Pact of Three ch 1

Sylvana sudah terbiasa menaiki naganya, Clay.

Hembusan angin dingin yang membuat wajahnya terasa beku, sudah biasa. Diguncang-guncang sampai pantatnya terasa sakit dan pegal, sudah biasa juga. Yang membuatnya tidak biasa dalam perjalanannya kali ini adalah fakta bahwa Sam terus berteriak setiap kali Clay menembus awan. Atau pada saat ada seekor burung yang tiba-tiba lewat. Atau saat Clay mengubah halauan terbangnya. Sylvana tahu ia tidak bisa menyalahkan Sam. Toh ini adalah perjalanan pertamanya menaiki Naga. Tapi teriakannya yang meleking tinggi itu seperti mengumumkan pada seluruh Phantasia dan memanggil para pengejar mereka mengenai keberadaan mereka. “Hei! Kami disini! Ayo datang kemari dan tangkap kami!”

Setelah serangan mendadak di Haft dan penyergapan di Lembah Brun, mereka akhirnya berhasil dengan susah payah melarikan diri dari pasukan Shadowworker yang mengejar mereka. Namun, mereka juga terpisah dari pasukan Aliansi yang lain. Sylvana hanya bisa berharap bahwa mereka semua selamat dan aman, meski ia tidak begitu berharap. Serangan mendadak di Haft itu sungguh luar biasa kuatnya, dan pasukan Aliansi benar-benar lengah pada waktu itu.

Tiba-tiba Clay mendeking. Tubuhnya bergetar hebat dan kepakan sayapnya melambat. Dengan cepat, mereka terjatuh. Clay mengepak-ngepakkan sayapnya, berusaha untuk mengembalikan keseimbangan. Sylvana mengerang, Sam menjerit seperti perempuan. Mereka sudah dan masih berpegangan erat pada sisik-sisik biru metalik Clay yang lebih keras dari batu dan setebal perisai, berusaha untuk tidak terjatuh.

Beruntung, Clay bukanlah naga kemarin sore. Hanya dalam beberapa kepak sayap, mereka sudah kembali stabil. Entah kenapa, Sylvana merasa terganggu dengan Sam yang langsung memanjatkan doa syukur pada Bintang Biru. Entah karena moodnya yang sedang jelek atau karena memang Sylvana bukanlah orang yang terlalu percaya kepada Bintang Biru, atau karena keduanya.

“Diam atau kulempar kau kebawah.” Desisnya kesal sambil menoleh kebelakang. Sam langsung diam. Wajah Sam pucat. Entah karena efek diterpa angin dingin terus menerus selama hampir seharian penuh atau karena takut dengan ancamannya. Sylvana tidak perduli. Sylvana sendiri percaya bahwa dia bercermin sekarang, keadaannya mungkin nampak lebih parah dari Sam. Wajah pucat, lingkaran hitam di bawah mata, rambut hitam panjang acak-acak. Ya, kurang lebih begitu.

“Sylv?”

Sylvana tidak menjawab, terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri.

“Sylv!”

“Apa yang kau—“

“AWAS!”

Mendapat peringatan mendadak dari Sam, Sylvana dengan cepat menoleh. Ia baru sadar bahwa ketinggian mengudara mereka selama ini menurun. Mereka terbang di antara pepohonan besar, beberapa kali baik ia maupun Sam nyaris tersapu jatuh dari Clay karena sapuan ranting-ranting pohon yang tebal.

“Clay!” Sylvana memanggil. “Ayo!”

Clay membalas dengan denguhan pelan. Nampaknya ia juga sudah sedari tadi mencoba untuk terbang tinggi. Mereka terlalu memaksanya. Ia sudah terbang tanpa henti selama setidaknya sehari, menempuh jarak yang jauh tanpa membuang waktu untuk berhenti dan mengobati luka Clay. Belum lagi ditambah fakta bahwa Clay tidak minum ataupun makan sama sekali. Dan ia sama sekali tidak mengeluh. Semua demi keselamatan mereka.

“Oh tidak!”

Mendengar jeritan Sam yang panik, Sylvana tersentak kembali ke realitas. Di hadapan mereka berdiri sebuah pohon besar raksaksa, yang nampaknya sudah berusia setua Phantasia.

“Pegangan!” Seru Sylvana. “Clay! Clay!”

