Quête Pour Le Château de Phantasm - Season 2 - E02

Hembusan badai es menyambut Vincent segera setelah ia keluar dari gerbang utama kastil Regia. Walau sia-sia, ia merapatkan jubahnya yang sudah terkoyak di sana-sini. Dengan tertatih Vincent mulai berjalan mengarungi gurun es yang terbentang, menjauh dari kastil es tersebut.

Namun belum jauh ia melangkah, es tempatnya berpijak terasa sangat kuat bergetar. Gemeretak suara lapisan es yang terpecah semakin nyaring terdengar, disusul dengan beterbangannya bongkahan-bongkahan besar es ke segala arah. Vincent pun melompat mudur hingga jatuh terlentang, kepalanya nyaris saja terbabat sebuah bongkahan es yang keterlaluan besar.

Sesosok kepala reptil raksasa dengan leher yang panjang muncul dari bawah es, makhluk itu meraung dan meliuk seakan kesakitan. Vincent pun bergegas bangun dan bersiaga, walau sebenarnya ia lebih ingin memilih untuk membiarkan makhluk itu, karena saat ini ia tak ingin buang-buang waktu dan tenaga lagi. Tetapi sepertinya makhluk itu tak akan dengan mudah melepaskan Vincent begitu saja, karena kini mata makhluk itu lekat menatap Vincent.

“Sialan, kenapa aku harus selalu berbenturan dengan makhluk-makhluk aneh?!”

Makhluk itu membuka lebar mulutnya di hadapan Vincent, ia meraung keras sekali. Tetapi di luar dugaan, terdengar samar ringkikan seekor kuda bersamaan dengan datangnya hawa dingin dari dalam mulutnya.

“Gorila es?!”

Di saat yang bersamaan dengan Vincent mengeluarkan sabitnya, seekor kuda es dengan penungggang berambut perak melompat keluar dari mulut reptil raksasa itu. Vincent pun menyapukan sabitnya tinggi ke udara, namun sang penunggang kuda es menepis tebasan tersebut dengan satu tendangan.

Vincent berbalik menghadapi penunggang kuda es tersebut, di belakangnya sang reptil raksasa tumbang menghembuskan napas terakhirnya. Tubuhnya memang masih terasa nyeri setelah pertarungan dan overdrive terakhirnya, tapi bukan berarti ia bisa begitu saja melepaskan lawannya yang satu ini, karena ia tahu pasti kalau Gorila es itupun tak akan dengan mudah melepaskannya.

Dalam satu helaan napas, Vincent merangsek maju dan siap menebaskan sabitnya. Ia sedikit melompat saat jaraknya sudah cukup dekat dengan sang lawan, namun belum sempat ia mengayunkan sabitnya, sang lawan lebih dulu melompat dari kuda dan menanamkan tinjunya tepat di perut Vincent.

Vincent terpelanting cukup jauh sebelum mendarat dengan wajahnya di es. Bukan serangan lawannya yang membuat Vincent terkejut, tetapi sosok lawannya. Itu bukan Gorila es yang ia harapkan, walaupun memang benar kuda es tersebut adalah tunggangan si Gorila es, tapi penunggangnya kali ini adalah seorang wanita.

“Aku tak punya waktu untuk melayanimu, manusia! Saat ini Anastasia membutuhkanku!” seru wanita aneh itu sembari membelakangi Vincent dan berjalan menuju gerbang utama kastil Regia.

Peri sialan itu masih berada di dalam kastil es? Tanpa pikir panjang dan menunda-nunda lebih lama lagi, Vincent pun bergegas menuju kastil mengikuti wanita itu. Sesaat setelah sang wanita menghilang di balik gerbang utama, Vincent mencium aroma sesuatu yang terbakar dari dalam kastil.

Bau hangus yang menusuk, suara denting logam beradu, pertempuran tengah terjadi di dalam kastil. Saat ini Vincent mematung di depan gerbang utama kastil Regia, menimbang apakah ia harus masuk dan ikut campur lagi. Ia sudah bukan bagian dari mereka lagi, dan tujuan utamanya hanya untuk mendapatkan peri sialan itu.

***

“Eik, sekarang!” teriak Sion yang mulai kewalahan menangkis serangan Deter.

Sion pun berguling menjauh, tepat di saat Eik melayangkan tinju apinya ke pinggul Deter. Melihat Deter terpental akibat tinju Eik, Edea pun tak ingin menyia-nyiakan kesempatan tersebut, ia melompat dan menghantamkan pedang besarnya. Deter kembali terpelanting lalu jatuh menubruk dinding es, dan kini giliran Senri dan May yang menghujaninya dengan panah.

