KELAMAAN NGEJOMBLO

 

 

 

Sebenarnya bagaimana Adeng mengartikan kata teman sih? Terkadang gue bingung dengan kelakuan anak ini. Udah jangkung, kepalanya kecil. Jangan-jangan otaknya mengslek lagi. Duh, apaan tuh mengslek? Xixixixi. Bahasa Kerjaan Hirawling tuh kayaknya. Hanya orang-orang tertentu saja yang tahu.

 “Nyahahaha, cupu abis lo, Bro!” Adeng malah ngakak saat mendengar nasib putus cinta gue.

“Anjiiir! Lo temen gue apa bukan sih?” Gue nyolot spontan.

Ini yang terkadang membuat gue bimbang, antara mau cerita masalah, atau memilih hanya diam untuk menyembunyikannya dari siapapun. Kalau gue tahan sendirian, efeknya akan membuat gue galau seumur hidup. Gue nggak mau menderita galau seumur hidup. Nah, kalau gue menceritakan semuanya ke Adeng dengan sebenar-benarnya dan sejujur-jujurnya, gue malah kena bully. Tetep aja gue galau. Gue galauuu ..., demi Tuhaaan!

***

Jadi orang jomblo itu emang menyenangkan, tapi susah dijalani. Adeng pernah bilang, gue harus terbuka ke dia.  Adeng bilang, karena kita temen. Dengan begitu beban berat yang gue rasakan menjadi tidak terlalu lagi, kan sudah gue bagi sama dia. Masih menurut Adeng lagi, dengan membagikan sedikit curahan hati yang gue alami ke dia, itu membuat dia merasa bangga karena gue serius mengganggapnya teman.

Gue rasa ucapan Adeng kali ini masuk akal dan ada benarnya juga. Maka setiap kali gue ada masalah sama cewek, Adenglah tempat pembuangan unek-unek. Sejak putus, gue jadi sering nongkrong bareng Adeng. Gue lagi butuh refreshing otak. Pengin melupakan rasa sakit hati yang sudah membuat gue rapuh. Gue lemah setelah ditinggalkan orang yang  sangat gue sayang.

“Move On dong, Boy!” Begitu kata Adeng dengan gaya selengean.

Enjoy Boy, itu julukan buat dia yang dibikinnya sendiri. Karena dia memanggil semua orang dengan sebutan, BOY.

“Enggak segampang bikin status di facebook kali, Deng.” Ini serius, gue masih galau.

Adeng hanya bisa berceloteh move on, move on, move on, dan move on. Dia nggak pernah mikir sih gimana rasanya menjadi gue. Sejak saat itu gue jadi males nongkrong sama Adeng.

Gue memutuskan untuk istirahat di rumah Oma. Sepupu gue yang dari luar kota lagi liburan, jadi di rumah Oma lumayan rame. Rumah Oma 20 kilometer dari rumah orangtua gue. Kalau naik motor, setengah jam bisa sampai.

Sekelebat, kadang-kadang rasa kangen mantan muncul dari dalam lubuk hati gue yang terdalam. Rasa kangen dengan sang mantan bukan sesekali, seduakali, setiagakali atau berapapun, tapi sering kali gue rasakan. Kayaknya rasa kangen mantan  itu haknya  semua orang yang belum bisa move on deh.  Jadi rasa kangen ini juga hak gue.

 “Agnan, yuk makan!” ajakan Mas Faris membuyarkan lamunan gue.

“Eh-iya, Mas, nanti aku nyusul bareng mbak Upit aja.” Gue menjawab seadanya.

Agnan adalah nama gue, dan Mas Faris itu sepupu gue. Dia cucu tertua dari silsilah keluarga Oma Marsya. Oma adalah mama dari bokap. Seorang wanita paruh baya. Seorang nenek, yang belum nenek-nenek. Oma gue ini termasuk oma gaul, coy. Punya akun twitter, dan followersnya sudah mencapai sembilan ratusan. Maklum, Oma gue pakai auto followers soalnya. Kemarin malam gue sempet memergoki Oma lagi ngeklik itu soalnya.

***

Dari bokap, gue mengetahui bahwa nama gue yang elegan ini diambil dari gabungan nama bokap dan nyokap. Agus adalah nama bokap, sedangkan nyokap bernama Andes.

AGus daN ANdes jika digabungkan memang akan menghasilkan nama AGNAN. Sebuah nama yang elegan bukan? Oh maaf. Ini nggak alay. Siapa yang berani bilang nama gue alay? Awas ya, gue denda lo dua juta!

Itulah ceritanya kenapa gue dinamai ini. Gue nggak berani membayangkan, jikalau saja nama nyokap gue Sekar dan bokap bernama Toni. Bisa-bisa, gue diberinama KARTON. Karena gabungan dari seKAR-TONi. Sangat-parah-abis.

