sebuah baskom berwarna biru, yang sudah miring dan siap dijatuhkan ke atas kepalaku.

Refleks, aku melompat keluar.

Lalu suara guyuran air dan kelontang ember jatuh mengikuti setelahnya.

Lalu setelahnya ...

Harum wangi apel.

Tunggu kak. Jangan tertawa, aku serius. Aku tidak mengigau dan mengada-ada. Wangi apel itu sungguhan. Begitu aku masuk kembali, pintu tingkap itu telah tertutup. Dan kamar mandi itu jadi harum berbau apel segar. Penarasan, kudekati aku menyentuh cairan menggenangi seluruh lantai kloset itu ... dan menyadari itu adalah air sabun.

Anak itu ternyata berniat membuatku (atau tepatnya, supaya adil, penyusup di tempatnya) menjadi buta dengan menggunakan sabun.

Taktik yang hebat sekali ya?

Tapi taktik yang gagal.

Dan sebagai akibatnya, malah membuat korbannya (aku) marah.

Namun belum sempat mendorong pintu tingkap itu dan menarik turun anak itu, aku mendengar suara dari arah bawah.

Aku tertegun sejenak, langsung melupakan masalah dengan anak kecil itu sebelum turun dengan linggis pada tangan, siap menerjang keluar toko secara nekat. Namun begitu membuka pintu ke toko, aku berhenti. Aku melihat ada banyak Orang Sakit sudah masuk ke dalam toko itu, dan di pelataran luar rumah itu. Kewarasanku mungkin sudah agak rusak karena aku masih sempat berpikir kalau jumlah Orang Sakit waktu itu sudah cukup untuk membentuk kesebelasan baru.

Kemudian aku tersadar dan lari masuk dan menutup pintu. Lalu teringat pintu itu kuncinya rusak. Karena dicongkel paksa dengan linggis. Inilah karma perampok, jerit pikiranku saat itu. Namun untung pemilik toko itu lumayan hati-hati. Pintu itu ada rantainya. Aku langsung masukkan ujung rantai itu ke celahnya, dan menarik nafas lega sebentar.

Benar-benar cuma sebentar, kak.

Tahu-tahu saja pintu itu kedorong masuk dan rantainya langsung tegang. Teriakanku mungkin cukup keras untuk meruntuhkan satu gubuk lapuk. Hantaman keras lagi, dan setelahnya masuk tangan Orang Sakit. Kulit pucat kehijauan, berkerut-kerut akibat penyakit.

Kejadian selanjutnya agak aneh. Mungkin akibat ketakutan sehingga ingatanku agak kacau. Tangan itu bergerak meraih dengan tepat ujung kaitan rantai, lalu menarik-nariknya. Mencoba membukanya. Seperti orang normal yang mencoba membuka rantai pintu tersebut. Mungkin memang bayanganku saja, sebab tangan itu mendadak meraih-raih liar, disertai geraman mirip hewan marah serta gedoran dan hantaman-hantaman lainnya. Mendadak, rantai pengaman pintu itu tampak tipis sekali. Seolah bukan dari besi, tetapi benang jahit biasa.

Aku ketakutan dan enggak bisa bergerak, sampai mendadak muncul suara seperti bisikan dalam kepalaku, “Aku tidak mau mati.”

Tubuhku langsung bereaksi dan aku lari ke lantai dua. Dari dalam kamar kutarik dipan untuk menutup jalan ke tangga. Depan tangga itu langsung dinding, jadi kalau penghambatnya pas, enggak ada yang bisa lewat sama sekali. Celahnya-celahnya kusumpal dengan laci-laci dari lemari. Celan yang lebih kecil kutambahkan dengan lipatan seprai-seprai. Aku hampir mati karena debu-debu yang menggumpal pada udara dan seluruh permukaan tanganku.

Lalu aku menunggu.

Mendengarkan.

