Nusantara Berbadai 1

Ketika siang telah meredup lelah, ia menyerahkan kuasa kepada senja. Namun kemudian senja mati bersama mentari. Maka menanglah bintang-bintang dengan membonceng malam; tapi berkedip mereka di antara gelap,  gelisah.

            Pada suatu desa di pesisir barat pulau Nurakarun, hiduplah seorang anak. Anak itu dibawa Ibunya setiap malam berperahu ke tengah laut. Meski sudah cukup jauh, tapi tetap saja ratapan anak itu berhasil menyakiti para penduduk.

            Malam menjadi gonjang-ganjing dengan gunjing. Sayup-sayup ratapan dan bisik benci berpadu mendayu-dayu; umpama mantra yang memanggil bulan untuk naik tahta, berharap cahaya peraknya akan mampu menenangkan si anak sehingga ratapnya reda.

            Bintang-bintang. Penduduk. Orkan, Sang Ibu. Semuanya gundah. Hanya malam yang tersenyum. Karena ia tahu kegelapan-kegelapan yang kelak akan diternakkan oleh anak bernama Ibarin tersebut.

            “Nanti ketika Dewa Nura turun ke dunia, kamu pergilah menghampirinya, memohonlah atas pertolongannya.” Sang Ibu berbicara sembari melempar jangkar. Kepang-kepang rambut Ibunya melecut-lecut liar dihajar angin. Jerit Ibarin mereda sebentar karena anak remaja itu berusaha membalas.  

            “Dulu seharusnya Ibu membiarkan mereka … “

            Ibarin megap-megap seperti ikan terperangkap di darat. Meski berbalut rantai, sentakkan-sentakkannya membuat perahu berayun liar. Jeritnya kembali tersulut. Urat-urat lehernya timbul tenggelam. Telinganya merah bergerak-gerak. Wajahnya biru membengkak. Dari hidungnya mengalir keluar darah dan ingus. 

            “Itu sudah hukum Aka nak. Siapapun yang disangka, berhak mendengar gemerincing bandul. Siapapun yang mendengar gemerincing bandul berhak berpartisipasi dalam hukum. Dalam kasus kita, adalah partisipasi berupa pembelaan diri. Takdir Aka telah ditetapkan, yang mati adalah ketiga pendeta itu. Karena mereka tidak mampu memenggalmu dalam sekali ayun maka Aka berpihak pada kita. Jika Aka saja sudah berpihak pada kita, maka Ibu yakin, Nura kelak juga akan memberikan jalan.”

            Orkan tidak yakin apakah anaknya barusan dapat mendengar omongannya atau tidak. Mata anak itu sekarang terbelalak putih semua. Raungnya semakin keras; air liur tersembur-sembur membasahi lehernya. Setelah mengernyitkan dahi dan menghela napas, Ibu itu meraih kain untuk membersikan segala noda darah, ingus, dan liur pada dirinya dan diri Ibarin.

            “Meski secara umum kitab-kitab cenderung mengantagoniskan laut. Kita seharusnya terus ingat nak, bahwa Nurakarun berasal dari laut. Mereka berhasil lolos dari durhakanya induk laut lalu datang ke daratan ini dan menjadi ilah kita.”

            Permukaan laut mendadak surut terlalu cepat sehingga perahu tersentak turun menyenggol karang. Kain itu terlepas dari genggaman Orkan.  Ibu itu memicingkan mata ke arah segaris ombak yang mulai menggulung di kejauhan. Ia menelan ludah ketika pikirannya mulai mengukur kira-kira seberapa besar ukuran ombak yang akan menghantam.

            “Engkau juga berasal dari laut nak, kau lolos dari marabahaya yang pastinya akan merenggut bayi siapapun. Aku percaya engkau merupakan bagian dari rencana besar ilahiah. Aku akan terus melindungimu dengan keperkasaan Nura, dan menyayangimu dengan kelembutan Arun.”

            Orkan sudah bersikukuh untuk terus melindungi Ibarin meski jika nanti ia perlu membantai semua pendeta yang menuntut mengulang kembali peradilan Aka. Setelah mengabdikan sebagian besar hidupnya menjadi salah satu pendekar ombak paling perkasa di pesisir, Ibu itu begitu percaya diri mampu melalui segala hal ini; dengan kesaktian yang telah dianugerahkan Nura kepadanya, dengan Palung Maut--tombak berkapak yang ia menangkan pada turnamen pendekar ombak--, ia percaya restu Nurakarun menyertainya.

