Quête Pour Le Château de Phantasm - Season 2 - E01

Daisus atau tepatnya Xalvadur yang berjasad Daisus menatap wanita yang berada di dalam bola kaca besar. Mata manusianya sedikit perih, terlalu dalam berada di lautan. Dia mengingat, wanita itu pernah menjadi inangnya. Dalam peperangan tahunan yang lalu di Le Chateau de Phantasm, salah satu gadis peri yang berambut perak mengalahkan Magorath, sekaligus memisahkan mereka berdua. Dia dan Magorath tidak lagi satu.

Mengamati bola kaca, Xalvadur berusaha mencari cara untuk membuka segel dari kekuatan yang dia tidak pernah tahu sebelumnya. Puluhan abad dia berada di Erde, tidak satupun dia bertemu dengan kekuatan yang konon adalah hadiah dari Dewa.

Irene Magorath adalah sosok yang sempurna untuk dia jadikan pion. Tubuh Daisus mempunyai energi kegelapan yang sangat cocok untuknya, namun tidak cukup mengalahkan kekuatan dewa. Dia harus mengumpulkan lebih banyak, dan lebih banyak lagi untuk mengambil tahta Le Chateau de Phantasm.

Pasukan milik Daisus sudah dalam keadaan siaga, bersembunyi di daerah terpencil Hyraphter. Menunggu perintah dari Daisus, atau lebih tepatnya perintah dari dia, menyerang Le Chateau de Phantasm. Dia pernah menyerang bersama Magorath dan pasukan iblis, namun gagal.

Xalvadur, memang merasakan menjadi lebih digdaya dari sebelumnya. Freyja milik Alcyon telah menyatu dengan dirinya. Sesuatu yang belum pernah dia perkirakan pada mulanya. Kesaktian yang menjalar dalam nadi sihirnya, membukakan ilmu panas yang awalnya tidak bisa dia capai.

Freyja memberikan kekuatan padanya, untuk menyuntikkan cairan magis ke dalam tubuh makhluk bernyawa, karena itu dia membutuhkan cara untuk membuka segel untuk mengeluarkan Magorath. Waktunya tidak banyak, sebelum orang-orang itu berhasil menemukan Le Chateau de Phantasm. Ya, orang-orang yang akan mengacaukan rencananya. Magorath adalah piadah yang pertama kali muncul dalam pikirannya. Berdua, dia akan bisa meluluh-lantakkan Le Chateau de Phantasm.

Kemampuan Freyja juga memberikan kemampuan kepada Xalvadur sehingga dapat bertahan lama di dalam air. Dia memerintahkan untuk tubuh Daisus bergerak, memutari bola kaca besar itu. Bola itu dibalut oleh segel yang kuat. Semakin dia mengamati, semakin dia mengerti. Segel ini mempunyai akar sihir yang dia kenal, para begawan dari Shanri-La, tempat Shidatta bermukim. Namun, dia mengetahui pula sihir itu bersatu dengan sihir lain. Sihir dewa yang melumpuhkan dia dan Magorath dulu.

Pertama, Xalvadur menyerang dengan seluruh kekuatan raga. Menebas pelindung sihir yang menyelimuti bola. Berbagai serangan tidak membuahkan hasil. Dia menambahkan tenaga sihir, juga tidak ada pengaruh. Hanya sedikit getaran yang merambat ke arah bola, sisanya memantul kembali. Bermacam cara dia gunakan, hasilnya masih sama. Tabir sihir bergeming, membatu seperti karang.

Tubuh Daisus sedikit bereaksi, Xalvadur meyakini itu isyarat bahwa inangnya harus mendapatkan udara. Dengan cepat, dia meluncur mendekati permukaan laut. Dia tidak ingin menghabiskan banyak waktu untuk menghirup udara bagi Daisus. Menjadikan Magorath sebagai budak adalah prioritas utama. Sesampainya di permukaan laut, dia segera mengapungkan diri, seakan sedang berbaring di hamparan pasir.

Entah sudah berapa milenia sejak dia terakhir menjadi seorang manusia, dan berapa abad dia mencoba untuk berada di tahta tertinggi Erde. Sekarang Erde tidak lagi seperti yang dia kenal, kerajaan hasil jajahan dia tidak tersisa. Tidak ada yang menunduk hormat saat dia berjalan, atau berwajah pucat pasi saat dia menghukum siapa saja yang menghalangi jalannya.

Dia kembali terbuang saat Magorath berhasil dilumpuhkan. Penyerangan ke Le Chateau de Phantasm adalah kegagalan terbesar yang pernah dia dapatkan. Kesalahannya tidak memperhitungkan Alicia akan menggunakan kekuatan Ahura. Xalvadur sudah membayar kekalahannya, tidak akan ada kegagalan berikutnya.

Beruntung, seorang Daisus menjawab panggilannya. Xalvadur dengan mudah bersatu dengan Daisus yang mempunyai sumber sihir dari kegelapan. Pria itu sama dengan Magorath, dulunya adalah penghuni Le Chateau de Phantasm. Memikirkan Daisus, membuat kesadaran Daisus terjaga.

