Stellar Repertoire [Archive 02] [Axon] Bad Landing - Phase 2 of 3

“Tujuh belas… delapan belas, lalu… di tambah tiga orang di masing-masing meriam jadi dua puluh empat. Oke, Kapten. Dua lusin tentara koalisi beratribut lengkap, ditambah sepasang t-rex berlapis uranium.”

“Kemarikan teropongnya!” Arbeth menerima teropong berlensa ganda dari Rodvan dan ganti mengawasi keluar jendela. Aku tak tahu apa yang sedang dipikirkannya.

Kualihkan pandanganku ke luar. Dari jendela bangunan berlantai tiga tempat kami bersembunyi sekarang, aku bisa melihat dengan cukup jelas struktur pertahanan musuh.

Meriam kembar seukuran truk itu menjulang kokoh di tengah alun-alun kota. Beberapa selongsong amunisinya yang sebesar paha berserakan di sekitarnya. Karung-karung berisi pasir tertumpuk membentuk pagar setinggi meja yang melingkar di sekitar masing-masing meriam. Memberikan pertahanan lebih bagi prajurit penembak.

Di sepanjang alun-alun sebesar lapangan sepak bola itu aku bisa melihat tentara-tentara koalisi, merunduk di balik tumpukan-tumpukan karung yang tersebar di beberapa tempat. Sementara sebagian yang lain bisa kupastikan berada di balai kota di pojok utara alun-alun yang telah dipermak menjadi barak militer.

Di satu titik tepat beberapa meter dari target, sebuah meriam lain dengan laras yang lebih kecil tertangkap pandanganku. Biarpun lebih kecil dibandingkan meriam anti udara di dekatnya, aku yakin satu muntahan pelurunya bisa melumat habis sekujur tubuhku. Pangkal meriam itu terhubung pada moncong sebuah kokpit yang ditopang oleh sepasang kaki mekanik sepanjang lima meter.

M-125A PULVERIZER. Mesin bipedal raksasa ini memiliki tingkat mobilitas tinggi dan merupakan teror bagi para infanteri. Seorang pilotnya bahkan bisa menghindari serangan sebuah bazooka jika memiliki reflek yang baik. Jika kau tak habis oleh peluru sekelas tanknya, kau butuh segenap keberuntungan untuk tak terlumat kedua kakinya. Dari situlah nama stomper berasal.

Aku mendesah lesu ketika mendapati satu stomper lain bergerak masuk ke alun-alun. Yang satu ini tak memiliki moncong meriam di depan kokpitnya. Melainkan dua buah senapan mesin sekelas helikopter apache melengkapi sisi kanan-kirinya.

“Aku sudah cukup melihat,” ujar Arbeth sambil mengembalikan teropong ke tangan Rodvan. “Sekarang kita kembali ke posisi yang lain dan bersiap untuk mengambil alih pertahanan musuh.”

Melihat jumlah musuh, aku nyaris berpikir bahwa tinggal di puing-puing pesawat dan menunggu tim medis mungkin bukan ide yang buruk.

Kandang macan, ha?

 

***

 

Keringat dingin mengalir dari pelipis ke pipi kiriku. Kedua tanganku yang menenteng senapan otomatis serasa kaku. Belasan pertempuran kulalui, tapi tetap saja tak mudah bagiku untuk membiasakan diri dengan atmosfir peperangan.

Diriku beserta Marrick dan Deban telah berhasil mengambil posisi aman di balik semak-semak yang diapit dua bangunan bertingkat. Rencananya sederhana saja, Arbeth dan sebagian pleton akan membuka serangan dari selatan posisi musuh. Selagi perhatian mereka teralihkan, maka kami bertiga akan mendekat dari arah timur dan sesegera mungkin melumpuhkan kedua stomper dengan bom magnet dan peluncur roket milik Deban.

Terdengar mudah, namun jika kami gagal atau posisi kami terbongkar sebelum kedua stomper tumbang, itu berarti anumerta untuk kami semua.

