Pelosok Papua....

Pesawat mendarat dengan sedikit mulus. Reina memandang keluar dari balik kaca jendela pesawat yang ia tumpangi. Hanya beberapa deretan rumah yang tampak di kejauhan. Roda pesawat berhemti bergerak, dan pesawat pun sudah terparkir manis di lapangan udara. Reina kembali memandang keluar jendela. Kali ini ia mendapatkan pemandangan yang berbeda, beberapa pria dengan pakaian rapi dan sebuah mobil double kabin berwarna merah sudah terpakir di jalanan. Pintu kabin pesawat berpenumpang semibilan orang itu terbuka perlahan. Satu persatu penumpang mulai turun. Gelak tawa san teriakan antusias terdengar dari arah lapangan. Reina harus sedikit menunduk saat akan keluar dari pesawat tersebut karena kabin pesawat itu tingginya hanya setengah ukuran orang dewasa jika sedang berdiri.

Reina dapat melihat jelas kali ini apa penyebab pesawat yang ditumpanginya tadi tidak mendarat dengan cukup mulus. Mata Reina memandang ke sekeliling saat ia sudah berada beberapa meter dari pesawat itu. Tempat pesawat itu mendarat bukanlah sebuah landasan khusus untuk pesawat, tetapi sebuah tanah luas dan panjang yang merupakan lapangan sebuah sekolah di daerah tersebut. Lapangan tersebut digunakan juga sebagai landasan bagi pesawat perintis dan pesawat kecil untuk mendarat di daerah tersebut. Kawat-kawat besi yang dililit pada pagar dengan jarak sepuluh centi meter mengelilingi lapangan itu. Mobil double kabin berwarna merah yang sekilas Reina lihat dari dalam pesawat tadi ternyata terparkir di jalan utama menuju lapangan dan jarak rumah penduduk dengan lapangan tersebut sekitar 500 meter jauhnya. Di depannya berdiri sebuah sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas yang berada dalam satu gedung dan dibagi untuk dua tingkat pendidikan itu. Pohon-pohon hijau berdiri gagah mengelilingi daerah dimana Reina sekarang berada.

“Mba, tasnya yang mana?” Tegur seorang petugas maskapai disitu dan membuat Reina kembali pada kenyataannya bahwa dia sekarang sudah benar-benar berada ditengah hutan ini.

Reina menunjuk kopernya “Yang hitam abu-abu itu mas.”  Diulurkan tangannya untuk menarik koper yang cukup berat itu. “Disini ada sinyal kan mas?” Tanya Reina lagi.

Pria tinggi dengan senyum manis cermerlang bak bintang iklan pasta gigi itu pun mengangguk. “Iya ada, tapi harus sabar karena suaranya kadang kurang jelas.” Pria tersebut tersenyum lagi lalu kembali menurunkan beberapa koper dan tas dari bagasi pesawat.

Reina berjalan menjauh sambil menarik kopernya, baru kali ini dia merasa seorang diri dan terasing di pedalaman. Entah kemana kakinya akan melangkah, dia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa dan seperti apa saat ini. Reina merasa terasing dan benar-benar terasing. Memang Reina sendiri yang memilih untuk bekerja jauh dari keluarganya. Dia benar-benar ingin mandiri dan tidak ingin tergantung dari koneksi ayahnya untuk dapat bekerja di sebuah perusahaan. Reina memilih untuk mencari sendiri perusahaan dimana dia dapat mendedikasikan kemampuannya dalam bekerja. Kaso, sebuah distrik di kabupaten Mamberamo Papua menjadi tujuan Reina untuk mencari pengalaman pertama bekerja. Tanpa sepengetahuan kedua orang tua Reina melamar bekerja sebagai staf administrasi Poliklinik sebuah perusahaan di distrik tersebut. Reina mendapat beberapa informasi jika di lokasi tempat Reina akan memulai karirnya tersebut sangat terpencil dan tidak ada sinyal. Sinyal hanya ada di Kaso, ibu kota distrik tersebut. Sedangkan tempat Reina bekerja cukup jauh dari kota distrik sehingga sinyal tidak dapat terjangkau sampai ke wilayah itu. Tekad Reina kuat untuk tetap bekerja disana karena seorang temannya yang sudah bekerja di perusahaan tersebut dapat bertahan, maka Reina pun yakin jika dia mampu bertahan.

