Tantangan: Delusi Ikan dalam Akuarium

Tantangan Romance

 

Aku ingin menjadi ikan.

Ikan hias yang melayang pelan dalam akurium di ruang kerjanya. Yang selalu diperhatikan, dipandangi, dan mampu memberinya ketenangan.

Maka di sinilah aku, di dalam akuarium yang kuciptakan sendiri, yang penuh air tak kasatmata hingga membatasiku dengan dirinya. Lantaran meski ia kini tepat di hadapanku; berdiri, tersenyum, berbicara padaku, aku takkan pernah bisa menjangkaunya.

Lantaran rasaku ini tabu.

***

Aku ingat persis hari itu, sebab kakak perempuan kesayanganku berulang tahun yang ke-20. Ia gemar panda, makanya kuputuskan untuk menghadiahinya sebuah boneka baru untuk menambah koleksi. Kota kami tidak besar, dan jumlah toko boneka di sini bisa dihitung dengan jari.

Karena itulah, perjumpaanku dengan pria itu di toko boneka bukan suatu kebetulan, ataupun tuntunan benang takdir, ataupun segala sesuatu yang sifatnya keromantis-romantisan. Perjumpaan itu hanya didorong keterpaksaan.

Kala itu, ia menarik perhatian bukan hanya aku, tapi sebagian besar pengunjung: seorang pria dewasa dengan kemeja putih lusuh, rambut hitam acak-acakan, serta mata dengan kantong hitam di bawahnya. Ia tampak tengah menggendong kedua boneka panda yang tersisa.

Aku mengernyit.

Penampilannya tak ubahnya panda kurus kurang gizi yang sedang mengamati sesamanya. Tak lama kemudian, dia meletakkan kembali salah satunya dan menggendong yang lain ke kasir.

Sambil mengangkat bahu acuh tak acuh, kupungut panda yang tersisa. Namun, begitu kami bertemu kembali di kasir, sekonyong-konyong dia memelototiku―atau setidaknya begitu menurutku―menghampiriku, dan berbicara dengan suara beraksen aneh yang terdengar seperti deru mesin yang sudah lama tak dipakai.

“Jangan yang itu, jahitan di bawah lehernya sobek,” jelasnya. “Ini saja,” tambahnya sementara tangannya dengan cekatan menukar boneka di pelukanku.

“Eh?” Hanya itu yang keluar dari bibirku karena belum sempat kucerna ucapannya, sosoknya sudah lenyap dari pandangan.

Kejutan tidak berhenti sampai di situ.

Sebab aku bertemu dengannya lagi pada malam harinya, di rumahku. Bedanya, kali ini ia tampak jauh lebih sedap dipandang dibanding perjumpaan pertama.

Kami sama-sama terkejut kala itu, tak sangka akan bertemu lagi dalam kondisi canggung. Sementara kakak, meski tampak sama terkejutnya dengan kami, tersenyum senang.

Ternyata pria itu dosen biologi baru di kampus kakakku. Dan ternyata ia tertarik pada kakakku yang katanya dipenuhi kelembutan sekaligus semangat hidup.

Malam itu dia membawa sebuah boneka panda lain, yang jahitan di bawah lehernya tidak sobek, sebagai hadiah. Membuatku sampai hari ini pun masih bertanya-tanya seberapa lama dan jauh dia mencari-cari hadiah itu.

Aku ingat, wajah kakak bersemu begitu merah di tengah terangnya lampu ruang depan malam itu. Wajah pria panda yang baru kukenal hari itu pun serupa. Mereka sama-sama tampak berbahagia.

Sayangnya, aku belum menyadari, bahwa saat itulah rasa sakitku ini bermula.

***

Hari-hari berlalu beriringan dengan perasaanku. Perlahan-lahan dan tersembunyi, perasaanku pada kekasih kakak―si pria panda―berkembang. Tak dapat lagi kukuasai, namun tidak pula kusadari apa yang keliru dari perasaan ini, yang kala itu kukira hanya berupa rasa nyaman bersamanya.