            Ia memejamkan mata, membayangkan suara-suara indah bandul-bandul bergemerincing berjatuhan; menjadi lagu pengiring atas terpenggalnya pendeta-pendeta keras kepala. Namun kemudian jalinan nada bandul itu tertelan sebuah gemuruh yang tidak kenal ampun. Ombak besar itu datang.

            Masih menutup matanya, Orkan menyeringai. Menurunkan tubuh, menekukkan kaki, memasang kuda-kuda. Bersama sebuah seruan melengking yang keluar dari tenggorokannya, ia melompat menerjang ombak itu dengan Palung Maut tergenggam erat di tangan.

 

***

 

Dari pagi hingga sore pendeta-pendeta Nura berlalu-lalang keluar masuk di sebuah rumah; bentuk rumah itu berupa setengah bola berbahan pasir yang dipadatkan. Di sekeling bangunan utamanya terdapat beberapa bangunan setengah bola lain yang lebih kecil sebagai ruang pendukung; terlihat seorang pendeta berpatroli menelusuri. Pendeta-pendeta terebut bergilir melakukan pengawasan ketat kepada sosok Ibarin yang meresahkan. Mereka melakukan ini sebagai sikap waspada terhadap bakal petaka, karena secara satu per satu, sudah sembilan dari sepuluh suami Orkan meninggal setelah bayi Ibarin diadopsi. Namun segala penyelidikan, bahkan dengan bantuan tenaga ahli yang didatangkan dari luar pulau, juga tidak mampu membuat kesimpulan selain kematian alami, bukan pembunuhan, bukan kutukan, bersih.

            “Segala ini hanyalah kehendak Nurakarun. Aku selalu di sini, bersama Ibarin, juga bersama mereka suami-suamiku. Aku membuka mata, menyaksikan kehidupan berlalu dengan lazim. Tidak ada yang salah sama sekali dengan anakku ini. Memang Aka telah memutuskan untuk meniadakan mereka satu demi satu. Kalian tidak perlu ke sini lagi. Jika Aka kemudian meniadakan juga suami terakhirku ini, maka itulah kehendaknya. Tidak ada yang mampu menolaknya. Jika kau belum angkat kaki ketika malam tiba, aku tidak akan segan menggunakan kekerasan.” Protes Orkan kepada seorang pendeta yang baru saja datang; keduanya bertatapan sengit.

            “Demi keamanan masyrakat. Demi kedamaian tidur ilah. Saya rasa ini pantas. Gunakan kekerasan, maka nyonya akan dicap sebagai pengusik tidur Nurakarun. Hukum Aka akan jatuh dengan cepat tanpa ampun pada pengusik.”

            “Aku hanya mengusikmu, yang mengusik lebih dahulu ketenangan kediamanku. Jika bandul Aka dibunyikan nanti, seratus pendeta Nurapun yang turun, akan kupenggal semua. Hukum Aka akan jatuh dengan adil pada ahli fitnah.”  

            Pendeta-pendeta Nura memang harus memiliki tubuh tangguh sebagai media penyalur kesaktian Nura melalui bibit api, namun jika dibandingkan dengan keganasan para pendekar ombak yang berperan sebagai pengeram kesaktian dengan rahim tungku, tentu kesaktian pendekar ombak masih berada di atas jangkauan para pendeta. Maka ketika ibu dari Ibarin itu mulai mengangkat Palung Mautnya, ekspresi sang pendeta melunak. Pendeta kekar berjubah merah itu memalingkan wajahnya seraya berdehem, matanya melirik satu-satunya sosok suami Orkan yang tersisa sedang menggendong Ibarin. Begitu perhatiannya beralih pada corak-corak biru di sekujur tubuh balita yang digendong pria itu, sang pendeta merasakan kebencian deras membanjir menenggelamkan ketenangannya; ia melempar senyum kecut kepada Orkan, lalu pergi tergesa-gesa dengan tubuh gemetaran.

             “Orkan istriku, mungkin sebaiknya kamu bersikap lebih lembut sedikit. Lagipula dengan keberadaannya, rumah ini jadi terasa tidak terlalu sepi,” ujar suaminya yang kurus. Ia mendekat merangkul bahu Orkan dengan tangan kirinya, sementara tangan kanan masih menggendong Ibarin yang nyaris terlelap.

            “Magakaryan suamiku, apakah engkau kesepian? Apakah sebaiknya aku mencari suami lagi?” Tanya Orkan. Ia dekatkan wajahnya kepada wajah Magakaryan sehingga dahi dan batang hidung mereka bersentuhan. Setelah mengecup kelopak matanya, ia mengambil alih Ibarin dari tangan Magakaryan, juga menyerahkan Palung Maut pada suaminya itu.