“Ibu.” Reina menoleh saat mendengar seseorang memanggil dan memandang dengan tatapan bertanya seorang ibu berumur akhir 30-an sedang memandang ke arahnya juga. “Iya ibu.” Jawab ibu itu tersenyum dengan bibir dan gigi yang berwarna orange karena mengunyah sirih pinang. “Ibu mau kemana kah?” lanjut ibu itu.

Reina menjawab dengan takut-takut. “Saya mau ke perusahaan sebelah Bu.” Reina ingat pesan temannya sesasat sebelum berangkat untuk menjawab seperti itu jika ada yang bertanya padanya jika sudah tiba di Kaso nanti.

“Ouhhh iya, biasa ada yang jemput ibu. Dari pada ibu berdiri tunggu disini panas, ibu pergi duduk tunggu saja di depan Bank itu saja.” Saran ibu itu pada Reina dengan logat khas Papuanya dan senyum lebar menghiasi wajah ibu itu.

Reina pun ikut tersenyum melihatnya. “Dari sini jauh tidak ya Bu?”

“Ah tidak. Itu ‘e yang atap warna biru itu sudah. Ibu tinggal jalan ikut jalan ini terus belok kiri, nah itu sudah Banknya. Ibu duduk tunggu disana saja biar tidak panas. Orang perusahaan pasti lewat disitu juga ibu kalau mau jemput.”

“Oh oke, kalau begitu saya kesana saja. Terima kasih ya Bu.”

“Ahhh iyo.”

Reina kembali menarik kopernya dan mulai berjalan menuju tempat yang disarankan oleh si ibu yang Reina lupa menanyakan namanya tadi. Benar saja, ada sebuah kursi plastik di depan Bank tersebut. Reina menarik kopernya dan berjalan lebih cepat menuju kursi plastik di depan teras bank yang ditujunya. Ditaruhnya koper yang samping tempat duduknya. Reina menarik napas lega karena dapat menunggu dan berteduh dari matahari yang mulai naik di cakrawala. Mata Reina memandang ke atas langit biru di depannya. Bendera merah putih meliuk-liuk indah di udara. Sekujur tubuh Reina mendadak merinding, hatinya terenyuh. “Merah putih di langit Papua, merah putih di tanah Papua.” Batin Reina. Rasanya saat itu juga ia ingin berdiri dan memberi hormat pada sang saka merah putih. Konflik di Papua hingga keinginan Papua untuk memisahkan diri dari negara Indonesia yang sering dia dengar di berbagai media membuat Reina bergidik membayangkan akan kehilangan salah satu pulau yang kaya dan besar tersebut. Tapi sekarang di tanah Papua itu sendiri, Reina melihat sang merah putih berdiri tegak dan meliuk-liuk  indah di langit Papua. Reina tersenyum, walau dalan hatinya benar-benar terenyuh tapi senyumnya adalah senyum kebanggaan.

“Mba baru disini?” Sebuah suara kembali mengembalikan Reina kepada kenyataan dimana ia berada saat ini. Seorang pria gemuk dan tinggi kira-kira 167cm sedang berdiri di sampingnya sambil tersenyum.

“Iya Pak, mau ke perusahaan.”

“Ouh ke perusahaan. Sebentar lagi mereka sampai, harus lewat sungai dan naik speedboat dulu baru bisa kesini. Dari mana mba?” Bapak itu menjelaskan seolah-olah menyuruh Reina untuk bersabar.

“Dari Jogja Pak.”

