Tantangan : Bertahan Hidup

Bertahan (Survive).

Seorang wanita menatap pada deretan huruf di layar androidnya. Dia membuka beberapa jendela sekaligus dengan berita yang hampir sama. Dia yakin, hampir seumur hidupnya dihantui oleh begitu banyak ketakutan. Kecemasan yang mebuat dirinya lemah dan tak berdaya. Bukankah sudah saatnya dia menyembuhkan diri? Dihantui atau menghantui.

--

Karin masuk ke sebuah cafe. Dia memilih tempat duduk yang tersembunyi. Hanya ada seorang wanita yang duduk pada meja di depannya dengan sebuah gadget terbaru serta tas mahal. Karin menunduk mengambil sebuah tisu di tas. Dia tetap menatap ke bawah saat memesan minuman ataupun ketika berterima kasih pada pelayan yang mengantarkan pesanan.

Karin terisak sedih. Dia mengolesi lengannya yang terluka dengan betadine, begitu pula pada pipi dan leher. Wanita yang asyik menatap layar melirik. Dia mulai terlihat sangat ingin tahu. Apalagi Karin terus mengusap air mata. Botol kuning kecil terlepas dari tangan, mengelinding tepat di samping kursi tamu di depannya. Wanita cantik dan langsing yang mengenakan mini dress berwarna kuning dengan berbagai aksesoris lengkap di badan mendekati Karin.

"Hai," sapanya ramah. Karin segera membersihkan wajah dari jejak tangis.
"Ya, ada apa Mbak?" Jejak serak suara masih terdengar.
"Aku Teta," ucap Teta sambil menyodorkan botol antiseptik yang dipunggutnya tadi.
"Karin," sahutnya.
"Maaf bukannya mau ikut campur yah. Tapi, aku sudah berkali-kali lihat kamu nangis di cafe ini lho. Kamu lagi ada masalah?" tanya Teta.
Karin terkejut. Dia malu. Namun mengangguk.
"Mau curhat?" tanya Teta lagi. "Kamu dipukul siapa? Pacarmu?"

Karin menggeleng. "Anak-anakku."
Teta membelalak kaget. "Umurmu berapa? Kok anakku kurang ajar banget? Terus, emangnya berapa umur anakmu?"
"Aku enam belas, Mbak. Dan ...," ucap Karin lirih, "anaknya suamiku uda umur delapan dan sepuluh tahun."
"Ooo, anak tiri." Teta memasang tampang kesal. Dia memindahkan gelas minum dan snack ke meja Karin.

"Kamu pas nikah tidak tahu suamimu punya anak? Dua lagi," suaranya mulai naik turun bercampur emosi.
"Aku dipaksa nikah ma ibu." Karin masih menunduk.
"Terus kenapa sekarang kamu di luar. Anak-anak itu di mana?"
"Mereka menjebakku ke luar rumah. Tasku dilempar juga. Trus ngunciin pintu. Aku ndak bisa masuk. Ntar sore pas papanya pulang, mereka bakal ngadu kalau aku pergi jalan ninggalin mereka kelaparan di rumah. Maksa mereka ngerjakan pekerjaan rumah. Padahal aku sudah masak, beres-beres dan bersihin rumah kayak pembantu." Karin mengadu dengan tergesa-gesa. Dia merasa plong saat bisa curhat sama Teta.
"Ndak bisa dibiarkan. Anak-anak kayak gitu harus didisiplinkan!" Teta geram.
"Mbak pasti enak yah, ndak perlu ngurus anak orang." Karin menangis lagi.

Teta memasang wajah sinis, "aku juga punya anak tiri. Suamiku bohong pas ngelamar aku. Dia bawa satu anak. Tapi, aku tidak mau dinikahin cuma buat ngasuh anak itu. So, kutunjukkan siapa nyonya yang berkuasa di rumah. Kamu harus bisa tegas!"
"Mbak Teta hebat. Andai aku bisa setengahnya aja mirip Mbak." Karin meletakkan kepala pada meja cafe dengan putus asa.
"Kuajari kamu! Bawa aku ke rumahmu. Biar kuberi tahu trik-triknya." Teta tersenyum puas.

