Sebuah Cerita dari Sebuah Kafe

Suatu sore, 10 Oktober 2009

            Gadis bernama Salsa itu duduk di sebuah kafe kecil. Tempat sunyi itu bernuansa cokelat, difasilitasi dengan sofa satin bergaya vintage, dihiasi beberapa buah kipas angin kayu yang menggantung di langit-langit, serta ditambah dengan kehadiran sebuah akuarium kaca berisi lima ekor ikan mas koki. Letaknya sungguh terpencil, berada di dekat stasiun kereta yang penuh dengan hiruk pikuk masyarakat perkotaan. Tak banyak orang yang tahu tentang keberadaan kafe ini, dan karena alasan itulah, Salsa menjadikannya sebagai tempat untuk ‘berbagi’ tawa, luka, canda, ataupun amarah. 

             Salsa duduk sendiri sejak satu jam yang lalu. Ia terdiam – tanpa senyum, tanpa air mata. Matanya memandang sendu secangkir jeruk limau hangat. Gerakan-gerakan tubuhnya nampak lemah. Napasnya sedikit tertahan. Ia terlihat seperti seorang yang baru saja kehilangan barang berharga. Ah, mungkin tidak sesimpel itu. Tidak sama sekali. Ini adalah hal yang cukup rumit. Sesungguhnya ini bukan urusan barang. Ini tentang seseorang yang begitu ia cintai. Ya, Salsa baru saja kehilangan orang yang sangat berarti dalam hidupnya.

             Seorang laki-laki bermata cokelat juga duduk di kafe itu. Ia merupakan salah satu dari sedikit orang yang menjadi pelanggan setia kafe tersebut. Sepotong kue lapis surabaya dan secangkir kopi lampung menjadi sahabatnya saat itu. Ia mungkin nampak lebih bersukacita daripada gadis bernama Salsa yang duduk tak jauh darinya. Atau setidaknya, ia hanya lebih kuat. Padahal, ia juga baru saja kehilangan. Bukan barang, tapi orang.

             Kelihatannya takdir mencoba untuk mempertemukan mereka. Di tempat yang sama, pada waktu yang sama, dan dengan nasib yang sama. Kafe itu. Sore hari. Baru saja kehilangan seseorang. Dan entahlah dewa apa yang berada di dalam pikiran laki-laki itu sampai matanya sedari tadi terus menatap Salsa penuh arti.

             Salsa tak menyadari hal itu. Hati dan pikirannya memang sedang berkelana ke alam bebas – memikirkan seseorang yang telah lenyap dari hidupnya. Namun semuanya menjadi kabur setelah laki-laki itu memberanikan diri untuk bangkit dari kursinya, menghampiri Salsa yang duduk hanya beda beberapa meja darinya, lalu membuka suara.

             “Uhm maaf, boleh aku duduk di sini?”

             “Bagaimana kalau aku bilang tidak boleh?”

             “Tak masalah. Tapi aku akan tetap menunggu sampai kau mengizinkan aku.”

            Salsa terdiam. Ia tampak jengkel dengan kehadiran si lelaki. Sesaat matanya mengisyaratkan kepasrahan yang memberi sinyal pada si lelaki bahwa ia boleh duduk di sana.

            “Timotius,” kata lelaki itu tiba-tiba setelah ia duduk.

            “Siapa? Namamu?”

            “Ya, namaku Timotius. Kau?”

            “Aku? Perlukah kau mengetahui siapa namaku? Sesungguhnya kau sangat lancang, Tuan Timotius.”

            Timotius tertawa pelan.

            “Kenapa tertawa? Ada yang lucu?”

            “Tidak, tidak. Hanya saja, kau seperti membohongi dirimu sendiri. Aku tahu, hatimu pasti sedang merasa gundah. Tak perlu mencoba untuk menjadi penipu ulung, tapi aku adalah salah satu pecinta berat kafe ini. Dan aku sangat familiar dengan wajahmu.”