“Ouh Jogja. Kok mau bekerja disini?”

“Bapak sendiri kenapa sampai mau berada disini?” Reina balik bertanya.

Bapak itu hanya tersenyum, dan saat beliau hendak menjawab pertanyaan Reina. Seorang nenek tua sedang berjalan menuju ke arah Bapak tersebut.

“Bapak, Sa ini mau ambil uang tapi Sa tra tau cara isi dia punya formulir itu.”

“Ouh itu, ya sudah mama ikut saya saja. Biar nanti saya kasih tunjuk dan isikan saja ‘e. Mama masuk dulu, nanti saya susul ke dalam.” Balas Bapak itu mengarahkan nenek tua itu menuju pintu masuk Bank lalu berjalan kembali menuju tempat Reina duduk. “Jawaban saya, kurang lebih sama seperti kamu. Saya permisi dulu ya.” Pamit Bapak itu sopan, kemudian berjalan masuk ke dalam Bank menyusul nenek tua yang sudah lebih dulu berada di dalam Bank.

Pikiran Reina kembali melayang sambil mengedarakan pandangan ke sekelilingnya. Tawa dan logat bicara khas Papua perlahan-lahan mulai akrab ditelinga Reina. Rasa terasing yang tadi sempat dia rasakan saat menginjakkan kaki pertama kali disini mulai lenyap setelah memandang merah putih di depannya. Matanya kini menangkap seorang perempuan dengan seragam hijau berpadu kuning berjalan menghampiri Reina.

“Reina?” Tanya perempuan itu lalu tersenyum dan dijawab dengan anggukan Reina. “Saya Ayu, personalia yang telpon kamu beberapa kali sebelum kesini.”

“Oh iya mba Ayu. Akhirnya saya dijemput juga.” Jawab Reina girang.

“Kopernya ini ya, biar nanti Kus saja yang bawa. Ayo kita berangkat, tapi saya mampir dulu sebentar beli nasi padang titipan anak-anak kantor ya.” Ajak Ayu sambil menggandeng tangan Reina menjauh dari tempat Reina menunggu.

Reina berjalan mengikuti irama kaki Ayu yang berada di sampingnya dan menanyakan serta menjelaskan beberapa hal tentang mess putri yang akan ditempati Reina juga nantinya, tentang calon atasan Reina, tentang job desk, dan segala yang berkaitan dengan pekerjaan Reina. Pekerjaan Reina akan berkaitan langsung dengan seluruh karyawan dan juga masyarakat lokal setempat. Reina tidak apat membayangkan bagaimana akan berhadapan langsung dengan masyarakat lokal setempat. Reina menurut saja saat diajak untuk mampir sejenak ke warung nasi padang yang ada di sebelah selatan daerah tersebut dan akhirnya membawa dua kantong plastik nasi padang menuju Speedboat terpakir di pelabuhan. Sungai Mamberamo cukup besar dengan arus yang cukup deras juga. Sisi kiri dan kanan sungai di penuhi dengan pepohonan yang tinggi menjulang, dengan batang-batang pohon yang berdiameter kecil, sedang, dan besar, juga dengan ranting dan dedaunan yang menjuntai menyapa air sungai dengan mesra. Burung terbang kesana kemari di udara, angin bertiup sepoi-sepoi menerbangkan poni rambut Reina kesana kemari. Udara alami tanpa asap knalpot, dan bunyi bising dari mesin speedboat membuat Reina bersyukur ada di tempat itu. Perkotaan dengan segala permasalahan khas kota-kota besar membuat Reina tidak mendapatkan ketenangan alami seperti yang dirasakannya siang itu. Kini Reina dapat memperoleh semua secara gratis dan dibayar karena dia memperolehnya dengan bekerja di perusahaan. Reina ingin menguji dirinya sendiri, akan jadi seperti apa dia jika berada jauh dari keluarga, tidak ada sinyal, dan sulitnya transportasi seperti sekarang dia jalani.

