Yvika

   Di dunia ini terlalu banyak hal acak dan kebetulan yang terjadi: kebetulan saja dua orang sahabat lama kembali bertemu, kebetulan saja seseorang kaya mendadak karena menang lotere, dan kebetulan saja seseorang mati terkena peluru nyasar. Ayah dan kakekku percaya kalau kebetulan itu tidak ada, semua sudah digariskan, semua berjalan sesuai skenario yang telah disiapkan.

   Ah, tapi aku bukanlah tipe orang yang religius seperti ayah dan kakekku, aku lebih suka untuk percaya kalau semua hal yang terjadi tidak melibatkan kekuatan di luar nalar kita. Maksudku, terkadang seorang sutradara pun tidak selalu siap menghadapi kejadian yang tak terduga. Masa depan menyimpan terlalu banyak kemungkinan, bahkan sebutir pasir pun memiliki terlalu banyak kemungkinan di masa depan. Nah, coba bayangkan berapa banyak kemungkinan yang tersimpan di masa depan seluruh alam semesta, dan bayangkan berapa banyak skenario yang harus disiapkan demi mengantisipasi semua kemungkinan. Itulah mengapa aku lebih percaya pada kebetulan dan hal-hal acak.

   Prinsipku sederhana saja: hadapi apa yang ada di depanku, bertahan hidup, dan berusaha sekuat tenaga agar bisa melihat hari esok.

   Kueratkan sabuk yang mengikat rompi anti-peluru milikku, sedikit berharap kalau perlengkapan yang kukenakan dapat menghalau udara dingin pegunungan. Kulihat beberapa prajurit di dekatku juga melakukan hal yang sama, namun satu di antara mereka terlihat lebih menggigil dari yang lainnya. Ah, tapi kurasa itu bukan menggigil kedinginan, pemuda itu sangat ketakutan.

   “Tenanglah,” kataku sambil berjalan perlahan mendekati pemuda itu, lalu kuberi tepukan ringan di bahunya. “Apa ini pertama kalinya kau turun ke lapangan?”

   Pemuda itu mengangguk pelan lalu menarik napas panjang, sepertinya ia berusaha untuk menenangkan diri. “Mayor, apa kau sudah berkeluarga?”

   “Iya, suami dan putriku menungguku di rumah. Bagaimana denganmu?”

   “Aku dan kekasihku akan menikah bulan depan.”

   Terbersit sebuah senyuman di bibir pemuda itu, kurasa ia sedang membayangkan kekasihnya. Sebuah hal yang bagus kalau menurutku, karena kini pemuda itu terlihat lebih tenang dan fokus akan misinya.

   “Baiklah,” kataku sambil kembali memeriksa jam yang tertempel di senapan serbu milikku, “sudah saatnya pasukanku maju, kau dan pasukan cadangan lainnya pertahankan garis ini sampai bantuan tiba. Ikuti perintah pimpinan regumu, karena itu akan membantumu untuk melalui ini semua dan tetap hidup, dan jangan lupa undang aku ke pernikahanmu.”

   Akupun berlari menuju puncak bukit, di sana pasukanku sudah mengintai kamp pemberontak sejak matahari terbenam. Kami beruntung karena pepohonan di bukit ini cukup lebat, jadi kami dapat bergerak cukup bebas tanpa terlihat oleh mereka.

   Sesampainya di puncak bukit, aku pun langsung bergabung bersama pasukanku yang tersebar dalam radius dua ratus meter. Setelah berjongkok di balik sebuah pohon besar, aku menggunakan teropong senapan serbu milikku untuk mengamati keadaan kamp di kaki bukit.

   Lebih tepat kalau kamp tersebut dibilang sebagai markas militer menurutku. Ukurannya terlalu besar untuk sebuah kamp, terlalu banyak bangunan, dan terlalu banyak barak di sana. Kondisinya terlalu terang untuk sebuah serangan dadakan, lampu sorot ada di mana-mana. Aku menduga ada sekitar sembilan ratus sampai seribu dua ratus personel ada di sana..

   “Erick, beri laporan status saat ini.”

