Afair

Kamar yang kusewa, beraroma parfum perempuan dan gadis yang telah kehilangan mucous membrane-nya, serta dipadu dengan aroma idiosinkratis tubuhku. Namun sekarang, kedua Hawa itu telah pergi, hanya ada diriku beserta konfigurasi dari inkorporasi ganda esensial dan sintetis yang memenuhi setiap inci udara.

Eufoni rinai hujan di balik jendela mirat transparan, masih terdengar, seakan telah berafiliasi dengan waktu untuk menciptakan andante yang abadi, dalam inti detik yang selalu membeku. Petir pun tak lupa untuk menggelegar, menyelaraskan nada prestonya dengan bingkai harmoni partitif langit, bagaikan interlude fermata dalam partitur udara.

Di sudut birai jendela kayu di depanku, basah oleh rembesan air hujan yang berusaha menginfiltrasi ke dalam. Kaca kalisnya telah buram akibat terjangan air hujan yang membabibuta, seolah-olah ingin mengatakan, bahwa udara di luar sana sangat dingin, berbeda dengan suhu di dalam kamar yang terlampau hangat.

Di dalam kamar, aku duduk bersandar di tepi ranjang bekas persetubuhan. Jangan dulu menunduh diriku telah melakukan fornifikasi, atau abduksi dengan metode keji, dengan dalang cinta, uang dan kekuasaan. Aku menyetubuhi gadis yang sah untukku, istriku sendiri, yang 24 jam lalu telah dilegalisasi oleh penghulu dan diaklamasi para saksi. Aku telah sah menjadi seorang suami, dan sedang menjalani bulan madu dengan seorang istri. Jadi, aku tidak melakukan delik susila sama sekali.

Meski istriku telah pergi 2 jam lamanya, mencari kudapan katanya, tetapi aroma tubuhnya yang lembut masih tersisa di tubuhku. Bahkan keringatnya yang beremulsi di kulitku yang belum tersentuh air, masih mengental tanpa mengalami evaporasi. Hangat tubuhnya, lenguhan nikmatnya, kecupan bibirnya yang bagai serbuan letal dari surga, masih bisa aku rasakan dengan nyata.

Laguh-lagah hujan tambah bergemuruh di luar jendela, seolah mengutukku yang mengenang kembali persetubuhan tadi. Dalam derai amarah ribuan air itu, aku mendengar suara langkah kaki yang lembut di luar kamar. Dinamika resonansinya di lantai, hampir tak terdengar, dan aku mengenali langkah kaki yang seperti itu. Itu langkah kaki istriku, Kristal.

Kristal mengetuk lembut pintu kamar, lalu terdengar usahanya untuk membukanya, tetapi pintu itu terkunci, dan dia lupa membawa kuncinya.

"Shin, kamu di dalam?"

Belum sempat aku menjawab pertanyaannya, kudengar langkahnya menjauh dari pintu. Beberapa saat kemudian, dia kembali dengan beberapa orang. Ada nada-nada cemas di suaranya yang hampir tidak bisa kutangkap. Lalu orang-orang yang bersamanya, terlihat begitu tergesa-gesa untuk membuka pintu.

Bersamaan dengan petir yang menyambar di kejauhan, pintu kamarku terbuka. Orang-orang yang melihat ke dalam kamar, seketika terkejut. Di mata mereka yang terbelalak, aku bisa melihat bayangan diriku yang duduk kaku di tepi ranjang dengan tengkorak retak. Seorang segera muntah, seperti baru saja meminum emetik, seorang lagi segera melapor polisi.

Sementara istriku, Kristal jatuh terduduk di lantai. Air matanya merebak, kepalanya menunduk, bahunya turun naik dengan isakan sedih. Namun dari balik rambutnya yang tergerai jatuh, aku melihat gerakan ujung bibirnya.

Dia tersenyum, senyuman gembira seperti yang diperlihatkan kakaknya satu jam yang lalu, sebelum memukul telak kepalaku.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer iman
iman at Afair (4 years 32 weeks ago)
80

Pertama saya buka kemudian lagi yah yang saya baca adalah ini....Ini prosa kah?..Saya jadi ingat kahlil gibran lagi tapi yang ini lebih modern. Tapi hebat kak mungkin akan jadi bahan inspirasi saya lagi untuk lebih kreatif dalam menulis

Writer shinagakari
shinagakari at Afair (4 years 39 weeks ago)

pilihan katanya bagus, meskipun cukup merepotkan orang awam. coba kalo banyak penulis seperti ini, mungkin sastra indonesia bisa lebih bermutu

Writer masykur
masykur at Afair (4 years 43 weeks ago)

ane newbie, komen2 dl gan

Writer Shin Elqi
Shin Elqi at Afair (4 years 43 weeks ago)

tapi, jangan asal komen, ya. Beri review singkat, lebih bagus saran atau kritik yang membangun.

