Tantangan : SoL Fantasy : Biji Bunga Matahari

Tantangan : SoL Fantasy.

HoR : Isis : Biji Bunga Matahari.

Aku baru selesai membereskan toko kemudian bermaksud membalik gantungan kayu berwarna pelangi bertuliskan 'tutup' menjadi 'buka'. Di depan pintu kaca telah berdiri seorang gadis bermata bulat dengan kulit kuning langsat. Dia mengenakan celemek juga. Aku mengetuk pintu kaca pelan dan mengisyaratkan sudah buka. Dia tersenyum dan masuk.

"Aku mau membeli sepuluh batang bunga matahari mini," ucapnya lalu mengedarkan pandangan pada sekeliling toko. Dilihatnya aneka barang unik dan menarik terpajang. Dari novel, mug, jam, boneka hingga lingerie pada sudut ruangan. Barang-barang tersebut ada yang memiliki kekuatan ajaib, tapi tidak semuanya. "Maaf, kudengar House of Romance adalah toko bunga." Dia membungkuk lalu hendak pergi. Langkahnya buru-buru. Aku melakukan sedikit (hanya sedikit) kecurangan dengan kemampuan sihir keahlianku. Menerbangkan serbuk bunga dan membuatnya bersin-bersin sehingga harus berhenti sejenak. Kusodorkan beberapa lembar tisu. "Maaf," ucapnya lagi.

"Di sini memang toko bunga. Tapi beberapa waktu lalu kami juga membuka toko pernak-pernik barang-barang romantis." Ucapanku membuat dia tersenyum. Dia mengikuti dari belakang menuju bagian aku menata pot-pot bunga segar. "Bunga matahari?" tanyaku. Dia mengangguk. Kulihat pada celemeknya ada tulisan 'Miracle flower'. "Kamu membuka toko bunga?"
Dia terlihat gelagapan dan kikuk. Lalu mengangguk. "Sebetulnya aku kehabisan stok bunga matahari mini. Pemasok mengatakan panen bunga matahari sedang sulit di musim hujan. Lalu kudengar kalau di sini selalu tersedia semua jenis bunga tanpa mengenal musim." Dia menatap takjub pada bunga yang berjejer rapi. Aku tersenyum. Bagaimana mungkin aku yang memiliki darah peri bunga kehabisan bunga.
"Kalau begitu kuberikan diskon lebih. Datanglah kapan pun. Aku akan sangat senang dapat mengobrol mengenai bunga-bunga ini dengan ahli bunga juga." Ucapanku membuatnya senang sekaligus tersipu.
"Aku hanya pencinta bunga." Jawabannya mengukuhkan pendapatku, tepat. Dari jemari, cara dia memperlakukan buket bunga, aroma tubuh serta menatap kelopak-kelopak aneka warna telah menunjukkan betapa dia mencintai bunga, sama seperti diriku. Aku tergoda untuk mencari tahu lebih dalam tentangnya. Sebab sesaat aku merasakan semacam kegelisahan yang mengalir dan memerlukan bantuan kami.

--

Sudah empat hari berturut Mira membeli bunga matahari mini potong padaku. Dia selalu datang sebelum jam buka toko lalu kembali dengan tergesa-gesa seakan dikejar waktu. Oleh karena itu, sengaja hari ini aku membuka toko lebih awal. Dia terkejut saat aku membukakan pintu ketika dia baru saja memarkirkan motor di halaman depan toko.

Aku ini termasuk suka ikut campur masalah orang lain. "Kenapa selalu membeli bunga matahari? Kurasa bunga ini sangat jarang pembeli. Kecuali adik bungsuku, Afhro. Dia penggemar bunga matahari. Sedangkan Freya lebih suka lavender. Kama dan Eros meski kembar, dia menyukai bunga yang berbeda." Aku mulai melantur terlalu jauh. Namun tampaknya Mira tidak keberatan dengan semua percakapan ini. Belum lagi sempat Mira menjawab, dari dalam terdengar suara gaduh. "Mereka turun," ucapku.
"Mereka?" ulang Mira.