Clay meraung lemah. Gerakannya menjadi lebih lambat, kepakan sayapnya menjadi lebih berat. Clay tahu ia tidak akan dapat terbang melewati pohon itu, sehingga ia memutuskan untuk terbang melalui sisi pohon tersebut. Perlahan-lahan, Clay memiringkan tubuhnya hingga tegak lurus sehingga, semoga, ia bisa terbang melewati pohon tersebut. Sylvana dan Sam berpegangan dengan erat di sisik tubuh Clay. Tidak mudah karena mereka harus berusaha keras untuk merapatkan diri mereka dengan Clay sehingga tidak terjatuh karena tersapu ranting-ranting pohon.

Sial bagi Sylvana, jubah perangnya tersangkut ranting. Ia tertarik ke belakang, jatuh dari Clay. Ia mengira ia akan mati, menghantam tanah dengan keras. Sang Bintang Biru masih mengasihinya. Bukannya terjatuh langsung dan menghantam tanah, ia jatuh menimpa beberapa ranting pohon yang melambatkan jatuhnya. Memang sakit ketika punggungnya menghantam tanah, tapi setidaknya lebih baik dari mematahkan punggungnya.

Ia terbaring di tanah kesakitan, dan terlonjak terbangun dengan cepat ketika ia mendengar suara gemuruh disertai sebuah getaran kecil. Bukan, bukan gempa, karena ia mendengar Clay meraung keras dan suara jeritan Sam yang melengking tinggi.

“Clay? Sam!” Sylvana dengan cepat berjalan ke arah Clay terbang tadi. Tidak sulit menemukan arah kemana mereka pergi. Sylvana hanya perlu mengikuti pohon-pohon yang rubuh. Tak lama kemudian, tanah-tanah yang hancur berantakan, seolah sesuatu menimpanya dan lalu diseret. Sebuah jalan kecil terbentuk, karena tanah yang tergeser dan pohon-pohon yang dirubuhkan.

“Clay! Sam!” Sylvana memanggil lagi, kali ini dengan panik.

“Disini!” Seseorang menjawab. Sam. “Sylvana?”

Sylvana mempercepat jalannya. Tanpa sadar ia sudah berlari. Rasa pegal di punggungnya, memar dan luka-luka lain akibat bertarung melawan pengejar mereka seolah tidak ada. Sylvana sampai di sebuah kawah kecil, yang terbentuk akibat sesuatu yang menimpa tanah dengan kecepatan yang cukup keras. Clay terbaring di tengah kawah kecil yang tidak terlalu dalam itu, Sam berlutut di sebelahnya dan melambaikan tangan ke arah Sylvana. Sylvana dengan cepat melompat turun ke dalam kawah dan berlari memeluk Clay.

“Nagamu,” Sam membuang pandangan. “Dia—“

Bahkan tanpa Sam memberitahunya pun, Sylvana sudah tahu. Tentu saja, karena ia pemilik Clay. Luka-lukanya yang sebelumnya sudah mengering atau tertutup terbuka kembali. Clay mendengking lemah. Sylvana melihat bahwa Clay bahkan sudah tidak dapat menggerakkan ekornya atau mengangkat kepalanya lagi. Mata naganya memandang Sylvana dengan penuh kasih sayang. Tanpa dapat dibendung lagi, air mata Sylvana mulai menetes. Ia sudah berusaha menahan tangisnya ini semenjak mereka terpaksa melarikan diri. Tangis frustasi, tangis kesal, tangis marah, tangis sedih, tangis sakit, dan sekarang ini. Ia berlutut dan memeluk leher Clay, tangisnya menetes ke sisik-sisik Clay.

Clay mendengus pelan, seolah berkata, “Tidak apa-apa kok.”

Sylvana tahu bahwa ini adalah waktunya bagi mereka untuk berpisah. Sylvana mengecup sisik Clay dengan lembut, hal yang biasa ia lakukan sejak dahulu. Sylvana ingat bagaimana ia langsung menunjuk Clay yang masih bayi naga. Sylvana masih ingat bagaimana ia berhasil menjinakkan Clay, dan secara resmi diangkat sebagai Tamer. Ia masih ingat pertempuran pertamanya bersama Clay. Ada begitu banyak kenangan antara mereka berdua.

Clay mendengus pelan, seolah mengingatkan pada Sylvana bahwa inilah saatnya mereka berpisah. Sylvana mengangguk dan berdiri, lalu mundur beberapa langkah kebelakang. Mata mereka saling berpandangan, saling tak mau melepas walau hanya sebentar.

“Sampai jumpa di Oblivion, kawan.” Kata Sylvana. “Jangan nakal di sana.”

