Bisikan Setan

PERNAH ADA sesosok setan yang lama tergiur akan catatan bersih seorang manusia. Pria itu telah lama menjadi perhatian sang Setan. Seakan Setan itu dilahirkan dari bara api untuk menguji si pria tersebut. Sedangkan si manusia sendiri, sadar bahwa cepat atau lambat makhluk gaib akan menyesatkan imannya.

Khalayak takdir telah menemukan mereka. Tinggal sejarah yang mencatat perjalanan mereka.

“Kudengar kau mengaku sebagai manusia yang tak pernah berbuat dosa,” desis Setan pada kunjungan pertamanya. Dari mulutnya, menjulur lidah api ketika ia menyingkap dan mengatup lubang bergerigi tajam itu. “Tapi dari apa yang kulihat, kau sama sekali tak tenggelam ke dalam sisi tergelap dari dunia ini. Kau tak bisa mengklaim tidak pernah berbuat dosa jika kau belum berkunjung ke sana.”

Tanpa berpikir dua kali, pria itu berkata dengan kepercayaan diri yang melampaui tinggi langit ke empat. “Tunjukkan aku jalannya. Kuyakin aku bisa menahan godaanmu.”

Lalu, dengan kecepatan yang sama seperti ia datang dari neraka, Setan itu membawa sang pria ke dalam sisi tergelap dunia; sebuah tempat dimana kau tak bisa hidup dengan mempercayai orang lain. Satu-satunya cara untuk bertahan hidup adalah berdusta dan mencari celah agar dapat menikam orang lain dari belakang, hingga kau berdiri sendiri di urutan terakhir dari siklus kehidupan di daerah itu.

“Aku tak akan menggodamu dengan bisikan layaknya setan lainnya,” ujar sang Setan. “Aku hanya menunjukkan kebenaran dunia yang lama terselubung oleh kehidupan sempurnamu, jika kau bisa hidup di sini tanpa berbuat dosa selama—minimal—satu tahun, maka aku akan mengakui kalian manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna.”

Tanpa basa-basi—dan percaya diri—pria itu menyanggupinya. Tepat setelah mereka berjabat tangan, makhluk sesat itu langsung lenyap dari pandangan.

Seminggu telah berlalu. Setan belum mendapati kabar apa-apa dari pria itu. Catatannya masih bersih, ia masih belum berbuat dosa. Maka dengan perasaan kesal bercampur penasaran, ia mengunjungi sang pria, dan mendapati sesuatu yang berbeda dengannya.

“Aku membutakan mataku,” aku pria itu, ketika mendengar Setan datang dari balkoni rumah barunya. “Di luar mereka saling membunuh dan mengkhianati satu sama lain—tak ada yang sudi memimpin mereka dan tak ada yang sudi menertibkan mereka. Maka aku membutakan mataku—dengan begitu aku tak perlu terjerumus ke dalam lingkungan sesat mereka.”

“Tak perlu? Kawan, mereka saling membunuh tidak tanpa alasan. Mereka membunuh orang lain sebelum mereka yang dibunuh. Seleksi alam, kata mereka, yang terkuat—dalam hal ini yang tercepat—maka ialah yang menang. Jika kau tak ikut dalam ladang pembunuhan ini, maka kaulah yang akan dibunuh.”

“Bagaimana jika kau salah?” tantang pria buta itu.

Setan itu tertawa kecil, dilanjuti oleh keheningan yang cukup panjang. Mereka saling menatap, walaupun sang pria tak dapat melihat apa yang seharusnya ia lihat, namun ia dapat merasakan betapa tajamnya sorotan mata Setan menulusuk dirinya dari sisi indra yang lain.

“Baru satu minggu,” desis Setan. “Dan kurasa membutakan matamu saja tak bisa menyembunyikanmu dari pengelihatan dunia ini,” ia mengambil jeda. “Ingat, manusia, waktunya satu tahun, tapi kusarankan kepadamu untuk menyerah sekarang juga. Kau tak akan merugi jika menyerah.”

