TERLIHAT SEDERHANA ~ Bab 3

 

BAB 3

Birthday Event

 

Rumi sedang serius mengamati kerja para karyawan ketika Prada mendekat.

“Bagaimana?” tanya Prada.

Rumi menjengkit kaget, namun sedetik kemudian sudah bisa mengendalikan diri. “Tujuh puluh lima persen beres.”

Prada manggut-manggut. “Apa kamu masih sibuk?”

Rumi otomatis memutar bola mata mendengar pertanyaan yang berbelok arah. “Anda bisa melihat kalau saya sedang bekerja.”

“Aku lapar,” ucap Prada yang hanya direspon kerlingan malas dari Rumi. “Temani aku makan.”

“Tidak bisa. Masih banyak yang harus saya tangani,” tolak Rumi tegas dengan mata kembali fokus pada kerja para karyawan.

“Ayolah! Sebentar lagi juga waktu istirahat.”

“Tidak bisa. Sesuai perintah anda, semua ini harus selesai tepat waktu.”

“Ini juga perintah.”

“Tapi bukan perintah penting.”

“Ayolah, aku....”

“Maaf saya terlambat!” sebuah seruan memotong kalimat Prada. “Mobil saya bocor dalam perjalanan ke sini.”

Tatapan mereka langsung tertuju ke arah suara. Terutama Prada, dia langsung memberikan pandangan menilai saat melihat yang menyela kalimatnya merupakan seorang lelaki.

“Bukan masalah,” sahut Rumi. “Ayo silahkan, kita keruangan saya.”

Lelaki itu langsung mengekor Rumi. Begitupun Prada.

Rumi mengernyit heran melihat Prada ikut masuk ke ruangannya. “Mengapa Anda ikut ke sini?”

“Saya pemilik restaurant ini, jadi saya perlu tahu apa yang akan kalian bahas.” Prada menggunakan bahasa formal dan berlaku angkuh di depan tamu tersebut.

“Setelah pembahasan ini selesai Anda akan mendapat laporan dari saya.”

“Tapi saya ingin berpartisipasi langsung.”

Rumi menghela nafas, lelah. “Bukankah seharusnya sekarang Anda makan siang, Pak? Percayakan ini pada saya.”

“Saya percaya pada kemampuanmu.”

“Tapi Anda bersikap seakan saya tidak bisa dipercaya,” bantah Rumi sambil memberikan kode agar Prada segera pergi.

Prada mendengus, lalu beranjak pergi tanpa berbasa-basi pada tamu tersebut terlebih dahulu. Rumi geleng-geleng kepala melihat tingkah Prada yang terkadang kekanakan.

***

Prada duduk gelisah di dalam ruangannya. Pikirannya terus saja tertuju pada Rumi dan lelaki asing tadi. Siapa lelaki itu? Sepertinya rekan kerja karena Rumi terlihat menggunakan bahasa sopan. Tapi, rekan kerja yang mana? Mengapa dia tidak merasa kenal?

Otaknya terlalu keras berpikir sampai melupakan bungkusan makanan yang tergeletak manis di atas meja tamu. Padahal makanan itu makanan favorit yang di dapat sepulang dari berkunjung ke rumah orang tuanya. Makanan masakan bunda.

Dua jam kemudian, dia masih saja sibuk dengan pikiran sendiri sampai tak mendengar ketukan pintu. Merasa tak ada jawaban, Rumi yang mengetuk langsung masuk begitu saja. “Permisi, Pak. Ini notulanya!”

Prada langsung tersadar dari lamunannya. “Notula?”

“Iya. Notula pembicaraan saya dan Pak Dito tadi.”

Malas Prada mengambil notula yang Rumi berikan. Dia tidak terlalu berminat dengan itu tersebut. Berniat bertahan dipertemuan hanya sebuah alasan agar Rumi tidak hanya berdua saja dengan lelaki itu di sana meskipun akhirnya tetap terpaksa keluar.

“Jadi Dito itu pemilik yayasan panti asuhan yang diundang pada perayaan ulang tahunku,” ucap Prada setelah selesai membaca laporan itu.

Rumi mengangguk. “Dia pemilik panti asuhan itu sekarang.”

“Mengapa harus semuda itu, sih!” gerutu Prada.

“Bukannya bagus, semuda itu berani memegang sebuah yayasan panti asuhan,” komentar Rumi. “Jarang sekali lelaki semuda dia mau berurusan dengan anak kecil.”

Prada mencibir, “Jadi kamu tertarik padanya.”