Pria itu semakin sering ke rumah. Sesekali bertandang lama hingga malam menjelang dan ibu mengundangnya makan, namun lebih sering hanya beberapa menit lantas keluar bersama kakak.

Awalnya, aku hanya membalas sapaan―sekedar berbasa-basi, lalu bertambah menjadi obrolan ringan bertiga bersama kakak. Tanpa sadar kami semakin dekat. Ia layaknya kakak sulung, tempat kubisa bermanja-manja tanpa sungkan, toh dia akan jadi kakak iparku. Tak ada yang salah.

...Tak ada.

Hingga kami bertemu tanpa kakak untuk kedua kalinya. Pada suatu Sabtu siang yang tak biasanya sepi. Ia datang ke rumah berniat mengajak kakak ke pameran foto flora di kota sebelah, yang sayangnya, tak bisa dihadiri lantaran kakak harus mengerjakan suatu presentasi di rumah kawannya.

“Memangnya kau tidak tahu Kakak ada janji hari ini?” sergahku sambil terkekeh kecil, mencandainya.

Pundaknya merosot, semangat dan senyum berbinarnya lenyap. “Aku baru tahu ada pameran itu,” pungkasnya.

“Terus buru-buru ke sini, lupa menelepon atau sekedar mengirim pesan pada Kakak?”

“....”

“Hei, telepon saja dia sekarang?”

“Tentu,” singkatnya sambil merogoh saku dan mengambil ponsel, lantas berjalan menjauh.

Tak lama kemudian dia kembali, “Dia bilang sebaiknya aku pergi bersamamu,” sambil menyeruput teh yang kuhidangkan.

“Haah?”

Dia meletakkan kembali cangkirnya lantas menatapku sambil tersenyum, “Ikut?”. Tapi sebelum kata itu terucap darinya, aku sudah berlari ke kamar dan berganti pakaian.

Satu hal yang pasti: aku tidak tertarik dengan tanaman. Aku hanya ikut karena tak ingin melewatkan kesempatan untuk pergi berdua dengannya. Dan hatiku makin melonjak karena ternyata kami akan mengendarai mobilnya.

“Jauh, khawatir kemalaman,” akunya. “Lagi pula, kita bisa jalan-jalan dulu kalau kau mau,” imbuhnya sambil menepuk puncak kepalaku―kebiasaannya.

Berdua dengannya di mobil. Tanpa kakak.

...Tunggu. Kenapa aku berpikir seolah lebih baik tak ada kakak?

Apa ini? Sensasi asing ini? Mirip debaran semasa kanak-kanak saat tengah merahasiakan sesuatu dari orang dewasa. Apa... aku tengah merahasiakan sesuatu?

“Kuharap kau tidak keberatan kalau kita mampir dulu ke kampus.”

Aku tersentak dari lamunan. Alisku bertaut saat menatapnya.

“Aku harus memberi makan ikan di ruanganku.”

Ikan?

“Ya, aku memelihara seekor ikan, dalam akuarium,” balasnya terhadap pikiranku yang ternyata tersuarakan. Lantas memacu mobilnya ke arah kampus segera setelah aku mengangguk.

Baginya, aku yang lebih muda 10 tahun ini pasti terlihat masih bocah. Siswi SMA yang terlalu enerjik dan hobi melompat kegirangan―bertolak belakang dengan kakakku yang cenderung tenang. Aneh, saat memikirkannya, dadaku serasa mencelos. Seolah-olah aku ingin ditatapnya sebagai seorang wanita, setara dengan kakak.

Tak sampai 30 menit kemudian kami tiba di ruangannya. Kutatap ikan di akurium kecil berbentuk persegi panjang di pinggiran meja itu. Ia hanya seekor.

