The Bouquet

            Hari ini Bianca akan jadi seorang putri! Ia akan mengenakan gaun pengantin berwarna putih tanpa lengan itu, dan akan berjalan di atas karpet beludru dengan diiringi adiknya yang manis, Blanche. Prosesi pernikahannya akan diadakan di taman belakang rumah yang luas, dan dihadiri kerabat dan para sahabat. Bianca ingin segala sesuatunya berjalan sesempurna mungkin. Maka sebelum sore hari itu tiba, Ia meminta bantuan para sahabat dekatnya untuk menata dekorasi taman dengan hiasan-hiasan dan karangan mawar biru. Adiknya pun ikut melibatkan diri tanpa merasa dibebani. Blanche adalah gadis yang cekatan dan sangat suka menghias.

            “Oh, maafkan aku, cher, harus membebani kalian berdua. Aku harap kalian tidak keberatan mencat beberapa bunga mawar imitasi itu. Aku kehabisan karangan bunga disini.” pinta Bianca kepada adik kesayangannya itu sebelum ia pergi ke ruang rias. Kemudian Bianca menoleh pada seorang pemuda jangkung bermata biru yang berdiri di samping Blanche. “Tidak apa-apa, kan, Pieter?”

            “Apapun untukmu, Bianca.” ujar Pieter dengan senyum lebarnya. Blanche memutar bola matanya seolah muak melihat senyum pemuda itu.

            “Baiklah, aku harus segera berias. Kalian baik-baik ya!”

            Setelah Bianca menghilang ke dalam rumah, senyum Blanche perlahan luntur disusul decak kesal dari mulutnya. Pieter tertawa kecil sambil bergumam menirukan gaya bicara Bianca, “Kalian baik-baik ya? Apa kita pernah baik-baik, hah, Blanche?”.

            “Kalau bukan demi kakakku, aku nggak akan sudi melihatmu disini.” kata Blanche sambil berjalan kearah meja panjang dengan selusin keranjang berisi bunga-bunga imitasi di atasnya.

            “Hey, kau tidak perlu melihatku kok.”

            “Apa maksudmu?” Blanche menoleh curiga kearah Pieter.

            “Sana kerjakan bunga-bunga itu! Aku akan mengawasinya dari tempat dimana aku tidak akan terlihat.” Pieter menyeringai lalu pergi meninggalkan Blanche sambil bersiul riang. Gadis itu menatap punggung Pieter yang berlalu dengan terperangah.

            “Terkutuklah kau Pieter!!” pekiknya kesal.

 

 

Acara pernikahan Bianca berlangsung dengan meriah dan nyaris sempurna. Oh, lupakan tentang insiden angsa-angsa putih yang tercebur di kolam renang itu, segala sesuatunya berjalan lancar disini! Semua orang memberi selamat kepada Bianca dan suaminya yang berbahagia. Setelah berfoto untuk kenang-kenangan, orang-orang berdansa di dekat kolam. Hari sudah menjelang malam saat itu, namun keriuhan pesta tak sedikitpun surut.

            Blanche tidak berdansa di taman itu. Ia lebih memilih memandangi kepala orang-orang dari atas balkon rumahnya. Kalau saja tidak merasa letih, ia mungkin akan ikut bergabung dengan mereka dan bersenang-senang. Semua gara-gara Pieter! Blanche menyalahkan laki-laki itu atas tangannya yang pegal-pegal setelah seharian memegang kuas cat.

            Blanche mendengus kesal memikirkan betapa tangannya butuh dipijat.

            “Kukira hanya aku yang tidak suka keramaian,” Blanche mendengar suara dari belakangnya. Suara keras dan nyaring yang sangat dikenalnya. Blanche menoleh kebelakang dan berdecak kesal ketika melihat Pieter berjalan sambil membawa gelas minuman. Sesaat kemudian ia sudah berdiri di samping Blanche.

            “Aku bukannya tidak suka keramaian…” ujar Blanche.

            “Lantas apa?”

            “Dasar iblis, pura-pura tak berdosa! Kau yang membuat tanganku begitu letih sampai-sampai rasanya mau copot!” bentak Blanche. Ia mengangkat kedua tangannya. Sementara itu Pieter tertawa geli.

            Blanche merasa tak ada gunanya lagi ia menyendiri di balkon itu. Ia hendak pergi menjauh, namun tiba-tiba Pieter menangkap pergelangan tangannya. Blanche menoleh terkesiap.

            “Jangan ke bawah!” ujar Pieter kepadanya.

            Mata Blanche membulat, ia menatap Pieter dengan bingung. “Ke-kenapa?”

            “Lihat itu, Pierre Benoit mencarimu,” jawab Pieter sambil menunjuk seseorang dari kerumunan yang terlihat gelisah, menoleh ke kanan-kiri. Laki-laki itu berambut pirang dan berwajah tampan.

            Blanche kembali berdiri di samping Pieter, sambil menghela napas. “Terimakasih sudah memberitahu,” ujarnya. Pieter pun melepaskan cengkeramannya dari tangan Blanche. Ia menyeringai.