   Seorang pria bertubuh tinggi besar pun berjongkok di sebelahku, pria yang sudah lama menjadi wakil dan tangan kananku di pasukan ini. “Kekuatan mereka kuperkirakan antara delapan ratus sampai seribu orang, dan mereka masih belum menyadari keberadaan kita.”

   “Itu hal bagus, tapi jumlah pasukan kita ditambah pasukan cadangan tidak sampai dua ratus orang, jadi kita tidak punya cukup orang untuk menghadapi mereka. Bagaimana dengan pusat, kapan bantuan mereka akan datang?”

   Erick sedikit membungkuk dan agak mendekat kepadaku, lalu ia berbisik, “Barusan Kolonel Gunnhildr—ayahmu—menghubungiku, pemerintah pusat tak dapat mengirimkan pasukan secara resmi. Mereka khawatir kalau manuver ini akan tercium pihak federasi.”

   “Kalau mereka tidak mau mengirimkan pasukan tambahan, kita batalkan saja misi ini. Aku tak akan membuang nyawa kalian semua di tempat terkutuk ini!”

   Namun saat aku akan pergi dari balik pohon besar itu, telapak tangan besar milik Erick mencengkeram bahu dan menahanku di tempat. “Kalau kau takut akan sangsi militer, aku akan menanggung semuanya , aku tak takut bahkan jika mereka ingin menghukum mati diriku. Sekarang lepaskan aku!” perintahku kepada Erick.

   “Mana mungkin Eydis berani menghukum seorang Gunnhildr, bahkan pihak federasi pun tidak akan berani menyentuh kalian.”

   “Kalau begitu lepaskan aku!”

   Namun Erick hanya menggeleng sebagai jawaban atas perintahku barusan. “Ingat, barusan kubilang bahwa ayahmu tak dapat mengirimkan pasukan secara resmi.”

   “Ya ampun! Tolong katakan kalau ayahku tidak menghubungi kakekku.”

   Kali ini Erick tersenyum, dan betapa aku membenci ayahku saat ini juga.

   “Ayahku tidak seharusnya melibatkan Vincent, dia sudah menjadi warga sipil, dia bahkan sudah bukan penduduk planet ini lagi.”

   “Dia seorang kakek yang khawatir kepada cucunya.”

   “Aku sudah bukan anak kecil, dan aku benci dengan caranya yang terus memperlakukanku seperti anak kecil. Dia bahkan tidak tampak seperti seorang kakek-kakek.”

   “Ah, aku lupa bilang kalau bibimu Lucrecia juga ikut datang bersama kakekmu.”

   “Kenapa tidak sekalian Duke Alsace dan pasukan robotnya datang juga? Lalu kita buat operasi militer ini jadi semeriah perang antar bintang!”

   Erick berdeham menahan tawanya, dan aku tahu persis maksudnya. Aku sudah bisa menduga arah operasi ini nantinya. Vincent dan Lucrecia datang bersama Duke Alsace menumpangi kapal perang antar bintang kebanggaan keluarga Alsace, Valhalla. Lalu karena Duke Alsace ikut pergi, sudah pasti pasukan zirah tempur mekanik—Singa Hitam—milik keluarga Alsace juga ikut dengan mereka.

   Aku pun melihat ke arah Aegis—zirah pelindung lengan—yang membungkus lengan kiriku, lalu mengaktifkan sensornya. Dengan itu senapan kami akan otomatis terkunci dan tak dapat menembak saat terarah kepada kawan, mengurangi bahaya salah tembak, dan bahaya kalau salah satu senjata kami berhasil direbut musuh.

   “Katakan kepada seluruh pasukan agar mengaktifkan sensor aegis mereka masing-masing, dan bersiaplah untuk menyerang tepat saat tengah malam. Aku yakin sekali kalau saat ini Valhalla sudah berada di orbit Septimus, dan kurasa mereka pun sedang menunggu tengah malam sebelum bergerak.”

   “Ada lagi?”

   “Ya, saat pertempuran di mulai, tembak mati semua yang bergerak. Biar Aegis yang memutuskan mana kawan, dan mana lawan. Jangan ragu, karena Duke Alsace dan pasukannya pun sudah dilengkapi aegis.”