Xalvadur membiarkan kenangan Daisus berjalan ke masa lalu, saat laki-laki itu masih menjadi penghuni Le Chateau de Phantasm. Perasaan saat Daisus sangat mencintai kerajaan itu. Emosi itulah yang memunculkan keinginan diri pria berambut perak itu untuk membagi kerajaan ini dengan Erde. Ya, semua makhluk Erde harus mengetahui tentang keagungan imperium ini. Semua yang bernyawa di Erde perlu menjumpai keindahan Le Chateau de Phantasm.

Tidak seharusnya negara itu takut terhadap dunia luar. Le Chateau de Phantasm semestinya kawatir jika Erde menemukan mereka. Sang Ratu yang seorang Titania, dan adiknya sang Penasihat adalah pewaris Ahura. Kekuatan mereka berdua bersama adalah tiada banding. Jika ada yang berani, seharusnya Le Chateau de Phantasm bisa dengan mudah mengalahkan kerajaan-kerajaan lain. Lebih baik lagi, negeri itu sepatutnya menaklukan kerajaan lain. Dengan begitu kemuliaan Le Chateau de Phantasm akan menyentuh setiap kehidupan yang ada di Erde.

Kekuatan besar yang dimiliki Anastasia dan Alicia tentu adalah untuk menguasai Erde. Negara-negara lainlah yang harusnya takut terhadap mereka, bukan mereka yang menyembunyikan diri. Le Chateau de Phantasm tidak semestinya merahasiakan diri. Kerajaan lainlah yang sewajarnya cemas dengan mereka. Kekuasaan dua bersaudari itu tidak akan bisa dikalahkan.

Percikan air laut membuat lamunan terhenti, Xalvadur kembali menidurkan kesadaran Daisus. Kini, dia memusatkan pikiran untuk membuat rencana-rencana. Berbagai perkiraan, bermacam perhitungan, mengalir laksana arus air di sungai. Pikirannya berhasil mendapatkan satu asumsi, segel itu tentu akan bereaksi dengan pemilik segel, yaitu kakak beradik peri, serta Shidatta. Tidak mungkin dia bisa mendapatkan salah satu dari kedua peri pemilik Le Chateau de Phantasm. Satu jalan adalah, mengelabui si petapa suci.

Pikirannya kembali menelaah tiap rencana yang dia bisa gunakan agar Shidatta membuka segel Magorath. Dalam kalutnya, ombak yang sesekali membasahi mata tubuh pedang dan inangnya membantunya mendapatkan gagasan. Air yang membiaskan pandangannya terhadap matahari, merangsang otaknya untuk membuat sebuah rancangan.

Tabir pembelok cahaya dia gunakan untuk mengubah penglihatan orang terhadap Magorath yang berada di dalam bola kaca. Sidatta tentu akan beraksi jika yang berada di dalam adalah salah satu dari kakak beradik peri. Beruntung dia sangat ingat dengan detil raga kedua makhluk itu.

+++

Vincent memelankan langkahnya, membiarkan wendy dan remaja-remaja otek -si korek api, banci satu yang membawa peri titania, banci dua dengan rambut kuncir, si pembunuh dalam bayangan, dan kakak beradik ksatria yang menyebalkan- berjalan di depannya. Ada sesuatu yang mengusik pikirannya sejak kedatangan Armada Empire.

Dia tidak habis pikir, kenapa bocah-bocah ini tidak ditangkap atau tewas dibunuh. Bahkan si banci dengan buku besar itu luka oleh Alcyon. Dia belum menyadari ini sebelumnya, serangan Armada dan kemunculan api hidup dari si pentol korek menganggu jalan pikirnya. Dan yang utama adalah, dia kehilangan Wendy beberapa waktu lalu, sehingga menyita ingatannya.

Vincent sedikit mengumpat kepada diri sendiri, rabun jauhnya juga menjadi kendala. Dia teringat adalah wanita dengan pedang besar dan temannya itu sempat berbicara kepada pasukan Empire. Untuk meyakinkan itu, dia menjauhkan diri. Mencoba menyamakan sosok yang dia lihat saat bersembunyi dengan kedua wanita itu.

Dengan jarak yang cukup jauh, Vincent meskipun samar bisa memastikan bahwa kedua sosok itu ada hubungannya dengan Empire. Segera dia mengeluarkan sabit hitam dari Ira nya. Dentingan logam sabit miliknya membuat kawanan anak kecil itu menoleh. Sesuai yang dia duga, ekspresi si gadis berambut hitam menunjukkan bahwa mereka tertangkap basah oleh dirinya.

Tanpa memedulikan yang lain, dia menyerang dua ksatria wanita itu. Melesat sambil menebaskan sabit ke arah gadis berambut hitam, yang langsung disambut dengan pedang besar. Dia tersenyum, gadis itu lumayan kuat. Mampu mengayunkan pedang besar itu dengan mudah, dan menahan serangan sabitnya.

Vincent memutar tubuh, menambah kekuatan tebasan sabit dengan gerakan tubuhnya. Kembali, si gadis dengan luka di sekitar mata kanan menahan serangannya. Tidak memberikan kesempatan, dia melanjutkan serangan.