Pertama Eros disusul Kama, lalu Freya dan Afhro. Aku sengaja menjentikan jemari di balik celemek, menggerakan tirai yang terbuat dari aneka untaian bunga turun dan menghalangi jalan mereka. "Maaf, permisi sebentar."

Mereka menunjukkan aneka raut wajah. Eros bete, Kama cuek, Freya mengernyit dan Afhro berusaha tersenyum. "Apa harus setiap hari kami membawa kotak bekal? Kami ini ...." Eros kembali disikut Freya. Lalu kutunjuk pada tamu toko yang tampak bersinar cemerlang di antara bunga-bungaku. "Sapalah tamu kita. Mira. Yang sering kuceritakan saat makan malam."

Mereka semua langsung tersenyum ramah dan menyapa Mira. Setelah itu keempatnya berangkat. Aku berbisik pada Eros, memastikan dia menggunakan motor, bukan sayap. Ya, dia memiliki sayap yang ingin kujadikan spicy wing bila melanggar aturan lagi.

"Sampai di mana kita tadi?" tanyaku. "Oh, iya. Kenapa bunga matahari?"
Mira membasahi bibir sejenak. Dia tampak ragu sebelum akhirnya mulai berbicara."Aku memiliki seorang pelanggan yang selalu membeli bunga matahari setiap pagi. Sepuluh batang bunga matahari. Diikat pita berwarna coklat."
"Setiap hari?" Aku menganggap hal itu sungguh istimewa, apalagi bunga yang dipilih cukup berbeda. Bukan mawar, lili, krisan atau tulip. Bunga Matahari, berwarna kuning cerah dengan lingkaran hitam berisi biji-bijinya di temgah. Dia seakan memosisikan tiap helai kelopak bunga untuk dapat menyerap hangatnya matahari. Lalu kemudian, dibagikan kepada seluruh alam beserta isinya.
"Ya, dia membeli untuk seseorang yang disayanginya." Mira menunduk.
"Dia itu seorang pria?" tanyaku lagi. Meski yakin, Mira akan mengangguk menjawab pertanyaanku.
"Baiklah, sudah selesai." Kusodorkan buket bunga tersebut dan kemudian Mira melesat pergi dengan motornya.

Aku mengambil ponsel dan menghubungi Eros. Seharusnya aku bisa memanggilnya melalui telepati. Tapi hal tersebut menguras konsentrasi, ponsel lebih mudah. Lagipula, memberikan privasi pada masing-masing kami untuk mau menerima panggilan atau tidak. "Eros, tolong selidiki Miracle Flower Shop. Khususnya pembeli buket bunga matahariku." Eros tidak banyak bicara. Dia hanya mengiyakan lalu menutup panggilan. Siapa yang tidak terbiasa, pasti mengira dirinya menyebalkan. Walau sebenarnya, dia memang menyebalkan. Aku sudah kebal terhadap sikap aneh keempat adikku --dua adik kandung, dua anak kembar itu juga kuanggap adik. Mungkin aku juga aneh. Sudahlah.

--

Di meja makan dengan sayur asem, ikan asin, rendang sapi, lalapan dan sambal kami duduk berbincang. "Kenapa namanya sayur asem?" Kama melempar candaan. Sepertinya dia sedang gembira, moodnya sering berubah-ubah yang disesuaikan oleh warna rambutnya.
"Karena pake asem jawa," sahut Freya cepat. Kama menggeleng. "Tidak penting," gerutu Eros.
"Biarin," ujar Kama menanggapi Eros. Mereka selalu begitu. Gambaran anak kembar yang selalu menempel dan akur, sama sekali hancur oleh imej mereka.
"Lalu kenapa?" Suara Afro membuat Kama segera berpaling.
"Karena bukan sayur pahit." Kama dan Freya tertawa. Sedangkan Afro dan Eros menatap bengong. "Sudah kubilang, tidak penting." Eros kembali menggerutu.

