Aku dan Si Gadis Pahlawan

Deg. Deg. Deg.

Pacarku menatapku lekat-lekat dari seberang meja. Gelas berisi es batu di depannya—minuman favoritnya—belum disentuh sama sekali. Kami sudah janjian ketemu di café ini sejak minggu lalu, tapi dia selalu tiba-tiba membatalkan janji.

“Ada yang harus kukatakan padamu,” begitu katanya setelah terdiam cukup lama.

Aku menelan ludah.

Kita baru jadian sebulan, masa sudah mau putus?!

 “Ada sesuatu tentangku yang kau tidak tahu... Kalau kau ingin kita putus setelah mengetahui hal itu, aku mengerti.”

Aku lega sekaligus terperanjat. Lega karena tidak langsung terang-terangan minta putus, tapi juga syok... Ucapannya itu sama sekali tidak pernah terpikir olehku. Pertama, aku terkejut karena selama ini dia menyembunyikan sesuatu dariku. Terkejut dan kecewa. Selama sebulan ini aku belum sembuh dari rasa ge-er bahwa aku adalah orang yang paAnya dekat dengan Gino dan tahu segalanya tentangnya. Bagaimana tidak ge-er, pacarku itu artis kampus nomor satu, aktor tampan sekaligus sutradara berbakat yang berhasil membuat unit teater populer bahkan di antara mahasiswa yang biasanya alergi terhadap sastra.

Lagipula kukira kami adalah satu dari segelintir pasangan yang tidak menyimpan rahasia dari satu sama lain. Aku bisa mempercayainya sepenuhnya dan dia juga percaya padaku. Semua masalah pasangan di komik dan film berawal dari krisis kepercayaan. Aku sempat sangat yakin bahwa kami tidak akan mengalami hal itu.

Tapi kenyataannya ada sesuatu tentangnya yang selama ini tidak kuketahui. Dan tampaknya ‘sesuatu’ itu begitu besar sampai-sampai bisa membuat Gino berpikir aku mungkin ingin putus dengannya. 

Padahal selama ini sedikitpun tidak pernah terpikir olehku untuk putus dengan Gino. Rasanya begitu… salah.

“Anya… kumohon katakan sesuatu…” pintanya.

“Aku tidak tahu harus bilang apa,” jawabku jujur. Lalu aku menunggu.

“J-jadi begini… Sebenarnya aku—“

DHUAR!!!

Aku terlonjak dari tempat duduk ketika mendengar suara ledakan. Apa yang terjadi?!

Suara ledakan itu terdengar dari luar. Aku baru saja hendak mengintip dari jendela di belakangku, tapi Gino tiba-tiba mencengkeram bahuku.

“Kau tidak apa-apa kan?!” tanyanya panik.

“T-tidak. Aku nggak apa-apa kok.”

Tiba-tiba bumi ikut bergetar. Gempa?!

“Tunggu di sini, sembunyi di bawah meja lebih aman!” ujarnya lagi.

 “Bukannya lebih baik kita ke tempat terbuka?”

“Jangan! Pokoknya jangan keluar dari sini! Aku akan kembali sebentar lagi, oke?”

Aku tidak paham apa yang terjadi, tapi Gino benar-benar terlihat panik. Dia bilang ini bukan gempa, tapi kenapa dia panik begini?
Gino memaksaku bersembunyi di bawah meja sebelum berlari keluar café. Setelah dia keluar, aku juga keluar dari bawah meja dan menuju jendela untuk melihat apa yang terjadi di luar.

---

Aku melihat kengerian.

---

Monster. Aku tidak punya istilah lain untuk menyebut makhluk-makhluk mengerikan di luar sana. Jumlahnya mungkin ada ratusan, ukurannya sebesar anjing namun dengan tubuh yang dipenuhi lendir. Yang lebih mengerikan lagi adalah Gino yang berlari ke tengah-tengah kumpulan makhluk yang menghancurkan segala hal yang mereka lewati itu.

Akhir-akhir ini memang sering ada berita tentang serangan makhluk-makhluk mutan hasil eksperimen pemerintah. Foto di koran-koran persis seperti pemandangan yang kulihat sekarang. Hanya saja ini nyata dan sepuluh kali lipat lebih mengerikan. Serangan itu selalu berhasil dihentikan oleh seorang pahlawan wanita tanpa nama yang konon memiliki kekuatan super yang dapat menghentikan perkembangbiakan mutan ini. Hanya saja jika ada mutan yang tersisa dan tidak ditemukan, serangan semacam ini bisa terjadi lagi, seperti sekarang.

Lalu apa mau Gino, menerjang ke tengah lautan monster itu?! Dia bisa mati!

Baru sekali aku berkedip, aku sudah kehilangan sosoknya di luar sana. Ke mana dia? Apa yang terjadi?

Tanpa pikir dua kali aku keluar dari café untuk mencari Gino. Tapi aku tidak tahu harus mencari ke mana. Aku hanya bisa berdiri dan menoleh kanan-kiri sementara ratusan orang berlari melewatiku untuk menghindari monster-monster itu.

Gino, kamu di mana?!

Lalu tiba-tiba keajaiban terjadi. Aku serasa buta sesaat. Selama sesaat itu aku hanya bisa melihat warna putih. Ketika penglihatanku kembali, makhluk-makhluk mengerikan yang membuat onar tidak lagi bergerak. Sosok mereka menjadi tak menentu, berubah-ubah setiap detik—mengerut, mengembang, mengerucut… Terus begitu hingga akhirnya mereka semua lenyap. Di sebuah gedung tak jauh dari tempatku berdiri, aku melihat seorang wanita yang tinggi semampai dengan kedua tangan terkepal memandangi makhluk-makhluk yang menghilang pelan-pelan itu.

