Putri Matahari (entri lomba lcdp)

Hai, Tali, ternyata aku Utusan Bintang sungguhan! Kau tahu, kan, bagaimana sebalnya aku waktu Ayah dan Ibu memaksaku masuk ke Perguruan tahun lalu padahal mereka sendiri tidak tahu apa Bakat Bintangku. Aku bosan selalu ketinggalan pelajaran sedang teman-teman lain sudah bisa bicara dengan tupai, burung, atau kucing. Belum lagi, ada karya wisata ke hutan atau gunung itu – ih, kau tahu, kan, aku paling benci tempat kotor.

Musim panas ini aku terpaksa ikut karya wisata lagi. Kali ini ke Hutan Nyanyi Sepi dan Lembah Kristal Pelangi yang katanya sering dijadikan tempat pelajaran lapangan para cendekia Perguruan. Aku tidak terlalu percaya, sih. Soalnya hutan itu benar-benar hutan – tidak ada rumah pohon, kasur, tenda, bahkan jamban. Ya ampun, jalan dari desa terdekat sampai ke mulutnya saja sudah membuat kakiku pegal.

Guru Thaery semangat sekali menjelaskan macam-macam pohon. Kami harus mencatat semuanya di buku – lengkap dengan gambar kalau bisa, supaya lebih mudah waktu ujian nanti. Guru Thaery membawa kami lebih dalam dan dalam sampai menemukan sungai kecil berbatu yang melintang di tengah jalan. Ia masih asyik menjelaskan soal rumput pemakan semut dan bunga bau yang ada di seberang, sama sekali lupa kalau aku paling takut menyeberang sungai. Bagaimana tidak! Jembatannya tidak ada. Kami harus lompat dari satu batu ke batu lain – padahal itu, kan, licin. Aku sudah bilang pada Teruna Zses yang menjaga rombongan kami, kalau aku takut dan ingin kembali ke desa. Tapi dia memaksaku naik ke batu.

“Kamu harus membiasakan diri dengan hutan kalau mau jadi cendekia hebat,” katanya. “Ayah dan ibumu paling suka karya wisata, lho.”

Masa, sih? Aku tidak percaya Ibu yang mengomel kalau setitik debu saja ada di atas meja suka berkeliaran di tempat licin, basah, dan banyak serangga ini.

Aku tergelincir dua kali sampai sepatu botku basah. Daripada buru-buru menggendongku atau apa, Zses malah menertawaiku dan bilang, “Kalau kau takut lompat di batu turun saja ke air. Dangkal, kok.” Lalu dia sengaja berkecipak di sana. Airnya memang cuma sampai selututnya. Tapi aku lebih memilih merayap lewat batu-batu besar daripada harus mencebur ke sana – celanaku bisa basah semua.

Anak-anak lain sudah sibuk berlari ke sana ke mari – mereka menemukan bukaan padang tak jauh di depan. Semua merengek untuk diizinkan istirahat sebentar di sana, dan karena sudah mau jam makan siang, Guru Thaery setuju saja.

Aku senang, sih, boleh makan. Ada roti enak dan keju buatan nyonya desa baik hati. Aku melihat kanan kiri sebelum mengambil botol pembersih supaya tidak ada yang mengejek – sepertinya cuma aku murid Guru Thaery yang bisa sakit perut kalau makan dengan tangan kotor.

Aku makan beberapa suap, lalu benar-benar merasa perlu buang air kecil sekarang juga. Teman-teman lain sudah membentuk kelompok-kelompok kecil dua tiga orang yang berisik memamerkan bekal atau kemampuan bicara-dengan-binatang mereka. Guru Thaery asyik berduaan dengan Zses – iya, semua orang juga tahu mereka pacaran. Tidak enak mengganggu mereka. Tapi mau bagaimana lagi. Aku tidak mau mengompol.

