Fullmoon Creatures: Part 3

Claire memandang lurus pepohonan yang menari dengan damai di lembah sana. Tiba-tiba sesuatu terbesit dalam benaknya...

Kebebasan. Sejak kecil sampai sekarang, ia selalu menuruti kehendak ayahnya, namun ayahnya selalu memandangnya dengan sebelah mata. Ia sudah lelah dengan ayahnya yang memperlakukannya seperti boneka. Ia merasa tidak memiliki kehidupannya sendiri.

Rambut Claire yang keperakan berkibar tertiup angin yang berhembus ke arahnya. Ia memejamkan mata, mencoba menikmati setiap sentuhan angin di kulitnya. Andai saja angin bisa membawanya lari... lari dari kehidupannya yang seperti ini. Untuk vampir seusianya, ia masih tergolong remaja tapi beban hidup yang ditanggungnya bahkan lebih besar dari ukuran tubuhnya sendiri. Menjaga keutuhan klan vampir di manornya dan mempersiapkan diri untuk tugas yang lebih berat kelak... menjadi penerus ayahnya yang merupakan pemimpin klan vampir.

Claire membuka matanya, ia kembali memandang deretan pohon pinus di sana. Bahkan pohon-pohon itu pun dapat dengan bebas menari bersama angin. Claire mengalihkan pandangannya pada manor yang telah ditinggalinya sejak ia berusia sepuluh tahun, seharusnya sekarang ia sudah kembali ke sana dari arena latihan, masuk ke kamarnya dan istirahat agar siap pada latihan esok hari, bersikap seolah-olah hari ini tidak terjadi apapun. Tapi Claire melangkahkan kaki ke arah yang berlawanan dengan manor itu, kali ini ia ingin menuruti kehendaknya sendiri. Bukan melarikan diri, ia tidak pergi untuk selamanya, ia hanya ingin melepaskan kepenatan hatinya untuk sementara. Ia berlari ke arah lembah di kegelapan malam. Tidak tahu pasti kemana ia akan pergi, saat ini ia hanya ingin berada jauh dari manor atau lebih tepatnya jauh dari sang ayah.

Setelah merasa cukup jauh dari manor, Ia berhenti berlari dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling lembah yang luas. Terakhir kali ia datang ke sini adalah saat Sebastian membawanya latihan berburu saat ia masih kecil. Ia tidak pernah diizinkan datang ke sini sendirian karena lembah ini dekat dengan  perbatasan musuh utama klannya: werewolf. Tapi sekarang Claire tidak peduli, toh ia tidak berniat untuk memburu manusia atau masuk ke perbatasan mereka.

Sebuah senyum tipis terukir di wajah Claire. Ia merasakan suatu kepuasan atas hal yang baru saja dilakukannya. Claire memejamkan matanya lagi. Mendengarkan suara air terjun yang bergemericik, suara dahan-dahan pohon yang bergoyang tertiup angin, serta suara pergerakan binatang-binatang di lembah hutan ini yang membuatnya merasa seperti ingin bermain. Ternyata seperti ini rasanya kebebasan itu...

 

-o0o-

 

Sepasang mata kecoklatan menatap lembah hutan dari atas bukit. Tertutup oleh beberapa helai rambut yang berwarna sama tetapi tidak menyembunyikan ketajamannya. Tiba-tiba sepasang lensa itu menangkap sebuah cahaya perak yang bergerak di tengah lembah.

Cahayanya semakin dekat. Alis pria itu mengernyit saat mengetahui bahwa asal cahaya perak itu adalah dari seorang gadis dengan rambut keperakan yang terlihat bersinar di kegelapan malam. Siapa dia? Apa yang dilakukan oleh seorang gadis di tengah lembah hutan malam-malam seperti ini? Lalu apa juga yang dipikirkan oleh seorang pria untuk berkeliaran di tengah lembah hutan di waktu yang sama? Tidak heran, pria itu adalah seorang werewolf.