“Discus,” ujarnya. “Jenisnya. Disebut raja ikan air tawar. Aku suka karena dia menenangkan.”

Aku mengangguk, masih memandangi lekat-lekat ikan itu dari balik kaca. Kurasa aku mengerti maksudnya. Tidak seperti ikan-ikan lain yang sering kulihat, yang berenang dengan mengepakkan ekor dan siripnya keras-keras; ikan pipih itu berenang lembut hampir-hampir kukira tak bergerak.

“Ikan ini sebegitu pentingnya?” tanyaku, hanya penasaran.

“Hm? Hmm...” suaranya berdengung dalam bibirnya yang terkatup rapat, menimbang. “Iya, tapi setelah kakakmu,” diiringi semburat merah muda dan senyuman, jelas-jelas penuh kebahagiaan dan pengharapan. Pandangannya melekat pada ikan itu, yang sesungguhnya menerawang pada sosok wanita yang hari ini gagal ditemuinya.

Aaah... aku cemburu pada ikan itu.

Juga pada kakak.

Akhirnya aku mengerti, wujud sebenarnya perasaanku padanya.

Sekonyong-konyong dadaku serasa berlubang. Yang diisikan paksa dengan ikan discus yang tengah menari-nari dalam akuarium itu, didorong begitu kuat hingga hewan bersisik itu cukup di dalamnya.

Nyeri.

“Hei! Aku... kapan-kapan ingin memberi makan ikan ini lagi. Boleh?”

Pria itu tampak heran, namun juga tak tampak keberatan. “Seminggu sekali. Kau bisa sekalian mengunjungi kakakmu di kampus.”

Namun hatiku tahu, bahwa pada hari-hari kedatanganku kelak aku takkan menemui kakak.

***

Bulan-bulan berlalu cepat, hampir tiap minggu aku mengunjungi kampus kakak yang sebagian besar kunjunganku tidak diketahui kakak. Lantaran aku hanya melipir ke ruangan pria itu dan memberi makan ikannya sejenak sambil melirik sosoknya yang tak jauh dariku.

Namun entah kenapa, perasaanku hari ini buruk hingga aku tak bersemangat melakukan kunjungan rutin itu.

Ternyata gara-gara kabar seperti ini akan datang.

“Kami akan menikah, aku dan kakakmu.”

Sekonyong-konyong, berdiri empat dinding transparan imajiner mengurungku, membatasiku dari dirinya. Memakuku di tempat. Hingga tak bisa lagi maju ataupun mundur.

Terjebak.

Sementara tangannya yang berbonggol mendekat, bermaksud mengusap kepalaku seperti biasa. Yang kuyakin mustahil, takkan kubiarkan diriku bermanja-manja dengannya lagi.

Tidak akan lagi. Tidak boleh.

Maka keempat dinding ‘akuarium’ tak kasatmata ini kuciptakan. Dia dan tangannya itu takkan lagi bisa menggapaiku. Aku pun demikian, takkan bisa menyentuhnya lagi meski meraung-raung kupukuli kaca ini, berharap runtuh.

Namun, suaranya masih saja terdengar. Dengan wajah berseri-seri diseling sejumput rona merah kemalu-maluan, ia melanjut pembicaraan dengan rencana pernikahan yang telah disusunnya diam-diam bersama kakak.

Ah, tidak. Aku harus menutup pula telingaku.

Aku butuh air.

Bagai ada keran raksasa yang dibuka di atasku, mendadak air dalam jumlah besar tumpah. Airnya meninggi dengan cepat: sepatuku basah kuyup, lantas lutut, pinggang, dada, dan akhirnya terhirup ke hidungku.

Sesak.

Air itu masuk ke paru-paru. Membuatku tercekat, tak mampu lagi bernapas. Aku terbatuk-batuk, tak sadar menekankan kedua tanganku ke dada. Menyakitkan.