Jadi kupanggil Guru Thaery, kuceritakan masalahku. Ia dengan baik hati menyuruh Zses mengantar. Zses mengawalku ke semak-semak. Aku sembunyi di balik gerumbul paling tinggi.

“Jangan menoleh, ya!” kuperingatkan dia. Kan, risih kalau laki-laki melihat anak perempuan di jamban dadakan. Toh, Zses cuma perlu mendengar untuk tahu ada bahaya. Dia, kan, punya Bakat Kelinci.

Aku baru saja membuka kancing celana waktu mendengar suara berbisik. Kau tahu, kan, aku kadang-kadang bisa mendengarnya!

“Zses –“ Aku takut. “Kau mendengar suara?” Celana kukancing kembali.

“Tidak,” jawab Zses. “Ada suara apa?”

“Jangan menoleh!”

Zses memunggung lagi, tapi aku yang was-was memeriksa keliling.

“Aku tidak mau buang air di sini,” kataku. “Ayo kembali.”

Aku mengeratkan ikat pinggang dan berjalan menuju Zses. Tiba-tiba kakiku tergelincir sesuatu yang lembek dan licin. Aku teriak keras-keras tapi Zses terlambat berbalik melompat. Dia gagal menangkap tanganku! Aku terperosok jatuh, terseret ke belakang, lalu byur! masuk ke sungai.

Aku mengompol. Tapi siapa peduli kalau kau mengompol di dalam air? Aku terseret arus, tersedot pusaran air berpusing-pusing. Rasanya telingaku sakit penuh air dan kepalaku pening karena terlempar ke sana kemari. Aku tidak ingat berapa sentakan dan gulingan, pokoknya tahu-tahu aku sudah masuk ke bagian sungai yang arusnya lumayan tenang.

Untung Ibu sering mengajakku berenang di kolam mandi rumah yang besar, jadi paling tidak aku bisa mengayuh ke sana ke mari untuk menyelamatkan diri. Aku melihat gerombol ikan-ikan hitam kecil lewat, lalu teringat kalau itu mautumpul yang sering muncul ke dekat permukaan meski juga senang menyelam. Langsung saja aku membuntuti mereka. Benar, tak lama aku muncul di permukaan lain. Bukan tempat aku terjatuh, tapi pasti cukup aman buatku. Kalau tidak aku tidak mungkin menulis ini untukmu, kan?

Jadi di mana aku? Aku berdiri di jalan setapak sempit – atau setidaknya terlihat seperti itu – di tepi sungai dalam gua. Di depanku ada tiang-tiang kristal paling keren yang bisa kau bayangkan. Warnanya merah, ungu, biru, hijau, dan kuning – berjajar seperti dinding taman sesat. Tingginya ebih dari balkon tingkat dua. Dan semuanya bercahaya!

Sebenarnya aku tidak yakin bisa keluar kalau masuk ke lorong kristal itu, tapi duduk di tepi sungai juga tidak akan membawaku pulang ke rumah, kan. Meski aku berusaha mengingat setiap belokan yang kuambil, sebentar kemudian aku sudah tersesat di ujung dinding buntu.

Ada bisik-bisik rendah dari balik kristal-kristal itu. Tapi anehnya, kali ini aku mengerti. Bukan. Bukan berarti suara itu bicara dalam bahasa kita, tapi, ah, entahlah – pokoknya aku mengerti. Seperti mendengar bunyi asing dan artinya langsung muncul begitu saja di kepalamu. Kalau kau mau tahu apa yang mereka bicarakan, sejujurnya aku juga tidak terlalu ingat selain:

"Kurasa dia memang di seberang," kata bisik yang lebih berat dan empuk.

"Tapi tidak ada apa-apa di sana tadi," sahut suara serak-serak tipis. "Atau kau mau bilang kalau ada kaum lain selain kita."

"Yaah dan tidak. Aku tidak yakin ada kaum kita di sini selain kita berdua. Mungkin para pemagut jahat atau ikan."

"Ikan! Aku tidak tahu ada ikan yang berkeliaran di darat."

