Untitled

Jadi bingung mo ngeshare apaan. akhirnya cerita ini aja deh.

Baru ditulis bulan lalu sih. Sebenernya ini mo dibuat cerita fantaasi, tapi aku nemu konsep lain buat yang fantasi jadi yang ini gak kulanjutin.

 

 

Aku dapat merasakan keringat di sekujur tubuhku ketika aku terbangun. Jantungku berdetak sangat cepat, nafasku tersengal-sengal. Mimpi buruk, pikirku. Aku memang tidak mengingatnya dengan jelas, tetapi aku yakin kalau yang barusan itu bukanlah mimpi indah. Yang jelas, rasanya saat ini mataku masih sangat berat, karena semalam aku tidak tidur sampai larut.

 Sejenak, aku terdiam memikirkan mimpiku yang barusan. Tapi tak ada yang bisa kuingat lagi, dan kurasa juga tak ada gunanya jika aku berhasil mengingatnya kembali. Keadaanku sudah cukup buruk pagi ini, aku tak mau menambah pikiranku dengan hal-hal yang tidak begitu penting. Dan juga ,nasib baik sepertinya tidak berpihak padaku hari ini, karena ketika aku tersadar dari lamunanku, waktu ternyata sudah menunjukkan pukul 06.30 pagi.

Di kota ini, sekolah dimulai pukul 06.45 pagi. Dan jika aku terbangun pukul 06.30 seperti pagi ini, tak peduli secepat apapun aku bergegas, aku pasti tetap akan terlambat, bahkan jika aku berlari ke sekolah dengan kecepatan kuda sekalipun. Meski begitu, aku segera beranjak dari tempat tidurku dan segera bersiap-siap. Aku mandi dengan cepat, tetapi dapat kupastikan tubuhku sudah cukup bersih. Setelah segala persiapan selesai, aku menyambar tasku sembari melihat jam. Sudah pukul 06.40. Rumah yang kutinggali memang tidak terlalu jauh dari sekolah, tetapi juga bukan jarak yang dapat ditempuh dalam 5 menit.

Aku melihat waktu di jam tanganku sembari berlari. Pukul 06.50 . Tinggal sedikit lagi, dan aku akan sampai ke sekolah. Aku berlari dengan kecepatan terbaikku -aku yakin aku pelari yang baik- dan sesampainya di gerbang sekolah, aku melihat jam dan waktu sudah menunjukkan pukul 06.55 . Bahkan butuh waktu 15 menit meski aku berlari secepat itu.

Aku adalah siswa kelas 2-F di SMA Rains, sekolah yang cukup terkenal di kota  ini. Sekolah ini sendiri sangat luas, terkesan mewah tetapi juga terdapat beberapa bangunan tua di dalamnya. Sudah direnovasi, tentunya. Dan juga, segalanya tertata dengan sangat rapi dan juga bersih. Wajar saja, kebersihan disini sangat dijaga. Setiap kelas diberi tugas wajib untuk membersihkan area tertentu pada hari tertentu setiap minggunya. Itu sebabnya. Disini juga aku memiliki banyak teman yang cukup baik, meski kurasa juga ada yang tidak menyenangiku. Disini juga ada ekstrakurikuler yang telah aku dambakan sejak SMP. Memanah. Aku sudah menyukai olahraga itu sejak kelas 1 SMP, tetapi ekstrakurikuler di SMP ku terbatas. Dan begitu mengetahui ada ekstra memanah di Rains, kurasa aku tak perlu menghiraukan ekstrakurikuler yang lain.

Terlepas dari itu semua,ada hal-hal yang membuatku tidak begitu suka dengan sekolah ini. Guru. Beberapa guru disini kurasa-dan sebagian besar siswa juga berfikir sepertiku- sangat otoriter. Frekuensi tugas rumah yang mereka berikan juga tak tanggung-tanggung, dan mereka juga tidak segan – segan memberi siswanya hukuman berat. Yah, kami tak punya pilihan lain selain menaati peraturannya, kan? Meski begitu, sekolah ini termasuk salah satu dari SMA terbaik -setidaknya sebagian besar orang berfikir  berkata begitu- di kota ini.

Yah, aku memang bersekolah disini, tapi bukan karena alasan itu. Yang jelas, aku tidak mau memiliki sekolah yang jauh dari rumah, karena kupikir itu akan sangat merepotkan. Juga seingatku, tak ada tes spesial pada saat penerimaan siswa. Sama seperti tes di sekolah-sekolah pada umumnya.