            “Pierre Benoit memang tidak pernah menolak permintaan orangtuanya. Padahal ia punya wajah tampan, ia bisa mendapatkan wanita dalam sekedip mata. Kenapa pula masih menerima perjodohan denganmu?” Pieter menggeleng-gelengkan kepala lalu menoleh kearah Blanche. “Kalau kau, aku nggak heran,”

            “Apa maksudmu…” jawab Blanche datar. Matanya tetap terarah kepada pemuda yang bernama Pierre itu. Ia menghela napas dengan berat. Namun seketika tatapannya teralih pada Bianca. Kakaknya itu kini tengah berdiri di atas sebuah panggung kecil dengan membawa seikat bunga tulip yang dibungkus kertas putih dan dililit pita berwarna merah muda. Ia berdiri membelakangi para wanita lajang yang dengan siap mengangkat tangan mereka tinggi-tinggi.

            “Masih ada juga tradisi melempar buket bunga, ya?” bisik Pieter. Blanche tidak menghiraukannya. Ia memandangi buket itu dengan antusias, menebak siapakah kira-kira yang akan menangkapnya. Apakah Claire yang bertubuh tinggi, atau Margareth, teman kakaknya yang atlet lompat indah itu, atau Katya, tetangga mereka yang bertubuh bongsor..?

            Entahlah. Pada saat melempar buket kebelakang, Bianca melemparnya terlalu bersemangat sehingga bunga-bunga itu melambung begitu tinggi. Bahkan melewati Claire, Margareth, dan Katya yang bibirnya membulat dengan kompak. Buket bunga itu melambung seolah dalam slow motion hingga akhirnya mendarat di kedua tangan Blanche. Orang-orang sontak memandangnya.

            “Sudah kubilang padanya jangan melempar terlalu kuat,” bisik Blanche lirih. Hanya Pieter yang dapat mendengarnya.

            Seketika itu, orang-orang yang berada di bawah bertepuk tangan. Bianca dan beberapa wanita memekik senang. Suasana pun riuh seperti semula. Sementara itu, Blanche dan bunganya hanya diam mematung dengan canggung, tidak tahu harus melakukan apa. Ia menoleh kearah Pieter sambil meringis.

            Pieter mendengus kesal, tiba-tiba ia merebut buket itu dari tangan Blanche. Kemudian ia membanting buket itu ke lantai balkon, lalu menginjak-injaknya hingga beberapa kelopak terlepas dari bunganya. Pieter menginjak, lalu menyeret bunga-bunga malang itu dengan sangat bernafsu.

            “Pieter, hentikan! Apa yang kau lakukan!?” pekik Blanche. Ia mendorong Pieter pelan dan menyelamatkan buket yang nyaris jadi serpihan itu. Matanya nyaris berkaca-kaca. “Sebenarnya apa masalahmu?? Kemarin kau menghabiskan bekal makan siangku, tadi siang kau melimpahkan semua tugas dari Bianca kepadaku, dan sekarang, kau merusak buket bunga yang berharga ini!? Sebenarnya apa maumu??”

            “Aku nggak mau kamu menikah!” kata-kata Pieter membuat Blanche terdiam. “Aku nggak mau kamu menerima buket ini dan menikah dengan Pierre!”

            Pieter meraih tangan Blanche dengan ragu. Tangan itu begitu mungil, jari-jarinya kurus panjang, dan lemas. Tangan yang selama ini ingin sekali digenggamnya. Seperti sekarang ini. Ya, seperti ini.

            “Aku nggak mau kamu menikah sama orang lain selain aku,” bisik Pieter.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at The Bouquet (5 years 46 weeks ago)
70

so sweet... *tapi kalo Pieter tidak tampan dan tidak disenangi Blanche jadinya menakutkan =_="
paling suka adegan nginjek2 buket.

Writer rifkaazzahra
rifkaazzahra at The Bouquet (5 years 49 weeks ago)
2550

narasi dan deskripsinya lancar. perhatikan aja penulisan kata depan, kalau sudah benar bisa makin bikin bagus tulisan kamu ^^
nb: sedikitpun → sedikit pun (hanya ada 12 kata yg "pun"-nya disambung, tidak termasuk "sedikitpun")
mencat → mengecat

Writer Drupadi Panchali
Drupadi Panchali at The Bouquet (5 years 49 weeks ago)
90

Ah so sweet banget. Kirain suaminya bianca itu pieter... Nggak tahunya... Hihihi

Writer sayurcaptchai
sayurcaptchai at The Bouquet (5 years 49 weeks ago)

Banyak banget yang mikir kayak gitu :D

Writer fitria evadeni
fitria evadeni at The Bouquet (5 years 49 weeks ago)
80

Halo sayur chapcai :p saya membelas kunjunganmu =D
.
Ah, cerita yang maniis XD bingung mau ngomong apa. emang ini manis banget. walaupun saya udah nyangka kalau Pieter emang nyimpen perasan. Ah, tapi yasudahlah XD

Writer sayurcaptchai
sayurcaptchai at The Bouquet (5 years 49 weeks ago)

Ketebak ya? :D
Hihi, makasih udah mampir

Writer Ann Raruine
Ann Raruine at The Bouquet (5 years 49 weeks ago)
90

oh ya ampun.. sy sampai ending percaya kalo Pieter yg jadi suaminya Bianca, stlah baca lagi, trnyata bukan ya >.<
.
seandainya awal sy baca tanpa pikiran suaminya Bianca itu Pieter, ini cerita yg manis.. ahha >w< #plak

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at The Bouquet (5 years 46 weeks ago)

iya sempet nangkepnya Pieter itu yang suaminya Bianca =_=a
kalo iya, wah, perkara serius nih.

Writer sayurcaptchai
sayurcaptchai at The Bouquet (5 years 49 weeks ago)

Hohoho, tertipu ya? ^o^