A Crimson Moon

Pale Moon...Pale Moon...

Shining brightly in the night sky...

waiting to devouring souls....

And turn into the Crimson Moon...

 

 

Setiap malam bulan purnama, gadis itu akan muncul, duduk di ayunan yang terletak di taman bermain wilayah perumahan kami. dari jauh, ia sangatlah normal. rambutnya hitam mencapai pinggang dan kutaksir umurnya tidak mencapai enam belas.

 

lagu yang sama...

 

dalam bahasa inggris yang tercampur aksen jepang, aku bisa mendengar lagunya dengan jelas. hari ini adalah malam bulan purnama keempat sejak aku sampai di kota ini dan saat lagu itu terdengar, tak akan ada orang yang keluar dari rumahnya. seakan takut kalau makhluk berdarah dingin akan membunuh mereka saat mereka ada di luar rumah.

 

ya, Semua orang kecuali aku.

 

"Selamat malam," Sapaku.

 

gadis itu terkejut dan menghentikan lagunya. Ia kemudian menatap dan dengan suara 'Eep!' ia jatuh dari ayunan.

 

"Kau tak apa?" aku menawarkan tanganku untuk membantunya berdiri.

 

"Aeee~~" dan dengan suara ketakutan itu ia buru-buru melompat mundur.

 

lagi-lagi tidak berhasil, pikirku. ini adalah kali ketiga aku mencoba berkenalan dengan gadis itu. Gadis itu pucat dan aku bisa melihat ada sebagian rambutnya yang bewarna abu-abu. saat itulah Impressi kenormalan yang aku dapat saat melihatnya dari jauh segera menghilang.

 

Tapi aku juga melihatnya...sebuah kesendirian yang menghias wajahnya saat ia menanyikan lagunya.

 

"Suaramu indah," kataku sambil menatapnya dengan senyuman, "Siapa namamu?"

 

"Te...terima ka...ka..kasih," katanya terbata, "Ts...Tsukuyomi Kanade."

 

"Nama yang indah," kataku, aku mulai mendekatinya namun ia gemetar semakin hebat. aku menghentikan langkahku, "Jangan khawatir, aku tidak menginggit kok."

 

"Bukan kau," gadis itu bangkit dan membersihkan roknya, "Aku yang mungkin saja akan menggigitmu," dan dengan kalimat itu ia langsung berlari meninggalkanku.

 

*

 

Aku tak pernah melihatnya lagi sejak malam itu. namun prediksiku ternyata benar, gadis itu hanya akan muncul saat bulan purnama tiba. menyanyikan lagu yang sama dan duduk di tempat yang sama. saat itu musim dingin dan jelas sekali rok selutut dan sweater tak akan cukup menahan dingin, tapi gadis itu baik-baik saja.

 

Seakan...ia tak merasakan apa-apa.

 

rasa penasaran menguasaiku dan kakiku kembali melangkah mendekatinya. namun kali ini aku hanya diam dan mendengarkan nyanyiannya.

 

Pale Moon...Pale Moon...

Shining brightly in the night sky...

waiting to devouring souls....

And turn into the Crimson Moon...

 

Crimson Moon...Crimson moon...

Shining brightly in the night sky...

starting to devouring souls...

And let the sky covered in the blood...

 

"Aeee...!" Tiba-tiba suaranya berhenti, lagi-lagi jatuh dari ayunan dan menatapku terkejut, "kau datang lagi?"

 

"Tentu saja, kanade-hime," Aku membungkukkan badan dan memberikan hormat ala bangsawan barat, "Sekali lagi, lagu yang indah," meski bagian terakhir mulai membuatku sedikit gemetar.

 

"Kau tidak takut?" Ia bangkit dan membersihkan roknya dan kemudian kembali duduk di ayunan, sepertinya sudah berhasil menenangkan diri.

 

"Berikan aku alasan kenapa aku harus takut pada gadis secantik padamu?" tanyaku.

