Senja Tak Berhenti Gerimis

 

Hari ini akan menjadi hari yang berbeda dengan hari-hari biasanya. Setahun sudah penantian akan menjelma ada. Gaun terindah sudah aku persiapkan untuk kupakai nanti malam, saat kedatanganmu di kotaku tinggal beberapa jam lagi.

Kamu mengabariku lewat telepon seminggu lalu, kamu akan mengunjungiku. Bukankah pertemuan kita ini sudah lama kita rencanakan? Kamu selalu sibuk dengan pekerjaanmu, aku maklum. Tetapi sore itu kamu mengejutkanku dengan rencanamu yang mendadak. Kamu tertawa ketika mendengarku terkejut, ah kamupun mengolokku dengan mengatakan mukaku pasti memerah saat itu, apalagi nanti kalau bertemu.

Kamu selalu bilang cinta kita tidak biasa, karena kita jatuh cinta dengan kata-kata yang selalu kita ketikkan di telepon selular, jatuh cinta dengan suara yang saling kita dengar ketika berteleponan, dan jika beruntung kita bisa saling melepas rindu, bertatap muka lewat Skype, itupun kalau sinyal tidak sedang ngambek. Kita ini memang sudah ditakdirkan untuk bersama. Katamu selalu seperti itu ketika aku tanyakan kenapa kita bisa saling jatuh cinta.

Kita telah begitu hapal setiap helaan napas, melebihi mereka yang berdekatan. Kita lebih memiliki ikatan hati yang sempurna dibanding mereka yang setiap hari bisa berjumpa. Kamu selalu menghiburku dan menenangkanku dengan kata-katamu yang sejuk setiap kali aku ragu dan menanyakan keseriusan hubungan kita. Setelahnya aku menjadi tenang.

Suatu hari, aku pernah menanyakan satu pertanyaan yang membuatmu diam sejenak sebelum kamu memberikan jawaban. Aku bertanya padamu, bagaimana jika di dekatmu ada seseorang yang memberi perhatian melebihi yang aku mampu berikan padamu? Kamu katakan, hal itu tidak akan pernah kamu biarkan ada. Kamu pun sempat bersumpah hanya aku yang akan menempati posisi di hatimu. Aku sedikit lega. Meskipun kekhawatiran pasti ada.

Lalu, kamu berbalik menanyakan hal yang sama, kamu takut justru akulah yang akan berpindah hati. Ah, itu tidak mungkin aku lakukan, kamu tahu aku tak pernah bisa mencintai orang lain selain kamu. Kita pun tertawa terbahak-bahak setelah mendengar pengakuan itu. Bukankah kita ini dua orang bodoh yang dibutakan cinta? Katamu saat itu.

Kini, aku di sini di sebuah kafe tempat kita akan bertemu setelah setahun menunggu. Dengan gaun terindah, dandanan tercantik aku menanti kedatanganmu. Kamu bilang akan menggunakan kereta menuju kotaku. Aku sempat protes, bukankah pesawat akan membawamu padaku lebih cepat? Tetapi kamu malah berpanjang lebar menjelaskan padaku nikmatnya berkereta.

 Kamu mengatakan naik kereta memang butuh waktu lama dan melelahkan, namun semua itu mengajarkan kita bersabar untuk mencapai tujuan, sama seperti kehidupan, kita harus menikmati setiap perjalanan yang kita lalui, meskipun terasa lambat dan lebih lama tetapi itulah inti dari perjalanan yang sebenarnya, menikmati setiap jalan yang kita lalui. Seandainya naik pesawat, kita tidak akan pernah bisa melihat keindahan fajar menyingsing yang mengajarkan kita tentang kemudaan dan semangat, maupun senja yang akan mengingatkan kita pada kehidupan menua. Kamu senang berfilosofi setiap kali kutanyakan soal kereta dan pesawat. Akupun mengalah, delapan jam dalam kereta pasti membuatku jenuh, tetapi kamu justru ingin menikmatinya.

***

Lamunanku tentangmu buyar ketika telepon selularku menjerit berrpendar-pendar, sederet angka tak asing tertera di layarnya dengan sebaris namamu.

“Halo, sayang.”

“Hai, sayang, kamu sudah sampai mana? Aku menunggu di kafe dari setengah jam lalu.”

“Maaf, sayang, keretaku terlambat. Satu jam lagi baru sampai.”

Aku melirik ke arah jam tangan, pukul 17.3, senja mulai tampak dari balik kaca kafe.

“Kalau kamu naik pesawat tidak akan seterlambat ini.”

Terdengar kamu hanya tertawa di ujung telepon.

“Sabar, ya.” Katamu lagi, “Kamu masih mau menantiku meskipun keretaku tak jadi  datang?”

“Maksudnya keretamu terlambat kan? Bukan ga jadi datang?”

“Hehe, iya. Tapi seandainya hari ini keretaku tak jadi datang apa kamu marah?”

“Tentu saja aku akan marah, hari ini sudah aku nantikan terlalu lama.”

“Iya sayang, sebentar lagi keretaku akan datang. Tunggulah aku di sana, ya?”

Aku mengangguk. Tentu saja kamu tidak akan melihatnya.

“Kamu mendengarku?”

