Desire and Eyes | Masa Lalu II

Dia menarikku ke sebuah sungai, di mana orang-orang biasa duduk sambil menikmati bunga-bunga yang mekar bersama dengan kupu-kupu indah---yang tidak seindah hidupku.

"Kak! Ayo, tangkap kupu-kupunya!"

Apa dia masih lima tahun? Umurmu sudah tiga belas, bodoh. Aku juga tidak akan mau menangkapkan kupu-kupu jelek itu untukmu, sekalipun kau memaksa.

Aku sudah biasa sendirian. Ketika aku bersama orang lain, rasanya sangat aneh. Sendirian itu menyenangkan. Saat kau bersama orang lain, kau bisa sakit hati atau apalah.

"Kak! Ayo!"

Bisakah dia berhenti memaksaku menangkap kupu-kupu itu?

Tunggu dulu.

 

Apa orangtuaku memerhatikanku...?

Ini... benar-benar aneh...

 

"Kak, ayolah! Sekali saja!"

"Memangnya itu mau kau apakan, kau pelihara?"

"Ya! Ayolah kak, yang warna coklat itu! Ayo!"

Cih. Dasar kekanak-kanakan. Seharusnya dia sadar, dan mungkin sehabis aku menangkap kupu-kupu itu untuknya dia akan berkata, 'oh iya, umurku kan sudah tiga belas! Kenapa aku seperti ini, memaksa orang untuk menangkap kupu-kupu seperti aku berumur lima tahun saja? Ah, aku kembali saja!' dan meninggalkanku dalam dunia kesendirianku.

"Kak! Ayolaah!!"

Jangan memaksaku, bodoh. Walau kau memelas atau memaksaku bahkan memberitahu ibu dan ayah---mereka tidak akan memperhatikanku---aku tidak akan menangkapnya untukmu. Lebih baik aku kembali ke sudut taman dan meringkuk di sana, seperti enam tahun lalu, dan menunggu dunia memerhatikanku. Yah, beberapa orang pasti beranggapan, 'daripada menunggu dunia, lebih baik kau berusaha'. Bodoh. Seberapa kerasnya aku berusaha, dunia tidak akan pernah memerhatikanku, bahkan tahu kalau aku ada, aku hidup di dunia ini.

Semua kata-kata bijak itu tidak ada gunanya untuk hidupku ini.

Sedikitpun.

 

Mungkin benar. Aku ini tidak ada.

Haruskah aku menangis meratapi nasib, dan mencoba bunuh diri? Ah, tidak. Aku tidak akan mau melakukannya. Walau aku selalu berpikir, kalau aku tidak dianggap seperti ini, lebih baik aku mati, karena dunia pasti masih bisa tersenyum walau tanpaku.

 

"Kakak! Kakak ini kenapa? Ayolah!"

"BERHENTI BERSIKAP SEPERTI ITU, BODOH!"

"Eh... kak..."

"Memangnya kau masih berumur lima tahun? Lihat umurmu! TIGA BELAS! Angka itu sudah bisa disebut angka yang dewasa! Kau bukan anak-anak lagi! Mengerti? Diamlah dan kembali ke sana, bodoh!"

Ah. Tidak ada orang lain selain aku dan dia di sini. Kukira masih banyak orang dan mereka akan memerhatikanku.

"Heh."

Apa itu? Suara 'heh' yang sombong? Dasar anak kecil, apa maunya? Mengancamku?

Sebuah seringai kecil muncul di wajahnya. Apa maunya? Meninjuku karena aku tidak mau melakukan perintahnya? Lakukan saja sana! Aku juga tidak peduli.

 

"Kau ingin mati, iya kan...?"

"Apa maksudmu...?!"

"Bilang saja. Tenanglah, aku akan membantumu mati. Bagaimana?"

"Heh, karena aku tidak mau melakukan perintahmu kau mau membunuhku? Yang benar saja."

"Tentu saja bukan itu."

 

Apa...?!

 

"Kalau kau masih ada di dunia ini... seluruh rencanaku akan kacau. Walau dunia juga tidak mau memerhatikanmu. Tapi tetap saja... dan kalau kau tidak mau menghancurkan rencanaku... aku akan memberimu hadiah kematian yang kau impikan itu, bagaimana? Bukankah adil?"

Dia sudah gila. Dia. Benar. Benar. Sudah. Gila.

"KAU GILA! KAU SUDAH GILA! HADIAH APANYA?! DA---"

Kami berdua berdiri di atas jembatan kayu yang dibangun tepat di atas sungai.

Dia mendorongku kuat kebelakang. Di belakangku, ada sebuah sungai yang cukup dalam---menurut berita kira-kira dua puluh meter kedalamannya. 

Kepalaku menghantam keras permukaan air yang jernih itu.

 

Jauh di sana, aku melihat dia tersenyum.

 

Aku tidak bisa berenang. Tekanannya terlalu keras.

Aku merasakan ada darah segar mengalir dari telingaku. Ah, tidak. Dia benar-benar serius rupanya.

 

....selamat tinggal... kakak...

 

Rupanya... aku benar-benar akan mati...

Toh, masih ada orang yang tersenyum saat aku mati---dia tersenyum.

Aku benar-benar tidak ada, ahaha.

Sudahlah. Aku sudah akan mati...

 

dan mungkin tidak akan pernah dipedulikan lagi.

 

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

 

....bangun.... bangunlah....

 

Suara siapa itu...?

 

Begitu lembut... aku tidak pernah mendengar suara selembut itu...

 

....kau.... sudah mati...

 

....benar....benar...sudah...mati.

 

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

 

 

 

 

gyaaaahhhhhhhh SANGAT SANGAT SANGAT ANEEHHH!!!

Read previous post:  
8
points
(863 words) posted by farewells49 4 years 37 weeks ago
40
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | fantasi | cerita | cerita bersambung | fantasi
Read next post:  
80

keren TwT

Writer khall
khall at Desire and Eyes | Masa Lalu II (4 years 36 weeks ago)

Wow

Writer chibifrozen
chibifrozen at Desire and Eyes | Masa Lalu II (4 years 37 weeks ago)
90

aq gak bisa komen soal teknis cerpen.
tapi emosinya dapet.
terus nulis yaa...
salam. :)

I-ini Sad ending ya?

tokoh itu wanita atau cowok?

Writer farewells49
farewells49 at Desire and Eyes | Masa Lalu II (4 years 37 weeks ago)

sudah baca yg part ke 1? (Masa Lalu I maksudnya)
maaf, tokoh yg mana ya kehehe