Mereka masih berunding lagi soal memeriksa penyusup dan cara melewati air, jadi aku menyahut dari tempatku berdiri, "Halooo!" Ah, ya. Aku bicara dalam bahasa mereka – jangan tanya bagaimana caranya, semua mengalir begitu saja seperti kau sudah mengenalnya bertahun-tahun. "Ada 'orang' di sana?" Aku tidak tahu apa kata mereka untuk 'orang' jadi kupakai saja istilah kita.

"Dia bicara! Dia bicara!" bisik suara yang serak tipis.

"Yah, aku bicara!" seruku keras-keras. "Aku tersesat di sini. Kalian bisa menunjukkan jalan keluar?" Aku tahu mestinya aku bicara lebih sopan. Tapi waktu itu aku terlalu takut untuk memikirkan tatacara yang benar.

Si suara berat membalas, "Siapa kau? Kenapa kau ada di Lorong Kristal kami?"

"Aku Leia! Putri Sar dari keluarga Daelen!" jawabku.

"Sar? Daelen? Belum pernah dengar," komentar si serak.

"Dari mana asalmu?" tanya si suara berat.

"Rumahku di kaki Gunung Sen," jawabku. "Ummm, tapi kalau kau belum pernah dengar, aku terbawa ke sini karena pusaran air."

"Air!" mereka berdua sama-sama teriak.

"Dia datang dari balik air, jadi dia – dia –" si serak tergagap.

"Tunggu kami di sana, Leia putri Sar keluarga Daelen," sela temannya. "Kami harus berputar untuk mencapai tempatmu."

Aku bilang,"Ah, baik. Terima kasih untuk bantuannya!" Lalu duduk saja di pojokan dinding kristal itu.

Kau mungkin tidak bisa membayangkan betapa takutnya aku. Biasanya kalau pergi keluar rumah, pasti ada Ayah atau Ibu atau kakak-kakak, atau paling sedikit juga pelayan. Tapi aku baru terpisah dari Guru Thaery dan teman-teman, lalu terpontang-panting di pusaran air sampai rambutku lengket tidak karuan, lalu harus duduk di sini menunggu orang yang aku tidak tahu siapa. Uh, kalau tidak mengompol di sungai tadi, pasti aku terkencing-kencing juga sekarang.

Ada bunyi set set halus di langit-langit. Iya, bukan di tanah. Jantungku mau copot waktu aku mereka datang. Cahaya kristal yang berpendar biru ungu membuat badan mereka kelihatan jelas. Lelembek! Aku tidak bisa bilang mereka jenis apa soalnya aku juga baru pernah lihat. Yang satu mirip siput raksasa bertangan delapan – uh, lebih mirip tonjolan-tonjolan, sih. Yang satu juga mirip siput, ceking, kecil, agak segitiga, menggelayut di dekat mata lelembek yang besar. Ya, ampun! Ternyata aku bisa bicara dalam bahasa lelembek! Lelembek aneh pula! Pantas saja selama ini Ayah dan Ibu tidak tahu apa Bakat Bintangku. Ibu, kan, paling benci lelembek. Kau tahu, kan, betapa bersihnya rumahku dari makhluk-makhluk itu.

Dua lelembek merayap di langit-langit, melihatku dengan tatapan aneh di mata hitam mereka yang besar-besar.

"Kamu ini apa?" tanya lelembek besar. "Kenapa kau berdiri di atap."

Atap!

"Uh, ummm, aku – 'manusia'?" Aku memakai istilah bahasa kita – aku tidak yakin para lelembek ini pernah melihat manusia. "Umm, dan kurasa – kalianlah yang berdiri terbalik."

"Omong kosong!" protes lelembek kecil. "Kami tidak pernah kehilangan arah dan kami tahu kalau kepala kami selalu menghadap atas."

Tidak tahu, deh, yang mereka sebut atas itu apa.