 

Ia diam sejenak dan kemudian menyeringai. Bukan seringai untuk menunjukkan emosi tertentu, tapi sebuah seringai untuk menunjukkan giginya, lebih tepatnya gigi taring yang lebih besar dari ukuran normal.

 

"kau tak dengar apa kata orang-orang?" Tanya Kanade, "Aku adalah Vampire. menghisap darah orang-orang, menculik anak-anak, memakan mereka hidup-hidup."

 

"Dan apa itu benar?" Tanyaku.

 

dia hanya terdiam. beberapa menit berlalu dan angin berhembus semakin dingin. aku menghela nafas dan kemudian melepaskan mantelku, memakaikannya padanya. aku tak tahu apa yang mendorongku berbiicara seperti ini dan tak tahu apa alasanku mengatakannya.

 

tapi aku tersenyum padanya....menepuk kepalanya dan berkata....

 

"Aku berjanji, meski kau membantai orang di desa ini, aku akan tetap ada di sisimu," Aku memberikan senyuman, "Dan mungkin saja di masa depan kau akan menikahiku."

 

Mendengar itu mukanya terlihat memerah meski disinari cahaya pucat rembulan. Aku tersenyum senang melihat reaksinya yang lucu.

 

*

 

Seminggu kemudian, darah membanjiri kota kecil itu. Semua mayat di hadapanku, semua darah yang membasahi salju di sekitarku, semua kepala, tangan, kaki yang terpisah dari tubuhnya. Dan aku hanya diam menatap apa yang barus saja terjadi.

 

Sosok Kanade membunuh semua orang di sekitarku. membantai mereka, meminum darah mereka dan tertawa seakan kehilangan kendali atas dirinya. malam itu malam bulan purnam, dan sambil terisak, berdiri di atas tumpukan mayat, ia mulai bernyanyi....

 

 

Pale Moon...Pale Moon...

Shining brightly in the night sky...

waiting to devouring souls....

And turn into the Crimson Moon...

 

Crimson Moon...Crimson moon...

Shining brightly in the night sky...

starting to devouring souls...

And let the sky covered in the blood...

 

Crimson Sky...Crimson sky...

Enveloping the world with rain of blood...

Devouring the souls of sinners human...

And let them burned into the ash...

 

Aku ingat lagu itu...

Ah tentu saja! mengalir dalam darahku adalah darah laki-laki yang sama dengan darah gadis itu. Sebuah darah yang terkutuk. kemanapun langkahnya pergi, darah akan membasahi tanah. Bukan kemauannya untuk membunuh orang-orang di sekitarnya.

 

Bukan salah laki-laki itu ibuku terbunuh tujuh tahun yang lalu.

 

Bukan salah gadis itu orang-orang disekitarku terbunuh.

 

Bukan salahku orang-orang yang menghina ibuku mati bermandikan darah.

 

Jauh di dalam darah kami, sebuah kutukan tersimpan. Sebuah jiwa yang haus darah. The Crimson moon. aku melihat tanganku yang juga penuh darah. Lucu, bagaimana aku bisa lupa kenapa aku datang ke kota ini? tentu saja kemanapun aku pergi orang-orang akan tetap terbunuh.

 

dan gadis itu memiliki takdir yang sama.

 

Aku bangkit dan mendekatinya, dengan tanganku yang basah oleh darah aku mengusap kepalanya.

 

"Aku sudah berjanji, kan? meski kau membantai seisi desa ini, aku akan tetap di sisimu."

 

Dan tangisannya kembali meledak, kali ini ia memelukku dan mengusap wajahnya di dadaku. Melihat apa yang terjadi di desa ini membuat hatiku ikut sedih. Sudah berapa kali aku membunuh tanpa sadar? sudah berapa kali gadis ini kehilangan orang-orang di sekitarnya? sudah berapa kali laki-laki itu menghindari manusia sebelum akhirnya bertemu dengan ibuku?