Serpihan dan kabut es menghalangi pandangan Eik dan kawan-kawan, mereka tak dapat memastikan apakah Deter berhasil mereka lumpuhkan. Namun suara raungan dari arah tempat jatuhnya Deter memperkuat dugaan mereka, makhluk itu masih hidup.

Dari balik kabut es tiba-tiba saja sosok Deter menyeruak, ia merangsek cepat dengan cakar terbuka menuju Eik. Tetapi dengan katananya Sion berhasil menahan cakar Deter sebelum menembus tubuh Eik, walaupun tindakan tersebut kini membuatnya dan Eik menjadi terpental.

Di luar dugaan mereka, Deter tak langsung memberikan serangan susulan kepada Eik dan Sion yang masih tertatih berusaha untuk bangkit. Makhluk itu terlihat kelelahan, dari punggungnya terlihat cairan kehijauan yang pekat menetes, sebuah luka sayat besar menganga di sana.

“Ia sedang memulihkan diri! Barusan pedangku berhasil melukainya!” teriak Edea yang langsung meluncurkan dirinya untuk kembali menyerang Deter.

“Edea tunggu!” cegah May yang merasakan firasat buruk dari makhluk itu.

May benar, Deter tak akan semudah itu dilumpuhkan. Makhluk itu menepis pedang besar Edea hanya dengan satu tangan, Edea sedikit terhuyung karena serangannya meleset. Tak menyiakan bukaan dari lawannya, Deter pun menyabetkan cakarnya ke arah leher Edea.

Sebuah panah es berdesis saat meluncur dan menghantam kepala Deter, membuat makhluk itu limbung dan meleset dari sasarannya, lengan kiri Edea pun putus terkena sabetan cakar Deter. Edea menjerit sekeras-kerasnya sembari berguling di lantai es, ia meringkuk memegangi lengan kirinya yang kini telah menodai warna lantai es menjadi merah.

May bergegas berlari menuju Edea, sementara itu Senri tanpa hentinya terus menembakkan panahnya ke arah Deter, ia tak peduli walaupun Deter dengan mudah dapat menepis seluruh serangannya. Eik dan Sion pun tak mau ketinggalan, mereka juga ikut menyerang, memberikan waktu bagi May yang sedang menyeret tubuh Edea menjauh dari makhluk itu.

“Sialan!” kutuk Edgar dari kejauhan, tangannya keras terkepal. Lalu perlahan ia berjongkok memungut sebuah belati, senjata yang telah dijatuhkan oleh gadis berambut pirang itu saat ia berlari menyelamatkan temannya.

“Kalau memang tak becus berkelahi, lebih baik kau diam saja di sini. Tindakan bodohmu malah akan merepotkan mereka yang sedang berjuang,” celetuk Wendy dari bahu Edgar.

Terus terang kata-kata Wendy barusan sangat menusuk Edgar, terutama karena apa yang ia katakan memang benar adanya. Lebih mengejutkan lagi karena baru kali ini ia mendengar peri cerewet itu berbicara sangat serius, ada yang aneh dengannya. Wendy tak sekalipun memperhatikan pertarungan antara kawan-kawannya dengan Deter, matanya terus saja memperhatikan ke lorong yang menuju gerbang utama kastil.

Sesosok wanita bertelinga lancip muncul dari lorong tersebut, rambutnya yang berwarna perak bergelombang terkuncir dengan rapi, di tangan kanannya tergenggam sebuah crossbow yang menyatu dengan sebuah belati di ujungnya. Dengan santainya ia berjalan menuju ke tengah pertarungan antara kawan-kawan Edgar dengan Deter.

Wanita itu mengelak dari pukulan api Eik, menepis katana Sion dengan belati di ujung crossbow-nya, lalu memberikan tendangan telak di dada Deter, membuat makhluk itu terdorong mundur beberapa meter. Sebuah tinju kiri kemudian ia daratkan di dagu Eik, membuat si buluk itu terpental. Tak lama berselang, giliran Sion yang terpelanting akibat tendangan putar dari wanita berkuping lancip tersebut.

Tak membiarkan ada jeda untuk Deter pulih dari serangannya barusan, wanita itu mengangkat crossbow-nya lalu menghujani Deter dengan panah es, membuat makhluk itu kehilangan kecepatannya. Deter bahkan harus berusaha keras, hanya untuk dapat bergerak dan berlari menghindari serangan panah beku dari wanita asing tersebut.