Naga mati dengan dua cara. Bagi mereka yang masih buas, ketika mati tubuh mereka akan terbakar oleh esensi sihir mereka sendiri dan hanya menyisakan baik bangkai naga yang gosong atau kerangkanya saja. Bagi mereka yang sudah dijinakkan, esensi sihir mereka akan menghilang, seperti debu tertiup angin.

Orang-orang berkata bahwa ketika seekor Naga mati, karena mereka memiliki esensi sihir, mereka akan kembali ke Alam dan terlahir kembali sebagai seekor Naga. Sylvana percaya itu, tapi ia juga percaya bahwa jiwa-jiwa mereka akan masuk ke Oblivion, ke Langit bersama Bintang Biru.

Sylvana memperhatikan bagaimana esensi sihir Clay terbang keluar dari tubuhnya, dan bersamaan dengan itu tubuhnya perlahan-lahan menghilang begitu saja. Ia memperhatikan bagaimana Clay memejamkan matanya, hanya sesaat sebelum tubuhnya sepenuhnya menghilang.

Ia dan Sam berdiri di dalam sebuah kawah kecil yang tidak begitu dalam. Tanpa tujuan yang jelas dan nyaris tanpa semangat bertempur. Jika pasukan pengejar mereka menemukan mereka, Sylvana mungkin hanya akan bertarung sesaat sebelum pasrah menyerahkan diri. Dibunuh lebih baik, karena itu artinya ia bisa lebih cepat bertemu dengan Clay di Oblivion.

“Jadi?” Sam memecah keheningan. Mereka sudah keluar dari kawah kecil itu dan duduk di atas sebuah pohon yang rubuh tertimpa bebant tubuh Clay sebelumnya. “Kemana kita sekarang?”

Sylvana mendesah. Ia sama sekali tidak berencana untuk menceritakan hal ini pada Sam, yang jelas sama sekali tidak punya kepentingan dengan masalah ini. Tapi mengingat semua yang telah terjadi dan mereka lewati bersama, ia berhak untuk tahu sedikit.

“Raja Gregor—“

“Dia masih hidup!? Tapi aku— Tapi semua orang kira ia sudah tewas di penyerangan Ibukota?!”

Ah, rakyat jelata. Mereka memakan semua rumor dan mempercayainya dengan begitu mudahnya.

Sylvana hanya mengangguk. “Yah, itu berita bohong yang... Yang kami sebarkan. Keselamatan Raja adalah salah satu kepentingan utama kemiliteran.”

“Baiklah....?”

“Pokoknya, Raja memanggilku—“

“Memanggillmu!” Sam berteriak kaget. “Kau ini siapa sebenarnya?! Bukan— Bukan seorang Tamer biasa?!”

Sylvana mendesah. Orang ini memang selalu ingin tahu. “Aku— Aku Sylvana Vier, salah satu Tamer yang tersisa di Kerajaan— Mengingat aku sudah kehilangan Nagaku, sekarang aku hanyalah seorang penyihir biasa.”

“Kembali ke topik awal,” Ia mengalihkan pembicaraan kembali ke masalah awal. “Aku dimintanya untuk mencari seseorang di sebuah desa di Selatan, sebuah desa yang bernama Valon.”

“Valon?” Sam nampak berpikir sejenak. “Aku tidak pernah dengar.”

“Sama.” Sylvana menjawab dengan singkat. “Karena itu aku pergi ke Haft, untuk bertanya pada Jendral Orm dan sekaligus meminta bantuan dengan mengirimkan pasukan pencari. Kau tahu apa yang terjadi selanjutnya...”

“Lalu?” Sam bertanya. “Kemana kita harus pergi sekarang?”

“... Pertama-tama, kita harus menemukan sebuah desa atau kota.”

“Aku melihatnya tadi.”

“Tadi?”

“Sebelum kita, um, jatuh? Letaknya tidak jauh dari hutan ini.”

“Kau ingat ke arah mana?”

“Um.... Kelihatannya ke Utara?”

“Ke arah Barat Laut, Tuan!”

Sam menjerit dan berdiri hendak lari, tapi tersandung kakinya sendiri dan terjatuh menghantam tanah kepala dahulu. Sylvana sendiri berdiri dan sudah menghadap ke arah sumber suara. Tangan kirinya berpedar cahaya merah, sihir Api, sementara di tangan kanannya berpedar cahaya hijau kebiruan, sihir perlindungan.

Sesosok lelaki, seusia dengan mereka, nampaknya, berjalan keluar dari hutan dengan kedua tangan diangkat ke atas untuk menunjukkan bahwa ia datang dengan damai. Sebuah pedang tersarung di pinggangnya, dan sebuah busur dan tempat anak panah dibawa di punggungnya. Rambutnya hitam kecokelatan khas orang Selatan, kulitnya gelap karena terbakar matahari. Dua ekor bangkai kelinci yang diikat ke pinggangnya menunjukkan bahwa ia seorang pemburu.

“Apa maumu?” Tanya Sylvana dengan hati-hati. “Kenapa kau disini?”

“Aku melihat sesuatu jatuh dari langit ketika sedang berburu, jadi aku kemari?” Ia menjawab. “Dan, um, Nona dan Tuan orang luar?”

“Dari Tengah,” Sam menjawab. Sylvana kaget mendengarnya menjawab pertanyaan orang asing ini dengan begitu mudahnya dan begitu polosnya. Bagaimana jika ia seorang Shadowworker yang menyamar? “Kami menuju ke Desa Valon. Kau tahu arahnya?”

“Ah! Kebetulan!” Pemburu itu tersenyum ramah. “Desa ini dekat dengan hutan ini. Tepat di Barat Laut!”

“Dengar itu?!” Sam menoleh ke Sylvana dengan bahagia. “Bintang Biru mengasihi kita!”

“Ada perlu apa Tuan dan Nona datang ke desa kami?” Tanya Pemburu itu penasaran. “Dan, bolehkah aku menurunkan tanganku? Rasanya pegal.”

Buru-buru Sylvana menurunkan kedua tangannya dan menghilangkan sihirnya. Pemburu itu menurunkan tangannya dan mendesah lega.

“Kami hendak mencari tempat berlindung yang aman,” Kata Sylvana berbohong. “Kau tahu sendiri, di seluruh Kerajaan sedang terjadi pertempuran hebat.”

“Ah, benar juga.” Pemburu itu menimpali. “Akhir-akhir ini banyak orang yang melarikan diri dari Tengah ataupun Utara ke Valon, desa yang paling dekat dengan Perbatasan Selatan, untuk beristirahat sejenak sebelum melarikan diri ke Heburg atau Wein dengan kapal....”

“Bertapa tidak sopannya saya ini, nama saya Leonius Haanard.” Pemburu itu memperkenalkan dirinya. “Mari saya antar ke Valon. Tidak baik membuat tamu menunggu terlalu lama.”

Haanard? Sesuatu terdengar tidak asing bagi Sylvana.

Read previous post:  
Read next post:  
Writer Ao-Chan
Ao-Chan at Pact of Three ch 1 (5 years 7 weeks ago)

Suasana fantasy terasa kental sekalu dalam cerita ini. Membuat saya seolah tertarik ke dalam cerita.

^^

Writer Sylphermizt
Sylphermizt at Pact of Three ch 1 (5 years 14 weeks ago)
100

Uwaa keren nee-san saya langsung bisa ngebayangin ><)//

Writer neko-man
neko-man at Pact of Three ch 1 (5 years 20 weeks ago)
80

Udah terasa fantasy, ceritanya menarik.
-
Ada penempatan kalimat yang menggangu. Misal paragraf kedua, ada titik yang lebih baik jadi koma.
-
Hal lain misalnya adalah kadang tidak fokus dalam satu paragraf. Misal paragraf empat. Ada dua fokus pertama tentang Clay, kedua adalah reaksi Sylvana dan Sam. Lebih baik dijadikan dua paragraf atau dibuat kalimat penghubung. Agak mengganggu ketika membacanya.
-
Lalu Sylvana kenapa bisa mempercayai hal yang kontradiktif. Naga kembali ke alam dan kembali ke Oblivion. Hal lain adalah raja biasanya diberitakan masih hidup, padahal mati. Untuk kepentingan militer itu lebih menguntungkan. Bisa saja ada alasan khusus kenapa demikian. Mungkin di chapter selanjutnya.
-
Ceritanya menarik membuatku kangen dengan cerita-cerita rpg lama

Writer too much idea
too much idea at Pact of Three ch 1 (5 years 20 weeks ago)

1. Uwaa makasih > 2 & 3. Siap! :)
4. Yang saya coba jelaskan adalah bahwa Sylvana percaya pada metode mati yang kedua, yakni yang kembali ke Oblivion. Metode yang kembali ke alam hanya untuk menjelaskan kepada pembaca. Raja Gregor diberitakan bahwa ia sudah mati, dan bukannya masih hidup