Writer Shinichi
Shinichi at Afair (4 years 45 weeks ago)
60

sepertinya dayeuh udah mewakili apa yang saya rasa ketika membaca ini. bahasa sederhana saya siy berupa tanya: apa fungsi pilihan diksi di sana dengan ide cerita atau konflik, atau latar belakang karakterisasi tokohnya? karena kalau kurang kuat hubungannya, pembaca bisa menuduh narasimu cuma pameran kata :)
kip nulis :D

Writer Shin Elqi
Shin Elqi at Afair (4 years 43 weeks ago)

ouch, saya jadi tertuduh >_<

tidak ada fungsi atau pun motif dibalik pemilihan kata-kata itu, cuma keegoisan saya saja yang dilatarbelakangi dendam terhadap writer's block. Itulah kesaksian saya. : v

terima kasih Bang

Writer Ann
Ann at Afair (4 years 46 weeks ago)
80

Bahasanya, keren! Banget! tapi agak berat buatku :3 tapi serius ini keren!

Writer Shin Elqi
Shin Elqi at Afair (4 years 43 weeks ago)

terima kasih... :D

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Afair (4 years 47 weeks ago)
70

hal yang cukup menarik untuk disoroti dl cerpen ini, yang pertama adl diksi. di satu sisi, penggunaan kata yang ga lazim akan memperluas wawasan, bahwa ternyata bahasa kita kaya. namun di sisi lain ini merepotkan terutama bagi pembaca yang malas buka kamus. apalagi kalau ceritanya sendiri ternyata tidaklah secanggih bahasanya, misalnya. (uh, jadi inget supernova yang pertama.) yang kedua, cinta segitiga antara dua saudara laki2 dan satu perempuan ini masalah yang sering kali muncul dl cerita2 shin elqi, diangkat terus-menerus dengan penyampaian yang bermacam2. namun kendati penyampaiannya itu boleh jadi bermacam2, yang terasakan bukanlah kebaruan melainkan kejemuan. kebaruan yang diharapkan justru bukan lagi pd penyampaian melainkan pd tema. apalagi shin elqi tampaknya senang sekali membunuh tokohnya pd akhir cerita. mengangkat hal2 tertentu scr terus-menerus sebenarnya lazim dilakukan oleh pengarang. justru itulah yang menjadi ciri khasnya. kiatnya adl bagaimana dr hal2 yang konsisten itu dimunculkan semacam kebaruan, hingga pembaca dapat merasakannya dan turut berkembang bersama pengarangnya.

Writer Shin Elqi
Shin Elqi at Afair (4 years 43 weeks ago)

cerita ini kubuat saat lagi stres karena nggak bisa nulis satu cerita pun. Saat itu pula ada program tantangan. Jadi kucoba menulis dengan kata-kata yang nggak biasa. Intinya sih, kalau menulis dengan kata-kata biasa masih macet, kenapa nggak nulis aja dengan kata-kata nggak biasa. #ngeles

ini juga bukan cinta dua saudara lelaki dan satu perempuan, tapi dua saudara perempuan dan satu lelaki #sama aja ya

terima kasih atas saran dan kritiknya... aku akan coba menulis apa yang belum aku tulis

Writer hadi
hadi at Afair (4 years 46 weeks ago)

iya setuju kak

Writer Shin Elqi
Shin Elqi at Afair (4 years 43 weeks ago)

si Hadi mah main iya iya aja -_- setuju bagian mananya nih?

Writer Rusty Wilson
Rusty Wilson at Afair (4 years 47 weeks ago)
100

Keren ini... sebangsa cerita yang "Bangun Tidur".
Kaget aja waktu baca paragraf pertama, tumben2an bahasanya berat. Hehehehe... :D

Saya paling suka pas di bagian akhirnya, "Dia tersenyum, senyuman gembira..."

Writer Shin Elqi
Shin Elqi at Afair (4 years 43 weeks ago)

mumpung lagi stres, dari pada melakukan hal yang tak berguna, aku seret aja kata-kata yang tersembunyi di kamus....hehehe

terima kasih

Writer hadi
hadi at Afair (4 years 47 weeks ago)
90

Satu kata aja sih, kereeeeeeeeeen

Writer Shin Elqi
Shin Elqi at Afair (4 years 43 weeks ago)

keren di bagian mana?