Hingga akhirnya air bah itu menelanku seluruhnya dan memenuhi ‘akuarium’-ku.

Aku melayang-layang.

Bunyi-bunyian tersamarkan. Begitu pula suaranya, menjauh dengan cepat. Tak lagi bisa kutangkap kata-katanya. Hanya bunyi arus air yang memenuhi telingaku, ditemani bunyi gelembung dari napasku yang pendek-pendek.

Sosoknya pun berbayang, di tengah air ini, aku tak mampu lagi melihat ekspresi wajahnya. Atau tak mau tahu lagi.

Entah bagaimana wajahku kini di matanya, yang pasti, kuharap aku tersenyum selebar mungkin sambil mengucapkan selamat dan harapan-harapan indah untuk masa depan mereka berdua sembari menyayat-nyayat hatiku sendiri.

Atau mungkin justru kini aku tengah berbanjir air mata di hadapannya? Atau justru menjerit-jerit layaknya kesetanan? Atau hanya mematung dengan wajah sepucat kertas?

Entah yang mana, mungkin akan sama saja.

Di satu sisi, aku ingin dia dan kakak yang kusayangi berbahagia tanpa mengetahui secuil pun kebusukan hatiku ini. Namun, di sisi lain, ada bagian buruk diriku yang dengan sengaja ingin meneriakkan lantang-lantang kepada semua orang bahwa aku mencintai pria itu, sama seperti kakak, dan bahwa aku ingin ia menatapku dengan lembut seperti tatapannya pada kakak, berbicara lirih dengan kata-kata penuh cinta seperti pada kakak, tertawa lirih seperti tawanya pada kakak.

Pergilah.

Kumohon, sebab dalam beberapa jenak lagi aku akan menjadi ikan yang terjebak dalam akuarium.

***

Sehari setelah pernikahannya, pria yang telah menjadi suami kakakku itu memanggilku ke ruang kerjanya.

Begitu aku tiba, sebuah akuarium familier dengan ikan yang familier pula tersodor ke arahku.

“Untukmu. Sepertinya kau agak murung belakangan ini.”

Kuterima dengan setengah hati, lantas mengangkat bahu, “Beranjak dewasa, mungkin?” diiringi tawa kecut. “Yah, kata orang, begitu kehilangan sesuatu yang berharga berarti kita makin dewasa,” imbuhku dingin.

Setelah bercakap-cakap sejenak dan aku sudah di ambang pintu, dia berseru, “Sejujurnya, kurasa aku sudah tidak memerlukan ikan lagi. Kakakmu sanggup membuatku tenang. Cukup dia.”

Tanpa perlu menoleh, aku bisa membayangkan betapa meronanya wajahnya.

Sebagai balasan, aku mendengus asal, “Dasar pengantin baru.”

Lalu menyadari bahwa buku-buku jariku memutih berkat terlalu kencang menggenggam akuarium. Buru-buru aku keluar gedung, dengan langkah tetap tertata. Hingga ketika kakiku menginjak aspal di luar, segera kuulurkan akuarium itu sejauh tanganku bisa.

Lalu melepaskannya. Hingga jatuh bebas.

Diiringi bunyi denting keras, benda itu hancur lebur. Berkeping-keping.

Kupandangi ikan discus yang menggeliat-geliat di aspal. Mengulas senyum.

“Aku sendiri sudah di dalam ‘akuarium’. Tak lagi butuh ikan lain maupun akuarium lain,” bisikku dengan suara parau seolah tengah di dalam air.

“Mungkin memang benar ini langkah menuju dewasa.”

Lalu aku kembali melangkah sambil menyeret ‘akuarium’ besar yang mengurungku.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
100

Astagaaa, ini analoginya ciamik pisan. :(
.
Temponya pun enak banget.
.
Keren!