Tapi lelembek yang besar menjulurkan kepalanya sampai hampir menempel mukaku. "Kau – Manusia?" desisnya.

"Yaaaah –" Aku tidak tahu harus menjawab apa.

Dua lelembek itu memelototiku sambil bisik-bisik sendiri tidak percaya.

"Tapi dia tidak coklat, besar, dan gempal seperti yang dibilang Nenek," kata yang kecil.

"Ya, tapi dia punya gunung di tengah muka," balas yang besar.

"Oh, apa artinya sebuah gunung?" sungut yang kecil. "Nih, aku juga bisa." Dia menggembung muka di antara dua mata sampai mirip kelereng.

"Dia datang dari balik air, Shisha! Dia pasti tahu jalan ke Matahari."

"Uh, maaf," selaku, "Matahari?" Mereka memakai istilah kita lagi. Bayangkan, satu bangsa yang tidak punya istilah untuk – matahari! "Aku belum pernah pergi ke Matahari. Uh, sepertinya memang belum ada yang pernah, deh. Tapi kalau kalian mau lihat, sih, ada di luar sana."

"Kau pernah melihatnya? Kau tahu bentuknya?" Tiba-tiba mereka jadi semangat.

"Oh, yaah, bola bundar, kadang besar, kadang kecil, kadang putih, kadang kuning, kadang merah."

"Utusan Matahari! Manusia! Kita menemukannya! Kita menemukannya!" Mereka kegirangan bersama sampai lelembek kecil bergelantung memutar-mutar di leher teman besarnya.

"Um, aku memang Manusia, tapi bukan Utusan Matahari," aku sudah berusaha sebaik mungkin agar mereka tidak kecewa. "Orang-orang bilamg kami Utusan Bintang. Dan juga, aku tersesat di sini, jadi kuharap kalian bisa menunjukkan jalan keluarnya."

"Utusan Bintang?" seru lelembek kecil. "Sepertinya pernah dengar – pernah dengar – " Tapi dia gagal mengingat-ingat.

Sementara lelembek besar mengerut dahi. "Kau datang dari luar, kan," katanya curiga.

"Uh, eh, iya. Tapi aku tersedot pusaran air. Rasanya aku sudah bilang tadi. Kalian tidak bisa membawaku 'berenang' keluar? Aku tidak bisa 'berenang' melawan arus."

"Kau tidak bisa?" lelembek besar terbelalak. Temannya pun ikut menganga lebar. "Tapi kau bisa masuk, kan," ujar si besar tidak terima.

"Yaaah, bisa masuk. Tapi tidak bisa keluar. Pusarannya, kan, ke dalam," kataku. "Apa kalian tidak punya jalan lain untuk keluar dari sini?"

"Sayang sekali tidak," si besar seperti merengut muram.

"Yah, kalau kami tahu cara menembus air itu pasti kami sudah menemukan Matahari dari dulu," tambah teman kecilnya. "Tapi aku tidak percaya ada Manusia yang bisa-masuk-tidak-bisa-keluar. Nenek bilang Manusia bisa menembus air. Terus warnanya coklat dan –"

"Kau harus menemui Nenek," kata lelembek besar.

"Apa Nenek tahu jalan keluar?" tanyaku.

"Nenek tahu jauh lebih banyak dari kami semua," ujar si besar. "Lagipula kalau kau tidak mau kami tetap akan memaksamu ikut."

Dia tidak kedengaran ramah.

"Kami butuh Utusan Matahari, Leia putri Sar keluarga Daelen. Naiklah ke punggungku."

"Leia saja cukup." Aku mencoba terdengar seberani mungkin. "Dan aku tidak bisa memanjat terbalik. Lebih baik kalau kau berputar ke sini dulu supaya aku bisa naik ke punggungmu."

Lelembek besar merayap turun ke lantai-gua-yang-sesungguhnya tanpa banyak bicara. Aku memeluk rumah punggungnya yang berulir-ulir – besarnya cukup untukku telungkup. Lelembek kecil menatapku dari balik leher temannya. Lalu si besar berputar lagi dan merayap di langit-langit.

