Damn! I LOVE U part 3 : Pacar Simpanan

“So? Kamu pilih??” tanya Renata berhasil mengagetkan lamunan Bella tentang pertemuannya dengan Gerry.

“Eh.. hmm.. gue pilih.....”

Suara Bella menggantung, membuat Renata menahan napasnya. Juga Bunga yang ternyata nguping dari balik kursi empuknya.

“Pilih siapa??” tanya Renata nggak sabar.

“Pilih siapa ya??” tanyanya lagi menimbang-nimbang keputusan yang akan diambil.

“Lama deh!!” terocos Bunga ikut-ikutan hilang kesabaran.

“Gue pilih...”

“Gerry??” tanya Renata menebak ala peramal kondang.

“Bukaaannn!! Ya, rambut gue, lah!!”

What???” teriak Bunga yang sudah mulai berbeda nada dasar suaranya.

“O.. o..” ucap Bella sambil melirik kepada sahabatnya sebagai kode, dia tahu persis kelaukan hair stylish langganannya itu jika sudah berubah nada dasar bicaranya.

It means??” tanya Renata dengan alis terangkat.

You know lah,”

“Sekarang??” tanya Renata lagi sambil pasang kuda-kuda. Begitu juga Bella yang sudah siap meluncur saja.

“Jeeeeengggg!! Sorryyy!! Canceled!!” teriak Bella kencang.

Lalu mereka kompak berlari, keluar salon, menghindari amukan Bunga yang sudah terlihat kalap. Yeah, cara aman, sebelum dia berubah hormon menjadi Bung Aga!! Dan siap melampiaskan kekesalannya.

“Dasarrrrrr..!!!!”

Teriak Bunga dengan suara bass-nya. (Lho kok nggak Alto?? LOL)

###     

Sepatu ber hak sedang itu mendadak berhenti. Napasnya tersengal hebat seperti maling yang habis dikejar-kejar massa. Meskipun boot cokelat itu terasa menghambat larinya, namun akhirnya dia berhasil juga mengejar Renata yang sudah siaga di tempat parkir. Di samping honda jazz miliknya, dia memukul-mukul pahanya yang terasa pegal. Yeah, masih dengan napas ngos-ngosan, tentunya.

“Cantik emang sakit yah!?” katanya sambil mencoba mengatur napas. Dia envy  setengah mati memandang Renata yang santai, memamerkan sepatu loafer nyamanya.

“Boot lo nyiksa? Siapa suruh makai devils accessories gitu, gue sih ogah!” celetuk Renata sombong sambil melirik penuh prihatin boot berhak milik sahabatnya itu.

“Ya... ya.. ya.. tapi, gue sudah biasa kok ngerasain beauty pain kayak gini. So, gue nggak butuh belas kasihan lo!” balas Bella sinis. Dua sahabat itu, memang terkadang menjadi musuh di suatu situasi tertentu. Ya, seperti kondisi pagi itu.

Whatever-lah. Trus kita mau kemana nih? Scara, kita dah cancel nyalon, meni pedi, and damn!! Refleksi! Mau pulang aja? Atau—

“Nge-mall!!” teriak Bella antusias.

Wajah capeknya seakan lenyap. Menyebut kata mall, memompa kembali sisa-sisa energinya. Cuci mata di mall dekat salon BOB adalah totok mata bagi Bella. Jangankan vitamin A pada wortel,  pijatan tabib mata dari Cina pun lewat dibanding khasiat dari hobbinya satu itu.

“So?” tanyanya dengan senyum menggoda. Sebuah rayuan khas yang selalu ia keluarkan kepada Renata yang nggak terlalu suka belanja.

“Hmmm... Oke, lagian mata gue juga sudah lapar sama cowok-cowok kece. Siapa tahu ada yang bisa buat jadiin gebetan,” ucap Renata sepakat meski tanpa ekspresi sebahagia Bella.

“Apa, Re? GE-BE-TAN? Gue nggak salah denger? Trus, status pacar simpanan itu—“ tanya Bella terputus. Tangannya cepat-cepat menutup mulutnya. Seakan mengunci rapat bibir merahnya. Dia sadar tatapan membunuh dari Renata.

Ups, keceplosan...

###

Mall berkonsep back to nature di Jakarta Pusat itu menjadi tempat wajib yang harus dikunjungi Bella kalau sedang butuh refreshing. Berbeda dengan orang normal lainnya yang menjatuhkan pilihan ke puncak, atau pedesaan asri sebagai lokasi refreshing, Bella malah mengaku stress-nya hilang jika berlama-lama di mall. Sepertinya dia harus rela, jika dikatakan termasuk golongan orang abnormal.

I don’t care...asal nggak golongan jin aja!!