Mbak Upit itu adik kandung Mas Faris. Di beranda rumah Oma yang nggak begitu besar, gue  menunggu Mbak Upit, yang kata Oma baru saja keluar membeli pulsa sama Nasya.

Langit senja kali ini terlihat suram. Sepertinya mau hujan, maka cuaca terasa agak engap. Orang-orang jadi enggan keluar rumah. Begitu juga dengan semua sepupu gue yang ada di rumah Oma. Kecuali Mbak Upit dan Nasya tentunya.

Di ruang makan, Mas Faris lagi ngumpul bareng Gaza dan  Mbak Nabil. Gaza adalah anaknya Pakde gue.  Sebagai cowok peranakan jawa, semestinya gue memanggil Gaza dengan sebutan Kakak, meskipun dia lebih muda dari gue. Gaza barusaja masuk SMA, sedangkan gue baru saja lulus SMA. Tapi gue ogah memanggilnya kakak. Karena gue ngerasa lebih tua, dan ini nggak pantes. Bodo amat.

Mbak Nabil anaknya Pakde gue yang lain. Usianya di bawah gue dan sedikit di atasnya Gaza. Mbak Nabil ini adik bungsunya Mas Faris dan Mbak Upit.  Meskipun gue lebih tua, gue  mau memanggilnya Mbak, karena Mbak Nabil memang sudah Mbak-mbak walau masih SMA.

“Nan ... ngapain kamu nongkrong aja di situ. Ayo masuk, kita makan bersama. Ayo to!” Suara Oma yang khas dengan logat Jawanya terdengar samar dari beranda.

“Iya, Oma. Nanti Nan nyusul, deh.” Gue menyahut singkat, seolah menanti ucapan Oma yang lain.

“Nasya belum pulang juga?” Pertanyaan Oma kali ini terdengar agak sedikit keras.

“Belum, Oma.” Gue jawab seadanya.

“Oh gitu. Ya sudah, kalau begitu kamu makan  dulu aja, Nan. Biar Nasya nanti makan bareng Mbakmu Upit. Ayo masuk ...!”

Gue akhirnya masuk, menuruti perintah Oma buat makan bersama sepupu gue yang lain. Oh iya, Nasya adalah adik kandung gue. Dia cantik, rambutnya sebahu. Bungsu dari keluarga gue, dan juga bungsu dari silsilah percucuan Oma. Adik gue ini masih SMP.

***

Sebagai orang yang patah hati, gue nggak mau berlarut-larut dalam kesedihan. Gue juga nggak bakalan mengurung diri di dalam kamar, nggak mau makan, bahkan melakukan hal yang ekstrim-ekstrim kayak motong-motong urat nadi. Itu adalah perbuatan yang cupu abis, dan bukan gue banget.

“Masih banyak orang-orang di luar sana yang lebih dari dia, dan mereka-mereka itu lagi nungguin lo,” bujuk Mas Faris.

 “Udah lah, mantan itu tetep aja mantan. Sekarang lo pikirin tuh masa depan lo. Yang lewat biarin aja lewat. Lambaikan tangan bila perlu. Lagian, lo juga nggak jelek gitu kok. Gampang lah buat lo nyari gantinya.” Mbak Upit ikut menimpali.

Gue merasakan ucapan bijak Mas Faris menohok sampai ke kalbu. Lebih menohok lagi setelah Mbak Upit dengan gaya bawelnya ikut menimpali. Gue langsung termehek-mehek.  Air mata gue nyaris tumpah kalau nggak gue bendung. Gue memang harus move on.

Tiba-tiba nyeletuklah suara alay ke kuping gue.

“Hidup terlalu singkat untuk memikirkan mantan yang sedang berbahagia dengan pacar barunya, Kakak.” Nasya jayus ke gue.

Gue nggak tahu dia nyolong dari mana kata-kata itu. Yang jelas, omongan yang baru saja dilontarkannya itu membuat gue pengin melempar sendal, ke mukanya yang mulai jerawatan.

Memandangi wajah ceria adik gue yang paling manis itu, membuat gue meringkuk lunglai mengarah ke luar jendela. Ingatan gue melayang ke arah kenangan indah dua tahun lalu, tentang seseorang yang namanya hingga kini masih gue simpan di kotak emas hati gue.

Saat gue baru masuk SMA. Dulu dia datang seperti angin yang menghipnotis gue. Senyuman yang dia bawa mengalihrasakan kesakitan karena jatuh, menjadi sebuah rasa baru yang jauh lebih indah. Gue jatuh cinta pertama kali.