   “Lalu bagaimana dengan kakekmu dan Lucrecia, mereka tidak pernah memakai aegis?”

   Aku pun menghela napas panjang sebelum kembali menjawab Erick, “Mereka berdua tidak bisa mati, tembak saja.”

   Dapat kulihat kalau Erick benar-benar terhibur dengan keadaan keluargaku, lagi-lagi ia berdeham menahan tawa. Aku juga tak dapat menyalahkannya karena merasa terhibur, karena keluargaku memang bukanlah sebuah keluarga normal. Maksudku, coba saja lihat kakekku, ia seorang warlock terkuat di planet ini. Ia berusia tiga ratus tahun, namun wajahnya tetap muda berkat necromancy. Sihir jenis itu sudah dilarang di planet ini, itulah mengapa ia tinggal di Midgard saat ini.

   Lalu Lucrecia, semua orang awalnya tertipu dengan penampilannya yang cantik. Dia memang ramah dan lembut, tapi dibalik itu semua, hanya otaknya yang masih asli. Seluruh tubuknya mesin, dan seluruh tubuhnya dapat membunuh orang dengan mudah. Ia adalah sebuah gudang senjata berjalan.

   Ayahku juga seorang warlock, sama seperti kakekku. Namun ia tidak mempelajari necromancy, bahkan dialah yang mengusulkan pelarangan itu di planet ini. Dia hanya seorang warlock normal, sama seperti ibuku yang seorang cleric. Mereka hidup normal, dan menua dengan normal. Suamiku Alain, ia seorang pegawai kantoran yang sangat normal. Untuk diriku sendiri, aku yang paling normal, hanya seorang tentara biasa. Aku bahkan tak seperti ayah dan ibuku, tak sedikitpun aku bisa menggunakan sihir.

   Walaupun begitu, aku tak bisa membuat komentar yang sama mengenai putriku, Lana. Akhir-akhir ini ia terkadang suka menyemburkan api dari mulutnya ketika bersin-bersin, dan terkadang apapun yang disentuhnya mengalami penurunan suhu yang drastis. Kakekku, Vincent bilang kalau Lana memiliki bakat yang sangat langka. Tentu saja seluruh keluargaku gembira ketika mendengar kabar tersebut.

   Entah apakah aku yang gila, atau aku satu-satunya yang waras di keluarga ini? Karena aku satu-satunya orang di keluarga tidak normal ini, yang khawatir ketika anaknya menyemburkan api dari mulut dan memiliki kekuatan seperti sebuah kulkas.

   Sebuah tepukan ringan di bahu menyeretku kembali dari lamunan, aku pun segera mengarahkan teropongku ke atas kamp. Sebuah lampu berkedip merah melayang beberapa ratus meter di atas kamp, namun aku ragu para pemberontak bisa melihatnya dengan kondisi kamp yang terlalu terang.

   Sepuluh detik kemudian, terlihat beberapa ledakan terjadi di tengah kamp, disusul dengan jatuhnya puluhan obyek besar dari atas kamp. Pasukan zirah tempur mekanik, pasukan Singa Hitam telah turun. Suara rentetan tembakan bercampur dengan suara alarm dan ledakan terjadi secara simultan, kobaran api mengamuk di seluruh penjuru kamp. Ini bukan pertempuran, ini pembantaian besar-besaran.

   Kuraih helmku lalu kukenakan, seluruh pasukanku melakukan hal yang sama. Kemudian melalui radio komunikasi di helmku, kuhubungi pimpinan pasukan cadangan di kaki bukit beberapa ratus meter dari posisiku.

   “Mayor Baine, apa kau dapat mendengarku?”

   “Sangat jelas Yvika.”

   “Segera bawa pasukanmu mundur lima kilometer dari sana! Vincent dan Lucrecia Gunnhildr berada di tengah pertempuran, kuulangi, Vincent dan Lucrecia Gunnhildr berada di tengah pertempuran!”

   Setelah memberi saran kepada pasukan cadangan, kini giliran pasukanku. “Bagi kalian yang masih ingin hidup, silakan mundur bersama dengan pasukan cadangan. Aku tak akan memberi sanksi,” kataku sambil menunjuk ke arah kamp. “Di bawah sana bukanlah medan perang lagi, tapi sebuah neraka.”