Gesekan rangka-rangka rak pada lantai. Erangan dan gumaman-gumaman tanpa arti. Kemudian yang kutakutkan: suara besi patah dan daun pintu yang mengayun hingga menabrak dinding sampingnya. Dan lebih jelas dari sebelumnya: erangan, gumaman, dan langkah-langkah kaki terseret yang beralaskan sol-sol karet.

Lalu Orang Sakit pertama melangkah tepat di bawah tempatku melongok ke bawah.

Ini bukan kali pertamanya aku berada satu dalam satu bangunan dengan Orang Sakit, kak. Tapi ini kali pertamanya aku benar-benar terjebak--jalan keluar tertutup, tak bisa keluar, tak terpikirkan cara kabur-- bersama Orang Sakit dalam satu bangunan. Dan hanya membawa bekal untuk makan dua kali, dengan porsi kucing piaraan.

Aku mengutuki diriku yang begitu bodoh telah memilih masuk ke tempat ini. Lalu aku mengutuki orang-orang yang sudah duluan mencuri makanan dalam rumah ini. Lalu terakhir aku mengutuki ... siapapun yang menjadi penyebab orang-orang di bawah sana tidak lagi menjadi zombie perkotaan, namun zombie-zombie dalam interprestasi modern yang sesungguhnya. Dan ketika rasa sakit di kepalaku meledak akibat kutekan dalam keputus-asaan, aku mengutuki anak kecil yang melempar bata ke atas kepalaku.

Kemudian, seperti sinar yang menyala dalam kepalaku, aku mendapatkan ilham.

Dengan semangat dan tenaga baru, aku menyeret sebuah lemari kecil dari dalam kamar, yang kutaruh tepat di bawah pintu tingkap dalam toilet. Menggunakan kloset sebagai panjatan awal, aku naik ke atas lemari itu. Aku harus berjongkok agar tidak terantuk langit-langit, tetapi aku lebih mudah mendapatkan tenaga untuk membuka pintu tersebut.

Aku mendorong pintu tingkap itu kuat-kuat. Namun baru terbuka sekitar lebar satu jari, sebuah tekanan kuat menekan pintu tingkap tersebut, membuat keseimbanganku hilang dan aku hampir jatuh dari atas lemari. Namun aku berhasil bertahan, dan kali ini, dengan amarah memuncak, plus tekanan dari lutut dan otot punggung serta perutku, aku berhasil membuka pintu tingkap itu lebar-lebar.

Suara berdebum dan pemandangan seorang anak kecil yang terjatuh dengan punggung duluan di atas kasau menyambutku.

Sebuah lampu senter bergulir ke arahku, dan menyoroti tempat anak itu bangkit dan sudah setengah berdiri. Kami terdiam. Harus kuakui, tatapan mata anak itu membuatku kagum. Dia memang tampak kesakitan dan terkejut, namun ada sejenis sorotan galak pada mata anak itu. Tanpa berbicara, sorotan mata itu sudah memberitahuku agar tidak macam-macam, kalau tidak mau terluka.

Nah, posisiku setengah badan di atas kasau, dan sejak awal, jelas anak itu tidak menganggap maksud kedatanganku baik. Dia benar-benar sudah tersenjatai dengan baik. Coba tebak apa yang dia keluarkan selanjutnya, kak? Sesuatu yang berbahaya? Yah, benar. Dia mengambil dari samping sebuah tiang kasau, sebuah pisau dapur yang panjang besinya saja hampir dua kali ukuran lengannya.

Pemandangan itu amat memukau sekaligus mengerikan. Dan lebih banyak untuk mengejutkannya. Aku tak sepenuhnya merasa terancam. Mungkin karena dia masih anak kecil. Dan pegangannya pada pisau tersebut nampak tak mantap. Tapi aku tak punya alat untuk melawan. Dan aku juga tidak ingin membuat anak kecil ini tambah ketakutan sehingga dia memutuskan bahwa mencungkil keluar salah satu mataku adalah tindakan yang tepat.

