Pembalasan Dendam Choco, Sang Kelelawar Jahat

Choco adalah seekor kelelawar peliharaan Tuan Quol, seorang drakula yang hidup di puri besar di atas bukit yang bersalju lebat di musim dingin, berbunga indah di musim semi, terik di musim panas, dan berangin di musim gugur.

Kehidupan Choco bersama Tuan Quol tidak begitu menyenangkan (atau setidaknya begitulah yang dipikirkan Choco). Pertama dan yang terutama, karena Choco tidak suka dengan namanya!!!

Choco... cokelat, makanan kesukaan anak-anak juga Tuan Quol.

Iya, betul! Tuan Quol adalah drakula penyuka cokelat. Aneh sekali, bukan? Walau disebut drakula, dia lebih suka mengemut cokelat batangan lama-lama (seperti anak kecil memakan permen!) alih-alih menggigitnya cepat-cepat.

Dan Choco diberi nama "cokelat" hanya karena Tuan Quol suka dengan makanan itu! Aaaah! Padahal warna tubuhnya sendiri hitam kelam... menakutkan! Tapi, namanya malah Choco! Terlalu imut! Tidak ayal, Choco kesal karena kesan kengerian dalam dirinya sebagai makhluk malam malah hilang berkat nama itu.

Apalagi musim-musim ini adalah musim yang membuat Choco semakin, semakin, semakin kesal dan menderita! Betapa tidak? Sebentar lagi bulan Oktober tiba!!!

Bagi Choco, Oktober = Halloween.

Dan Halloween = (permainan konyol) Trick or Treat = anak-anak di kaki bukit akan semakin ribut meminta permen atau cokelat.

Ugh, COKELAT!!!

Dan namanya akan digaung-gaungkan oleh seluruh anak di penjuru dunia (walau dalam bahasa yang berbeda)!

"CHOCO! CHOCO! CHOCO!" diteriakkan berkali-kali... namun tidak dengan raut ketakutan maupun kengerian seperti yang diharapkannya! Melainkan dengan tawa dan jerit kebahagiaan!!!

Aaaaah!!! Tentu saja semua itu tidak boleh terjadi!

Choco adalah kelelawar MENGERIKAN peliharaan seorang drakula MENAKUTKAN! (atau seharusnya begitu)

Betapa Choco malu pada dirinya... pada teman-temannya sesama kelelawar yang hidup bebas di gua yang ditakuti manusia karena takhayul bahwa kelelawar adalah pembawa pesan kematian (walau itu tidaklah benar, Choco tahu pasti karena dia tidak pernah mendengar ada yang mati setelah bertemu dirinya dan Tuan Quol saat mereka berbelanja cokelat ke pasar).

Choco ingin menjadi kelelawar yang ditakuti semua orang. Terutama anak-anak!

Begitu hari Halloween tiba, anak-anak pasti akan mendatangi puri terpencil Tuan Quol (Choco tidak habis pikir mengapa para orangtua mengizinkan anak-anaknya berkeliaran di malam hari, apalagi ke rumah seorang DRAKULA). Mereka PASTI akan datang.

Nah... inilah saat yang ditunggu-tunggu Choco! Karena ia punya kesempatan untuk membalaskan dendamnya pada manusia yang menganggapnya lucu dan menggemaskan (kalau sedang keluar bersama tuannya, banyak ibu rumah tangga yang menyapanya sambil tersenyum, malah kadang kala mencubitnya gemas).

Halloween adalah hari untuk "all or nothing" baginya! Pilihan bagi kelelawar itu hanyalah balas dendam sampai puas atau kembali dilecehkan anak-anak yang meminta "choco" pada Tuan Quol!

Wajar kan? Karena namanya sering dijadikan guyonan oleh Tuan Quol dan anak-anak tiap Halloween! Ketika anak-anak berisik itu bilang "Give me choco!" tuannya malah benar-benar memberikan Choco pada mereka! Choco, dirinya! Bukan choco "cokelat" (dalam arti harfiah)!

Jahat! Jahat! Mereka semua jahat! Baik anak-anak kurang ajar itu, maupun Tuan Quol! Semua yang ada di dunia ini jahat padanya!