            “Tidak jujur jika aku bilang tidak kesepian. Tapi mungkin dengan sepi ini, aku bisa mencurahkan perhatianku kepada Ibarin dengan sangat tenang tanpa perhatianku teralihkan oleh hal-hal lain.”  Jawab Magakaryan sembari berjalan menuju lemari senjata untuk menyimpan Palung Maut.

            “Apakah maksud engkau adalah, dengan tidak ada laginya pilihan ayah lain, maka Ibarin dapat fokus, hanya belajar seni kepada engkau?”

            “Rupanya kamu memang mengetahui diriku oh Orkan istriku. Mohon berilah restu.”

            Magakaryan menghampiri Orkan, lalu menjatuhkan dirinya, berlutut satu kaki. Kedua tangannya saling mengepal menompa dahinya yang tertunduk memohon. Orkan berjalan berputar mengelilinginya. Ia mendendangkan sebuah tembang. Tembang Hermaphrodit pertama dari kitab Khianat Laut.

 

Barang siapa tatap ombak berpendar hijau

Ingatlah pada lagu lampau

Barang siapa dengar debur bernyanyi

Renungkanlah makna lagu ini

 

 Merayap mereka datang!

Melata mereka jalang!

Mereka membunuh orang-orang!

 

Ketika khianat menyerbu anak-anak kami

Mereka hanya mampu lari dan sembunyi

Sementara kami ilahi bertempur setengah mati

Mempertahankan sisa-sisa jiwa yang selamat ini

 

Merayap mereka datang!

Melata mereka jalang!

Mereka membunuh orang-orang!

 

Barang siapa gundah dan galau

Segeralah bersendagurau

Barang siapa hidup hingga kini

Sebutlah nama Taralanat setiap pagi

 

Ketika dahulu khianat meniup kiamat

Yang tersisa dapat beranakpinak begitu cepat

Karena anugerah kami ilahi pada Taralanat

 

Siang hari Taralanat membuahi

Malam hari ia mengerami

Sepanjang tahun ia menyanyi

Menanti lahirnya seribu bayi

 

Taralanat yang pertama

Menetaskan juga yang kedua

Serta beberapa sejenisnya di generasi selanjutnya

Kasih kami pada anak-anak sepertinya

Selamanya

 

            Orkan berhenti. Suasana hening selama beberapa tegukan air liur. Berbutir-butir keringat menetes pada dahi Magakaryan. Cahaya yang menyusup melalui jendela-jendela segitiga mulai berganti warna menjadi jingga. Rupanya, matahari mulai mencelupkan diri pada samudera.

            “Engkau ingat mengapa aku memberi nama bayi ini Ibarin?”

            “Ivarin Sang Pensuci. Garakarana Manusia Pertama. Imalane Pendeta Pertama. Taralanat Induk Seribu Anak.” Magakaryan menggumamkan nama-nama itu pelan-pelan.

            “Benar. Nama Ibarin terinspirasi oleh sosok-sosok seperti mereka. Ketika terjadi krisis kebobrokan para pendeta, Ivarin mencuri tongkat bandul, lalu menyamar menjadi pendeta Aka, kemudian berkeliling pulau menjatuhkan hukum Aka pada setiap pendeta yang ia temui. Dengan restu Aka ia berhasil membuat pulau kembali suci. Sementara nama-nama yang engkau sebutkan tadi juga telah menorehkan kebaikan besar pada sejarah rohani pulau ini. Apa lagi kesamaan mereka?”

            “Sama seperti Ibarin. Ivarin, Garakarana, Imalane, Taralanat, dan beberapa sosok besar lainnya memiliki struktur nama di luar kelaziman masyarakat. Nama-nama ini melambangkan kenetralan. ‘Ibarin’ lepas dari kelaziman memberi bunyi ‘ka’ sebelum ‘er’ untuk nama lelaki dan bunyi ‘ka’ setelah ‘er’ untuk nama perempuan.”

            “Karena bayiku ini bayi netral. Ia bukanlah bakal petaka. Ia adalah bakal segala yang baik rupa. Pandanganku seperti ini, laut mengkhianatinya, lalu aku mengadopsi dan merawatnya. Lihatlah, Magakaryan buka pakaian bayiku ini. Tataplah kesuciannya yang langka, ia akan menjadi pria, juga wanita. Ia netral. Dan ia akan menjadi penjunjung agama. Maka oh Magakaryan. Maafkan aku. Aku tidak dapat memberimu restu untuk menyesatkannya dalam gejolak seni. Karya-karya senimu memang mengagumkan, maka dari itu aku khawatir Ibarin akan mabuk karenanya, lalu tergoda ia untuk meninggalkan agama.”