Akhirnya, aku mengangkat tangan, dan berkata, “Aku menyerah.”

Tolong jangan tanya pilihan tanggapanku, kak.

Baru setelah aku mengoceh perlahan-lahan, mengatakan aku bukan orang berbahaya, hanya ingin masuk mencari makan -maaf telah membobol rumahmu-, dan sudah memaafkan soal bata itu (bohong), dan tadinya mau keluar, tapi rumahnya sekarang sudah penuh rombongan Orang Sakit, anak itu menurunkan pisaunya. Menurunkannya, setelah mengambil senternya, sambil masih memelototiku, dan setelahnya menjaga jarak sekitar lima meter dariku. Ketika aku yakin mataku tidak tanpa sengaja tercungkil, aku menurunkan tangan dan mencoba memutuskan apa yang harus kulakukan selanjutnya.

Apa aku sudah bilang kalau sepanjang waktu itu, dia tidak berkata apapun, sepatah katapun?

Aku bertanya apa ada jalan keluar lain dari rumah itu. Dia menjawab dengan lambaian-lambaian dan tunjukan tangan yang cekatan (istilahnya untuk gerakan itu mungkin .. bahasa isyarat ya?), dan nampak pula anak itu sadar aku tidak mengerti arti isyaratnya sama sekali. Kemudian anak itu berlari ke sudut kasau dan dari sana membawa secarik kertas dengan tulisan berantakan di atasnya: ikut aku. ada jalan keluar di sini.

Pikiranku tak sempat bersorak gembira. Perlahan, aku memanjat celah tingkap itu dan melangkah ke atas permukaan langit-langitnya. Mendadak, deritan tajam terdengar dari kakiku. Anak itu nampak panik dan dengan sigap membuat tanda-tanda isyarat lain, yang pasti kutanggapi dengan ekspresi dungu karena ia berganti dengan menulis sesuatu di kertasnya: jalan di palang kayu, jangan di papannya. Aku menurutinya. Deritan masih terdengar, tapi tidak semengerikan yang pertama.

Aku melangkah perlahan-lahan sambil menggunakan senterku sendiri, dan sempat berhenti ketika ada satu bagian langit-langit yang mengelupas sedikit, dan dari baliknya aku bisa melihat tangga ... tangga yang penuh dengan Orang-Orang Sakit itu. Aku lupa menutup pintu kamar mandi itu .. dan aku lupa menjatuhkan lemari itu. Apa mereka akan memanjat kemari?

Aku berbalik untuk menutup pintu tingkap itu, namun anak itu menyuruhku diam (dengan isyarat yang paling mudah dimengerti sejauh itu) dan bergerak menutup pintu tingkap itu. Ia menggulingkan sesuatu yang besar dan tampak berat ke atasnya. Ternyata itu adalah tumpukan batu-bata di atas sebuah papan beroda. Pantas saja berat bukan main.

Selesai dengan itu, anak itu mengarahkanku ke tempatnya tadi mengambil kertas. Ia meraba-raba dinding, lalu melepaskan sesuatu yang membuat tempat kami merangkak dalam gelap menjadi terang oleh cahaya matahari dari luar ruangan. Dan aku terkesiap melihat tumpukan benda-benda di samping celah itu: berpuluh-puluh tumpukan kaleng makanan, botol-botol minuman. Ternyata inilah asal tumpukan kantong plastik sampah di lantai bawah: sampah yang anak ini buang setiap harinya.

Anak itu merangkak keluar lewat celah itu (yang harus kurusak lagi agar aku bisa lewat), dan di luar, kami ternyata berada pada atap genting rumahnya. Warna keemasan langit sore menyilaukan dan sudah menyebar ke mana-mana. Tinggal tunggu waktu sampai kegelapan tiba.