   “Simpan napasmu, Yvika, mereka tak akan mau pergi,” sahut sebuah suara dari belakangku.

   “Mayor Baine, apa yang Anda lakukan di sini?”

   Pria paruh baya pimpinan pasukan cadangan itu tersenyum seraya menepuk bahuku. “Melihat langsung dan bertempur bersama keluarga Gunnhildr adalah kesempatan sekali seumur hidup, walau sangat disayangkan ayahmu tidak ada di sini.”

   “Bagaimana dengan pasukanmu?”

   “Sebagian besar pasukanku sudah mundur, Henry yang memimpin mereka. Sedangkan untuk sisanya, seperti yang kau lihat, mereka ingin ikut bertempur bersamaku.”

   Melihat satu persatu wajah-wajah yang terbalut topi baja, dapat kulihat tekad yang kuat dari balik sorot mata mereka. Kuambil napas panjang sebelum menyuarak an perintahku. “Mayor Baine, kau dan pasukanmu masuk ke kamp dari arah kanan! Erick, kau bawa empat puluh orang lalu masuk dari kiri! Gerbang utama mereka sudah jebol, sisanya ikut denganku masuk dari tengah! Maju dan bunuh semua yang bergerak!”

   Kami pun membubarkan diri menjadi tiga regu, dengan senapan serbu siaga dan tubuh agak membungkuk kami berlari menuju kamp. Sesampainya di dekat gerbang, kukepalkan tinjuku di udara untuk menghentikan pergerakan reguku, lalu dengan isyarat dua jari kupencar reguku menjadi dua, di kiri dan kanan gerbang utama.

   Setelah memastikan di sekitar gerbang dalam keadaan aman, kami mulai bergerak masuk. Suara pertempuran semakin keras terdengar dari arah tengah kamp, kami terus merangsek masuk melalui sela-sela barak dan pos-pos kecil. Sesekali pasukanku melepaskan tembakan ketika bertemu dengan personel musuh.

   Lima puluh meter dari sebuah barak yang terbakar hebat, kembali kuperintahkan pasukanku berhenti. Kubiarkan mereka melindungiku, sementara aku terus maju untuk memantau situasi di sekitar lapangan utama kamp. Tak terhitung lagi jumlah jasad dan bagian tubuh yang berserakan, terutama di dekat lapangan utama.

   Beberapa tembakan kulepas saat melihat ada sosok-sosok berlarian di seberang lapangan, dan berhasil, mereka tumbang. Namun saat akan bergerak kembali, seorang pria terpental ke arahku. Beruntung aku cukup cepat untuk berguling dan menghindar, sehingga tidak tertabrak tubuhnya. Pria tersebut tewas dengan sebuah pedang terbuat dari es menancap di dadanya.

   Belum sempat aku melihat arah asal pria itu terpental, lampu indikator  di zirah pelindung lengan kiriku berkedip. Sebuah sosok tinggi besar terbalut logam berdiri tak jauh dariku, ia mengarahkan senapan mesinnya kepadaku. Tak satupun peluru keluar dari senapan pasukan zirah tempur mekanik tersebut, dan saat ini aku benar-benar bersyukur aegis telah berfungsi dengan baik. Lalu setelah mengeluarkan komentar dalam bahasa asing yang tak kumengerti, salah satu anggota pasukan Singa Hitam itu pun berlalu mencari target lainnya.

   Belum jauh aku bergerak dari posisiku barusan, aku melihat ada sosok yang berlari mendekat dari sisi kanan. Namun saat kuarahkan senjataku, senapan itu tiba-tiba terkunci sistem pengamannya. Seorang pria tua dengan mantel panjang berwarna abu-abu sedang berlari, ia ditemani seorang gadis muda yang memakai zirah abad pertengahan dan bersenjatakan sebuah pedang. Dua buah pistol di kedua tangan pria tua itu, dan ia memiliki akurasi yang luar biasa, satu peluru untuk membunuh satu orang.