--

Mobil Karin memasuki garasi rumahnya. Teta memperhatikan mobil pajero sport hitam dengan kaca film sangat gelap serta rumah besar menunjukkan betapa suami Karin sangat kaya. Berbeda dengan suaminya yang tidak semakmur yang dibualkan ketika pacaran. Sayang sekali bila Karin harus terjebak dengan keadaan menyedihkan seperti ini padahal dia bisa hidup layaknya ratu.

Karin mencoba membuka pintu. Terkunci. Dia mencari ke balik pot bunga besar. "Mereka menyembunyikannya saat yakin aku sudah pergi."

Ketika memasuki rumah. Sebuah foto besar terpampang. Pria itu sudah berumur tapi tetap menunjukkan sisa-sisa rupa dan raga tampan. Teta mulai berkhayal, andai dia mendapatkan pria itu tentunya akan lebih baik. Suaminya yang sekarang sudah tidak menarik lagi.

"Rapi sekali," ujar Teta.
"Ya, aku merapikan semuanya. Sendirian, setiap hari. Pembantu kabur dibuat mereka." Karin menghela nafas panjang.
"Mana anak-anak nakal itu?" tanya Teta tidak sabar.
Karin menatap jam yang berdentang lima kali. "Mereka sepertinya sedang bersembunyi di gudang bawah. Berakting kalau sangat menderita."

Mereka lalu turun ke gudang bawah. Teta tersenyum makin lebar. Dia sudah mempersiapkan berbagai teriakan dan amarah serta hukuman untuk dua anak nakal tersebut. Karin mengintip, lalu masuk terlebih dahulu. Teriakan terdengar. Suara anak-anak yang memaki dan mengejek. Teta semakin geram. Pintu terbuka. Karin terluka pada kening. Tiba-tiba saja tubuh Teta ditarik masuk.

Dia terjerembab, kaget. Sesaat diperhatikan seisi ruangan. Dindingnya putih. Langit-langit putih. Seisi ruangan berwarna putih bersih. Ada lemari pendingin kecil, meja dengan sebuah ponsel, boneka dan kotak kecil dankursi rotan yang kesemuanya berwarna senada ruangan, putih. Karin duduk di sana. Diam mematung. "Karin!" Teta berusaha berdiri. Baru disadari tangan dan kakinya terikat.
"Sudah bangun?" Suara Karin terdengar berbeda. Tidak lembut dan lemah. Tapi tajam serta dingin.

Teta menatap bingung. "Apa-apaan ini?"
Wanita itu mendekat. "Mari kita mulai pelajaran untuk mendisiplinkan anak-anak tiri nakal." Ujung matanya terangkat. Sebelah tangan menggengam tongkat bendera semaphore. "Seperti ini?" Sebuah pukulan mendarat pada tangan Teta yang langsung membuat dia terjerembab.
"Atau seperti ini?" Pukulan berlanjut pada punggung Teta. Sepuluh kali tongkat itu singgah di sekujur tubuhnya. Teta berteriak, menangis dan memohon ampun. Sedangkan Karin terus tersenyum.

Karin kembali duduk pada kursi rotan. Dia mematung lagi, tenggelam dalam pikirannya. Tak berapa lama Karin membawakan minuman. "Mereka menangkapmu? Ibu dan kakak tiriku??" Wajah Karin ketakutan. Dia menggigiti kuku. "Aku akan mencari sesuatu untuk membuka ikatan tali itu." Teta masih tak dapat memilah apa yang terjadi. Karin berbalik, wajahnya kembali berubah. Dia mendesis, dengan lidah terjulur membasahi bibir. Sebuah pisau di tangan. "Mari kita buka tali itu." Teta tak dapat menahan jejak rasa sakit dari ujung pisau yang mengukir garis-garis di tangan bersamaan dengan gerak Karin mengiris tali. Tali tidak pernah putus, darah saja yang terus mengalir. Wanita itu pingsan.

Sebuah siraman air es menyentak Teta terbangun. Dia menghirup udara cepat di antara air yang terus mengucur. "Anak pemalas, sudah cukup tidurnya."
Karin menyodorkan sebuah piring. Teta mengernyit. Hidungnya mencium aroma tak nyaman. Nasi berwarna merah. Satu demi satu suapan masuk ke mulut. Dijejalkan dengan paksa melalui sebuah pipa seukuran mulut. "Kalian sering memaksa kami menghabiskan nasi super pedas bukan?" Karin membawa air hangat, "minum air hangat ini. Akan membuat pedasnya hilang. Kakak selalu berkata seperti itu. Tutup mata, telan saja nasinya. Lalu minum yang banyak. Jika tidak, ibu akan marah. Lalu mengamuk, memukul, mencubit juga menampar."
Teta terbatuk, tersedak, wajahnya memerah dengan tenggorokan seakan terbakar. Seperti menelan sebongkah arang.