Anak itu menunjuk pada pinggiran rumah sebelah, yang jaraknya hanya satu langkah dari pinggiran atap rumahnya. Aku bisa menyeberang dengan sangat mudah dan segera lari menuju keselamatanku.

Namun aku tak segera melompat. Aku berbalik pada anak itu, berterima kasih dengan canggung, yang ia balas hanya dengan anggukan.

Kami terdiam agak lama ...

Dan tiba-tiba saja aku melontarkan ajakan untuk ikut denganku.

Kami turun dari rumah sebelah, lalu berlari bersama dengan keadaan jalanan yang semakin gelap, hingga akhirnya bisa bernafas lega setelah masuk dan mengunci tempat kita sembunyi kini.

Dan dari sanalah tumpukan makanan enak hari ini. Dan seorang anak kecil yang tinggal bersama kita mulai hari ini.

Omong-omong tentang anak ini, dia masih kecil. Mungkin kelas lima atau enam SD. Kurus sekali. Rambutnya sebahu, kusam dan berantakan. Kumal pada bajunya kupastikan karena ketiadaan air yang cukup untuk mandi dengan layak. Aku sudah membawanya ke bak penampungan air darurat di atas, dan sekarang penampilannya sudah agak mendingan. Dari kucing kecil kurus tanpa harapan hidup menjadi kucing kecil kurus yang bisa makan dan pergi ke toilet sendirian.

Dan ia masih tidak berbicara satu kata pun.

Setelah aku selesai memanaskan makanan kami (anak itu punya kompor kecil yang ia izinkan aku bawa), anak itu menunjukkan tulisannya lagi. Huruf-hurufnya jelas walau agak berantakan. Mungkin ini pertama kalinya setelah lebih dari beberapa bulan ia tidak menulis secara manual. Ini, kutaruh di sini agar bisa kakak baca.

namaku mirra. gudang itu punya pamanku. waktu ada kerusuhan, dia menyuruh aku jangan keluar lalu mengunci rumah. aku menunggu sampai berapa hari dan paman enggak balik-balik lagi. lalu banyak yang teriak-teriak di luar. waktu aku intip dari jendela, di mana-mana ribut-ribut. aku takut, jadi aku tetap di gudang. paman enggak pernah pulang.

hampir tiap hari aku mendengarkan siaran radio di gudang. di hari paman pergi, siaran-siarannya masih normal. lusanya ada stasiun radio yang beritain kerusuhan di pabrik kimia besar di dekat bantaran sungai. katanya limbahannya bikin sakit banyak orang. orang-orang minta pabrik itu ditutup.paman kerja di sana, jadi kukira karena itu paman enggak pulang-pulang.

besoknya tahu-tahu ada banyak berita tentang orang-orang pemukiman dekat sungai yang suka tahu-tahu ngamuk dan nyerang orang-orang yang lewat dekat-dekat sana. orang di radio bilang semua orang harus tetap di rumah. setok makanan dan jangan keluar ke mana-mana. orangnya juga bilang kalau siaran akan diputus beberapa hari sampai keadaan lebih baik. tapi siaran itu enggak pernah nyambung lagi. mirra sudah coba siaran-siaran lainnya, tapi enggak ada yang bisa.

sejak itu mirra sendirian. kecuali waktu suatu hari ada yang masuk ke toko di lantai satu rumah paman. dan waktu kakak tahu-tahu datang. mirra ketakutan, karena mengira kakak mau merampok dan membunuh mirra. jadi mirra minta maaf sudah jatuhin batu bata ke kepala kakak ya.

terus mirra memang enggak bisa ngomong. jadi semoga kakak enggak keberatan kalau mirra enggak banyak mengajak kakak ngomong ya.