Para lelembek membawaku menyusur Lorong Kristal sesat – terbalik, dengan kepalaku di bawah dan rambutku terjuntai-juntai. Aku mencengkeram punggung si lelembek besar kuat-kuat sampai mukaku panas dan perutku mual.

“Maaf,” aku mencoba mulai pembicaraan, “Apa kalian selalu berjalan seperti ini?”

Dua lelembek cuma menoleh aneh ke arahku.

“Uh, kurasa – kalian tidak masalah, kan, kalau berjalan – 'terbalik'?”

Mereka saling pandang.

“Yah, aku tidak biasa berjalan dengan 'normal' seperti ini,” kataku. “Kalau kalian tidak keberatan, kurasa lebih enak kalau kita jalan 'terbalik' saja.”

Mereka berpandangan lagi lalu lambat-lambat berputar kembali ke arah yang 'benar' – menurut kita. Akhirnya aku bisa duduk dengan kepala tegak.

Sepertinya lelembek kecil heran melihatku lega sehingga menyeloroh, “Aku tidak ingat Nenek pernah bilang Manusia suka jalan terbalik.”

“Nenek pernah bertemu Manusia?” Aku benar-benar berharap jawabannya “iya”, karena kalau begitu, Sang Nenek pasti bisa berenang atau tahu jalan keluar lain.

Tapi lelembek yang besar menggeleng. “Tidak ada satu pun di antara angkatan kami yang pernah melihat Manusia,” katanya. “Yang sekarang tidak dihitung.”

“Itu pun kalau kau benar-benar Manusia,” tambah temannya. “Pendek, tidak coklat, dan –“

“Jadi kalian tinggal di dalam 'gua' ini terus-terusan?” Aku tidak percaya ada bangsa lelembek asing yang tidak kami kenal padahal hampir setiap bulan ada murid-murid Cendekia yang berkarya wisata di atas sana.

“Apa itu 'gua'?” lelembek kecil memiring mulut.

“Oh, sudahlah. Lupakan. Tapi kalau belum pernah bertemu Manusia, kenapa kalian sangat tertarik pada Manusia?”

“Karena Matahari,” jawab lelembek besar. “Kami butuh Matahari.”

“Yah, atau kita semua mati –“ sahut lelembek kecil.

“Mati?” Aku bergidik.

“Kau akan mengerti nanti,” ujar lelembek besar.

Kami tidak saling bicara lagi sampai liang-liang gelap terserak di kejauhan diterangi pendar kristal warna-warni. Aku mengerjap dan mengusap mata berkali-kali waktu kami melewati jembatan besar. Di bawah sana ada jurang yang dalam, tapi tidak gelap – karena di dasarnya ada pelangi berkilau-kilau! Aku memaling wajah silau. Lalu dua lelembek membawaku ke muka satu liang berpintu.

“Maaf. Tapi kita harus masuk pintu dengan cara yang 'benar',” lelembek besar yang menggendongku memperingatkan.

Langsung saja aku mencengkeram tempurung rumahnya. Lelembek itu berputar menggantung lagi, lalu masuk perlahan ke dalam liang. Teman kecilnya langsung asyik menggerogoti batang-entah-apa di sudut ruang. Sementara Nenek yang mereka sebut-sebut duduk serius membaca pola serpih batu yang tersebar di 'langit-langit-menurut-mereka'. Begitu melihatku, Nenek lelembek langsung menepis semua serpih batunya, lalu meluncur mendekat, mengendus-endusku dengan mulut yang kembang-kempis.

“Itu dia, Nek! Manusia!” seru lelembek kecil sebelum teman besarnya sempat bicara.

“Manusia?” Mulut Nenek menguap lebar sekali di depan hidungku.

“Ya, Nek. Setidaknya dia bilang begitu,” kata cucu besarnya. “Kau harus memberi salam pada Nenek, Leia.” Ia melepar tempurung, membuatku jatuh menggelundung ke 'langit-langit'.