Choco akan membalas dendam!

BALAS DENDAM!

Ya... kata-kata itu begitu menggelora dalam dada Choco. Ia hidup untuk masa-masa ini.

Ah, balas dendam!

Hanya dengan mengucapkannya, Choco sudah merasa dirinya begitu JAHAT dan MENGERIKAN!

Balas dendam!

Choco langsung merasa dirinya jauuuuuh lebih KEJI dibanding para penyihir/ratu dan raja jahat/naga/ibu tiri di dongeng-dongeng.

"Si Jahat Choco"

Dirinya akan menjadi berita utama di surat kabar wilayah dengan judul itu. Bahkan mungkin sampai ke surat kabar seberang samudra.

Dirinya akan terkenal! Sebagai PENJAHAT yang berhasil membuat sebuah pesta Halloween kacau-balau!

Sudah waktunya mempersiapkan rencana balas dendam... Choco tahu dia pasti akan sibuk mulai saat ini....

Lantas, Choco pun tertawa sembunyi-sembunyi, terbawa suasana hati dan angannya sendiri.

***

 

"Vwavwavwavwa..." tawa Tuan Quol, "Aku tidak tahu kalau kau bisa membuat cokelat, Choco!"

Choco, sang kelelawar MENAKUTKAN, sejak pagi buta sehari sebelum Halloween sudah menyibukkan diri di dapur puri Tuan Quol, sang drakula dengan rambut merah manyala yang khas. Sang tuan masih mengenakan piama kebesarannya yang berwarna jingga-emas. Perut buncitnya menyembul dari balik kancing-kancing putih.

Melihat tuannya dengan piama itu, hanya satu yang terlintas di pikiran Choco: tuannya perlu diet.

Tapi tidak untuk hari ini! Choco sama sekali tidak ingin tuannya diet! Tidak perlu memedulikan berat badan! Yang penting tuannya harus makan banyak hari ini!

Tentu saja karena itu termasuk rencana JAHAT Choco! 

Seperti yang tuannya katakan, Choco sedang membuat cokelat. Cokelat rahasia yang bukan cokelat biasa.

Choco sekilas menengadah dari kualinya (kelelawar hitam kecil itu perlu tenaga ekstra besar untuk mengaduk cokelatnya dengan sendok pengaduk dari kayu sementara dirinya harus terus bertahan terbang dengan stabil di atasnya), ia menatap tuannya yang tampak antusias memerhatikan cokelat cair di dalam kuali sampai-sampai liurnya menetes.

Choco pun tertawa dalam hati.

Bagus! Ini sesuai dengan rencananya! Rencana JAHAT dari seekor kelelawar JAHAT!

Membuat cokelat BERACUN!!!

Memang benar, Choco sekadar meniru kelakuan dari tokoh-tokoh jahat favoritnya di buku-buku dongeng murahan yang sering ia temukan di toko buku bekas di pinggiran kota (karena di puri Tuan Quol hanya ada buku-buku berjudul "Menjadi Drakula Baik Hati", "Tips Berteman dengan Manusia", "Mengenal Tabiat Anak-Anak", dan sebagainya!).

Tuan Quol mengelus-elus dagunya sejenak (Choco memerhatikan janggutnya sudah tumbuh sedikit, namun itu malah membuat sang tuan tampak berantakan). Pria drakula itu masih menatap cokelat yang mendidih... lantas membujuk, "Bolehkah kucoba? Kelihatannya enak sekali... harumnya membuat perutku keroncongan, Choco."

Choco yang sudah menebak kelakuan tuannya, segera menggeleng tegas: tidak boleh. Kelelawar itu merentangkan sendok pengaduknya di atas kuali, cukup untuk membuat tuannya mundur.

TAPI! Dasar Tuan Quol! Dia malah seenaknya mencolek cokelat yang ada di sendok pengaduk Choco dengan jarinya! Lantas mencicipnya!

"Cap cap cap," Tuan Quol menjilati jarinya, menikmati cokelat kesukaannya.

