[Three Word Hall] Kelinci - Lukisan - Jam

Panggilan Arloji

 

Purnama di malam hari terlihat merah menyala, cahayanya terang seperti warna darah.

 

Berdiri di atas bangunan tua, Sesosok perempuan berambut panjang termenung menatap danau di kejauhan. Rambut hitam lurus melayang ditiup angin dingin nan kelam, diikuti oleh kibaran kain putih sutera yang menutupi tubuhnya. Kulit putihnya seolah bersinar memantulkan cahaya. Raut wajahnya terlihat mendung, bermandikan keringat dingin dan mata yang berkaca-kaca. Tetesan air mata yang jatuh terlihat bagai butiran berlian, bersinar dalam kegelapan malam, sendirian dalam kehampaan.

 

Danau gelap penuh pantulan cahaya menjadi latar dari duka yang ada. Terisak dalam tangisan sunyi, kepalan tangannya menggenggam erat arloji usang berkarat. Suara lirihnya menggumam memanggil sebuah nama.

 

“Limbo…”

 

------------------

 

 

 

Jam menunjukan pukul 10 siang. Para murid berhamburan ke luar ruangan untuk menikmati waktu istirahat.

 

Aku menghela napas, sejenak meletakkan kuas di tangan kanan. Pelajaran kesenian sudah berakhir, namun aku belum puas akan lukisan yang sedang kubuat.

 

“Menarik… tiap kali melukis, kau pasti selalu menggambar wanita yang sama.”

 

Aku menoleh, agak terkejut dengan kemunculan teman sekelasku. Berpenampilan rapi khas seorang anggota OSIS. Rambut lurusnya diponi ke samping hingga menutupi mata kanannya, bergaya parlente macam seorang eksekutif muda— dia tipikal cowok metropolitan.

 

“Oh, emangnya kenapa Len?” ucapku memanggil namanya.

 

Dia berpikir sejenak sambil bertopang dagu, “Kau tidak kenal dengan perempuan ini, tapi kau ahli menggambar lekuk wajahnya hingga ke sudut terkecil,” ucapnya menganalisis, “Contohnya yang ini.”

 

Telunjuknya memberitahuku letak bekas luka kecil yang sengaja kubuat di dagu kanan lukisanku.

 

“Dari sembilan lukisan yang kau buat, semuanya sama persis memiliki bekas luka kecil itu. Walau letaknya agak tersamarkan oleh guratan yang lain.”

 

“Jadi?” ucapku meminta kesimpulan. Aku sendiri bahkan tidak sadar kalau aku rajin menambahkan bekas luka di dagu kanan perempuan ini.

 

“Kau tetap tidak tau siapa dia?”

 

Aku menggelengkan kepala, “Entahlah, dia ini sudah ada sejak aku kecil.”

 

“Oh, jadi dia teman imajinasimu?”

 

Aku mengangkat bahu, “Mana kutahu, bodoh.” Tanganku bergerak menjitak pria ‘sok cool’ itu, lalu mengalihkan pandangan pada seseorang di belakang Len, “Eh, calon istrimu sudah menunggu tuh.”

 

Len menoleh kebelakang, di sana ada wanita cantik berambut biru, menunggu sabar sambil membawa bekal makanan berbentuk kotak di tangan.

 

“Oh, Ha— halo Fia..” ucap pria itu gugup.

 

“Sudah— makan dulu sana.” ucapku meledek, menirukan logat sebuah iklan. Lengkap dengan gerakan tangan layaknya sedang mengusir ayam.

 

Len menjulurkan lidahnya sambil mendorong Fia keluar kelas. Wajahnya tampak bahagia sekali.

 

Aku kembali menghela napas, sejenak memandangi lukisan portrait perempuan yang tidak kukenal. Berambut hitam lurus, dengan wajah mungil nan cantik. Dia mengenakan gaun berwarna putih terbuat dari sutera. Mataku dengan jeli memperhatikan dagu kanannya.

 

Benar juga, di sana ada goresan kuas kecil menandakan bekas luka.

 

Aku mengeluarkan arloji tua dari kantongku, sebuah jam kecil jaman dulu yang sudah usang dan penuh karat. Orang-orang menyuruhku untuk membeli jam tangan dan menyimpan benda ini di rumah. Namun aku lebih senang membawanya kemanapun aku pergi. Rasanya nyaman tiap kali aku menggengamnya seperti ini.

 

 ….