Matanya melebar, membaca kertas bergantung bertulis angka dalam persen. Refleks, ia menggigit bibir mungilnya, merasakan nafsu belanjanya membuncah. Dia seakan membumbung, terhipnotis dengan harga-harga fashion colection di mall itu yang miring semua.

“Perlu gue bilangin lagi uang bulanan lo tinggal berapa??” tanya Renata ketus, langsung membuat kabur nafsu belanjanya.

“Huft!! Gue ngerti penasehat,” jawab Bella kesal.

Dia masih nggak habis pikir kenapa Bokapnya bisa-bisanya memberi misi Renata buat ngerem hasrat belanjanya. Pakai usulin ngejatah uang bulanan lagi!!

Ternyata kalian telah lama bersekongkol!! Penasehat keuangan dan Pemasok Kas bulanan...

“Gue mau ngopi aja, Bell,” kata Renata sambil menunjuk Cafe di dekat pintu masuk mall yang didominasi warna hijau itu.

“Dah gatel pengin curhat ya?” goda Bella mengerti mimik Renata yang terlihat nggak semangat.

Tanpa berkomentar lagi, Renata malah pergi begitu saja meninggalkan Bella yang masih berdiri dengan amukan rasa penasaran.

“Busyet, malah ninggalin gitu aja!! Reee tunggu!!” teriak heboh Bella sambil mengejar  Renata yang sudah hampir masuk ke Bukat Cafe. Suara hak boot-nya membuat suara “tak tak tak tak” dan berhasil menyedot perhatian para pengunjung mall untuk mencari sumber suara itu.

“Oh My... kenapa hari ini gue mesti berlari-lari muluk sih?” gerutu Bella sambil duduk di kursi hijau depan Renata yang sedang menunggu cappucino pesanannya. Belum ada reaksi yang hangat juga dari sahabat satu kampusnya itu, semenjak mereka hengkang dari salon BOB.

“Lo marah ya??” tanya Bella pelan. Ada nada penyesalan di tiap kata-katanya.

“Kapan sih lo bisa nggak childish, gitu Bel?” suara Renata akhirnya keluar juga. Bergetar, seperti ingin menangis namun ia tahan. Dia sakit, jengkel, merasa kotor, dan perlu dikasihani. Dan semua rasa itu kini bercampur menjadi satu.

“Gue nggak mak—

“LO nggak bakal pernah ngerti rasanya jadi selingkuhan!!” potong Renata cepat dengan kilat mata yang tepat menembus hati Bella.

“Sorry kalau gue bilang lo pacar sim-pa-nan,” suara Bella memelan saat mengucapkan kalimat terakhir.

Dia sepertinya melakukan kesalahan lagi, dengan mengatakan—

“Mampus!! Aku salah ngomong lagi!! Bodoh banget sih kamu, Bell”

Sambil menggigit bibirnya sendiri, dia pasang wajah memelas, seperti kucing di masa kawin.

“Lo tahu bell? Gue sakit!! Gue sakit hanya bisa jadi cewek simpenanya. Andai lo ngerasain apa yang gue rasain, saat dia nyebut nama ceweknya di depan gue? Gue ngerasa lebih baik mati!! Gue cemburu!! Benci!! Cuman jadi gadis kedua baginya!!! I just want to his time, berlebihan permintaan gue??”

Dada Renata naik turun, matanya basah. Kilatan benci masih bersarang di pupilnya. Bella tahu, sahabatnya sedang kalap. Belum Bella berkomentar, Renata sudah bicara lagi, kali ini dengan nada menuduh.

 “Oh.. gue tahu, lo sepihak kan sama cewek yang nggak bisa diputusin itu? Daripada gue?”

“Cukup, Re!! Lo emosi, pikiran lo nggak jernih!!”

“Jernih?? Gue emang cewek kotor, gue perebut cowok orang!! Lo dah tahu kan dari dulu? Tapi, pliss. Jangan pojokin gue lagi. Lo kira gue nikmati ini?? Gue capek, Bell!!” mata Renata kini basah. Bibirnya yang sensual bergetar. Seperti menahan luka yang dalam, luka yang selalu ia simpan sendiri.

Bella 100% mengerti posisi sahabatnya itu. Yeah, cinta compicated Renata, sahabat sekaligus orang kepercayaan Bokapnya itu. Tapi, dia masih bingung bagaimana ia harus menentukan sikap.

Nggak bisa disangkal, she is her best friend. Tapi, di sisi lain, jika ia memposisikan dirinya sebagai cewek yang diselingkuhi itu, dia juga bakal ngutuk abis Renata.

Sebenarnya sih, hanya satu yang aman untuk dijadikan kambing hitam selain keadaan, cowok Renata. Selain nggak kenal, Bella juga meragukan sikapnya yang nggak bisa mutusin ceweknya demi Renata.