“Dan membuktikan padamu bahwa manusia adalah makhluk yang lemah? Tidak akan.”

“Kalau begitu aku akan segera pergi dari sini. Pertemuan ini tak berarti apa-apa.”

Dari balkoni tempatnya masuk, Setan tersebut melompat ke udara bebas dari rumah bertingkat. Udara menggesek seluruh permukaan tubuhnya yang terbuat dari api, membuat percikan lidah api yang mengubah tekanan udara sekitar. Saat hampir menghempas keras tanah di bawah, Setan itu telah menghilang menjadi percikan-percikan api yang lebih kecil dan dalam sekejap ia berada di rumah lamanya, neraka.

Bulan pertama berlalu tanpa ada berita apa-apa dari sang manusia. Begitu juga bulan kedua. Di sarangnya, Setan mulai khawatir. Memang ia tak akan kehilangan apa-apa jika ia kalah dalam taruhan ini. Namun, mengakui kesempurnaan manusia adalah hal yang paling ia benci.

Maka Setan itu kembali mengunjungi sang pria. Saat ia membuka pintu balkoni, tak ada yang menyambutnya dengan suara dingin dan sinis. Sang manusia hanya duduk kaku di mejanya.

“Apa yang terjadi dengan telingamu?” tanya Setan, tidak dengan bahasa duniawi, melainkan dengan bahasa jiwa. Dengan demikian, si manusia tak perlu menggunakan telinganya yang telah mengucur darah mengering dari dalam gendangnya untuk mendengar suara Setan.

Manusia itu tersentak, dan langsung menoleh ke arah balkoni. Ia tersenyum sesaat mendapati ekspresi heran di wajah Setan.

“Aku membuatnya tuli,” jawab pria itu. “Terlalu banyak bisikan dan erangan yang menyesatkan. Aku khawatir semakin banyak yang kudengar, maka semakin dalam aku tertarik ke dalam komunitas mereka.”

Setan itu tersenyum, bara api mencuat dari sudut bibirnya. Udara sekejap berubah hangat, sang pria dapat merasakan lewat pori-pori kulitnya yang mengering. “Rupanya kau benar-benar tak ingin menyerah, heh?”

“Memang begitu seharusnya. Manusia memang sudah ditakdirkan untuk lebih mulia daripada setan. Seharusnya kau terbiasa dengan itu.”

“Tapi setan ada untuk melenyapkan doktrin itu. Selama setan ada, maka manusia tak akan pernah bisa menggapai kemuliaannya.”

“Kau salah,” desis pria itu tajam.

“Bagaimana jika kita lihat saja nanti? Sepuluh bulan, waktunya masih lama,” Setan tersebut menyeringai optimis. Kemudian melejit cepat ke luar balkoni; menghilang bersamaan dengan percik api di udara bebas.

Sejak saat itu sang Setan terus mendekam di neraka, menunggu berita tentang manusia favoritnya. Lima bulan telah berlalu, ia berniat untuk mengunjungi manusia itu lagi, namun ia mencegah dirinya sendiri untuk keluar dari neraka. Ia merasakan semakin banyak yang dikorbankan manusia tersebut untuk lolos dari dosa, maka semakin sakit rasanya untuk menerima fakta. Sebaiknya Setan itu menunggu hingga sang manusia benar-benar kalah.