Kini sudah enam bulan Reina berada di lokasi tempatnya bekerja. Reina mulai terbiasa berhadapan langsung dengan masyarakat lokal. Dokter Sonny yang menjadi atasannya banyak membantu dan mengajari Reina tentang segala penyakit dan obat-obatan yang baik atau layak diberikan pada pasien. Dokter Sonny adalah salah satu guru terbaik Reina, karena dia tidak pernah pelit membagi ilmu ditengah belantara hutan Mamberamo. Siang itu Reina, Dokter Sonny, dan Mantri Doddy sedang duduk di ruangan Reina mengobrol tentang bagaimana pertama kali kami berada di tempat kami bekerja sekarang.

“Selamat sianggg.” Teriak seseorang diluar Klinik.

“Ya siang.” Mantri Doddy ikut beteriak menjawab sapaan orang yang ada diluar lalu berjalan menuju ruang periksa. Reina dan Dokter Sonny masih duduk ditempatnya masing-masing dan mencoba mendengarkan pembicaraan Mantri Doddy dan si calon pasien. “Bagaimana bapak?” Tanya Mantri Doddy.

“Pak Mantri saya punya badan ini macam panas kah. Rasa-rasa kepala saya mau hilang sudah.” Jelas si pasien, dari logat bicara yang khas Reina dapat menebak pasien tersebut adalah penduduk setempat. Perusahaan membuka poliklinik di aeral perusahaan bukan hanya untuk mengobati karyawan di perusahaan tersebut saja tetapi sebagai bentuk kegiatan humas perusahaan, poliklinik juga memberikan pengobatan gratis kepada masyarakat lokal yang ada di sekitar wilayah perusahaan.

“Bapak tidak panas. Bapak juga kemarin bukannya sudah kesini?”

“Ah itu anak saya yang sakit, saya boleh minta antibiotik saja kah Pak Mantri.”

“Pace tunggu ya, saya ambil obat dulu.”

Mantri Doddy berjalan ke ruangan tempat Dokter Sonny dan Reina berada. “Dok, mau dikasih obat apa, orangnya sih baik-baik aja. Sehat-sehat aja kok, tapi dia sih minta antibiotik.”

“Kasih aja antibitok, tapi jangan banyak-banyak.” Setelah mendengar jawaban Dokter Sonny, Mantri Doddy pun berjalan menuju ruang obat.

“Kok jangan banyak-banyak dok dikasih obatnya, mereka bukannya butuh obat juga ya?” Tanya Reina setengah protes.

“Reina, kamu tahu bapak itu nggak sakit. Kamu dengar sendiri kan tadi Mantri Doddy bilang itu orang sehat-sehat aja.”

“Iya Dok, tapi mungkin aja dia kena malaria.”

“Reina, kalau malaria dia pasti menggigil. Kamu tahu kenapa dia minta antibitok?” Reina Menggeleng, Dokter Sonny kembali melanjutkan. “Antibitotik itu bukan untuk dia, karena dia nggak sakit. Dia minta antibiotik itu untuk dikasih ke babi perliharaan mereka supaya nggak sakit. Mereka rela anak mereka sakit, asal bukan babi mereka. Kamu bisa bayangin nggak itu Rei. Bahkan keluarga mereka sendiri mampu mereka lukai. Kamu sendiri lihat kan, ada istri yang datang nangis-nangis habis kelahi sama suami dan pipi kirinya kena parang.”

Reina kembali teringat dengan semua kejadian-kejadian yang telah di lalui selama enam bulan ia berada disitu. “Kenapa ya bisa begitu Dok, apa faktor pendidikan salah satunya ya?”