Gawat! pikir Choco. Cokelat itu memang sudah diberi ajian rahasia kelelawar yang dipelajari Choco dari kakeknya (yang dulu juga menemani kakek dari Tuan Quol)... tapi, belum pernah ada yang tahu khasiatnya jika dimakan oleh seorang drakula!

'Wahai Cucuku... ingatlah, ini ajian khusus untuk melindungi tuan-tuan kita. Tentu saja akan berpengaruh jika digunakan pada manusia dan para hewan... tapi, entah bagaimana jika dimakan drakula. Sebaiknya jangan pernah mencobanya, Cucuku.'

Choco bergidik mengingat petuah sang kakek.

Bagaimana mungkin dirinya bisa begitu ceroboh membiarkan tuannya yang penyuka cokelat ke dapur?

Dengan takut-takut, Choco mengintip ke arah tuannya yang mendadak terdiam.

Apakah yang terjadi?

"Cap cap cap..."

Ternyata masih dengan tenangnya mengecap cokelat buatan Choco.

Choco mengerutkan dahi. Tuannya ternyata tidak apa-apa? Lantas Choco menghela napas lega. Berarti kakeknya hanya belum pernah mencobanya ke drakula. Toh, sepertinya Tuan Quol baik-baik saja.

"Vwavwavwa... masih jauh lebih enak cokelat buatan bibi pemilik toko manisan di kota! Sayang sekali, Choco~ meski aku bukannya tidak suka buatanmu, sih... hanya saja, rasanya agak aneh?"

Lantas drakula penyuka cokelat itu pun menghilang di balik pintu dapur masih dengan tawa 'vwavwavwa'-nya yang khas (hingga sering ditiru anak-anak di lingkungan sekitar. Dan jujur saja, Choco terkadang muak dengan tawa anehnya itu karena sama sekali tidak menakutkan!).

Tidak masalah jika rasanya tidak enak. Choco menyeringai licik. Toh, yang ia buat adalah cokelat BERACUN! Penampilan yang menjijikkan dan mengerikan adalah inti dari makanan beracun! Itulah ciri khas makanan buatan tokoh JAHAT! Karena Choco adalah kelelawar JAHAT nan KEJAM!

Ya, ia harus membuat cokelatnya nampak lebih menjijikkan dan menakutkan.

Diam-diam Choco pun tertawa puas dalam hati... menyusun rencana super-jahat dan tenggelam dalam pikirannya....

***

 

Malam Halloween pun tiba.

Seperti perkiraan Choco, anak-anak dari kota di bawah bukit beramai-ramai mendatangi puri Tuan Quol. Mereka rombongan yang terdiri dari sekitar 20 anak. Semuanya berusia antara 5-12 tahun. Semuanya mengenakan kostum (yang bagi Choco malah terlihat menggelikan daripada menakutkan). Ada yang mengenakan kostum nenek sihir lengkap dengan keriput bohongan dalam jumlah banyak yang justru membuat mukanya seperti wajah anjing jenis bulldog. Ada lagi yang mengenakan kostum yeti, namun karena kostumnya terlalu besar, ia (hampir) selalu tersandung dan jatuh tiap kali melangkah. Ada juga anak perempuan yang mengenakan kostum peri dengan sayap-sayap transparan yang terlalu lebar di punggungnya yang sayangnya selalu tersangkut di kostum anak-anak lain. Bahkan ada yang berkostum drakula (dengan papan nama digantungkan di leher bertuliskan "Quol" dengan spidol hitam permanen).

Mereka semua sangat bising. Tertawa-tawa, berteriak, makan dengan berisik, jatuh, berlarian... membuat Choco menghela napas letih sekaligus naik pitam. Ah, betapa ia membenci anak-anak!

Choco memandang kerumunan itu dari lantai atas dengan senyum penuh kemenangan. Di belakangnya, sudah tersedia kuali berisi cokelat beracun buatannya, masih meletup-letup mengerikan. Tinggal membawanya ke bawah, ke aula tersebut....

Mati-matian Choco menahan tawa JAHAT saat mendorong gerobak dengan kuali cokelatnya ke bawah.