            Magakaryan bangkit berdiri. Masih tertunduk. Nadanya mulai naik.

            “Tapi istriku, sosok-sosok netral yang terpandang itu hidup pada zaman ketika wanita masih bertelur! Waktu telah bergulir. Zaman berganti kulit. Makhluk berubah wajah. Apa-apa yang membawa kegemilangan pada siang, bisa menjadi kecekaman pada malam.”

            Orkan mengangkat dagu Magakaryan. Menatapnya dalam-dalam.

            “Cukup. Aku yang bertaruh nyawa di tengah laut bertempur melawan hiu emas. Aku yang membawa bangkai ikan itu dan membuka perutnya. Aku yang berjuang melawan cemooh warga ketika mengadopsi bayi itu seketika itu juga. Aku juga yang akan menentukan bagaimana bayi itu nanti menjadi apa.”

            Baru saja Magakaryan hendak membuka mulut, Ibarin menjerit menangis. Balita itu menarik kepang-kepang Orkan dengan kuat. Magakaryan bergegas mencoba melepaskan genggaman itu. Jari-jari mungil Ibarin mengepal keras seperti batu. Tidak bisa.

            Terdengar ketukan pada pintu. Ibarin melemaskan jemarinya. Tangisnya juga berhenti. Namun Orkan dan Magakaryan dapat merasakan bahwa tubuh Ibarin masih sangat kaku dan tegang. Mata balita itu melotot pada pintu. Sekarang terdengar sebuah lonceng yang berdentang tajam.

            “Pendeta Tinggi!” Seru Magakaryan.

            “Menarik. Ayo.”

            Orkan dan Magakaryan bergandengan menuju pintu berbentuk setengah lingkaran. Lonceng itu berdentang lagi. Keduanya berhenti,  menarik napas dalam-dalam. Ketika pintu akhirnya dibuka, Orkan dapat melihat sosok seorang pendeta tinggi berjubah warna-warni dengan lonceng emas pada genggaman tangannya. Ia terkejut ketika menyadari bahwa di belakang pendeta tinggi itu tidak terdapat iring-iringan. Biasanya, seorang pendeta tinggi yang masuk ke wilayah pesisir Nura, setidaknya diiringi dua banjar pendeta. Satu banjar merupakan pendeta-pendeta Nura dengan jubah merah bergelora, satu banjar lagi merupakan pendeta-pendeta Aka berjubah hitam yang menjunjung tongkat-tongkat panjang dengan banyak bandul.

            “Bayangan Aka jatuh pada tahta belerang di kawah Nura. Saya datang sendiri hendak mencari kebenaran sebuah berita. Apakah anda seorang wanita yang dikabarkan memelihara bakal petaka?”

            “Maafkan aku wahai pendeta tinggi. Aku rasa tidak adil jika menyebut bayi ini bakal petaka tanpa bukti nyata. Mohon sebut anak ini dengan nama yang sudah aku berikan. Ibarin.”

            “Ah … Ibarin. Seperti Ivarin. Ya. Apakah benar seperti kata orang-orang bahwa anak ini lelaki juga perempuan?”

            “Hal itu benar adanya.”

            “Baiklah. Wahai pendekar ombak yang berjiwa karang. Saya akan melaksanakan ritual tingkat tinggi untuk menilai seberapa berbahaya Ibarin. Jika anda mau bekerjasama untuk melancarkan upaya saya, dan jika nanti saya yakin bahwa ia bukanlah bakal petaka, maka saya berjanji nanti akan mengangkatnya langsung untuk menjadi anak bimbing langsung dari salah seorang pendeta. Pendeta Nura? Aka? Arun? Pilihan di tangan anda. Saya punya firasat, dengan memberinya nama Ibarin, anda bermaksud untuk menjadikannya calon pendeta betul?”

            Di tengah perbincangan itu, Magakaryan menyela, “Apakah maksudnya nanti Ibarin tidak perlu mengabdi dahulu menjadi pendekar ombak atau penari salju untuk menjadi pendeta? Apa ini bukan merupakan kecurangan?”

