Quête Pour Le Château de Phantasm - Season 2 - E03

“Hancurkan semuanya.”

“Ta-tapi, Kapten… Ini panti asuhan! Bagaimana dengan wanita dan anak-anak yang tinggal di sini?!”

“Roland… Wanita dan anak-anak yang tinggal di sini menyembunyikan penjahat perang dari Hyraphter!”

Sion masih setengah tidak percaya dengan kata-kata yang keluar dari mulutnya. Dibalik perintah kejam itu, ia hanyala seorang anak kecil yang bergidik ketakutan di medan perang.

Tapi tidak ada yang bisa ia lakukan. Ia tidak punya pilihan.

“Apa yang kalian tunggu? Ini perintah!”

“S-SIAP, KAPTEN!”

Sion ingat, entah berapa tahun silam, ia berdiri diam di depan sebuah panti asuhan di perbatasan Hyraphter. Matanya terpejam. Tangannya ia kepalkan kuat-kuat agar tidak tampak gemetar. Ia menunggu tangis dan jeritan yang akan mengikuti perintahnya tadi. Tentu saja baginya ini bukan pertama kali, tapi baru kali ini perintah penyerbuan ia serukan sendiri.

Hening.

Sion lalu membuka mata dengan ragu. Di sekelilingnya adalah pasang-pasang mata yang sama ragu, menunggu. Ia pun sadar betapa naifnya dirinya. Pasukannya tak akan bergerak sebelum ia mengayunkan serangan pertama.

Sion menelan ludah. Ia maju selangkah dan menendang pintu hingga terbuka. Seorang wanita berdiri di balik pintu. Sion tak ingat lagi seperti apa wajahnya saat itu, tapi sebelum gadis itu mengeluarkan suara, pedang Sion sudah menembus jantungnya.

“HEAAAAAAAAAAAAA!”

Puluhan bocah berzirah dan bersenjata merangsek masuk atas nama cenderawasih emas di dada mereka. Sion juga masih bocah. Belum genap satu purnama mereka menyandang gelar prajurit, mereka sudah harus menghancurkan kota dan menghabisi orang-orang tak bersalah.

Sion kembali memejamkan mata, mematikan nurani.

Panti asuhanku dulu dihancurkan tentara Set.”

Bertahun-tahun kemudian, ketika teman barunya mengatakan hal itu, Sion menelan empedu.

“Sion! Hei!”

“H-huh?”

Teguran Eik menyadarkan Sion dari lamunannya.

“Kau tidak apa-apa, kan?” tanya Eik lagi.

“Ah… T-tidak, aku baik-baik saja,” jawab Sion.

“Oke,” kali ini Edgar yang bersuara, “Kita tidak punya waktu untuk melamun! Saat ini pasukan Set dan Empire sedang bergerak mengejar kita dari dua arah. Tujuan kita hanya satu, bertahan sampai Wendy kembali saat bulan purnama tiba.”

“Tunggu dulu, bertahan saja tidak cukup!” timpal Senri, “Kita tidak benar-benar tahu dengan siapa kita berhadapan. Sejauh mana kemampuan mereka dan apa tujuan mereka?”

“Empire ingin menguasai Le Chateau de Phantasm. Set ingin menguasai Hyraphter dan menangkap Sion, benar begitu kan?” Edgar menoleh kepada Sion untuk memastikan.

Sion tidak langsung menjawab.

“Hanya itu?” tanya Senri lagi.

“Apanya yang hanya itu?” Eik terlihat bingung.

“Kalau yang mereka inginkan adalah Hyraphter, mereka tidak mungkin menyerang ke sini karena kota ini sudah hancur. Kalau yang mereka inginkan adalah orang ini, serahkan saja dia!”

“Senri! Kau gila ya?!” Eik terbelalak, “Mana mungkin kita menyerahkan Sion pada mereka!”

“Tapi, Tuan Eik, memangnya kita bisa melawan pasukan Empire dan Set sekaligus? Melawan satu monster seperti tadi saja kita sudah kewalahan, apalagi melawan dua pasukan yang jumlahnya ratusan orang! Dan kita tidak tahu mesin aneh apa lagi yang akan dikeluarkan Empire untuk menyerang kita!”

“Aku tidak takut pada mereka! Empire, Set, Setan Pohon, dewa sekalipun akan kubakar! Ratu sudah berpesan kita tidak boleh kalah sampai purnama nanti!”