Aku segera mengambil alih topik sebelum berlanjut pada perang dingin sihir jarak meja makan kembali terjadi. "Bagaimana dengan tugasku ke kamu Eros?"
Eros, Kama, Afro dan Freya memusatkan perhatian padaku. Eros menghela nafas lalu mengeluarkan selembar kertas. Dia menyodorkan. "Aku mau laporannya secara lisan juga," ucapku lagi.
Lalu dengan malas dia mengetuk pada kertas. Lipatan terbuka dan suara pun terdengar. Eros membuat huruf-huruf itu menyuarakan diri mereka sendiri. Perpaduan suara A,B,C hingga Z yang berbeda tinggi nada kadang membuatku pusing. Dulu ketika kecil kami sering melakukan hal ini. Saat malas membaca isi catatan untuk ulangan di sekolah manusia biasa, yang harus kami ikuti walau tidak tahu apa gunanya selain nilai-nilai pada buku rapor. Lagipula aku lebih suka mendengar suara anggota keluarga ini dibanding sihir tersebut.

Freya meraih dan menghentikan sihir Eros. Dia membaca. "Mira adalah pemilik kios bunga kecil yang jaraknya tak jauh dari sini. Ada petanya," ucap Freya sembari menunjukkan pada kami semua. "Seorang pria yang berprofesi sebagai arsitek membeli buket bunga matahari setiap harinya selama hampir setahun ini." Kami terkejut. Selama hampir setahun. 12 bulan. 365 hari. 365 dikali 10 batang bunga, artinya 3.650 batang bunga matahari. Sungguh menakjubkan.

"Pria itu membawa bunga ke salah satu makam dan meletakkan di sana setiap pagi sebelum berangkat kerja." Kembali kami terdiam. "Selama hampir setahun ini memastikan makam tersebut tidak kehabisan bunga."
"Makam siapa?" tanya Kama.
"Tidak dijelaskan," sahut Freya.
"Aku tidak melihat namanya." Kami menghela nafas panjang mendengar jawaban Eros.
"Iya, besok akan kucari tahu. Sebenarnya malam ini juga bisa, asal nenek cerewet ini tidak melarangku menggunakan sayap." Eros memicingkan mata menatapku.
"Lalu saat kamu muncul di makam, lengkap dengan sayap. Dan terlihat orang. Mereka akan menganggap malaikat pencabut nyawa datang? Besok fotomu akan muncul di koran, televisi dan internet. Kamu akan jadi artis dadakan," ledekku. Eros melempar sebutir kacang tanah ke arahku.
"Ayolah, Kak Isis, engsel sayapku bisa karatan bila lama tak dipakai. Atau bahkan aku akan lupa cara terbang lagi." Dia memasang tampang paling memelas yang dia bisa. Walau lebih terlihat seperti seringai penuh rencana jahil di mataku.
"Mana mungkin. Terbang adalah kemampuan alamimu," sahutku.
"Sama seperti kemampuan alamimu mencereweti kami, Kak Isis." Ucap Kama. Eros segera memberikan toss jarak jauh pada Kama. Kalau urusan begini mereka selalu seiya sekata.
"Baiklah. Gunakan untuk mencari tahu tentang nama di makam. Tapi, nanti setelah tengah malam." Aku lalu membereskan meja makan.
"Freya ikut?"
"Aku ikut."
Eros dan Afro berkata bersamaan. Lalu suasana menjadi aneh dan canggung. Eros sering mengajak Freya. Namun baru kali ini Afro meminta ikut serta. "Aku banyak kerjaan. Terima kasih pada pasangan 'tidak bisa menentukan sup' yang kamu satukan itu adik kecil. Bahkan menjelang hari H dan setelah sihir mimpi dariku, mereka masih sering mendebat tentang berbagai hal." Freya memijat pelipisnya pelan. Terutama sup!" Tambahnya dengan suara lelah nan dramatis. Aku tersenyum, Afro, Kama dan Eros juga. Tapi tak lebih sekedar senyum basa-basi. Kama memundurkan kursi lalu beranjak naik tanpa berkata apapun. Warna rambutnya perlahan berubah merah menyala. Dia bisa menyembunyikan ekspresi wajah, tapi tidak warna rambut. Tersisa aku, Afro dan Eros. Aku menghela nafas lagi. Sekali 'lagi', Isis harus mencairkan suasana. "Ada baiknya juga. Jadi nanti Afro bisa menitipkan merpati kesayangannya di makam juga di toko bunga Mira. Lagipula, Afro belum pernah mencoba terbang. Mungkin dia penasaran akan rasanya terbang tanpa pesawat jet serta pelayanan kelas utama." Astaga aku mengoceh terlalu banyak. "Selamat bersenang-senang." Aku pun melesat ke dapur mencuci piring membiarkan keduanya masih berdiri. Sejujurnya aku curiga ada hal lain dari persaudaraan yang telah terjalin, entahlah. Biarlah semua terjadi dengan sendirinya. Afro, Eros, Freya dan Kama tidak perlu sentuhan sihir untuk kisah cinta mereka. Karena cinta saja sudah merupakan sihir terindah.