Tuan Quol pun membantunya dan berteriak dengan riang, "Ini dia cokelat spesial buatan Koki Chocoooooo!" lalu bertepuk tangan dengan begitu meriah.

Anak-anak di aula pun turut bertepuk tangan mengikuti Tuan Quol. Wajah mereka semakin berseri-seri begitu melihat sosok Choco mendorong gerobak kuali berisi cokelat miliknya. Mereka pun mulai meneriakkan nama Choco (dengan ekspresi senang alih-alih ketakutan, seperti biasa).

"Give me Choco!" mereka berteriak bersahut-sahutan.

Anak-anak itu tidak tahu apa yang tengah menanti mereka... pikir Choco sambil menyeringai. Kuali penuh cokelatnya sontak dikerubuti. Aula puri semakin riuh karena semua anak berebut mengambil cokelat buatan Choco... tanpa tahu bahwa itu beracun.

Khu khu khu... Choco akhirnya tak dapat menahan tawa melihat anak-anak itu menyendok cokelatnya ke mulut tanpa curiga.

Hanya satu yang menarik perhatian Choco: Tuan Quol sama sekali tidak menyentuh cokelat maupun makanan manis lain kesukaannya! Bukan hanya itu, raut wajah sang tuan justru memucat! Dia terus memegangi perut dan mulutnya.

"Uh-oh! Apa ini? Aku jadi pusing dan mual hanya dengan bau cokelat! Ada apa ini?" Tuan Quol panik dan kebingungan.

Choco menebak mungkin itu efek cokelat beracun yang dimakan sang tuan kemarin pagi. Mendadak muncul ide JAHAT BRILIAN di otak Choco!

Kalau hanya dengan bau saja tuannya bisa sebegitu pucat, bagaimana kalau dipaksa meminum cokelat?

Maka Choco menyendok satu sendok besar cokelat dari kuali (setelah menerobos kerumunan anak-anak yang rakus!) dan terbang menghampiri Tuan Quol di pojokan aula.

"Oh, tidak! Tidak! Tidak, Choco! Aku sedang tidak enak badan... ugh... aku benar-benar tidak tahan dengan cokelat itu! Baunya... membuatku mual! Melihatnya saja sepertinya mampu membuatku pingsan! Jauhkan, Choco!"

Choco pun menyeringai lebar!

Ternyata cokelat beracunnya bukannya tidak berefek pada drakula! Sebaliknya, efeknya sangat besar: Tuan Quol menjadi alergi pada cokelat!

Di dalam hati, Choco melonjak-lonjak kegirangan! Rencana pembalasan dendamnya berhasil! Dengan begini, Tuan Quol yang tidak lagi menyukai cokelat pasti akan mengganti namanya hingga tidak "Choco" lagi!

Namun... pembalasan dendam Choco belumlah selesai!

Setelah meninggalkan Tuan Quol muntah-muntah di toilet, Choco kembali ke aula dan menemukan keberhasilannya di sana!!!

Anak-anak menjerit kesakitan!

"Gigiku sakiiiiit!!!" "Mamaaaaa, gigiku sakit!" "Aku enggak bisa menggigit apa pun!" "Sakiiiiit!!!" "Aku mau pulaaaang! Enggak mau cokelat lagi!!"

Ia MENANG!

Choco MENANG!

KEJAHATAN MENANG!!!

Saat Choco akan mengumumkan kemenangannya dan kekuasaannya akan puri dan desa di bawah bukit (Choco bahkan sudah mempersiapkan naskah pidato rapi untuk kesempatan ini!), sekonyong-konyong jendela-jendela puri pecah!

Apa itu!???

Choco segera menemukan penyebabnya: gerombolan kelelawar liar dari gua, sekitar 20 ekor.

Kenapa mereka menyerang puri!? Mereka kan kawan-kawan Choco!?

"Kami telah lama menunggu kesempatan ini!" salah seekor kelelawar berteriak.

"Menyerahlah, wahai manusia! Puri ini telah menjadi milik kami, bangsa kelelawar!" seekor yang lain menyambung.

"Setelah puri ini, kami akan menguasai desa di bawah bukit!" tambah yang lain.

Choco sangat terkejut dan panik!

