Aroma Jeruk dari Sang Monster, Mata untuk Sang Boneka

Akhirnya hari ini tiba.

Monster Jeruk sudah berjanji akan memberiku kedua bola mataku pada hari ini. Dia bilang dia sudah berhasil menemukan batu dengan warna yang sesuai untukku.

Aku sudah siap untuk dilahirkan. Hatiku sudah siap dipergunakan, siap menerima dunia. Berbagai pembicaraan hangat dari sang Monster Jeruk selama setahun kebersamaan ini telah menguatkan hatiku.

“Bahagiakanlah siapa pun yang akan memilikimu nanti.”

Jujur, sewaktu pertama kali kudengar ia melontarkan kalimat itu, aku begitu terkejut, sekaligus marah, sekaligus sedih.

Mengapa bisa-bisanya ia membuangku begitu mudah dengan memberikanku pada orang lain, yang bahkan tidak ia kenal? Aku, yang pada jiwa dan tubuh ini, dia titipkan sebagian dirinya!?

Perlahan, sedikit demi sedikit, ia mengutarakan alasannya. Bahwa untuk itulah aku diciptakannya; menyenangkan hati sebanyak mungkin orang. Dan bahwa aku tetaplah sebagian dirinya meski terpisah jarak sejauh beberapa lautan sekalipun. Dan bahwa ia tahu aku takkan pernah melupakannya karena suaranya, sentuhannya, aromanya, dan hatinya telah dipatrinya jauh ke dalam jiwaku.

Aku paham maksudnya. Namun kecemasan ini tetap ada, tak mau hilang. Sebab aku ingin membahagiakannya seorang, bukan orang lain.

Tidak jauh dari tempatku terpaku, aroma familier itu menyeruak mendadak: aroma jeruk. Masam dengan sedikit aksen manis, hanya itulah yang kutahu tentang dirimu saat ini, yang kuharap akan bertambah hari ini. Lantaran kau berjanji aku akan bisa menatapmu tak lama lagi, dengan kedua bola mata dari topas berwarna kuning cerah yang kau peroleh dengan susah payah dan akan kaujemput siang ini. Mata yang akan memantulkan sosokmu sejelas cermin.

Seperti biasa, tiap pagi—walau tak lagi cocok disebut begitu karena kau selalu bangun pukul 11—kau langsung mengupas sepotong jeruk dan memakannya dalam sekali telan.

Kebiasaanmu itulah yang membuatmu menyebut dirimu sendiri “Monster Jeruk” di hadapan kami—aku dan saudara-saudariku.

Aku tahu kau mendekat padaku; dari bunyi langkah kaki dan aromamu yang sudah begitu kukenal.

Perlahan, kautepuk puncak kepalaku dengan tangan besar, dingin, dan beraroma jeruk milikmu itu. Sungguh, aku ingin sesegera mungkin memandangmu. Seperti apakah sosokmu... bagaimanakah wajahmu ketika membentuk wajahku, menyambungkan jemariku, mengecat kulitku, menjahitkan pakaianku?

“Iya, iya. Aku akan segera menjemput matamu. Bersabarlah,” ia berujar seolah-olah paham itulah yang tengah kurisaukan. Suaranya memang cenderung datar dan tak banyak bernada, namun entah bagaimana selalu mampu menenangkanku. Berbeda dengan suara-suara lain—yang jumlahnya tak begitu banyak—yang pernah kudengar.

Sungguh, aku kesal pada diriku sendiri yang tak diberi kemampuan berbunyi meski memiliki mulut yang sempurna yang kaubentuk dengan tanganmu sendiri. Setidaknya, sekedar untuk menyapa pagimu. Setidaknya... untuk berterima kasih padamu.

Aku pun iri pada saudara-saudariku, beberapa di antara mereka ada yang sudah diberi mata sejak awal penciptaan sehingga mereka bisa menatapmu sepanjang hari. Meski aku merasa beruntung sudah diberi telinga dan hidung karena dengan begitu aku bisa tahu saat kau berada di sisiku dari aroma jeruk dan bunyi “klak klak” peralatanmu di sakumu.