Liang para lelembek tidak tinggi, jadi jatuhku tidak terlalu sakit. Bahkan waktu mencoba bangun pun, aku tidak bisa lebih tinggi daripada duduk bersimpuh. Aku baru mau mengucap Salam Bintang, tapi Nenek lelembek sudah menguap lagi, “Kau duduk terbalik!”

“Ah, ya. Dia bilang Manusia tidak bisa berdiri tegak,” sahut lelembek kecil dari tumpukan batang-entah-apa-nya.

“Sungguh?” Mata Nenek membulat sebesar semangka. “Aku tidak percaya akhirnya aku bisa melihat sendiri Manusia yang diceritakan Ayah. Tapi kau jauh berbeda dari kata ayahku tentang Manusia. Kau pucat dan kecil sekali. Kata Ayah waktu Gouscar menembus air, dia tidak bisa masuk lewat Lorong Kristal karena badannya terlalu besar.”

“Gouscar?” Harus kuakui aku senang mendengarnya. Jadi dari situ asalnya Bakat Bintangku.

“Kau mengenalnya?”

“Um, yah – dia paman buyutku dari pihak ibu. Dia memang berkulit cokelat dan gempal, sih. Tapi aku tidak pernah ketemu soalnya dia, kan, sudah meninggal – um –“ kuakui aku menghitung dengan jari, “Seratus dua puluh satu 'tahun' yang lalu. Ooh! Jadi Nenek sudah umur berapa?” Aku membelalak lebar.

“Aku tidak tahu apa yang kau maksud dengan 'tahun', Putri Matahari. Tapi aku sudah hidup sejuta kelip Cahaya Pelangi,” ujar Sang Nenek penuh hormat. “Kami sangat tersanjung dapat menerima keturunan Utusan Matahari di liang kami. Terutama di saat-saat genting seperti ini. Kumohon terimalah hormat.” Nenek lelembek menggelembung tubuhnya menyerupai bola dengan kepala menempel di 'lantai'. Dua cucunya ikut berkata, “Hormat pada Putri Matahari,” lalu membungkuk begitu juga.

“Tidak. Tidak.” Sebetulnya aku takut. “Kalian tidak perlu memberi hormat begitu. Aku cuma anak kecil yang tersesat di sini dan membutuhkan petunjuk jalan keluar.”

“Kau tersesat?” Nenek mengernyit.

“Yaaah – Paman Buyut Gouscar memang jago berenang jadi bisa menembus pusaran air itu. Tapi aku cuma pernah berenang di kolam mandi. Oh, begitulah. Apa Nenek tidak tahu jalan keluar selain sungai itu?”

“Aku tidak tahu apa yang kau maksud, Putri,” kata Nenek khidmat. “Tapi menurutmu kedatanganmu kemari telah ditakdirkan.”

“Maaf?”

“Kau harus menyelamatkan kami, Putri.” Nenek membungkuk lagi.

“Maaf?” Aku merinding. “Nenek pasti salah mengerti, aku cuma –“

“Putri Matahari telah datang untuk memimpin kita menuju Matahari –“

“Uh, yah, kalau saja aku tahu jalan keluar –“

“Kau harus, Putri. Kau harus memimpin kami sebagai Penguasa.”

“Umm, aku tidak tertarik dengan penguasa-penguasaan, Nek. Aku cuma mau pulang – “ Aku sudah hampir menangis.

Tapi Nenek lelembek tidak peduli, malah memutariku sambil bilang, “Jangan terburu-buru memutuskan, Putri. Kami bisa memberikan apapun sebagai imbalanmu. Oh, kami punya ini.” Ia membongkari peti barang yang disimpannya di sisi 'langit-langit' liang. Diambilnya sesuatu yang berpendar pelangi lalu diberikannya itu padaku. Waktu melihat benda itu, dua cucunya sama-sama berseru, “Oh, tidak! Jangan! Anak Cahaya Pelangi!”