 “Pukul 06.55, terlambat 10 menit,” suara guru piket yang ternyata sedang berdiri di sekitar gerbang, ketika aku tepat memasuki wilayah SMA Rains ini mengagetkanku. Mr.Edgar namanya. Ia juga pembina dari ekstrakurikuler memanah yang aku ikuti. “Ini sudah yang kedua kalinya, tetapi mengingat kau adalah salah satu murid panahanku, kali ini kumaafkan, lagi. Tapi tidak untuk kali ketiga.” ia melanjutkan kata-katanya. “Sa-saya minta maaf atas keterlambatan saya Mr, saya berjanji tidak mengulanginya lagi,” kataku menjawab perkatannya.

Ia tidak menjawab, hanya mengibaskan tangan kirinya, memberiku isyarat untuk segera masuk ke kelas. Tanpa pikir panjang aku langsung bergegas menuju ke kelas. Dan ternyata guru yang seharusnya mengajar di kelasku baru datang 5 menit setelah aku masuk.

Bel istirahat pun berbunyi. Rasanya aku ingin tidur saja di kelas di jam istirahat ini. Pelajaran yang barusan sangat membosankan dan memperparah rasa kantukku. Bahkan kepalaku beberapa kali nyaris membentur meja ketika aku hampir tertidur sambil duduk. Tepat ketika aku memejamkan mataku, aku merasakan ada seorang gadis yang mencolek bahuku. Aku berniat mengabaikannya pada awalnya, tetapi gadis itu malah menggoyang-goyangkan tubuhku sambil meneriakiku.

“Hei Levi!”, panggilnya.

“Hm”

“Aku butuh bantuanmu,”

“Hm”

“Jangan hanya ‘hm’ saja, ayo bangun!”

“Hm”

“Huh Dasar!”

Sejenak aku tidak mendengar suaranya memanggilku lagi, selama beberapa saat. Dan itu membuatku berfikir kalau gadis itu mungkin sudah pergi, sampai ketika rambutku ditarik dengan keras dan membuat kepalaku mendongak ke atas.

“Aduhh!”

Aku mengangkat kepalaku. Oh, ternyata dia. Temanku yang jadi ketua OSIS di Rains. Namanya Melia. Amelia Alexandra. Dia lumayan manis. Tubuhnya tidak terlalu tinggi, setidaknya tidak lebih tinggi dariku. Rambutnya lurus, warnanya hitam dan panjang, dan selalu di kucir dengan poni yang ia sibakkan ke samping . Penampilannya tidak banyak berubah ketika pertama kali aku melihatnya. Pertama kali aku bertemu dengannya, kukira namanya Mel, karena bibinya memanggilnya seperti itu. Aku baru tahu nama aslinya ketika ia ternyata masuk ke kelas yang sama dengan ku saat kelas 1. Tapi aku tetap memanggilnya Mel.

“Hai!”,sapanya.

“Tidak usah pakai hai segala, ada perlu apa?”, jawabku datar.

“Aku mau minta tolong, boleh?”

“Minta tolong apa?”, tanyaku. Ini buruk.

“Bantu aku membereskan ruangan OSIS,ya?”

Aku terheran sejenak. Ruangan OSIS? Yang benar saja. Aku bahkan bukan pengurus. Kenapa dia memintaku seolah-olah di sekolah ini tak ada orang selain aku?

“Hah? Yang benar saja. Aku bahkan bukan pengurus OSIS. Minta yang lain  saja. Aku sedang mengantuk”

“Tidak bisa, yang lain sedang sibuk dengan persiapan kompetisi olahraga nasional. Kau tahu kan, kalau kompetisinya tahun ini digelar disini? Mereka sedang sibuk, dan aku juga tidak bisa melakukannya sendirian.”

“Lantas kenapa kau tidak ikut sibuk saja?”, tanyaku acuh.

“Nah, itu masalahnya. Tugasku adalah membereskan ruangan agar siap saat nanti jika digunakan untuk rapat. Karena itulah aku memintamu membantuku, ya?”

“Tidak mau.”

“Ayolah, hei!”, ia meneriakiku sambil menghadapkan wajahku ke wajahnya.

Oh, bagus. Aku mengenalnya dengan baik. Jika ia sudah menjadi seperti ini, maka ia akan terus menggangguku sampai ia mendapatkan apa yang ia mau. Sebenarnya aku tak keberatan jika membantunya, jika kondisiku baik-baik saja, tak seperti hari ini. Sebab, ia adalah teman dekatku sejak 2 tahun lalu ketika umurku masih 14 tahun, ketika ia pindah ke sebelah rumahku, tepatnya di rumah tetanggaku, Ibu Valine, yang ternyata adalah bibinya.