Suara mendesir terdengar. Sebuah anak panah melesat dari arah kawanan yuwana. Vincent menghindar, sambil melirik siapa penyerangnya. Cih, si gadis genit berambut pirang yang melesatkan panah, sesuai dengan dugaannya. Dia juga sempat melihat, bocah api dan teman-temannya masih terdiam. Sembari mengatur rencana, Vincent mundur beberapa langkah. Menjaga  jarak dari pedang besar, dan mencari titik aman dari serangan panah si pirang.

“Hei, apa yang kamu lakukan?!” teriak pentol korek.

Bajingan! Belum sempat Vincent menjawab, ayunan pedang besar melesat dengan cepat bersamaan dengan dua anak panah yang melesat beruntun. Dia menangkis dengan memutarkan sabit hitam. Mematahkan kedua anak panah, dan kemudian menahan serangan gadis berambut pendek dengan gagang sabitnya.

Kembali dua anak panah berturut-turut muncul, yang serentak dengan serangan pedang besar dari gadis Empire yang berbadan tinggi. Kerjasama kedua orang itu cukup menyibukkan Vincent. Belum lagi akalnya masih memikirkan cara untuk memberitahu kepada wendy dan anak buahnya.

Suara denting logam beradu bergaung keras dan cepat di lorong kastil es. Vincent bisa saja mengalahkan si gadis berpedang besar dengan cepat jika si pendek itu tidak menganggu setiap gerakan menyerangnya. Pendek kata, dia hanya bisa menyerang dalam keadaan terbatas dan bahkan hanya bisa bertahan.

Ayunan sabit hitamnya berbenturan keras dengan sabetan pedang besar berkali-kali, sementara kecepatannya dia gunakan untuk menghindar dari serangan anak panah. Sihir api beradu dengan sihir cahaya. Jika saja dia mempunyai waktu sedikit lebih banyak, Vincent akan memanggil para mayat yang dia yakini banyak tertimbun di dasar lantai kastil ini.

Keberuntungan ternyata tidak berpihak kepada dirinya. Setan! Kenapa si bocah api malah menyerang dirinya. Si kuncir juga sepertinya akan melakukan hal yang sama. Sementara yang lain diliriknya tidak ambil bagian dalam pengeroyokan ini.

Pasti mereka sudah di cuci otaknya oleh dua begundal ini pikir Vincent. Brengsek!

Mau tidak mau, Vincent harus mengakhiri ini dengan cepat. Sebelum bocah api dan kawanannya melakukan sesuatu hal yang bodoh. Ira dia siagakan dalam mode overdrive, mereka harus dilumpuhkan sebelum dia yang berakhir. Ya, semua harus dilumpuhkan.

+++

Eik merasa senang, sekarang tidak hanya dirinya saja yang bisa mendengar dan berbicara kepada Wendy. Awalnya dia sempat mengira dia gila, atau setidaknya karena omongan Edgar yang membuatnya berpikir kalau dia tidak waras. Yah, apapun itu sudah berlalu. Pengembaraan untuk menuju kerajaan yang dia cari selama ini akan berjalan lebih aman dari sebelumnya. Tidak ada lagi manusia kekar berkuping runcing yang mengejar-ngejar Wendy.

Mereka sepakat untuk meninggalkan kastil es, tapi saat mereka berjalan menuju pintu keluar dari kastil paman penyihir mengagetkannya. Eik tidak mengerti, kenapa paman menakutkan itu menyerang Edea dan May. Beberapa waktu yang lalu, tidak ada sedikitpun permasalahan di antara mereka semua, selain si paman yang mengira Edgar salah dalam membuat sihir untuk Wendy.

“Hei, apa yang kamu lakukan?!” teriaknya di sela pertempuran.

Tidak ada jawaban dari mereka bertiga. Eik berang, dia berteriak lagi namun sepertinya tiga orang itu tidak mendengar suaranya. Yang dia dapatkan hanyalah suara pertarungan dan dengkungan dari senjata mereka.

Dalam satu kesempatan, Eik menyeruak. Masuk ke dalam pertarungan dua lawan satu. Menyerang si paman yang menurutnya mempunyai masalah kejiwaan, dan berharap Edea dan May akan bisa menjelaskan jika si tua berambut perak ini bisa dia kalahkan lebih dulu.

Sabit hitam melesat ke arahnya, Eik menunduk. Edea sudah berdiri di sampingnya, dan menyerang si paman dengan pedang besar. Saat orang tua itu menangkis, dia menyerang dengan memberikan sebuah bogem yang berselimutkan api.

Eik melihat si paman mundur menjauh sambil menyiagakan terhadap serangan panah May. Dia melihat orang tua itu melakukan sesuatu terhadap sarung tangan sebelah kiri. Sebelum dia hendak meluncur menyerang, sebuah tangan menarik bahunya.