Lucu ya? Anak dari rumah yang kurampok malah kuajak ke sini. Dan kuberi makan dan serta tempat tidur di sini. Padahal kenal saja tidak. Kalau diingat-ingat, memang ada terbersit dalam kepalaku waktu kami lari ke sini tadi, agar kusesatkan lalu kutinggalkan saja dia di jalan. Makan sendiri saja setengah mati, apalagi ditambah satu anak kecil. Yang tidak bisa bicara pula ...

Mungkin, mungkin saja, kalau anak ini tidak memanggilku “kakak” pada suratnya, malam ini juga aku akan kabur, dan meninggalkan dia sendiri di sini.

Tapi tidak kulakukan.

Iya. Aku memang bodoh, kak.

Maafkan aku.

~

Kakak, ini akan jadi cerita terakhirku padamu.

Aku berterima kasih selama ini kau ada terus untukku, mau mendengarkan segala keluhanku, kemarahanku, hingga gerutuan rasa muak dan bosanku yang hampir tidak ada habisnya.

Sebenarnya, aku ingin menyuguhkan cerita yang hebat untuk kakak. Pengakhiran yang luar biasa untuk perjalanan kita. Tapi nampaknya pemintal benang jalan takdirku ini benar-benar sedang ingin tertawa.

Kira-kira tiga hari lalu, aku demam. Demam yang tidak turun-turun dan membuat anak itu-- Mirra, serta aku sendiri jadi takut karenanya. Maka pada hari ke tiga, tepatnya tadi pagi, ketika hujan turun, kami berangkat mencari apotek. Beda dengan supermarket, apotek relatif bersih dari amukan para penjarah.

Jalanku payah akibat pusing, dan hawa dingin membuatku menggigil berketerusan. Mirra membantuku, tapi aku tetap merasa seperti patung es yang dipaksa bergerak dan berjalan.

Di tengah jalan aku menemukan sebuah apotik kecil. Ke sanalah aku mengarahkan Mirra. Tanpa memeriksa keadaan, aku mendobrak buka pintu tersebut. Inilah kesalahanku yang pertama. Aku memberi tanda agar Mirra menunggu di luar sementara aku masuk, mencari obat yang kubutuhkan.

Kemudian aku merasa mendengar suara dari arah koridor ke ruangan dalam. Kesalahanku yang kedua: meninggalkan senjataku di atas meja. Begitu aku mengira suara itu adalah bayangan belaka, tiba-tiba terdengar suara desisan, mirip gas keluar dari selang yang bocor. Detik selanjutnya yang aku tahu, adalah terjangan seorang wanita berjas putih. Entah kenapa jasnya yang rapi itu amat berkesan di mataku. Rasanya enggak mungkin saja, pakaian seputih dan serapi itu ada di dunia yang berantakan seperti sekarang ini.

Aku mundur dan menghantam sebuah meja, membuat isinya miring bertumpahan ke lantai. Mungkin sebuah botol plastik, atau pensil, jatuh dari meja itu, karena si Nona Farmasi di depanku tahu-tahu terhuyung dan jatuh dengan wajah duluan pada lantai. Memanfaatkan kesempatan itu, aku berbalik dan berlari ke balik meja.

Itulah pertama kalinya aku berdiri sangat dekat dengan Orang Sakit. Baunya luar biasa. Reaksi pertamaku adalah muntah dan reaksi sepersekian detik selanjutnya adalah menahan muntahan. Raut wajah mereka lebih parah lagi. Tidak lagi berfungsi sebagai penunjuk emosi hati, wajah mereka berkerut permanen, mirip ekspresi binatang buas yang marah, seolah hanya memiliki pikiran tunggal: untuk memangsa makhluk hidup apapun yang berdiri di depan mereka.

Aku seharusnya langsung lari; tapi kesalahan ketigaku, aku terlambat.