 

 

Berlanjut....... :)

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Monox D. I-Fly
Monox D. I-Fly at Pelosok Papua.... (5 years 21 weeks ago)

Chapter selanjutnya kayaknya bakalan flashback ya? Ditunggu. :)

Writer greensasa
greensasa at Pelosok Papua.... (5 years 21 weeks ago)

sedikit flashback... rencananya mau dibuat cerpen singkat eh malah jadi panjang... okey ditunggu kelanjutannya setelah di perbaiki.... terima kasih sudah membaca :D

Writer cat
cat at Pelosok Papua.... (5 years 21 weeks ago)
70

Saya tergelitik untuk membaca karena ada Judul Papuanya.
Selain beberapa hari yang lalu saya baru baca cerbernya Tante Dewi Linggasari (boleh dicari deh. Judulnya kalau tidak salah. Sali, Perempuan Suku Dani. Kalau tidak cari user id Dewi Linggasari).

Soal segala macam teknis menulis sepertinya sudah dikupas ma Om Chi (Shinichi Kudo) jadi saya ingin mengomentari ceritanya saja.

Ini awal, jadi belum tahu arah angin akan berhembus (wkwkwk ... komen gaje).

Tapi saya masih belum bisa membayangkan gimana sih keadaan di tempat yang kamu ceritakan. Lokasi dan sebagainya. Kisah semacam ini, sepertinya perlu memperhatikan cara penyampaian detil-detil tempatnya.

Lalu di awal-awal cerita, penggunaan kata Reina, begitu sering diulang. Dipakai terlalu banyak kali. So coba diakali lagi yah.

Menunggu lanjutannya. Soalnya saya memang lagi mencari-cari cerita dengan setting Papua.

Practices make perfecet.

Cat

Writer greensasa
greensasa at Pelosok Papua.... (5 years 21 weeks ago)

ah benar, dicatet.. terima kasih masukannya... sangat bermanfaat buat saya... :D

Writer pandusaksono
pandusaksono at Pelosok Papua.... (5 years 21 weeks ago)
90

wah, kayaknya bakalan menarik nih, mengupas tentang Papua yang bagi kebanyakan orang Indonesia sendiri masih terasa asing.
ditunggu lanjutannya ya =D

Writer greensasa
greensasa at Pelosok Papua.... (5 years 21 weeks ago)

siappp... tapi seperti comment diatas... memang saya belum menceritakan dengan detail tentang lokasi jadi pembaca akan sulit membayangkannya ya... akan di perbaiki di sana sini dulu juga ditambah kelanjutannya.....