Dia menoleh, mendapati Sion memeganginya sambil mengeleng-gelengkan kepala. Eik mengerti maksud Sion, segera dia melangkah mundur. Benar saja, tidak berapa lama kemudian. Paman ubanan itu menyerang dengan sangat cepat. Edea adalah sasaran utamanya. Dengan pedang besar, Edea menangkis namun tak ayal tubuhnya terhempas beberapa langkah ke belakang.

Eik menatap raut wajah si pria rambut perak. Mata yang berkilau cahaya keperakan dengan paras dingin laksana mayat. Dia belum pernah bertarung dengan keadaan si paman seperti ini sebelumnya.

Deg!

Jantung Eik berdegup sangat kencang satu kali.

Deg!Deg!

Berdegup kencang dua kali dengan jarak yang pendek. Kemudian Eik merasakan hawa yang aneh menjalar di sekujur tubuh. Keringat dingin. Panah. Mual. Susah menghirup udara. Semua bergumul menjadi satu. Matanya menjadi semakin panas. Memerahkan pandangan mata. Telinga yang berdenging cukup kencang. Sampai akhirnya sebuah pukulan keras membuat dirinya pingsan.

+++

"Hei, pemuda. Apa yang kamu lakukan berdiri di sana?" Aphrodite menyapa seorang pemuda yang sedari tadi berdiri di depan kuil. Menatap dengan pandangan yang begitu lekat ke dalam.

Lorike Mortes, atau Eik Moonfang begitu dia berganti nama setelah meninggalkan panti asuhannya. Aphrodite banyak mengetahui hal ini, bahkan sebelum teman lamanya meminta untuk melakukan ini.

"Aku sedang mencari temanku, eh saudari, eh maksudku aku mencari seorang yang pernah berada di panti asuhan denganku," jawab Eik sambil memberi hormat ketika dia mendekat. Aphrodite melihat Eik sedang menatap pakaian yang sedang dia kenakan. Beruntung dia sudah berganti wujud menjadi seorang manusia biasa, akan kacau jika Shamash terbangun dari tidurnya jika bertemu dengan sesama para makhluk agung.

"Oh, apakah dia bekerja di kuil ini? Atau sedang melakukan pemujaan di dalam?" ucap Aphrodite sambil berusaha bertutur seperti manusia pada umumnya.

"Tidak, maksudku saudariku itu sudah tidak di kota ini lagi," jawab Eik terbata.

"Oh begitu, terus kenapa kamu hanya berdiam diri di depan kuil ini?" tanya Aphrodite sembari memberikan senyuman. Sekarang dia melihat sepasang bola mata Eik berkaca-kaca, layaknya seseorang yang merasa rindu teramat sangat.

"Maaf kalau aku tidak sopan berdiri di sini, aku hanya..." belum sempat Eik menyelesaikan kalimatnya, perutnya berbunyi keras dengan wajah yang kemudian berubah menjadi merah.

Aphordite tertawa kecil, mengulurkan tangannya mengajak Eik untuk masuk ke dalam kuil sebelum pemuda itu sempat mencerna apa yang sedang terjadi. Memberikan bantuan kepada teman lama tentu bukan sesuatu yang melanggar kodrat sebagai seorang dewi bukan, pikir Aphrodite.

"Jadi kamu ingin mencari orang yang bisa membuatmu lebih kuat?" Aphrodite menyela, meski sebenarnya dia lebih banyak mengetahui tentang permasalahan yang dihadapi Eik daripada pemuda berambut merah itu sendiri.

"Hhihha, hhahhu hhiihhiiin hhehmm..." Eik berbicara dengan mulut penuh.

Kali ini Aphrodite tidak bisa menahan tawanya. Menjadi seorang manusia, kembali mengingatkan dirinya tentang bagaimana hal-hal kecil bisa membuat senang dan bahagia.

"Iya, aku ingin menjadi lebih kuat. Untuk membalaskan dendam orang tuaku, dan juga untuk mencari temanku yang entah di mana dia sekarang," Aphrodite merasakan perubahan tatapan mata Eik.

"Saudarimu itu?" tanya Aphrodite sembari menuangkan anggur ke dalam cawan Eik yang sudah kosong.

"Bukan tapi satu orang lagi," kata Eik. Aphordite berhenti sejenak, menatap si pemuda yang terdiam menunduk. Seakan ada beban berat yang harus dia pikul. Beban yang tidak bisa begitu saja dia ucapkan dalam barisan kata-kata.

"Baiklah, kalau kamu menginginkan kekuatan. Ada sebuah cerita di hyraphter, tentang sebuah kastil yang tidak terlihat mata. Istana yang hanya bisa ditemukan oleh orang-orang tertentu, Le Château de Phantasm begitu kerajaan itu dijuluki," ucap Aphrodite sambil memegang dagu Eik, dan mengangkat wajah pemuda itu agar pandangan mereka beradu.

“Pergilah ke sana, pastikan kamu menemukan yang kamu cari,” Aphrodite mengambil beberapa potong roti dan memasukkannya ke dalam sebuah kantong coklat. Begitu juga dengan kantong yang biasa untuk menyimpan air, dia isikan dengan anggur yang masih tersisa di dalam kendi.

