Hujan Di Suatu Senja

            Gua dihujanin sama seorang cewe. Ini adalah cerita waktu gua kelas 1 SMA. Cerita yang tidak romantis memang. Sore itu gua mau minta buku gua yang dipinjem sama dia.

            “Mau ngapain ke sini?” tanyanya dengan jutek, persis di depan rumahnya. Bussseet!! Biasa aja kali bu!! Kayaknya gua harus memperlihatkan wibawa gua sebagai lelaki sama dia.

            “hmmm… nggak kok, Cuma mau maen aja.. hehe” gua dengan manisnya menjawab sambil cengengesan dan wibawa seorang lelaki pun luntur seketika.

            “Mau ngambil buku ya? Tunggu di sini…!!” katanya seperti seorang ibu-ibu arisan yang sedang bete karena tak kunjung menang lalu sang koordinator ibu-ibu arisan tiba-tiba membawa kabur uang arisannya ke Cina.

            “Nih.” Ujarnya setelah mengambil buku dari dalam rumahnya dan memberikannya ke gua.” Maaf ga bisa ngajak masuk ke rumah, soalnya lagi ga ada siapa-siapa.”

            “Oh.” Gua berkata “oh” hampa tanpa arti apa-apa.

            “Kenapa sih harus kayak gini? Kemudian gua bertanya menuntut sebuah jawaban.

            Tetapi dia dengan aduhainya malah kembali masuk ke dalam rumahnya tanpa berkata apa-apa. Inilah momen yang paling ditakuti oleh semua spesies cowo di seluruh dunia : DICUEKIN.

            Namun akhirnya gua hanya terdiam tak berdaya mirip ondel-ondel yang tergilas truk sampah di depan rumahnya. Dengan ditemani awan mendung dan angin sore yang sepoi-sepoi, gua terbawa kedalam lamunan,

            “Komandan, ada apa gerangan? Kenapa anda terkulai lemas seperti itu? Apakah pasukan Belanda telah menyerang markas kita?”

            “Tidak Kopral, Saya…. Saya… “

            “Ada apa Komandan?? Biar saya perintahkan pasukan untuk menyerang balik demi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia kita tercinta ini!! Merdeka!!”

            “Merdeka!! Merdeka!!” semua pasukan berteriak dengan semangat berkobar-kobar. Sang Komandan masih terdiam. Semua mata menatap penasaran padanya ketika dia  berkata,
            “Saya dicuekin wanita, Kopral, sakit hati saya!! Seperti digigit-gigit banci.”
            “……….”

            Lamunan gua buyar seketika karena tiba-tiba hujan turun dengan mesranya membelai wajah dan tubuh gua. Semuanya otomatis menjadi basah, baju, celana, jaket, tak ada yang tersisa. Logis memang, mengingat yang turun itu adalah air bukan dodol garut.

            Selama hampir 40 menit, gua masih berdiri dan menunggu di depan rumahnya, dan berharap dia akan keluar sambil memakai pita warna-warni di rambutnya membawa balon-balon yang gede, membawa kue tart dan bernyanyi ‘Happy Birthday’ sama gua. Tapi jika memang itu yang terjadi sekalipun gua akan bingung dan bertanya-tanya dalam hati, “Ulang tahun siapa nih?” walaupun ingatan gua masuh kalah jika dibandingkan dengan ingatan seekor sapi, gua masih ingat kalo hari ulang tahun gua udah lewat 3 bulan yang lalu. Mungkin hanya ada satu penjelasan yang masuk akal yaitu gua telah tertular sial dari temen gua. Temen gua ini punya tingkat kesialan yang maksimal. Namanya Jono, seorang cowo yang wajahnya biasa tertempel di botol-botol obat penumbuh bulu. Karena perawakannya yang mirip Sun Go Kong yang berasimilasi dengan budaya sunda atau bisa juga seperti genderuwo insyaf. Bulu-bulu tumbuh subur disekujur tubuhnya dan yang tak bisa lepas dari dirinya bukan hanya bulu saja, tapi kesialan juga. Sempat di suatu malam ketika dia sedang bertamu ke rumah temannya lalu memarkir motornya agak jauh dari rumah temannya itu. Tiba-tiba pas mau pulang, motornya hilang seakan lenyap ditelan bumi. Seakan-akan ada pesulap yang menyulapnya hilang begitu saja.

            “Lihat, motornya masih ada kan?” Tanya sang pesulap sama Jono. Lalu asisten sang pesulap datang membawa selembar kain hitam dan memberikan kepada pesulap itu.