Gadis itu membalikkan badan hingga membuatnya dapat melihat jelas wajah pemilik rambut indah itu. Ia terpesona. Gadis itu sangat cantik. Tapi dengan naluri alamiahnya, ia tahu bahwa gadis itu bukan gadis biasa. Seorang vampir muda, harusnya ia memburunya... tapi sepertinya vampir ini tidak berbahaya. Jika ingin mencari mangsa, kenapa malah memilih tempat di lembah hutan yang sudah pasti tidak akan ada manusia yang berkunjung saat tengah malam ke tempat ini? Pikirnya.

Walaupun begitu, pria itu tetap mengawasinya. Penasaran dengan apa yang dilakukannya dan juga karena tidak bisa mengalihkan pandangannya dari gadis itu hingga ia pergi.

 

-o0o-

 

Setelah malam itu Claire jadi lebih sering pergi diam-diam dari manor. Hal itu seakan telah menjadi kegiatan rutinnya. Sekarang bukan hanya untuk melepaskan kepenatan hati, tapi juga untuk melatih kemampuannya. Ya, selain berlatih bersama Sebastian, Claire berlatih sendiri di tengah hutan lembah itu. Sepertinya perlakuan dan perkataan terakhir Leonardo pada dirinya telah memotivasi dirinya untuk berusaha lebih keras lagi. Leonardo sudah kembali ke kastil utama klan vampir, entah kapan dia akan datang lagi untuk menguji Claire. Pada saat itu, Ia harus bisa membuktikan kemampuannya pada Leonardo, ayahnya.

Malam ini seperti biasa Claire berniat pergi diam-diam dari manor. Ia sudah siap dengan pakaian latihannya yang tadi juga dikenakan saat latihan bersama Sebastian. Ia hendak melompat turun dari jendela saat suara yang tidak asing tiba-tiba mengejutkannya. Viviana.

“Kau mau kemana?”

“Hanya keluar sebentar.”

“Setiap malam?”

“Kau tahu?”

“Ya, beberapa waktu lalu aku melihatmu keluar dan setelah kuperhatikan, ternyata kau melakukannya setiap malam. Apa yang kau lakukan diluar sana?”

“Kau tidak perlu tahu.”

“Tapi kau tahu kan kalau itu berbahaya? Jika Lord Leonardo tahu, ia bisa marah besar. Lagipula hutan itu dekat dengan perbatasan musuh utama kita. Terlalu berbahaya untuk menghadapi mereka sendirian,” ujar Viviana seraya mendekapkan tangannya.

Claire menoleh ke arah Viviana lalu menyeringai. “Tenang saja, jangan meremehkanku.” Ia melompat turun dari jendela kamarnya dan berlari menuju hutan lembah tanpa memperdulikan panggilan Viviana.

Viviana hanya bisa melihat Claire yang berlari menjauh dari manor. Ia tidak tahu apa yang sahabatnya, Claire lakukan setiap malam di luar sana. Tapi apapun itu ia percaya bahwa itu bukanlah sesuatu yang buruk, jadi ia tidak akan memberitahukan hal ini pada siapapun, termasuk ayahnya Sebastian.

Beberapa menit kemudian Claire sampai di tempat ia biasa latihan. Ia mengeluarkan pedang dari sarungnya dan mulai berlatih pedang sendiri. Tebasan-tebasan pedangnya yang cepat menimbulkan kilauan cahaya dan suara angin yang seakan terbelah.

Sementara itu seseorang sedang asyik mengamati Claire dari atas pohon yang tinggi dekat sana. Ia tidak tahu apa yang membuatnya datang memperhatikan seorang gadis vampir setiap malam sedangkan ia sendiri adalah seorang werewolf. Gadis ini seakan memiliki magnet yang menariknya dan membuatnya selalu ingin bertemu.

Claire menghentikan gerakannya dan melihat ke langit malam serta bulan yang hanya menampakkan separuh dirinya. Tiba-tiba sesuatu terbesit di benak Claire: werewolf. Ia ingin tahu bagaimana rasanya melawan musuh sungguhan dan ingin mempraktekkan kemampuannya pada pertarungan yang sesungguhnya. Claire pun memasukkan kembali pedangnya ke dalam sarung dan melangkahkan kaki menuju perbatasan, tanpa ia sadari sepasang mata coklat selalu mengawasinya.