Alasan kasihan! Belum siap! Atau tetek bengek yang gue kira hanya alasan untuk bisa punya cewek dua. Kalau memang dia kasihan, harusnya jangan main belakang dong. Bella masih nggak habis pikir ada cowok sekejam itu, untung si Gerry selama mereka pacaran masih bisa ia dikendalikan.

“Gini aja, Re. Lo sabar aja, nunggu,” ucap Bella mencoba sabar. Dia tidak ingin emosi sahabatnya itu tersulut lagi.

“Tapiiii harus ampai kapan, Bell? Sampai kapan gue harus nunggu??” bentak Renata yang nggak terprediksi Bella, dan langsung berhasil menaikkan emosinya seketika.

Bella mencoba menahan emosinya yang ikut terbakar. Sepertinya, ucapan lembut darinya sudah nggak mempan untuk Renata. Dengan santai dan jengkel yang sebisa mungkin ia tahan, Bella menjawab pertanyaan Renata.

“Ya, tunggu sampai cewek saingan lo itu nyadar kalo cowoknya selingkuh sama lo. Beres kan?”

“Kok nada lo sinis amat, Bell??” tanya Renata dengan suara yang sudah terkontrol.

“Tanyain aja sama hati lo sendiri, kenapa gue sinis?” balas Bella mencoba sesantai mungkin.

Dia tahu, ucapannya itu bakal menusuk-nusuk hati sahabatnya, tapi ia terpaksa lakukan.

Semacam pelajaran buat kamu, Re

Hening. Renata tak menanggapi lagi kebenaran mutlak yang disampaikan Bella. Dia seperti terkunci, oleh rasa bersalah yang menggerogoti hatinya. Air matanya tertahan, lidahnya kelu hanya untuk menyebut nama sahabatnya itu. Malu!!

Suasana dingin seperti itu sebenarnya menyiksa Bella. Makanya, dia malas jika membahas soal asmara Renata. Atau sekedar mendengar curhatan sahabatnya itu. Yeah, ujung-ujungnya pasti diem-dieman kayak pagi itu. Untung saja, BB Bella berdering dengan lancang. Memecah keheningan yang baru mereka berdua ciptakan.

“Iya, Ger?”

“Malam ini?”

Mulut Bella mengucap nama Gerry tanpa suara ketika Renata menatapnya penuh tanya. Sebenarnya dia enggan  pamer kemesraan pada Renata, tapi Gerry selalu bisa membuat tiap percakapannya terasa lebih intim dan romantis.

Yeah, dengan muka sinis gitu, Bella tahu cewek di depannya itu merasa benci. Iri!! Bagaimana nggak, lihat cewek lain bisa merasakan mencintai tanpa sembunyi-sembunyi? Nggak seperti dirinya yang harus seperti maling hanya untuk merasakan kemesraan dengan kekasih gelapnya. Renata pasti selalu merasa was-was, seperti ketahuan mencuri. Dan cowok orang lagi yang ia curi.

I know your position, Re... But sorry, aku nggak bisa bantu apa-apa...

###

Melihat Bella menerima telepon dari Gerry, Renata merasa sakit. Dia juga ingin bisa memamerkan pasangannya seperti Bella. Luka itu kian berdenyut, ketika bayangan cowoknya yang memintanya bersabar untuk menunggu kini menggelayuti benaknya.

“Apa ada orang di dunia ini yang mau hubungan backstreet?” tanya hati Renata dengan pandangan penuh kebencian.

Ya, memang sekarang cintanya bagai dalam cangkang. Gelap. Dan tersembunyi! Tapi, ia yakin, suatu saat cangkang itu akan terbuka, menghadirkan cinta yang sepenuhnya untuknya.

Dia lamat-lamat tersenyum. Getir, memandang Bella yang asyik bercengkrama dengan kekasihnya.

“Ya, kamu benar Bell, sabar adalah kata yang tepat untukku saat ini!!”

###

 

 

Read previous post:  
27
points
(771 words) posted by sayfullan 1 year 19 weeks ago
54
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | teenlit | #kehidupan #cinta #drama
Read next post:  
Be the first person to continue this post
80

aku ngebayangi percakapan mereka berdua kayak percakapan dua anak abege yang sering kudengar di mal-mal hahahaha
cara penceritaannya juga enak sih, ini salah satu nilai plus ceritamu, padahal biasanya aku gak tahan baca teenlit lama2, wakakak

oke nunggu lanjutannya lagi

80

Suka sama penulisanmu yang ini pul, biarpun tetep ada typo-nya hahaha... Tapi aku kira tokoh sentralnya cuma Bella, ternyata udah mulai nyeritain Renata n dilemanya ya. Mulai seru. Oke lanjuttt...