Selama beberapa detik ia sempat bertukar pandang dengan Edgar, dan tentu saja hal tersebut membuat Summoning Scholar tersebut bergidik ngeri. Kali ini Edgar tak akan tinggal diam, ia benar-benar harus membantu mereka, namun lagi-lagi Wendy melarangnya.

“Sudah kubilang bukan? Kau diam saja di sini, kacung! Sudah jelas kalau kau tak akan mampu bertahan satu detikpun melawan dia,” celetuk peri di bahu Edgar dengan suara bergetar.

Ada yang aneh dengan Wendy, sikapnya benar-benar berubah di hadapan wanita itu, dan Edgar merasakannya dengan jelas sekali. Bagi Edgar, suara Wendy terdengar seakan menyiratkan kemarahan bercampur kesedihan yang amat mendalam.

***

Di sisi dalam gerbang utama Regia, Vincent termenung memegang sabitnya. Hening cukup lama, ia mendengarkan suara pertarungan di aula utama kastil. Lalu bersamaan dengan hembusan napasnya ia berlari menuju Eik dan kawan-kawan, ia berlari diikuti puluhan mayat hidup dengan senjata terhunus.

Ia berhenti tepat di ujung lorong tepi aula, membiarkan para mayat hidupnya merangsek masuk sementara ia mengamati keadaan. Eik si pentol korek itu mati-matian melawan si wanita es yang ia barusan ia temui, begitu juga Sion. Gadis berpedang besar dan kawannya si pemanah berada di sudut aula, sepertinya mereka terluka, karena ada banyak darah di sekitar mereka. Gadis centil yang selalu menempel pada Eik ada di dekat si penyihir banci, peri sialan itu juga ada bersama si banci. Lalu terakhir, ada satu lagi makhluk aneh yang juga ikut dalam pertarungan.

Peri itu adalah targetnya, yang lain bukan urusan Vincent lagi saat ini. Vincent pun segera berlari menuju Edgar untuk merebut Wendy, namun Senri menyadarinya dan segera memuntahkan beberapa anak panah ke arah Vincent. Beberapa mayat hidup segera berlari di depan Vincent, menjadikan diri mereka sebagai perisai sekaligus menutupi arah tembakan Senri.

“Edgar, pergilah! Keluar dari aula ini bawa Wendy dan cari tempat untuk bersembunyi!”

Percuma, perintah gadis bernama Senri itu tak ada gunanya, Vincent telah lebih dahulu menutup tiap jalan keluar aula dengan pasukan mayat hidupnya. Ia tak akan begitu saja membiarkan peri keparat itu lolos lagi darinya, kali ini ia harus berhasil menuju tempat itu.

“Minggir!” teriak Eik yang tiba-tiba melompat ke arah salah satu lorong yang di jaga oleh beberapa pasukan mayat milik Vincent. Tubuh Eik yang terbungkus api langsung menimbulkan ledakan di saat ia menyentuh lantai es, membuat pasukan Vincent yang berada di dekatnya hancur dan terhempas.

“Lewat sini, ay—”

Eik tak dapat menyelesaikan seruannya, sesosok tubuh mengerikan tiba-tiba saja menghantamnya hingga terpental beberapa meter. Tubuh Eik tertindih tepat di bawah makhluk itu, sampai-sampai Eik dapat mengendus aroma busuk yang mengerikan dari tubuh makhluk bernama Deter itu. Eik terus mengerang dan meronta agar dapat segera lepas dari tindihan makhluk itu, terutama agar ia dapat mencegah Vincent yang sedang berlari menuju Edgar.

“Minggir kau!” raung Eik sembari menghantamkan tinju apinya ke lantai untuk menimbulkan gelombang kejut, membuat Deter sekali lagi terpental.

Melihat hal tersebut, Sion langsung berlari dan tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Pemuda berkuncir itupun melompat lalu mendaratkan tendangannya di wajah Deter, mengubah arah terpentalnya makhluk itu menuju Vincent. Namun belum juga Deter mendarat, si wanita asing kembali menembakkan senjatanya.

Deter mengangkat lengannya, mencoba melindungi kepalanya dari panah-panah es yang terus ditembakkan oleh si wanita asing. Namun tetap saja salah satu panahnya telak membekukan lengan kiri Deter, yang langsung hancur oleh sabetan sabit Vincent.