“Diam, tolol! Kalian berdua sama saja!” bentak Edgar, “Secara logis memang sebaiknya Sion menyerahkan diri saja kepada pasukan Set—“

“Hei, Banci! Kau jangan ikut-ikutan—“

“Aku belum selesai bicara, dasar buluk! Menyerahkan Sion hanya akan mengurangi tenaga yang kita punya dan menambah kekuatan mereka. Kalau mereka mencuci otaknya dengan guna-guna atau sihir entah apa dari timur sana, bisa jadi kita akan langsung dihabisi. Lagipula, di saat seperti ini, tidak seharusnya kita mengorbankan teman—“

“Kau bilang apa barusan?” Eik memotong lagi.

“H-hei… Kenapa kau melihatku seperti itu? Menjijikkan tahu! AAAAAAAARGH! JANGAN SENTUH AKU!”

Tiba-tiba Eik menarik Sion, Edgar, dan Senri dalam satu rangkulan sambil tertawa-tawa. Sion juga tertawa, tapi matanya mulai terasa basah. Ia senang, untuk pertama kalinya ia benar-benar memiliki teman. Tapi Eik belum tahu bahwa ialah yang memimpin pasukan yang menghancurkan panti asuhannya dulu. Apa dia masih akan menganggap Sion teman?

“EDEA!”

Tiba-tiba terdengar jeritan. Mereka sempat lupa dengan keberadaan May dan Edea. Sion ingat, Edea terluka ketika melawan monster yang disebut Deter tadi. Belum lagi mereka sempat mendadak diserang oleh Vincent entah karena alasan apa. Sion dan yang lain segera menghampiri kedua gadis itu.

“Bagaimana keadaannya, May?” tanya Sion khawatir.

“Edea… aku tidak bisa merasakan denyut nadinya…”

“Minggir!” Edgar segera mengambil alih. Ia meletakkan kedua tangannya di atas jantung Edea dan menekannya seperti memompa sesuatu, “Ini tidak mudah. Kau, bantu aku!”

“A-apa yang harus kulakukan?” tanya May panik.

Sion perlahan-lahan menjauh dari mereka semua. Ia bahkan sudah tidak bisa berpikir jernih. Ia tidak bisa ikut merasakan euforia ketika Le Chateau de Phantasm muncul di angkasa. Ia lega Ratu Wendy mendapatkan tubuhnya kembali dan bisa pulang ke kastil bersama si gadis berambut perak. Tapi ia masih belum bisa keluar dari rasa bersalahnya sendiri untuk bisa bergabung dengan Edgar dan yang lain memikirkan cara bertahan hingga Ratu kembali saat purnama. Dan sekarang Edea sekarat. Sion tidak bisa berhenti berharap dia saja yang jatuh sekarat dan mati.

 “Sion, kau ikut saja dengan kami ke Le Chateau de Phantasm!”

“Mulai sekarang, kau adalah kacungku! Perintah Ratu Peri Yang Mulia Wendy tidak boleh dibantah! Syahahaha…”

“Di saat seperti ini, tidak seharusnya kita mengorbankan teman—“

Bagaimana Sion bisa meyakinkan dirinya sendiri bahwa mereka tidak akan meninggalkannya nanti?

Tanpa sadar Sion sudah berjalan cukup jauh. Herannya dia mendengar suara orang-orang di kejauhan, suara yang tidak ia kenal. Aneh, seharusnya orang-orang sudah mengungsi dari kota ini!

Sion mendekat ke arah sumber suara sambil mengendap-endap di balik puing-puing. Suara-suara itu makin terdengar jelas, diiringi dengan derap langkah kaki.

Pasukan Set tengah bergerak!

Sion tidak bisa memperkirakan jumlah mereka karena pandangannya yang terbatas, tapi ia bisa melihat emblem cendrawasih yang mereka kenakan. Mereka bergerak menuju Eik dan yang lainnya.

Sion berusaha berpikir cepat. Ia harus memberitahu teman-temannya, tapi apa sempat?

TIba-tiba terlintas di pikirannya sebuah ide gila.

“BERHENTI!”

Sion berdiri di hadapan pasukan yang mendekat itu. Tegap, tegas, dengan suara lantang. Ia melepaskan sapu tangan yang menutupi rongga matanya yang kosong. Itu bukanlah bekas luka perang yang bisa ia banggakan, tapi penampakan seperti itu selalu berhasil meninggalkan kesan.

“Aku Sion von Aere, mantan pemimpin Pasukan Morket generasi kedua! Aku ingin bicara dengan pemimpin kalian!”