Sebelumnya, aku tinggal bersama kakakku, juga paman Ronan dan bibi Irene. Paman dan bibi ku meninggal ketika aku masih berusia 7 tahun dalam kecelakaan. Setelah itu aku tinggal hanya bersama kakakku yang kala itu berusia 16 tahun. Kami tetap tinggal di Kota ini, di rumah peninggalan paman dan bibi. Tetapi segala sesuatu yang kami butuhkan sudah diurus oleh keluarga dari paman Ronan, karena itu kami tak perlu khawatir.

2 tahun lalu, ketika umurku masih 14 tahun, kakakku pergi dalam untuk mengunjungi paman Reese, saudara paman Ronan. Dan ketika itu pesawat yang ditumpanginya mengalami kecelakaan dan jatuh di pulau. Pesawat itu juga ditumpangi oleh orang tuanya Mel. Ketika ditemukan, tak ada korban yang dapat dikenali lagi karena pesawat itu meledak. Dan setelah kejadian itu juga, aku tinggal sendirian sampai saat ini. Tapi aku beruntung karena selalu ada tetangga yang membantuku.

Selang beberapa hari setelah insiden kecelakaan itu, Mel pindah ke rumah ibu Valine dan sekaligus menjadi tetanggaku. Sejak itu, ibu Valine sering mengajaknya mengunjungi rumahku, sekedar memberiku sedikit makanan kecil, atau biasanya meninggalkan Mel saja dirumahku. “Dia belum punya teman, jadi bertemanlah dengan baik dengannya, ya Levi?”, pintanya saat ia membawa Mel ke rumahku. Yah, apa boleh buat,kan?

Untungnya kami tidak butuh waktu lama untuk saling akrab, karena harus kuakui, ia orang yang menyenangkan. Bahkan tidak ada suasana canggung sama sekali ketika kami pertama kali berbicara satu sama lain. Ia bertingkah seolah-olah ia sudah mengenalku dengan baik. Yah, lepas dari itu, terkadang seperti saat ini, ia bisa jadi sangat menyebalkan dan merepotkan.

“Hei, Levi”,panggilnya ketika sejenak terdiam.

“Hm”

“Oh, ayolah, jangan ‘hm’ saja.”

“Apa harus sekarang? Nanti saja waktu pulang sekolah,”

“Tidak bisa, ruangannya akan dipakai waktu pulang sekolah, makanya aku memintamu sekarang,”

Ah, ini menambah kesialanku hari ini.

“Hei !”, teriaknya ketika aku lagi-lagi terdiam

“Haah, baiklah. Tapi sebaiknya kau juga bekerja dan jangan cuma berdiri dan memberiku instruksi,”

“Iya, iya. Ayo kita lakukan!”

Aku beranjak dari kursi nyamanku dengan enggan. Baiklah, baiklah. Akan kulakukan dengan cepat sehingga aku dapat kembali bermalas-malasan di kelas.

Ketika aku melihat ruangan itu dari luar, kondisinya benar-benar berserakan. Aku tahu kalau ruangan ini kacau, tapi tak kusangka akan separah ini. Kalau seperti ini, waktu istirahatku akan habis. Bahkan aku ragu aku bisa menyelesaikannya sebelum bel masuk, meski ia membantuku. Aku ragu ia akan banyak membantu.

“Sebanyak inikah yang harus kubereskan?”,tanyaku.

“Akan kubantu, tenang saja!”, tukasnya. Seolah semua ini adalah hal yang menyenangkan.

“Aku meragukannya”, tukasku datar.

“Apanya?”

“Tidak apa-apa. Sebaiknya kita cepat mulai atau kita tidak akan selesai saat bel masuk berbunyi,” , kataku seraya memasuki ruangan.

Aku menghela nafas panjang, dan kembali menatap seisi ruangan. Baiklah,baiklah. Ini pasti butuh waktu cukup lama, jadi apa boleh buat. Ia dan bibinya sudah sering membantuku, jadi kurasa tak apalah membantunya sesekali.

Sejenak aku melihat keluar pintu, memandangi pepohonan rindang yang terletak cukup jauh dari ruangan ini. Melihat siswa berlalu-lalang melewati siswa lainnya. Melihat sekumpulan gadis-gadis kelas satu yang asyik bercanda sendiri dengan teman-temannya. Dan saat itu pula aku melihat bocah kelas dua berambut coklat lewat di depan ruangan OSIS. Itu dia. Jalan keluarku. Dia pasti tak akan keberatan jika kumintai tolong saat ini. Tepatnya, untuk membantu Mel. Seketika itu aku beranjak dari tempatku untuk memanggilnya.

“Hei kau mau kemana? Ini belum selesai!” suara Mel menghentikan langkahku keluar. “Sebentar saja, 2 menit,” jawabku singkat. “Baiklah, baiklah. Tapi cepat kembali, ya!”, katanya. Aku mengangguk dan segera keluar ruangan itu. Mumpung dia masih belum jauh dari ruangan.