Kenapa? Kenapa teman-temannya malah menyerang?

Pertanyaan Choco pun terjawab oleh salah satu kelelawar, "Kami tahu kamu akan melakukan sesuatu pada malam Halloween, Choco! Makanya kami memanfaatkan kesempatan ini!"

Anak-anak pun menjerit-jerit. Para kelelawar terus menyerang mereka dengan menjambak rambut dan menakut-nakuti mereka dengan kepakan sayap. Situasi mendadak berubah di luar dugaan Choco!

"Kami sudah tidak memerlukanmu lagi, Choco! Dasar kelelawar pengecut!" salah seekor kelelawar menyabet wajah Choco dengan ujung sayapnya.

"Benar! Kami tidak pernah mengakuimu sebagai kawan! Karena kau memihak para manusia!" seekor yang lain mencakar punggung Choco.

Choco terpental dan terjatuh tidak jauh dari kuali cokelat beracunnya.

Bagaimana ini? panik Choco.

Ia sudah tidak dianggap teman oleh sesama kelelawar. Oleh anak-anak pun ia pasti tidak disukai karena sudah sengaja membuat cokelat beracun yang membuat mereka sakit gigi!

Ah, Tuan Quol! Choco mendadak teringat. Tuannya itu pasti bisa mengusir para kelelawar itu dengan mudah dengan kekuatan drakulanya!

Choco segera mengepakkan sayapnya kuat-kuat menuju atas, menuju toilet... dan menemukan tuannya terduduk lemas.

Mustahil! Tuan Quol tidak akan bisa apa-apa karena alergi cokelatnya kumat! Dia  tidak akan bisa turun karena di aula cokelat berhamburan!

Ini salah Choco! Semua salahnya!

Choco menyadari perbuatannya salah dan tanpa perhitungan.

Namun ia yakin, bahwa keadaan masih bisa berubah. Dialah yang akan mengubahnya! Hanya dia!

Maka dengan sekuat tenaga, Choco kembali ke bawah, menyelinap di antara kaki-kaki kecil anak-anak dan kepakan kasar sayap-sayap kelelawar liar.

Di sana! Choco terbang menukik dengan kecepatan penuh, menyasar kuali berisi cokelat buatannya yang tinggal setengah. Dan ditabraknya sekuat tenaga hingga terbalik!

Serta-merta cokelat cair memenuhi lantai aula. Anak-anak yang berlarian panik terpeleset, bersama dengan kelelawar yang tengah menjahili mereka dan terjerembab bersama-sama ke genangan cokelat.

Para kelelawar jahat itu pun secara tidak sengaja meminum cokelat beracun buatan Choco begitu terjerembab ke lantai.

Ugh! Choco sendiri sebenarnya tidak tahu efek samping apa yang akan timbul bila ramuan cokelat beracun warisan sang kakek diminum oleh bangsa kelelawar sendiri! Tapi apa boleh buat, pikir Choco, karena ia tidak punya pilihan lain! Sungguh tidak mungkin melawan segerombolan kelelawar liar sendiri.

Maka, sambil berharap-harap cemas, Choco yang sebelumnya menutup mata ngeri akan serangan kelelawar lain, perlahan-lahan membuka matanya... dan menemukan para kelelawar jahat terkikik senang menikmati cokelat Choco! Mereka mencolek cokelat yang di lantai dengan ujung-ujung sayapnya dan menjilatinya.

Betapa kagetnya Choco! Masih diliputi kebingungan, Choco mendengar seekor kelelawar jahat menjerit riang, "Nyam~ nyam~ Minuman ini enak sekali! Apa namanya?".

Takut-takut, Choco mendekati kelelawar kini dengan liar berguling-guling di genangan cokelat itu, terus meneguk cokelat (yang semestinya) beracun dengan tamak.

Kelelawar-kelelawar itu mendadak jadi penggila cokelat!!

Anak-anak yang tadinya ketakutan dan menjerit-jerit, kini mulai tenang. Bersama Choco, mereka memerhatikan para kelelawar gua menghabisi cokelat cair yang tumpah di lantai. Para kelelawar itu mendadak menjadi jinak dan tidak lagi menyerang anak-anak.

