The True Conqueror (entri lomba lcdp)

“Aku mungkin layak diadili dan digantung sesuai hukum manusiamu. Bagaimanapun, bila permintaanku tidak dipenuhi, pada kemunculan sinar matahari pertama mesin-mesin perang akan menghujani tanah leluhurmu dengan panah beracun dan bola api. Pejuangku akan membakar ladangmu, menodai kuil-kuilmu, menggantung setiap rakyatmu. Dan kejahatan ini akan terus berulang setiap harinya sepanjang aku masih hidup.”

 

“Hei! Hentikan keributan ini!”

Pria tua itu menghentikan pidatonya untuk sesaat. Sekelompok penjaga kota bergegas ke arahnya, hendak menyumpal mulut kakek tersebut. Orang-orang yang melihat hal ini mulai tertawa kecil. Di lain sisi, si pria tua malah berteriak dengan kegilaan baru.

“Ya, tertawalah selagi kalian bisa! Esok hari kalian semua akan berakhir di liang kubur! Kematian akan datang menjembut kita semua! Ini adalah hukuman para dewa! Akhir dari dunia ada di depan mata kalian! ”

Untuk sesaat para penonton kembali mengatupkan mulut mereka. Kata-kata si peramal gadungan menggantung seperti kabut beracun. Pria tua itu kembali melanjutkan ramalannya, berteriak hingga mulutnya berbusa. Ia hanya berhenti ketika penjaga pertama yang sampai langsung meninju wajahnya.

“Kyrev tidak membutuhkan pengecut sepertimu,” kata si penjaga sambil meludah. “Bawa dia ke penjara! Ia boleh berteriak hingga mati di sana.”

Hector yang dari tadi menyaksikan kejadian itu dalam sunyi hanya bisa menggeleng. Keadaan memang tidak terlihat baik bagi Kyrev, tetapi itu bukan alasan untuk menyerah. Di saat genting seperti inilah Kyrev membutuhkan pahlawan dan pemberani, lebih dari apapun.

Pahlawan, ulang Hector dalam pikirannya sambil tertawa kecil. Apakah ia menganggap dirinya sendiri seorang pahlawan? Ia tersenyum dan menggeleng.

 

Aroma sulfur tajam menusuk hidungnya ketika ia berjalan melewati kuali-kuali yang dipanaskan. Seorang petugas memberikan instruksi sambil mengintip melalui teropong dan para awak langsung mengatur posisi meriam dengan susah payah.

Dari atas dinding, Hector dapat menyaksikan apa yang disebut-sebut kematian. Lautan kemah membentang mengelilingi kota Kyrev. Ia dapat melihat sosok-sosok reptil yang menyerupai manusia di antara perkemahan. Sebagian mengenal mereka dengan namalizardmen, tetapi di sini mereka dikenal dengan nama kirzka. Mereka telah menjadi wabah bagi tanah ini, menjarah dan menghancurkan berbagai desa dan kota. Jumlah mereka setidaknya lebih dari tiga puluh ribu ekor. Jauh dari jumlah yang dapat ditangani oleh Kyrev.

Kyrev mungkin memiliki dinding yang tinggi, parit berpasak, dan meriam-meriam, tetapi kirzka adalah bangsa yang kuat. Sisik mereka hampir sekeras baju pelindung besi, kekuatan mereka setara dengan seorang pandai besi dan seringkali lebih dari itu. Mereka mungkin jarang mengandalkan mesin perang, tetapi mereka menggunakan naga tanah untuk menggempur kota.

Ia dapat menghitung enam ekor naga tanah di antara para kirzka. Raksasa itu berdiri setinggi bangunan tiga lantai dengan dua pasang cakar yang sekeras berlian. Makhluk ini biasa membuat terowongan sepanjang ribuan kaki dengan mudah. Siapapun yang memimpin pasukan ini, ia sudah merencanakan penyerangan ini dengan baik.

