Badar Besi

Melihat banyak teman-temannya yang sudah memiliki ponsel pintar, Andri merasa ketinggalan kereta. Usahanya merintang hati agar tidak dijamah iri, belum cukup mampu membuat jiwanya tenang. Arus pergaulan kekinian, seolah telah menuntun Andri pada budaya ikut-ikutan trend. Jika tidak bisa mengiringi, siap-siap saja ketinggalan zaman. Begitu orasi yang berkecamuk di hati Andri, seperti layaknya demo buruh yang menuntut kenaikan upah, bak mahasiswa yang turun ke jalan saat menolak kenaikan harga BBM.

Setiap berkumpul dengan teman-temannya, Andri menyaksikan mereka bertukar nomor ponsel, pamer akun media sosial. Pemandangan itu membuat Andri merasa asing, seolah ia makhluk entah berantah yang hadir di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi. Karena memang hanya dia satu-satunya yang belum memiliki ponsel di antara temannya yang lain. Gejolak di hati Andri semakin rancu tak menentu setiap kali Adit memamerkan ponsel pintar miliknya. Terlebih lagi ketika Adit memperlihatkan status dari akun media sosial Putri. “Ni, kamu lihat status Putri!” ucap Adit sambil menyodorkan ponsel kepada Andri.

Malam ini aku memikirkan kamu ....” Itu membuat Andri semakin tak berdaya menentang hasrat yang bertahta di hati, untuk segera memiliki ponsel. Akibat pengaruh teman-temannya, Andri pun merengek kepada Mak Ratna dan Pakle Veyz minta dibelikan ponsel. Sehari, dua hari, tiga hari, bertemu minggu, buah bibir Andri ketika berbicara dengan Mak Ratna dan Pakle Veyz tidak beranjak jauh dari ponsel, ponsel terus, ponsel lagi, lagi-lagi ponsel.

Merasa iba melihat keponakan kesayangannya yang tiada henti merengek minta dibelikan ponsel baru, akhirnya Pakle Veyz bersedia memenuhi permintaan Andri dengan dua catatan:

1.      Pakle Veyz bersedia membelikan Andri ponsel, jika hasil panen kebunnya melimpah.

2.      Andri mesti juara kelas.

Kedua syarat itu harus terpenuhi. Walaupun hasil kebun melimpah, jika Andri tidak juara, mimpi memiliki ponsel hanya akan menjadi mimpi. Begitu cara Pakle Veyz memotivasi keponakan kesayangannya, agar rajin belajar dan bersemangat membantunya di kebun.

Ternyata cara yang digunakan Pakle Veyz efektif, Andri menjadi lebih giat dari sebelumnya. Ketekunan dan kesungguhan hati Andri terbayar. Tidak tanggung-tanggung, ia meraih nilai tertinggi dan menjadi juara umum di SMU Negeri 2 Suka Mundur. Di saat bersamaan, hasil kebun Pakle Veyz tahun itu juga melimpah ruah.

Guna memenuhi janji kepada keponakan kesayangannya. Sore sebelum berangkat ke kebun, Pakle Veyz membawa Andri ke konter Mas Ujo untuk membeli ponsel baru. Andri girang bukan kepalang, impiannya terwujud berkat kesabaran dan ketekunan. Ponsel baru pemberian Pakle Veyz sudah berada di genggaman. 

***

Pulang sekolah, setelah ganti baju dan makan siang, sebelum menyusul Pakle Veyz ke kebun, Andri merebahkan diri di teras rumah, sambil membaca ebook dongeng badar besi yang baru ia download gratis melalui play store.

“Apa iya, zaman sekarang masih ada cincin yang membuat pemakainya kebal senjata?” Andri bertanya-tanya dalam hati.

Ia membayangkan, seandainya ia memiliki cincin badar besi, tentu ia akan menjadi superhero yang disegani seantero bumi. “Jika aku menjadi superhero, si Bobby pasti tidak akan berani lagi mengganggu dan menjaili aku,” pikir Andri.

Puas berhayal sambil tidur-tiduran di teras rumah. Andri bangkit dan bergegas menuju dapur, sambil menggenggam ponsel baru pemberian Paklenya.

 “Mak, minta duit lima puluh ribu!”

Mak Ratna kaget, hampir saja pisau yang ia gunakan untuk mengiris bawang itu melukai jarinya. Ia menoleh ke sumber suara. Di pintu yang menghubungkan antara dapur dan ruang tengah, mak Ratna melihat Andri berdiri sambil menggengam ponsel di tangan kanannya.

“Kamu iki, Le. Bikin mak kaget aja. Buat apa kamu minta duit sebanyak itu?”