“Ya. Ya. Memang itu,” ujar Nenek sambil menjejalkannya ke tanganku. “Ini satu-satunya Anak Batu Cahaya Pelangi yang ditinggalkan ayahku, Putri. Kami selalu menggantungkan kehidupan pada Cahaya Pelangi di langit-atas-jembatan. Ini satu-satunya Serpih Pelangi. Serpih nyawa kami.” Dia mengunjukkan batu itu begitu hormat sampai aku merasa kasihan.

“Itu cuma kristal pelangi,” kataku. “Aku salah mengenalinya waktu ujian bebatuan bulan lalu, jadi tidak akan salah lagi. Ibuku punya banyak yang seperti itu di rumah.”

“Kau punya banyak?” Lelembek kecil hinggap hingga mata bulatnya tepat berada di depan mataku.

“Uh, yah, lumayan. 'Gua' tempat kalian tinggal ini pasti ada di bawah Lembah Kristal Pelangi. Kristal Pelangi memang membias cahaya matahari jadi warna-warni sampai lekuk dalam kristalnya berubah jelek dan tidak bisa berpendar lagi. Jadi Cahaya Pelangi kalian pasti –“

“Sssh!” Lelembek besar mendesis. “Prajurit datang!”

“Oh, tidak!” jerit teman kecilnya.

“Kau harus bersembunyi di dalamku, Putri!” Tahu-tahu Nenek menegakkan badan sampai seluruh perutnya terlihat, lalu merangkumku ke dalam.

Uh, aku tidak bisa menjelaskan apa rasanya berada di dalam lemak lelembek. Pokoknya aku sesak, terbanting-banting, dan tidak bisa mendengar jelas apa yang terjadi di luar sana. Sepertinya ada lelembek lain datang dan marah-marah karena Nenek menyimpan kristal pelanginya sendiri sementara semua lelembek lain menyumbang kristal-kristal berpendar untuk menggantikan Cahaya Pelangi yang semakin redup. Lalu menuduh Nenek menyembunyikan penyusup jahat. Cucu-cucu Nenek tidak terima. Ada pontang-panting lagi. Lalu tahu-tahu punggung Nenek dipukul.

Aku menjerit sekencangnya waktu terlontar keluar menabrak gantungan manik-manik di dinding liang. Aku mau berjongkok bangun, tapi lelembek kurus tinggi berwajah galak sudah menggeram di depan mukaku.

“Apa ini?” desisnya.

“Manusia, Shrata!” bentak Nenek. “Manusia Putri Matahari! Penyelamat kita. Kau harus sopan padanya.”

“Omong kosong apa itu?” sergah lelembek prajurit. “Kau pasti menyusup mata-mata pemagut jahat. Aku harus membawanya kepada Raja!”

“Jangan macam-macam pada Putri!” Cucu Nenek yang besar menerjang lelembek prajurit. Tapi Sharata lebih gesit menamparnya. Lalu prajurit itu menarikku, menggotongku seperti karung melesat melintasi jembatan besar terbalik – iya, terbalik sampai wajahku merah dan rambutku menjuntai-juntai.

Aku panik dan ketakutan. Di kanan kiri dan di pintu liang-liang, banyak lelembek menjenguk keluar mencari tahu. Ribut-ribut yang dibuat Shrata memang heboh. Shrata terus berlari sampai satu suara menghardiknya di tengah jembatan.

“Keributan apa yang kau buat di saat seperti ini?”

Shrata berhenti. Itu Sang Raja! Lelembek besar yang rumah tempurungnya berhias kristal berwarna-warni.

“Nenek Shnee menyelundupkan mata-mata penyesat kiriman para pemagut, Yang Mulia.” Shrata menghormat.

“Dia Manusia!” bantah Nenek dan dua cucunya yang ikut terengah di tepi jembatan. “Dia harapan kita, Yang Mulia. Putri Matahari.”