            “Saya akan menutupnya dengan kain ini dan menghilangkan motor anda. Bersiaplah!” Sang pesulap itu bersama asistennya menutupi motor dengan kain hitam. Kemudian….. Jreng!! Motornya hilang. Setelah kainnya dibuka kembali. Jono bertepuk tangan takjub.

            “Berhasil kan? Oke, sekarang coba anda pegangi kain ini sebentar, saya mau ke toilet dulu bersama asisten saya. Sementara Jono masih memegangi kain hitam itu. Sang pesulap telah minggat bersama asistennya dengan membawa motor Jono.

            Jono hanya dapat menangis tertahan. Semingu kemudian dia bilang kalo handphonenya hilang. 2 minggu kemudian dompetnya dicopet. Dan 2 hari yang lalu dia bilang baru diputusin cewenya. Gua Cuma ber”oh” maklum. Sekonyong-konyong gua dapat penjelasan atas apa yang terjadi sama gua saat itu, mungkin karena gua terlalu banyak bergaul sama temen gua itu hingga gua jadi ketularan sialnya. Ya, kayaknya tidak ada alasan yang lebih logis lagi daripada itu.

            Masih dengan tubuh yang basah dan popok yang juga basah (Lho?), gua ngebayangin lagi pas pertama kali kenal sama Luna. Waktu itu ceweknya temen gua ngenalin gua sama dia sehabis gua siaran di sebuah radio lokal. Memang waktu itu gua sering siaran bersama temen gua. Namanya Bule, seorang cowo ceking nan tinggi semampai, pinter ngomong, cerdas dalam berspekulasi dan cermat dalam memilih pacar. Dia adalah playboy cap kaki gajah, ceweknya ada dimana-mana. rata-rata ceweknya cantik dan seksi (Seksi konsumsi, seksi keamanan, dll). Memang tampangnya yang bule dan ngomongnya yang piawai adalah modal utamanya dalam menggaet para wanita, tentu saja wanita-wanita yang khilaf. Mereka akan dengan senang hati menyerahkan hatinya ke pelukan sang bule KW3 tersebut. Padahal si bule ini punya satu rahasia besar dalam hidupnya dan cuma di sini gua akan menceritakannya, haha. Jadi sebenernya dulu sewaktu kecil dia punya kulit warnanya hitam. Tapi kemudian entah apa yang terjadi sampe akhirnya dia terkena penyakit kulit panu yang parah, hingga mencapai stadium 3 (sudahlah tidak usah diprotes! Biarkan saja gua bercerita semau gua!). alhasil panunya menyebar ke seluruh tubuhnya dan tidak bisa disembuhkan. Hanya bisa diberi obat 2 minggu sekali untuk menahan gatalnya oleh dokter. Maka dari itu setiap 2 mingu sekali dia tidak pernah terlihat di muka umum. Sungguh kenyataan yang menyesakkan bagi pacarnya bule sekarang dan mungkin pacarnya itu sekarang sudah tertular juga. Ini dilihat dari hilangnya pacar bule dari peredaran secara berkala.

            Oke, balik lagi ke momen kenalan gua sama cewe itu.

            “Oh, ini yang namanya Luna?” gua nanya dengan tampang gua yang waktu itu kebetulan mirip tuyul tobat, dikarenakan rambut gua yang plontos abis.

            “Cakil” kata gua memperkenalkan diri.
            “Luna” jawabnya sambil menjabat tangan gua.

            “Kamu udah lama nungguin? Maaf ya…”

            “Oh udah dari 3 hari yang lalu!!” ujarnya ketus tetapi kemudian tersenyum.

            ‘Wow, senyumnya manis pikir gua. Sejak saat itu gua semakin tertarik untuk mendekati dia. Memang sulit dipercaya oleh semua makhluk hidup di dunia, bahwa lambat laun terjalin koneksi antara gua dan Luna dimana gua akhirnya sering smsan dan telpon-telponan selama berminggu-minggu sama dia. Dunia pun seperti berwarna-warni pelangi di sepanjang hari, oh indahnya cinta. Dan seperti kebanyakan orang normal lainnya yang sedang jatuh cinta, gua mengawali hari dengan bernyanyi-nyayi ceria. Sambil menari balet yang mana malah terlihat seperti orang yang terkena kejang-kejang. Gua selalu senyum-senyum sendiri, ya kadang jerit-jerit juga sambil ngelempar kulit pisang kesana kemari. Memang, gejalanya lebih mirip orang gila daripada orang yang sedang jatuh cinta. Tapi bukankah cinta dapat membuat oang-orang melakukan hal lain di luar kewarasan? Ada yang rela mati demi cinta, ada yang mendaki gunung tertinggi demi cinta, ada yang menyelami samudera terdalam demi cinta, mungkin cuma dikebiri aja yang orang tidak mau melakukannya demi cinta sekalipun.