 “Buat beli kondom!” jawab Andri santai. Mak Ratna terperangah, jantungnya seperti terhenti berdetak, petir seolah telah membakar ulu hatinya, matanya melotot tajam, amarahnya seketika memuncak, mendengar jawaban dari anak kesayanganya.

“Apaaaaaaa? Mak nggak salah dengar kan? Bisa diulang lagi!” Mak ratna kembali bertanya dengan nada penasaran.

“Buat beli kondom, Mak! Beli kondom, beli kondom, beli kondooom!” jawab Andri sambil menggerutu.

Tiba-tiba nafas mak Ratna tersengap, kemudian ia berlari secepat The Flash menuju ruang tamu, “sweeeeeeeessss!” Mak Ratna pingsan.

Andri terpaku menyaksikan mak Ratna yang tidak sadarkan diri. Sambil menangis histeris, Andri berteriak. “Maaak, jangan tinggalkan akuuu!” Setelah itu Andri pun ikut pingsan.

***

Andri menangis sendirian di bawah pohon besar berdaun rindang. Di sekelilingnya terhampar padang rumput indah yang sangat luas. Suara nyanyian alam bersenandung, desir angin bergelombang membelai ilalang yang menari-nari mengikuti irama tangisan.

“Maaaak, jangan tinggalkan aku! Maaaak, jangan tinggalkan aku!”

Seketika asap tebal mengepul, Andri terkejut. Di balik asap itu muncul sosok lelaki tua berbaju lusuh, berambut panjang, dengan kumis dan jenggot yang juga panjang. Ia menggenggam tongkat di tangan kanannya.

 “Hai anak muda, sedang apa kau di sini?” sapa Lelaki Tua kepada Andri.

 “Pakle Veyz?”

Lelaki Tua membelalakkan mata sambil berkata. “Siapa itu Pakle Veyz? Jangan kurang ajar kamu anak muda, mengganti nama orang seenaknya.”

Andri bingung, sembari mengerutkan dahi ia berkata. “Sepertinya ada yang tidak beres dengan alur cerita ini.” Kemudian Andri memprotes. “Hai, yang terhormat Tuan Pengarang penulis kisah ini! Tadi kau jadikan aku dan emakku pingsan, sekarang kau datangkan Lelaki Tua bangka berbaju lusuh yang wajahnya mirip banget dangan Pakleku. Sebenarnya maumu apa?”

Kemudian Lelaki Tua menenangkan Andri. “Sudah, sudah, biarkan saja pengarang itu memainkan jari di atas keyboard laptopnya, tak usah kau ganggu. Nanti kalau si pengarang itu berhenti menuliskan kisah ini, itu sama saja membuat para pembaca penasaran. Pembaca juga ingin tahu akhir dari kisah ini.” Mendengar saran dari Lelaki Tua, Andri merasa tenang.  

“Kau belum menjawab pertanyaan aku tadi. Siapa kau dan apa tujuan kau duduk di bawah pohon itu?” Lelaki Tua kembali bertanya kepada Andri.

“Aku tidak tahu, tiba-tiba aku sudah berada di bawah pohon ini.” Andri menjawab sambil mengusap sisa genangan air mata yang belum sepenuhnya mengering di pipinya.

“Jangan bohong kau anak muda!” hardik Lelaki Tua.

Andri kikuk. Kemudian Lelaki Tua memukulkan tongkatnya ke tanah sambil berkata. “Tadi kau bilang, pengarang menjadikan kau dan Mak kau pingsan. Kenapa ketika kutanya,  kau jawab tidak tahu dan tiba-tiba sudah berada di bawah pohon itu?”

Andri menyunggingkan senyum. “Maaf, Pak Tua, aku lupa.”

Lelaki Tua mengangguk-angguk sambil menggumam. “Orang kalau kelamaan menjomblo memang seperti itu.”

Hening sejenak, sebelum Lelaki Tua dan Andri sama-sama tertawa.

Setengah penasaran Andri berucap. “Pak Tua tahu dari mana kalau aku jomblo?”

“Pengarang yang memberitahuku,” jawab Lelaki Tua sambil ngupil. Andri memasang mimik wajah kesal. “Pengarang lagi, pengarang lagi. Benar-benar kurang kerjaan tu orang,” dumel Andri sembari menggeleng-gelengkan kepala.

Mereka berdua melanjutkan pembicaraan.

“Tadi setelah pulang sekolah, aku minta duit lima puluh ribu kepada Emak, setelah itu Emak mendadak pingsan. Melihat Mak pingsan, aku pun histeris dan ikutan pingsan.” Andri bercerita kepada Lelaki Tua. Mereka duduk bersebelahan di atas akar pohon besar yang mencakar tanah.