Saat suasananya mulai berubah, Claire tahu bahwa ia telah memasuki perbatasan. Suhu yang lebih hangat dan bau yang tidak terlalu akrab di hidungnya. Dimana para werewolf itu? Pikir Claire. Ia terus berjalan menyusuri perbatasan, tiba-tiba telinganya menangkap suatu pergerakan. Claire menoleh ke asal suara dengan sigap, ia terkejut saat mendapati seorang pria di hadapannya, seorang werewolf. Well... Ini dia yang ia cari.

Claire menunjukkan taringnya dan mengambil posisi siaga. Pria itu berubah wujud menjadi seekor serigala dan kemudian meloncat kepadanya dengan sangat tiba-tiba namun Claire berhasil menghindar dan menendang serigala itu dari atas dengan kekuatan kakinya. Serigala itu terhempas ke belakang hingga membentur sebuah pohon namun ia berhasil bangkit dan kembali menerjang Claire, pakaian Claire sobek akibat cengkraman serigala itu namun dengan kekuatannya Claire berhasil menghempaskan serigala itu lagi. Dengan cepat Claire menghampiri serigala itu, hendak mematahkan kepalanya saat tiba-tiba serigala tersebut mengeluarkan sebuah suara lolongan panjang.

Seketika kawanan serigala datang dan mengelilingi mereka. Claire terkepung. Ia mengeluarkan pedang dari sarungnya dan mulai menyerang serigala-serigala itu dengan cepat namun tidak seperti serigala yang sebelumnya, serigala-serigala ini sepertinya lebih kuat dan setiap Claire berhasil menjatuhkan seekor dari mereka, yang lain tetap menyerang. Claire mengerang saat seekor serigala mencakar tubuhnya dalam tapi dengan cepat Claire berbalik dan menebaskan pedang ke arahya. Tebasan pedang Claire melukai tubuh serigala itu namun sepertinya daya tahan tubuh mereka kuat sekali, setiap Serigala yang berhasil Claire jatuhkan pun masih bisa menyerang kembali. Begitu juga Claire, setiap luka yang Claire dapat di tubuhnya selalu memulih dengan cepat. Tentu saja, mereka tidak akan bisa membunuh vampir kecuali dengan memisahkan kepala dari tubuhnya. Tapi tenaga Claire sudah hampir habis karena ia pakai saat latihan tadi dan menyerang serigala yang seaakan tidak ada hentinya sendirian. Apakah ia akan mati di tangan para werewolf ini?

“Auuu~” Ia mendengar lolongan serigala yang terdengar lebih berat dan keras dari yang sebelumnya ia dengar. Serigala-serigala yang lain pun menghentikan serangannya dan menoleh ke asal suara. Mereka menghindar, seakan memberi jalan  pada serigala yang baru saja muncul. Serigala yang lebih besar itu sampai di hadapannya dan menatapnya sekilas sebelum berbalik membelakanginya.

“Pergilah kalian, serahkan saja ia padaku.”

Semua serigala itu menurut dan pergi meninggalkan Claire dengan serigala yang baru saja muncul. Apakah ia pemimpin mereka?

Claire tidak tahu kedatangan serigala itu adalah keberuntungan atau justru kemalangan baginya. Serigala itu pasti merupakan yang terkuat di antara mereka. Claire bangkit dari jatuhnya dan mengambil posisi siaga sebelum serigala itu kembali menghadap ke arahnya. Tapi bukannya menyerang, serigala itu malah berubah ke wujud manusia.

Sekarang seorang pria tinggi berdiri dengan gagah di hadapan Claire. Rambut coklat dan kemeja yang ia kenakan berkibar tertiup angin. Claire menatap matanya yang tajam tapi tidak menyiratkan pandangan seorang musuh di sana.

“Apa yang kau mau?” Claire bertanya dengan waspada.

“Tidak ada.” Ekspresinya datar sehingga Claire tidak bisa menebak apa yang ia pikirkan.

“Kau melepaskanku?” tanya Claire lagi.

Alih-alih menjawab, pria itu malah berbalik dan berkata dengan lirih “Pulanglah sekarang sebelum para werewolf itu kembali.” Kemudian dia pun melesat pergi sebelum Claire dapat mengatakan apa-apa lagi.

