TERLIHAT SEDERHANA ~ Bab 1

 

BAB 1

Terlihat Sederhana

 

“Anda tahu kalau itu salah, ‘kan? lalu mengapa Anda masih melakukannya?” tanya Rumi sekedar memecah kebisuan sambil terus membersihkan luka lelaki di hadapannya.

Lelaki ini menatapnya sebentar sebelum menjawab, “Aku mencintainya.”

Jawaban klasik yang membuat Rumi tanpa sadar menyunggingkan senyum mengejek. Tatapan mata mencela menghilangkan kesopanan dan rasa hormat.

“Berhenti menatapku dengan senyuman seperti itu!” seru lelaki ini pelan, namun penuh aura harus dituruti. “Dia baik dan penyayang. Perhatiannya tidak pernah kudapatkan dari wanita manapun.”

“Memangnya ada berapa wanita yang pernah dia kencani?” cetus Rumi berbisik pada diri sendiri.

Selama ini banyak gadis cantik, terawat, dan kaya berusaha menarik perhatian lelaki ini. Tapi semuanya harus menelan kekecewaan. Tidak ada respon positif yang menandakan ketertarikan.

“Kamu mengatakan apa?”

Rumi menggelengkan kepala sebelum menjawab, “Saya tidak mengatakan apapun.”

“Jangan Bohong! Aku mendengarmu mengatakan sesuatu.”

“Mungkin Anda berhalusinasi karena pusing,” jelas Rumi asal.

Lelaki ini masih melemparkan tatapan menyelidik sebelum menghela napas dan berkata, “Dia seperti sahabat, kakak, juga ibu. Kelembutannya hampir sama seperti Bunda.”

Rumi mencibir samar sambil meletakkan kapas di atas meja, kemudian meraih obat salep untuk memar. Dioleskannya perlahan pada memar di wajah lelaki ini.

Mother complex, hum?” sebuah pernyataan seperti pertanyaan terlontar begitu saja.

“Rumiana Dara Priana! koreksi kalimatmu ketika berbicara,” lelaki ini terdengar marah. “Sekali lagi kamu tidak sopan, aku tidak akan segan-segan memecatmu.”

Rumi hanya menggedikkan bahu tanpa berniat meminta maaf.

Yeah, begitulah! Lelaki ini adalah bosnya. Pemilik restoran Prada’s dimana Rumi bertugas sebagai manajer, Pradana Herman.

Rumi seorang manajer yang patuh dan penurut. Sabar menghadapi keangkuhan bos yang selalu protes dengan apapun yang dia usahakan. Rumi menghormati lelaki ini sebagai atasan. Namun kejadian tadi membuatnya susah untuk berlaku normal.

Hari ini Rumi pulang terlambat seperti biasa. Mengecek segalanya dengan cermat sebelum melangkah pergi dari restoran. Berjalan santai menyebrangi jalanan sepi pukul 11 malam tanpa takut. Dia selalu melakukannya. Apartemen yang disewanya tidak terlalu jauh dari tempat kerja, sekitar lima menit berjalan kaki.

Ketika jarak apartemen hanya tinggal beberapa langkah dia melihat kejadian yang tidak seharusnya terlihat. Di sana—beberapa meter dihadapannya—Pradana Herman, bos galak menyebalkan ini meringkuk di atas aspal dekat mobilnya dalam keadaan sedang dipukuli dua orang lelaki. Dihadapannya berdiri angkuh lelaki lain dan seorang wanita. Wanita itu terlihat khawatir sambil  memohon pada lelaki disampingnya. Bahkan wajah itu sudah penuh dengan air mata.

Sebenarnya, Rumi tidak ingin ikut campur. Tapi memikirkan kemungkinan akan kehilangan pekerjaan kalau pemilik restoran ini mati, terpaksa dia harus melakukan sesuatu.

Menyadari kalau tidak akan mampu menghadapi tiga lelaki sekaligus, segera dia menghubungi satpam restoran yang sedang berjaga. Setelah itu dia berniat menunggu sampai satpam restoran datang ke lokasi, namun kondisi bos mereka yang mengenaskan dan terus dipukul memaksanya untuk bertindak cepat. Minimal menghentikan pukulan, juga memberi jeda sampai bantuan datang.