“Pak Tua siapa, tiba-tiba muncul begitu saja dari balik asap?”

Hening ...

Usia batuk tiga kali, Lelaki Tua berkata.  

“Aku adalah penguasa daerah sini. Dengan cincin badar besi di jari tanganku, tidak ada seorang pun yang sanggup menandingi kesaktianku.” Andri terperanjat, hampir ia terjatuh jika saja Lelaki Tua itu terlambat meraih tangannya. Andri teringat cerita dongeng badar besi yang ia baca sebelumnya.

“Pohon ini adalah rumahku, belum ada satu orang pun yang berani menginjakkan kakinya di daerah sini tanpa seizinku, kecuali kau!”

Andri gemetar ketakutan.

“Tapi tenang, aku tidak akan menghukummu, walau kau telah dengan lancang memasuki daerah kekuasaanku tanpa izin.

Tahukah kau kenapa aku tidak menghukummu?” Andri menggeleng.

“Menurut kitab Badar Besi yang sudah aku pelajari, menghukum jomblo adalah dosa besar!”

Andri melongo.

“Sebab alasan itu, aku tidak akan menghukummu. Justru aku akan memberimu hadiah. Kau mau kuberi hadiah?”

Andri mengangguk.

“Kau harus memilih salah satu dari dua hadiah yang akan kuberikan kepadamu. Cincin Badar Besi atau uang senilai empat puluh sembilan ribu rupiah?”

Andri terdiam, suasana kembali hening.

Andri bingung untuk memilih salah satu dari dua hadiah yang ditawarkan Lelaki Tua. Cahaya keemasan dari langit bergerak perlahan menjemput malam, Andri masih saja terpaku dalam diam.

Dengan memiliki cincin Badar Cesi, mimpi Andri untuk menjadi superhero bisa menjadi kenyataan. Di mana ada kejahatan, ia harus siap menumpasnya demi menciptakan kedamaian di muka bumi. Namun itu bukanlah perkara yang mudah, pikir Andri. Bagaimana kalau cicin itu dicuri oleh orang yang tidak bertanggung jawab, lalu digunakan untuk melakukan kejahatan.

“Kau harus segera memilih salah satu dari dua hadiah ini sebelum matahari tenggelam atau kau tidak mendapatkan apa-apa!” gertak Lelaki Tua.

Khawatir dengan risiko yang harus ia tanggung bila memilih cincin Badar Besi, akhirnya dengan berat hati Andri memilih uang senilai empat puluh sembilan ribu rupiah.

“Uang aja, Pak Tua,” ucap Andri mantap.

“Anak muda cerdas, pilihanmu tepat! Jika kau memilih cincin itu, hidupmu tidak akan tenang, sebab tanggung jawab yang harus kau pikul setelah itu amat sangat besar. Lagian bumi ini tidak butuh seorang superhero yang berbuat baik hanya karena ia memiliki kekuatan fisik yang tangguh. Berbuat baiklah kepada semua orang yang kau temui, sebarkan kebaikan, dengan itu kau akan menjadi superhero sesungguhnya. Kuberitahu kau, superhero sesungguhnya itu beraksi menggunakan akal dan hati, bukan otot. Semua orang bisa menjadi superhero, tapi itu bukanlah perkara yang mudah. Jika kamu tidak percaya, sila kamu tanya langsung kepada Superman yang berada di sebelahmu itu.”

Andri kaget, di sebelahnya ternyata sudah duduk Superman. “Kapan datangnya?” pikir Andri.

Kemudian Superman berkata. “Apa yang disampaikan Pak Tua itu benar, jadi superhero memang tidak mudah. Kalau aku boleh curhat kepadamu. Aku punya pengalaman buruk ketika terbang di pinggir kota. Saat aku melintas di sebuah tanah kosong,  kebetulan banyak anak-anak lagi main layangan. Ketika aku hendak bermanuver di udara, seutas benang layangan melilit pinggangku, hingga membuat celanaku sobek, terlepas dan jatuh ke bawah. Untung aku bisa meraih salah satu layangan, dengan itu aku menutupi senjataku. Jika tidak, seumur hidup aku akan menanggung malu, masa Superman terbang tanpa celana. Semenjak kejadian itu, setiap hendak terbang, aku selalu menyiapkan kolor cadangan. Percayalah padaku! Jika belum yakin juga, sila kamu tanya kepada Spiderman yang dari tadi sudah menyimak pembicaraan kita.”