--

Pagi hari aku tidak bertemu Freya, Eros, Afro maupun Kama. Mereka pergi bekerja begitu pagi. Kotak bekal di atas meja lenyap sesaat setelah aku meletakkan, lalu pergi ke toilet. Aneh.

Aku bertemu lagi dengan keempatnya saat makan malam. Dari laporan Eros dan Afro, diketahui bahwa pria itu bernama Damian. Arsitek muda yang baru membuka kantor desainnya sendiri satu tahun yang lalu. Makam itu adalah makam Kinara Astidaya, tunangannya. Telah meninggal selama satu tahun karena kecelakaan lalu lintas.

Secara mengejutkan ternyata Kama menyelidiki tentang kecelakaan tersebut. Kinara, mengalami kecelakaan setelah pulang dari acara peresmian kantor Damian. Kesibukan melayani tamu, membuat Damian tidak bisa mengantar tunangannya pulang. Hal yang menyebabkan penyesalan yang teramat dalam pada pria itu.

"Selalu datang terlambat," ujar Freya.
"Iya. Tapi penyesalan tidak untuk membuat seseorang terpuruk selamanya." Eros mengunyah roti fla jagung yang baru selesai kupanggang.
"Kepergian dan rasa bersalah membuat Damian yakin dia tidak pantas untuk mendapatkan cinta lagi." Freya menambahkan laporan.
Kami menatap Freya lekat. "Aku mengintip sedikit mimpinya. Hanya sedikit." Dia selalu begitu.
"Kamu dilarang mengintip mimpiku," ancam Eros. Freya mencibir,"tidak perlu. Aku sudah tahu isinya pasti tidak menarik."

Pembicaraan kembali pada topik utama. "Setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua," ucapku.
"Sayangnya, tidak semua orang memiliki keberanian untuk mencoba meraih." Afro berkata pelan.
"Mungkin sedikit dorongan akan berguna." Kedipan jahil diberikan Freya.
"Sebetulnya, bandulku pagi ini menunjukkan kalau Mira dan Damian memiliki kecocokan," ucap Afro.