 

“Arslan, saudara-saudara kita dari sekte Dagorath sudah datang.”

Ia memandang makhluk kecil yang menghampirinya. Juchin mungkin bukan pejuang terbaik. Dia bahkan berdiri lebih rendah satu kepala dibanding manusia rata-rata. Meskipun demikian, ia menemukan Juchin sebagai seorang pengurus yang teliti. Bagaimanapun, seorang penguasa perang seperti dirinya tidak seharusnya direpotkan oleh masalah kecil.

“Bunyikan genderang perang, siapkan seluruh anggota klan,” geramnya pelan sambil mengangguk.

Juchin langsung berbalik dan menyalakkan perintah pada pejuang-pejuang yang bertubuh lebih besar dari dirinya. Dalam sekejap perintah tersebut menyebar melalui teriakan dan terompet tanduk. Suara dentum genderang menyusul tidak lama setelahnya.

Arslan mengamati kota yang ada di hadapannya untuk sejenak. Parit dengan pasak berduri, dinding kota yang tinggi dan kokoh, menara-menara penuh pemanah dan mesin perang. Di balik semuanya, hadiah besar. Ini akan seperti memecahkan kerang untuk mendapatkan mutiara di baliknya.

“Arigh! Berke! Pimpinlah pejuang di sayap kiri dan bawa empat ekor naga bersama kalian!”

Dua orang kirzka dengan tubuh sebesar tiang kapal langsung menggenggam kepalan tangan mereka dan membungkuk.

“Ulgan! Qulan! Kalian akan memimpin sayan kanan! Bawa seluruh tawanan perang bersama kalian. Kalian tahu apa yang harus dilakukan.”

“Kami tidak akan mengecewakanmu, tuan,” balas dua orang kirzka lainnya sambil menyeringai jahat.

 

Suara genderang para kirzka dan lonceng kota seakan mengadu keras. Hector berharap salah satu pihak berhenti sebelum gendang telinganya pecah. Di balik dinding kota, sukarelawan, penjaga, ksatria, dan tentara bayaran bergegas untuk mempertahankan kota. Sementara itu di luar dinding kota, para kirzka mulai berbaris dalam formasi-formasi berantakan.

Tiba-tiba sebuah gerombolan menarik perhatian Hector. Ia bukan satu-satunya yang menyadari hal tersebut. Di sekitarnya, pemanah dan penjaga saling bertukar pandang dan menunjuk gerombolan tersebut.

“Mereka bukan makhluk bersisik. Apa yang direncanakan kadal sialan itu?” pekik salah satu penjaga.

Ya, mereka bukan kirzka. Mereka manusia, tawanan perang, batin Hector.

Matanya terpaku pada orang-orang yang digiring di antara formasi kirzka tersebut. Keadaan mereka memperihatinkan. Tulang mereka terlihat menonjol di balik kulit,  tubuh mereka penuh dengan tanda perlakuan kejam, pakaian mereka lusuh dan robek-robek. Mereka semua hanya dapat berjalan gontai dengan mata yang membelalak penuh rasa takut. Sodokan tombak, ayunan cambuk, dan tendangan dari para kirzka memaksa mereka untuk terus berjalan hingga ke depan formasi.

Tidak mungkin. Tidak mungkin mereka berniat menggunakan cara sekotor ini, Hector berubah menjadi pucat ketika ia sadar apa yang akan terjadi.

Begitu manusia terakhir sudah berada di depan para kirzka, mereka menutup formasi mereka. Dinding pedang, tombak, dan berbagai senjata lainnya langsung mengarah pada para tawanan. Diiringi sebuah terompet tanduk, para kirzka dengan kompak mendorong tawanan mereka untuk maju.

“Siapkan anak panah kalian, anak-anak!”

Seorang petugas meneriakkan perintah. Hector memandang pria itu, dia adalah seorang veteran. Pria itu hanya berusia dua puluhan akhir, lebih muda dari dirinya, tetapi tubuhnya sudah dipenuhi dengan bekas luka. Dua buah bekas torehan membentang di sepanjang pipi dan bibirnya. Sementara itu tangan kirinya sudah digantikan dengan kail besi.

“Kita tidak mungkin menembak. Mereka adalah manusia! Mereka adalah saudara kita sendiri! Tidakkah kau memiliki hati?” protes salah satu pemanah.

“Para kadal sialan itu akan membunuh mereka bagaimanapun juga! Sekarang siapkan anak panahmu, nak!” bentak si petugas.

Sementara itu para tawanan mulai menangis dan melolong. Permohonan belas kasihan saling bertumpuk dari mulut mereka. Di balik tangis para tawanan, para kirzka terlihat siap dengan tangga dan perisai.

Hector hanya bisa membuang muka ketika ia mendengar suara dentum meriam yang pertama. Desingan tali busur menyusul, tetapi ia tahu tidak semua pemanah melepaskan anak panah mereka. Jantungnya seakan tersayat ketika ia mendengar pekik kesakitan. Ia tahu itu adalah pekik manusia.

Di tengah keragu-raguan penjaga kota, raungan kemenangan para kirzka membahana. Mereka berhenti mengancam para tawanan dengan senjata mereka dan beramai-ramai mendorong para tawanan. Suara basah yang menjijikan terdengar ketika tubuh manusia dengan cepat memenuhi parit berpasak yang mengelilingi kota.

Dengan menggunakan tubuh para tawanan sebagai jembatan, para kirzka mulai berlomba-lomba untuk memanjat masuk ke kota. Kabar baiknya, para penjaga kota sudah tidak sabar untuk menemui mereka. Seseorang harus membayar kekejaman ini.

 

Arslan mengamati jalannya pertarungan. Di sayap kiri dan kanan, pejuangnya merengsek dengan ganas. Sementara itu di atas gerbang utama ia dapat melihat panji-panji kerajaan yang berkibar. Kelompok ksatria yang menjaga gerbang utama seakan buta terhadap perlawanan di kedua sayap kota. Mereka mempertahankan posisi mereka. Pintar, puji Arslan diam-diam.

“Juchin, siapa yang memimpin pertahanan kota? Bukankah aku sudah membunuh Raja Leon dan putera-puteranya di ladang Corta?”

“Masih ada Putri Celeste, keturunan terakhir raja Leon, tetapi kupikir para ksatria kota Kyrev-lah yang memimpin pertahanan.”

Arslan hanya mengangguk. “Sepertinya tidak ada gunanya menunggu lebih lama. Berikan sinyal menyerang, kita akan menggempur gerbang kota. Dan perintahkan para anggota sekte Dagorath untuk memimpin di depan.”

Juchin mengeluarkan serangkaian perintah. Sekelompok kirzka berlari-lari kecil ke depan sambil menyanyikan himne pujian pada dewa api. Berbeda dari para pejuang yang mengenakan baju zirah ataupun rantai besi, para anggota sekte Dagorath hanya mengenakan jubah dari kain yang tebal dan topeng kulit yang menutupi kepala serta moncong mereka.

Arslan sendiri mengangkat kapaknya. Ia mengeluarkan sebuah raungan yang nyaring dan jernih sambil mengarahkan kapaknya ke gerbang kota. Para pejuang yang dari tadi menunggu langsung membalas raungan Arslan dengan menghentakkan senjata dan memukul perisai.

Mereka semua berlari secepat mungkin. Para pejuang yang terjatuh karena anak panah ataupun meriam langsung mati terinjak-injak oleh saudara mereka sendiri. Arslan dapat melihat pejuang-pejuangnya menerjang dengan rahang penuh buih dan mata penuh kegilaan.

Tangga-tangga didirikan di sekitar gerbang. Para anggota sekte Dagorath tidak menunggu seseorang untuk menyulut diri mereka. Dengan sukarela mereka membiarkan lidah api menjilat jubah mereka. Kobaran api menyelimuti jubah mereka yang sudah direndam dalam racikan pasta spesial. Sambil tertawa girang dan terus menyanyikan himne, mereka memanjat tangga.

Teriakan panik para penjaga kota dan nyanyian para fanatik melantun seperti musik di telinga Arslan. Sementara kobaran api menari dengan riang di bagian atas gerbang kota, hujan proyektil yang dari tadi mengganggu terhenti.

“Tuntun para naga tanah ke sini! Kita punya gerbang untuk dirobohkan!”

 

Hector dapat merasakan seluruh emosinya menghilang. Pikirannya jernih dan tenang layaknya sebuah kolam yang tidak terganggu. Di sekitarnya para kirzka meraung dan menerjang dengan liar.

Ia menghindari ayunan sebuah palu dan membalas. Claymore yang ia genggam dengan mudah memisahkan kepala si makhluk reptil dari lehernya. Dengan ketepatan seorang ahli pedang, ia membiarkan pedangnya terus mengayun. Ia membelah perut kirzka kedua yang menyerangnya, memotong tangan kirzka ketiga, dan menendang kirzka keempat di selangkangan.

Melihat ketenangan dan kemenangan Hector dalam bertarung, para penjaga kota yang lain menemukan keberanian baru di hati mereka.

“Ayo, anak-anak kita tidak akan membiarkan mereka masuk dengan mudah!” seru si petugas bertangan kail sambil menangkis ayunan liar kapak.

Tiba-tiba dari ujung matanya, Hector menangkap gerakan. Ia menoleh dan menemukan para penjaga kota terpental jatuh dari dinding. Seorang kirzka bertubuh besar dengan mudah menghempaskan mereka seakan-akan ia hanya sedang menepuk lalat. Raksasa tersebut bersenjatakan kapak bergagang panjang dan mengenakan baju zirah hitam dengan ornamen perunggu tengkorak manusia.

Reptil raksasa itu meraung dan menunjuk Hector. Para kirzka yang lain langsung melangkah mundur.

Kau menginginkan duel? Kau mendapatkan duel dengan ahli pedang terbaik di Kyrev, jawab Hector dalam hatinya.

“Mundurlah, aku dapat mengatasinya sendiri,” kata Hector pelan sambil memberikan isyarat pada orang-orang di sekitarnya.

Tanpa peringatan raksasa itu menerjang dengan kapak terangkat tinggi. Hector sudah siap untuk serangan itu. Ia menggeser beban tubuhnya dan mengangkat pedangnya untuk menangkis. Bilah pedangnya bergetar dan memprotes hantaman kapak tersebut, tetapi masih bertahan.

Hector menumpukan seluruh beratnya pada bahu dan menubruk dada si kirzka. Raksasa itu meraung kaget dan terhuyung ke belakang. Pertahanan si raksasa runtuh dan terbuka untuk serangan. Sayangnya leher si raksasa ada di luar jangkauan pedangnya, jantung si raksasa juga terlindungi oleh baja tebal. Pilihannya terbatas.

Dengan gerakan yang tegas, Hector menenggelamkan pedangnya dalam-dalam pada telapak kaki si raksasa. Kirzka tersebut menghentikan langkahnya. Dengan satu kaki yang terpaku ke lantai ia mencondongkan tubuhnya ke depan dan mengayunkan kapaknya dalam sebuah sapuan lebar.

Hector menunduk. Ia dapat merasakan hembusan angin sementara mata kapak melayang beberapa senti dari kepalanya. Pada detik mata kapak tersebut melalui dirinya, ia langsung bangkit. Hector menginjak kaki si kirzka sementara ia mencabut pedangnya. Sebelum raksasa itu sadar apa yang terjadi, Hector memotong tenggorokan lawannya.

Si kirzka menjatuhkan kapaknya. Ia melangkah mundur sambil mencengkeram tenggorokannya yang hancur.

Para penjaga kota bersorak sorai ketika raksasa itu jatuh tidak bernyawa. Di lain sisi, para kadal terlihat ragu untuk melanjutkan serangan mereka.

Suka cita mereka tidak bertahan lama. Suara ledakan derak kayu menarik perhatian mereka. Hector dapat merasakan jantungnya melompat ke tenggorokannya ketika ia melihat gerbang kota melayang keluar dari engselnya.

Pandangannya beralih dari menara-menara dan dinding yang terbakar, ke naga raksasa yang masuk ke dalam kota. Sebelum ia sadar, ia sudah berlari menuju gerbang kota yang runtuh. Para kirzka sudah masuk ke dalam kota.

 

Hari yang indah. Aroma manis daging yang terbakar, wajah-wajah manusia yang penuh ketakutan, suara dentang lonceng yang menyambutnya dan para pejuang yang ia pimpin. Sungguh hari yang indah.

Arslan sama sekali tidak menunggu para penjaga pribadinya. Ia langsung menerjang barisan tombak yang menghadang dengan gembira. Setengah lusin mata tombak patah ketika ia mengayunkan kapaknya, sebagian lagi patah ketika menghantam baju zirahnya yang tebal.

Kapak Arslan menggigit para penombak seakan-akan mereka hanyalah hewan ternak. Darah, daging, tulang, dan organ menusia dengan cepat membanjiri jalanan. Ia dapat memotong kepala sekaligus helm besi penjaga kota dengan satu ayunan, sementara tangannya yang bebas dengan mudah mematahkan leher penjaga lainnya dalam cengkeraman sekeras besi. Dengan setiap detak jantung, jumlah manusia yang ia bunuh melambung tinggi.

Di sisi kiri dan kanannya para saudara-saudaranya menyusul dengan keriangan yang sama. Para manusia tidak akan pernah memahaminya. Perasaan ketika kau terjun ke dalam padatnya tubuh lawan. Perasaan ketika kau menaklukan lawanmu dengan paksaan. Perasaan ketika kematian mengelilingi dirimu, tetapi tidak merengutmu.

Seperti ombak logam, sisik, dan otot, para kirzka tidak terhentikan. Para penjaga, ksatria, dan sukarelawan menghadang dengan sekuat tenaga, tetapi menemukan diri mereka terdorong mundur.

Dalam kesempatan terakhir, seorang perwira berhasil mengorganisir pertahanan yang solid di balai kota. Para penjaga dan ksatria berbaris dengan rapih untuk menghadapi para penjajah. Sementara itu pemanah-pemanah terlihat menunggu di atas atap bangunan yang mengelilingi balai kota.

 

“Juchin, suruh para pawang naga untuk merubuhkan bangunan-bangunan yang dipenuhi pemanah!” seru Arslan sambil menarik jubah Juchin dengan kasar sebelum melepaskan makhluk mungil tersebut.

Beberapa ekor anggota sekte yang selamat berlari secepat mungkin untuk membalap saudara-saudara mereka. Walaupun berada di tengah mabuk darah, para kirzka tetap sadar pentingnya menjaga jarak dengan pengikut dewa api.

Anak panah melesat dan menancap di sekujur tubuh para anggota sekte, tapi mereka tidak memperlambat lari mereka. Mereka menyanyikan himne pujian untuk dewa api. Dari balik jubah mereka, mereka mengeluarkan sebuah botol kaca. Secara bersamaan mereka memecahkan botol tersebut. Ketika cairan di dalam botol menyentuh udara, api berwarna merah kehitaman langsung menjilat keluar dengan rakus. Selagi jubah mereka dilahap api, para fanatik ini melemparkan tubuh mereka ke formasi penjaga. Satu dua ekor berhasil dihentikan oleh tusukan tombak, tetapi sisanya menebar kepanikan yang menghancurkan.