 

Pertanyaan demi pertanyaan simpang siur di benakku.

 

Beberapa menit kemudian gadis itu menghentikan tangisnya. Ia tertidur, mungkin apa yang terjadi malam ini benar-benar membuatnya kelelahan. Matahari mulai terbit dan dalam terangnya sinar mentari menyinari kota kecil bersimabah darah ini.

 

Dalam bisikan aku bernyanyi....

 

Crimson Sky...Crimson sky...

Enveloping the world with rain of blood...

Devouring the souls of sinners human...

And let them burned into the ash...

 

Burned town...Burned town...

Show me the what behind the ash...

Is that sun light or just a burned town...?

Give me light for tomorrow hope...

 

*

 

Sudah berapa tahun sejak aku kabur dari kota itu? dua tahun? tiga tahun? aku memeriksa kembali ingatanku untuk memastikan namun sepertinya semakin tua ingatanku juga semakin memudar. Tapi aneh rasanya menjadi tua tanpa mengalami perubahan sedikitpun.

 

Kanade duduk di sebelahku, seperti biasa tertidur di bahuku. sejak kejadian itu aku tak ingin melihatnya menangis lagi dan aku tak akan pernah meninggalkannya sendirian lagi. Aku melirik ke arah pigura foto di dashboard mobil jeep yang kami kendarai menuju Kyoto.

 

Sejak saat itu kami bertualang, tinggal di kota yang sama tidak lebih dari sebulan dan bersembunyi di hutan bersama saat Bulan Purnama menghias langit. Pigura foto itu adalah foto kami dalam busana pernikahan. Aku hampir ditangkap polisi saat melakukan pernikahan itu dan kejadian itu berakhir dengan pertumpahan darah.

 

Tapi kami melalui itu semua bersama.

 

"Nii-san," suara Kanade membuatku tersadar dari lamunan.

 

"Selamat pagi, Kanade-hime," Balasku, "Bagaimana tidurmu?"

 

Ia mengusap matanya dan kemudian menatapku, "Malam ini kita kemana?"

 

"Ada sebuah hutan bertebing dua kilometer dari sini," Jawabku.

 

"Hm..." da kemudian ia memeluk lenganku tanpa berbicara apa-apa lagi.

 

Benar, Jalan kami penuh darah dan kemanapun kami pergi banyak orang yang akan terbunuh. Tapi Hei, kami menghadapinya bersama. Saat masalah datang, saat kami membunuh lagi, kami akan saling menghibur dan berkata, 'Syukurlah kau masih hidup.'

 

Burned town...Burned town...

Show me the what behind the ash...

Is that sun light or just a burned town...?

Give me light for tomorrow hope...

 

Pale Light...Pale Light...

A Light that give us A hope...

keep shine brighly for us...

Even under the Crimson moon.

Pale Moon Pale Moon

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer nawang07
nawang07 at A Crimson Moon (5 years 23 weeks ago)
50

nice, lanjutan saya tunggu ..

Writer w_winter
w_winter at A Crimson Moon (5 years 49 weeks ago)
90

................
Aku suka sama ceritanya. Uum...susananya mungkin memang creepy dan berkesan lonely. Cara ngebangun suasana dari sifat dan situasi yang dialami karakternya nice.