"Setelah itu apa lagi, Ibu?" Karin mengelus pipi Teta.
"Kamu sudah gila! Aku bukan ibumu!" Teriak Teta setelah mendapatkan nafasnya kembali.
"Apakah ini yang kamu lakukan pada anak tirimu?" Karin memberikan cubitan pada pangkal paha dekat dengan kemaluan. Teta berusaha menghindar. Dia merangkak dengan kaki dan tangan terikat. "Cobalah kabur Ibu tersayang, sama seperti kami dulu." Karin berjalan pelan melangkah, satu persatu. Teta nafasnya memburu. Dia menggigit bibir menahan sakit. Jalan, di mana jalan keluar? Seseorang pasti menantinya pulang. Suaminya akan mencarinya. Atau anak brengsek di rumah setelah kembali ke rumah dari sekolah pasti mengabarkan pada ayahnya kalau dia tidak menjemput. Tapi, bukankah Juli tidak akan berani mengadu apapun pada Frans sesuai pesannya.

Karin mengalunkan sebuah lagu yang selalu dia nyanyikan ketika kecil. "Tear, tear go away. Come again another day." Sebuah tendangan mengarah pada rusuk Teta. Wanita yang sudah penuh luka berusaha kabur. Dia mencari tempat bersembunyi. Senjata, atau apapun yang dapat menolongnya dari wanita gila itu.
"Little childern, little children, little children wants to play." Karin menghantamkan tongkat pada paha kiri Teta.
"Kumohon lepaskan aku," pinta Teta saat dia kembali terjerembab kesekian kalinya.
"Melepaskanmu?" Karin memulas senyum manis pada wajah. "Apakah kamu mengabulkan permohonan anak tirimu juga?" Karin menggeleng. Dia mengingat artikel yang dibacanya beberapa bulan lalu.

Seorang ibu muda diduga melakukan penyiksaan terhadap anak tirinya dengan cara merendamnya selama dua jam di bak mandi. Tetapi, dia dibebaskan karena J si anak tiri mengatakan kalau dia sendiri yang meminta untuk bermain di dalam bak. Apalagi ditemukan banyak mainan di dalam sana.

Karin tahu bagaimana cara para ibu tiri jahat mengancam anak kecil agar tidak mengatakan kejahatan mereka.

"Ketika mereka menangis, meminta ampun dan belas kasih, apakah kamu mengabulkan?" Karin mengejek. "Nikmati kesakitanmu." Karin meninggalkan wanita yang badannya telah penuh luka dan darah tergolek lemah pada lantai ruangan putih. Dia menyandar di kursi lalu memejamkan mata, perlahan matanya menutup dan terdengar dengkuran kecil.

Teta menangis. Dia mulai menyesali tindakannya tadi. Keingin tahuan atas wanita yang beberapa kali dilihatnya pada cafe yang sama, membawa malapetaka. Dia berdoa, berharap ada keajaiban atau orang yang mencari. Teta mengedarkan pandangan, sebuah kunci yang digunakan Karin untuk membuka pintu tergantung pada dinding. Dia dapat kabur. Tenaganya kembali muncul. Teta kembali merayap. Sakit pada sekujur tubuh ditahan. Hanya ini kesempatannya. Dia hampir mencapai pintu. Satu dua langkah lagi. Sedikit lagi. Jantung Teta seakan lepas dan kosong. Tiba-tiba saja ujung kakinya ditarik, badannya terseret. Teta berteriak kesakitan. Memohon dan mengiba.

Karin tersenyum. "Aku mulai bosan. Bagaimana kalau kita bikin permainan." Dia mengetukkan jemari pada tongkat kayu. Teta hanya menangis. "Lepaskan aku. Aku sudah lelah. Apa salahku?" teriak Teta frustasi.
"Aku akan menutup mata. Menghitung hingga lima puluh. Kamu boleh mencoba mengambil kunci dan membuka pintu, bagaimana? Kalau gagal maka akan ada hukuman. Akan kuberikan 3 kali mencoba." Karin memicingkan mata, menatap Teta lekat. Wanita terluka itu berusaha menggunakan tenaga yang tersisa untuk menghajar Karin, tapi lawannya terlalu gesit.