Aku tahu kau pun tidak sabar, bunyi-bunyian di sekitarmu terkesan diburu-buru. Kau menyisiri rambutmu, mengenakan mantelmu, mengikat sepatu kulitmu, membuka pintu lantas memanggilku, “Tunggulah, aku tidak akan lama,” disusul bunyi debam pintu.

Sunyi.

***

“Aku tidak akan lama.”

Tidak lama itu sebenarnya berapa lama? Satu jam? Dua jam? Sehari? Dua hari?

Ini sudah pagi ketiga tidak tercium aroma jeruk di rumah ini—Monster Jeruk belum juga datang membawakanku mataku. Aku merasa ini sudah terlalu lama, tapi aku yakin ia pasti kembali. Mungkin ia mampir dulu ke tempat lain, atau mengunjungi rumah kerabatnya—tapi hati kecilku mengatakan dia tidak punya banyak kerabat.

Jadi, ke manakah gerangan Monster Jeruk?

Kudengar bunyi klik kunci pintu yang terbuka. Itukah dirinya?

Terdengar langkah kaki pertama, yang terlalu besar dan berat untuk Monster Jeruk. Lalu terdengar langkah kaki lainnya, ada beberapa. Kudengarkan satu per satu dengan saksama, yang itu terlalu ringan, yang ini terlalu kasar, yang sana terlalu mengentak; tidak ada Monster Jeruk di antara mereka.

Namun samar-samar tercium aroma jeruk... yang begitu tipis, hingga rasanya justru membuatku tidak nyaman.

“Yang ini, ya?” kudengar orang dengan langkah berat pertama berkata. Dan kurasakan ia mengangkatku dengan tak selembut Monster Jeruk yang selalu menggendongku dengan kedua tangan, tidak sebelah tangan seperti ini.

“Hei, kemarikan barangnya,” tambahnya lagi dan disusul bunyi kain yang dibuka yang serta-merta membawa aroma jeruk yang sedikit lebih kuat. Aroma yang ternyata begini kurindukan.

Apakah Monster Jeruk sudah kembali?

“Berbahagialah, Nona Boneka. Kau akan mendapatkan matamu.” Dan dengan sedikit dorongan kasar menyakitkan, sesuatu yang bulat dan keras namun berkilau memenuhi rongga atas kepalaku. Benda itu beraroma jeruk yang sangat mirip dengan Monster Jeruk.

Ah, itu mataku.

Aku mengerjap dengan ganjil, lantas perlahan-lahan membuka mata. Rasanya silau, rasanya cahaya memenuhi tiap bagian diriku, rasanya ingin sekali kupejamkan mataku kembali.

Tapi... aku ingin melihat Monster Jeruk.

Kupandangi setiap manusia di hadapanku. Ada sekitar 5 orang. Semuanya orang dewasa dan mengenakan busana yang seragam. Semuanya memandang balik padaku seolah tersihir, terpaku tak ada yang berbicara untuk beberapa jenak.

Salah seorang berbicara, “Sungguh indah. Ini benar-benar membuktikan dirinya pengrajin boneka nomor satu di negara ini. Warna kuning matanya cocok sekali dengannya.” Bukan suara Monster Jeruk.

Yang lain membalas, “Dia tampak hidup.” Ini juga bukan suara Monster Jeruk.

“Pasti akan terjual mahal,” tambah yang lain, yang juga bukan suara Monster Jeruk.

“Sayang sekali,” orang terakhir pun bersuara, “boneka ini tidak sempat melihat langsung orang yang membuatnya.” Juga bukan suara Monster Jeruk.

Tak seorang pun dari mereka Sang Monster Jeruk yang kurindukan.

Di manakah Monster Jeruk?

Di mana... orang yang kudambakan untuk kutatap dengan mataku sendiri?

Apakah... apa maksud kalimat terakhir itu? Aku tidak akan sempat melihat langsung pembuatku?

“Naas sekali nasibnya,” orang yang menggendongku meletakkan kembali diriku di atas meja kayu besar yang berukir—ternyata tempatku selama ini duduk sungguh indah. “Diterjang kereta kuda yang mengamuk dalam perjalanan pulang. Dan mati di tempat.”