Writer wiedya_sweed
wiedya_sweed at A Crimson Moon (5 years 52 weeks ago)
90

mungkin agak berlawanan ya._. tapi menurutku romance di sini berkesan banget buatku :3 cuma beberapa, aku penasaran banget sama kisahnya orang tua merekaa, terus bagian mereka pas pernikahan mau ditangkep polisi, mereka itu saudaraan kan? ._.
gimana kalau cerita orang tua mereka dibuat aja? :3 aku penasaran banget looh XD

Writer Ichsan.Leonhart
Ichsan.Leonhart at A Crimson Moon (5 years 52 weeks ago)

Weh, diposting di sini juga ternyata
:D
**ikut nambang point deh, comment udah di TWH soalnya**
:p

Writer rifkaazzahra
rifkaazzahra at A Crimson Moon (6 years 54 min ago)
70

oh, romance toh? .___.
*baru sadar begitu baca komen2an*
*kemudian digigit vampire*
setuju sama komentator lain #halah, romance-nya kurang kuat. penggunaan huruf kapital juga kurang konsisten. penulisan kalimat efektif dan kata depan diperhatikan lagi juga, ya. backstory boleh juga ditambahin tuh, terutama ttg latar belakang pembantaian. #baweldikit #gakpapakanya
.
tapi saya suka reaksi jatuh dari ayunan itu, sweet banget kesannya haha
nyanyiannya juga menarik. liriknya bikin sendiri atau pinjem dari manaaa gitu?
.
bacanya ngalir sih, tapi... datar....

Writer cherryblossoms
cherryblossoms at A Crimson Moon (6 years 4 hours ago)
70

awalnya ga nyangka kl cowoknya vampir jg ._.
hhaha btw spam2 gitu asalnya dr mana yak ? >.<

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at A Crimson Moon (6 years 13 hours ago)
70

...euleuh... spam2-nya bikin cerita ini kayak yang panjang padahal enggak hahaha...
.
penggunaan huruf kapital (di awal kalimat) tidak konsisten.
.
sempet merinding pas Kanede bilang, "Aku yang mungkin saja akan menggigitmu,"... (Atau mungkin karena saya bacanya pas tengah malam sendirian di kamar kali ya waha.) lucu juga pas berapa kali Kanede jatuh dari ayunan ketika "aku" datang (kenapa gitu mulu sih hehe.) dan heran ketika di awal sepertinya terkesan mereka baru kenal, tapi kok "aku" bersikap seperti yang sudah akrab. dan sikap Kanede pun polos banget. tapi ternyata diketahui kemudian kalau mereka punya hubungan darah, walau bagaimana "aku" mengetahuinya tidak jelas benar. sedang Kanede seperti yang tidak tahu apa2. pokoknya "aku" ini serba tahu. kayaknya emosi dl ini sudah cukup terungkapkan, buatku sih.
.
nanggepin kata montinue, kiranya vampir memang ga identik dg jepang. tapi mengingat di produk2 jepang macam manga/anime itu apa saja mungkin terjadi (bahkan negara2 pun dapat berwujud manusia haha), yaa apa saja mungkin terjadi termasuk yang di dalam cerita ini :))

Writer montinue
montinue at A Crimson Moon (6 years 16 hours ago)
50

ummm.,genre'nya apa ya?? bener kata bawah ane, kalo romance, ga jelas romancenya dimana, kalo gore,juga ga jelas...

satu yg sy temukan adalah agak maksa untuk gabungin jepang dan barat...gw sama sekali ga dapet bayangan vampire jepang, mungkin persamaanya kalo ad yg bikin cerita kuntilanak di jerman?okeh yg ini ga penting

pengambilan temanya bagus.,mungkin sedikit eksploorasi lagi

Writer rury_bee@Yahoo.com
rury_bee@Yahoo.com at A Crimson Moon (6 years 16 hours ago)
20

suka sama cerita romance, apalagi cowok yang setia . tapi mungkin agak datar.

Writer hamdan15
hamdan15 at A Crimson Moon (6 years 17 hours ago)
70

entah kenapa, nggak bisa ngasih rasa apapun.
romance nggak kebaca, karena MC nya hanya lgsung tergila2 tanpa alasan sama heroine nya.
.
sadis, guro jg nggak. Apa gunanya ngebantai satu kampung. klo mau bikin sensasi sih knp nggak ngebunuh mentri yg korup aja sekalian.
.
tapi, yah, haha. ya udahlah.