Akan tetapi empat bulan berlalu lagi, dan manusia itu masih bersih. Sisa satu bulan, waktu hampir habis untuk si manusia memperoleh kemenangannya. Di nerakanya sendiri, sang Setan terus menghabiskan waktu dengan mengeluarkan keringat dingin dari pori-pori kulitnya yang seharusnya tahan panas itu. Tak jarang ia mondar-mandir di sekitar kursi kesayangannya, tak betah duduk diam dan menunggu kekalahan seperti orang dungu menunggu ajalnya. Ia harus melakukan sesuatu. Sepanjang sejarah, Setan selalu melakukan hal-hal licik dan picik untuk mencapai tujuannya. Tapi apa? Kali ini ia benar-benar cemas dan kebingungan. Seharusnya ia bersikap kepala dingin sekarang, tidak gundah seperti ini. Ia adalah sang Setan, pembisik kesesatan. Pembelok kebenaran. Tapi jika waktunya sudah dekat untuk mengakui kehebatan manusia, maka kepalanya sendirilah yang akan pecah sebentar lagi.

Setan itu akhirnya berniat untuk menyerah. Lebih baik langsung menyerah daripada menjalani hari dengan rasa takut akan kekalahan. Maka ia mengunjungi manusia itu, menawarkan kekalahannya.

“Kau benar,” ujar Setan cepat setelah ia membuka pintu balkoni. “Aku kalah, aku kalah oleh seorang manusia. Jika kau izinkan, biarkan aku mengembalikan mata dan telingamu sebelum aku mengakui bahwa kaum setan memang lebih rendah daripada manusia.”

“Apa itu adalah salah satu trikmu?” tanya manusia sinis. “Jika memang demikian, maka aku tak akan mempan.”

“Bukan begitu, aku mengira bahwa permainan bodoh kita ini membuang-buang waktu, dan memang membuatmu buta dan tuli adalah sebuah kesia-siaan. Kau tak bisa merasakan apa yang ada di luar sana—“

“Di luar sana hanyalah kepicikan dan kesesatan. Aku tak perlu merasakannya.”

“Benar. Tapi bagaimana jika kau kembali ke rumah lamamu? Rumah dimana kau dapat merasakan kehangatan dan kebahagaiaan yang dulu sempat mengisi hari-harimu?”

“Itu adalah masa lalu. Masa lalu tak usah diperdebatkan, yang berlalu biarlah berlalu.”

Tiba-tiba pintu kamar itu tersingkap, seorang bocah dengan koper kecil yang dipeluk di dadanya langsung menerobos ruangan itu, berhenti tepat di hadapan seorang yang buta dan tuli. Pria itu dapat mengetahui kehadiran bocah itu dengan nalurinya, hanya saja tak dapat merasakan dengan indranya.

“Siapa itu?” suara pria itu hanya menggema di seluruh ruangan. Tak ada yang menjawabnya.

Dengan suara yang tersengal-sengal bocah itu mencoba menjelaskan kedatangannya, tetapi percuma, sang pria tak mendengar satu patah kata pun.

Setan, yang kehadirannya tak dapat dirasakan oleh si bocah, mencoba menjadi perantara di kedua makhluk fana itu. “Ia hanyalah seorang bocah yang mencari perlindungan di rumahmu. Orang-orang yang keji tengah memburunya, ingin mencabik-cabik isi perutnya hingga keluar semua.”

Pria itu terdiam sesaat. Wajahnya pucat, telah berubah putih tak seperti wajahnya yang berseri di hari-hari sebelumnya. Kemudian ia berbalik, berjalan ke arah lemari yang tak dapat ia lihat, tetapi hafal betul letaknya.

“Bersembunyilah di sini,” saran pria itu, membuka daun pintu lemari. Kemudian, ia dapat merasakan ubun bocah itu yang menyenggol sikunya. Ia menutup pintu lemari itu, menghampiri pintu kamarnya, menutup jalan masuk itu, dan akhirnya kembali duduk di mejanya.

Ia terdiam seperti patung. Ketika orang-orang datang kepadanya, maka ia akan menjadi seorang buta dan tuli yang baik. Mereka tak akan menanyainya dan ia tak perlu berdusta untuk itu.