 

Kakiku melangkah mengantarkanku ke sebuah kursi panjang terbuat dari sebuah pohon. Hasil kreasi siswa terdahulu dengan cara membentuk alur tumbuh pepohonan hingga menyerupai sebuah kursi panjang. Berbeda dengan kebanyakan orang, aku lebih senang menghabiskan jam istirahat sekolah dengan tiduran di alam terbuka, dekat pohon akasia menghadap ke arah sawah dan gunung di kejauhan. Mataku mulai terpejam sembari menghiraukan Len dan Fia yang asyik bermesraan di bawah pohon tak jauh dariku.

 

 

 

“Limbo…”

 

Suara perempuan terdengar lirih di telinga. Aku sontak terbangun, disambut tiupan angin dari kumpulan padi di kejauhan.

 

“Mimpi apa aku tadi?”

 

Jantungku berdebar, semuanya terjadi dalam beberapa detik. Namun aku bisa mengingat jelas apa yang terjadi dalam mimpi singkatku tadi.

 

Tentang seorang perempuan cantik yang tak henti menangis siang dan malam. Berdiri di atas bangunan dalam gelapnya malam dan purnama merah menyala. Tak ada siang, hanyalah kegelapan abadi bersinarkan pantulan cahaya rembulan. Dia memegang sebuah jam kecil kuno— Arloji dari abad pertengahan.

 

Tanganku sontak mengamati arloji di saku baju. Bentuknya sama persis dengan yang kulihat di mimpi tadi. Mirip sekali, seperti satu bagian utuh yang telah terpisahkan.

 

Ingin rasanya aku menghiraukan mimpi tadi, namun pengalaman itu terlalu nyata untuk bisa disebut sebagai mimpi. Segalanya terukir dengan jelas dalam kepalaku. Bagaimana perempuan itu menangis tiada henti, memohon bantuan yang tak akan kunjung datang, bagaimana dia…. terlihat seperti gadis yang sering aku lukis.

 

Aku termenung sesaat.

 

Hey, dia memang sosok yang selalu aku lukis selama ini. Jangan-jangan dia ada hubungan denganku sejak kecil.

 

“Bangunan tua menghadap danau, dipenuhi rimbun dedaunan.” aku menggumam, “Aku tahu tempat itu.” ucapku sambil termenung memandangi langit.

 

“Kau mau pergi ke Istora?” ucap seseorang.

 

Aku menengadahkan kepala, mendapati wajah Len yang berada terlalu dekat denganku. Sontak saja aku terperanjat hingga jatuh dari kursi tetumbuhan.

 

Pria itu menertawakanku.

 

“Kampret.” dengusku kesal.

 

Pria itu masih tertawa.

 

Aku jengkel, lalu pergi meninggalkan makhluk itu.

 

“Hey.” pria itu memanggilku.

 

Aku menghentikan langkahku, menoleh dengan rasa penasaran.

 

“Jangan pergi ke sana.” ucapnya dengan wajah serius.

 

“A—apa sih?” tadi dia terkekeh penuh canda, sekarang mendadak serius seperti itu.

 

“Tak ada apapun di sana, kecuali para MG yang menunggu. Dan aku punya firasat buruk tentang itu.”

 

Ya, aku tahu. MG—singkatan dari Makhluk Gaib— atau mereka yang tak bisa dilihat dengan mata telanjang. Sosok halus yang bahkan tak memiliki raga yang kasar. Aku tahu semua itu, toh dia sendiri yang memperkenalkanku dengan dunia semacam itu. Tentang bagaimana dia membuka mata batinku, hingga membuatku bisa melihat sosok-sosok aneh di sekeliling.

 

Tapi justru itu yang membuatku semakin penasaran, apa benar sosok yang selama ini senang kugambar adalah sosok MG? Jika iya, ada baiknya aku datang ke sana dan menolongnya sesegera mungkin.

 

Aku menunggu dengan sabar hingga jam sekolah berakhir. Lalu ngebut melarikan diri setelah terdengar dentang bel tanda sekolah telah usai.

 

Kunyalakan motor mio berwarna merah, digas dengan keras, melesat membelah angin dalam kecepatan tinggi menuju Istora— bangunan tua bekas hotel di salah satu area di danau Jatiluhur.

 

Melewati jalan berkelok-kelok penuh pepohonan rindang. Aku tiba di depan pintu dengan papan rusak bertuliskan “Istora”. Aku sering melewati tempat ini, tapi baru kali ini aku berhenti di depannya dan melihat jauh ke dalam sana.