Makhluk itu meraung keras, bukan hanya karena lengan kirinya yang hancur, tetapi juga disebabkan oleh sabit Vincent yang berhasil menancap menembus tubuhnya. Kulitnya yang hitam dan sekeras baja kini putih dan rapuh, semua akibat panah-panah es yang berasal dari senjata si wanita asing.

Vincent memutar tubuh lalu mengayunkan sabitnya, menghempaskan tubuh Deter kembali ke arah Eik. Tetapi sepertinya makhluk hitam itu tak berniat untuk menyerah dan mati begitu saja, ia mengayunkan tangannya untuk menyerang Eik, memanfaatkan momentum dari lemparan Vincent.

Gagal, ia hanya menebas udara kosong sebelum tubuhnya menabrak dan menjebol dinding es. Rupanya Senri berhasil bertindak sebelum Eik terluka, ia menyapu kaki Eik dengan busurnya hingga Eik terjengkang dan terhindar dari serangan Deter. Kini makhluk itu tak lagi muncul, raungannya yang bergema terdengar semakin jauh.

“Cukup sampai di sini, manusia!” seru sang wanita asing sembari menghentakkan kakinya ke lantai. Lalu di saat yang sama terpancar gelombang dingin dari tubuh wanita itu, membekukan seluruh pasukan mayat milik Vincent.

Merasakan hawa dingin yang luar biasa, Sion dan yang lainnya ambruk tak sadarkan diri seketika itu juga. Hanya Eik dan Vincent yang tersisa, mereka berhasil menyelimuti tubuh mereka dengan api sebelum terkena serangan wanita itu. Vincent dan Eik terdiam dan hanya saling bertukar pandang, mereka menyadari kalau wanita asing ini memiliki kekuatan setara dengan si kera salju Alcyon.

“Apa yang sedang kau lakukan di tempat ini, Alicia?” tanya Wendy yang kini terduduk di dahi Edgar.

Suara dari si peri cerewet itu mengejutkan baik Vincent dan Eik, namun keduanya tetap tak mengalihkan pandangan dari wanita itu. Mereka melangkah perlahan memutari dan mengepung wanita bernama Alicia itu dari dua arah.

“Aku datang untukmu, si tua Sidatta yang mengirimku kepadamu.”

“Sidatta?” tanya Eik heran. “Lalu mengapa kau menyerang kami?”

Belum sempat Alicia menjawab, Vincent sudah mulai mendekat dengan sabit terayun. Namun Eik tak tinggal diam, ia melompat hendak mendaratkan tinju apinya kepada Vincent. Melihat hal tersebut Vincent pun mengerem, lalu ia menggunakan gagang sabitnya untuk menahan serangan Eik.

“Aku datang ke tempat ini untuk melepaskan segelmu, Anastasia,” kembali Alicia menjelaskan, tanpa mempedulikan Eik dan Vincent yang sedang berusaha untuk saling membunuh di belakangnya.

“Xalvadur berhasil melumpuhkan Sidatta, dan aku tak berhasil mencegahnya dengan keadaanku yang seperti ini. Manusia keparat itu berniat untuk melepaskan Magorath dari penjaranya.”

“Hanya Sidatta yang mampu melepaskan segelku, jangan berbohong kepadaku, Alicia!”

Alicia pun tersenyum sambil meraih Wendy dari dahi Edgar yang masih tergeletak tak sadarkan diri.

“Apa yang kau lakukan?! Lepaskan aku!” hardik Wendy yang semakin merasakan aliran energi aneh di tubuhnya.

Pendaran cahaya Wendy semakin lama semakin menguat. Namun di sisi lain, hal sebaliknya terjadi pada Alicia, pendaran cahaya dari tubuh Alicia semakin meredup. Sampai pada akhirnya, semua yang berada di aula es itu tertelan oleh cahaya dari tubuh Wendy.

Wendy menghilang, peri kecil yang cerewet itu kini sudah tidak ada lagi. Sebagai gantinya, sesosok wanita yang mirip dengan dirinya kini sedang berdiri di hadapan Alicia. Saat ini sudah tak ada lagi pendaran cahaya dari tubuh Alicia, iapun jatuh bersimpuh.

“Senang bisa melihat wajahmu lagi untuk yang terakhir kalinya, Anastasia.”

Anastasia meronta dan berusaha melepaskan pergelangan tangannya dari cengkeraman Alicia, namun ia tak bisa, tangan Alicia tak akan terlepas sebelum segel Anastasia benar-benar hancur.