"Kita mulai." Karin berbalik menghadap dinding, menempelkan kepala pada lengan yang menyandar pada semen bercat putih. Dia menghitung sesuai bunyi putaran jarum detik pada jam dinding. Teta mencoba sekali lagi. Dia merayap lebih cepat dan kuat. Melempar badan menuju pintu, jalan keluar kebebasan. Kaki yang terikat mendorong pinggul naik. Kedua belah siku bagai katrol. Naik! Naik! Kamu pasti bisa Teta. Kamu tidak boleh kalah dari wanita gila ini! Tidak! Hidupmu masih panjang!

"Tiga puluh," ucap Karin. Dia tertawa pelan memikirkan perjuangan dan kecemasan Teta. Karin menikmati permainan ini. "Berapa sudah yah?" tanyanya. "Oh iya, empat puluh delapan. Empat puluh sembilan."
Teta terkejut. Hitungan dipercepat Karin. Wanita itu ternyata selain jahat, gila juga licik. "Lima puluh. Siap atau tidak, aku akan menangkapmu." Suara Karin berayun layaknya melodi kanak-kanak. Dia berjalan pelan. Tangan Teta telah mencapai pintu. Teta hanya perlu berdiri dan meraih kunci. Hanya itu. Tangan kirinya mengapai kunci dengan kesusahan. Langkah Karin sengaja diseret. Terlambat, Penyekapnya telah menjambak rambut lurus panjang yang menjadi kebangaan Teta. Karin menarik kuat lalu melempar ke sudut ruangan. Lembaran halus tertinggal pada jemari lentik Karin. Dia menebar pada udara lalu kembali ke kursi tempatnya duduk.

"Ayo dimulai lagi." Karin kali ini menutup mata dan bersandar pada rotan. "Satu, dua, tiga ...,"
Teta ingin menyerah. Tapi dia tidak mau mati begitu saja di tangan wanita ini. Wanita aneh yang tidak dikenalnya. Takdirnya tidak untuk mati menderita dan sia-sia. Kembali Teta mencoba mencapai pintu. Kali ini dia menggunakan sisi kiri badan yang tidak terlalu banyak luka untuk merayap. Percobaan kedua ternyata Karin menghitung tanpa kecurangan. Teta berhasil menggantungkan tali pengikat tangan pada gagang pintu. Dia menumpukan badan dan segala harapan pada pintu kayu tebal. Tangannya mendapatkan kunci. Gemetar akibat rasa sakit yang mendera dan kegembiraan membuatnya sulit memasukkan anak kunci kecil pada lubang.
"Lima puluh. Siap?"
Teta semakin cemas.
"Aku datang," ucap Karin. Kuncinya masuk. Dia cukup memutar. Tapi tangan Karin terlebih dahulu menghantam punggungnya dengan tongkat. Tubuh Teta menubruk gagang pintu. "Aduh, sakit? Maafkan aku," ujar Karin tanpa menunjukkan penyesalan.

Kunci dicabut Karin, dimasukkan ke dalam saku celana yang memiliki corak baru -- warna-warni darah Teta.
"Kenapa aku?" tanya Teta, matanya terpejam air mata bercampur tangis.
"Karena aku benci kamu. Aku benci ibu tiri jahat." Karin menyanyikan jawabannya riang seakan semua yang di hadapannya adalah sebuah pemandangan indah.

Teta menelan ludah kesusahan. "Aku tidak bersalah padamu. Cari korban yang lain. Aku mohon. Aku akan melupakan kejadian ini. Dan tidak akan melaporkanmu pada pihak berwajib. Aku berjanji, sungguh," pinta Teta lirih.
"Biar kuingatkan Teta, kesalahanmu." Karin duduk bersila di depan muka tawanannya dengan jarak setengah meter. Dia mulai mengetukkan tongkat pada lantai. Atmosfir di sekeliling Karin menjadi panas, begitu pula nafasnya.