Seperti yang Sion duga, sebagian besar tentara dalam pasukan itu terlihat masih muda dan belum berpengalaman. Sudah jadi kebiasaan di Kerajaan Set untuk mengirim pasukan terlemah di garda terdepan.

“Banyak yang akan gugur, tapi itu cara tercepat mendapatkan tentara yang lebih tangguh dan berpengalaman di medan perang,” begitu kata gurunya dulu.

Tentara-tentara muda itu siap dengan senjata terhunus, namun mereka tampak gentar mendengar nama Sion. Mereka mulai berbisik di antara mereka sendiri.

“Apa kau benar-benar… Kapten Von Aere?”

Mereka semua terdiam ketika seorang pemuda berambut pirang maju ke depan. Sion mengenalinya, adik seperguruan dan tangan kanannya ketika ia masih memimpin Pasukan Morket.

“Roland, lama tidak berjumpa,” Sion berusaha untuk terdengar tenang.

“Seharusnya kau sudah dihukum mati. Tapi kau lari,” Sion bisa merasakan pahit dalam kata-kata dan tatapan Roland. Benci. Sion tidak bisa menyalahkannya.

“Kau tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya, Roland,” ujar Sion, “Sekarang kita harus bicara. Kalian harus mendengarkanku. Apa yang kalian tuju? Tidak ada apa-apa di sebelah utara sana, seluruh kota sudah hancur!”

Reaksi Roland sama sekali tidak diduga oleh Sion.

“HABISI DIA!”

Dalam sekejap, Sion harus meladeni puluhan tentara Set yang menerjang.

“Roland! Tunggu dulu! Hei—Ouch!” satu sabetan mengenai lengan Sion. Ia mulai kesulitan, ia harus mencoba meyakinkan Roland untuk menarik mundur pasukannya untuk sementara, tapi ia juga harus menjatuhkan sebanyak mungkin tentara-tentara ini dan menghindari serangan mereka.

“Tentu saja aku tahu seluruh bagian utara Porte Nord sudah hancur. Aku yang menghancurkannya sendiri,” ujar Roland tenang. Sion tidak bisa menduga apa yang dipikirkan pemuda itu. Ia tidak bisa melihat wajahnya dan suaranya makin lama makin terdengar datar, tanpa emosi. Sementara anak buahnya bergerak, Roland hanya diam. Ia bahkan tidak melihat pergelutan mereka, seolah itu sesuatu yang tidak penting, tidak berharga.

“Ratu Circe memberi misi khusus pada kami, dan untuk itu kami harus menemukanmu dan rombonganmu yang bodoh itu. Sekarang kau sendiri yang menampakkan diri di depan kami, terima kasih banyak. Kami jadi yakin ke mana kami harus pergi.”

“Tunggu dulu! Misi khusus?! Bukankah kalian hanya ingin menangkapku dan menguasai Hyraphter—AAARGH!”

Satu lagi serangan berhasil melukai Sion. Berapa lama lagi dia bisa bertahan?

“Menangkapmu? Kau kira Yang Mulia masih peduli padamu, setelah semua pengkhianatan yang kaulakukan?”

Sion menggigit bibir.

“Roland… Bukan… Yang Mulia Ratu yang—“

“Mengkhianatimu? Jangan bercanda!” balas Roland, “Lagipula kami tidak butuh Hyraphter. Yang Mulia Ratu memiliki rencana yang lebih besar, rencana yang keberhasilannya bergantung pada misi ini.”

“Rencana apa yang—“

“Karena kau tidak akan hidup lama, aku akan berbaik hati padamu. Bagaimanapun juga kita pernah menjadi sahabat… Sampai kau menghancurkan segalanya.”

“Roland…”

“Yang Mulia Ratu memerintahkan kami untuk menangkap peri kecil yang ada bersamamu dan rombonganmu. Konon peri itu adalah kunci kekuatan yang bisa menguasai dunia…”

Peri… Ratu Wendy?!

Sion tersentak. Ratu Circe juga tahu tentang Le Chateau de Phantasm?!

“UUUUURGHHHH…”

Sion kehilangan keseimbangan dan jatuh berlutut. Rasa sakit menembus dadanya dalam satu gerakan lambat. Ia merasakan darah naik ke kerongkongan. Rasa amis berkumpul di rongga mulutnya, memaksa mengalir keluar dari bibirnya.

Dengan sisa-sisa kekuatannya, ia memohon.

“Bawa… aku pada… Ratu…”

Read previous post:  
Read next post:  
100

sundul

100

oke, kulanjutkan

100

kasian banget deh ini masi 0 poinnya. saya sundul :"(