Tetapi belum ia membuat dirinya merasa tenang, Setan itu menyerukan hal yang langsung membuat bulu kuduknya merinding. “Bocah itu menangis!” seru si Setan, kepada pria tuli. “Aku dapat mendengar langkah-langkah berat mendekat dari bawah. Jika bocah itu tak menghentikan tangisannya, maka mereka akan menemukannya!”

“Aku tak dapat mendengar dan melihat, bagaimana aku bisa menenangkannya jika aku sendiri tak tahu orang-orang yang memburunya sudah berada di ruanganku?”

“Ambilah telinga dan matamu kembali. Kau bisa awas ketika tengah menenangkan bocah itu! Aku bersumpah, mata dan telingamu hilang karena ulahku. Sudah sebuah keharusan bagiku untuk mengembalikan apa yang kau miliki, dan kau tak perlu berdosa karena itu!”

Pria itu terdiam, nampak menimbang. Tapi ia tahu saat ini bukanlah saat yang baik untuk menimbang. Nyawa seorang bocah ada di tangannya, dan ia tak tahu apakah orang-orang itu sudah mendekat apa tidak.

“Baiklah, kau kembalikan mata dan telingaku, sekarang juga!”

Pada saat yang bersamaan, sang pria dapat merasakan spektrum cahaya masuk melewati pupilnya. Sebuah sensasi merinding menjalar, dari rongga matanya langsung menyebar ke seluruh tubuhnya. Sensasi itu hanya sesaat, akan tetapi ia dapat merasakan seluruh tubuhnya gemetar karenanya.

Pemandangan yang pertama kali ia lihat adalah kamarnya, yang kondisinya sudah jauh berbeda saat ia pertama kali datang kemari. Yang ia dengar saat itu adalah, sebuah tangisan bocah dari dalam lemari. Yang kedua kali ia dengar kemudian, pintu kamarnya didobrak oleh seorang lelaki berbadan gempal. Dari belakangnya, muncul beberapa lelaki yang tak kalah gempalnya. Semuanya berwajah bengis dan marah.

Pria itu terlambat. Benar-benar terlambat.

Salah satu dari mereka langsung berjalan menghampiri lemari, asal suara tangisan itu. Pria tersebut tak dapat berbuat apa-apa, sebuah golok yang mengancam lehernya membuatnya bungkam dan tak berkutik. Dan pada titik ini, tak ada bantuan dari Setan.

“Bocah ini telah mencuri dari kita!” ujar seorang lelaki bengis dengan golok di tangannya. Bahkan mereka semua memegang golok di tangan mereka. Pada saat lelaki itu mengeluarkan bocah itu keluar lemari, terjerembap ke lantai dengan tangisan yang semakin menjadi-jadi, semua orang langsung menyorakinya dengan penuh semangat. Golok-golok mereka langsung diangkat, menggantung di udara seakan mereka tengah berbagi ancang-ancang yang sama. Saat mereka semua mengayunkan golok mereka ke satu arah terpadu, pria itu langsung membuang pandangannya, memejamkan matanya sekuat mungkin. Berharap matanya buta untuk kedua kalinya.

Tetapi tetap saja, teriakan bocah yang miris itu telah mengiris hati sang pria. Air matanya pun meleleh lewat celah di matanya yang telah kuat mengatup.
 

***


“Sekarang kau sudah melihat sisi tergelap di dunia ini. Apakah kau bisa lari darinya? Atau apakah hal itu akan mengubahmu menjadi makhluk yang sama sekali berbeda?”

Pria itu terdiam di duduknya. Ia menghadap ke arah balkoni, dan pandangannya jauh menerobos langit biru di luar sana. Di pelupuk matanya, menggenang air mata yang tak henti-hentinya mengering. Mulutnya menganga seakan kondisi mentalnya tak ada hubungan dengan perkara buana.

