Lemon Juice ~ Ketika Aku menikahi kakek tua, maukah kau menungguku?

 

 
Satu demi satu langkah membuat jarak kami semakin dekat. Kini hanya 1 meter jauhnya, namun entah mengapa rasanya seperti berkilo-kilo meter, seolah kami diujung belahan dunia yang berbeda. Hanya ada kami berdua di ruangan ini, tapi rasanya seperti laki-laki itu menjelma menjadi naruto dengan jurus seribu bayangannya, dan aku harus berebut oksigen dengan mereka semua. Semakin lama semakin sesak dan aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan.
 
"Apa kau yakin?" Nathan menatapku tepat di mata, juga sedang meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini adalah satu-satunya pilihan yang tersisa.
 
"ya." aku menjawabnya singkat. Jujur saja, aku sebenarnya ingin sekali memberondongnya dengan ribuan kata-kata, tapi kali ini aku lebih memilih diam dan mengamati wajahnya yang gelisah.
 
Nathan tersenyum simpul, terkesan hambar. "Bersiaplah. Aku akan menunggu dibawah." ia berbalik, berjalan ke arah pintu dan turun melalui tangga besi tua di belakang apartemen.
 
Aku mengambil sebuah gaun berwarna putih dari lemari dan mengenakannya. Sedikit menata rambut dan membuat riasan sederhana di wajahku. Kuharap lingkaran hitam di bawah mataku bisa tertutupi dengan sempurna.
 
Nathan sedang asyik membuat burung kertas begitu aku menemuinya di bawah. Ia bahkan tak menatapku dan langsung membukakan pintu mobil agar aku segera masuk. Setelah itu ia membuka pintu yang lainnya dan duduk di belakang kemudi. Ada keheningan yang begitu lama, seolah kami sama-sama enggan untuk membuka sebuah percakapan, atau sekedar saling berbasa-basi. Nathan asik dengan stir-nya, dan aku sibuk merapikan rambutku yang terlihat berantakan. Mungkin benar kata Mama, seharusnya aku menyempatkan diri ke salon tadi.
 
"Kuharap ini yang terbaik." Nathan berkomentar tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan raya.
 
"tentu saja." jawabku singkat.
 
"Bukan kau yang ku khawatirkan, tapi orang yang kau nikahi. Kau benar-benar pengantin terburuk."
 
Aku menoleh sekilas dan melihat laki-laki itu menyeringai lebar. 
 
Bukannya marah, aku malah senang mendapati ekspresi jahil itu. Setidaknya aku tidak lagi melihat ketegangan dan kegelisahan di matanya. Mungkin ia tahu kalau aku sedang butuh seseorang yang bisa kuajak bicara, bukan seseorang yang malah semakin membuat ketegangan ini menjadi-jadi.
 
"Kuanggap itu pujian dari orang yang sangat ingin menikah, tapi sampai sekarang belum mendapat calon."
 
"setidaknya Aku tidak se-frustasi itu sampai-sampai menikahi seseorang yang lebih cocok sebagai kakeknya." Nathan melirikku sekilas, lalu kembali menatap jalan dengan senyum kecilnya.
 
"Umur tidak masalah, yang penting dia menyayangiku."
 
"itu karena kau seperti anaknya, atau karena kau lucu dan mirip sekali dengan cucunya."
 
"kau kan sudah tahu kalau dia tidak punya cucu!"
 
"benarkah? Pantas saja dia menikahimu. Kakek itu benar-benar kesepian."
 
Aku memutar bola mataku dan mengalihkan pandanganku keluar jendela. "Tidak lucu." ucapku kesal.
 
Nathan hanya terkikik kecil dan bersenandung dengan gayanya yang biasa. Ini bukan lagu yang biasa ia nyanyikan. Nadanya terdengar aneh dan tak beraturan, namun terasa familiar di telingaku.
 
"lagu apa itu?" aku menatapnya penasaran. Dia terdiam, menoleh sekilas dan menyeringai lebar, sebelum akhirnya menjawab,"Cucok Rowo."
 
Aku merasakan wajahku memerah dan seketika itu juga menyesal karena telah bertanya. "SINTING!" umpatku padanya, kemudian membuang muka. Nathan tertawa puas dan kembali bersenandung.
 
Tak lama kemudian kami sampai di sebuah perumahan mewah. Nathan menepikan mobilnya dengan hati-hati, setelah itu turun dan membukakan pintu untukku.
 
"Pengantin terburuk, kau sudah sampai."
 
Aku hanya mendelik kesal dan melangkahkan kakiku keluar mobil.
 
"Apa tidak ada kata-kata yang lebih bagus dari itu? Setidaknya kau akan kehilangan 'pengantin terburuk' ini dalam waktu yang lama."
 