            “Tidak ada manusia seperti Ibarin ini dalam waktu yang sangat lama sejak kabar-kabar dalam kitab-kitab. Merupakan kebanggaan bagi kependetaan yang sekarang untuk dapat berbagi zaman, ” jawab pendeta tinggi itu.

            “Kalau begitu silakan masuk. Namaku Orkan.”  

            “Bakrun. Nama saya Bakrun. ”

            “Aku Magakaryan.”

            Mereka berjalan masuk. Sementara keduanya menuju lengkungan jamuan tamu, Magakaryan meninggalkan mereka berdua. Selama berjalan, pendeta itu terus mengernyitkan dahi. Bola matanya berputar-putar hendak mengingat sesuatu. Ketika Orkan dan Bakrun akhirnya duduk pada sebuah anyaman bulu burung dan daun, pendeta itu terlonjak terkejut.

            “Orkan! Orkan! Apakah anda Orkan anak Arkon?”

            “Apakah engkau mengenal Ibuku wahai pendeta?”

            “Dahulu, ialah yang menjadi pendampingku dalam kelana rohani ke Timur. Setiap-tiap mereka yang diangkat menjadi calon pendeta, wajiblah ia ke Timur lebih dahulu. Berkelanalah kalian ke timur, ke padang perang para pendosa pirang. Sebarkanlah ajaran Nurakarun dengan tarian yang riang dan tombak yang bijak. Lalu kembalilah dengan kabar persahabatan dan sesuguhan untuk dewa.”

            “Kalau begitu bisakah engkau menceritakan kejadiannya lebih terinci! Bagaimana ibuku yang perkasa itu bisa pulang tanpa nyawa?”

            “Orkan anak Arkon. Ada detil-detil kabar yang sebaiknya anda tidak tahu. Ah ya, saya ke sini hendak melakukan ritual tingkat tinggi terhadap Ibarin. Maafkan saya. Perhatian saya memang terkadang mudah teralihkan seperti ini. Tolong anda menyediakan saya sebuah ruangan kosong serta beberapa kebutuhan ritual.”

            “Bisakah hal itu ditunda? Bisakah kita berbincang-bincang dahulu di sini? Suamiku usai menyalakan lentera-lentera sebentar lagi bisa aku minta untuk menyediakan adonan kepiting segar dan kenyal.”

            “Orkan anak Arkon. Aku bisa mengendus pedih yang memancar ini. Mungkin beberapa kata-kata saya ini dapat menghibur sedikit. Dahulu Arkon ibumu adalah salah satu pendekar ombak yang sangat perkasa dan cukup dihormati. Ia juga rajin memelihara bibit-bibit api yang ganas di rahim tungkunya. Sebuah mukjizat baginya bisa melahirkan diri anda. Orkan anak Arkon. Anda adalah mukjizat. Mukjizat yang memberikan Arkon senyum di saat-saat terakhirnya. Maka sekarang, segeralah lancarkan upaya saya untuk mencoba melakukan ritual untuk menolong Ibarin. Ibarin adalah mukjizat anda bukan?”

Read previous post:  
4
points
(871 kata) dikirim smith61 4 years 49 weeks yg lalu
20
Tags: Cerita | Cerita Pendek | fantasi | prologue
Read next post:  
Penulis isacchi
isacchi at Nusantara Berbadai 1 (4 years 47 weeks ago)

Diksi dan konsep ceritanya bagus banget, membuat orang (setidaknya saya) semakin ingin lihat konsepnya lebih dalam.

Saranku kurang lebih sama seperti Ryandachna, kamu perlu proofreader, editor, dan semangat untuk menyelesaikannya dengan baik.

Semangat ya, ditunggu kelanjutannya :D

Penulis adisutjipto
adisutjipto at Nusantara Berbadai 1 (4 years 48 weeks ago)

what the mining kiamat?

Penulis ryandachna
ryandachna at Nusantara Berbadai 1 (4 years 48 weeks ago)
100

"Jika anda mau bekerjasama untuk melancarkan upaya saya, dan jika nanti saya yakin bahwa ia bukanlah bakal petaka, maka saya berjanji nanti akan mengangkatnya langsung untuk menjadi anak bimbing langsung dari salah seorang pendeta." <--- aku nemu ini. 'langsung'-nya ada dua. redundant kayanya.

ceritanya uda keren, ga perlu dikritik. kamu cuma perlu proofreader sama editor . . . sama ngelawan procra. :p

Penulis smith61
smith61 at Nusantara Berbadai 1 (4 years 48 weeks ago)

Makasih udah mampir cha cha cha cha cha