Aku pernah melihat sosok itu di koran dan televisi. Itu dia, si pahlawan tak bernama yang selama ini melawan mutan-mutan yang menyerang kota!

Tapi aku tidak punya waktu untuk mengagumi wanita itu. Aku harus mencari Gino! Bagaimana kalau…

Tidak! Aku tidak mau membayangkan itu! Dia pasti ada di sekiar sini, dia pasti baik-baik saja!

Aku bergegas menuju tempat makhluk-makhluk tadi berada, berharap bisa menemukan Gino di sana.

“Anya!”

“Gino--“ 

Bukan. Suara yang kudengar itu memang mirip dengan suara Gino, tapi terdengar berbeda… Seperti suara perempuan.

“Anya!”

Tadinya aku ingin menghiraukan panggilan itu, tapi akhirnya aku menoleh juga. Hanya beberapa meter dariku, aku melihat si pahlawan wanita tak bernama.

…Apa dia yang memanggilku? Tapi bagaimana mungkin dia tahu namaku?

“K-kamu manggil aku?” tanyaku ragu.

“Anya… Ini aku. Gino.”

“HAH?!”

Apa-apaan maksudnya? 

Apa jangan-jangan aku sudah ditelan monster tadi dan sekarang berada di ambang kematian, lalu berhalusinasi? Bagaimana bisa pahlawan kota yang jelas-jelas perempuan mengaku sebagai pacarku yang jelas-jelas laki-laki?

Aku memerhatikan sang Pahlawan dari ujung rambut hingga ujung kaki. Dia tidak mengenakan kostum superhero seperti pahlawan di komik-komik. Pakaiannya biasa saja, kaos, jins, dan jaket kebesaran… Rasanya pakaian itu familiar. Wajahnya juga—

Ini pasti halusinasi.

Lalu sang Pahlawan mulai bertingkah aneh.

Dia jatuh sambil memegangi kepalanya dan mengerang. Tubuhnya seolah… seperti makhluk-makhluk tadi sebelum menghilang. Bentuknya seolah berubah-ubah… Lalu aku dibutakan oleh cahaya putih.

Ketika cahaya putih itu hilang. Aku melihat Gino berlutut dihadapanku sambil memegangi kepalanya.

“Gino…?”

“Ini yang ingin kuberitahukan padamu tadi. Sebenarnya aku adalah gadis yang selama ini melawan mutan-mutan hasil eksperimen pemerintah. Aku juga… menjadi mutan.”

Begitu katanya.

Aku tidak tahu harus menjawab apa.

“Aku sedang kunjungan ke lab tempat pemerintah bereksperimen dengan makhluk-makhluk itu ketika mutasi mengerikan itu terjadi. Ketika objek rekayasa genetik itu bermutasi menjadi monster, aku juga terkena… Akibatnya aku memiliki kekuatan mengendalikan gen makhluk-makhluk itu. Tapi efek sampingnya, setiap kali aku menggunakan kemampuanku, tubuhku akan bermutasi dan berubah menjadi tubuh perempuan…”

“Selama sebulan ini aku ingin mengatakannya padamu, tapi aku takut… Mana mungkin kau mau pacaran dengan… mutan… sepertiku?”
Mimpi.

Ya. Ini pasti mimpi.

Kalau disimpulkan, pacarku adalah seorang superhero. Tapi setiap kali ia menggunakan kekuatan supernya, dia berubah menjadi perempuan.

Ini…



Ini keren!
 

***

Sang Genderbender Menikah!

Gino Klein (22)—aktor dan pahlawan yang menyelamatkan kota dari serangan mutan hasil percobaan pemerintah tahun lalu—diam-diam menikahi kekasihnya, Anya Movitch (22), untuk menghindari gangguan massa dan media terhadap momen sakral itu. Namun jangan khawatir, mempelai yang berbahagia akan menyelenggarakan pesta kedua untuk menghormati seluruh fans sang Genderbender baik dari kalangan pecinta teater maupun mereka yang menyukai sepak terjangnya sebagai pahlawan penyelamat kita semua.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer vicapota
vicapota at Aku dan Si Gadis Pahlawan (4 years 44 weeks ago)
60

Hehe... jujur aku ketawa pas baca cerita ini. Unik dan bikin kaget di endingnya...

Writer MeSha
MeSha at Aku dan Si Gadis Pahlawan (4 years 45 weeks ago)
70

Itu Gino aslinya cwe??ceritanya unik antara nyata dan imajinasi jd satu.

Writer bluntz
bluntz at Aku dan Si Gadis Pahlawan (4 years 46 weeks ago)
80

Hehehe, bingung, bagus, tapi unsur sci-fi nya mana yak?

Writer Shin Elqi
Shin Elqi at Aku dan Si Gadis Pahlawan (4 years 47 weeks ago)
100

apa ini? hehehe....

bagian akhirnya yang seperti berita itu, terasa mengurangi unsur humornya. Mungkin, jika berakhir di kalimat "Ini keren!" itu akan benar-benar sangat keren...hehehe

Writer Shikaku Rinneko
Shikaku Rinneko at Aku dan Si Gadis Pahlawan (4 years 47 weeks ago)

membayangkan gender yang tiba-tiba berubah itu rasanya... =w= konyol sih, tapi keren kakaak *w*