"Ingat akan Makarina Lubin? Atau Makartika Lubin?" Tongkat memukul semakin cepat, seirama detak jantung Karin dan Teta saat nama itu terucap. Keduanya menyusuri masa lalu. Saat ibunya Teta menikahi ayah kedua gadis tersebut. Teta berusia 13 tahun, Kartika 11 tahun dan Karina 6 tahun. Karina? Karin? Tidak mungkin! Bukankah gadis kecil itu telah dikirim ke desa di pulau tempat tinggal salah satu kerabat Ayah Karman? Mereka bahkan sudah tidak bertemu begitu lama. Teta menatap ngeri.
"Kamu sudah ingat, Teta?" Karin memamerkan senyum lebar. "Ingat pula bagaimana perlakuan Ibu tiri dan kakak tiriku yang baik hati itu kepada kami?"
"Semua sudah berlalu, Karin." Teta tahu dia telah bertemu penjagal yang akan mencabut nyawanya.
"Kulihat buah jatuh tidak jauh dari pokoknya." Karin menepukkan tongkat pelan pada luka-luka Teta. Pelan, namun mengirim sinyal sakit pada setiap syaraf. "Kamu jelmaan wanita iblis itu. Terlalu mirip! Sayang dia telah mati." Karin mendengus. "Mainanku berkurang satu."

Teta bergidik. Karin menganggap dia hanya sebuah benda, mainan. "Bunuh saja aku, Karin. Aku sudah lelah."
Karin tertawa lebar. "Tidak asyik. Untuk orang sekejam dirimu, kamu terlalu mudah menyerah."

Dia lalu mengambil botol minum dari dalam lemari pendingin. "Jus jeruk, mau?" Tanpa menunggu jawaban Teta, Karin meneteskan pada mulut tawanannya sedikit demi sedikit. "Vitamin C bagus untuk kesehatan juga kecantikan kulit." Saat berikutnya, isi botol berpindah pada tubuh. Teta menangis, menjerit kesakitan kemudian pingsan.

--

Teta tidak tahu sudah berapa lama dia di ruangan ini. Telah berapa kali dia pingsan dan dipaksa bangun oleh Karin. Puluhan butir obat penahan sakit dipaksa masuk. Lukanya dibalut, kemudian ditambah dengan luka baru. Rasanya sakit telah melewati batas kemampuannya. Teta berharap Tuhan segera mencabut nyawanya saja.

"Aku mau kamu menelepon Ayah." Suara Karin terdengar biasa, seakan itu adalah percakapan yang sering mereka lakukan. Teta menggeleng pelan, "untuk apa?"
"Katakan padanya kejujuran itu, Teta." Masih dengan suara riang yang sama.
"...." Teta diam. Dia tahu maksud perkataan Karin. Mantan adik tirinya pasti ingin membersihkan nama baiknya di hadapan Sang Ayah kandung. Mendapatkan kembali cinta Karman setelah sekian lama dikucilkan karena dianggap membuat Kartika, anak kesayangan yang begitu mirip dengan istri pertama -- ibu kandung dua adik tiri Teta -- meninggal. "Kematian Kartika itu salahmu." Teta yakin dia tidak akan selamat. Maka dari itu dia ingin membuat Karin terpuruk semakin dalam pada putaran rasa bersalah.

Karin duduk diam. Dia memeluk sebuah boneka barbie kecil kumal dengan rambut tipis. Rambut boneka itu dijalin dari lembar hitam milik Kartika yang tertinggal pada jemarinya, dulu. "Kartika tidak akan meninggalkanku bila kamu tidak mendorongku ke air."
Teta ingat dia senang mengerjai Karin kecil yang kerap menangis dan bersembunyi di balik Kartika. Dia benci melihat bocah kecil yang terus merenggek meminta perhatian Karman. Belum lagi ibunya mengatakan kalau dia tidak perlu menganggap kedua gadis kecil itu sebagai saudara bila tidak ada orang. Ibu juga mengatakan kalau Karin lebih berbahaya daripada Kartika yang lembut. Teta tahu betul Karin tidak bisa berenang, bahkan takut akan air. Setahun setelah pernikahan ibu dan ayah barunya, mereka berwisata ke sebuah resort. Sebuah pondok mewah yang terletak agak jauh dari pondok lain disewa. Pondok yang dibangun di tengah danau. Dia sengaja mendorong dan menikmati teriakan takut Karin saat Kartika masuk mengambilkan bocah kecil itu sweater.