   Untuk si gadis muda dengan pedang di sisi pria tua itu, dia benar-benar seorang gadis yang absurd. Bagaimana tidak, ia menggunakan pedang yang terlihat seperti ranting, namun ia menepis setiap peluru yang yang ditujukan kepadanya dan si pria tua. Aku pasti sedang bermimpi, maksudku, lihat gadis itu, ia terlihat cukup santai dalam mengayunkan pedangnya. Ia bahkan menepis tembakan yang kulepaskan ke arahnya, dan tentu saja hal tersebut membuat mereka berdua jadi mendekatiku. Terutama saat ia menyadari kalau kedua pistolnya terkunci mode pengaman saat diarahkan kepadaku.

   “Kenapa kau menembaki Freyja?”

   “Kau Duke Alsace dari Midgard?”

   “Benar, dan kau adalah?”

   Aku tak menanggapi pertanyaannya barusan, kemudian langsung saja memerintahkan pasukanku untuk terus bergerak. Walaupun aku sedikit tertarik karena ternyata dia bisa berbicara bahasa kami, tapi saat ini aku tak punya waktu untuk hal pribadi. Target utama operasi ini, Hrolf Thorgils, pemimpin dari pasukan militan pemberontak ini. Sebelum aku melihat sendiri tubuh tak bernyawa milik Hrolf, maka misi ini belumlah usai.

   Namun belum jauh aku bergerak meninggalkan Duke Alsace, gadis berkepang yang memakai zirah abad pertengahan barusan menghadangku. Tiba-tiba saja ia sudah berada di depanku, aku bahkan tak melihatnya bergerak memutariku.

   “Aku tak tahu dengan tata krama dan sopan santun di planet ini, tapi di tempat asalku, kau telah menghina Duke Alsace  dengan membiarkan pertanyaannya tak terjawab,” ujar gadis itu seraya menempelkan ujung pedangnya di leherku.

   Kini seluruh anggota reguku mengarahkan senjata mereka kepada gadis yang disebut Freyja itu. “Yvika,” jawabku yang tak ingin memperkeruh keadaan, “Mayor Yvika Gunnhildr.”

   Belum sempat gadis bernama Freyja itu bereaksi, sebuah bola api menghantamnya dari arah kiri, membakarnya hingga menjadi debu.

   “Vinnie, keparat kau! Apa-apaan itu?!” teriak Duke Alsace kepada seseorang yang sangat ingin kuhindari hari ini.

   Seorang pria berjubah hitam dengan santainya berjalan melalui kobaran api, ia membiarkan rambut putihnya yang panjang tergerai dipermainkan angin peperangan. Sementara itu, aku menghela napas panjang dan mengusap wajahku. Aku benar-benar tak punya waktu untuk semua omong kosong ini.

   “Jauhkan tangan Asgardian keparat itu dari Ivy kecilku!”

   “Hey, Freyja sudah membantuku lebih lama dari kau, dan dia sudah bukan Asgardian lagi sejak Odin membuangnya!”

   Akupun berdiri menengahi mereka berdua. “Maaf Tuan-tuan, saya punya tugas yang lebih penting daripada harus menyaksikan percekcokan kalian. Duke Alsace, bisa tolong hentikan pasukanmu sebelum mereka menghancurkan lebih dari kamp ini? Dan untuk Tuan Vincent, berhentilah mengganggu—”

   “Panggil aku kakek—”

   “Tidak! Tolong menualah dengan normal kalau ingin menjadi seorang kakek! Satu lagi, aku bukan Ivy kecilmu, kau bahkan lebih pendek dan lebih kecil dariku!”

   “Dia benar, Vinnie, kau memang lebih kecil darinya,” timpal Duke Alsace sembari menahan tawanya.

   Entah kenapa suasana medan peperangan ini menjadi tidak serius dan aneh dengan kedatangan mereka berdua, aku merasa kalau hal ini akan membuatku lengah dan menumpulkan semua indraku. Bagi mereka yang tidak mudah mati, peperangan seperti ini mungkin memang tak berarti dan tak perlu ditanggapi dengan serius.

