Teaser for 2nd Season: OTA-KATA (The Way of Otaku): The Long and Windy Road

TEASER for 2nd Season

 

空 KARA... (Emptiness)

Dua sosok gadis tampak menekuk tubuhnya dalam ruang hampa. Di sana tak ada apa-apa. Hanya ada sebuah menara jam besar, yang jarum-jarumnya sudah berhenti berputar. Dua gadis itu, sepintas sama, namun sebenarnya tak serupa. Yang satu rambut hitamnya diikat dengan model cepol ke atas dan hanya menyisakan beberapa helai rambut yang terurai. Satunya lagi membiarkan rambut panjangnya benar-benar terurai sampai ke punggung. Si rambut cepol memakai turtle-neck warna putih dan rok abu-abu. Sedangkan si rambut panjang mengenakan kamisol warna hitam dan celana jins warna biru tua. Posisi mereka saling membelakangi. Warna mereka begitu bertolak belakang. Bagaikan yin dan yang.  

Gadis Putih berambut cepol itu pelan-pelan membuka matanya, lalu melayang bangkit. Perlahan ia menoleh ke belakang dan mendapati Gadis Hitam yang masih terlelap. 

"Ada kalanya orang memang perlu berubah..."  suara hati si Gadis Putih menggema di ruang kosong.

Ia melangkah memutar, menghampiri si Gadis Hitam, lalu berlutut di depannya. Kedua tangannya terulur hendak menyentuh wajah si Gadis Hitam. 

"Menyesuaikan diri dengan keadaan dan lingkungan... Melangkah maju meninggalkan masa lalu..."

Ia terkesiap saat tangannya menjadi tembus pandang saat ujung-ujung jarinya mengenai muka Gadis Hitam itu.

 

"Seberapa banyak pengorbanan yang rela kau lakukan untuk berubah?"  tanya hati Gadis Putih, tidak kepada siapapun.

 

Ia memejamkan mata ketika bagian tubuhnya yang lain pun mulai menjadi transparan dan pecah menjadi serpihan-serpihan kecil. Partikel-partikel itu melebur ke dalam dada si Gadis Hitam, yang sepertinya masih juga belum menyadari apa yang sedang terjadi.

 

"Apakah demi berubah, kau rela menjadi orang lain?"

 

Air mata si Gadis Putih menetes satu-satu dan membasahi wajah si Gadis Hitam.

 

"Apakah agar menjadi orang lain, berarti kau bersedia membuang bagian dalam dirimu?"

 

Kini Gadis Putih itu benar-benar sudah pecah menjadi serpihan dan partikel yang melebur menjadi satu dengan si Gadis Hitam. Meninggalkan gadis itu sendirian dalam ruang hampa. Lalu perlahan, mata Gadis Hitam itu pun terbuka.

Dan jarum pada menara jam pun kembali berdetak.

***

双子 FUTAGO... (The Twins)

Dua orang anak kecil sedang bermain-main di sebuah padang bunga nan luas. Satu laki-laki dan satu perempuan. Mereka benar-benar mirip karena keduanya adalah sepasang anak kembar. Hanya saja yang perempuan bermata besar dan hitam, sedangkan yang lelaki matanya agak sipit dan berwarna sebiru langit. Mata mereka berdua bagaikan batu-batu onyx dan aquamarine. Kalau dijajarkan, orang akan mengira mereka berdua adalah sepasang boneka yang sangat cantik.

Si gadis kecil tiba-tiba memeluk saudara lelakinya erat-erat. "Kakak..." bisiknya lirih dengan suaranya yang kecil. "Kita akan selalu bersama kan, Kak?" 

Sang Kakak balas memeluk adik perempuannya dan membelai kepala adiknya dengan lembut. "Ya..."  Ekspresinya berubah sendu, "Walau orangtua kita berpisah, kita takkan pernah berpisah." Ia menggigit bibirnya, "Selamanya..."

 

Tiba-tiba ia justru mendengar suara tangis dari adik perempuannya, "Maaf Kak..." Bahu gadis mungil itu berguncang-guncang. Sang Kakak melepas pelukannya untuk mengetahui mengapa si adik justru terisak. Dan ia melihat...

