Discovery

            Ini bukanlah sebuah awal dari pertarungan. Ini adalah akhir dari sebuah penantian. Akhir yang pasti yang akan kudapatkan sesegera mungkin. Penantian yang cukup panjang, dan akhirnya aku akan menyelesaikan semuanya.

            Masih diselimuti oleh bayang-bayang gelap. Kekosongan dan kesunyian yang menerpa membuat tulangku seperti tertusuk oleh jarum. Berkali-kali, sampai-sampai aku tak bisa merasakannya lagi. Angin malam yang berhembus menandakan jika suhu tubuhku akan terus menurun seandainya aku tidak segera mengantisipasinya.

            Gelap....

            Dingin....

            Dengan sebuah ambisi.

            Kukepalkan kedua lenganku dan kutiupkan sekencang mungkin untuk menghindari kejamnya dingin yang menyelimuti, meskipun sesungguhnya aku sudah memakai sebuah mantel untuk mencegah rasa dingin yang begitu menusuk. Tapi tetap saja aku merasakan kedinginan di lenganku ini. Lenganku hanya diutupi oleh sebuah sarung tangan yang juga berwarna hitam seperti mantel yang kukenakan ini, tapi tidak benar-benar menghalau dinginnya malam dengan sempurna.

            Sambil merasa kedinginan, aku terus berjalan menuju sebuah rumah yang memang dari tadi sudah kutargetkan untuk kukunjungi malam ini. Sebuah penantian panjang yang akhirnya bisa segera kudapatkan.

            .....

            Dan sekarang aku sudah berada di depannya.

            Baiklah, apakah harus kulakukan?

            .....

            Tidak, tidak. Jangan berubah pikiran. Ini adalah penantianmu setelah empat tahun lamanya. Kau tidak boleh mengurungkan niatmu itu. Semua ini akan berjalan dengan lancar. Tenang saja, jangan panik, dan kau harus menyelesaikan semuanya, oke?

            Aku menyelinap ke dalam. Kupanjat pagar yang tingginya hanya sekitar dua meter ini. Aku bisa melewatinya dengan mudah karena memang sudah lama sekali aku berlatih untuk hal yang seperti ini, bahkan jeruji besi yang runcing di atasnya tidak dapat mencegah aksiku yang luar biasa ini.

            Dan untuk sesaat, terlintas kembali pikiran di benakku untuk mengurungkan niatku ini.

            .....

            Ada yang tidak beres.

            .....

            Tidak, kau tidak boleh kembali! Kau sudah mengetahui segalanya. Kau hanya perlu untuk menemuinya dan kemudian membunuhnya. Tidak lebih dari itu, tidak akan sulit.

            Kukeluarkan sepucuk pistol dari pinggang bagian kananku, berjaga-jaga seandainya memang ada hal yang tidak beres.

            Baiklah, perasaan yang tidak enak itu bisa diantisipasi dengan pistol ini. Sekarang kau bisa melanjutkannya, kan?

            Rumah besar ini memiliki halaman yang luas. Entah perlu berapa langkah untukku melewati halaman inim Mungkin puluhan atau bahkan ratusan. Yang pasti aku terus berjalan dengan mengendap-endap untuk meminimalisir suara yang dapat ditimbulkan dari dentuman sepatuku yang menginjak tanah basah ini.

            Hanya perlu sekitar dua menit untukku agar sampai ke depan pintu rumah yang besar ini. Sekarang aku hanya perlu memeriksa pintu ini apakah dikunci atau tidak. Dan seandainya dikunci, oh, yeah, aku hanya perlu mendobraknya. Suatu hal yang benar-benar aku sukai untuk kulakukan. Mendobrak pintu itu terkesan keren.

            .....

            Tapi itu tidak kuperlukan, karena pintunya tidak dikunci.

            Ya, memang ada yang tidak beres.

            .....

            Tidak! Jangan kembali! Tinggal selangkah lagi dan kau akan membereskan semuanya, oke?