Lagi-lagi Andri mengerutkan dahi kebingungan, ternyata di atas dahan pohon besar tempat ia duduk, ada Spiderman lagi main ayunan menggunakan jaring laba-laba.

“Masihkah kamu ingin menjadi Superhero seperti kita-kita?” tanya Spiderman. Andri hanya diam terpaku, seperti tidak percaya dengan apa yang ia lihat.

Spiderman melanjutkan. “Aku juga punya pengalaman pahit yang tidak kalah getir dari kisah Superman tadi. Ketika aku jalan-jalan di pesisir pantai, aku melihat seorang nelayan lagi termenung, matanya berkaca-kaca memandang ke tengah lautan. Penasaran, kucoba menghampiri dan bertanya. Dari situ aku tahu, nelayan itu bersedih karena jaring yang biasa ia gunakan untuk menangkap ikan, rusak dan tidak bisa dipakai lagi. Sebagai superhero yang baik hati, tidak sombong, suka menambung, dan suka ngompol, aku merasa bersalah jika tidak bisa menolong seorang nelayan yang lagi kesusahan. Akhirnya kupinjamkan jaring laba-labaku, agar nelayan itu bisa kembali melaut. Tapi apa yang terjadi? Ia mengembalikan jaring laba-labaku dalam keadaan kusut tak berbentuk. Aku benar-benar kecewa. Tiga bulan kuhabiskan waktu untuk memperbaiki jaring laba-labaku yang rusak, selama itu pula aku menganggur alias cuti menjadi superhero.”

Tidak lama berselang, Andri mendengar suara orang tertawa dari balik pohon besar. Saat menoleh, ia mendapati Gatot Kaca lagi mengorek kuping menggunakan bulu ayam.

“Enaknya menjadi superhero itu, kita disanjung dan dipuja banyak orang. Namun yang mereka dilihat hanya luarnya saja. Padahal kami mempertaruhkan nyawa saat beraksi. Aku juga punya pengalaman buruk ketika terbang. Saat itu aku hendak landing di pemukiman padat penduduk. Tiba-tiba sayapku nyangkut di tiang listrik. Untung aku tidak tersengat tegangan tinggi. Dan lebih untung lagi, waktu itu ada mobil pemadam kebakaran yang melintas dan menolongku. Seandainya tidak ada petugas DAMKAR itu, celakalah aku.” Gatot Kaca bercerita sambil terus memplintir bulu ayam di kupingnya.

Hei atlet panah yang gagal masuk Olimpiade! Apakah kau punya kisah ngenes serupa?” tanya Gatot Kaca kepada orang yang lagi sibuk membersihkan anak panahnya di tepi rawa dekat pohon besar. Kembali Andri terkejut, melihat sosok yang ternyata itu adalah Robin hood.

“Iya, aku juga punya pengalaman ngenes. Waktu itu aku menyusup ke rumah pejabat desa yang korup. Di sana aku menemukan buntalan kain yang kuyakin itu uang hasil korupsi. Tapi sial, saat aku meraih buntalan itu, yang punya rumah melihat dan meneriaki aku maling. Aku berusaha kabur dari kejaran warga. Ketika berada di jalan tengah hutan, ada orang yang melemparkan sesuatu tepat mengenai punggungku. Tapi aneh, setelah itu aku malah bergoyang dan tidak bisa lari. Alhasil, wajahku bonyok-bonyok dihakimi masa dan lebih memilukan lagi, buntalan yang aku ambil itu ternyata bukan uang, melainkan pakaian dalam bekas,” tutup Robin hood, yang disambut gelak tawa Andri, Lelaki Tua, Superman, Spiderman dan Gatot Kaca.   

“Brum, bruum, bruum!”

Terdengar suara motor yang digeber-geber, membelah padang ilalang. Andri membelalakkan mata, ia kaget ada Kotaro Minami sang Satria Baja Hitam datang menggunakan belalang tempur.

“Ogenki desu ka?”[1] sapa Satria Baja Hitam.

“Hai, genki desu!”[2] jawab Lelaki Tua, Superman, Spiderman, Gatot Kaca dan Robin Hood serentak. Sementara Andri hanya terpaku. Andri diam bukan karena ketakutan, tapi karena nggak mengerti apa yang diucapkan Kotaro Minami.

Setelah itu Kotaro Minami bercerita panjang lebar menggunakan bahasa Jepang. Andri hanya melongo, kemudian mencolek Lelaki Tua yang duduk di sebelahnya.

“Kotaro Minami ngomong opo toh, Pak Tua?” tanya Andri.

“Nanti aku ceritakan kepadamu,” jawab Lelaki Tua, sambil terus mendengarkan ocehan dari si Satria Baja Hitam.

