Riri's Boyfriend:"Aku akan Kuat" [Chap 4]

Chapter 1: "Akhirnya ia mengenalku"

Chapter 2: "Kupikir ini masih mimpi"

Chapter 3: "Aku jadi lebih dan lebih berani"

 

next chapter>>

Seperti cerita pada novel-novel atau komik-komik yang pernah kubaca, hihi - aku memang drama banget ya gara-gara baru pertama ini berurusan dengan cinta - setiap kisah pasti memiliki masalah. Tiap cowok keren pasti punya penggemar, apalagi idola yang seperti Rivan ini, yang memiliki aku sebagai gadis yang bagiku, memiliki status yang terlalu tinggi untuknya. Jadi sudah berapa lama aku berpacaran dengan Rivan? Aku selalu menghitungnya setiap hari, seolah-olah hubungan ini akan ada ujungnya sehingga aku harus mempertahankannya baik-baik, dan sekarang aku dan Rivan sudah sampai hari ke... ke... seratus! astaga, seratus! wow~ kenapa aku merasa angka ini begitu indah? Ah, kembali ke pokok masalah. Jadi ini sudah hari keseratus (entah kenapa aku merasa seperti ingin merayakannya), dan sampai detik ini tatapan para gadis yang tidak sekelas denganku masih saja tetap sama seperti pertama kali Rivan dekat denganku. Tidak ada yang benar-benar berani menghadapiku tentu saja, aku anak ekskul karate. Dan di ekskul ini, cuma ada 5 orang cewek, dan 4 orang cewek yang menjadi temanku adalah 'temanku', dan setiap temanku tidak ada yang membenciku. Tapi apakah aku pernah mengatakan ini? Bahwa aku seringnya tidak pernah peduli dengan mereka. Karena mereka bukan temanku. 

Dan aku melihat mereka lagi,

berteriak menyoraki Rivan dari pinggir lapangan sambil memandangku dengan tatapan mencemooh dan sinis. Yang lebih hebat dari ini semua adalah, selama seratus hari ini mata mereka masih belum keluar dari tempatnya karena terlalu banyak melotot ke arahku. Aku pasti menjengkelkan karena aku terlalu cuek dengan mereka.

"Hei, kok ngelamun?"

Aku tersentak dan langsung mendongak. Rivan berdiri di hadapanku, dengan tatapan lembut dan bingung, dengan keringat membasahi wajahnya, dan nafas pendek-pendek. Mungkin baginya aku tidak punya waktu melamun karena selalu terpesona padanya, yah, sebenarnya aku tetap memikirkannya.

"Ah..." Aku menemukan suaraku, dan segera menyadari bahwa Rivan seperti menunggu sesuatu, aku langsung memberikan handuk dan air minum padanya. Lalu ia tersenyum. Dan aku termenung. Pesona Rivan entah kapan bisa lepas dariku.

"Thanks."

Aku tersenyum dan mengamatinya meneguk air minum, lalu aku kembali melihat gadis-gadis riang di seberang sana yang sedang saling berbisik dengan mata tetap melotot ke arahku. Sialan mereka, bisanya cuma melotot. Kesini aja kenapa sih?

"Tuh kan diem lagi," tegur Rivan, dan aku segera menoleh. Biasanya Rivan tidak pernah benar-benar memperhatikanku, meskipun ia selalu sopan tidak mengabaikanku.

Aku nyengir. "Enggak kok. Cuma merhatiin ternyata kamu populer banget."

Rivan menggeleng tak percaya "Nggak mungkin kamu baru tau."

"Apa? Oh... enggak, enggak, jelas aku tau kamu populer." Kemudian aku menambahkan dengan lebih pelan "Bodoh banget sih ni anak."

"Kamu ngatain aku bodoh?"

Aku melotot. Pendengaran Rivan mengerikan. "Enggak, enggak. Maksudku aku yang bodoh kalo sampe nggak tau kamu sebegini populernya disini. Maksudku..." Aku menghela nafas "Rasanya aku jadi punya banyak musuh..."

Rivan mengangguk-angguk, sepenuhnya mengerti apa maksudku "Yahh.. itulah kenapa aku nggak mau pacaran sama anak yang satu sekolah denganku, kasian dia kalo dibenci."

Well, apakah ia sedang menantangku?

"Tapi aku nggak takut sama mereka." Kuterima tantangannya.