Tatapan kini berpindah pada Afro. Si bungsu yang selalu tenang dan lembut. Dia sedikit salah tingkah. Tentu saja, Afro terkenal sibuk. Wajah cantiknya --sungguh tepat ayah dan ibu memberinya dengan nama Dewi Aphrodite-- membuat dia sangat tenar sebagai model. Sulit bepergian tanpa menyamar. "Tadi kebetulan pemotretan diundur. Jadi aku sempat melakukan sedikit penyamaran, lalu menunggu kedatangan Damian."
Aku lalu menjentik, keempat kursi merapat. Lalu kupeluk erat mereka. Suara protes kembali terdengar. Adik-adik kecilku melakukan banyak hal tanpa perlu diminta. Mereka ternyata serius menanggapi keajaiban toko House of Romance kami.
"Lepaskan, Kak Isis!" Kali ini mereka kompak memberontak. Aku tertawa lebar.

--

Mira masuk dan terkejut saat melihat tidak ada bunga matahari potong. Dia menekuk wajah kecewa. "Bunga mataharinya tidak ada, Kak Isis?" Mira masih berusaha bertanya padaku. Berharap siapa tahu aku meletakkan di bagian lemari pendingin atau kebun di belakang toko. Aku menggeleng. "Tidak ada."
Dia menghela nafas. "Bagaimana ini?" Mira menggigit bibir cemas. "Aku harus mencari ke toko lain. Satu jam lagi dia datang."

Langkah Mira kali ini kutahan. "Toko bunga terdekat lainnya harus ditempuh 2 jam perjalanan, belum termasuk macetnya Jakarta."
Mira terkulai lemas di kursi. Dia terlihat begitu putus asa. "Apakah sebegitu pentingnya bunga matahari ini bagimu?" Mira mengangguk.
"Kenapa?" tanyaku lagi.

Mira menceritakan pertemuan-pertemuan mereka yang terjadi di tokonya padaku. Bagaimana dulu Damian selalu berwajah ceria serta membeli bunga matahari untuk perayaan-perayaan penting dengan kekasihnya. Lalu Damian kadang membagi kisah saat berhasil membuat Kinara bahagia sambil menunggu buket diselesaikan. Mira awalnya hanya menanggapi sebagai sahabat, apalagi dia tahu Damian sangat menyayangi Kinara. Tapi, hampir selama dua tahun pria itu berhenti membeli bunga matahari langsung. Hanya menelepon memesan bunga matahari sebuket besar pada hari peringatan jadian, hari peringatan tunangan serta ulang tahun untuk dikirim pada kekasihnya. Setiap kali Mira sendiri yang membawakan buket itu pada Kinara. Aku berusaha tidak memotong penjelasannya.

"Kinara tidak pernah marah. Dia selalu memaklumi kesibukan Damian dalam menapak karir. Dia sabar menanti hingga kekasihnya meluangkan waktu." Mira terdiam, dia menangis. Aku lalu menuangkan segelas teh dengan aroma melati juga gula batu kesukaanku. Aroma melati dan teh selalu berhasil memberikanku rasa tenang.

"Damian menyalahkan diri atas kematian Kinara. Dulu ketika mereka baru jadian, Damian pernah berjanji saat telah sukses akan menghadiahkan Kinara bunga matahari setiap harinya. Walaupun Kinara pernah bercerita kalau dia lebih menyukai dibuatkan taman berisi bunga matahari. Agar mereka dapat duduk bersantai di sana." Mira kupaksa meneguk teh yang sudah tidak terlalu panas tersebut. "Setelah kepergian Kinara, Damian menghukum dirinya. Bekerja tanpa henti. Dia juga memenuhi janjinya pada kekasihnya dengan membawakan bunga matahari setiap hari. Katanya sepuluh melambangkan kesempurnaan yang pantas untuk Kinara."

"Kamu mulai menyukainya?" Aku langsung bertanya dan wajah Mira kembali bersemu merah. Dia mengangguk. "Aku cukup menjadi bunga matahari, pengagum rahasia. Hanya ingin memastikan dia dapat memenuhi janjinya pada kekasihnya. Serta memastikan dia selalu baik-baik saja."