Writer Shinichi
Shinichi at Pelosok Papua.... (5 years 21 weeks ago)
60

sepintas, saya merasa ini adalah posting pertama kamu di Kemudian.com. tapi ternyata kamu termasuk member yang sudah lama mendaftar lalu vakum selama sekian tahun :D selamat datang kembali kalo begitu :)
.
saya belum sampai membahas isi cerpen ini, hanya menyoal redaksi. beberapa hal yang bisa saya lihat adalah kamu masih belum memisahkan "di" sebagai kata depan dengan kata setelahnya. ini juga terjadi pada tulisan kamu yang lama (Anugerah Terindah Darimu). kamu sudah menggunakannya dengan benar di beberapa bagian, tapi "disitu" seperti halnya juga "disini" dan "disana" tetap dipisahkan spasi :)
.
berikutnya adalah tentang kalimat penjelas. saya nggak tahu itu istilah resminya, tapi beberapa penulis menyebutnya demikian: kalimat penjelas atau kalimat pelengkap. jenis kalimat ini selalu berada di sekitar dialog (kalimat langsung). ia dipisahkan tanda kutip. biasanya kalimat penjelas ini selalu berada di belakang atau setelah dialog. bagaimana cara menulisnya? contoh yang bisa langsung saya ambil dari cerpen kamu adalah dialog pertama. saya coba lampirkan:
.
"Mba, tasnya yang mana?" Tegur seorang petugas maskapai disitu dan membuat Reina kembali pada kenyataannya bahwa dia sekarang sudah benar-benar berada ditengah hutan ini.
.
dari dialog di atas, yang saya cetak miring adalah kalimat penjelas. fungsinya tentu menjelaskan dialog sebelumnya. maksudnya menjelaskan dialog itu berlangsung dalam adegan apa, termasuk bagaimana dialog tersebut diucapkan, oleh siapa, dsb. makanya disebut penjelas. selain "disitu" dan "ditengah" yang harusnya dipisah spasi (karena "di" di sana berfungsi sebagai kata depan bukan imbuhan), yang keliru adalah penggunaan kapital pada kata "Tegur". itu keliru. mengapa keliru? saya coba jelaskan.
.
kalimat penjelas adalah satu kesatuan dengan kalimat inti (dalam hal ini adalah dialog sebelumnya). dan ketika suatu kalimat masih berinti sama, maka hanya ada satu penanda, yakni kapital pada kata "Mba". itulah awalnya sebuah kalimat utuh. namun keberadaan "Tegur" di sana membuat rancu. berarti ada dua kalimat dengan dua inti yang berbeda. sedangkan, fungsi kata "tegur" itu sendiri merupakan penjelasan dialog. maka ia masih satu kesatuan dengan dialog tsb. jadilah ia seharusnya tidak diawali kapital. menurut saya, itu otomatis karena aplikasi pengolah dokumen yang kamu gunakan. selalu begitu kok, tapi nggak sesuai dengan EyD.
.
namun, beberapa kalimat setelah dialog memang diawali kapital. saat itu, kalimat tersebut memang punya satu inti berbeda dengan dialog sebelumnya. bagaimana mendeteksi hal ini agar membantu kita dalam menuliskannya dengan tepat? yakni, kamu baca ia satu per satu. coba baca tanpa dialog? apakah itu membuat bingung? jika iya, maka kalimat penjelas tsb tidak cocok diawali kapital. saya bisa bikin contoh:
.
"Apa kabarmu, An?" Tanya Budi pada Ani.
.
kita hilangkan dialog, menjadi:
.
Tanya Budi pada Ani.
.
jelas itu membingungkan. maka, kalimat penjelas "Tanya Budi pada Ani" harus diawali huruf kecil yang menjadikannya satu keutuhan (atau satu inti) dengan dialog sebelumnya. keduanya nggak bisa dibaca terpisah. maka, jika pada contoh yg terdapat di cerpen kamu itu kita baca tanpa dialognya, yang terjadi adalah kebingungan yang sama:
.
Tegur seorang petugas maskapai disitu dan membuat Reina kembali pada kenyataannya bahwa dia sekarang sudah benar-benar berada ditengah hutan ini.
.
secara kalimat utuh (karena diawali huruf kapital pada "tegur"), ini seharusnya nggak bikin bingung. tapi nyatanya iya. dengan kata lain, kalimat tersebut masih satu inti dengan dialog yang kita hilangkan itu. kesimpulan, tegur tidak diawali kapital :) kira-kira begitulah. pada jenis kata lain yang merupakan ciri khas kalimat penjelas, juga berlaku demikian. kata-kata itu termasuk; tanya, ucap, tegur, sebut, teriak, dengus, kata, isak, dsb. semuanya itu, berpedoman pola kalimat yg kamu buat, akan selalu diawali huruf kecil. ehehehehe :) semoga ini bisa membantu.
.
btw, ada juga beberapa typo atau salah ketik. yang begitu, coba hindari dengan membaca ulang beberapa kali. bukankah lebih nyaman menikmati cerita tanpa kesalahan penulisan? :)
.
semoga komentar ini berkenan. kip nulis dan kalakupand.
ahak hak hak :)

Writer greensasa
greensasa at Pelosok Papua.... (5 years 21 weeks ago)

siap komandan... akan di perhatikan lagi...
iya lama sekali gak nulis karena kelamaan di papua, skrg sudah kembali ke peradaban kota jadi bisa kembali menulis...
itu infonya sangat2 bermanfaat buat saya... terima kasihhh.... senang deh dapat masukan :D