Sekujur tubuh adiknya sudah berlumuran darah. Dari kepala sampai kaki. Wajahnya penuh dengan warna merah. Anak laki-laki itu jatuh terduduk dan tak urung menjerit keras sekali.

"Maaf Kak..." gadis itu mengusap air matanya, meratakan cairan merah yang menetes dari sana, "Aku sudah melanggar janji kita...”

***

 

廃墟 Haikyo...  (Abandoned)

Liu Shan menjatuhkan dirinya dalam posisi berlutut di tengah sebuah ruangan dengan arsitektur dan desain interior ala barat. Ruang itu remang-remang, hanya diterangi oleh sinar rembulan yang menerobos lewat jendela besar. Seluruh tubuhnya bergetar, kemarahan dan kesedihan bercampur aduk dalam dirinya. Kepalanya tertunduk dalam-dalam, terbebani oleh segala macam emosi yang menyesakkan.

"Sekali saja!" teriaknya dengan suara serak. "Lihat aku sekali saja!" Air matanya mulai bercucuran. "Lihat aku! Akui keberadaanku! Diriku yang sebenarnya!" Tangisannya pun meledak.

Di luar, suara guntur menyambar di langit, menyambut gelora amarahnya. 

***

 

SAISEKI... (Crushed)

Nobu, sang Bucchou tampak berkelahi dengan seorang pemuda sebayanya. Setelah beberapa kali berhasil menghindar, akhirnya pukulan pemuda itu mengenai wajahnya dengan telak. Ia mengaduh kesakitan dan jatuh ke belakang, menghantam tumpukan benda dan kardus di belakangnya. 

Pemuda yang memukulnya tampak sama terkejutnya hingga tak lagi bereaksi. Ia hanya berdiri membisu menatap Nobu yang kini tak berkutik. Dadanya naik turun oleh nafasnya yang memburu.

Nobu terengah-engah. Ia mengernyitkan dahi. Darah menetes dari sudut bibirnya yang mulai membiru. Rasanya sakit sekali. Tapi ia merasakan rasa sakit yang berkali lipat di tempat lain. Ia menengadah, menatap wajah penyerangnya yang sebagian besar tertutup siluet.

"Jadi sampai di sini sajakah?" tanya Bucchou dengan nada memohon. Ia tampak begitu terpukul hingga terlihat nyaris menangis. 

Tangan pemuda di depannya terkepal keras. Bibirnya tetap mengunci kata-kata apapun yang sebenarnya sudah mengantri di tenggorokan.

 

"Kita...bukan lagi teman?" tanya Nobu pedih. Ketika sosok di hadapannya tetap bergeming, ia membelalakkan matanya dan mulai berteriak, "Bahkan walaupun aku berlutut dan meminta maaf?!"

Spontan Nobu memalingkan wajah dan menutup matanya saat sosok di depannya kembali merangsek ke arahnya sambil mengayunkan tinju.

***

 

反省HANSEI... (Self-Reflection)

Rie tampak begitu marah entah oleh apa atau oleh siapa. Terbebani oleh amarahnya sendiri, Rie menjatuhkan dirinya dalam posisi bersimpuh. Liu Shan mendatanginya, berlutut di sampingnya dan mengelus-elus pundak itu dengan ekspresi prihatin.

 "AKU BENCI DIA!" teriakan Rie mengguntur, mengejutkan pemuda berparas cantik di sampingnya. "Aku benci dia! Karena dalam dirinya, aku melihat hal yang aku benci dari diriku sendiri!! Aku benci mengingat kenapa dulu aku begitu membenci diriku sendiri!" Rie mulai memukuli tanah tempatnya bersimpuh.

***

 

火傷 YAKEDO ... (Burnt)

Rufi mengambil selembar kertas naskah novelnya, dan mulai menyulutnya dengan korek api. Ia mengambil selembar lagi, dan menyulutnya juga. Lalu ia mengambil selembar lagi, lagi, lagi dan lagi. Hingga tumpukan kertas di sekitarnya mulai membara dan apinya menjalar hingga mengurungnya dalam lingkaran kematian.