“Hey, Alex!” , teriakku seraya berlari ke arahnya. Ia menoleh dan kemudian melihatku. “Oh, Levi. Ada apa?” tanyanya. “Tak apa. Kau mau kemana?”, tanyaku sambil mencari cara yang tepat untuk membujuknya. “Aku mau kembali ke kelas. Memang kenapa?” tanyanya lagi. “Eh, sebenarnya begini.....”.

Aku mengatakan semuanya pada Alex. Tentang Mel memintaku untuk membantunya dan aku meminta dirinya untuk menggantikanku, karena aku tahu kalau dia menyukai Mel. Begitu juga Mel menyukainya.

“Bagaimana? Mau kan? Tenang saja tidak ada siapa-siapa di ruang OSIS selain dia,” kataku membujuknya. “B-begitu,ya? Baiklah,” jawabnya singkat. Yes, seperti yang kuharapkan dari Alex Irsada. Detik berikutnya, aku membawanya ke ruang OSIS. Tetapi aku menyuruhnya menunggu di luar dahulu, seraya aku berbicara dengan Mel.

Ketika masuk ruang OSIS, aku langsung disambut dengan cibiran. “Kenapa lama sekali, kau mau kabur ya?”, tanyanya langsung. “Tidak. Sebenarnya aku tidak keberatan membantumu, tetapi aku tadi malam hanya tidur beberapa jam. Sepertinya tubuhku kelelahan. Untungya, ada teman yang cukup baik untuk mau menggantikanku membantumu,” kataku menjelaskan.

“Tunggu, apa?!” tanyanya dengan ekspresi tak percaya diwajahnya.

“Masuklah” kataku sebelum Mel menyelesaikan kata-katanya. Matanya terbelalak ketika melihat siapa yang kubawa.

“Nah Alex, semuanya kuserahkan padamu dari sini,” kataku melanjutkan. “Ba-baiklah,” tukasnya. Aku melirik Mel dan aku dapat melihat pipinya merona merah. “T-tunggu! Hei, Levi! A-apa maksu-”, ia hendak protes, tetapi aku buru-buru memotongnya sebelum ia sempat melanjutkan perkataanya. “Sudah, ya? Aku kembali ke kelas dulu!” kataku seraya berlari menuju kelas. Akhirnya... Terima kasih, Alex!

 

---------------

 

 

 

Ada yang mau nambahin?atau nggak ngusulin apa gitu?

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Dem Aileen
Dem Aileen at Untitled (4 years 41 weeks ago)
60

Belum jelas ini ceritanya mau dibawa kemana. Rencananya fantasy ya? Low fantasi atau high fantasi kah? Tentukan judulnya jangan lama lama yak :v
-
Salam Demdemdem.

Writer neko-man
neko-man at Untitled (4 years 44 weeks ago)
70

Hmm. Mau dijadikan romance kah. Rasanya terlalu banyak kalimat pendek. Rasanya jadi lelah.

Writer ercehauliyasari
ercehauliyasari at Untitled (4 years 44 weeks ago)

hai! mau kasih sedikit saran aja sih. untuk 'opening' by penulis bisa ditulis di kolom log message ketika mulai ngetik/diedit, jadi nggak mengganggu cerita.
ada beberapa typo dan penulisan tanda baca yang kurang sempurna. lalu untuk dialog seharusnya dipisah saja, misal:
“Pukul 06.55, terlambat 10 menit,” suara guru piket yang ternyata sedang berdiri di sekitar gerbang, ketika aku tepat memasuki wilayah SMA Rains ini mengagetkanku. Mr.Edgar namanya. Ia juga pembina dari ekstrakurikuler memanah yang aku ikuti. “Ini sudah yang kedua kalinya, tetapi mengingat kau adalah salah satu murid panahanku, kali ini kumaafkan, lagi. Tapi tidak untuk kali ketiga.” ia melanjutkan kata-katanya.
“Sa-saya minta maaf atas keterlambatan saya Mr, saya berjanji tidak mengulanginya lagi,” kataku menjawab perkatannya.
untuk percakapan singkat yang saling bersahutan sudah baik, sih.
eh, maaf kalo komennya jadi panjang. :P
mungkin ceritanya memang harus diteruskan biar nggak nggantung begitu endingnya. keep writing. :)

Writer LevianAries
LevianAries at Untitled (4 years 44 weeks ago)

haha oke xD
thanks banget sarannya sangat membantu :)
dan sebenernya juga pengen ngelanjutin tapi gak ada ide wk