 

“Apa ini?”  pintu gerbangnya saja kumuh tak terawat. Penuh karat dan dedaunan kering lengkap dengan sampah plastik di sana sini. Bagian dalam sana penuh dengan tetumbuhan liar yang merembet hingga memakan seisi bangunan. Sulit dipercaya terdapat tempat seperti ini di area wisata yang terkenal hingga ke luar daerah.

 

Entah apa yang membuatku berani datang kemari. Arloji tua di saku baju terasa bergetar dalam gerakan lembut, membuat bulu kuduk berdiri seketika.

 

Ah itu cuma perasaanku, tempat ini tak seseram yang kubayangkan. Terlihat beberapa pemancing yang sedang mencari tempat untuk melakukan hobinya. Juga satu atau dua pasangan muda mudi yang sedang bermesra ria di salah satu pojokan.

 

Tempat itu terdiri dari puluhan bungalow tua, masing-masing mulai hancur dimakan usia. Terkecuali bangunan paling besar dan kokoh di penghujung tanjung. Gedung bekas hotel utama dengan bar usang yang terdapat di lantai dasarnya.

 

Usai memarkirkan motor, aku berjalan menuruni tangga kecil melewati kolam penuh dengan lumut. Mataku jeli memeriksa tiap sudut bangunan, berharap menemukan sesuatu yang aku sendiri tidak tahu apa.

 

Aku tiba di lantai dua, mendapati ruangan kosong penuh dengan lumut dan tetumbuhan merambat. Dinding bagian luarnya terbuat dari kaca, termasuk bagian pembatas balkon lantai dua yang menghadap langsung ke arah danau. Beberapa bagiannya terlihat pecah berserakan.

 

Berdiri di balkon lantai dua, aku memandangi indahnya danau serta pohon beringin besar yang berdiri kokoh di samping bangunan. Melangkah menyusuri balkon, hingga tiba di sisi utara paling dekat dengan dedaunan pohon.

 

Di sebelah kanan terdapat cermin seukuran lemari besar. Agak terkejut aku melihat pantulan tubuhku sendiri. Sesosok gadis SMU cantik berpakaian putih abu-abu, dengan bentuk tubuh ideal penuh lekukan seksi. Sesekali aku membetulkan letak poni depan yang mengganggu pandangan. Juga merapihkan karet jepit yang mengikat rambut tebalku.

 

Wajahku tak secantik artis di tivi sana, namun kulitku putih terawat karena mewarisi darah seorang chinesse. Tanganku mengoles sedikit lipgloss pada bibir mungil yang sering dibilang seksi oleh orang lain.

 

Aku mulai tersadar sesuatu, cermin itu terlihat bersih terawat, berbeda jauh dengan kondisi di sekelilingnya. Aneh sekali.

 

Perasaanku mulai tidak enak, aku berbalik hendak pulang. Namun dikejutkan oleh sosok menakutkan. Perempuan berpakaian putih melayang di atas pohon. Wajahnya kosong tanpa mata atau hidung dan mulut, tak jelas terlihat seolah tak memantulkan cahaya yang ada.

 

Jantungku melonjak kaget tak tertahankan, lalu pingsan di saat itu juga.

 

….

 

Perlahan aku membuka mata, mendapati diriku terbaring di lantai penuh dengan dedaunan kering. Suasana terlihat gelap, tanda bahwa siang sudah berubah malam.

 

Sakit— kakiku terasa sakit. Rasanya ngilu sekaligus perih, dengan kepala yang masih terasa berat, aku melihat ke bawah. Memeriksakan diri akan kaki yang terasa sakit.

 

Jantungku melonjak keras hingga dada terasa sempit, sesuatu sedang menggigit betisku. Kecil seukuran ayam, berwarna putih lusuh. Jumlahnya ada puluhan, mereka bergerak lambat namun mengelilingiku tanpa memberikan ruang untuk kabur.

 

Kakiku yang lain masih bisa digerakkan, sontak aku menendang makhluk lancang itu dengan sepatu kets berwarna cokelat. Darah merah mengalir hingga membasahi rok yang kukenakan. Betis kiriku terlihat kosong menganga, hancur dikunyah oleh makhluk putih bulat dengan telinga panjang.