Rufi menatap api di sekelilingnya dengan wajah datar. "Ternyata... aku memang tak berbakat..." Ia duduk di tempat tidurnya yang bersprei putih. Lalu menjatuhkan dirinya ke kasur dan membiarkan kesadarannya terlelap.

Di dinding kamarnya, tertempel sebuah stereofoam tempat ia menempelkan kliping berita dirinya yang memenangkan penghargaan sebagai penulis novel berbakat termuda yang dipotong dari berbagai majalah dan koran. Api menjalar dan mulai membakar kumpulan kliping itu...

***

契約  KEIYAKU... (Contract)

Asahina melepas kacamata berbingkai putihnya dan menatap punggung Liu Shan yang membelakanginya. Kilasan-kilasan flashback muncul satu demi satu dan memperlihatkan masa kecil mereka berdua. Asahina tampak menangis karena sesuatu dan Liu Shan kecil terus berusaha menghiburnya. Pada gambaran memori yang lain, terlihat Liu Shan yang masih anak-anak memarahi Asahina kecil yang mengkeret ketakutan.

 

"Aku akan terus mengikutimu, kemanapun kau pergi." tegas Asahina dengan wajah datar.

Punggung itu tetap bergeming, tak sudi menghadapinya.

Asahina memejamkan mata, menghayati satu demi satu ingatan masa lalu yang membanjiri benaknya, "Sejak kau berhasil membebaskan kata-kata yang terkunci dalam diriku, aku sudah berjanji..."

Liu Shan tetap membeku di tempatnya berpijak.

"Seluruh dunia boleh saja meninggalkanmu. Tapi aku tidak akan."

Asahina memberanikan diri untuk mendekati Liu Shan. "Kau bisa mempercayai kata-kataku." Ia terdiam sejenak sebelum melanjutkan, "...Tuan..."

***

 

後悔KOUKAI... (Regret)

Hinata Sensei duduk di kursi kliniknya. Dengan gemetar ia meraih sebatang rokok dan memasukkannya ke bibir merahnya. Ia merogoh saku jas putihnya dan berhasil menemukan sebuah pemantik. Masih dengan tangan bergetar, ia menyulut rokoknya.

Kishida Sensei menatapnya sambil menggenggam shinai-nya erat-erat. Ekspresinya saat menatap Hinata Sensei, sulit ditebak.

Hinata Sensei terus merokok lalu menopang dahi dengan lengannya. Ia mendesah putus asa, "Sejak ia lahir aku sudah mengabaikannya." Ia mengarahkan rokok itu ke mulutnya. Kepalanya menunduk di meja. Helai-helai rambutnya yang berwarna pink jatuh ke sisi-sisi wajahnya. "Sekarang aku harus menelan penyesalanku dengan hanya bisa mengawasinya dari jauh. Menjaganya dari jarak yang sungguh tak terjangkau..."

Hinata mengangkat kepalanya dan menatap Kishida Sensei sambil tertawa getir, "Nee...Aku memang tak berbakat dalam hal yang berhubungan dengan keluarga kan?"

Kishida Sensei mencengkeram shinai-nya semakin keras. 

***

 

憤りIKIDOORI... (Resentment)

"Kupertaruhkan jabatanku sebagai wakil ketua OSIS!" tantang Reiji angkuh. Tangan kanannya bergerak dan mencengkeram pita merah penanda keanggotaan OSIS di lengan kirinya. "Sampai mati takkan kubiarkan klubmu berdiri di Shinayama!"

Washizou Sho, bendaharanya tampak sangat terpukul saat mendengar ucapan Reiji. "Mou ii yoo, Kaichou!" Ia menunduk. Kedua tangannya bergetar di samping tubuhnya yang terasa kaku. "Apa kamu tidak lelah?"

 

***

NIBU-SA... (Bluntness)

"Terlalu banyak kata-kata manis di dunia ini." Nobu mengelus rambut cepaknya sambil terkekeh sinis. "Orang-orang mengharap dirimu mampu membalut kata-katamu dengan basa-basi yang manis. Tapi ketika kamu melakukannya, mereka akan berpikir kalau kamu seorang penjilat."