            “Oh ya? Lalu apa urusanmu menghampiri aku?”

            “Aku hanya mencoba menjadi tempat untuk mencurahkan keluh kesahmu. Kau sedang merasa kehilangan, bukan?”

            Salsa terdiam. Ia menatap mata Timotius heran. Namun sebagian jiwanya seperti baru terserap ke dalam permainan Timotius.

            “D… dari mana kau tahu aku baru saja kehilangan seseorang?”

            “Ya, ya, ya. Aku tahu dari tatapan matamu. Ada sesuatu yang hilang dari sana. Kau tahu kenapa aku bisa merasakannya? Karena sesungguhnya, aku juga kehilangan seseorang yang sungguh berarti dalam hidupku.”

            Salsa tersentak. Atmosfer di antara mereka berdua sayup-sayup terasa senyap. Gadis berkacamata itu mencoba menetralkan suasana dengan satu tegukan air jeruk limau hangat miliknya.

            “Salsa. Namaku Salsa.”

            “Salsa... nama yang indah. Namun sayang, hatimu pasti sedang diliputi rasa sendu.”

            “Aku baru saja kehilangan ibuku. Ya, ibuku tewas tertabrak mobil kemarin malam. Aku tak tahu apa yang harus kuperbuat. Duniaku seperti mati rasanya. Sesungguhnya hanya dia satu-satunya orang yang aku punya dalam hidupku.”

            “Kehilangan orang yang kita sayangi memang menyakitkan.”

            Suara Timotius memelan. Matanya mulai menampakkan cahaya yang menyendu.

            “Adik perempuanku. Semalam aku menemukannya tewas gantung diri di dalam kamarnya.”

            “Ah, maaf.”

            “Tidak Salsa, aku juga minta maaf.”

            Salsa dan Timotius saling membisu untuk beberapa detik.  

            “Jadi… kita berdua benar-benar kehilangan orang kita sayangi,” ucap Salsa dengan pelan.

            “Ya, kurasa takdir mempertemukan kita sebagai orang yang sama-sama bernasib menyedihkan di kafe ini. Tapi… ya sudahlah. Aku pikir tak ada gunanya kita terus berdiam dan menyendiri seperti ini. Datang ke tempat rahasia, mendengarkan lagu-lagu sendu, membaca kata-kata tentang hidup, meneguk secangkir teh hangat, dan pada akhirnya kita hanya akan jatuh ke dalam kesedihan itu sendiri. Jadi pada dasarnya, kita yang membuat diri kita terperangkap dalam suatu lubang hitam.”

            “Kau seorang yang idealis?”

            “Tidak. Hanya saja, aku sadar bahwa berdiam diri dan terus menerus memikirkan hal yang menyedihkan tak ada gunanya. Kita harus keluar dari perangkap kesedihan.”

            Salsa hanya bisa termenung mendengar kata-kata Timotius. Sedikit demi sedikit, pikirannya mulai terasa jernih.

            “Kau benar, Tim. Dengan terus menerus meratapi kepergian ibuku, aku tak akan pernah bisa membuatnya hidup kembali.”

            “Bagaimana kalau kita berjalan-jalan sore untuk sejenak?”

            Timotius menatap mata gadis di hadapannya itu dengan penuh keteduhan. Dan Salsa tak perlu mengeluarkan kata-kata ‘ya’ untuk menunjukkan bahwa dirinya menyetujui tawaran laki-laki hangat itu.

***

Malam hari, 10 Oktober 2011

            Langit malam nampak lebih gelap dari biasanya. Sebuah kafe kecil dekat stasiun kereta tampak sepi. Hanya ada lima orang yang duduk di sana sambil ditemani alunan lagu blues tahun 70-an yang berkumandang di seluruh isi kafe. Nuansa kafe itu masih berwarna coklat, dengan sofa satin yang tak pernah diganti, kipas angin gantung yang mulai berisik, serta ikan mas koki yang semakin besar di dalam akuarium.

            Dua dari lima jiwa yang masih tersisa di sana adalah dua insan yang telah saling mengenal sejak dua tahun lalu. Si gadis rapuh yang sering membohongi dirinya, dan si lelaki percaya diri yang tampak seperti seorang idealis. Mereka duduk di pojok kafe, pada posisi di mana sosok mereka tak akan menjadi pusat perhatian banyak orang.

            Tampaknya dewi cinta berada di antara mereka berdua. Mata mereka saling menatap yakin, namun ada sepercik keraguan di dalam sana. Entah apa itu. Tapi yang pasti, mereka mencoba untuk meleburkan jiwa mereka malam itu.

            “Sudah hampir dua tahun kita menjalin hubungan dan aku ingin mengatakan sesuatu.”

            “Sudah kubilang, Salsa, ini bukanlah suatu hubungan pacaran layaknya sinetron. Aku tak pernah suka kau menganggap hubungan kita semurah itu. Kita itu sudah menyatu sampai ke dalam hati. Kita ini sudah seperti sahabat. Dan bahkan tatapan mata kita tak bisa saling berdusta.”

            “Tapi, aku rasa sudah waktunya bagiku untuk mengatakan bahwa aku...”

            “Bahwa kau mencintai aku?”

            Salsa menunduk. Ia mengangguk pelan.

            “Ya Tuhan! Semurah itu kah? Sungguh klasik ungkapanmu itu!”

            “Apa maksudmu? Aku benar-benar mencintaimu.”

            “Tidak Salsa. Tidak. Selama ini tidak ada cinta yang berwarna merah muda di antara kita. Tak ada dewa dewi cinta. Yang ada hanyalah cinta yang berwarna jingga. Maksudku, selama ini aku menganggapmu seperti saudara kandungku sendiri. Kita hanyut pada suasana kafe kecil di pinggir stasiun kereta ini, berbincang dan tertawa bersama, dan larut pada lagu blues yang terus mengalun nonstop sepanjang malam. Dan aku mencintai itu. Aku mencintai kau secara tulus dengan kalbumu yang seperti itu.”

            “T… tapi, kukira kau mencintaiku. Mencintai seperti seorang lelaki yang mencintai gadisnya dengan tulus. Sejak pertemuan pertama di kafe ini, aku telah menangkap bahwa ada sinyal cinta dari mata coklatmu. Kita terbawa pada sendunya suasana malam, saling bercerita tentang masa lalu, kemudian meneguk bersama segelas kopi hangat. Kita, kau dan aku, ada pada setiap malam yang kita lalui dengan tetesan tawa dan air mata. Dan aku tahu, kita saling mencintai.”

            “Tidak, Salsa.”

            “Kau yang mengatakan bahwa aku membohongi hatiku sendiri. Dan sekarang, kau yang malah membohongi hatimu.”

            “Tidak, Salsa. Aku tidak mencintaimu layaknya seorang pemuda mencintai gadisnya. Tidak sama sekali.”

            “Jadi…”

            “Ya, maafkan aku. Tapi maksudku, dengan kita saling mencintai seperti sepasang kekasih, maka itu akan mematikan setiap kenangan kita. Tak ada lagi malam yang disertai dengan tawa sendu dan tangisan gembira. Tak ada lagi malam di pojokan kafe sambil menulis lirik lagu bersama. Maafkan aku, Salsa. Tapi aku tak mencintaimu.”

            Salsa tak bisa berkata-kata. Ia menangis sekeras-kerasnya di dalam hati. Tubuhnya seperti baru dijatuhkan dari bangunan yang begitu tinggi. Rotasi dunianya berubah. Dan Timotius, lelaki yang tampak idealis itu, hanya bisa menatap dengan mata coklatnya penuh rasa maaf.