Marrick, yang ada di sisi kananku, meletakkan sebelah tangannya ke pundak Deban, prajurit yang menenteng sebuah pelontar roket di punggungnya. Pandangannya tak lepas dari keker senapan otomatisnya yang terarah ke posisi target. Tanpa perlu melihat, tampaknya ia tahu kalau rasa gelisah hampir menguasai prajurit muda di sampingnya itu. “Cukup ikuti kemana kakiku menjejak dan dengarkan apa yang kuperintahkan. Selebihnya adalah seberapa baik lemparan dadu tuhanmu saja.”

Aku tak mengerti bagaimana kata-kata itu akan membuat si prajurit muda merasa lebih baik.

Kuperhatikan lambang sersan yang terjahit di pundak Marrick. Jika sesuatu terjadi pada si Kapten, maka pria ini yang akan mengambil alih komando.

“Kau baik-baik saja di situ, Thertaz?” tanyanya ganti padaku.

“Iya, Sersan.”

“Bagus,” jawabnya puas. “Dan ingat! Tak ada diantara kalian berdua yang keluar dari persembunyian sebelum aba-aba dariku.”

Jawaban ‘siap’ yang lepas dari mulutku dan Deban menjadi suara terakhir diantara kami untuk beberapa saat kedepan. Karena setelah itu tak satu pun dari kami bertiga yang membuka mulut.

 

***

 

Aku tak lagi ingat sudah berapa kali diriku terlibat dalam operasi militer. Mungkin belasan, mungkin puluhan. Namun begitu, satu yang kusadari dari peperangan panjang ini: bahwa kebanyakan manusia tak dirancang untuk membunuh sesamanya. Kau mungkin bisa menemukan sekelompok kecil psikopat diantara pletonmu. Namun bagi kami, sisanya, tak ada dari kami yang bisa membiasakan diri untuk mencabut nyawa orang lain.

Mungkin dalam jarak ratusan meter, menembaki para tentara lawan bukanlah hal yang teramat sulit. Namun ketika kontak jarak dekat diperlukan, kau mulai melihat wajah-wajah dalam seragam tempur itu. Tiap-tiap jiwa dalam seragam tempur itu adalah seseorang. Mungkin dia adalah seorang ayah dari gadis kecilnya, anak, suami, atau saudara. Bahwa mereka tak jauh beda dari kita.

Rasanya ingin aku bertukar tempat dengan seseorang di divisi bombardemen. Yang mereka lakukan hanyalah mengisi tabung artileri, menutup telinga, dan yang terjadi selanjutnya adalah pembunuhan masal dengan kami, para infanteri, sebagai saksinya.

Lebih sedikit penyesalan... lebih sedikit beban...

Lamunanku buyar ketika sebuah suara yang keras membawaku kembali ke permukaan Cloreanne VII. Mengikuti sesudahnya, adalah rentetan senapan dan ramai teriakan para tentara koalisi yang kalang-kabut mencari tempat berlindung.

“REPUBLIIIKKK!!! Arah selatan! Dekat gedung theater!”

“Masuk ke pos kalian! Pertahankan titik ini!”

Inilah saatnya. Kuangkat badanku dari posisi tiarap dan bersiap untuk mengambil ancang-ancang sebelum bisa kurasakan sebelah tangan Sersan menahan pundakku.

Dadaku serasa sesak melihat ekspresi yang tertoreh di wajahnya.

“Ada yang salah,” ujarnya dengan wajah mengeras.

“Saya berani sumpah yang pertama itu tadi suara ledakan, Sersan,” timpal Deban.

Aku menelan ludah, masih tak mengerti apa yang berusaha ia katakan.

Sersan mengendik ke sejumlah granat di sabuk perlengkapannya. “Sebelum kita berangkat, Kapten memberikan bahan peledak yang tersisa padaku untuk jaga-jaga jika saja bom magnetnya tidak bekerja.”

