Sebuah Dongeng, Anak Nelayan dan Mutiara Putri Laut

“Sepi... temani aku.... Aku kesepian.... Ayahanda.... Ibunda.... Siapa pun....”

***

Sontak Ali berbalik badan, ia merasa telah melihat sesuatu yang tidak biasa. Yang kecil, yang bercahaya, tidak jauh darinya. ‘Apa itu?’ ia bertanya-tanya.

Bergegas Ali mengangkat sandalnya yang berpasir. Kakinya lengket hingga betis karena air laut, tangannya keras dan kapalan berkat mendorong perahu sang ayah melaut tiap hari ke Laut Selatan ini.

Lantas dipungutnya batu itu—bukan, mutiara. Ya, sebutir mutiara mungil yang ukurannya tidak sampai memenuhi jarak antara ibu jari dan telunjuknya.

Sungguh, kemilaunya yang mengalahkan sinar mentari pagi itu begitu memesona hati anak itu.

‘Milik siapakah ini?’ pertanyaan yang tak dapat ditepisnya sejak awal. Dipandangnya lagi butiran itu. Ali tahu itu bukan sekedar mutiara biasa, ada yang berbeda darinya. Seolah diciptakan seorang pengrajin andal. Sisi-sisinya berukir, halus dan detail—meski saking kecilnya, Ali tidak bisa menerka ukiran apa itu. Dan seluruh permukaannya seolah ditaburi pasir berwarna, yang berkelap-kelip.

Ia seolah melihat angkasa luas.

Tidak—ia melihat sesuatu yang lebih... menyihir.

Mutiara itu... hidup.

Digeleng-gelengkan kepalanya, menepis pikiran kacaunya. Mustahil. Itu hanya mutiara... mutiara mungil yang sangat indah.

“Mungkin pemiliknya seorang kaya-raya,” terkanya kemudian, “dan tanpa sengaja menjatuhkannya ke laut dan terbawa ombak hingga ke tempatku kini.” Diam-diam Ali merasa sangat beruntung, sekaligus sangat iri.

Ia bisa membayangkan betapa lebar jurang pembeda antara kehidupannya dengan sang pemilik mutiara itu. Membuatnya tak kuasa menahan diri untuk tidak mengutuk nasib beruntung sang pemilik—siapa pun, atau di mana pun, dia.

Keluarganya besar, dengan delapan adik, dan sangat miskin. Kondisinya itu membuat Ali sebagai anak tertua terpaksa bekerja membanting tulang demi membantu keuangan keluarganya.

Sang ayah nelayan, yang tidak selalu mendapat tangkapan berarti karena perlengkapan melautnya sudah usang dan kalah dari nelayan-nelayan lain.

Sang ibu sudah terlalu repot mengurus kedelapan adiknya, namun beliau berusaha meringankan beban suaminya dengan membuat kerajinan kerang dan mengolah ikan asin—yang hasilnya juga tidak seberapa.

Ditatapnya lagi mutiara menakjubkan itu. Ah, betapa ingin ia memilikinya!

Setelah melirik kanan-kiri dan memastikan tak ada seorang pun yang melihatnya, anak itu—dengan jemari gemetar—mengantongi mutiara itu.

“Pemiliknya pasti sudah menyerah mencarinya. Toh mustahil ketemu,” bisiknya, hanya untuk meyakinkan diri sendiri bahwa tindakannya tidak salah.

Langkahnya tergesa. Hari itu, ia pulang terlalu cepat.

***

Jauh... jauh di laut dalam, terus ke dalam... tenggelam jauh... menuju kepekatan... sebuah tempat yang tak terjangkau tangan manusia.

Sebuah negeri dongeng di dasar samudera.

Sang putri di negeri itu selalu sendiri, juga selalu tampak sedih dan kesepian di dalam istananya yang megah dengan menara-menara menjulang yang tak terlihat ujungnya.

Putri kecil itu tengah bersandar di sisi jendela kamarnya. Gelembung-gelembung kecil, transparan, tampak keluar dari kedua cuping hidungnya tiap kali ia mengembuskan napas.

Ia menangis.

Air matanya tak pernah dilihat siapa pun—dan takkan pernah. Lantaran butirannya segera melebur dengan air laut. Terkadang, sang putri sendiri bertanya-tanya, manakah sebenarnya yang terasa asin? Apakah air matanya, atau justru air lautnya?

Ibunda dan ayahandanya tak pernah menampakkan diri semenjak ia bisa mengingat—tapi ia tahu bahwa ia punya. Dan meski istananya begitu megah dan luas, tak seorang pun tinggal selain dirinya. Tak perlu berharap akan datang segerombolan ikan berwarna-warni menghiburnya dengan atraksi renang indah, ikan laut dalam yang bersisik pucat dan bermuka jelek pun jarang mampir.

Ah, betapa penuh kesendirian hidupnya!

Satu-satunya hal berharga yang sang putri miliki ialah kedua bola matanya, yang berkilau cemerlang bahkan di tengah kegelapan pekat yang menyelimuti istananya. Yang juga merupakan satu-satunya penerangan di negerinya.

“Betapa percumanya kedua bola mata indah ini jika tak ada sesuatu pun yang bisa kupandangi di dasar laut ini...”

“Untuk apa aku bermata secantik ini bila pada akhirnya kugunakan hanya untuk menangisi kesendirianku?”

Maka sang putri—tanpa keraguan apa pun—mencongkel dengan jemarinya salah satu bola matanya....

Dan membuangnya ke laut lepas, ke tengah kegelapan.

“Mungkin dengan begini, mataku itu akan lebih berguna... aku akan lebih berguna.... Mungkin mataku itu akan bisa memandang hal-hal yang ingin kulihat, mungkin ia akan bisa menemukan kebahagiaan entah di mana... Kebahagiaan yang hanya untukku.”