Cinta kasih yang ditujukan Mira tulus, hal itu membuatku tergerak.
"Aku gagal memenuhi janjiku. Tidak ada bunga matahari hari ini, bagaimana aku dapat membantunya?" Mira menunduk lemah.
"Jika menyayanginya tidak bisa kamu biarkan Damian terus terpuruk." Kuberikan sebuah pot kecil berisi bunga matahari mini. Senyum mengembang pada bibirnya.
"Kemudian, bantu Damian memenuhi keinginan Kinara. Sebuah taman bunga matahari. Bantu dan ajari dia cara menanam biji bunga matahari pada sekeliling makam Kinara, serta menjaga hingga berbunga."
Dia menatapku bingung. Kuserahkan sebuah kantung berwarna merah muda dengan pita serupa untaian pelangi yang di dalamnya berisi delapan biji bunga matahari.
"Kuberitahu satu rahasia." Aku menunduk dan berbisik. "Biji-biji ini adalah biji bunga matahari ajaib."

Mira membelalak. "Benarkah?"
Lalu kurapalkan sebuah mantra yang menjadi keahlianku juga. Awan kecil muncul di atas pot bunga matahari. Hujan turun. Mira menutup mulutnya lalu menjulurkan jari merasakan tetes layaknya gerimis.
"Apa sihir dari biji bunga matahari ini?" Mira bertanya dengan penuh harap.
"Tanam biji ini dan jagalah dengan penuh kasih sayang. Setiap tangkai bunga yang mekar akan menyerap kesedihan orang yang kamu sayangi. Ketika bunganya mengering, ambil biji yang itu dan taburkan lagi. Sehingga akan tercipta taman kecil yang indah." Aku membuka kantong dan menunjukkan biji berwarna hitam bergaris coklat.
"...." Mira terlalu gembira hingga sulit berbicara.

"Satu lagi. Bunga matahari ini bernama, bunga matahari sunsmile. Dia adalah bunga matahari yang memberikan senyuman, sama seperti dirimu. Munculkan kembali keceriaan pada wajah Damian." Aku mengenggam jemari kiri Mira.
Tiba-tiba saja dia melompat riang. "Berapa aku harus membayar?" Mira mulai cemas. Dia menatap kedelapan oval kecil pada telapak tangannya.
"Kamu cukup membawakan aku biji bunga matahari yang kamu tanam setelah kamu dan orang yang kamu sayangi mendapatkan kebahagiaan," jawabku.
"Itu saja?" ucapnya tak percaya.
"Untuk mengapai kebahagiaan tidaklah mudah. Namun bukan juga hal mustahil."

Mira memeluk kantong kecil seakan itu adalah harta karun. Kemudian dia berulang kali berterima kasih. Dia berjanji akan merawat biji-biji bunga dengan baik dan penuh cinta kasih. Aku tersenyum bahagia. Semoga saja Mira dan Damian menemukan jalan untuk dapat mengapai impian bersama. Serta tersenyum bersama.

Aku melirik pada pintu penghubung toko dan rumah, "keluar kalian."
Langsung saja keempat adik-adik itu muncul.
"Kenapa belum pergi kerja?" Aku sengaja pura-pura tidak mengerti.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Freya penasaran.
"Jangan bilang semua penyelidikan dan pekerjaan kami sia-sia." Eros melipat tangan di dada dengan cueknya.