"Kurasa tidak. Umur kakek itu sudah sangat tua, kau tidak akan lama bersamanya." Nathan kembali menyeringai, memamerkan deretan giginya yang tampak membosankan.
 
 "Aku tidak main-main. Mungkin saja... setelah ini kita tidak akan pernah bertemu lagi selama puluhan tahun."
 
Ucapanku membuat Nathan terdiam. Laki-laki itu kemudian menghela napas dan membelai kepalaku dengan lembut, seperti yang biasa ia lakukan selama ini. "Tidak akan. Aku berjanji akan segera membawamu kembali. Kau hanya harus bersabar dan tetap menungguku, oke?"
 
Aku mengangguk pelan, mengiyakan, sekaligus mencoba mempercayainya. Sejenak ada rasa tenang yang menjalar keseluruh tubuhku. Katanya, aku hanya harus menunggu. Kehidupanku akan berjalan normal setelah itu.
 
Nathan tampak mengamati rumah berpagar hitam yang berjarak beberapa meter dari tempat kami berdiri. Itu adalah tempat dimana aku akan menikah.
 
 "apa kau bisa menumbuk cabai?" Nathan menatapku dengan mata jernihnya yang jenaka.
 
Aku mengerutkan kening, merasa tidak yakin pada apa yang kudengar barusan.
 
"kau harus menumbuknya dengan halus, lalu masukkan ke botol spray, seperti botol minyak wangi atau botol pelicin pakaian. Setelah itu tambahkan dengan air dan kocok yang kuat. Kau bisa menggunakannya jika ia macam-macam padamu."
 
Aku hampir tertawa lepas mendengar ucapannya. "Nathan, Aku akan baik-baik saja, oke?"
 
Nathan menatapku serius. "Berjanjilah kau akan membuatnya." 
 
ia menatapku lekat, seolah sedang menelusuri rongga-rongga hitam dalam pikiranku. Alis ulat bulunya tampak sedikit berkerut, setengah memohon dan setengah memaksa agar aku mengiyakan permintaannya.
 
"Baiklah, aku berjanji." ucapku akhirnya.
 
Nathan tersenyum menang seperti seorang anak kecil yang baru saja mendapat juara lomba. "Kalau begitu, masuklah. Kau hampir terlambat."
 
Aku menatap Nathan sekali lagi, lalu melangkah pelan menuju rumah mewah berpagar hitam. Kuharap laki-laki itu tidak lupa untuk menjemputku suatu hari nanti. Aku tidak mau bertahan selama puluhan tahun dengan bersenjatakan botol cabai di tanganku.
 
 
(Bersambung....)
 

Read previous post:  
Read next post:  
70

Hm... Iya nih. Apa sebabnya perempuan itu sampai bisa menikahi kakek2? Padahal itu misteri terbesarnya... Apa enggak dipadatkan aja nih jadi cerpen, sehingga pertanyaan itu bisa langsung dijawab? Ehehe... Jadi inget Siti Nurbaya nih. Dan Nathan itu mungkin kayak Syamsul Bahri ya haha. Kalau kakeknya ternyata enggak jahat, saya malah kasihan sama beliau. Diam2 istri muda dan temannya mengharapkan kematian si kakek huhuhu...

60

Gue yakin pasti ada sesuatu neh hehehhee sip lah

100

aaiihh, so sweet si nathan itu maah X3

hehe, makasih udah berkunjung. Keep write! Sering-sering mampir yaaa :)

90

Waah, kereeen! Si Nathan pura2 antengtuh, padahal sediiih...bagusss ^_^

Makasih indyfindme :)
iya, sebenarnya dia sedih dan galau berat hihihi. Makasih komen dan point nya :*

90

Kyaaaaa!!! Openingnya aja kayak gini :D, penasaran kelanjutannya. Ditunggu yak?

Hehehe makasih ya ahmadsaktia untuk komen dan point nya. Diusahakan sesegera mungkin chapter selanjutnya ;)

100

okkk yang buat cerita gila,, anehnya tuh kaya pemaksaan karena disuruh menunggu nathan,, tp dy ngerasa gk tertekan menikahi si kakek

Wah, sebenarnya dia tertekan banget... Tapi memang ga dia perlihatkan hehe. Makasih ya untuk komen dan point nya :)

70

wah liat judulnya udah menggoda. ada apakah gerangan antara si kakek dan si gadis? hehe

ditunggu chapter berikutnya :)

60

poinnya kok gak keluar sih. maaf ><

Fine! saya gagal ngerti motif konfliknya. Jadi si cewenya kenapa nikahin tuh kakek cobak -____- Ini sayang bgt nih konfliknya begini, padahal menurut saya konflik ini punya potensi buat dipanjangin dan bisa dibikin menarik :v

aku memang sengaja tidak memunculkan konfliknya disini. Ini hanya 'makanan pembuka'. Konfliknya akan muncul pada chapter-chapter berikutnya :)