Bagus! Choco sungguh bersyukur ternyata cokelat JAHATnya manjur untuk semua makhluk!

Choco tidak ingin menghabiskan waktu dengan memuji cokelatnya sendiri! Ia mencicit-cicit, melemparkan sisa-sisa cokelat dari lantai ke para kelelawar liar dengan sayap-sayap kecilnya.

Sekali, gagal karena melenceng jauh. Dua kali, meleset beberapa senti. Tiga kali, PLOK, kena seekor yang sedang bersembunyi di balik sebuah pilar dekat tangga! Cokelat itu mendarat tepat di wajah si kelelawar! Sadar tidak sadar, si kelelawar liar menjilat cokelat di wajahnya dan... VOILA! Ia menjadi jinak seketika, lalu bersama dengan kelelawar lain menukik turun dan berebut cokelat di lantai.

Choco tahu dirinya tidak akan bisa menang jika hanya sendiri, maka kelelawar hitam itu segera mengambil alih komando dan meminta kerja sama dari para anak-anak untuk mengalahkan para kelelawar jahat dari gua!

Anak-anak menurutinya, mereka menciprat-cipratkan cokelat kental ke berbagai arah, membuat aula itu penuh dengan cokelat!

Sebuah perang cokelat!

Tanpa disangka, ternyata semua anak tampak senang dengan perang cokelat itu. Mereka melempar sambil menjerit dan berlarian, lama-kelamaan mereka tidak lagi hanya mengincar para kelelawar, namun juga teman-temannya sendiri.

Hanya dalam waktu kurang dari sepuluh menit, seluruh penjuru puri (kecuali kamar Tuan Quol sendiri) sudah berubah warna menjadi cokelat.

Gerombolan kelelawar jahat dari gua akhirnya telah dikalahkan. Tentu saja berkat kerja sama Choco dan anak-anak desa.

***

 

"Choco! Choco! Choco! Choco! Choco! Choco!"

Teriakan semangat bergaung di siang hari setelah malam pesta Halloween yang kacau akibat serangan kelelawar.

Teriakan itu tidak hanya terdengar di puri Tuan Quol, melainkan di penjuru desa di bawah bukit pula.

Teriakan itu tidak pula diliputi kengerian seperti yang selalu Choco harapkan dahulu, melainkan penuh kegembiraan dan kebanggaan, juga rasa terima kasih.

Seluruh surat kabar pagi itu diwarnai berita utama berjudul: Choco, Kelelawar Baik Hati Sang Penyelamat Desa. Kabar itu tidak hanya beredar di dataran itu, melainkan sampai ke seberang samudra.

Kini betapa terkenalnya Choco!

Choco sendiri telah menerima namanya. Ia tidak lagi menganggap nama itu tidak cocok untuk dirinya sekarang.

Ditambah lagi, Choco sudah berubah. Ia tidak lagi terobsesi untuk menjadi jahat dan senang menolong orang.

Lagi pula, toh menjadi PAHLAWAN ternyata rasanya jauh lebih keren dibanding penjahat.

Ia pun semakin disukai anak-anak. Meski risih pada awalnya, Choco mulai terbiasa dan kini menjadi teman bermain anak-anak. Terkadang, ia juga membuatkan cokelat untuk mereka (tentu saja tanpa racun). Berkat kejadian sakit gigi massal di malam Halloween, anak-anak di desa tidak lagi tamak dalam hal makanan, terutama makanan manis. Mereka juga tidak pernah lagi lupa menyikat gigi sebelum tidur (mereka sudah merasakan betapa tidak menyenangkannya sakit gigi itu!).

Bagaimana nasib Tuan Quol?

Alergi cokelat Tuan Quol ternyata tidak bisa pulih meski dengan ramuan apa pun. Akhirnya drakula baik hati itu memulai program dietnya yang tanpa cokelat. Sepertinya dia juga tengah berencana menjadi vegetarian.

Bagaimana nasib para kelelawar gua yang jahat?

Mereka kini hidup berdampingan dengan para warga di desa. Seperti halnya Tuan Quol, efek cokelat Choco tidak hilang pada diri mereka. Mereka tetap tergila-gila dengan cokelat.