“Sayang!” pekik Rumi sehisteris mungkin sambil berlari mendekati TKP.

Wajahnya dibuat sangat khawatir. Rambut terurai berantakan agar lebih meyakinkan. Berlari kencang mendekati tubuh bosnya yang tidak bergerak.

“Apa yang kalian lakukan pada kekasihku?”  teriaknya marah sambil mendekap tubuh Prada yang babak belur. “Say... Astagaaa!”

Wajah bosnya ini sudah lebam disana-sini. Setengah hatinya ingin tertawa, setengahnya lagi merasa kasihan. Keangkuhan Pradana Herman yang biasa hilang tertelan lebam dan luka.

“Aku akan menuntut kalian!” ancamnya pada para pelaku pemukulan.

Lelaki angkuh yang berdiri tadi memandangnya dengan tatapan mencemooh, sedangkan wanita yang berdiri di samping si lelaki menatap penuh tanda tanya.

“Kalian berdua akan mati sebelum sempat menuntut,” ucap lelaki angkuh itu sombong sembari memberi kode pada dua bawahannya tadi.

Dua lelaki tukang pukul itu kembali mendekat. Mereka sudah siap memukul lagi ketika terdengar suara sirene mobil polisi.

“Sial!” lelaki angkuh tadi memaki. “Dengar, peringatkan kekasihmu agar jangan pernah mendekati istriku lagi atau dia akan mati!”

Setelah mengancam mereka pun masuk kedalam mobil dan pergi. Tak lama salah satu satpam restoran mendekat dengan wajah cemas.

“Astaga!” seru satpam itu kaget melihat penampilan bos mereka yang sekarat. “Siapa orang-orang tadi?”

Rumi menggeleng sebelum berkata, “Bantu saya membawa Pak Prada ke apartemen.”

“Baik Bu!” satpam itu langsung membopong bos mereka mengikuti Rumi yang melangkah lebih dulu sebagai penunjuk jalan.

“Terima kasih, Pak,” ucap Rumi saat bos mereka telah berbaring di sofa, lalu si satpam hendak pamit kembali bertugas. “Kalau Pak Hisnu terlambat datang sedetik lagi saja saya tidak tahu apa yang akan terjadi.”

“Bukan apa-apa, Bu. Kalau Bu Rumi tidak menelepon, saya tidak akan tahu dengan kejadian ini,” balas satpam tadi sopan. “Lagipula saya senang akhirnya—mp3 sirene polisi yang saya download sejak awal bekerja di Prada’s—ini ada gunanya juga.”

Satpam itu menunjukkan mobile phone yang dipegangnya. Di dalam layar terlihat music player dengan lagu berjudul Sirene Polisi yang sedang di-pause.

Rumi tertawa mengagumi kecerdikan satpam restoran mereka. “Sekali lagi terima kasih, Pak.”

Satpam itu tersenyum, kemudian menganggukan kepala berniat pergi. Rumi balas mengangguk. Berdiam sebentar sampai satpam itu menghilang dari pandagannya sebelum menutup pintu.

~o♥o~

 

“Aku akan menginap disini,” ujar Prada manja saat Rumi baru saja selesai mengobati.

“Boleh saja,” respon Rumi santai, “asal Anda tidur di sini.”

Pupil lelaki ini melebar. “Aku ini bos dan tamumu, jadi kamu yang harus tidur di sofa.”

“Maaf Bos yang terhormat, ini apartemen saya. Jika tidak terima dengan apa yang saya katakan Anda boleh pergi dari sini,” balas Rumi sebelum masuk ke dalam kamar.

Terdengar makian dari luar, namun Rumi tidak peduli. Dia sudah cukup lelah bekerja, tidak berminat menambah pekerjaan dengan meladeni bos egois seperti Pradana.

Diambilnya handuk dan baju mandi. Dia berniat berendam. Berendam dalam air hangat keputusan terbaik untuk merilekskan diri.

Selama berendam otaknya terus berpikir tentang kejadian tadi. Dia tidak pernah menduga sama sekali kalau bosnya bisa melakukan itu. Maksudnya, mengapa bos kaya dan tampan seperti itu rela menjadi simpanan wanita yang sudah menikah? Bukankah bosnya bisa mendapatkan wanita single diluar sana?