            Beberapa menit kemudian sudah tak terdengar lagi alunan lagu blues di tempat itu. Tak terlihat lagi beberapa orang yang sedang berbincang-bincang di sana. Dan sudah tak ada dua orang manusia, seorang gadis dan seorang lelaki, yang duduk di pojokan kafe untuk saling meleburkan jiwa mereka. Yang ada tinggal seorang gadis yang menahan tangis. Tanpa si lelaki. Sebab si lelaki telah pulang bersama gadis lain, dan si gadis hanya bisa berbagi kesedihannya dengan kafe di dekat stasiun yang sebentar lagi tutup.

***

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
70

that escalated quickly, kalau buat saya. saya suka heran kalau dalam fiksi orang bisa dg mudahnya mendekati orang yang baru dikenalnya dan bicara hal2 yang mendalam. seolah2 orang yang mendekati itu tahu kalau orang yang didekati sedang butuh kalimat2 bijak dari orang asing. bukannya ga mungkin juga sih mengobrol intens dg orang yang baru dikenal. hanya saja situasinya beda. lazimnya dl perjalanan atau habis ikut acara bersama. sedang kalau dalam suasana terpuruk di mana kita mungkin hanya ingin sendiri lalu ada yang mendekati dan bersikap sbg teman curhat sejati, apalagi ternyata kemudian potensial untuk dikecengin, kok kesannya wishful thinking banget, sedang kalau orang tsb ga potensial kita mungkin curiga atau malah ketakutan. kecuali salsa ini perempuan yang secara penampilan memang memikat, saya ragu timotius bakal mendekat, waha. sori. mungkin timotius memang punya semacam kepekaan yang bisa membaca orang bernasib serupa dg dirinya. nah, lalu kita loncat ke bagian kedua di mana tahu2 hubungan mereka sudah berlanjut namun salsa yang mengharap timotius malah ga tahu kalau si lelaki sudah memiliki gadis lain. malah di-sisterzone. ini seolah menguatkan kesan yang sempat muncul di bagian pertama, jangan begitu saja jatuh dl perhatian orang yang baru dikenal, meskipun dua tahun berlalu dan itu cukup bagi mereka untuk saling kenal dg lebih mendalam (maklum, dua tahun bagi mereka tidak sampai duapuluh menit bagi pembaca). bgmpun karakterisasi disampaikan secara jelas sekali di sini dg [Si gadis rapuh yang sering membohongi dirinya, dan si lelaki percaya diri yang tampak seperti seorang idealis.] Dg harapan si gadis pd lelaki yang telah menemaninya sejak kehilangannya, kita membaca kerapuhannya. Dan "sering membohongi dirinya" itu mungkin karena dia telah memendam rasa pada lelaki tsb sejak lama. Namun rupanya si lelaki ini "idealis" yang bisa berarti tidak memandang si gadis cukup ideal untuk dijadikan gadisnya, ada gadis lain yang ideal dan dia punya "kepercayaan diri" untuk mendapatkannya.

Writer bobhizz
bobhizz at Sebuah Cerita dari Sebuah Kafe (5 years 23 weeks ago)

halo, kak :D
iya hahaha bagian yang baru kenal langsung bicara yang dalam-dalam itu saya juga berasa kok.

terima kasih ya kak sudah mampir, baca, dan kasih poin :D

Writer Shinichi
Shinichi at Sebuah Cerita dari Sebuah Kafe (5 years 23 weeks ago)
60

ummm...

menurut saya cerpen ini sudah disajikan dengan penuturan yang cukup. kalimat-kalimatnya udah oke. hanya saja ada yang kurang berasa. konflik antara dua tokohnya datar aja gitu. alasan tokoh laki-laki mendatangi si perempuan itu rasanya hambar banget. apalagi membaca bahwa ia punya tujuan: yakni menjadi tempat perempuan itu mencurahkan keluh-kesahnya. rasanya terlalu hambar, buat saya.

