Quête Pour Le Château de Phantasm - Season 2 - E06

Eik tersenyum menyeringai, baru kali ini dia merasa seperti juara. Edgar pasti tidak menerka bahwa dia mendapatkan ide untuk

menghadapi pasukan mayat hidup dari Anastasia, dan juga pasukan Set. Hidungnya kembang kempis.

"Jadi, karena kita tidak akan bisa menggiring pasukan mayat hidup, kita menggiring pasukan Set ke sana?" Edgar mengernyitkan

kening.

"Tidak..tidak..tidak..," Eik menggerakan jari telunjuk tangan kanannya ke kiri dan ke kanan. "Tidak hanya menggiring pasukan

Set, tetapi kita buat seolah-olah pasukan mayat hidup bisa kita kendalikan."

"Maksudmu?" Edgar masih tidak paham dengan rencana Eik yang menurutnya sangat mentah.

"Begini.." Eik sedikit kesal, namun karena dia merasa menjadi lebih pintar dari Edgar, dia menahannya. Dia melanjutkan,

"Kita tahu bahwa pasukan mayat hidup hanya akan melakukan perintah dari Anastasia, tapi mereka tidak."

Edgar mengiyakan.

"Pertama, aku dan Senri akan melintas di depan pasukan Set. Seolah-olah kami tidak mengetahui keberadaan mereka. Kami akan

pura-pura terkejut dan berlari ke arah pasukan mayat hidup berada." jelas Eik. Dia melirik Senri yang lebih memperhatikan

keberadaan pasukan Set daripada rencananya. Entah kenapa dia merasa Senri selalu menurut padanya, dan ini baru saja dia

sadari.

"Apa yang membuat pasukan Set akan mengejar kalian?" tanya Edgar.

"Ini!" tegas Eik sambil mengeluarkan sebuah tabung kaca dengan api berwarna biru terang dari tas bututnya.

"Apa itu?"

"Ini api kecil yang dimasukkan ke dalam tabung kaca."

"Aku juga tahu itu, bodoh! Maksudku, apa gunanya!"

"Well, Dik Edgar. Cahaya biru terang kecil. Apa tidak terlihat seperti Wendy dari kejauhan?" Eik kembali menyeringai.

"Hmmm, ku rasa memang mirip."

"Benar sekali! Dengan ini, pasukan Set akan mengira kita masih bersama Wendy. Dan mereka tentu akan berusaha untuk mengejar

ka-"

"Apa kamu yakin pasukan mayat hidup akan bertarung dengan pasukan Set tanpa ada perintah dari Anastasia?" sela Edgar.

"Ck..ck..ck.." Eik bercekak pinggang dengan kepala menggeleng pelan beberapa kali. Dia kembali berujar,

"Edgar..Edgar..Edgar. Kamu melupakan satu senjata rahasia yang kita miliki."

"Senjata rahasia? Apa itu? Aku baru tahu," Edgar kebingungan.

"Hahaha, ya senjata rahasianya ada di sini!" kata Eik sambil menunjuk ke kepala Edgar. Dia melanjutkan, "Otakmu Edgar, aku

yakin otakmu pasti akan memikirkan sesuatu."

Segera setelah berucap itu, Eik menarik tangan Senri dan berlari ke arah pasukan Set.

"Baiklah Edgar! Aku serahkan pasukan mayat hidup padamu. Jangan kacaukan rencana kita." Eik dan Senri sudah berada jauh di

sana membiarkan Edgar melongo.

"Hei Eik. Hei bodoh! Apa maksudmu?! Hei! Jangan lari!!"

###

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post