“Kini kurasa kau sudah terjebak di dalam sisi tergelap ini. Berapa kali pun kau membuat matamu buta dan telingamu tuli, tetap saja semua akan sia-sia. Karena tujuan dari tindakanmu itu adalah menjagamu tetap di luar pagar. Dan kini kau terjebak di dalamnya. Ck, apa yang akan kau lakukan sekarang, heh?”

Pria itu tak menjawab, sikap diamnya masih seperti seorang yang mengalami keterbelakangan mental. Kepalanya terasa berat hampir-hampir ia sendiri menjatuhkan tengkoraknya ke lantai karena tak tahan pada beban tersebut.

Sekarang si manusia bukan lagi seseorang yang bisa diajak berdebat seperti dulu. Bukan lagi seorang yang bisa membangkitkan gairah serta rasa pensaran si Setan. Maka ia mendesah, kemudian pergi saat merasa tak ada urusan lagi dengan pria itu.

Sang pria mendapati Setan itu menghilang di dalam udara tipis saat meloncat dari balkoni. Ia masih terdiam. Di kakinya, darah basah membanjiri lantai.

Keesokan harinya Setan kembali ke rumah itu. Tapi tak ada siapa-siapa. Pintu balkoni terbuka, maka ia melangkah masuk tanpa ragu. Ia memeriksa ruangan, kemudian ia yakin sang pria tak ada di sana. Ia mendekat ke arah mayat sang bocah. Lalu berlutut di sebelahnya, menatap hasil kekejian kemarin untuk beberapa saat. Kemudian, dengan kekuatan magisnya, ia mengubah mayat dan noda darah di lantai menjadi debu-debu hitam pekat yang langsung masuk ke dalam guci kecil yang terikat di ikat pinggangnya.

Akhirnya ia bangkit. Matanya mencari-cari lagi ke segala arah sebelum ia hendak pergi dari tempat itu. Akan tetapi, sebelum ia meloncat dari balkoni, ia mendapati sebuah pemandangan yang membuat hatinya meletus puas di bawah sana. Sekejap tanpa di sadari, senyumnya mengembang. Mata berapinya menyala-nyala penuh kebanggaan menatap ke bawah.

Pria itu tewas; seluruh tulangnya remuk dan tempurung kepalanya pecah. Isi kepalanya berserakan keluar di tanah seakan-akan seluruh kebersihan dan kebanggaannya hilang bersamaan dengan merah darah yang telah meresap ke dalam sari tanah.

Sang Setan pulang ke nerakanya, membawa berita kemenangan dari dunia fana.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Gitta-chan
Gitta-chan at Bisikan Setan (3 years 43 weeks ago)
90

woh, ini rapi!
eh, nemu typo.
By the way, saya nangkep isi cerita ini apa, dan ini bagus. #dan berhubung saya lagi males komen panjang-panjang, sgini dulu aja, ya. Ohohoho~

#minus 1 poin karna typo yaa~

Keep writing, ya kak!

Writer NodiX
NodiX at Bisikan Setan (3 years 42 weeks ago)

typo, sebelah mana?

kenapa gak disebut aja sekalian -___-

Writer NiNa
NiNa at Bisikan Setan (3 years 45 weeks ago)
80

Ini bagus sekaliii :) gambaran kehidupan manusia sehari-hari, cerita ini mewakili dalam skala lumayan besar

Yah, terkadang memang orang yang 'bersih' ketika tiba-tiba dihadapkan pada ujian yang berat (sebelumnya belum pernah mengalami) akan lebih gampang tergelincir.

Saya jadi teringat, setan lebih gampang menggoda ahli ibadah daripada ahli ilmu... segala sesuatu membutuhkan ilmu, beribadah juga, pun saat kita dihadapkan pada hal-hal genting... apabila kita belum berilmu, lebih baik segera belajar atau bertanya pada yang lebih tahu... dan jujur, dari sini pun godaannya memang banyak sekali, sulit :)

Writer NodiX
NodiX at Bisikan Setan (3 years 43 weeks ago)

tq komennya