“Hentikan! Aku tak ingin kembali kalau harus dibayar dengan nyawamu! Hentikan Alicia!”

“Kau harus, Kakak, atau Magorath yang akan menang,” bisik Alicia yang semakin tertunduk lemah. Perlahan tapi pasti, terlihat retakan yang menjalar di kulit Alicia.

“Aku tak akan membiarkanmu!” seru Anastasia sambil menyeret tubuh Alicia.

Vincent yang sedari tadi masih sibuk melayani si kompor buluk, sama sekali tak menduga saat Anastasia mencengkeram lengan kanannya dari belakang, dan kini ia merasa kalau jiwanya sedang dihisap keluar oleh si peri sialan itu.

Aliran energi yang sebelumnya terhisap dari Alicia kini kembali, Anastasia membalikkan aliran dengan menggunakan kekuatan yang ia ambil dari tubuh Vincent. Penyihir itu terus berteriak dan meronta walau sia-sia. Jangankan untuk melepaskan diri, api yang kini membungkus tubuhnya bahkan tak dapat membakar Anastasia.

Eik yang sedang menyaksikan pun semakin bertambah bingung, ia benar-benar tak tahu apa yang harus ia perbuat. Semua kawan-kawannya pingsan, ada wanita berkekuatan sama seperti si kera es, ada Wendy yang sudah tumbuh dewasa, ada si setan pohon yang kembali lagi, lalu tiba-tiba saja mereka bertiga bergandengan tangan sambil teriak-teriak.

Sialnya saat Eik ingin mundur, lengan kiri si setan pohon menggandeng tangannya. Eik pun ikut berteriak bersama si setan pohon, karena ia merasakan sakit yang luar biasa, seolah jiwanya sedang ditarik keluar.

***

Hilang, kekuatannya menghilang.

Kota Pelabuhan Nord, tempat semuanya berawal, kini Eik kembali lagi ke kota pelabuhan ini. Kota ini tak lagi terlihat seperti ketika ia baru tiba di sini, hanya puing-puing bekas bangunan dan kematian yang tersisa di tempat ini. Ya, si kera es Alcyon yang telah menghancurkan kota ini, masih jelas terbayang di benak Eik pertamakalinya ia bertemu dengan si kera es itu di kota ini.

Eik berjongkok di dekat puing sebuah penginapan, lalu ia terus saja membuka-tutup kepalan tangannya, namun api yang muncul di telapak tangannya kini tak lebih besar dari nyala api sebuah lilin. Mengapa harus dia? Mengapa tidak si setan pohon itu saja yang dihisap habis? Eik masih terus meratapi kekuatannya yang menghilang.

Tak jauh dari posisinya berjongkok, Edgar dan Sion mengigil kedinginan. Mereka masih belum pulih benar setelah terkena kekuatan es dari Alicia, hanya Edea dan May yang masih belum sadarkan diri, dan Eik tak tahu apakah Edea masih dapat selamat dengan luka seperti itu. Sementara itu, jauh di belakang mereka terlihat kastil Regia yang perlahan mulai runtuh, sulur-sulur api raksasa terlihat menyeruak dari dalamnya.

“Sepertinya penyihir manusia itu marah,” celetuk Alicia sambil menghela napas, “dan kita semua beruntung karena Kakak menggunakan teleport untuk mengeluarkan kita semua dari kastil itu.”

“Itu bukan kekuatanku, itu milik Vincent. Hampir semua sihir yang dapat ia gunakan, aku kini juga dapat menggunakannya. Mungkin ini akibat transfer energi yang kita lakukan saat di kastil itu.”

Sebuah dentuman keras terdengar, kali ini dari arah laut di utara mereka, disusul oleh pilar cahaya di kejauhan yang memecah awan di atasnya. Anastasia dan Alicia sadar betul akan arti dari pilar cahaya kemerahan tersebut, waktunya telah tiba.

“Irene Magorath,” desis Alicia yang masih memandangi pilar cahaya tersebut. “Kita tak akan punya kesempatan melawan iblis itu, kecuali kita mendapatkan kembali kekuatan sejati kita di Le Château de Phantasm.”

Belum sempat Anastasia bereaksi atas kata-kata Alicia barusan, ia dikejutkan oleh kedatangan Senri yang berlari sambil berteriak. Anastasia memang mengutus gadis itu untuk melakukan pengintaian di sekitar pulau ini barusan.