“Bawalah bekal ini. Semoga Mahadewa menjagamu,” ucap Aphrodite seraya menyerahkan kedua kantong kepada Eik.

+++

“Jadi itu orang yang kamu pilih?” tanya Aphrodite, menghampiri sosok yang melayang di atas kuilnya.

Makkius mengangguk, menatap ke arah Eik yang baru saja meninggalkan kuil Aphrodite. Dia menoleh ke arah Aphrodite yang sudah berganti wujud aslinya, seorang Dewi, yang melayang di sampingnya.

Aphrodite tertawa kecil.

“Sekarang apa yang akan kamu lakukan? Dengan bentuk tubuh seperti itu, apa yang bisa kamu lakukan?” Aphrodite mengingatkan sang Jenderal kepada kematiannya.

Makkius hanya tertawa bodoh. Dia tidak mengerti apa yang harus dilakukan. Dalam pikirannya masih berkumandang bagaimana cara menjaga sang Ratu. Beruntung dia ditemukan Aphrodite setelah terhempas ke dimensi lain.

Satu hal yang Makkius sesali adalah dia menjadi salah satu penyebab kekalahan  Le Château de Phantasm. Karena dia tidak kuasa hati menyerang Magorath yang dulunya adalah seseorang yang berarti buat dirinya. Dia sampai sekarang masih berharap agar Magorath bisa disadarkan.

“Hei bodoh, jangan selalu berdiam diri,” sentak Aphrodite.

Makkius menoleh.

“Yah, paling tidak aku sudah menemukan orang yang akan menggantikanku untuk menjaga Anastasia,”

“Kamu yakin? Dia bisa saja menemukan Shamash sebelum mencapai Le Château de Phantasm. Eik tidak harus menemukan kerajaan untuk membuka segel Shamash,” Aphrodite mengernyitkan dahi.

“Aku percaya, dia tidak akan bisa menemukan Shamash sebelum menemukan Le Château de Phantasm. Orang polos seperti dia akan mudah diberikan sugesti., kecuali-“

Aphrodite menunggu.

“…kecuali kalau ada hal lain yang membuat Shamash terbangun dengan sendirinya.”

Mereka berdua terdiam beberapa saat, memperhatikan Eik yang menuju pelabuhan.

“Apa kamu akan baik-baik saja dengan keadaan ini? Maksudku, kamu tidak hidup tidak juga mati.”

“Sekarang aku hanya bisa menunggu, sampai Anastasia bisa mengembalikan Le Château de Phantasm. Saat itu, aku akan bisa berkunjung ke sana meski dengan wujud hantu ini.”

Makkius dengan lekat menatap Eik, masa depan Le Château de Phantasm ada di pundak orang itu.

“Maaf, aku memberikan beban yang berat kepadamu wahai pengembara,” lirih Makkius.

Aphrodite tersenyum.

“Dia pasti akan baik-baik saja. Aku melihat akan banyak sahabat yang akan menemaninya. Ya, dia pasti akan baik-baik saja. Karena dia adalah pilihanmu, teman lama. Pilihanmu pasti yang terbaik buat kerajaan.”

+++

Vincent bersandar pada dinding. Salah satu tangannya memegang erat dada sebelah kiri. Jantungnya terasa sakit. Overdrive kali ini entah mengapa membuat dia sangat kelelahan. Namun yang membuat dia merasa lemas, tidak hanya dua ksatria Empire yang dia tumbangkan. Si bocah api dan kawanannya juga dia lumpuhkan. Sekarang, kepanikan mendera begitu dia menyadari tidak menemukan lagi Wendy.

Vincent berusaha berjalan, mencari keberadaan Wendy. Di sekitar bocah kutu buku, si kuncir, dan yang lain. Tidak ada. Wendy menghilang. Kacau! Dia merasa dia telah menghabisi Wendy.

Menyalahkan dirinya sendiri, Vincent memacu tubuhnya untuk bergerak menjauh. Dia tidak bisa bersama mereka lagi. Dia harus menemukan Titania di kerajaan Le Château de Phantasm. Sendirian dia akan bisa dengan cepat menjumpai Titania. Segera saja dia melangkah meninggalkan kawanan anak-anak ini sebelum mereka terbangun.

+++

Senri sebenarnya tidak suka seperti ini, menyembunyikan diri saat Eik berada dalam bahaya. Entah kenapa dia menurut saja ketika Edgar memerintahkan dia untuk membawa si peri kecil ke tempat yang aman.

Tidak banyak celah yang bisa dia jadikan tempat persembunyian, kecuali di tiang-tiang utama ruang megah kastil ini. Pertemuan antara tiang dan langit-langit adalah posisi yang sesuai untuk bersembunyi.  Dia tahu bahwa dia tidak mungkin bisa mengalahkan seorang Warlock.

Pendar cahaya si peri secara berkala berpindah dari terang ke gelap kembali ke terang. Tidak ada suara yang terdengar dari Wendy, sejak gelombang kejut dari pertempuran sihir Edea dan Vincent. Edgar berusaha melindungi Wendy, tapi tetap saja peri kecil itu terhempas jauh. Sebelum serangan Vincent membabi buta, Edgar meminta untuk membawa Wendy.