 

-o0o-

 

Ia tidak mengerti dirinya sendiri. Kenapa ia menolong seorang gadis vampir? Hal itu bukanlah hal yang akan dilakukan oleh seorang werewolf manapun terhadap seorang vampir. Tapi ia merasa seperti ada sesuatu yang mendorongnya, membuatnya tidak ingin membiarkan gadis itu terluka.

“Garous bagaimana pendapatmu tentang hal ini?” Sebuah suara membuyarkan lamunannya.

Ia yang bernama Garous menoleh ke asal suara dan baru menyadari bahwa semua mata di ruangan itu menatap ke arahnya.

“Selama bertahun-tahun, wilayah kita aman dari para penghisap darah itu, tapi kemarin salah satu dari mereka memasuki perbatasan kita. Bukankah hal itu adalah sebuah ancaman? Kemarin memang hanya satu, tapi tidak menutup kemungkinan bahwa akan datang lebih banyak lagi,” ujar salah seorang di antara mereka.

“Ya. Mungkin saja vampir yang kemarin di kirim untuk memata-matai kita. Apa mereka sedang menyusun sebuah rencana?” sahut seseorang di ruangan itu lagi.

“Kedatangan vampir yang kemarin bukanlah sebuah ancaman. Percayalah pada kekuatan kita, jika mereka macam-macam kita bisa menghabisi mereka. Jadi kita tidak perlu khawatir. Persiapkan saja diri kalian untuk setiap kemungkinan yang ada,” jawab Garous sebelum berdiri dan beranjak keluar ruangan.

Garous, sang pemimpin klan werewolf atau yang biasa disebut dengan pejantan utama. Bertahun-tahun lalu ia dipercayakan untuk menjadi pemimpin klan oleh ayahnya yang kini telah tiada. Bagaimanapun juga, ia yang bertanggung jawab untuk menjaga keutuhan klan dan juga melindungi manusia dari vampir, musuh utama mereka. Menolong seorang vampir seharusnya merupakan sebuah tindakan yang salah, tapi entah mengapa ia tidak menyesal telah menyelamatkan gadis vampir itu.

Setelah sadar dari lamunannya, ia sudah berada di tengah lembah hutan. Ia tidak tahu apa yang membuat kakinya melangkah hingga kembali kesini. Mencari gadis itu? Seharusnya gadis itu sudah datang tapi ia belum muncul juga. Apa gadis itu tidak akan datang lagi kesini setelah kejadian kemarin?

Garous memandang jauh ke arah barat lembah. Di sanalah kediaman para vampir itu. Sudah lama ia tidak melihat mereka di daerahnya. Gadis itu adalah vampir pertama yang dilihatnya memasuki perbatasan selama bertahun-tahun. Ia sempat heran, apa yang selama ini mereka lakukan? Bagaimana bisa mereka bertahan hidup tanpa minum darah? Atau dari mana mereka mendapatkan suplai darah?

Garous membalikkan badan, ia hendak beranjak pergi sebelum mendengar sebuah suara langkah kaki. Garous mengendus udara di sekelilingnya, ia kenal bau ini. Garous membalikkan badannya lagi dan memicingkan matanya, menunggu langkah kaki itu semakin mendekat.

Seseorang muncul di hadapannya. Seorang gadis cantik dengan rambut keperakkan yang bergelombang dan bola mata yang berwarna kemerahan. Sepertinya tatapan mata  gadis itu tidak kalah terkejut dengannya. Kenapa ia berada disini?

“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Claire padanya.

“Kau sendiri? Apa yang kau lakukan di dekat perbatasan kami?” Garous balik bertanya.

“Tenang saja. Aku tidak berniat untuk membuat keributan lagi.”

“Berarti sebelumnya kau memang berniat?”

“Yah... hanya untuk menguji kemampuanku.”

“Kukira kau berniat untuk mati.”

Claire menghembuskan napasnya berat. “Sepertinya aku memang masih harus banyak berlatih. Ohya... yang kemarin, terima kasih,” ujar Claire dengan tetap menatap Garous.

Garous tersenyum tipis. “Baiklah. asal jangan memasuki perbatasan lagi, gadis vampir.”