            Suatu hari akhirnya gua menyatakan cinta sama Luna.

            “Luna, mau ga kamu jadi pacar aku?” gua harap-harap cemas menunggu jawaban dia.

            “Aku bingung harus jawab apa. Aku sebenernya sayang sama kamu dan ga mau kalo kamu sama cewek lain. Tapi untuk saat ini aku ga mau pacaran dulu.” Jawabnya sedikit bingung. Terus gua mesti ngapain dong?? Harus nunggu sampe berakar? Nah ini nih yang telat disadarin sama cowok kayak gua, kalo ternyata gua tuh udah masuk ke dalam dunia wanita yang serba absolut. Adalah tidak benar jika ada pepatah yang menyatakan ‘wanita dijajah pria’ ya setidaknya untuk kasus gua. Mereka para cewek ini selalu seenaknya saja membuat keputusan tanpa memperhitungkan perasaan sang cowo. Mereka dapt membuat cowok-cowok merana, jungkir balik masuk jurang sampe mungkin babak belur digebukin preman hanya untuk sekedar mencari perhatian dan pedekate. Tapi hasil akhirnya tetap mereka yang memutuskan. Terkadang mereka belum tentu suka sama cowok yang menyukai mereka, tapi mereka suka dengan kenyataan bahwa mereka disukai cowok. Cowok bisa dibuat menangis darah bila sang cewek ternyata menolak cintanya. Dari alasan yang cukup kuat seperti beda agama (asal jangan beda kelamin :p) sampe alasan yang absurd seperti,  “jidat kamu lebar, aku ga suka!” yah akhirnya si cowok hanya bisa pasrah menunggu dengan hati remuk sementara sang cewek terus melanjutkan hidup bersama teman-temannya sambil ngecengin cowok-cowok keren seakan tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya.

            Persis seperti yang terjadi sama gua. Dimana gua cuma bisa diam menerima keadaan seperti itu yaitu menjalani hubungan tanpa status dengan Luna. Gua pernah nanya sih alasannya apa, tapi Luna ga pernah ngasih tau sampai detik ini pun. gua ga bisa apa-apa, ga bisa maksa dia juga. Meski hati ini penasaran setengah mati. Ternyata cinta itu memang ga bisa pake logika. Seringkali patah hati berkali-kali malah dianggap sarapan sehari-hari.

            “Luna, sebenernya kamu beneran sayang sama aku gak sih?”

            “Ya sayang sih, tapi ada hal yang ga bisa bikin aku nerima kamu atau cowo lain untuk jadi pacar aku.”

            “Ya apa alasannya? Seenggaknya aku jadi tahu apa alasan kamu kenapa ga bisa pacaran sama aku.” Namun Luna tidak berkata apa-apa. Gua pun melanjutkan ngomong sama dia.

            “Okelah aku ga akan maksa kamu buat jawab, tapi apa kamu mau ngebiarin perasaan aku kayak gini terus? Mau sampe kapan?” Gua terdengar seperti penyanyi dangdut yang honornya belum dibayar 2 bulan.

            Sementara itu Luna hanya terdiam tak bergerak. Hanya udara yang berhembus pelan saja yang nampaknya tak terganggu oleh kehadiran gua sama Luna di sana. Gua masih nunggu dia buat ngomong, sampai-sampai gua mikir kalo ternyata dia tidur. Tapi kemudian dia pun ngomong setelah melihat gua membawa satu gayung air untuk gua siram ke mukanya.

            “Aku juga sadar kalo aku udah nyakitin kamu dan akhirnya pasti bakalan jadi kayak gini, tapi aku ga bermaksud buat nyakitin kamu kok.”

            Dia kembali terdiam menahan tangis, namun sekuat-kuatnya dia menahan tangis akhirnya air matanya mengalir juga. Gua hanya bengong, gak ngerti dengan apa yang terjadi. Kenapa semua terjadi sama gua?

            “Sekarang mending kamu lupain aku aja. Aku gak pantes buat kamu. Aku bukan cewek yang baik. Kamu cari aja cewek yang lebih baik dari aku, sebelum nanti perasaan aku terlalu dalam sama aku.”