Paling tidak, peri kecil cerewet ini tidak akan membuat persembunyian mereka terbongkar. Senri memosisikan diri agar bisa bersandar, dan mengamati seluruh ruangan dengan leluasa tanpa perlu banyak bergerak.

Beberapa waktu berlalu dalam kesunyian, sampai derap langkah berat dan cepat terdengar. Senri mengetahui sosok itu, Vincent, sedang berjalan tergesa menuju pintu utama kasil Regia. Dirinya berpikir, apa yang telah terjadi terhadap Eik dan yang lain.

Segera setelah Vincent menghilang dari pandangan, Senri melesat turun dengan keheningan. Eik tidak boleh mati.

+++

Sion terbangun dari pingsannya. Sesaat setelah Eik dihajar oleh Vincent, giliran dia yang dipukul dengan telak. Dilihatnya yang lain masih terkapar, May yang berada dalam jarak yang jauh dari yang lain. Namun dia tidak menemukan Senri dan Wendy.

Dia berusaha membangunkan Eik, yang terdekat. Pemuda berambut merah itu mengerang. Sion tidak bisa menerka apakah wajah Eik adalah wajah orang yang pingsan atau sedang tertidur pulas.

Belum habis Sion mencerna, sesuatu membuat bulu kuduknya merinding. Dia mengalihkan pandangan. Menoleh ke arah belakang, ke arah tempat jatuhnya May. Sesosok makhluk mengerikan berdiri di sana.

Makhluk itu menggeram seperti anjing. Tidak, lebih mirip dengan beruang. Sion yakin sekali. Dia segera mengambil pedang. Seorang Sion menyadari, tonfa tidak akan berguna melawan makhluk itu.

Dilihatnya makhluk itu berjalan dengan cepat, cara berjalan yang mirip dengan seekor primata, berjalan dengan tangan dan kaki. Makhluk itu mendekat ke arah May yang masih belum sadarkan diri. Mengendus layaknya seekor predator yang sedang mencari daging segar untuk dimakan. Dan Sion yakin sekali, makhluk itu menjilat pipi gadis berambut pirang itu dengan lidahnya yang seperti ular.

Sion mendapati makhluk itu menatap dirinya, dan mengeluarkan seperti suara hyena terkekeh bercampur dengan desisan ular. Dia bertatapan, wajah makhluk itu berwarna hijau dengan sepasang mata bulat dan besar. Tidak terlihat jelas hidung, mulut si makhluk mirip dengan ujung kendi.

Menyadari keberadaan dirinya, makhluk itu seakan berdiri. Tubuhnya ceking, mungkin lebih kecil dari Senri, terbalut dengan rompi coklat yang compang-camping. Tangan dengan jari-jari kurus dan panjang. Bukan. Bukan jari, melainkan logam-logam kecil dan tajam.

Suara mengerang terdengar, Edea sudah sadarkan diri. Berikutnya Eik, dan entah siapa. Sion tidak begitu ambil pusing. May dalam bahaya, dan mereka harus bergerak cepat.

“A-apa itu?” ini suara Eik yang berada di dekatnya.

Sion melirik ke arah Edea yang berjalan ke dekatnya dan menyiagakan pedang besarnya.

“Deter,” gumam Edea.

“Deter?” tanya Sion. Dia melanjutkan, “Makhluk menjijikan itu juga mempunyai nama?”

“Aku pikir Deter hanya dongeng belaka,” Sion mengenali suara Edgar. Pemuda cerdas itu ikut bergabung mendekat.

Eik maju melangkah di depannya. Sion sudah hapal dengan pemuda satu ini. Pemuda itu pasti ingin langsung menyerang. Apalagi tadi dikalahkan oleh Vincent sebelum sempat bertarung.

Benar saja, Eik langsung maju menyerang. Tangannya terlambat untuk menghentikan kawannya itu. Sion hanya berharap agar Eik tidak tewas. Ada perasaan aneh yang kali ini dia rasakan saat berhadapaan dengan Deter. Dia melesat mengikuti kecepatan Eik. Katana sudah dia lepaskan dari sarung.

Di depan, Eik sudah menyerang dengan kepalan api. Deter menghindar. Eik berusaha menyapu kedua kaki Deter, sementara Sion melesat mengincar leher Deter.

Sapuan Eik tidak membuahkan hasil, beruntung dirinya berhasil menorehkan luka dalam di leher bagian kanan Deter. Sion menjungkir-balikkan tubuh. Dia mendengar Deter mengerang. Satu lirikan mata, dia mengisyaratkan agar Eik memukul bagian ulu hati Deter.

Sion melihat Eik menyiapkan sihir api di kedua kepalan tangan, dan segera memukul telak di bagian ulu hati Deter. Makhluk itu terpental belasan kaki ke arahnya. Dia tidak menunggu lama untuk menyerang dengan tebasan cepat berkali-kali sembari berlari menuju May. Wanita itu belum juga sadar.