Nobu memasukkan kedua tangannya ke saku jaket birunya. "Karena itu aku lebih suka mengatakan langsung apa yang ada di pikiranku. Suka atau tidak, ya beginilah aku. Orang-orang ingin agar aku jujur dan tulus. Tapi ketika aku melakukannya, mereka menyumpahiku dengan sebutan 'si Brengsek'!" 

Pemuda itu terkekeh lagi dan mengangkat bahunya, lalu menoleh dan menatap Rie dengan tajam, "Karena itu aku benci manusia!"

***

Pada suatu kesempatan yang amat sangat jarang, Nobu terlihat kehilangan kendali atas emosinya. "Memangnya kau siapa?! gelegarnya penuh amarah. "Aku nggak ingat kalau sudah ngundang kamu masuk ke duniaku?!"

***

 

Liu Shan mulai terisak sementara keempat anggota klub otaku diam membisu. Mereka berlima terjebak dalam situasi yang sangat canggung.

"Nee, semua otaku seharusnya jadi satu keluarga yang bahagia kan? Kita seharusnya merasa nyaman seperti di rumah saat bersama-sama. Karena itu kita menyebut diri kita "otaku" kan? Nee~? Kalian dengar?"

Keempat temannya menunduk dengan ekspresi terpukul dan malu.

***

 

僕達の 音楽 BOKU TACHI NO ONGAKU... (Our Music)

 

Dalam balutan kostum gothic-lolita-nya, Liu Shan tampak begitu mempesona. Dan ia sepenuhnya menyadari hal itu. Sambil menatap para penggemarnya, ia berkata dengan nada menggoda,  "I ain't gay. I ain't transgender either." Ia mengeluarkan suara tawa nyaring melengking lagi bening yang membuat kuping siapapun akan tegak berdiri. "But I don't need any woman. As I'm much more beautiful than any of them in the world! I'm so charming I could marry to myself!" desahnya sambil memeluk dirinya sendiri.

 

Para penggemar di bawahnya, baik cowok maupun cewek pun bersorak histeris. Saat semuanya nyaris tak terkendali, sebuah tangan mencengkeram bahu Liu Shan. Itu tangan Rie. Gadis itu sedang mengenakan kostum neko maid-nya, dan tampak benar-benar membenci kondisinya saat itu. 

"Hey Liu! Bagi spot-light-nya tahu!"

Liu Shan tertawa manja lalu mundur dari sorotan lampu. Asahina, Liu Shan dan Rie lalu berdiri berjejer. Rie berada di tengah. Wajahnya merah padam. Asahina lagi-lagi memakai kostum beruang kuning bersayap putih dari Card Captor Sakura, hanya saja kini kostum itu memiliki rok pink. Wajahnya benar-benar datar. Sedatar lantai. 

Mereka bertiga lalu berseru secara bersamaan, "Salah kalau mengira kami girlband atau otaku biasa. No! No! No! Bersiaplah, kami adalah... OTA...QUEEN!"

***

Sejauh mana perubahan bisa membawamu mengarungi masa depan?

 

Jika kau memutuskan untuk membuang sisi dirimu demi suatu perubahan, kemanakah sisi yang terbuang itu berakhir?

 

Gadis berambut hitam panjang itu menatap cermin yang melayang di hadapannya dalam ruang hampa. Menatap bayangannya yang terlihat begitu kabur.

 

"Kamu... siapa?"  Ia bertanya pada bayangannya sendiri. Kata-kata yang sama dilontarkan oleh bayangan itu kepada dirinya.

 

COMING SOON IN SEASON 2. OTA-KATA (The Way of Otaku): The Long and Windy Road.

 

Read previous post:  
Read next post:  
100

Mau bertanya ajaa, season2 ini masih proses yaaa? Haa nampaknya banyak misteri yang di simpan, ternyata! haha ganbatte!

Iyah. AKu sedang mengumpulkan soul dan stamina untuk segera menulisnya >_<

Sayang sekali memang. Harusnya yang di teaser ini muncul semua di season 1. Tapi karena deadline event yang mefet, terpaksa aku simpan >_<