Gumaman Batu

Aku adalah nafas
yang Kau tiup
pada rekah batu
berpahat lelekuk patung
sedemikian seleraMu

Tak pernah merasa cukup, aku
bertanya pada belah awan
hitam arang atau putih bawang
kaul apa yang kusepakati
pada tinta di atas putih
silam, sebelum sari mani
Kau utus menjemputku

Aku menyusup
pada rekah batu
tidur seperti batu
bercinta dengan batu
berbuah-buah batu
dari serbuk sari belalai
pada pangkal pahaku
lalu mati sebagai batu

Kiranya Constantin Brancussi
atau Patricia Piccinini
atau Nyoman Nuarta, faham
bahwa tajam mata tatah
tak luput dari jerumus buta
ekspresi perasa seniman batu
tatkala suka pastilah jelita
meski abstraksi bisa dinilai tabu
oleh bebatu yang enggan menau

aku kira demikian halnya Kamu,
Maha Raja Pemahat Arca,
tak luput dari kegilaan selera
ketika goresan merupa paras
tatkala alpha memberi
telinga kepada batu tuna rungu
atau enggan memberi cahaya
kepada arca tuna netra
atau rasa kurang beruntung
kepada patung berkaki buntung

Kami pasrah pada seleraMu,
atraksiMu atas batu bentukanMu
meski tak cukup sejenak waktu
melawan cemburu perkasa
Garuda Wisnu Kencana

Pernah sesekali, aku
tergoda karya pematung gila
bergaya Lembah Indus
serupa wajah boneka
layaknya Dorce Gamalama
atau stilistika pemahat Korea

Untuk menumbuhkan cinta,
aku belajar acuh kepada cermin
bahwa mereka, cermin-cermin itu,
tiada yang berkata sejujur Pandu
begitu kiranya aku menerka
makna rerupa maha karyaMu

Belum cukup aku memahami
makna padas parasku,
ketika seroja mekar, atau
lumut, atau belukar
tumbuh pada reretak batu-
yang tak lebih dari koral
-Kau hisap nafasku
kembali menuju kuilMu
meninggalkan emban
yang menanti kehancuran
sebagai batu ciptaanMu.

(Maret, 2014)

Read previous post:  
55
points
(187 words) posted by Arie Ardhana al... 5 years 24 weeks ago
78.5714
Tags: Puisi | filsafat | #Filsafat #kehidupan www.arieardhana.wordpress.com
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Bayang
Bayang at Gumaman Batu (4 years 45 weeks ago)
70

aku lahir dari batu pecahan dari tubuhmu... (hehehe itu akan dkatakan sun go kong pada dewi nuwa kalau mereka suatu hari nanti bertemu).... mainkan terus! mumpung lagi nggila.. sesekali kalau ada waktu mampir ke gua yg sudah lama tak ku hiasi dengan 'arang' itu ya...hehehe

Writer ItoPamilih
ItoPamilih at Gumaman Batu (5 years 21 weeks ago)
90

ah ini udah maestro lah kelasnya

Writer Arie Ardhana al Kepet bin Obrek
Arie Ardhana al... at Gumaman Batu (5 years 20 weeks ago)

Terimakasih anggurnya.. Semoga saya tak terlalu mabuk.. Salam :)

Writer Steve Elu
Steve Elu at Gumaman Batu (5 years 21 weeks ago)

Wah,,,saya suka sekali puisi ini... mengembalikan yang ada kepada asalinya..begitulan kira-kira saya bisa menebak puisi ini. Mudah-mudahan tidak salah. Membaca puisi ini juga menyiratkan pesan bahwa medan bacaan penulis cukup luas dan bervariatif. Saya suka Bung. salam

Writer Arie Ardhana al Kepet bin Obrek
Arie Ardhana al... at Gumaman Batu (5 years 21 weeks ago)

Terimakasih sangat, Stave..
Bisa jadi tebakannya benar :)
Tapi, kok bintangnya lupa ya.. :D
Salam...

Writer Putri_Pratama
Putri_Pratama at Gumaman Batu (5 years 22 weeks ago)
80

Bagus, puisi ini mengingatkan pada puisi ngawurku yang berjudul Tutur Arca. Tapi tentu, yang ini jauh lebih berkualitas.

Writer Arie Ardhana al Kepet bin Obrek
Arie Ardhana al... at Gumaman Batu (5 years 22 weeks ago)

Terimakasih banyak, apresiasinya...

Writer cahya
cahya at Gumaman Batu (5 years 22 weeks ago)
100

kiasannya berat tapi keren, bentuknya juga bagus, maknanya dalem. mungkin klo boleh sedikit aku lebih suka "selera-Mu" daripada "seleraMu", yang mana yg lebih tepat aku ga yakin juga, yah mungkin ini hanya masalah "selera" xixi.
Salam
Cahya

Writer Arie Ardhana al Kepet bin Obrek
Arie Ardhana al... at Gumaman Batu (5 years 22 weeks ago)

Sebelumnya terimakasih atas apresiasinya. Iya ada beberapa penulis yang menulisnya dengan disambung (kataMu), ada juga yang menulisnya diberi tanda "-" (kata-Mu). Tapi kalau menurut penulisan, menurut saya, yang benar digabung, seperti halnya kepadamu (tanpa huruf besar). Sedangkan pemberian huruf besar digunakan untuk membedakan manusia dengan Tuhan.

Writer cahya
cahya at Gumaman Batu (5 years 22 weeks ago)

hehe sharing yah, mengapa sblmnya aku comment mengenai "selera-Mu" pake tanda "-" karena penafsiranku yah ini menenai Sang Pencipta, tapi tadi sempat berfikir klo penulis sengaja digabung supaya memiliki ambiguitas. nah karena sudah dijawab "Mu" ini adalah untuk Tuhan maka sebenarnya lebih baik pake "-Mu". adapun referensinya adalah http://id.wikisource.org/wiki/Pedoman_Umum_Ejaan_Bahasa_Indonesia_yang_D... . xixixi...

Writer Arie Ardhana al Kepet bin Obrek
Arie Ardhana al... at Gumaman Batu (5 years 22 weeks ago)

Bukan ambiguitas namun, untuk menyembunyikan maksud. Tapi benar seperti dugaan Cahaya :)

Soal pedoman ejaan bahasa, hmmm, ini topik yang sangat bagus untuh "diobok-obok". Seperti yang kita tau, pusat bahasa pun sering melakukan kesalahan perihal kebijakannya dalam penggunaan kata serapan dan penulisan yang benar. Mereka sering galau. Sudah pernah dibahas oleh Alif Danya Munshy soal carut-marut pusat bahasa.

Writer pecundang jalanan
pecundang jalanan at Gumaman Batu (5 years 22 weeks ago)
100

gila bang,,,,keren bgt walau gw nga bisa dapat artinya tp entahlah gw suka bgt bacanya...cool

Writer Arie Ardhana al Kepet bin Obrek
Arie Ardhana al... at Gumaman Batu (5 years 22 weeks ago)

Terimakasih, sobat. Sebenarnya kiasan pada puisi ini sederhana kalau dibaca dengan sungguh. Manusia, dalam ilmu medis maupun ilmu agama, tercipta dari tanah (batu). Dan sebagai manusia (ruh), kita hanya bisa pasrah kepada Sang Pencipta, wujud raga seperti apa yang akan kita huni di dunia.
Salam...