Eh?

Mati?

Rasanya aku pernah dengar Monster Jeruk bercerita soal ‘mati’ itu.

“Bisa-bisanya dia mengkhawatirkan batu topas ini dan meminta seseorang untuk memberikannya pada bonekanya. Padahal waktu itu kondisinya sendiri yang harus dicemaskan. Benar-benar orang aneh.”

Kalau tidak salah, Monster Jeruk bilang ‘mati’ membuat kita tidak bisa lagi bertemu orang lain dan orang lain tidak bisa lagi bertemu kita.

Eh?

Berarti aku tidak akan bertemu Monster Jeruk? Tidak sekali pun? Padahal aku baru mendapatkan mataku hari ini? Tidak akan pernah?

“Nah, tugas kita di sini sudah selesai. Sisanya biar diurus kerabatnya. Aneh sekali, polisi harusnya tidak berurusan dengan hal sepele begini, tapi karena ini permintaan langsung dari kerajaan, apa boleh buat.” Orang pertama berbalik, diikuti yang lain. Mereka baru akan menutup pintu ketika salah seorang yang paling belakang menunjuk ke arahku.

Sekonyong-konyong mereka beramai-ramai kembali masuk dan menghampiriku.

“Apa-apaan ini??? Sihir? Sulap?”

“Kukira keajaiban yang seperti ini hanya terjadi di buku.”

“Bisa juga hantu... kan?”

“Mustahil, jangan ngaco! Ini pasti ada tekniknya, di dalam bonekanya!”

“Tapi... yang mana pun, tetap saja... aneh. Boneka menangis???”

Aku tidak menghiraukan mereka maupun hal-hal lain lagi.

Aku tidak mendengar apa-apa lagi.

Aku tidak mencium aroma apa-apa lagi.

Aku tidak melihat apa-apa lagi, kecuali warna kuning topas yang basah... air dari mana ini?

Aku hanya ingin memandang Monster Jeruk, ingin tahu ekspresi seperti apa yang ia tunjukkan saat membuatku. Apakah saat membuatku dia memandangku dengan perasaan bahagia?

Kupejamkan mataku yang baru itu. Tidak ingin lagi membukanya.

***

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
100

Indah, sedih.

80

visualisasinya kereeennn *-* su..goi

Terima kasih~ :D

90

aa apik >//<

80

Wah tokoh utamanya boneka yaa... itu boneka apa? Gk dijelaskan.
aduh makin hari orang2 makin seneng aja bikin cerita sad ending. Tp gpp lah yg penting ceritanya bagus. Hehe..

80

Wah tokoh utamanya boneka yaa... itu boneka apa? Gk dijelaskan.
aduh makin hari orang2 makin seneng aja bikin cerita sad ending. Tp gpp lah yg penting ceritanya bagus. Hehe..

80

Aww... Sedih. T^T

Terima kasih udah baca, Bang Xeno :D

70

:)

Kurang, Ibu Caaaaat >_____<
Masa cuma ikon :) doaaaaang >_____<
*nagih*

90

Woooo maniiiisss <3
.
Saia cuma ngerasa enggak sreg ama bagian penjelasan si pembuat boneka mati itu. Kerasa ummm.... aneh (plak). Mungkin kepanjangan jadi bikin kurang greget, padahal IMO bakal lebih enak klo cepet2 ditutup setelah si prajurit pertama ngomong pembuat boneka mati. Soalnya penjelasan tentang kematian prajurit, perintah istana, dll dsb itu kerasa rada maksa di saia. Kaya penjelasan itu sengaja ditaro di sana supaya pembaca tau dan berenti nanya, padahal enggak penting2 banget para prajurit ngomongin soal itu. Jadinya malah mengurangi "owowowow" saia pas baca dan baru di "wow" lagi pas adegan terakhir yang bonekanya nangis itu :v.