“Iya, aku akan menantimu meskipun keretamu terlambat delapan jam lagi bahkan sehari lagi.”

Suara mendadak menghilang dari telepon selularku. Sinyal lenyap.

Pergerakan jarum jam terasa lambat, pukul 18.00. Menanti memang membuat tidak nyaman.

Teleponku kembali menjerit.

“Sori sayang, sinyal buruk”

“Iya, tidak apa-apa.”

“Aku hanya ingin bilang, aku cinta kamu.”

“Aku tahu, aku juga cinta kamu.”

Klik, saluran telepon selularku kembali terputus.

***

Aku ingat malam itu. Sebuah pesan singkat masuk di telepon selularku dengan nomor yang tidak terdaftar di kontak.

Dek bilangin ke mama aku tidak bisa pulang malam ini.

Aku membaca pesan aneh itu, aku berpikir pasti hanya kerjaan orang iseng yang mengacak nomor, nanti ujung-ujungnya minta maaf dan ngajak kenalan. Modus basi. Aku biarkan pesan itu. Satu jam kemudian masuk lagi pesan dari nomor yang sama, kali ini lebih panjang.

Dek, kakak tadi nabrak orang, ini pinjem hape teman, bilangin mama malam ini kakak ga bisa pulang, tapi jangan cerita dulu soal kecelakannya.

Sepertinya bukan orang iseng, dan sepertinya keadaanya serius. Akupun membalas pesan itu,

Maaf, anda salah kirim pesan.

Sampai aku ketiduran tidak ada lagi pesan masuk di telepon selularku.

Aku melupakan pesan itu dan hari berjalan seperti hari-hari biasanya.

***

Barangkali segalanya tetap sama jika hari itu kamu tidak meneleponku meminta maaf karena salah kirim pesan, padahal saat itu aku sudah lupa soal pesan itu. Tanpa sadar percakapan yang tadinya hanya ingin minta maaf menjadi panjang. Kamu bercerita tentang malam di mana kamu ingin segera pulang ke rumah, karena hari itu mama kamu ulang tahun. Tetapi di tengah perjalanan kamu menabrak seorang pejalan kaki yang mendadak muncul di depanmu tanpa sempat mengerem, kamu pun harus berurusan dengan polisi untuk menyelesaikan masalah. Karena kamu tidak mau merisaukan mamamu, kamu mengirim pesan singkat ke adikmu yang akhirnya malah nyasar ke nomorku.

Kamu ternyata tidak tinggal di kota ini, kamu melanjutkan cerita tentang keluargamu, tentang segala macam, saat itu kita seperti teman lama yang baru saja bertemu kembali setelah puluhan tahun berpisah, padahal baru saja kita ngobrol. Sampai tak terasa tiga jam kita berbicara, tepatnya kamu yang banyak bercerita, karena aku memang lebih banyak mendengarkan keseruan ceritamu.

Mungkin ini gila, setelah perbincangan itu aku selalu berharap kamu akan menghubungiku lagi, dan rasanya keinginanku terkabul, kita jadi sering telepon maupun kirim pesan singkat. Aku terlalu terburu-buru untuk mengatakan jika aku sudah jatuh cinta denganmu, ketika aku tanyakan itu, kamu hanya menghela napas, kemudian kamu berkata, “Kita ikuti saja jalan takdir.”

“Jadi, sekarang kamu mau bagaimana?” Iitulah pertanyaan kamu berikutnya. “Aku hanya ingin bertindak seperti bayangan yang selalu mengikuti kemanapun tubuh kita melangkah. Aku tahu perasanku terhadapmu muncul seumpama air yang deras, menghanyutkan dengan cepat segala yang dilewatinya.”

Hari itu, kita resmi pacaran. Tepatnya satu bulan lebih lima hari setelah pesan nyasar.

Begitulah, kejadian yang masih selalu kita kenang dan menjadi bahan obrolan ketika malam-malam, sebelum kita saling terlelap.

***

Hari semakin larut, tinggal aku dan pelayan yang siap-siap untuk menutup kafe, dan kamu belum juga tiba. Pelayan itu terus memandang ke arahku, seperti ingin menyuruhku segera meninggalkan kafe ini, tentu saja karena dia juga ingin segera pulang ke rumah untuk melepas lelah. Aku segera mengerti, dan pergi dari kafe itu.

Keretamu bersayap, terbang menembus cakrawala, dan yang kutahu mulai malam itu gerimis tak akan pernah berhenti dari hatiku.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer naredita
naredita at Senja Tak Berhenti Gerimis (4 years 30 weeks ago)
30

suka sama kalimat terakhirnya :3

Writer Shikaku Rinneko
Shikaku Rinneko at Senja Tak Berhenti Gerimis (4 years 34 weeks ago)
80

keren TwT

Writer Bernadette Debby
Bernadette Debby at Senja Tak Berhenti Gerimis (4 years 35 weeks ago)
80

Bagus :D

Writer Jexco
Jexco at Senja Tak Berhenti Gerimis (4 years 35 weeks ago)
50

keren, tapi saya sedikit bingung ketika perpindahan konteks waktu

Writer Febilions
Febilions at Senja Tak Berhenti Gerimis (4 years 36 weeks ago)

Nice :)