   Dalam sudut terdalam hatiku, aku merasa kalau semua ini bisa berubah menjadi kacau sewaktu-waktu, dan aku benci sekali kalau firasatku benar. Sebuah dentuman keras terdengar, disertai kilatan cahaya biru melewati atas kepala kami. Kemudian hening menggantung cukup lama, sebelum seorang wanita berlari ke arah kami dengan tergesa. Bibiku, Lucrecia.

   “Tank Celestia, ada Tank Celestia di kamp in—”

   Teriakan Lucrecia terpotong oleh dentuman keras itu lagi, kali ini kilatan cahaya biru itu melalui tubuhnya, membelah dua tubuhnya dan membuatnya terpental hingga sampai ke dekatku.

   “Mundur, semua pasukan mundur! Erick, Mayor Baine, mundur! Mereka memiliki tank bangsa Celestia yang dilengkapi meriam aether!”

   Bersamaan dengan teriakanku itu, bangunan barak di depanku runtuh. Memperlihatkan sosok besar tank dengan laras meriamnya. Seluruh pasukanku sudah mulai berlari menjauh, begitu juga denganku yang terus mundur sambil menyeret potongan tubuh bagian atas milik Lucrecia.

   “Yvika, sayang, tinggalkan saja aku dan larilah sendiri!” seru Lucrecia seraya terus menembaki tank tersebut walau sia-sia, kedua tangannya telah berubah menjadi senapan mesin.

   Aku tak menjawabnya. Saat ini hanya satu hal yang ada di pikiranku; persetan dengan Hrolf, misi ini tak mungkin selesai tanpa ada bantuan altileri untuk menghancurkan tank itu. Aku terus mundur bersama setengah tubuh Lucrecia, secepatnya berusaha keluar dari kamp. Sementara itu tank tersebut terus merangsek maju, menghancurkan bangunan demi bangunan mengejar kami. Dapat kudengar jelas raungan mesinnya yang semakin dekat.

   Beberapa anggota dari pasukan ZIrah Mekanik Singa Hitam berusaha menghadangnya, namun tank tersebut hanya menderita beberapa goresan dari serangan mereka, bahkan dua anggota Singa Hitam dihancurkan dengan mudah oleh satu tembakan meriam aether.

   “Freyja!”

   Duke Alsace yang tengah berlari di dekatku tiba-tiba berteriak, lalu beberapa saat kemudian tubuhnya mulai terbungkus oleh logam, sampai akhirnya ia terlihat seperti salah satu pasukan zirah mekanik.

   “AMS Viking, online dan siap bertempur!”

   Walau zirah mekanik milik Duke Alsace memiliki kelebihan bermanuver dan dapat menghindari tembakan meriam aether tank tersebut, namun serangannya tetap tak dapat menembus monster baja itu. Vincent yang sejak tadi menyerang dengan menggunakan sihir apinya, juga mengalami hal yang sama. Kami membutuhkan senjata yang lebih besar, dengan daya ledak lebih besar juga.

   Melihat lawan yang semakin banyak dan semakin sulitnya mengenai sasaran, dua buah senapan mesin muncul dari bagian atas tank dan menembak dengan liarnya. Untuk beberapa saat aku merasa kalau pertempuran ini bisa kami menangkan, sampai saat laras meriam tank itu diarahkan kepadaku. Aku berusaha sekuat tenagaku untuk lari menghindar, sambil terus menyeret tubuh Lucrecia.

   Dua buah dentuman terdengar, disusul kilatan cahaya sekitar sepuluh meter dari tempatku berlindung. Dari sisi kiri tank, aku melihat Erick berlari membawa sebuah peluncur roket. Rupanya tembakan roketnya tepat mengenai laras meriam, sehingga tembakannya meleset dariku.

   Aku masih belum bisa tenang, karena kini giliran senapan mesinnya yang menyapu tembakan ke arahku. Tepat di saat badai peluru akan menghantamku, sesosok bayangan berkelebat menghadangnya, menjadikan tubuhnya sebagai perisai untukku. Tapi percuma, peluru-peluru tersebut menembus tubuhnya dengan mudah, untuk kemudian menghantam tubuhku. Rasa nyeri menyerangku, tubuhku serasa dihantam balok secara berulang-ulang.