Makanya, setiap malam para kelelawar membantu menjaga desa dengan imbalan cokelat.

Dengan begitu, para warga, anak-anak, kelelawar gua, dan Tuan Quol hidup harmonis.

Semua berkat rencana pembalasan dendam Choco yang berujung aksi kepahlawanan yang menyelamatkan semua orang!

Choco, Kelelawar Pahlawan!

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
70

pengen bisa nulis yg model begini hehe :D

80

Gak tahu kenapa waktu baca cerpen ini saya ngebayangin formatnya kayak buku cerita bergambar anak-anak. Soalnya banyak banget adegan yang kayaknya lebih apik kalau ditunjukin dalam bentuk gambar. Perang lempar cokelat, waktu kuali cokelatnya tumpah ke lantai. dan resolusi tiap-tiap karakter di akhir.
Untuk cerpen sendiri kurasa bagian awal yang menceritakan perasaan Choco terlalu panjang dan sedikit bertele-tele diceritakan sedangkan bagian akhirnya berlangsung terlalu cepat.
Salam Gie, udah lama gak baca ceritamu :)

90

setuju sama kakak2 lain deh, tanda kurung agak mengganggu kak, bahkan ada garis miringnya juga >.<
trus motif pembalasan dendam choco d awal lumayan berbelit2 jg sih kak, pdhl bs dpersingkat krn dia g suka namanya aja
tp pertengahan sampai endingnya keren kak :D

Makasi, Kanae Moko Flo... (eeer... bahkan saya udah lupa nama fb-mu sebelum-sebelumna, kebanyakan :v )
.
Ah... tapi... saya lagi SUKAAAAAAAAAAAAAA~~~ pake tanda kurung banyak dan pake garis miring~ <333 *keras kepala* *ditimpukin*
Terus, saya malah lebi suka bagian awal dibanding pertengahan sampe ahir (dan ditulis dalam waktu yang berbeda juga, bedana sampe hampir setengah tahun, jadi ketauan anehna :p )
.
Mari kita timpukin pengarangna rame-rameeeeeeeeeeeeee!!! XDD

100

Gie... dari dulu sampe sekarang...

GBSK = Glen Bangga Sama Kamu~! <3

TSBG!!! (Trims Sudah Baca, Glen)
BACID!!! (Bacain Adikmu Cerpen Ini Dong)
XDD

uwaa~ bolehkah sy komen?? tapi bkan komen susah2 sperti komen yg di bawah XD #dziggh
.
ceritanya lucu~ rasanya jd baca buku bergambar, cba ada ilustnya lebi mantep ni hihihi
.
trus tuan Quol nya kereen~ tp syg mnculnya dkit QAQ
.
btw jdi ingat cerpen yg di bobo jaman dulu, vampir makan coklat smp giginya ompong wkwkwk

Makasih, Ann Icha~ <3
Saya udah nebak kalau dikau pasti sukana sama Tuan Quol, dan ternyata tebakan saya bener!!! (y)
Selera Ann Icha gampang ketebak ya~ :*
Iya, ya, Tuan Quol munculna dikit yah, habis tokoh utama di sini Choco sih~ :p
.
Ah, kayakna saya juga kenal cerpen Bobo yang itu. Vampir yang demen makanan manis sampe ompong~

ah siyal /=A=)/

80

karena bila antara member ke member itu terlalu mainstream, momod nyoba baca ini. ahak hak hak.

sepertinya ditujukan buat pembaca anak. atau ini hanya cerita tentang anak-anak? :D kalo yg pertama, saya pikir bahasanya lebih disederhanakan lagi pada kata-kata tertentu. menurut saya siy. kayak "tidak ayal" itu, agak nggak nyaman waktu saya bacanya (karena saya kan masih anak2 gitu ya kan yak?) ahak hak hak. harmonis, permanen, atau apalagi deh. ehehehe. ketika suatu istilah dibahasakan (biasanya dalam kalimat pengertian kata) rasa-rasanya akan semakin pas buat anak-anak sebagai pembacanya. dan gaya seperti itu menarik menurut saya :D

berikutnya, mungkin hanya sebagai bahan obrolan doang :D aslinya, ide kemunculan para kelelawar lain (yg ternyata selama ini membuat Choco mengalami konflik batin seperti itu) keren. motifnya itu keren banget. bahkan terlalu keren bila hal begitu dimaksudkan sebagai sebab-akibat penting dalam cerita yang ditujukan ke pembaca anak-anak. itu jahat banget. dan levelnya udah kayak memperalat. terlalu keren buat anak-anak, menurut saya. ahak hak hak. tapi itu cuma topik siy. ehehehehe.