"Kartika tidak akan pergi kalau kamu tidak terlalu pengecut. Bertindak ceroboh dengan memukul-mukulkan kedua belah tangan di air dan berteriak di dalam air. Bahkan saat Kartika sudah memeluk, kamu masih terus menendang dan menjerit juga memukul." Teta tertawa tanpa suara. "Phobiamu pada air menyebabkan kepergian kakak tersayang. Kepalanya menghantam pinggiran tangga, karena ketakutanmu." Melihat wajah pucat Karin, Teta puas. Dia terbahak. Namun semua berbalik saat Karin menusukkan pisau pada lengannya. Teta bergelung, menahan sakit dan darah yang mengucur.
"Telepon dan katakan!" bentak Karin. Dia tidak mau dipermainkan lagi. Dialah pemegang kekuatan! Akan sia-sia rencana ini juga tekad menyatakan perang pada ketakutan yang menghantui seumur hidupnya. Kecemasan tanpa arti pada air yang menelan ibu. Juga pada ibu tiri yang menyebabkan dia dan kakaknya terpisah selamanya. Andai saja wanita brengsek itu segera menolong, bukannya mencemaskan alasan yang harus dikatakan pada ayah Karin.
Teta mengulas senyum di antara perih luka yang mengerogoti. "Tidak. Toh, aku akan mati. Jadi, biar kunikmati ...," ucapnya sambil mengatur nafas, "penyesalanmu."

Karin berdiri, berjalan mondar-mandir. Dia melirik Teta lalu tersenyum. "Aku akan memberikan kunci ini. Asal kamu menelepon Ayahku."
Teta menggeleng. "Kamu tetap akan membunuhku."
"Baiklah. Bagaimana bila kamu berdiri di depan pintu sambil menelepon. Ketika percakapan usai kamu boleh membuka pintu dan pergi." Karin melakukan tawaran. Dia butuh pengakuan Teta agar ayahnya tahu kenyataan yang ada. Bukan berdasarkan cerita ibu tiri dan saudari tirinya. Melimpahkan kesalahan pada dirinya saja.

Teta menimbang sejenak. Dia merasa mendapatkan kesempatan emas. Teta akan mengatur percakapan lambat dengan pria tua tersebut, sambil membuka pintu. Dia dapat kabur sebelum percakapan usai. "Aku mau tangan dan kakiku dilepaskan ikatannya."
Karin mengangguk setuju.

Suata panggilan masuk terdengar pada pengeras suara ponsel. Teta menelan ludah. Meskipun tangan dan kakinya bebas, namun luka memperlambat gerak. Dia bersandar. Kunci masih dipegang oleh Karin. Jawaban terdengar dari seberang. "Ayah, ini Teta." Suaranya terpatah-patah antara menahan sakit juga cemas. "Aku mau bilang ...."
Karin memutar kunci di depan mata Teta. Lalu menariknya menjauh sebelum tangan Teta meraih. "Dulu ...,"
Karin menanti dengan penuh harap. Ini adalah momen yang telah dia tunggu begitu lama. Dia bertahan hidup dengan semua kepedihan hidup di pulau terpencil. Melempar diri pada pria tua kaya sebagai istri ke empat supaya memiliki cukup uang untuk mencari keberadaan Sulva -- ibu tirinya - dan Margareta - atau Teta, demikian dia menyebut diri dengan nada kekanakan - saudari tirinya. Sebuah pukulan ringan dilayangkan Karin pada pinggang Teta. "Argh!" Wanita itu mengaduh kesakitan. Lalu Karin menyuruh dia menjaga mulut.
"Tidak. Terantuk kaki meja." Teta masih mengulur waktu. Dia berharap dapat meraih kunci. Namun pukulan kembali mendarat saat percakapan terhenti. Dia tidak bisa menerima satu pun kesakitan lagi, terlalu berat. Juga dapat menghambat bila luka bertambah. "Aku yang mendorong Karina ke danau." Dia sudah mengatakan apa yang seharusnya. Meski bukan sesuai keinginan Karin.