“Pasukan Set sudah dekat! Mereka berkemah di seberang selat arah tenggara dan barat daya dari sini!”

“Kakak, kita kalah jumlah,” bisik Alicia yang kini berdiri mendekati Anastasia, “lebih baik kita tinggalkan para manusia ini dan segera berangkat menuju kastil kita.”

“Iblis Magorath, Xalvadur dan pasukan Empire-nya akan datang dari laut utara, lalu pasukan Set dari selatan. Apa yang membuatmu berpikir kalau kita bisa lolos dari mereka?” tanya Anastasia sambil tersenyum, kemudian ia mulai melambai-lambaikan tangannya seolah ingin menuliskan sesuatu di udara.

“Tapi Kak—”

Alicia tak melanjutkan lagi ucapannya, ia bahkan tak ingin bicara lagi. Sebuah pulau tiba-tiba muncul dan melayang tinggi tepat di atas garis pantai, pulau tempat Le Château de Phantasm. Sungguh ia tak percaya kalau ternyata Anastasia menyembunyikan Le Château de Phantasm tepat di hadapan para manusia.

“Eik, kemarilah!” perintah Anastasia kepada pemuda berkekuatan api tersebut, “tunjukkan punggungmu.” Lalu Anastasia pun mengukir sebuah simbol sihir dengan jarinya di punggung Eik.

Sebuah senyuman terlihat di wajah pemuda api itu, ia dapat merasakan kekuatannya yang mulai kembali, ia bahkan sudah mulai bisa menciptakan bola api di telapak tangannya. “Terima kasih, Ratu.”

“Sekarang semuanya mendekatlah kepadaku, kita akan berlindung di kastil sampai aku dan Alicia mendapatkan kekuatan kita kembali! Sion, Edgar, bawa juga Edea dan May kemari!”

Tetapi tidak dengan Eik, ia malah menjauh dari Anastasia. “Aku tetap tinggal di sini, dan aku akan berusaha sebisanya untuk memberi kalian waktu.”

“Begitu juga denganku,” cetus Sion yang juga menjauh setelah menggotong Edea.

“Aku ikut kemanapun Sham—maksudku Eik pergi!” seru Senri yang kini berdiri di belakang pemuda api itu.

Hanya Edgar yang tetap bergeming di dekat Anastasia, ia juga tak bicara sepatah katapun. Sion dan Eik memang memaklumi keadaannya saat ini, tetapi bukan berarti ia merasa nyaman dengan hal itu, ia bahkan tak mampu menatap wajah para sahabatnya itu.

“Alicia, apa yang kau lakukan?” tanya Anastasia yang heran karena adiknya itu ikut-ikutan menjauh juga.

“Aku ragu dengan kemampuan para manusia ini, lagipula bukankah aku sudah bilang; kalau kekuatan sejati kita butuh beberapa hari sampai benar-benar kembali.”

Sang Ratu mengayunkan tangannya perlahan dari bawah ke atas, dan bersamaan dengan itu bermunculanlah ratusan mayat hidup dari balik puing dan reruntuhan bangunan. Disusul dengan ayunan tangan Alicia, para pasukan mayat hidup itu kini terlengkapi dengan pedang, perisai, dan zirah yang terbuat dari es.

“Sedikit kenang-kenangan yang kuambil dari Vincent,” ucap Sang Ratu seraya tersenyum, “mereka akan membantu kalian dalam menghadapi pasukan Set. Oh, dan berhati-hatilah, kurasa Vincent tidak akan melepaskan kita begitu saja.”

Pendar cahaya kebiruan muncul dan mengalir di tanah seperti pembuluh darah, mereka membentuk sebuah lingkaran sihir lengkap dengan mantranya. Sebuah sihir teleportasi yang sebelumnya hanya dapat digunakan oleh Vincent.

Sebelum sosok Anastasia benar-benar menghilang tersapu sihir teleportasi, dengan lantang ia kembali berujar kepada mereka yang tertinggal di kota mati itu, “SYAHAHAHAHA! AKU AKAN KEMBALI LAGI SAAT BULAN PENUH BERSINAR, JADI SEBAIKNYA KALIAN PARA KACUNG, TIDAK GAGAL DALAM TUGAS KALIAN, TETAP HIDUP, DAN JANGAN KECEWAKAN AKU!”

Read previous post:  
30
points
(4565 kata) dikirim makkie 5 years 12 weeks yg lalu
100
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | fantasi | kolab | lcdp | Le Château de Phantasm | qplcd
Read next post: