Quête Pour Le Château de Phantasm - Season 2 - E05

Akankah berakhir seperti ini?

Edgar melangkah dengan ragu-ragu. Di sekelilingnya, para penduduk kota yang tersisa menutup rumahnya rapat-rapat, beberapa tampak membawa barang dan tunggangan seperti hendak bepergian jauh.  Di bagian kota yang ini kondisi bangunan masih bagus, tapi ancaman dari Set dan Empire, juga pilar cahaya bukanlah pertanda yang baik.

 Di tangannya tergenggam buku sihir kebanggaannya. Dirinya, Edgar, adalah seorang summoning scholar yang cerdas. Sudah beberapa kali dia menyelamatkan teman-temannya dengan memanggil dewa-dewi yang terikat kontrak dengannya. Bisa apa bocah api bulukan itu tanpanya. Memang benar Eik itu kuat, tapi terlalu ceroboh.

Syahahahaha…

Edgar berhenti melangkah, dia menoleh ke belakang. Tadi sepertinya terdengar suara Wendy, tapi hanya jalanan lengang dengan sosok suram beberapa penduduk yang ada di belakangnya. Mungkin hanya khayalannya. Selama ini Wendy tak pernah lepas darinya. Ketiadaan peri kecil itu kini seakan menyisakan kehampaan, hal yang sedari tadi dirasakan Edgar, tapi berusaha diabaikannya. Padahal belum penuh satu hari saat Wendy alias Anastasia menghilang ke Le Château de Phantasm.

Ah, sejak kapan dia jadi melankolis begini? Bukankah dia seharusnya lega karena sudah berhasil lepas dari syahahaha Wendy yang membuat kepalanya pening?

Edgar mendongak menatap langit. Hari masih siang, tapi awan badai membuat hari seakan sudah petang. Purnama tiga hari lagi—perhitungannya tak pernah salah. Saat bulan bersinar penuh nanti genap dua purnama sejak kali pertama dia melakukan summon untuk memanggil Anastasia, bersamaan dengan akan kembalinya Anastasia dengan kekuatan sejatinya. Bisa dibilang sebuah kebetulan.

Hei, kacung, syahahahaha…

Kenapa suara nyaring Wendy masih saja terngiang di dalam kepalanya? Menyebalkan!

Edgar melanjutkan langkahnya dengan cepat. Mungkin di antara orang-orang yang mengungsi ini ada yang bersedia memberi tumpangan padanya.

Kau pria bertoga pengecut!

Langkah Edgar terhenti lagi. Dia yakin tak ada Eik di belakangnya yang mengucapkan kata-kata hinaan yang dia anggap didengarnya. Dalam keadaan biasa jika Eik mengucapkan kata-kata hinaan, buku berat Edgar pasti langsung mendarat di kepalanya. Bocah api bulukan itu sering membuatnya jengkel.

Edgar paling benci disebut pengecut dan lemah. Sejak menjadi seorang summoning scholar, dia bertekad menjadi kuat dengan mengisi penuh buku mantranya.

Edgar berlari ke salah satu bangunan kosong yang masih utuh dan naik ke balkon lantai dua. Dari sana dia bisa melihat asap yang membubung dari perkemahan pasukan Set di tenggara, di seberang selat. Mungkinkah Sion berada di sana? Kemungkinan dia telah ditangkap oleh pasukan Set. Entah apa yang sedang terjadi padanya saat ini.

Di utara dekat dengan pantai, tampak sosok gelap pasukan berbaris. Wujud mereka bukan pemandangan yang bagus.

“Pasukan mayat hidup si setan pohon! Bukan, pasukan mayat hidup yang dibangkitkan Anastasia dari kekuatan yang diambil dari si setan pohon,” Edgar terdiam merenungi kalimatnya. “Ah, terserah.”

Dengan pasukan yang ditinggalkan Anastasia dan Alicia, mereka masih bisa menahan serangan dari Pasukan Set. Tapi lain halnya jika pasukan Empire dan Iblis Magorath turut menyerang.

Edgar menatap ke puncak bangunan rumah sakit yang beberapa menit lalu ditinggalkannya. Dia telah mengatakan hal-hal yang tidak enak pada Eik. Walaupun selama ini mereka memang jarang sekali akur, tapi itu bukan perpisahan yang diharapkannya.