membaca hingga akhir butuh ketertarikan lebih ketimbang cukup larut saja dalam narasinya. pembaca seperti saya, rasanya butuh lebih banyak faktor alasan, mengapa keduanya bisa terlibat. ehehehehe.

namun, beberapa orang mungkin sepakat bahwa cerita itu nggak melulu soal alasan. tapi aksi dan reaksi itu penting. konfliknya jugak harus menonjol. dan ketika cerpen hanya mewartakan suatu peristiwa seperti ini, maka ia butuh lebih dari sekadar narasi sebagai nilai bagusnya. misal penokohan dan gagasan baru. keduanya juga minim yg membuat saya cukup bisa bilang penulisannya saja yang udah oke.

mohon maaf bila kurang berkenan. saya mencoba mengapresiasi. salam dan kip nulis

Writer bobhizz
bobhizz at Sebuah Cerita dari Sebuah Kafe (5 years 23 weeks ago)

hey terima kasih ya kak Shinichi :D

ya itu memang benar kak kalau alurnya hambar banget. cerita ini alurnya emang sengaja saya buat datar dan seperti gaada konflik. fyi, cerita ini saya buat untuk memenuhi tugas cerpen di sekolah dan waktu itu bener-bener kilat bikinnya malem-malem. dan pas di sekolah, setiap temen-temen saya mau baca, saya selalu ngingetin "eh ini cerpen gua bukan cerpen berkonflik. maksudnya alurnya datar banget. terus juga pesan moralnya hampir gaada."

tapi kalau mau curhat, saya bingung juga kak. saya ini suka banget nulis cerita yang alurnya berkesan 'tanpa arti' atau mungkin lebih ke arah 'hambar'. entah ya hahaha tapi saya juga suka kadang-kadang nulis yang naik turun gitu heheh

thank you udah mampir kak! kip nulis juga :D

Writer Shinichi
Shinichi at Sebuah Cerita dari Sebuah Kafe (5 years 23 weeks ago)

wah! kamu bisa mengidentifikasikan permasalahanmu sendiri. percaya deh; untuk ukuran, kita negoisasi aja menyebutnya sebagai, pemula, kamu udah asem (baca. awesome). beberapa penulis yang mengaku doyan banget menulis malah kesulitan, atau nggak mengakui hal itu. padalan, gpp kan. bagus malah. kalo jujur, jadi pembaca jugak bakal ngerti. ehehehehe. nah, kurang lebih mirip seperti dirimu, saya dan banyak member lain pastinya mengalami hal tersebut. malahan itu titik awal yang akan menjadi titik akhir dalam perkembangan seorang penulis. itu buat bagian "pesan moral". lupakanlah itu.

menyoal bagaimana menyajikan cerita agar nggak terlalu datar (alias nggak konflik), kamu bisa nyoba lagi bikin cerpen semodel ini. "tanpa arti" yang kamu maksudkan, saya lebih menilainya sebagai kamu sebagai pencerita saja. oh, saya jugak demikian. penyampai pesan itu belakangan. malahan saya ragu itu penting ._.

cara menjadikan ceritamu lebih dari sekadar cerita adalah menambah greget. ketika terus mencoba melakukannya, menulis cerita berbeda lagi dan lagi, menggarap tema-tema sederhana sajapun, akan memunculkan greget itu sendiri. tapi perhatikan juga komentar pembaca. biasanya, mereka yang berkomentar dengan ketertarikan tertentu pada ISI cerita, akan memberikan masukan yang alami. maksudnya, alami sebagai murni pembaca. oh, itu sangat berarti. jadi, penulis dapat referensi kira-kira seperti apa yang alami itu dari sudut pandang pembaca. beragam memang nantinya. tapi selalu ada hal yang bisa dijadikan bahan percobaan :D
mampir-mampirlah sesekali. saya juga bikin cerpen yg minim arti. ahak hak hak.