Ah, sudahlah! Setidaknya kecurigaanya selama ini salah. Dia sempat mengira bosnya ini seorang gay karena tidak pernah terlihat tertarik dengan wanita manapun.

~o♥o~

 

Seminggu telah berlalu sejak kejadian malam itu. Walau sudah tidak bisa memandang hormat seperti dulu Rumi berusaha tetap berlaku sopan kepada Pradana. Hubungannya dengan lelaki ini pun tetap seperti sebelumnya, hanya berinteraksi tentang pekerjaan.  Pradana masih seperti biasa, selalu tidak pernah puas dengan hasil kerjanya. Lelaki yang menyebalkan.

“Mau menemaniku makan siang?” tanya bosnya ini ketika dia sudah ingin membuka pintu, keluar dari ruangan setelah tadi memberikan berkas laporan pengeluaran.

Rumi mengernyitkan dahi mendengar tawaran itu. Bisa dibilang tawaran aneh mengingat hubungan mereka yang tidak akur.

“Berhenti memasang wajah menyebalkan seperti itu!” seru bosnya jengkel. “Mau apa tidak?”

Rumi tampak berpikir sebelum bertanya, “Anda yang traktir, kan?”

“Tentu!”

Rumi mengangguk. “Baiklah!”

Mereka pun keluar ruangan bersama. Berpasang-pasang mata karyawan restoran langsung memandang penuh tanda tanya. Tidak biasanya pemilik dan manajer mereka terlihat bersama. Apalagi yang mereka tahu, bos mereka ini selalu terlihat tidak puas dengan kinerja si manajer. Tapi setidaknya mereka lega, restoran akan damai sementara waktu.

“Mau makan dimana?” tanya Rumi sedikit penasaran.

“Tempat yang istimewa,” jawab Bosnya ini tak berniat mengatakan nama tempat tersebut. “Buka matamu dan belajarlah sebanyak mungkin ketika kita berada di sana.”

Rumi berdecak pelan. Akhirnya tahu maksud dari ajakan ‘makan siang’ itu. Prada ingin memaksanya mempelajari banyak hal dari restoran yang akan mereka kunjungi.

*

Rumi terpana melihat dekorasi ruangan restoran yang mereka datangi. Rumi sempat berpikir kalau Prada akan membawanya kesebuah restoran bintang lima seperti hal orang-orang kaya, tapi ternyata lelaki ini membawanya ketempat yang lebih menarik.

Di pintu masuk mereka langsung disambut dua pohon kelapa buatan. Masuk ke dalam disambut dengan langit-langit ruangan yang dilukis awan putih dan langit biru yang cerah, seakan liburan musim panas telah tiba. Dindingnya dilukis pemadangan pantai yang menyegarkan, pohon kelapa, pasir putih, dan laut. Terdengar juga deru ombak berirama sebagai latar. Lantainya ditabur pasir putih setebal tujuh centimeter—terbukti dengan heels sepatu Rumi yang tenggelam. Tak ketinggalan angin buatan yang sepoi-sepoi.

Bagian depan diletakkan beberapa meja bundar dan kursi lipat untuk empat orang. Lebih ke dalam lagi disediakan beberapa tenda kecil untuk dua orang. Para pelayan pria menggunakan kemeja Hawaii dan celana santai, sedang para pelayan wanita menggunakan maxi dress manis dengan corak bunga-bunga.

Prada menggiringnya masuk ke dalam sebuah tenda. Dia mengikuti dengan patuh.

“Kamu tahu, restoran ini tiga bulan lalu dalam kondisi mengenaskan dan segera bangkrut. Namun sebulan lalu kembali bangkit dengan konsep seperti ini. Bukankah ini keren?” kata bosnya ketika mereka sedang menunggu pesanan. “Menunya juga khusus seafood yang dimasak dengan cita rasa khas Indonesia menggunakan rempah-rempah terbaik, juga seafood terbaik.”

Rumi mengernyit, “Sepertinya anda tahu banyak.”

Lelaki ini mengangguk. “Kamu lihat tadi café yang disebelah restaurant ini?”

Rumi mengangguk.

“Pemilik café itu sahabatku. Dia dan temannya membantu restoran ini. Dia bukan tipe yang setengah-setetengah ketika mengerjakan sesuatu. Bahkan untuk hal remeh sekalipun.”

“Idenya menarik,” celetuk Rumi dengan mata mengamati detil setiap sudut restoran.

Lelaki ini memangguk setuju. “Jadi Rumi, aku harap kamu bisa mengatur restoranku dengan baik.”

Rumi melirik malas pada bosnya, “Saya memang bertugas mengelola tapi Anda pemiliknya. Tidak bisakah Anda membantu saya dengan memberikan ide yang cemerlang tidak hanya mampu memprotes apa yang saya lakukan?”

Air muka lelaki ini berubah marah. “Kalau kamu tidak mampu aku bisa mencari orang lain untuk mengelola restoranku.”

“Anda pikir siapa yang tahan bekerja dengan Anda selain saya,” tantang Rumi.

Pradana Herman terdiam dengan muka ditekuk. Bagaimanapun apa yang gadis ini katakan benar. Sebelum Rumi sudah ada lima manajer yang mengundurkan diri karena tidak tahan dengan kecerewetan bos mereka ini.

Well, setidaknya hari ini anda cukup membantu,” lanjut Rumi sedikit merasa bersalah dengan ucapan sebelumnya.

Mereka terdiam saat seorang pelayan datang membawakan pesanan mereka. Sebakul nasi hangat untuk dua orang beserta dua piring bersih, semangkuk kerang darah asam pedas, sepiring cumi bakar saus kemangi, sepiring sambal petai udang, dan dua buah es kelapa muda.

Rumi menelan air liur melihat makanan didepannya yang menggugah selera. Tanpa menunggu basa-basi dari Prada, dia langsung menyantap makanan itu dengan lahap.

“Kamu suka?”

Rumi mengangguk tanpa harus menghentikan kegiatannya.

“Kalau ingin tambah bilang saja.”

Rumi hanya melirik sekilas sebelum mengangguk, tetap melanjutkan kegiatannya.

Sunyi kemudian. Mendadak bosnya memilih diam. Namun Rumi tidak terlalu peduli. Jarang sekali dia makan enak seperti ini. Meskipun dia seorang manajer dengan gaji yang cukup besar, gadis ini tidak suka berfoya-foya. Hampir 70% gajinya ditabung untuk keperluan lain, dua diantaranya membeli rumah dan mendanai orang tuanya naik haji.

“Aku sudah berpisah dengan wanita itu,” ucap bosnya setelah cukup lama terdiam.

Tangan Rumi yang sedang ingin menyuap terhenti di udara. “Sepertinya itu bagus.”

Bosnya menarik nafas dalam sebelum menghembuskan perlahan. “Sebulan lalu dia sudah meminta untuk berpisah tapi aku tidak rela. Namun, kejadian kemarin membuatku berpikir banyak. Bukan karena dipukul tapi lebih kepada perasaan sesama pria. Aku juga pasti tidak ingin istriku bermain gila dengan pria lain yang lebih muda.”

“He em, respon Rumi kembali melanjutkan makan.

“Hei! Apa kamu tidak simpati kepadaku?” kata lelaki ini jengkel merasa diabaikan.

Tangan Rumi yang hendak menyuap kembali terhenti di udara. “Mengapa harus? Anda sudah mengambil keputusan yang tepat.”

“Tapi aku patah hati.”

“Oh, jadi anda ingin saya hibur?” Rumi akhirnya mengerti. Diapun menggeser makanannya sedikit, berhenti makan. “Jangan cemas, anda pasti bisa menemukan wanita yang tepat suatu saat nanti.”

Ekspresi Rumi dibuat sesimpati mungkin, tapi tidak mengisyaratkan ketulusan membuat Prada kesal. “Akh, sudahlah! Aku malah semakin jengkel melihat ekspresimu. Lebih baik habiskan makanan itu cepat lalu kembali kerja.”

Rumi menggedikkan bahu tak acuh, kemudian melanjutkan makannya. Prada sendiri geleng-geleng kepala memikirkan kebodohannya yang sempat berharap dihibur oleh gadis ini.

~o♥o~

 

“Aku malas Prada,” tolak Rumi ketika malam ini bosnya tiba-tiba datang bertamu ke apartemen, mengajak untuk keluar.

Well, Sudah sebulan sejak kejadian pemukulan itu hubungan Rumi dan bosnya terlihat membaik. Dikalangan karyawan mulai terdengar desas-desur bahwa mereka pacaran. Rumi hanya tersenyum menanggapi desas-desus aneh itu. Meski Prada tidak sering memprotes kerjanya seperti dulu bukan berarti mereka menjadi sepasang kekasih. Sejauh ini hubungan mereka sekedar teman baik.

Stop memanggilku dengan Prada, Rumi. Nama itu terdengar seperti perempuan.” Protes lelaki ini. “Aku ingin nonton film, jadi kamu harus menemaniku.”

Rumi mencibir. “Tapi itu namamu.”

“Cepat siap-siap!” perintah Prada mengabaikan pembelaan Rumi.

“Aku tidak mau Pra....”

“Panggil aku Pradana,” potong bosnya cepat.

Ck, Pradana aku tidak mau, aku capek. Berikan aku kebebasan malam minggu ini untuk menikmati cutiku yang sangat jarang terjadi.”

“Aku memberimu cuti agar kita bisa nonton bersama. Kalau kamu tidak mau saat ini juga kupanggil lagi untuk bekerja segera.”

Rumi memutar bola matanya kesal. “Please Prada, aku bosan melihatmu setiap hari.”

What?? Bosan?”  

Rumi nyengir.

“Kamu tahu berapa banyak wanita mengantri untuk pergi denganku, tapi aku memilihmu.”

“Ya sudah, kamu bisa pergi dengan salah satu dari mereka, ‘kan?”

“Aku inginnya pergi denganmu,” geram Prada. “Cepat bersiap!”

Rumi berdecak sebelum bergerak malas menuju ke kamarnya. “Dasar perjaka tua!”

Umpatan itu sebenarnya diucapkan dengan pelan tapi Prada ternyata mendengarnya. “Aku belum 30 tahun Rumi.”

Rumi hanya menggoyang-goyangkan kepala, mengejek, mendengar kalimat Prada.

“Wow, Cantik!” puji Prada ketika Rumi sudah keluar dari kamar 10 menit kemudian.

“Simpan pujian bodohmu itu,” balas Rumi setelah memutar bola mata.

Prada memang sedikit aneh sejak seminggu lalu. Pria ini selalu terdengar memujinya disetiap kesempatan.

“Ini serius nona Rumi. Tidak bisakah kamu cukup menikmati saja daripada menyela.”

Rumi berhenti melangkah tepat di depan Prada. Menatap Prada lekat.

“Ada apa?” tanya Prada jadi salah tingkah.

“Hanya memastikan kalau kamu tidak sedang sakit atau salah minum obat,” jawab Rumi masih melanjutkan tatapannya.

“Berhenti menatapku seperti itu Rumi!” pinta Prada setengah membentak dengan wajah merona.

“Mengapa?” Rumi masih bersikeras menatap. “Lihat wajahmu lucu sekali ketika tersipu.”

Rumi menyeringai jahil. Membantah dan mengerjai bosnya ini sudah menjadi hobinya sejak mereka berteman baik.

“Jangan menantangku Rumi!”

“Menantang?” tanya Rumi berlagak bingung dengan wajah polos.

“Ck!” Prada langsung menangkup wajah Rumi dan menjejalkan bibirnya ke atas bibir wanita ini.

Rumi mengerjap bingung mendapat serangan mendadak ini. Otaknya tak mampu mencerna untuk beberapa saat. Dia ingin mendorong Prada menjauh setelah kesadarannya kembali, namun senyuman tengil di bawah tatapan sayu itu membuatnya memutuskan untuk memejamkan mata.

~o♥o~

 

 

 

 

Read previous post:  
Read next post:  
Writer Ao-Chan
Ao-Chan at TERLIHAT SEDERHANA ~ Bab 1 (5 years 20 weeks ago)
80

cukup menarik untuk sebuah romance. ^^

Writer dwigartikap
dwigartikap at TERLIHAT SEDERHANA ~ Bab 1 (5 years 34 weeks ago)

Peenggunaan bahasanya yang sangat formal, sepertinya target pembaca untuk orang dewasa yah? oh iya teknis penulisan pada: Lelaki ini menatapnya sebentar sebelum menjawab, “Aku mencintainya.”
seharusnya "A" ditulis menjadi "aku" karna ada koma sebelumnya kecuali tanda itu titik barulah ditulis "Aku". So far, ceritanya sangat menarik kok, senang bisa menikmati tuulisanmu :)

Writer MumuRahadi
MumuRahadi at TERLIHAT SEDERHANA ~ Bab 1 (5 years 34 weeks ago)

xixixi ... formal bgt ya? gx kok gx ditargetkan hanya tux orang dewasa ... cerita ini jauh dari isi yg dewasa .... eaaa ...

oh itu kata temenku dua kalimat yg beda makanya 'A' gede

Writer L. Filan
L. Filan at TERLIHAT SEDERHANA ~ Bab 1 (5 years 35 weeks ago)
70

Sebagian bahasanya, terutama dialog masih terasa kaku buat saya. Ada beberapa informasi yang tidak perlu sering diulang yaitu tentang bagaimana si Bos dan Menejer yang tidak akur. Ada terlalu banyak perasaan. Dari awal sampai ke hampir terakhir.
-
Kalau ceritanya cukup menarik untuk diikuti.
-
Moga berkenan dengan komentar saya. Terus lanjutkan ceritanya.

Writer MumuRahadi
MumuRahadi at TERLIHAT SEDERHANA ~ Bab 1 (5 years 35 weeks ago)

hahaha iya nih cara bercerita saya memang rada kaku ... pernah nyoba hal berbeda tapi jatuhnya kembali kaku....

terlalu banyak perasaan, maksudnya?

makasih ya udah baca :D, juga komentar dan pointnya....

Writer L. Filan
L. Filan at TERLIHAT SEDERHANA ~ Bab 1 (5 years 35 weeks ago)

Perasaan saya maksudnya atau pendapat saya hehe... bahasa verbal. Iya juga pas sy baca kalimat itu agak sedikit mikir :p

Writer MumuRahadi
MumuRahadi at TERLIHAT SEDERHANA ~ Bab 1 (5 years 35 weeks ago)

oalahhhh ... hahahaha....

100

cara membuat penasarannya hebat, wktu aku mulai mau berenti baca, ada kalimat yg buat aku mulai tertarik baca lagi sampai akhir cerita, lekas sambungkan gerbongnya:))

Writer MumuRahadi
MumuRahadi at TERLIHAT SEDERHANA ~ Bab 1 (5 years 35 weeks ago)

weee d bagian mana itu? xixixi

gerbong sambungan dalam perjalanan :)

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at TERLIHAT SEDERHANA ~ Bab 1 (5 years 35 weeks ago)
70

"dihadapannya" -> "di" di sini bukannya kata depan yang mestinya dipisah?
"respon" -> "respons" (cek kbbi)
"saleb" apa "salep"?
"menelfon" apa "menelepon"?
"berpoya-poya" maksudnya "berfoya-foya"?
dsb...
terus kalimat ini: [Sejauh ini hubungan mereka hanya sekedar teman baik.] -> biar hemat pakai salah satu saja, "hanya" atau "sekadar", kalau dua2nya boros.
duh... itu aja yang bisa saya komentari. kecil sih, tapi kalo ketahuan ahli bahasa bisa diulas sampai jadi kolom di koran, waha.
yang pada bersambung ini moga bisa diselesaikan :)

Writer MumuRahadi
MumuRahadi at TERLIHAT SEDERHANA ~ Bab 1 (5 years 35 weeks ago)

ayayayaya ... makasih bangetttt ... sengaja post d sini itu biar ada yg ngasi tau letak salahnya ... saya kurang telii memang .... hehehehe ...ho oh , dulu pernah baca annida ulasan tentang satu cerpen gitu alamak itu d bahas dan dikomentari habis2an.