Itu berarti...

Dari sini bisa kulihat satu dari dua mesin tempur bipedal itu memutar arah hadapnya ke posisi pleton Arbeth di selatan alun-alun. Kedua kaki mekanisnya lantas menekuk, membawa kokpitnya mendekat ke tanah dalam posisi siap menembak. Gumpalan asap membuncah ketika meriam berdiameter 120 milimeternya itu memuntahkan proyektil ke arah persembunyian regu pengalih perhatian.  Menghasilkan sekelebat bunga api, diikuti kepulan asap dan puing-puing bangunan yang beterbangan di ujung penerimanya.

Sementara, dengan langkah-langkah berat yang menggerdap lantai alun-alun, mesin raksasa yang satu lagi masuk ke dalam panggung. Kedua rotor senapan mesin beratnya meraung, memutar cepat laras-larasnya, dan melemparkan selongsong demi selongsong peluru tanpa ampun dalam lintasan horizontal. Melumat tembok, aspal maupun sisa-sisa fasilitas Rotagna yang ada di sekitar persembunyian Arbeth.

“Ini saatnya, Sersan!” desisku.

“Tahan, Thertaz!” untuk kedua kalinya Sersan merenggut pundakku. Sementara telunjuk sebelah tangannya yang bebas mengarah ke atap balai kota. “Penembak jitu musuh belum jatuh. Kau mau membuat kita mati sia-sia?”

Hanya butuh sesaat sebelum semuanya kembali sunyi. Hanya ada sayup-sayup suara prajurit koalisi yang saling bertukar status. Baik diriku, Deban, maupun Sersan tak ada yang bersuara. Kami takut yang terburuk telah terjadi.

Terlalu singkat.

Itu tadi terlalu singkat untuk sebuah pengalih pehatian.

Aku memperhatikan atap balai kota dan jika mataku tak menipuku, bisa kulihat penembak jitu musuh masih berada di posnya. Apa yang dilakukan Oktav? Ia seharusnya sudah melumpuhkannya sejak tadi.

Dadaku kian berat.

Kekhawatiranku memuncak begitu kusaksikan senapan otomatis milik Deban lepas dari jari-jemarinya. Tubuh prajurit muda itu langsung tersungkur begitu saja di tanah, dengan darah segar mengalir deras dari  lubang di sisi belakang kepalanya.

“LARI, THERTAZ!”

Melupakan semua yang terjadi disekitarku, kubawa tubuhku lari secepat mungkin dari tempat itu. Suara horor dari mesin yang baru saja menghabisi sebagian rekanku terdengar di kejauhan, mulai bergerak. Bersamaan dengan jeritan-jeritan marah prajurit koalisi, suara tembakan untuk yang kedua dan ketiga kalinya dari penembak jitu yang baru saja merenggut nyawa Deban menambah cepat lariku.

 

Dan begitulah, misi penyerbuan kami berubah menjadi misi untuk bertahan hidup.

Read previous post:  
Read next post:  
70

Aku agak bingung ngebayangin senjata2 milik prajurit koalisi ._.a tapi suasana deg2annya kerasa. Dan begitu si deban tewas...deg deg deg deg deg XD

wuah, kayanya memang ada yang salah dengan deskripsi arsenalnya ya. x(

deg deg deg... bagian 3, incoming.

70

sangat detail.

ane nggak terlalu hafal ama senjata perang kyk gini,
tapi, keren.

penyerbuan nya gagal, dan jadi misi bertahan hidup, dengan rekan2 nya yang udah mati.

sip, Kk.
Satu part lagi, semoga nggak mengecewakan. :)

70

Wuih mantap... Tapi kadang-kadang saya bingung baca detailnya... Ga biasa sama cerita militer2 gini sih, hahaha. :D

Saya sendiri masih ijo dalam hal nulis cerita perang n militer kok. Mungkin itu sebabnya. TvT