May berhasil dia tangkap. Sion menyeretnya menuju Edea dan Edgar yang bersiaga dari kejauhan. Si gadis berambut hitam langsung menyambut tubuh sahabatnya  dengan cekatan. Dia serahkan May kepada Edea dan Edgar. Dia pun kembali mendekati Eik yang masih menunggu Deter bangkit kembali.

Deter meraung, terdengar sangat marah. Dentingan logam-logam yang menjadi jari-jari kaki dan tangannya saling beradu. Beberapa luka yang dia goreskan di tubuh Deter, perlahan menutup kembali sesaat setelah cairan hijau pekat membasahi bagian tubuh yang terkoyak.

“Eik, bakar dia dengan apimu,” ucap Sion pelan. Dia kemudian melesat, segera setelah Eik mengangguk dan menyiapkan diri.

+++

Edea geram, makhluk bernama Deter itu tidak juga bisa dibunuh. Tebasan pedang dari Sion tidak mampu melumpuhkannya. Api si titisan Shamash juga hanya bisa membakar kulit luar. Jika saja pedang besarnya mampu mengenai Deter, tentu tubuh makhluk itu tidak akan bisa memulihkan diri. Sayangnya, Deter bergerak jauh lebih cepat dari tebasannya.

Edgar dilihatnya hanya bisa berlindung di dekat May, Edea mengerti bahwa Summoning Scholar itu sedang terkena hukuman akibat buku besar yang rusak. Sion dan Eik masih menyerang, terutama Eik. Edea tidak tahu darimana si buluk itu bisa selalu bersemangat.

Kekuatan cahaya memang membuat dirinya bisa memulihkan diri, tapi Edea masih belum dalam kondisi yang bugar. Setelah bertarung dengan Alcyon, dan baru saja bertarung dengan Vincent, dia tidak bisa menggunakan sihirnya secara maksimal. Akan tetapi, Deter bukan lawan yang mudah.

Deter memang tidak sekuat Alcyon, tapi cukup merepotkan. Kulit tebal makhluk itu adalah perisai alami, belum lagi cairan hijau pekat yang membuat luka Deter cepat menutup. Jika saja Edea tadi tidak kehabisan banyak tenaga sihir saat bertarung dengan Vincent, tentu dia akan bisa mengimbangi Deter. Kemudian dengan bantuan Eik dan Sion, mereka bisa mengalahkannya dengan mudah. Mungkin. Entahlah. Perasaan aneh yang dia rasakan sejak sebelum Vincent menyerang masih saja merayap di tengkuknya.

+++

Circe Magissa Apzaveti Carodejnice Jedza Set. Tulisan itu ditatah di figura bagian bawah lukisan seorang wanita dengan rambut hitam lurus panjang hampir selutut. Manusia yang cantik itu terlihat elegan dengan pakaian tenun berwarna hitam dengan jalur-jalur berwarna emas, senada dengan bola matanya. Tangan kanannya memegang tongkat panjang dari kayu eboni, di bagian atas sebuah rubi bertahta, di selimuti dengan ukiran-ukiran kuno yang sudah ada sebelum Set menjadi sebuah kerajaan.

Meski pandangan wanita itu memandang ke arah lukisan dirinya sendiri, pikiran Circe sedang berjalan memutar waktu. Seorang pria sedang berdiri dengan kepala membungkuk dalam. Pakaian laki-laki itu jauh dari kesan seorang yang berada. Hanya ada mereka di ruangan itu.

Sang Ratu Set mencerna setiap keterangan yang muncul dari mata-matanya. Semenjak Sion von Ære, prajurit tangguh yang telah berkhianat, berhasil melarikan diri entah bagaimana caranya, dia tidak pernah meremehkan sedikitpun tentang petunjuk pemuda itu.

Sion melarikan diri dari penjara. Sion kehilangan salah satu matanya. Sion kembali berbaur dengan kumpulan orang-orang yang sebelumnya tidak saling mengenal. Sion menuju kastil es. Sebelumnya, Circe hanya mempedulikan kabar tentang si pemuda kuncir. Namun sejak Alcyon telah tewas terbunuh oleh Daisus, dia kembali menyusun rencana untuk menguasai Le Chateau de Phantasm.

Alcyon yang sekiranya akan menjadi pembuka jalan menuju Le Chateau de Phantasm, tidak bisa lagi dia masukan ke dalam rencana besarnya. Daisus tidak mungkin bisa begitu saja menurut terhadap bisikan sihirnya, pedang besar dengan mata ular yang digunakan lelaki itu memperkuat kekuatan gelap yang selama ini menjadi energi utama Daisus. Lagipula, laki-laki itu tidak bisa dia percaya sepenuhnya.

Empat tahun yang lalu, Set memutuskan untuk berdamai dengan hyraphter yang di luar jajahannya. Kemunculan Sion di Hyraphter tentu menjadi sebuah pertanda, sebuah faktor perubahan yang dia yakini menjadi kekuatan bagi kerajaannya. Kesempatan ini tidak akan dia sia-siakan, puluhan jasus dia sebarkan untuk mendapatkan cerita tentang para pencari Le Château de Phantasm.