            Ada tetesan embun yang mengalir di kedua sudut matanya. Gua ga nyangka kalo semua jadi kayak gini.

            “Denger ya Lun! Kalo kita terus nyari yang lebih baik, suatu saat kita bakal ninggalin orang yang lebih baik itu demi orang lain yang lebih baik lagi. Dan itu gak akan abis-abis.” Akhirnya gua ngomong sesuatu yang gua sendiri pun shock dengan omongan gua yang sedewasa itu. Walaupun mungkin cara penyampaiannya yang sedikit belibet dan membuat kening Luna berkerut.

            “Iya aku ngerti. Tapi aku ingin kamu bahagia. Dan itu bukan sama aku……”. Setelah dia berhasil mencerna omongan gua, dia lalu ngomong lagi masih dengan mata yang berembun.

            “Tinggalin aja aku dan cari cewek lain yang mungkin bisa ngebahagiain kamu.” Masih dengan mata sembab akhirnya saat itu juga dia berlari, nyetop angkot dan ninggalin gua sendiri di pinggir jalan di sebuah taman yang dingin. Sedingin hati gua yang beku saat itu.

            Dan mulai sejak itu tiap gua nge-sms, dia gak pernah bales. Begitu pula sama telpon dari gua, dia gak pernah ngomong sampai-sampai ga diangkat sama sekali.

            “Halo.. Lunanya ada??” suatu malam gua nelpon ke rumahnya.

            “Iya ini Luna. Ini siapa ya?” jawabnya ketika dia belum tau siapa yang nelpon dia.

            “Ini Cakil. Kamu kenapa sih?? Kok tiba-tiba ngilang aja?? Kenapa harus kayak gini sih??”

            “Tut..tuuuut…tuuuut……” telpon ditutup.
*****

            Dan ingatan gua pun kembali ke masa kini masih dengan keadaan basah kuyup. Setelah beberapa lama, bahkan jika gua sempat menanam kacang ijo mungkin kacang ijo itu pun bakal tumbuh jadi toge karena lamanya gua berdiri hujan - hujanan di depan rumahnya Luna.

            Gua udah putus asa, ketika handphone gua bergetar tanda ada sms masuk. Dari Luna,     “Aku minta maaf, mungkin kamu sakit hati sama aku. Tapi ga ada yang perlu aku jelasin lagi sama kamu. Aku harap kamu ngerti ,‘n pliiis kamu pulang sekarang ya.”

            “Iya gua ngerti!! Gua mau pulang sekarang!! Dan gua ga SAKIT HATI!!”

             Gua ngomong sama handphone gua berharap dia punya kekuatan telepati dan ngedenger gua ngebatin.

             Yah aku gak sakit hati, hatiku udah mati rasa. Udah gak bernyawa ketika kamu bilang, "gak sekarang". Aku tau kok waktu itu kemana arah cerita kita namun rasa ini  menutup logikaku. Aku gak mau berdebat, aku pikir benar batu bisa  berubah bentuk oleh air. Tapi ternyata tidak dengan hatimu..
 
Bukan harapan yang aku bawa hari ini untukmu, tapi ingin sebuah pembuktian kecil; kamu gak sebanding untukku...
Tapi ternyata kamu benar-benar telah memporak-porandakan hatiku.

            Ya, aku benar-benar gak sakit hati.
            ******

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Shin Elqi
Shin Elqi at Hujan Di Suatu Senja (5 years 26 weeks ago)
80

sudah cukup bagus untuk komedi, tapi terasa loncat-loncat...

Writer cakil_tachibana
cakil_tachibana at Hujan Di Suatu Senja (5 years 26 weeks ago)

trimakasih, nanti saya mau bikin lagi :-D

Writer Monox D. I-Fly
Monox D. I-Fly at Hujan Di Suatu Senja (5 years 26 weeks ago)
40

Kalo' aku nggak akan pura-pura bilang "Nggak sakit hati kok.", melainkan aku akan bilang "Tenang aja, aku dah biasa sakit hati.".

Writer cakil_tachibana
cakil_tachibana at Hujan Di Suatu Senja (5 years 26 weeks ago)

wah sepertinya mas ini sering mengalaminya, sabar y *tepuk2pundak

Writer little.star
little.star at Hujan Di Suatu Senja (5 years 27 weeks ago)
100

ngena banget ke gw, ngakak, tapi ujung2nya nyasek.....