Si Nona Farmasi telah telanjur berdiri-- dengan gerakan yang normal, perlahan, dan lentur. Kurasa kali ini aku tidak berhalusinasi. Entah bagaimana, Orang-Orang Sakit ini memang terkadang bisa bergerak normal, walau hanya untuk waktu singkat. Dan yang membuatku terkesima, bukannya menerjang membabi buta, wanita itu malah berjalan dengan gerakan begitu normal—begitu normalnya hingga aku merasa ngeri sendiri—ke samping meja dan –aku tidak akan percaya kalau tidak melihatnya sendiri—mengangkat sebuah mikroskop dan melemparnya ke kepalaku. Ledakan rasa sakit dan terkejut dan kengerian membuatku kehilangan pikiran sesaat.

Aku gantian jatuh terhuyung, nampaknya sekalian menyeret jatuh beberapa benda lain ke atas lantai. Desisan Nona Farmasi itu terdengar semakin keras .. dan tanganku meraih dan berhasil menggenggam sesuatu yang keras. Yang terjadi setelahnya aku tidak begitu ingat.

Yang kuingat setelah itu, aku berdiri di bawah curahan air dari saluran pipa buangan air hujan. Aku menggigil keras, dan mungkin rasa dingin itulah yang membuat pikiranku kembali. Bajuku terlepas, ada di samping kakiku. Noda cokelat gelap mengotori bagian depan kaus itu. Aku memandangi tanganku, melihat noda gelap di ujung-ujung jariku. Bagian yang tak berhasil terhapus curahan air di atas kepalaku.

Sekejap, aku langsung tahu apa yang terjadi di dalam sana.

Mirra masih ada. Berdiri agak jauh dariku, memegangi tasku. Melihatku dengan rasa takut yang kentara.

Aku mengenakan pakaian lain dan segera mengajak anak itu mencari tempat perlindungan lain. Kali ini sebuah ruko bertingkat dua, dengan palang tanda sewa yang kucongkel lepas dari pintunya.

Ketika malam tiba dan Mirra sudah tertidur, aku memeriksa tubuhku. Dan menemukannya. Goresan tipis di lengaku, yang sewaktu siang tadi, menempel darah si Nona Farmasi. Kusentuh, dan walau hanya sedikit, luka itu terasa perih. Hadiah intim sebelum aku membunuhnya. Mengakhiri deritanya.

Aku sudah terlalu banyak membaca fiksi tentang virus mematikan picisan untuk menduga nasibku selanjutnya.

Aku akan pergi sebelum anak itu bangun.

Aku akan meninggalkan peta. Penuh petunjuk tempat-tempat persembunyian aman yang aku tahu, dan tempat terakhir yang sewaktu kutinggal, masih ada air bersihnya. Sisanya tinggal makanan. Tapi keberuntungan anak ini lumayan. Ia pasti bisa bertahan kalau tidak melakukan kecerobohan fatal seperti diriku.

Dan aku akan memasukkan catatan ini ke dalam tasnya. Kuharap kau tidak keberatan ia membaca percakapan pribadi kita. Mungkin kau akan marah. Tapi aku tidak ingin catatan perjalanan kita musnah, tanpa kemungkinan pernah ditemukan dan dibaca orang lain.

Foto keluarga kita sudah kuambil. Sekarang aku akan kembali ke rumah. Tempat di mana seharusnya aku sudah sampai dari dulu-dulu sekali. Untuk menjemput dan membawa kakak pergi dari sana.

Aneh. Tiba-tiba aku rindu ayah dan ibu. Padahal sudah beberapa bulan ini aku hampir tidak pernah sekalipun teringat mereka. Kenapa ya kira-kira?

Ini hanya tetesan air, kak.

Tidak. Aku tidak menangis.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer ryandachna
ryandachna at Jurnal-Dua (6 years 23 weeks ago)
90

si penulis mungkin ga nangis, tapi aku iya. :((

andai dia dapet Undangan yang Terlalu Panjang...

Writer nagabenang
nagabenang at Jurnal-Dua (6 years 21 weeks ago)

heyah, senang anda menikmati cerita ini :) terima kasih atas komentarnya :D