“Kau boleh pergi!” perintah Circe kepada sang pengintai.

Hanya ada satu suara gerakan kecil yang bisa Circe dengar, tapi dia mengetahui bahwa si mata-mata tidak lagi berada di sekitarnya. Puluhan jasus memang dilatih sedemikian rupa, karena itulah dia bisa dengan leluasa memerintah mereka untuk mengamati kerajaan lain.

“Wendy, peri kecil yang menjadi incaran Alcyon dan Vincent Gunnhildr. Tentu ada hubungannya dengan keberadaan Le Chateau de Phantasm,” gumam Circe sambil berjalan menuju jendela kaca yang sengaja dia buka agar mata-matanya bisa memasuki ruangan pribadinya ini.

“Titania adalah sang peri kecil. Sang penasihat menghilang. Jenderal Makkius terbunuh,” Circe bersungut. Dia lanjut mengemu, “Kerajaan itu pasti sedang dalam keadaan terlemahnya saat ini.”

Dua hal utama yang dia rencanakan dengan matang. Menyerang segala penjuru hyraphter dengan seluruh kekuatan Set dan sekutunya untuk menemukan lokasi Le Chateau de Phantasm. Tidak aada lagi kerajaan di Hyraphter yang bisa menandingi kekuatan kerajaan Set setelah Le Chateau de Phantasm dalam kondisi tidak berdaya.

Yang kedua, mengejar si peri kecil dan memaksanya untuk menguak semua rahasia dari Le Chateau de Phantasm. Kekuatan besar kerajaan dan si Titania tentu tidak begitu saja bisa dia dapatkan dengan mudah. Namun jika Wendy harus tewas dalam pengejaran pasukannya, dia tidak akan kecewa selama Le Chateau de Phantasm sudah berhasil dia duduki. Namun kedua rencana itu akan dia lakukan secara bersamaan, dan secepatnya sebelum Daisus mendahuluinya.

Setelah menghilangnya Magorath dan tewasnya Alcyon, tinggal Daisus yang menjadi lawan baginya untuk mendapatkan Le Chateau de Phantasm. Jika Daisus mendapatkan tahta kerajaan itu lebih dahulu, maka ambisinya untuk menyatukan Erde dalam satu pimpinan akan lenyap.

Circe mengetahui kekuatan besar yang dimiliki oleh Le Chateau de Phantasm, dan juga dua bersaudari peri yang menurut kabar adalah titisan kuasa Ahura Mazda, sang Mahadewa. Kekuatan itu akan mampu membuat kerajaan lain bertekuk lutut dan patuh. Erde akan berada dalam satu pimpinan. Erde akan tunduk dalam satu perintah. Kedamaian akan tercipta, meski harus melenyapkan ratusan bahkan ribuan nyawa, puluhan kerajaan. Pengorbanan diperlukan untuk mendapatkan itu. Pertumpahan darahpun akibat perebutan kekuasaan pun akan berkurang. Demi semua itu, Le Chateau de Phantasm harus mengorbankan diri dengan menjadi kerajaannya, menjadi bagian dari dirinya. Yang terpenting, mereka tidak akan merendahkan lagi dirinya sebagai pemimpin wanita.

Le Chateau de Phantasm harus aku dapatkan,” Circe tertawa penuh kemenangan.

###

Read previous post:  
17
points
(520 words) posted by too much idea 5 years 41 weeks ago
56.6667
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | fantasi | LCDP series | QPLCDP
Read next post:  
100

buat om cy:
memang banyak hal yang terpaksa saya skip, perkiraan saya tentang deadline jadi meleset karena ada tugas dadakan. akhirnya terpaksa bagian edea dan deter, dilanjutin di bagian riesling atau om zoel
bagian magorath karena belum ada char sheet yg jelas,
bagian circe, ratu ma yg punya circe mau nya begitu aja..ada bagian ketawa setannya..
yang bagian fight, kalo ada luang..saya kembangkan lagi..

100

sundul

Bagian circe, aq gk nemu alasqn dy tertawa gt, beda dgn yg kutau klo circe tu lbh pendiam

Bag makkie, kenapa waktu shamsh keluar gk dijelaskan lebih detil? Padahal kan poin utamanya dsitu?
Bag edea n may katanya mau mati salah satu, kq gk terjadi?
Waktu ngadapin deter, monster tu gk jd mati? Byk adegan battle bagus yg diskip

Apa itu istilahnya, pacing ceritanya cepat, padahal bag fight plg enak dipanjangin, tp itu jg terserah penulis

100

Ok, kuulang lg komenku, utk bag xal dan daisius udh ok.
Cuman yg gak sreg kenapa magorqth diblg dluny penghuni lcdp jg, dy kan gk ad urusan dgn tu kastil. Dy naik ke dunia ini krn dipanggil scholarasa utk bag xal dan daisius udh ok.
Cuman yg gak sreg kenapa magorqth diblg dluny penghuni lcdp jg, dy kan gk ad urusan dgn tu kastil. Dy naik ke dunia ini krn dipanggil scholar.