Writer cakil_tachibana
cakil_tachibana at Hujan Di Suatu Senja (5 years 27 weeks ago)

hahaha ini bukan maksud nyindir y :-D

Writer little.star
little.star at Hujan Di Suatu Senja (5 years 27 weeks ago)

gak koq

Writer mizz_poe
mizz_poe at Hujan Di Suatu Senja (5 years 27 weeks ago)
90

sukaaa! hahahah! ingatlah bahwa, cinta itu meraaah njendraaal...! dan kupi itu hitaaam! *ngakak koprol*

Writer cakil_tachibana
cakil_tachibana at Hujan Di Suatu Senja (5 years 27 weeks ago)

iyaaa, dan ee itu kuning ! hha

Writer mizz_poe
mizz_poe at Hujan Di Suatu Senja (5 years 26 weeks ago)

kadang2 ijo kok..

Writer kemalbarca
kemalbarca at Hujan Di Suatu Senja (5 years 28 weeks ago)
60

ini menurutku ya, tapi aku ngerasa terlalu banyak lompat-lompat cerita yang ngebuat pembaca bingung
aku ngerti sih maksudnya buat komedi, tapi cara penceritaannya bisa lebih baik, beberapa lelucon seperti agak dipaksakan
tapi aku yakin kamu bisa nulis lebih baik lagi, kip nulis aja :D

Writer cakil_tachibana
cakil_tachibana at Hujan Di Suatu Senja (5 years 28 weeks ago)

iya bener tuh jd bikin pusing hehe.
tengkyuw bgt y udh ngsh komen dan saran. itu sangat brharga bgt bwt saya :-D

Writer mizz_poe
mizz_poe at Hujan Di Suatu Senja (5 years 27 weeks ago)

secara yaaah, ngetiknya sambil agag2menguras hatiii #eaaa :D

Writer cakil_tachibana
cakil_tachibana at Hujan Di Suatu Senja (5 years 27 weeks ago)

menguras bak mandi :p

Writer cakil_tachibana
cakil_tachibana at Hujan Di Suatu Senja (5 years 27 weeks ago)

menguras bak mandi :p

Writer mizz_poe
mizz_poe at Hujan Di Suatu Senja (5 years 26 weeks ago)

kadang2 sih, sambil2..

Writer Yuliarti
Yuliarti at Hujan Di Suatu Senja (5 years 28 weeks ago)
50

hmmm saya sempt ketawa kok, entah humor saya yg rendah atw gimana? tpi lucu juga, cuma endingnya nggak ngerti nih

Writer cakil_tachibana
cakil_tachibana at Hujan Di Suatu Senja (5 years 28 weeks ago)

oh ngga gt donk, selera humor org kan beda2 hehe
makasih y udah sudi membaca. kamu keren sekali :-D

Writer cakil_tachibana
cakil_tachibana at Hujan Di Suatu Senja (5 years 28 weeks ago)

oh itu endingnya jd si cowo seakan2 ngmg sm si cw, gtu deh kadang2 saya jg bingung -__-

Writer mizz_poe
mizz_poe at Hujan Di Suatu Senja (5 years 27 weeks ago)

kayaknya lou ngoceh ama kompor gas yah? apeu ama talenan? *masih nyengir*

Writer cakil_tachibana
cakil_tachibana at Hujan Di Suatu Senja (5 years 27 weeks ago)

bukaaann >.<
tp sm kolor ijo :p

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Hujan Di Suatu Senja (5 years 28 weeks ago)
80

Aduh maaf. Dalam sekali pembacaan, kata per kata, saya ngeh sama bagian-bagian yang dimaksudkan untuk menjadi lucu, tapi kok saya enggak tergelitik. Malah cerita yang ke sana kemari itu (tahu-tahu ada adegan kopral, misal) membuat saya bingung. Walaupun saya masih bisa tangkap maksud tulisan ini apa sebenarnya.
.
Karena ini dikatakan pengalaman pribadi, yang sejatinya nonfiksi, saya malah merasa ini kayak cerita di buku2nya Raditya Dika. Menceritakan pengalaman sehari-hari dg dibumbui humor. Tapi buku2nya Raditya Dika juga enggak bikin saya ketawa... >_<
.
Kalau boleh kasih referensi sih, sekiranya mau belajar ngomedi, sejauh ini salah satu acuan saya adl Drop Out-nya Arry Risaf Arisandi, karena novel itu masih bisa bikin saya ketawa. Banyak celetukan bodoh di situ, tapi make sense dan enggak meleber kejauhan dari maksud cerita. Yah, barangkali kelucuan itu efeknya memang tidak sama ke semua orang ya.
.
Maaf kalau tidak berkenan. Dan terima kasih udah meninggalkan jejak di cerita saya. Biar pembelajaran menulis makin afdal saya kira Mas Cakil main juga ke situs2 yang memuat cerpen koran/cerpen pengarang dunia :)

