Di Bawah Bendera Merah (Part 1)

Setelah seminggu berlibur di kota kecil kelahiran orangtuaku di wilayah Sumatera , kini aku sedang menatap ke luar seraya pesawat Garuda Indonesia yang membawaku terbang menembus gelapnya malam.  Setelah tujuh hari lamanya aku bersantai dengan keadaan kota yang tenang, kini aku akan kembali menghadapi ramainya kota Jakarta yang metropolitan.

Di tanganku tergenggam sebuah buku yang berjudul “PKI, kisah yang tak pernah terjadi.” Novel yang bercover gambar D.N. Aidit dengan warna dominan merah tersebut mengandaikan apa yang akan terjadi bila pada 1965 dulu Aidit dan kawan-kawannya lah yang menang, bukan Jenderal Suharto seperti yang sebenarnya terjadi.  Satu bacaan yang menurut teman-teman satu fakultasku di kampus cukup aneh, mengingat biasanya bacaan-bacaan bermuatan politik seperti ini banyak dibaca oleh anak-anak FISIP dan bukan anak-anak psikologi seperti kami. Tapi menurutku ini bukan suatu masalah, mengingat bahkan anak-anak teknik yang bukan jurusan sosial pun banyak yang gandrung akan politik.  

“Para penumpang yang terhormat, saat ini kita sedang memasuki wilayah dengan cuaca yang kurang baik. Lampu tanda kenakan sabuk pengaman telah dinyalakan dan para penumpang diharapkan tidak meninggalkan tempat duduknya. Terima kasih.” Kapten berbicara lewat interkom mengumumkan cuaca buruk yang sedang kami lewati. Aku pun bisa merasakan kabin pesawat mulai bergetar. Walaupun begitu, merasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan, aku memilih untuk tidur.

Tapi, Kabin pesawat bergetar makin kencang dan keadaan yang semula tenang tiba-tiba berubah menjadi riuh. Pesawat mulai terasa terombang-ambing kesana kemari. Para penumpang mulai berteriak-teriak ketika koper-koper yang tadinya berada di tempat penyimpanannya berjatuhan dan berserakan di kabin. Para awak kabin berusaha untuk menenangkan para penumpang dengan tanpa hasil. Pesawat makin terombang-ambing seperti layangan di hujan deras.

Lalu, semuanya gelap…

=====

“Maaf, pak. kita sudah sampai di Jakarta.”

Suara sang pramugari mendadak membangunkanku dari tidurku yang tampaknya cukup pulas hingga aku tak sadar bahwa pesawat kami sudah mendarat. “ah, untunglah hanya mimpi rupanya. Saya mimpi kita tadi kecelakaan.” Ujarku kepada si pramugari sambil tertawa kecil.

“Ah, bapak bisa saja.” pramugari tersebut membalas seraya melemparkan senyum kepadaku.

Aku pun bergegas mengambil koperku dan keluar dari kabin pesawat. Saat melangkah menuju keluar dari ruang ketibaan bandara, aku merasa ada yang aneh di bandara ini. Aku merasakan ada sesuatu yang berbeda dari bandara ini, berbeda dari saat aku berangkat seminggu yang lalu. Bahkan arsitektur bandara sekilas terkesan berbeda dari yang aku lihat semingu lalu.  Tapi aku tak memperdulikan perasaan ini karena aku merasa ngantuk sekali dari perjalanan di pesawat tadi. Sekarang, yang ada di pikiranku hanya untuk keluar, menunggu dijemput oleh temanku, dan lalu tidur lagi di mobil hingga nanti sampai di tempat kos.

Sampai di pintu keluar terminal, aku makin merasa sesuatu yang tidak beres. Aku merasa kalau aku baru pertama kalinya ke bandara ini, walaupun kenyataannya aku sudah pernah naik pesawat dari bandara ini beberapa kali. Walaupun begitu, karena mataku masih remang-remang dan rasanya kantuk tak dapat ditahan, aku tidak mencoba untuk menyelidiki lebih jauh. Untuk menghilangkan kegundahanku, aku mencoba untuk melihat buku yang ada di genggamanku lagi.

Betapa kagetnya aku saat aku menyadari bahwa bukuku yang tadinya berwarna merah sekarang sudah berubah warna menjadi hijau, dan seketika itulah kantukku hilang.

“Lho, ini buku kok jadi hijau?”

Dan sewaktu aku melihat gambarnya makin terkejutlah diriku

“Ha? Kenapa D.N. Aidit berubah jadi Ahmat Yani, Nasution, dan Suharto?” bahkan saat kulihat lebih dekat, di belakang mereka juga digambar semua jenderal-jenderal yang terbunuh pada kejadian G30S.  

Terakhir, judulnya lah yang membuat jantungku serasa mau copot

“DEWAN JENDERAL: sebuah kisah yang tak pernah terjadi.”

Ada apa ini? Apakah ada orang yang menukar bukuku dengan buku ini saat aku tidur tadi? Rasanya tidak mungkin ada orang yang bertindak seiseng itu di dalam pesawat, dan lagi aku belum pernah mendengar judul buku ini sebelumnya. Dengan keadaan yang panik, aku mencoba untuk melihat sekelilingku. Bukannya menenangkan, justru aku makin panik setelah aku memandangi sekelilingku. Dan  aku hampir tak bisa berdiri lagi saat aku melihat satu poster yang bertuliskan

DEMI PARTAI, BANGSA, DAN PEKERJA SEDUNIA lengkap dengan gambar palu arit dan D.N. Aidit serta unsur-unsur sosialis lainnya yang digambar dengan gaya yang setahuku, merupakan gaya menggambar realisme sosialis yang amat nyata.

“Gawat” itulah satu-satunya kata yang bisa aku ucapkan seraya terduduk lemas di kursi tunggu bandara.  

=====

 

 

 

 

 

 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at Di Bawah Bendera Merah (Part 1) (4 years 37 weeks ago)
80

Jadi penasaran dengan sambungannya... :3
Tebar bintang dulu ah~~ :D
Salam kenal Kak :D

Writer mulia44
mulia44 at Di Bawah Bendera Merah (Part 1) (4 years 37 weeks ago)

Cerita yang sepele tapi panjang juga prosesnya ya hehehe

Reseller/Supplier Baju Murah | Harga Treadmill Murah