   Lantai beton dan langit malam muncul secara bergantian, berputar begitu cepat. Lalu hening datang, tak satupun suara terdengar. Orang-orang di sekitarku pun bergerak dengan sangat lambat. Kulihat Vincent berbaring diam, bersimbah darah. Lalu kulihat Erick, ia menyeret tubuhku, tubuh yang tak lagi dapat kurasakan.

   Sebelum gelap menyelimutiku, kulihat jejak panjang darahdi lantai beton yang berasal dari tubuhku.

   Dingin…

   Dan semakin terasa dingin…

***

Catatan:

Karakter dalam cerita ini diikut sertakan dalam Event Battle of Realms  4: Afterlife. Cerita ini adalah chapter pembuka karakter, dan chapter berikutnya akan dirilis setelah peran karakter tersebut dalam BoR 4 berakhir.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
sijojoz at Yvika (4 years 16 weeks ago)
70

enjoy bacanya apalagi pas lagi nerangin keluarganya si Y

Writer Shinichi
Shinichi at Yvika (4 years 30 weeks ago)
80

saya jarang baca genre fantasi. tapi ini okesip. tp masih ada typo: sangsi dan dibalik. saya nggak yakin punya masukan. tp hanya tergelitik dengan dialog di awal-awal, yakni pertanyaan "sudah berkeluarga" itu. menurut saya, "berkeluarga" ini kurang oke jadi gaya dialognya. "punya keluarga" ini lebih pas. itu pun saya bilangnya dari film-film yg pernah saya tonton siy. bukan hal penting. terus, apa ya? ummm... kayaknya itu aja deh. asgardian? mitologi nordik kan? saya sempat browsing beberapa waktu yg lalu karena penasaran kenapa Loki bisa jadi raja di film Thor 2. tapi ya, itu kan udah beda secara dipermak gitu. tp tetep penasaran gimana sih si Loki itu, pikir saya. jadinya dapat kabar2 baru soal mitologi ini. kayaknya begitu saja deh. kip nulis dan kalakupand.
ahak hak hak.

Writer Zoelkarnaen
Zoelkarnaen at Yvika (4 years 28 weeks ago)

Thanks udah mampir Om~

Ah, ini ga akan dijelaskan lebih lanjut soal Asgardian, soalnya ini hanya side story dari salah satu karakter di universe yang saya bikin.

Asgardian itu kalau di universe ini hanyalah bangsa penjajah dari planet Asgard. Saya ambil dewa-dewa dari mitologi dan mengubahnya jadi semacam space opera (Inspired by Stargate).

Dua cerita utama yang menjadi asal universe ini masih saya kerjakan, Dies Irae (Inspired by La Divina Comedia) dan Love Count. Nah, Love Count yang jadi cerita utama peperangan antara planet Midgard dan Asgard~ :D

Writer Shin Elqi
Shin Elqi at Yvika (4 years 31 weeks ago)
80

belum lihat biodatanya...hehehe...tapi ini keren...sayang Yvika belum menunjukkan kemampuannya.

Writer Zoelkarnaen
Zoelkarnaen at Yvika (4 years 28 weeks ago)

Thanks udah mampir, Om~

Writer Ichsan.Leonhart
Ichsan.Leonhart at Yvika (4 years 31 weeks ago)
80

Wooogh, sebuah kematian yang dramatis!
:D

Welcome to BoR Afterlife.

Writer Zoelkarnaen
Zoelkarnaen at Yvika (4 years 28 weeks ago)

Thanks, Om~

Writer nawang07
nawang07 at Yvika (4 years 32 weeks ago)
50

bagus ceritanya, lanjut lagi yaa..

Writer Zoelkarnaen
Zoelkarnaen at Yvika (4 years 28 weeks ago)

Iya, tapi nanti setelah event selesai, atau kalau karakter ini tersingkir~

Makasih udah mampir~

Writer marowati
marowati at Yvika (4 years 32 weeks ago)
80

Cerita yang seru. :)

Writer Zoelkarnaen
Zoelkarnaen at Yvika (4 years 28 weeks ago)

Terima kasih atas kedatangannya~ :D