selebihnya, meskipun ditujukan buat anak-anak, banyaknya paragraf pendek di cerita ini sedikit bikin nggak nyaman. tapi mungkin itu demi menguatkan situasi kali yak :D

itu aja deh dari momod.
semoga berkenan dan nggak menggurui jugak :D
salam.
ahak hak hak

Makasih, Momod!
Kalo udah ngomen di lapak member, Momod jadi udah gak mainstream lagi deh! XD
.
Eniwei, saya ngeles nih ya~
Kosakata kayak "tidak ayal", "harmonis", dan "permanen" itu gak berat buat anak-anak kok~
Di Bobo juga sering dipakai, di buku anak bergambar karya Clara NG juga dipakai.
Lagi pula (ngeles lagi nih ya~), anak-anak jangan dimanjain dengan bahasa yang selalu mudah. Mereka lagi masa-masa emas, lagi cepet-cepetna nyerap ilmu. Biarin mereka kenal sama istilah-istilah yang tinggian dikit, biar cepet nambah pengetahuanna~ :D *ngeles nih*
.
Karena kalau ngebales komen panjang dengan komen yang panjang pula udah mainstream, jadi saya bales segini aja deh~
Vwa vwa vwa vwa~~~ XD

90

Yang dalam kurung itu mending dipisah dengan dash atau dibikin narasi sendiri, Gie, soalnya banyak yang panjang2 dan muat untuk dibikin kalimat sendiri.
.
tapi btw, saya suka idenya~ xDD
pesan moralnya pun tersampaikan tanpa nada menggurui :3

Tehe~
Iya ya, sebenerna bisa dipisah ya~ Cuman si Gie males banget buat misahna~ #eh
.
Sip, sip, makasih, Dya Ao~
Udah lama gak nongkrong di Kcom nih saya :p

80

Ide ceritanya menarik, adegan ketika kelelawar-kelelawar jahat itu datang cukup mengejutkan. Gaya penulisannya sebenarnya enak dibaca dan ringan, tapi ada terlalu banyak kata-kata sisipan di dalam tanda kurung. Kalau satu atau dua saya pikir nggak masalah (sebagai variasi "suara" si narator), tetapi kalau di setiap paragraf muncul malah jadi mengganggu. Penggunaan tanda seru berlebih dan tanda "~" bisa ditoleransi karena ditujukan untuk anak-anak dan mungkin memang ingin disajikan seperti komik.

Btw, kalau mengacu pada KBBI Edisi IV, kata "memerhatikan" seharusnya ditulis "memperhatikan", karena kata dasarnya direvisi menjadi "perhati". Tapi itu ga terlalu penting sih :p

Tehe~ <3
Makasih komenna, Bang Vai~ <3
.
Eniwei, sebenerna yang "memperhatikan" itu di kantor selalu saya pakai alih-alih "memerhatikan" (info gak penting ;p ).
Aaaan~ terlalu banyak kalimat dalem kurung yah? Saya lagi suka begituan sih :p #ngeles #gagal

100

Mesti diberi nilai karena ini perjuangan beraaaaaaaaaaat!!! UWOOOOOOOOOOOOOOOORGH!!! #lebai
Hehe~ <3

Ihiiiiiiy~~~
Cerpen saya berada di tengah-tengah cerpen peserta BoR~~~
Terus, di popular tag di home, ada tag Choco, halloween, fabel, gie, dan anak di antara tag BoR!!!
UWOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!!!
*terus, bahagia sendiri gitu*
:v :v :v
#gakpenting