“Jangan memanggilku gadis vampir, tuan werewolf. Aku punya nama, Claire.”

“Dan jangan memanggilku tuan werewolf, nona Claire. Kau bisa memanggilku Garous.”

Mereka tertawa tertahan mendengar kalimat masing-masing. Memang tidak ada yang lucu, tapi seorang werewolf berkenalan dengan seorang vampir adalah hal yang aneh. Dan jauh di pikiran mereka, tanpa mereka sadari, hal ini mungkin adalah saat yang mereka tunggu. Sudah lama sekali Claire tidak tertawa spontan seperti ini.

“Mau menguji kemampuanmu lagi?” tanya Garous tiba-tiba.

Claire mengangkat sebelah alisnya, mengeluarkan pedang dan mengacungkannya ke arah Garous sebagai jawaban.

“With pleasure.”

 

-o0o-

 

-cherryblossom:)-

Read previous post:  
36
points
(1778 words) posted by kyuukou okami 7 years 41 weeks ago
60
Tags: Cerita | Novel | fanfic
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer kaochanisa
kaochanisa at Fullmoon Creatures: Part 3 (5 years 45 weeks ago)
70

kamu kolaborasi sama lala ya?
kalau untuk yang genrenya action, kayanya kamu memang masih kurang ya..
oiya, belajar aja sama Ao-chan..
dia kan ahlinya kalau buat cerita bergenre itu..

Writer cherryblossoms
cherryblossoms at Fullmoon Creatures: Part 3 (5 years 41 weeks ago)

iya :D iyap hhuhu ajarin dong >.<

Writer bayonet
bayonet at Fullmoon Creatures: Part 3 (5 years 48 weeks ago)
80

wah-wah.. kencan pertama aja udah berantem. ane pesimis dengan kisah cinta mereka gan. hehe

nice story, meskipun ane kurang suka dengan cerita vampir2an.

Writer cherryblossoms
cherryblossoms at Fullmoon Creatures: Part 3 (5 years 48 weeks ago)

eh ? siapa bilang itu adl kencan ? hhaha
yosh makasih udah mampir ya ^-^

Writer hamdan15
hamdan15 at Fullmoon Creatures: Part 3 (5 years 49 weeks ago)
80

cerita awalnya ngga bisa dibuka >.<
.
klo aku blg sih, bagian actionnya jg terlalu dimampatkan, jadi agak pusing ngebacanya.

Writer cherryblossoms
cherryblossoms at Fullmoon Creatures: Part 3 (5 years 49 weeks ago)

eh gabisa ? O.o

gitu ya kk *nangis di pojokan* x'D

Writer rifkaazzahra
rifkaazzahra at Fullmoon Creatures: Part 3 (5 years 49 weeks ago)
70

sedang belajar nulis action juga, ya... hmm... adegan action-nya terlalu "tell" kak, dan kata "namun" yg diulang-ulang bikin ilfil. jadi kurang kerasa tegangnya. tapi udah bagus sih, cuma kurang polesan(?) aja :D
*ini saya menilai sebagai pembaca ya, bukan penulis, karena saya sendiri gak begitu sering nulis adegan action, apalagi yg pake senjata tajam—biasanya tonjok-tonjokan doang wkwk*
beteweh....
romance-nya belom mulai.... #penontonkecewa(?)

Writer cherryblossoms
cherryblossoms at Fullmoon Creatures: Part 3 (5 years 49 weeks ago)

emang jarang nonton action dan ga terlalu suka jg sih :p

udah aku tambahin kk ceritanya. apakah masih belum terasa ? >w< hhehe btw makasih udah mapir yo :b

Writer rifkaazzahra
rifkaazzahra at Fullmoon Creatures: Part 3 (5 years 48 weeks ago)

halo halooo saya muncul lagi xD
baru baca ulang cerita ini nih. kerasa, tapi baru dikiiit banget, soalnya emang masih awal dan belom banyak kejadian xD

Writer cherryblossoms
cherryblossoms at Fullmoon Creatures: Part 3 (5 years 48 weeks ago)

halo kemana aja kk rifka :p
iya jg sih..hhoho ok makasih yak ;)