 

Kelinci? Sejak kapan kelinci memakan daging? Ngilu dan perih terasa semakin menjadi. Aku melenguh sambil menyeret tubuhku menjauhi para kelinci bergigi tajam itu. Terus bergerak hingga punggungku mengenai kaca pembatas balkon.

 

Dengan wajah ngeri, aku menatap kumpulan kelinci bergigi tajam itu. Mereka muncul dari dalam bayang ruangan. Sekujur tubuhku bergetar tak karuan, napas semakin memburu disertai hentakan jantung yang tak terkendali.

 

Salah satu dari mereka meloncat, mencoba mengigit leherku. Namun aku menghalanginya dengan kedua tanganku. Makhluk itu menempel di siku dengan gigi tertancap di dalam otot. Cairan hangat terasa merembes, darah segar mengucur dari sana. Aku menjerit kesakitan.

 

Yang lain datang menghampiri, aku menggelinjang kesakitan ketika mereka menggigit tiap bagian tubuhku. Menarik gigi mereka dengan keras di bagian payudaraku, lalu mengunyah bagian ujungnya hingga putus menyemburkan darah. Aku menjerit sekuat tenaga, sakit sekali. Berkali-kali aku memberontak, menginjak, memukul kelinci-kelinci laknat itu. Namun mereka seolah tak bisa merasakan sakit. Tak peduli sekuat apapun aku menendang dan memukul mereka. Makhluk-mahluk kelaparan itu tetap datang dan mengigit tiada henti.

 

Aku bahkan tak bisa mendengar apapun ketika salah satu dari mereka menarik dua telingaku hingga putus. Teriakanku menghilang seiring dengan terputusnya saluran di tenggorakanku. Tubuhku ambruk, aku hanya bisa menggelinjang tak karuan. Mataku mendelik ke salah satu kelinci itu, dia sedang asyik mengunyah usus dalam perutku yang terburai keluar. Tubuhku terasa dingin, rasa sakit yang ada perlahan menghilang. Aku memandangi bulan berwarna merah di atas sana, dikelilingi oleh awan gelap dan puluhan gagak yang terbang berputar.

 

Salah satu mataku hancur digigit kelinci karnivora itu, sementara sisa mataku yang lain menangkap sosok perempuan berambut hitam panjang berdiri melayang tepat diatasku. Wajahnya terlihat datar, dengan bekas luka kecil di dagu sebelah kanan.

 

Dia sosok yang selalu aku lukis selama ini. Sosok yang secara tak sadar menuntunku untuk datang ke tempat ini.

 

Sosok itu mengambil arloji usang yang sudah terbenam dalam gumpalan darah.

 

“Kau sudah melakukan tugasmu dengan baik, terima kasih karena sudah membawa pasangan arloji ini kemari. Akhirnya aku bisa melepaskan segel untuk kembali ke Merkayangan, Limbo pasti sudah menunggu di sana…”

 

Apa yang dia maksud? Otakku mulai terhenti dari aktifitasnya, segalanya terlihat memburam, lalu tergantikan oleh cahaya putih.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
80

wele.. pas awal2 kukira tokoh utama nya Limbo XD
.
horor nya trlalu tiba2.. pas dikeroyok itu kenapa mesti 'itu' nya duluan, aaa... serem yg pas mainin usus it >.<
stuju ma kak Hewan, si tokoh utamanya ini perasaan gk pnya cerita kecuali utk mati :'D
.
deskripsi alam nya bagus plg suka yg pas awal2 kerasa dinginnya >w<)d

Limbo jadi cameo doang
._.
.
Masih belajar cara bikin gore yang baik, sepertinya temponya terlalu cepat ya...
._.
iya, dia memang suram. Hidup hanya untuk mati, sampai akhir-pun namanya gak disebutin sama sang author ._.
.
Istora itu tempat nyata di dunia nyata lho :v
di sana emang banyak MG-nya :D

60

Oke. Sebenarnya saya kurang menangkap apa yang dimau dari cerita ini. Dua tokoh terasa sebagai figuran, si pasangan itu. Sementara karakter utamanya ... ah, tugasnya hanya mati. Setelah mengantarkan alroji.

Akan lebih asik jika kiranya diberi sedikit 'struggle' saat si cewek itu hendak dilahap oleh kelinci-kelinci lucu itu.

50

bagaimana dia…. terlihat seperti gadis yang sering aku lukis.
kamu kalau nulis kalimat tanya jangan lupa kasih tanda "?"

Good Luck ya ichichan