Selama hampir dua purnama mereka selalu bersama, hampir seperti keluarga. Eik, Sion, Wendy, kemudian muncul Senri. Edgar sejenak merasa lega bisa lepas dari mereka, tapi ada sesuatu yang mengganjal jika meninggalkan semuanya dalam keadaan seperti ini.  

“Eik dan Senri tak akan bisa bertahan tanpa bantuan seorang summoning scholar.”

Skors dari Hecate baru berakhir saat matahari terbit esok hari. Sampai saat itu tiba Edgar bertekad akan berjuang dengan kekuatannya sendiri, tentu saja tanpa merusak penampilannya. Dia merapikan jubahnya yang agak berantakan, juga memperbaiki posisi toganya.

Edgar segera kembali ke gedung rumah sakit, tapi dia melihat dua sosok berlari menuju pantai. Mereka adalah Eik dan Senri. Edgar menyusul mereka.

Saat Edgar berhasil menjajari langkah mereka, Eik yang menyapanya lebih dulu.

“Hei, Edgar! Kau berubah pikiran? Kau pasti menyadari perkataanku benar kan. Kita masih punya kesempatan untuk mengalahkan mereka!”

“Jangan percaya diri dulu, Eik. Kita belum tahu bagaimana mengendalikan pasukan mayat hidup menjijikkan itu. Jika si setan pohon tiba-tiba muncul, bisa-bisa mereka balik menyerang kita.”

***

“Ratu Circe adalah ibu kandungmu,” kata-kata Roland kembali terdengar di dalam tenda utama milik Sang Ratu Set.

“Kekonyolan apa yang kau karang ini?”

Sion melirik sekilas wajah Circe yang tetap tenang tanpa mengendorkan belatinya.

“Jawab, Circe! Apakah ini cerita yang kau karang agar aku kembali ke pasukan?” desak Sion.

Tak ada jawaban selama beberapa detik yang rasanya berjam-jam hingga Circe bersuara.

“Tidak ada cerita karangan, Sion von Ære. Apa yang kau dengar itu adalah kebenaran. Kau adalah anakku dan ayahmu adalah Ignir. Kau seharusnya menjadi prajurit terkuat yang memimpin pasukan Morket dan mengabdi padaku hingga akhir hayat. Tapi lihat apa yang kau lakukan sekarang!”

“Diam,” kata Sion.

“Darah kerajaan Set mengalir di tubuhmu, Sion von Ære—”

“Diam! Aku tak ingin mendengar ocehanmu lagi, Circe. Kau bukan ibuku. Dan Guru Ignir, Guru Ignir adalah ayahku…,” Sion tertawa, getir. “Seorang ibu takkan menyuruh anaknya untuk membunuh ayahnya sendiri.”

Sion mempererat cengkeramannya pada pundak Circe, Ratu yang dulu pernah dipujanya. Kini tidak lagi. Tak akan ada yang berubah walaupun dia mengetahui kenyataan pahit ini. Set bukan rumahnya lagi.

Dia bisa saja dengan mudah mengiris leher Circe, tapi diurungkannya. Hal yang berikutnya terjadi dengan sangat cepat. Hampir tanpa disadari oleh pasukan Set yang ada, Sion telah membuat Ratu Circe pingsan dengan memukul bagian rawan di tengkuknya, kemudian melumpuhkan semua pasukan yang berada di dalam tenda termasuk Roland. Semuanya tergeletak pingsan. Selama beberapa saat Sion memandangi mereka dengan sebelah mata yang berkilat merah, setetes air menggantung di ujung matanya. Dia membungkuk untuk meraih tongkat sihir Circe kemudian mematahkannya.

Sion menyeka ujung matanya, lalu menyelinap keluar dari tenda lewat sobekan yang dibuatnya di bagian belakang. Sekarang bukan di kastil kerajaan Set, jadi pasti mudah melakukan pelarian. Namun, sebelum itu dia ingin meninggalkan oleh-oleh. Pasukan sebesar ini pasti membutuhkan banyak bahan makanan. Sion tidak suka menyia-nyiakan makanan, tapi demi memperlambat pasukan Set, tenda bahan makanan harus dihancurkan. Setelah itu, dia akan kembali pada Eik dan mengaku dosa. Mati di tangan Eik sepertinya lebih pantas dibandingkan mati di tangan Circe atau pasukannya.

***

Read previous post:  
Read next post:  
30

Gyaah, aku suka sama gaya bahasanya. Kayak ada sesuatu yang memaksa untuk baca dari kata pertama sampai kata terakhir. :)