Makasih! Yeay, saya seneeeeng xDD

100

weeeeww ajarin gimana buat cerita gituann T_T

Latihan. Practice makes perfect :D
Saya dulu juga gak sebagus ini kok, coba aja cek cerpen-cerpen lama saya di Kcom sini hehehe...
Juga banyak-banyak baca karya orang lain, baik itu penulis terkenal maupun yang masih sama-sama belajar, terus dianalisis--iya, me-review karya orang itu bikin kita belajar banyak lho.
.
Selamat belajar dan mencoba nulis~~!!! :D

100

Kisah favorit saya di kemudian.com :)

Terima kasih.
Maaf lama gak dibalas. Saya jarang mampir ke Kcom lagi soalnya :D

Wah, seneng bgt dibales kakak hehe. Udah aktif lagi ya kak? Ayo dong nulis lagi kak, hehe :)

Saya masih nulis kok, terkadang. Hehe...
Tapi biasanya gak saya publish dan cuma dijadiin coret-coretan di kertas.
Di-publish pun, saya taruh di blog. Ini blog saya: http://bonekapandagie.blogspot.com/
.
Cerpen terbaru saya genre action, baru di-post di blog minggu lalu. Silakan dicek kalau berkenan, semoga gak mengecewakan :D

oke, kak. nanti pasti saya kunjungin + komentarin :)
Thank you!

100

hebat baget bisa bikin cerita yang kayak gini..

Makasih :D
Salam kenal, ya

Writer Nine
Nine at Tantangan: Delusi Ikan dalam Akuarium (4 years 18 weeks ago)
100

Saya suka sama ikan discusnya, meskipun dia sudah dianiaya oleh tokoh utama, dia masih bisa mengulas senyum di akhir cerita. :) Hehe

Keren ceritanya (y)

Good job. :-)

Writer JFMDW
JFMDW at Tantangan: Delusi Ikan dalam Akuarium (4 years 29 weeks ago)
90

Gosh, ini keren banget. Aku suka diksinya, suka keapikan kata-katanya, pokoknya suka semuanya. Alurnya sebenernya simple tapi nyesek, kayak forbidden love gitu. Aku suka imej cowoknya, kind of messy tapi tetep dewasa. Dan sosok kakaknya yang digambarin kayak 'perfect' disini. Keren banget sumpah. Dua jempol!

Terima kasih banyak sudah nyempetin baca :D
Maaf nih baru pada dibales komennya.

100

Pertama, suka banget sama pembukaan ceritanya yang langsung mengaitkan keadaan si tokoh utama sama ikan di akuarium. Kalau awalnya sudah membosankan, saya jarang lanjut baca. Kedua, perasaan si tokoh utamanya dapet, terutama di klimaksnya. Narasinya mengalir begitu aja, saya nggak perlu berhenti di satu bagian buat ngertiin bagian tertentu.

Writer rian
rian at Tantangan: Delusi Ikan dalam Akuarium (4 years 32 weeks ago)
90

Saya nggak tahu gimana saya bisa suka sama cerita ini. Padahal idenya biasa, pun nggak ada yang unik dari gaya berceritanya. Tapi memang nuansa gloomy-nya dapat banget, mungkin karena kehadiran akuarium dan ikan yang malang itu. Ho, dan saya juga suka sama hubungan antara akuarium dan konflik si gadis. Kagum karena Penulis bisa menghubungkan keduanya.

Selain itu, kepribadian tokoh utamanya juga menarik. Jarang-jarang ada tokoh utama yang secara begitu terbuka menunjukkan 'kekejaman'-nya, sehingga saya seperti melihat A Flawed Hero di sini, alih-alih Mary Sue seperti di sebagian besar cerpen romance. Si tokoh pria biasa-biasa aja, tapi.

Lalu narasinya. Meskipun nggak unik, tapi cara bertuturnya tetap enak dibaca. Lembut. Saya terutama suka sama bagian ketika si tokoh utama diberitahu kalau kakaknya bakal menikah. Itu terasa banget sakitnya, keren.