Begitu banyak kenangan yang gue ingat tentang dirinya. Ingatan itu seolah terpasang alarm yang akan selalu muncul saat hujan turun. Gue kembali mengingat moment saat gue pulang sekolah bareng dia. Hujan turun deras sekali. Gue dan dia nggak beranjak dari koridor sekolah.

“Kamu takut hujan nggak?” Dia bertanya ke gue. Namun suara derasnya air yang gemericik membuat telinga gue agak budek.

“Apa?” Gue teriak.

“Aku nanya, kamu takut sama hujan nggak?”

“Oh, enggak. Emang kenapa?”

“Kalau gitu ayo ikut aku!”

Lalu dia menarik lembut tangan gue. Kita berdua kebasahan dalam bahagia. Gue nggak pernah peduli, saat semua mata tertuju ke arah gue. Gue nggak peduli, saat gue mendapatkan cacian sebagai cowok yang masa kecilnya kurang bahagia. Sungguh, gue nggak pernah peduli. Kita sama-sama nggak peduli kepada semua orang. Yang terpenting, kita berdua tidak mengganggu mereka. Maka sepanjang jalan kita berdua bercanda, tertawa bersama. Sambil menikmati dan menertawakan satu sama lain yang sudah kebasahan.

Dua tahun yang lalu, tanggal segini, bulan segini. Oh Tuhan ... hamba cuma pengin dia tahu, kalau di sini masih ada seorang cowok ganteng, yang masih dengan setia menunggu dia sampai kapanpun.

Malam ini, ketika semua orang sudah tidur dengan mimpi indahnya, gue menjadi gagal move on karena memikirkan dia.

 “Gagal move on itu lebih sakit dari pada kelamaan ngejomblo. Tapi kelamaan ngejomblo akibat gagal move on, rasanya jauh lebih sakit lagi. Ternyata kesendirian nggak selamanya membuat kita nyaman. Ada kalanya kita butuh seseorang yang mengerti kita seutuhnya. Seperti kata BJ Habibie Saya ada untuk Ainun, Ainun ada untuk saya. Di mana ada saya, di situ pastilah ada Ainun.” Gaza sengaja menyindir gue dengan kalimat yang dia baca dari internet.

 

 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Anggun_Ji
Anggun_Ji at KELAMAAN NGEJOMBLO (4 years 49 weeks ago)

Bayangin diri sendiri...
hehehe

Writer Shinichi
Shinichi at KELAMAAN NGEJOMBLO (4 years 50 weeks ago)

halo :)

Komentar ini bukan menanggapi cerita kamu, tapi feedback atas komentar kamu di postingan pengumuman Program Tantangan Kemudian #PTK. Pengumumannya sudah diupdate. Pendaftaran dibuka bagi semua Kemudianers dan ditutup tanggal 8 Juni nanti. Ayo daftar sebelum jumlah pesertanya mencukupi. Kip nulis dan kalakupand.

Moderator

Writer hadi
hadi at KELAMAAN NGEJOMBLO (4 years 50 weeks ago)

gimana daftarnya kak?

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at KELAMAAN NGEJOMBLO (4 years 50 weeks ago)
60

mungkin karena ada rencana menjadikannya novel/serial, cerpen ini terasa seperti baru hasil brainstorming aja. pokok masalahnya barangkali udah jelas, yaitu gagal move on itu. selebihnya kalo saya sih agak terdistraksi dg pengenalan tokoh yang banyak banget, anggota keluarga besarnya Agnan. entah apa kaitannya antara keluarga besar dg problem gagal-move-on-nya Agnan, barangkali ini yang akan hadi eksplorasi dalam versi panjangnya. adapun kalo cerpen ini dianggap sebagai pembuka, rasanya masih terlalu cair. belum begitu "menjerat" (atau sayanya yang memang kurang tertarik dg problem semacam itu, waha). mongomong tentang keluarga besar dan problem cecintaan, saya jadi ingat sama Sitta Karina karena itulah yang terdapat dl novel2nya. hadi mungkin udah tahu, dan bisa menjadikannya referensi.
untuk penulisan, ada baiknya mengecek pedoman EyD.
mohon maaf kalau kurang berkenan, hehe.

Writer hadi
hadi at KELAMAAN NGEJOMBLO (4 years 50 weeks ago)

Niatnya bikin cerita tantang enam orang sepupu yang liburan di rumah Omanya, terus mereka saling cerita tentang pengalaman masing-masing saat gagal move on, gitu kak. Duh.

Makasih ya kak udah baca

Writer dash300882
dash300882 at KELAMAAN NGEJOMBLO (4 years 50 weeks ago)
70

Yang terpenting, kita berdua tidak mengganggu mereka. nice sentence. hheeheh

Writer hadi
hadi at KELAMAAN NGEJOMBLO (4 years 50 weeks ago)

hehehe