Sengaja kubiarkan mereka terus bertanya dan mendesak. Lalu aku tersenyum. "Kuberikan dia biji bunga matahari."
"Kak Isis tambahkan ramuan atau mantra apa?" Kama ikut bertanya.
"Aku tidak pandai dengan mantra. Jadi, tidak ada mantra ataupun sihir. Hanya biji bunga matahari mini," lanjutku sambil merapikan bunga-bunga yang tampak ikut tersenyum. Keempatnya mengerang kecewa.
"Kak Isis batal membantunya?" Afro menarik lenganku.
"Dia hanya butuh keberanian untuk maju mendekati Damian. Sedikit alasan agar dapat bertemu dan berbincang lebih lama dari sekedar basa-basi. Menyemai biji, memelihara dan menjaga hingga berbunga akan memberikan waktu serta interaksi yang cukup dalam menyadari bahwa cinta datang mengetuk." Aku lalu menyemprot bunga potong dengan air embun yang kukumpulkan tiap subuh.
"Hanya begitu saja?" Eros lalu mengambil tas punggung dan kotak bekal.
"Serius tidak perlu sihir apapun?" Freya masih ingin merapal beberapa mantra yang dia ketahui dalam bahasa peri.
"Waktu dan perhatian akan menjadi mantranya, Freya. Lagipula, Mira sudah memiliki sihir yang paling ajaib." Aku tersenyum.
"Cinta." Freya, Eros, Kama dan Afro menjawab bersama. Kami lalu mencatatkan kisah kecil pada sebuah buku tua. Buku yang terlihat tipis tapi memiliki halaman tak terbatas.

Satu keajaiban cinta akan segera terjadi. Semoga.

--
I

Read previous post:  
102
points
(1281 words) posted by cat 6 years 27 weeks ago
85
Tags: Cerita | Novel | cinta | cat | CERFET | HoR | Isis | Romantis
Read next post:  
Be the first person to continue this post
50

kurang seru

100

lumayan.
mungkin cuman masalah di tata letak dialognya seperti yg kk dibawah saya bilang. klo format dialog yg kek gini, agak sering rancu yg ngomong ini siapa kek gitu sih soalnya.
.
untuk karakternya, pertama aku agak mikir, nih mc suka pengen tau aja urusan orang lain tanpa alasan yg jelas yg disampaikan. atau emang itu jobnya kah? sang cupid. -_-
.
trus si miria, kenapa bisa terlambat gitu terus nyari bunga. bodoh banget. maksudku, kyk dia nggak pernah belajar dari pengalaman. klo emang si itu sering mesen bunga terus, kenapa dia dari awal udh nyiapin bunganya. ini detik2 trakhir baru lari2 nyari bunga. bukankah itu tanda2 ketidakpeduliannya terhadap si arsitek?
.
untuk cerita, terlalu lemah buatku. nggak ada konflik yg terjadi, hampir nggak ada konflik. dan entahkenapa, si mcnya kerasa nggak punya usaha apapun. informasinya malah nyruuh adiknya, dan dia yg tukang mencerahamin pelanggannya.
.
yah, itu pendapat pribadiku aja. -_-
.
nice...

70

Awalnya ini menarik loh. Misteri yang disuguhkan di awal bagus dan bikin penasaran. Hanya pengungkapannya agak kurang pas, jadinya kurang greget.
.
Soal PoV...di cerita ini terkadang terasa rancu apakah ini PoV 1 atau PoV 3 (atau memang tiap part ganti2 PoV?).
.
Soal tata penulisan nih. Sebenarnya sudah bagus, tapi sering dalam satu paragraf panjang, ada banyak orang bicara dan tidak dipisah-pisah. Bagi saia (yang senang skimming), itu membuat konsentrasi buyar dan bingung. Hemat saia: pada 1 adegan yang butuh interaksi lebih dari 2 karakter, pisahkan ketika karakter ketiga bicara/memotong/ikut nimbrung.
.
Anyway...good job (o__<)b

80

Yah, baguslah jadi bisa semangati para peserta tantangan SoL juga. Hehe, yang entri HoR dulu :p wow wow

70

Tadinya aku udah senang lihat ada entry SoL Fantasy masuk. Eh, ternyata dari dirimu, tho, Cat. Haish..... -_______-"
.
Kurang ini. Masih fantasi. Tapi ceritanya asik. Para dewa dewi bikin toserba. XD

Yah, gagal yah.

Huhuhuhuhu.

Mereka bukan dewa-dewi. Penyihir yang nyantol di dunia manusia.

‎​=Dнªªнªªнªª=D

Siapa tahu setelah saya post mereka akan mengikuti Om. *semoga*