Entah kapan saya bisa nulis cerita sebagus ini.

Terima kasih. Saya juga suka, sudah lama gak ada komentar bagus di Kcom seperti ini.
Terima kasih sudah bersedia berkomentar, saya seneng banget :)

80

wow, bagus nih.
kata-katanya ngalir gitu aja :)

lanjutkan

100

suka suka sukaaa banget kakak :"D
Pengen nangis bacanya.. kalo boleh saya lain kali buat oneshot komik saya buatin versi komiknya yah //plak

btw itu foto profil kakak... letter bee >///< /salahfokus

Hai, salam kenal~~~
Iya, iya, boleh bangeeeet dibuatin komik hehehe~
Nanti kasi kabar aja ke saya kalau udah jadi komikna :p
.
Fufufu... suka Letter Bee juga ya? *tos*

100

cerita yang menyentuh memaksa saya harus kembali muncul disini hanya untuk menyampaikan hal ini. benar - benar menginspirasi dan mengena. Keep Wirting.

100

ini kereeeeennn
maniiiiisssss <3
saia suka cowo nya, tolong sihir saia jadi kakak si prota :v

90

Jahat. Kasihan ikannya.

90

inochi wa kurikaesu naraba~ ima sugu kimi ni misetai~
atarashi asa, kore kara no boku, ienakatta suki to iu koto na no~~~~
#plak
#numpang poin ajah :p

100

GIGIT GIE YANG KATANYA NGGA BISA BIKIN ROMENS. Huhuhu ini bagus sekali

80

Itu ikannya enaknya dimasak apa ya? *laper*
Bagus, progresinya pas sekali.
Mungkin kocak kalo ada twist Poligami woakakakakakakak *kabur*

[eh mampir dong ke cerita kelinci saya :v]

100

wah. gloomy. sesak. keren :)

100

Aku nangkep ada beberapa bagian di mana 'kakak' mestinya ditulis 'Kakak' tapi IMO ini udah bagus banget. Aku hampir enggak nyadar karena larut dalam narasinya.
.
Aku seriusan kasihan banget ama ikannya di bagian terakhir. Korban enggak berdosa dari sebuah pelampiasan. Padahal dia bisa dimakan. #eh
.
Dunia ini suraaamm. OTL

100

sialan bagus banget. sosok laki2nya ngegemesin eugh. suka juga bagian2 lucunya terutama yang dia kayak panda kurus kurang gizi yang sedang mengamati sesamanya itu XD owner of a lonely hear is much better than owner of a broken heart, yeah! *ngutip lagunya Yes
hidup jomlo!

Writer cat
cat at Tantangan: Delusi Ikan dalam Akuarium (5 years 4 weeks ago)
90

Sukaaaa.

Lembut. Tapi kadang membuat sesak. Lalu marah juga sedih. Dan, hei! Aku tidak suka membayangkan sulitnya air masuk dan menyesakkan dada. Aaargh!!! Dapat banget.

ceritana bagus banget. Diksinya saya suka :D

80

Lho, lho. Kasihan ikannya itu! Kenapa gak dibuang ke sungai aja? > .<

100

ini cerita oke bha...ngets. saya suka. saya merasakan ada tempo yang cenderung lembut sepanjang cerita. tapi bila ada sesuatu yang kurang sreg, menurut saya cuma pada idenya yang cenderung biasa. ya, kata orang ide adalah hal umum, bagaimana kisah diceritakan yang jadi hal penting. narasi, dialog, konflik, karakterisasi, yang kamu pasti tahulah. hemat saya, hal-hal di luar ide itu belum cukup wow untuk menggantikan kesederhanaan ide cerita. tapi ya, cerita ini sudah cukup apik untuk dinikmati, saya rasa. sedangkan kesesuaian dengan tantangan itu sendiri, terserah penantangnya :D
kip nulis dan mohon maaf bila kurang berkenan.