Writer cakil_tachibana
cakil_tachibana at Hujan Di Suatu Senja (5 years 28 weeks ago)

wah makasih bnyk om sudah ditelaah, udh cape2 baca jg. senang rasanya ada yg memberi saran :-D dan kritik . iya itu emang trlalu banyak adegan2 absurd sih haha.
iya saya udah pernah baca yg drop out, novel yg sebelumnya jg udh prnh bc yg cewephobia, emg gaya tulisannya nyeletuk2 koclak. tapi saya udah lupa gaya bahasanya makanya saya wktu itu memperdalam gaya penulisan adithya mulya yg nulis jomblo. ya walaupun msh bnyk kekurangannya. hhe
sekali lg makasih bnyk udah menyempatkan membaca karya saya yg ala kadarnya ini :-D

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Hujan Di Suatu Senja (5 years 28 weeks ago)

Wah iya saya juga ngakak tuh baca Adhitya Mulya (Jomblo dan Gege Mengejar Cinta) pas SMP. Tapi belakangan pas baca karya-karyanya lagi kok cenderung datar aja ya :( hahaha *keknya selera humornya patut dipertanyakan nih :P
.
Oh ya mong-omong cerita tentang cowok yang patah hati, anu, saya juga pernah bikin... (di: http://www.kemudian.com/node/270796) Tapi karena saya cewek, saya khawatir perspektifnya enggak cukup meyakinkan. Barangkali berkenan mengomentari lagi? Hehe... Matur nuhun sebelumnya :)

Writer cakil_tachibana
cakil_tachibana at Hujan Di Suatu Senja (5 years 28 weeks ago)

nah lho apakah kotak tertawanya rusak (alah spongebob bgt haha)
okeh siapp, nanti saya brkunjung kmbali tp maaf2 saja kalo komen saya ga brmutu y hhe

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Hujan Di Suatu Senja (5 years 28 weeks ago)

Ahah iya nih apa kotak ketawanya perlu direparasi ya... =_=a
Enggak apa-apa, Mas. Kita sama-sama belajar mengapresiasi. Saya cuman pingin tau udah meyakinkan apa belum. Makasih banget loh kalo sudi mampir... (ih kek nama toko besi kkkk)

Writer mizz_poe
mizz_poe at Hujan Di Suatu Senja (5 years 27 weeks ago)

ummm *nyambung + nyamber* iyeh jaman2kuliah es-satu gwa bacain si Jomblo aditya-mulya. dan skrg muak ama Gagas Imaji. Raditya Dika, well to go.
Pocccong (apa bentjonk?), oh so so.
dan banyak beut buku yg kadang isinya kumpulan ocehan tuiter (okelah si Dalang Gendheng Sudjiwo Tedjo tampaknya, layak gueh beli kitap doski)
bedanya ama bacaan2model Sidney Seldon, Agatha Christie, dan novel2ribet gitu: keburu kram otak gueh *nangisairmancur*
cm klo bacaan2(apa pun itu) yang emang asik, masih sih standar. bacaaa, trus tiba2keracunan sekianhari. trus sembuh.. *halah*
demikian lah hidup, sodaraaa... *sambil gerak2in tangan berasa lg pidatoh*

Writer cakil_tachibana
cakil_tachibana at Hujan Di Suatu Senja (5 years 27 weeks ago)

*ga ngerti >.<

Writer cakil_tachibana
cakil_tachibana at Hujan Di Suatu Senja (5 years 28 weeks ago)

iya ga sakit kok, cm gatel di pantat aja haha

Writer Young
Young at Hujan Di Suatu Senja (5 years 28 weeks ago)
70

ga sakit kok, cuma sekarat..
:-P
nasib gan, cwo ga bisa apa apa kalau tentang cinta..
XD

Writer mizz_poe
mizz_poe at Hujan Di Suatu Senja (5 years 27 weeks ago)

ini mustinya Catatan Harian Pria Patah hati yaaa... *capek ngomen2in komentar2orang* *sapa suruuuh*

Writer cakil_tachibana
cakil_tachibana at Hujan Di Suatu Senja (5 years 27 weeks ago)

sapa suruh ngmen2in komen org *kemplang!