Mata Karin melotot. Dia menjambak rambut Teta namun dengan cepat Teta menghindar. Kunci di jemari Karin diraih dan berpindah tangan. Tawanan itu tersenyum puas. Dia bahkan sempat mendorong Karin ke dinding. Entah dari mana kekuatan itu. Yang pasti, dia ingin hidup.

Kunci tidak cocok pada pintu. Terlalu besar. Teta mengumpat. Di sana berdiri Karin dengan tongkat dan pisau di tangan. Kemudian tongkat dan pisau dia biarkan jatuh ke lantai. Karin mengeluarkan sebuah kunci, membalutnya dengan permen karet yang dikunyah sedari tadi. Lalu menelan masuk. Teta berteriak kesal!

"Waktuku sudah usai," ucap Karin. Dia duduk pada lantai. "Kamu mau keluar? Ambillah kuncinya. Kamu tahu di mana kuletakkan." Dia tertawa lebar seakan melupakan semuanya. Bebas dan lepas.
"Brengsek kamu, Karin! Bedebah!" Teta mengamuk. Dia mengambil tongkat dan menghajar Karin yang duduk diam. Darah mengucur pada baju kaos putih yang memang telah banyak bercak darah. Kali ini bukan darah Teta, tapi darahnya.

"Suami tuaku tidak kan pulang dalam sebulan. Dia sedang menyelesaikan tugas menabur benih pada istri barunya. Kuberitahu, jika mau hidup. Ambillah kuncinya!" Karin merayap, meraih boneka kecil jelek itu.
Teta kalap, memikirkan akan mati bersama wanita gila itu di ruangan ini membuatnya muak. Dia meraih pisau dan menancapkan tepat pada perut Karin. Dia hanya mempertahankan nyawanya.
"Kamu lihat Kak Kartika. Sekali pembunuh selamanya pembunuh."

-- fin --

Link berita :

1. Macam-macam phobia aneh : http://forum.viva.co.id/aneh-dan-lucu/1246835-7-phobia-aneh-yang-benar-b...

2. Penganiayaan Ibu Tiri : http://internasional.kompas.com/read/2012/11/30/08471555/Korban.Pengania...

3. Ibu tiri diburu, karena menyiksa anak tirinya : http://m.news.viva.co.id/news/read/438814-diburu--ibu-yang-menyiksa-anak...

4. Artis-artis dengan Phobia unik dan aneh : http://m.vemale.com/ragam/36423-10-phobia-unik-yang-dialami-selebriti.html

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer hamdan15
hamdan15 at Tantangan : Bertahan Hidup (3 years 16 weeks ago)
100

hmm, hampir kerasa kyk play SM ini mah.
.
nggak terlalu menarik ngeliat orang gila ngebully seseorang. panjang lagi bagian itunya.
.
thrillernya nggak kerasa. yasudhlah...

Writer pecundang jalanan
pecundang jalanan at Tantangan : Bertahan Hidup (3 years 16 weeks ago)
100

Ceritanya menarik
Ketegangan dalam ceritanya juga terasa.
agak sedikit sulit mengikuti kisah lampaunya.

Writer Shinichi
Shinichi at Tantangan : Bertahan Hidup (3 years 16 weeks ago)
100

saya agak kesulitan memahami cerpen ini, tante. saya khawatir karena kurang konsentrasi dan belum makan. ahak hak hak.
.
yang ingin saya komentari adalah peristiwa Karin bertemu Teta. di pembacaan saya peristiwa itu nggak alami. maksudnya, Karin semestinya nggak sesembrono itu dan Teta nggak sekonyol itu mau ngurusin urusan Karin yang, sepertinya dari cerita, baru dikenalnya.
.
secara umum, kesulitan saya bisa dirangkum dalam dua hal saja, yakni karakterisasi dan runutan peristiwa, yang mana memengaruhi dialog. saya pikir itu aja siy. kip nulis dan kalakupand.

Writer xenosapien
xenosapien at Tantangan : Bertahan Hidup (3 years 16 weeks ago)
80

*mampir lewat*
*bergidik*
.
Ini... horor! >_<

Writer cat
cat at Tantangan : Bertahan Hidup (3 years 16 weeks ago)

Jadi jatuhnya horor yah bukan thriller.

Huhuuhuhu

Writer xenosapien
xenosapien at Tantangan : Bertahan Hidup (3 years 16 weeks ago)

Horor thriller. ^^a