“Omong kosong!” sergah Shrata. “Biarkan Yang Mulia putuskan apa yang harus dilakukan pada mata-mata pemagut ini!”

Lalu prajurit lelembek itu 'mendirikan'-ku di jembatan. Iya. Terbalik.

Aku tidak ingat mana yang duluan: aku berteriak atau aku jatuh atau cucu besar Nenek berseru Putri! dan melompat untuk menangkapku. Aku terjun bebas ke kristal pelangi besar di dasar jurang. Cucu kecil Nenek meneriaki saudaranya, “Shno, kau gila! Kau bisa hangus kalau lompat ke sana!” Tapi Shno berhasil meraihku, merangkum aku dalam lemaknya yang menyusut, dan kami berdua berdebum membentur kristal pelangi bersama-sama. Brak! Krak! Bam! Kristal pelangi rontok. Keluar.

Aku terpanting di udara, menarik batang mata Shno. Ada satu dua sentakan, berputar-putar. Lalu Shno berteriak Panas! dan langsung mencebur diri ke telaga kecil. Ada bunyi desis waktu air mengobati lemak lembeknya yang mengerut. Lalu tiba-tiba dia tersadar, “Air!” Shno melonjak keluar telaga. Tidak pernah dalam hidupnya dia berendam di dalam air!

Aku menyipak air banyak-banyak ke tubuh Shno. “Kau harus banyak berendam. Kristal pelangi yang terlalu lama kena matahari memang gampang menyerap kelembapan. Jadi kau pasti kisut kalau kena.”

Lelembek itu mengerjap bingung. Aku menciprat air ke wajahnya.

“Lihat!” kataku. “Kita sudah di luar.”

Memang benar begitu.

“Gua kalian ada di sana,” aku menunjuk ceruk kecil di Lembah Kristal Pelangi. “Kristal kalian pasti dapat sinar dari pantulan kristal yang di sana, sementara kristal yang di sana dapat sinar dari Matahari. Hei! Benar, kan, kataku. Di luar sini ada banyak sekali kristal pelangi.”

“Oh,” sambungku lagi karena Shno cuma terbengong saja. “Lihat! Itu Matahari!”

Aku senang melihat wajah Shno yang tercengang polos seperti anak kecil menatap matahari yang berhias awan. Lalu ada teriakan dari balik pepohonan, “Leia! Kamu di sana?”

Sebentar kemudian Teruna Zses datang bersama Guru Thaery, berbinar-binar menemukanku baik-baik saja. Lalu menatap Shno, yang tingginya sepinggang mereka.

“Jadi ini Bakat Bintangmu,” kata Guru Thaery senang.

“Nah, makhluk apa ini?” sahut Zses.

Aku berpaling pada Shno dan baru sadar kalau aku tidak tahu mereka itu jenis apa. Jadi kutanya si lelembek besar, “Kalian menyebut diri kalian apa?”

Shno terlongo. “Oh, kami – kami –“

“Shush,” kataku pada Zses dan Guru Thaery. Itu 'kami' dalam bahasa 'mereka'.

Yah, mereka selalu memanggil diri begitu, kan.

Kapan-kapan kalau kau datang kemari, Tali, akan kuajak Shno dan yang lainnya bertemu denganmu. Yang jelas, aku suka sekali karya wisata!

Read previous post:  
Read next post:  
Punya ide tentang lanjutan karya ini ? Saat ini belum ada yang menulis lanjutannya. Ayo lanjutkan karyanya.
Penulis Riesling
Riesling at Putri Matahari (entri lomba lcdp) (5 years 5 weeks ago)
100

saya bingung bakat bintangnya apa :v
Tapi ini keren aaa

Penulis Maximus
Maximus at Putri Matahari (entri lomba lcdp) (5 years 7 weeks ago)
100

Purrrfeect seperti biasa kak stez ^^ ; tapi saya berharap ada lanjutannya >_<