^ Yep, Yin, kau dapet poinna. Itu percakapan memang sengaja ditaruh di sana sebagai penjelasan ._.
Kalau gak dikasih penjelasan, saya takut kematian si Monster itu gak diketahui orang-orang :v *plak*
Agak mengganggu ya? Hmmm... tapi saya merasa perlu ditaro supaya si Boneka gak penasaran ahahahahaha

80

Saya tau ada kesalahan di cerpen ini, secara teknis. Tapi sepertina gak ada pembaca yang nyadar, jadi di sisi lain, saya juga merasa kesalahan itu gak begitu berpengaruh.
.
Saya ngasi nilai 8 untuk diri saya sendiri karena merasa keren(???) saya bisa nyelesain cerpen dalam waktu kurang dari seminggu sejak tema diberikan.
Minus nilai karena saya masih merasa gagal dalam menyampaikan perasaan si boneka dan monster jeruk. Saya merasa kalau saya masih bisa mengekspresikan mereka dengan lebih baik daripada ini.
Jadi, nilai yang pas 8 :p
*kebiasaan ngasi nilai ke cerpen sendiri*

Pengen jadi monster jeruknya...
hehehe

Lho? Kenapa malah pengen jadi Monster Jeruk? Kamu suka jeruk atau gimana? :p

Bgus critanya . . Bkin ak ngebayangn gmana wujud bneka.a sma si monster jruk it . .

Syukur deh kalau kau merasa senang dengan cerita ini. Makasih udah baca ya :D
Salam kenal~

90

bagus.. sedih

Ahahahaha... iya, sedih ya T^T
Makasih udah bersedia baca.
Salam kenal~ :D

80

._.

Saya kok malah jadi keinget "Creepy Eyes" di game MCF yang kita mainin pas kencan di GOR Sumantri, Nona ._.

80

terlepas dari detail yang dipertanyakan oleh Rusty Wilson, saya terpesona membaca cerita ini. rasanya imajinatif banget; monster jeruk ternyata manusia. dan seterusnya, ngajak melankolis ih :(( pesannya jadi terasa kurang positif, gitu. ayolah boneka jangan tutup matamu, walau bersedih jangan ingkari nikmat penglihatan yang telah diberikan... #halah

Haha~
Ini emang cerita yang dibuat bukan didasari perasaan positif(?) kok~ XDD
.
Makasi udah baca~

80

Menarik...
Hanya satu hal yang menggangguku sedari awal: banyak detail yang mampu si boneka ceritakan meski ia tidak memiliki mata, dan kupikir itu aneh sekali, misal: batu topas berwarna kuning cerah yang sudah disebutkan sejak awal, bangun pukul 11, mengupas jeruk, menelannya, memakai mantel kulit, menyisir rambut, dan lain2.
Bagaimana dia bisa tahu? Dia tidak punya mata kan? Memangnya pendengarannya setajam apa?

Selain detail seperti itu, sisanya udah cukup baik.

Soal gerakan-gerakan itu, sebagian besar bisa didengar dan dibaui. Misalna ngupas jeruk, memang dari suara gak begitu jelas, tapi dari aroma kuat banget. Begitu pula dengan menyisir, memakai mantel, memakai sepatu, dari suara gesekan kain, meletakkan/mengambil benda-benda, sangat mungkin untuk didengar.
Perlu diingat, sang boneka sangaaaaat mencintai Monster Jeruk, rasa "cinta" itu juga sangat spesial. Makanya, gak aneh kalo dia HAFAL bunyi-bunyian, sentuhan, aroma, dan tiap gerakan si Monster.
Bayanginna kayak... hmmm... kalau kita sangaaaat suka seseorang, bahkan tanpa lihat pun kita bisa tau baunya gimana, suara sepatunya, dsb.
Jadi, menurut saya gak terlalu aneh.
Ah, mungkin agak ganjil soal jam, karena saya gak mencantumkan detail itu jamna ada lonceng atau gak. Mustahil bonekana bisa tau jam kalo tanpa bunyi.
Makasi diingatkan~ :)
.
Kalo soal topas warna kuning, itu diceritakan oleh Monster Jeruk sendiri pada bonekana di awal cerita, jadi sang boneka udah tau kira-kira matana bakal kayak apa, dan cuma mengulang perkataan Monster Jeruk yang pernah didengarna.
.
Makasi udah baca~ <333