Arslan memimpin pejuangnya menerjang dalam kekacauan tersebut. Ia dapat merasakan mimpi indahnya berlanjut. Satu demi satu, manusia-manusia menantang dirinya. Satu demi satu ia mengirim mereka semua ke dalam dinginnya alam kematian. Di sekeliling dirinya, serpihan kayu dan batu beterbangan. Para naga tanah meraung dan meruntuhkan kota Kyrev dengan keempat cakarnya.

Sebuah terompet tembaga terdengar melambungkan sebuah nada yang murni dan nyaring.

Arslan menoleh tepat pada waktunya untuk melihat sekelompok manusia berkuda ke arah pejuangnya. Baju zirah mereka terlihat mengkilap di bawah kilau matahari. Panji-panji berkibar bangga di atas mereka. Di depan barisan ksatria tersebut, seorang manusia dengan jubah merah dan baju zirah perak memimpin. Sebuah mahkota emas terlihat di antara rambut pirangnya yang panjang.

Seorang perempuan? Tanya Arslan dalam hatinya. Sepertinya ia mengingat sesuatu yang dikatakan oleh Juchin, tetapi ia tidak tahu dengan tepat apa yang ia ingat.

Arslan tidak sempat menaruh ingatannya di tempat yang tepat. Sebuah pedang melesat ke arahnya dan ia hampir tidak sempat menangkisnya. Di saat bersamaan sebuah palu perang menghantam sisi helmnya. Ia menyalak marah dan hendak menerjang lawannya, tetapi sebelum ia sempat mengayunkan kapaknya, seekor ksatria beserta kudanya menubruk dirinya.

Ia meraung kesal. Batu jalanan retak dan hancur ketika ia menapak dan menahan laju kuda tersebut. Ia memeluk leher si kuda dengan kedua tangannya. Dalam sebuah hentakan kasar, kuda itu roboh. Leher yang tebal remuk di bawah tekanan tangannya.

Untuk sepersekian detik sebelum si kuda jatuh, penunggangnya mendapatkan keseimbangan dan melesatkan pedangnya ke arah Arslan. Arslan membuka rahangnya lebar-lebar. Ia menghindari tusukan tersebut dan mengatupkan taring-taringnya di dada si ksatria. Darah segar menyembur dari balik helm si ksatria ketika Arslan meremukkan baju besi sekaligus rusuk si ksatria.

Arslan memungut kapaknya yang tergeletak. Di sekitar dirinya, para pejuang terkunci dalam pertarungan melawan para ksatria. Ia tersenyum ketika menemukan perempuan bermahkota yang memimpin para ksatria. Putri Celeste, batinnya. Keturunan terakhir Raja Leon.

Ia menarik mayat manusia terdekat dan memenggal kepalanya. Dengan tangannya yang bebas ia memungut kepala tersebut dan berlari-lari kecil menuju Putri Celeste. Perempuan itu bukan lawan yang bisa diremehkan. Di bawah tapal kuda tunggangnya, tubuh para pejuang mulai bergelimpangan. Dengan gagah berani sang tuan putri menghadapi lawannya. Pedangnya yang ramping menikam para penyerang dengan ketepatan seorang ahli. Arslan dapat melihat dari mayat saudara-saudaranya, setiap kirzka yang menghadapi sang putri mati hanya dengan satu tusukan di tempat yang tepat.

Ia dapat merasakan mulutnya berair. Selalu ada kejayaan dalam mengalahkan musuh menantang.

Perhatian Putri Celeste langsung teralih pada dirinya ketika ia melempar kepala yang ia potong. Kepala tersebut melambung dan mendarat di atas sadel kuda si putri.

Arslan membentangkan kedua tangannya lebar-lebar sambil meraung. Arslan dapat melihatnya dengan jelas dari sorot kebencian yang ia keluarkan. Sang putri mengenali pembantai keluarganya.

Seringai di wajah Arslan melebar ketika ia melihat Putri Celeste melesat ke arahnya. Ia melempar dirinya ke samping tepat sebelum kuda tersebut menabrak dirinya. Dengan cekatan Arslan mengayunkan kapaknya. Kekuatan ayunan dan laju si kuda memberikan hasil yang memuaskan. Kapak tersebut memotong bersih sisi binatang itu dalam sekejap.

Arslan berbalik dan menatap lawannya. Mengecewakan. Putri Celeste terlihat berjuang dengan keras untuk membebaskan dirinya. Kaki kiri perempuan itu terhimpit di bawah tubuh tunggangannya yang sudah mati. Ini tidak akan menjadi pertarungan yang menantang.

Dengan tenang, Arslan menghampiri mangsanya. Sang putri mendorong mayat kuda tersebut dengan kakinya yang bebas, sementara ia mencoba meraih pedangnya yang tergeletak tidak jauh darinya.

Arslan menapakkan satu kakinya di atas bangkai kuda dan menumpukan beratnya di sana. Terdengar pekik tertahan dari sang putri. Kaki perempuan bodoh ini sudah patah, pikir Arslan. Bahkan bila ia berhasil melepaskan diri, ia tidak akan menjadi lawan yang berbahaya. Tidak ada gunanya membuang waktu. Sebaiknya habisi ia sekarang, batinnya sambil mendengus.

Ia mengangkat kapaknya dan siap untuk mempersatukan Putri Celeste dengan keluarganya. Tiba-tiba Arslan merasakan udara di paru-parunya meloncat keluar. Ia terhuyung ketika sebuah benda keras menghantam rusuknya.

Ketika Arslan mendapatkan kembali keseimbangannya ia melihat seorang pria bersenjatakan claymore berdiri menantang. Berani sekali manusia ini mengganggu, pikirnya sambil meraung. Ia melompat dan menerjang pria tersebut, tetapi pria itu dengan mudah menepis ayunan kapaknya. Tidak hanya itu, si manusia juga melancarkan serangan balasan dan melukai lengan kanannya.

Untuk sesaat mereka saling bertukar serangan. Tanpa ia sadari, setengah lusin luka kecil sudah memenuhi tubuhnya. Kesabarannya dengan cepat hilang. Ia tidak punya waktu untuk terus bermain seperti ini. Arslan mengejutkan si ahli pedang dengan melemparkan dirinya langsung ke pedang yang terhunus. Pedang tersebut menusuk perutnya, tetapi Arslan tidak memedulikannya.

Selagi claymore si ahli pedang masih terkunci di dagingnya, Arslan menggigit kepala manusia itu. Darah segar dan benda empuk membasahi mulutnya. Ia melempar tubuh yang tidak bernyawa itu seperti orang yang membuang sebuah boneka kain.

Tiba-tiba Arslan mendengar suara pekik penuh frustasi. Ia menoleh dan menemukan Putri Celeste berjalan terpincang-pincang dengan pedang terhunus. Perempuan itu meluncurkan pedangnya dalam gerakan menusuk yang kikuk. Dengan mudah Arslan menangkap bilah pedang tersebut dalam genggaman tangannya.

Sekarang ia dapat melihat dengan jelas wajah sang tuan putri. Air mata membasahi pipinya, tetapi matanya tetap berkobar dengan kebencian yang sama. Sorot yang penuh perlawanan itu bahkan terus bertahan ketika Arslan mencekik leher si putri dengan tangannya yang bebas.

“Arslan! Arslan! Jangan bunuh perempuan darah biru!”

Juchin terlihat menggelantung di lengannya sambil berteriak panik. “Tidakkah kau ingat, perintah Khan Temur?”

Arslan melepaskan cengkeramannya dan membiarkan Putri Celeste jatuh terkulai. Ia mendengus. “Ya, sekarang aku ingat.”

 

***

Read previous post:  
Read next post:  
Punya ide tentang lanjutan karya ini ? Saat ini belum ada yang menulis lanjutannya. Ayo lanjutkan karyanya.