            Kucoba untuk menyingkirkan pikiranku tentang pintu yang tidak terkunci itu. Ya, mungkin orang dalam rumah ini begitu bodohnya sampai lupa untuk mengunci pintu. Padahal seingatku sekarang sudah pukul sebelas malam. Tapi bukankah itu akan menjadi poin tambahan untukku? Membuatku bisa leluasa untuk bergerak dan kemudian menyerangnya untuk membunuhnya?

            ”Keluar kau!” aku berteriak untuk memanggilnya, berharap ia segera keluar. Tapi itu tidak berhasil. Tak ada tanda-tanda orang yang merasa terancam sama sekali.

            Tidak mungkin.

            .....

            Kosong.

            ”Dimana kau!?” aku berteriak lagi. Emosiku sudah memuncak dan aku tidak bisa menahannya. Dinginnya malam ini telah membuat bara api kemarahanku padam, dan akhirnya sekarang bara api kemarahanku kembali membara. Menyeruak dan benar-benar menggebu-gebu.

            Aku tidak tahan lagi.

            Aku segera berlari mencarinya. Kekesalanku menggerakkan kakiku untuk terus melangkah, menginjak-injak rumahnya ini sambil sesekali meludah.

            Cih! Benar-benar sialan! Dimana dia!?

            ”Keluar kau!” aku terus berteriak sambil berlari mencarinya.

            Tapi tidak ada.

            Dia tidak ada di sini.

            Semuanya kosong. Aku tertipu.

            Lelah sudah mendera tubuhku. Rasa dingin tadi sekarang memuncak menjadi rasa panas beserta aliran keringat yang mengucur deras dari seluruh pori-pori tubuhku dan membasahi baju di balik mantelku ini. Aku terengah-engah, dan kurasakan mataku sedikit berkunang-kunang. Rasanya seperti jantungku hendak putus karena terbakar.

            Semuanya berjalan di luar rencana.

            Benar-benar tidak beres!

            Perasaanku benar! Semuanya tidak beres.

            ”Kau bodoh, Jay.” Tiba-tiba sebuah suara mengagetkanku. Aku bisa mengenalinya. Ya, dia adalah mantan temanku. Tidak, bukan mantan temanku. Aku tidak akan pernah lagi menganggap jika ia pernah menjadi temanku.

            Dan tiba-tiba saja aku merasakan sebuah kesakitan pada leherku. Rasanya panas dan benar-benar tidak enak. Rasanya seperti disetrum, tapi ini bukan setruman, melainkan hanya pukulan.

            Aku tersungkur dan membuat pistol yang tadi kugenggam terlepas.

            Ugh!

            Aku masih merasakan rasa sakitnya, tapi sebisa mungkin aku menahannya dan kemudian aku berbalik sampai aku melihatnya. Melihat mantan temankuku... cih! Maksudku musuh abadiku yang brengsek itu. Aku masih bisa mengenalinya. Kumis tipis dan beberapa bekas sabetan benda tajam pada wajahnya itu membuatku yakin jika ia memang musuh abadiku.

            ”Kau itu benar-benar... Ugh!” aku menghardiknya.

            ”Lebih baik daripada kau yang bodoh.”

            Sialan dia. Sialan, sialan.

            Dan tiba-tiba saja ia mengeluarkan sebuah pistol dari pinggangnya dan menodongkannya ke arahku, ”bodoh sekali kau termakan jebakanku.”

            ”Cih! Sebenarnya aku pun tak sudi untuk menginjakkan kaki di rumahmu ini.”

            Dia tak merespon dengan cepat. Dia hanya memandangku dengan senyuman sinis. Meremehkanku dan menganggapku sebagai sampah yang tak berguna. Memang dia itu  benar-benar gila.

            ”Jadi setelah empat tahun akhirnya kau ke sini hanya untuk terjebak?” akhirnya ia berkata sambil terus mempertahankan senyum sinisnya yang sejujurnya benar-benar terlihat jelek bagiku. Benar-benar menjijikkan dan membuatku ingin muntah. ”Dan mati?”