Lantas sang putri menghela napas berat, namun penuh kelegaan. “Setidaknya, aku tahu aku hidup, aku ada.”

Sang putri pun melanjutkan kesendiriannya....

 

~Fin~

Gie, 05.02.2014

Read previous post:  
Read next post:  
Punya ide tentang lanjutan karya ini ? Saat ini belum ada yang menulis lanjutannya. Ayo lanjutkan karyanya.
80

Alur ceritanya gak umum, akhir ceritanya juga gak umum.. bagus..
tapi di congkel ??
brr.. serem.. hehehe... lebih baik jangan dilanjut, buat sesuatu yg baru aja, ini udah bagus akhirnya begini...

Dari saya sih, yess... *lho??!*

70

Beneran kaget pas bagian congkel mata wwkwkwkwk
Klo dlanjutin bs seru nih... ad lnjtnny ga kak?? XD

Belum saya putusin bakal dilanjut atau gak XD
Sebenerna udah saya tulis kelanjutanna sih (meski belum selesai)
Lagian, menurut saya kayak gini aja udah cukup. Entah gimana, ada kepuasan tersendiri mengakhiri cerita si "anak nelayan" dan "putri laut" di sini. Tanpa pertemuan, tanpa kontak lebih lanjut di antara mereka berdua. "Hubungan" yang cuma sekali dan singkat, namun efekna berlamgsung selamana. Dan bahkan "hubungan" itu gak disadari kedua tokohna.
Itulah romantisme, menurut saya haha~ *plak*
.
Makana, kalo dilanjutin, (saya) rasana malah gak puas.

70

Ngeri, ya, Gie..
Dicongkel sendiri matanya?
Aigo -_- jadi ngerasa perih euy..hahaha, dilanjutin, Gie :)

Hei, makasih udah baca ya~ :D
.
Seperti jawaban saya di komen-komen lain, saya masih belum memutuskan kelanjutan cerita ini akan saya perlihatkan ke orang atau gak (padahal lanjutanna sedang saya bikin).
Soalna, saya pribadi udah puas dengan tamat yang begini. Ada "romantisme" tersendiri gitu deh dengan hubungan Ali dan si Putri yang gak ada kontak lebih lanjut tapi tetep "terikat" dengan satu mutiara itu.

70

agak kaget pas si putri nyongkel matanya... ternyata oh ternyata... namun akhirannya ternyata begitu aja. agak kecewa. padahal bagaimana mutiara alias mata sang putri duyung mengamati kehidupan ali yang memprihatinkan tampaknya bakal menarik... mungkinkah ini baru awalan dari cerita yang lebih panjang?
begitu aja komen dari saya. maaf kalo kurang genah. moga produktif menulis di tahun ini. posting pertama di bulan februari belum telat2 amat kok hehehe... :D

Hehehe... makasih udah nyempetin baca :D
.
Sementara kamu kecewa dengan akhir yang begini, saya justru merasa inilah saat yang tepat untuk mengakhiri cerita Ali dan Putri. Kalau dilanjut, rasana bakal ada sisi romantis yang ilang... meski bakal nambah "rasa" lain yang berbeda sih...
Hmmm... saya masi belum bisa memutuskan nih, mau saya lanjutin atau gak. Hahahaha~ saya emang penulis egois~

80

Whoa! Tiba-tiba muncul Gie langsung ngepos dongeng yang agak sadis. Apa yang dilakukan Sang Putri itu.... Eww. >_<
.
Ada yang sedikit aneh nih.

Gelembung-gelembung kecil, transparan, tampak keluar dari kedua cuping hidungnya tiap kali ia mengembuskan napas.

.
Kalau dipikir-pikir, cmiiw, jenis penghuni laut dalam kayaknya cukup berbahaya jika di dalam tubuhnya ada banyak gelembung udara deh. Tekanan air di laut dalam itu sangat besar kan, Gie? ^^a
.
Anw, senang bisa baca dongeng buatannya, Gie. Kau emang jago di genre ini. Siip! ^^/

Wuah! Bang Xeno apdet banget di Kcom yak! Padahal belum lama saya post, udah dikomen aja XDD
.
Soal gelembung udara... gimana kalo kita kesampingkan semua logika kali ini? *kedipin mata*
*sebenerna cuman males ngelogisin tiap adegan*
Eh, eh, gimana kalo kita anggep aja si putri lagi iseng pengen bikin gelembung?? ;) *ngaco*
.
Gak, gak, saya gak jago, ini cuma tulisan iseng waktu saya sakit dan libur dari kantor dan gak ada kerjaan :v
Makasi, Bang~

Eeh! Jadi pas nulis cerpen ini kau lagi sakit? Sekarang Gie udah baikan?

Eeeer... iya, demam dikit, kayakna kecapean. Cuma sehari sembuh kok, alhamdulillah~ XDD

70

*shock selesai baca* Jadi mutiara yg ditemukan Ali ternyata adalah...
Si putri masih bisa hidup ya setelah melakukan itu?
.
Mestinya ada lanjutannya nih, buat nyeritain apakah keinginan si Putri akhirnya terwujud? ^^

Mba Aphro~~~ makasi udah mampir <3
Si putri gapapa kok meski melakukan hal itu(?). Si putri kan super princess yang punya kekuatan ajaib yang bisa menyelamatkan dunia~~~
.
Sebenerna saya udah (sedang, lebi tepatna) nulis kelanjutanna. Tapi saya sendiri masi gak yakin apa lebi baik dilanjutin atau dibiarin aja selesai di sini (dan mengesampingkan harapan pembaca supaya ada kelanjutan cerita *egois*)haha~