Rivan tersenyum lembut "Aku tau. Kalo nggak, nggak mungkin kita bisa bertahan sampai 3 bulan."

Aku juga tersenyum.

"Kuharap nggak ada hal yang buruk terjadi, karena aku udah cukup nyaman ada kamu di sekitarku."

Astaga, astaga, astaga. Itu hampir mirip pernyataan cinta. Dan aku menatapnya yang sedang menatap botol minuman. Wajahnya berubah menjadi lebih... keras? Kurasa ia baru saja mengatakan nyaman berada di sekitarku, lalu kenapa sekarang ia begitu murung?

Dan aku belum mengenal Rivan, belum mengenal kemurungannya, alasan dibalik kesedihannya. Karena ia selalu membentengi diri dariku untuk menanyakannya. Sampai saat ini, yang aku lihat di sekeliling Rivan adalah keceriaan.

Tapi, pikirku menyadari, selama 3 bulan ini, aku sebenarnya tidak tahu apa-apa tentang Rivan. Aku seperti anak kecil yang kasmaran. Hanya bisa mengingatkannya makan dan mandi, membantunya jika ia membutuhkanku di sekolah, hanya tahu hobi-hobinya, cara pandangnya terhadap kehidupan sosial dan politik, tapi hanya itu. Aku tidak pernah menyinggung tentang keluarganya, atau apapun yang lebih pribadi. Rivan tidak pernah memberiku celah untuk menanyakannya, dan aku tahu aku belum memiliki hak sebesar itu untuk mengurai lebih banyak tentang pribadi Rivan. Bagiku, waktu yang kami habiskan selama 3 bulan ini sudah sangat cukup untuk mengenalnya, tapi hanya disisi keceriaannya, hanya itu. Aku tak tahu apa yang bisa membuatnya bersedih.

Aku membawa pikiran itu sampai hari berikutnya, berharap bisa menanyakannya pada Rivan, atau setidaknya berusaha memancingnya ke arah yang lebih pribadi. Dan dimanakah ia hari ini kiranya? Karena biasanya ia ada di OSIS, aku pun mendatangi OSIS dan bertanya tentang keberadaan Rivan. Tapi Rivan tidak disana. Lalu tepat ketika aku memutuskan untuk menghubunginya, aku menyadari bahwa aku tidak membawa handphone-ku. Pasti ketinggalan deh di kelas, dan akupun berputar untuk kembali ke kelas. Hari sudah siang, dan teman-temanku sudah pulang, tapi karena tahu Rivan pasti pulang sore, seperti biasa, aku akan menunggunya.

"Riri!!"

Aku berbalik ketika mendengar suara gadis yang tidak terlalu familiar mendenging di telingaku. Gadis itu berlari sambil terengah-engah dan wajah yang pucat.

"Emm.. kenapa ya?"

"Rivan..."

"Rivan?"

"Rivan dipukulin di belakang sekolah, di gudang alat olahraga..."

Apa? Aku merasa mulutku mengering dan aku menahan nafas. Lalu sedetik kemudian, aku berlari. Hanya ada satu gudang di belakang sekolah, gudang yang tidak dipakai dan jarang dikunjungi. Kalau tidak ada orang yang tahu bahwa Rivan dipukuli disana, itu wajar. Bahkan kalau gadis tadi tidak memberi tahuku, aku tidak akan tahu. Dan aku pun terus berlari. Hingga sampai di gudang yang tertutup itu, aku menarik nafas panjang, berusaha menanamkan kuda-kuda di kepalaku kalau ada hal yang tidak diinginkan terjadi padanya. Lalu dengan kecepatan luar biasa, aku menyentakkan pintu gudang dan langsung masuk ke dalam.

"Rivan?"

Tempat itu gelap. Tak ada suara apapun. Astaga. Bagaimana kalau Rivan sudah... tidak, tidak,  aku tidak berani memikirkannya. Tapi aku harus mencari laki-laki itu.

"Rivan?" Aku berjalan lebih jauh ke dalam. Tempat ini berdebu dan pengap, aku saja bisa kehabisan nafas jika terlalu lama disini. Aku harus segera menyelamatkan Rivan keluar dari sini dan...

Blam! 

Aku berbalik menghadap suara yang bersumber dari arah pintu. Pintunya sudah tertutup.

Klik!

Dan saat itu aku tahu, bahwa ruangan ini baru saja dikunci.

 

 

Read previous post:  
Read next post:  
70

Bagus!