            ”Kau yang akan mati.” Aku mencoba untuk melawannya dan membuatnya tertekan. Sebisa mungkin kucoba untuk menyurutkan rasa percaya dirinya yang sialannya itu tidak berhasil. Ya, seperti biasa. Ia sombong. Tidak, bukan sombong, tapi lebih dari itu, bahkan ia menganggap dirinya adalah dewa. Seolah-olah ia adalah satu orang dari dunia ini yang dapat menguasai dunia.

            ”Kita lihat saja.”

            ”Kau itu brengsek, kau tahu? Sialan kau selama ini hanya memanfaatkanku!”

            ”Sudah kubilang, kan? Kau bodoh.”

            Sialan dia! Sialan!

            Aku segera berdiri dan berlari ke arahnya. Mencoba menyergapnya. Ya, emosiku sudah sangat terperangkap dalam tubuhku. Apalagi ketika aku melihatnya. Melihat si brengsek ini yang dengan sombongnya merendahkanku!

            GAH!

            .....

            Tunggu! Jangan bergerak! Dia punya pistol! Dia bisa menembakmu!

            .....

            Ya, dan kau juga punya pistol, kan? Kau juga bisa menembaknya.

            .....

            Ya, ada satu cara yang lain. Aku tidak benar-benar terperangkap. Meskipun ia sudah menodongkan pistolnya ke arahku dan bisa kapan saja membunuhku, aku masih memiliki satu kesempatan.

            ”Oke, oke,” aku berkata, ”jadi kau yang menang, hah?” aku tersungging.

            ”Ya. Itu benar. Akhirnya kau bisa mengakuinya. Aku senang, Jay.”

            Baiklah, lanjut ke pembicaraannya.

            ”Oke, oke.” Aku segera berjongkok dan mengangkat kedua lenganku.

            .....

            Baiklah, pistol itu berada tepat di samping kiriku.

            ”Kau menyerah begitu saja?” dia bertanya.

            ”Ya. Aku lelah dikejar-kejar polisi. Sekarang aku jadi buronan. Pekerjaanku sebagai bandar narkoba yang kemudian sialannya kau curangi itu tidak berhasil. Kau memang benar-benar sialan.”

            Aku tidak melihat tanda darinya akan membalas ucapanku itu.

            Ya, memang dia itu benar-benar gila. Aku dan dia telah menjalankan bisnis pengedaran narkoba. Dan setelah bertahun-tahun, akhirnya ia malah mengkhianati kami dan menjadikanku sebagai kambing hitam. Benar-benar sialan, bisa-bisanya ia menjebakku agar aku dapat dipenjarakan hanya agar kekayaannya lebih bertambah.

            ”Jay, kau menyedihkan.” Ya, ia benar-benar semakin sombong.

            Tapi di situlah kesempatanku.

            .....

            Baiklah, ia sudah lengah!

            Kuseluncurkan tubuhku dan segera kuambil pistol yang tadi terjatuh secepat mungkin. Aku bisa merasakan gagang pistol itu kini sudah berada di telapak tanganku. Ya, aku bisa melakukannya!

            Segera kutarik pelatuk pistol yang akhirnya berhasil kuraih itu. Sebuah suara meledak dengan keras dan membuat telingaku berdenging cukup kencang. Suaranya menggema dan membuat berisik seisi ruangan ini. Dan akhirnya aku juga bisa melihat ia segera ambruk.

            .....

            Tapi tiba-tiba aku merasakan rasa sakit pada dadaku. Warna merah mengucur deras. Darah muncrat dengan hebat. Aku bisa merasakannya, benar-benar dalam dan sangat menyakitkan. Guncangan yang keras.

            .....

            Dia telah menembakku.

            .....

            Apakah aku berhasil membunuhnya? Ataukah akhirnya ia yang membunuhku?

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Shinichi
Shinichi at Discovery (5 years 18 weeks ago)
70

saya bisa mengikuti suasana dan tensinya meski tidak terlalu cukup membuat saya penasaran dengan cerita ._.
kip nulis dan kalakupand :)