“Kagum tepatnya,” koreksi Rumi. “Sebagai wanita aku kagum padanya.”

“Cari panti asuhan lain. Aku tidak ingin berurusan dengan panti asuhan itu.” Keegeoisan Prada muncul lagi.

“Anda tidak bisa melakukan itu.”

“Mengapa tidak? Ini acaraku. Aku berhak menentukan siapa yang ingin kuundang dan siapa yang tidak.”

“Jangan terlalu gegabah, Prada.” Rumi mulai kesal. “Itu akan berpengaruh citra ini. Lagipula, sejak beberapa hari lalu segalanya sudah kita tentukan bersama. Porsi makanan dan lain-lain disesuaikan dengan jumlah penghuni panti milik Dito. Selain itu, kita tidak memiliki banyak waktu untuk mencari panti asuhan yang baru. Kamu sendiri yang memilih panti ini, dan kamu juga yang bersikeras merayakan di restoran. Padahal aku sudah memberi saran supaya kita saja yang mengunjungi mereka dan membawa makanan ke sana, bukan mereka yang ke sini.”

“Baiklah. Terserah saja. Tapi aku tidak suka dengan lelaki itu.” Prada mengalah walau takrela.

Rumi geleng-geleng kepala, “Menurutku dia tidak punya salah padamu.”

“Ada. Salahnya membuatmu kagum.”

Rumi melongo, “Alasan apa itu?”

“Terserah!” Prada langsung berlagak sibuk dengan tablet PC yang berada di depannya.

Sekali lagi Rumi geleng-geleng kepala melihat tingkah bosnya yang suka mendadak aneh. Dia memutuskan untuk keluar ruangan ketika matanya menangkap bungkusan di atas meja. “Kamu belum makan?”

“Kenyang,” jawab Prada singkat.

“Kalau begitu makanan ini untukku saja.”

“Terserah.”

Rumi segera membuka kain pembungkus. Sekotak makanan lengkap. Nasi kebuli, opor ayam, dan acar. Kotak di bawahnya berisi potongan buah pepaya dan semangka. Dia yang sudah melewatkan makan siang satu setengah jam lalu langsung tergugah. Nikmat dia menyuap makanan rumah itu.

Prada yang melihat Rumi makan dengan nikmat segera mendekat. Perutnya juga lapar sejak tadi.

“Apa?” tanya Rumi melihat Prada duduk di sampingnya.

“Aku mau itu. Suapi!”

“Katanya kenyang.”

“Tiba-tiba lapar.”

Ck, dasar manja!” cela Rumi namun tetap menyuapkan sesendok nasi ke mulut pria ini.

Prada menanggapi celaan Rumi dengan cengiran. Dia menerima dengan lahap setiap suapan yang gadis ini berikan. Rumi sendiri akhirnya hanya menghabiskan potongan buah yang tersedia.

~o♥o~

 

Prada menatap Rumi yang terlihat anggun dengan cotton dress setengah betis berpotongan H line berwarna ungu pastel. Dress itu dipadu dengan ankle boot coklat dari kulit asli. Dilengkapi dengan tas mungil berwarna ungu satu tingkat lebih tua dari dress yang tersampir di bahunya. Casual sekaligus elegan.

Ingin sekali dia menarik Rumi dan memperkenalkan pada semua orang kalau gadis inilah pujaan hatinya. Kalau perlu dia akan melamar Rumi saat ini juga. Tapi, hatinya malah  panas menyadari kenyataan kalau yang berdiri di samping Rumi sekarang adalah pemilik yayasan panti asuhan itu, Dito.

Entah mengapa sejak tadi Dito selalu berada di samping Rumi—mengabaikan kepala koki yang juga berada di samping gadis ini. Berusaha mencuri kesempatan selama acara pesta berlangsung untuk tetap di dekat gadis ini. Sedangkan Prada hanya bisa memandang geram karena harus menemani para undangan sebab ini acaranya, acara ulang tahunnya.

Mata Prada membelalak melihat Dito memberikan sebuah kota kecil pada Rumi. Terlebih gadis ini terlihat senang menerimanya. Takperduli lagi dengan para undangan, cepat Prada mendekat; merampas kotak itu, lalu membuangnya hingga membentur dinding. Tidak ada yang boleh merebut sesuatu yang harus jadi miliknya!

“Apa yang kamu lakukannn!?” pekik Rumi melihat kotak kecil tadi tergeletak menggenaskan.

Para undangan yang tengah menyantap hidangan memerhatikan mereka dengan bingung. Dito yang dipelototi juga bingung. Kepala koki juga bingung.m?Sedangkan Rumi menatap Prada, nanar.

“Jangan dekati Rumi!” bentak Prada memperingatkan Dito; mengabaikan tatapan galak Rumi yang siap menerkamnya.

Para undangan semakin berkonsentrasi dengan tontonan gratis dihadapan mereka. Merasa jadi pusat perhatian, Rumi segera menarik Prada menjauh dari keramaian setelah memberi tanda permintaan maaf pada Dito.

“Apa yang ada di otakmu, sih?” omel Rumi setelah mereka berada di ruangan Prada.

Prada menghempaskan tubuhnya ke atas sofa, kesal. “Dia mengganggumu.”

“Mengganggu apa? Dito lelaki yang baik.”

Prada tidak menjawab. Lelaki ini malah memejamkan mata.

Ck, tunggu di sini!” perintah Rumi sebelum dia bergerak keluar.

Refleks Prada membuka mata. “Mau kemana?”

“Tunggu di sini. Aku harus keluar sebentar untuk meminta maaf atas keributan yang sudah kamu buat.”

“Biar aku saja.”

“Tidak!” Rumi mencegah Prada yang sudah ingin bangun dari duduknya. “Tidak dengan kondisimu yang belum stabil seperti sekarang. Biar aku saja. Jangan membantah. Tunggu saja di sini. Aku hanya keluar sebentar.”

Prada menurut dengan kembali duduk. Ada perasaan takrela membiarkan Rumi keluar yang itu berarti memberikan kesempatan pada gadis ini kembali bertemu Dito. Tapi tatapan perintah dari Rumi yang tak terbantah membuatnya mengalah.

Gelisah Prada menunggu di dalam ruangan. Sudah 15 menit berlalu, namun Rumi belum juga kembali. Dia hendak menyusul ketika gadis ini membuka pintu.

“Lama sekali!” sentaknya, kesal.

“Ulahmu juga,” balas Rumi kalem.

Gadis ini duduk, kemudian langsung sibuk dengan barang yang dia pegang. Kotak kecil tadi!

Fiuh! Syukurlah barangnya tidak rusak,” ucapnya lega.

“Mengapa kamu terima barang itu?” tanya Prada taksenang. “Buang saja. Aku bisa membelikan yang lebih baik.”

Rumi mengerling tajam. “Lebih baik pikirkan saja bagaimana menggajiku dua kali lipat untuk bulan depan.”

Huh, untuk apa?”

“Untuk ini!” Rumi melempar kotak kecil itu pada Prada. “Aku menghamburkan uang yang seharusnya kusimpan untuk membeli itu sebagai hadiah ulang tahun sahabatku, tapi malah dilempar. Kalau rusak aku ingin gaji bulan depan dibayar empat kali lipat. Dan ..., bla-bla-bla....”

Prada tidak mendengar lagi ocehan Rumi yang lain. Mata dan otaknya berkonsentrasi pada kotak kecil yang dia pegang. Hatinya berbunga-bunga mendengar Rumi mengatakan kalau isi kotak itu merupakan hadiah ulang tahunnya dari gadis ini.

Vacheron Constantin Quai De L”ile, itu yang dia dapatkan ketika membuka kotak tersebut. Jam tangan ini yang dia mau sejak setahun lalu, tapi belum sempat terbeli karena lebih fokus pada barang lain yang lebih penting.

“Bagaimana...?”

“Tenang saja itu replika,” potong Rumi membuat Prada tertawa. “Aku tidak akan rela mengeluarkan uang ratusan juta hanya untuk sebuah jam.”

“Aku tahu. Dan aku juga tahu replika ini tidak cukup hanya dengan sejuta atau dua juta,” balas Prada. Dia bergerak duduk di samping Rumi. Dikecupnya dahi gadis ini. “Terima kasih.”

Rumi tersenyum, “Anytime, dude.”

Prada ikut tersenyum, sekaligus membawa tubuh itu ke dalam pelukan. Suasana begitu hangat sampai Prada menyadari sesuatu. “Jangan bilang si Dito itu yang membantumu mencarikan jam ini.”

Dapat Prada rasakan Rumi mengangguk di dadanya. “Dia yang membantuku. Aku mana mungkin punya banyak waktu.”

“Karena itu dia menempel padamu,” desis Prada geram.

Rumi mendongak, “Menempel?”

“Apa kamu tidak sadar kalau dia berusaha selalu disekitarmu? Dasar tidak peka!” omel Prada.

Rumi malah tertawa, “Aku dan Dito melakukan barter. Dia membantuku mencari jam tangan, sedangkan aku membantunya agar bisa berdekatan dengan si Kepala Koki.”

“Kepala koki? Aresta?”

“Iya,” Rumi mengangguk.

Prada mengumpat dalam hati mengutuki kebodohannya. Dia baru sadar sekarang kalau sejak kemarin Rumi dan Dito selalu berada tak jauh dari Aresta. Bahkan, Rumi selalu berusaha melakukan interaksi pada Aresta yang Prada tahu merupakan musuh alami gadis ini. Dia terlalu konsentrasi pada kecembruan sehingga tidak mengamati dengan teliti.

“Maaf karena sempat melempar hadiahmu,” kata Prada kembali menggiring kepala Rumi agar bersandar di dadanya.

Rumi menggeleng, “Bukan masalah.”

“Sebagai permintaan maaf, aku akan mengajakmu makan malam.”

“Hemm.”

Prada mengusap rambut Rumi yang dibiarkan tergerai, “Mau makan malam di mana? Restoran Indonesia, restoran India, atau restoran Jepang?”

Tak ada jawaban dari Rumi membuat Prada lanjut bicara, “Atau makan seafood di pinggir pantai. Pasti asik dan romantis.”

Masih tak ada jawaban. Secara otomatis Prada mengintip, dan mendapati Rumi telah terlelap.

Prada mengacak rambutnya frustasi. Padahal pembicaraan ini akan dilanjutkan dengan pernyataan cinta, tapi Rumi malah sudah tertidur pulas.

Dia mengerti Rumi pasti lelah karena beberapa hari ini sibuk mengurus persiapan pesta ulang tahunnya. Ini juga alasan Prada hanya bisa pasrah untuk tidak membangunkan Rumi. Dia malah menggeser duduknya agar gadis ini bisa berbaring nyaman.

 “Sleep tight, Baby,” bisiknya sebelum bersandar di sofa, ikut memejamkan mata melupakan pesta yang masih berlangsung.

~o♥o~

 

Read previous post:  
13
points
(2117 words) posted by MumuRahadi 5 years 34 weeks ago
43.3333
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | cinta | mumu | romance | sederhana
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Ao-Chan
Ao-Chan at TERLIHAT SEDERHANA ~ Bab 3 (5 years 20 weeks ago)

semakin menarik . .
Ini seperti benci jadi cinta mungkin yaa. .

tapi masih juga berani anggap sahabat padahal sudah sedekat itu. .
^^
menunggu lanjutannya saja lah. .

Writer Ao-Chan
Ao-Chan at TERLIHAT SEDERHANA ~ Bab 3 (5 years 20 weeks ago)
80

semakin menarik . .
Ini seperti benci jafi cinta mungkin yaa. .

tapi masih juga berani anggap sahabat padahal sudah sedekat itu. .
^^
menunggu lanjutannya saja lah. .

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at TERLIHAT SEDERHANA ~ Bab 3 (5 years 33 weeks ago)
60

Yang paling mengusik saya adl karakter Prada. Hikmahnya, saya jadi belajar kalau bisa ya pria dewasa bersikap seperti itu.
Dan masih seperti yang sebelumnya, interaksi Rumi-Prada sangat menonjol di sini (saya baru ngeh kalau bagian kedua itu tentang pesta ultah Prada begitu menjelang akhir, waha, maaf...). Agaknya saya berharap suasananya bisa lebih dikembangkan, shg pembaca putus-konsentrasi macam saya ini bisa menyadarinya lebih dini alih2 terpaku pd cekcok antar dua pribadi saja.

Writer MumuRahadi
MumuRahadi at TERLIHAT SEDERHANA ~ Bab 3 (5 years 33 weeks ago)

Hahahaha ... itu memang salah satu kelemahan saya mb' dan sekarang sedang belajar mengembangkan suasana ... untuk TS sendiri sebenarnya udah kelar jadi saya mungkin gx akan merubah apapun ... di cerita yg lain Insha Allah lebih banyak belajar lagi .. makasih komennya mb' sangat membantu untuk memperbaiki tulisan saya ... :D

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at TERLIHAT SEDERHANA ~ Bab 3 (5 years 33 weeks ago)

Siplah kalau udah kelar. Bagus itu :D Tulisan sebagaimanapun percuma saja kalau enggak kelar hehehe.
Okee mari kita sama2 belajar, Mbak Mumu. Moga produktif terus :)