“Tadi Superman, Spiderman dan Robin Hood menggunakan bahasa Indonesia. Kenapa Kotaro Minami pakai bahasa Jepang?” Andri kembali bertanya dengan raut wajah penasaran.

“Oh, tadi sebelum ke sini, Superman, Spiderman dan Robin Hood itu kursus bahasa dulu saat pesawat yang ia tumpangi delay, makanya ia bisa berbahasa Indonesia. Sementara Kotaro Minami tidak sempat kursus, karena jadwal keberangkatannya dimajukan. Maju mundur, maju mundur maju mundur cantik![3] urai Lelaki Tua menjelaskan.

“Emang mereka naik pesawat apa, Pak Tua?”

“Naik pesawat telpon!” jawab Lelaki Tua sambil menyapu mukanya menggunakan telapak tangan.

Setelah itu Kotaro Minami berpamitan.

“Arigatou gozaimasu!”[4] ucapnya sambil melambaikan tangan.

“Lie douitashimashite.”[5] jawab Lelaki Tua, Superman, Spiderman, Gatot Kaca dan Robin Hood serentak, kecuali Andri.

Andri masih bingung.

“Jangan-jangan tadi mereka semua mengata-ngatain aku yang masih jomblo dengan menggunakan bahasa Jepang.” pikir Andri. (orang kalau kelamaan menjomblo memang suka sensi.:D).

Tiba-tiba Lelaki Tua menepuk pundak Andri.

“Tadi Kotaro Minami cerita tentang pengalamannya dijaili anak kecil. Saat belalang tempur miliknya ia parkir di dekat pos Satpam komplek Antabaru, ada anak kecil datang bersama Pak Tarno,[6] lalu Pak Tarno menyulap belalang tempur milik Kotaro Minami menjadi belalang kupu-kupu, siang makan nasi kalau malam minum susu.[7]

Andri senyum-senyum mendengar celotehan Lelaki Tua. Ia masih tidak habis pikir bisa bertemu superhero yang selama ini hanya ia lihat di buku dongeng, komik dan TV.

 “Langit mulai gelap, kau tidak bisa berlama-lama lagi di sini, kau harus pergi sebelum matahari tenggelam.” Lelaki Tua mengingatkan Andri untuk segera pulang. “Ambil uangmu! Setelah itu kau ikuti gumpalan asap yang mengepul di tengah padang ilalang itu, ia akan membawamu pulang,” lanjut Lelaki Tua memberi petunjuk.

Andri pun mengikuti arahan Lelaki Tua. Perlahan ia mulai melangkahkan kakinya. Tiga langkah berjalan, Andri tertegun, ia membalikkan badan berputar menghadap ke arah Lelaki Tua.

“Apalagi yang kau tunggu?” tanya Lelaki Tua.

“Aku ada satu pertanyaan lagi, berharap Pak Tua tidak keberatan untuk menjawabnya.”

“Apa yang hendak kau tanyakan, bertanyalah aku akan menjawab,” balas Lelaki Tua.

“Pak Tua memberiku hadiah empat puluh sembilan ribu rupiah, kenapa Pak Tua tidak mencukupinya menjadi lima puluh ribu?”

Lelaki Tua terdiam.

“Sebenarnya hadiah yang kuberikan kepadamu itu awalnya lima puluh ribu. Nah, setelah dipotong pajak, sisanya tinggal segitu. Percayalah, aku tidak pernah berpikir untuk memakan hak orang lain,” urai Lelaki Tua. “Sebaiknya segera kau tinggal tempat ini, aku khawatir terjadi apa-apa padamu. Ingat, setelah ini jangan lagi kau menoleh ke belakang.”

Andri berlalu di balik gumpalan asap putih.

***

“Andri, bangun Dri, bangun!”

Andri membuka mata perlahan. Ia melihat banyak orang berkumpul di ruang tengah rumahnya. “Pakle Veyz, Mak Ratna.” Suara Andri lirih sambil mengedip-ngedipkan matanya. “Ada apa, kok banyak orang?”

“Tadi kamu dan makmu pingsan. Satu jam yang lalu makmu  sudah sadarkan diri, tapi kamu belum,” jawab Pakle Veyz.

Sambil mengucek-ngucek mata, Andri duduk, kemudian berdiri membelah kerumunan orang yang lagi berkumpul di ruang tengah.

“Mau kemana kamu?” tanya Mak Ratna dan Pakle Veyz serentak.

“Mau beli kondom HP, ke konter Mas Ujo!”

Walah dalah! Ternyata Andri meminta duit lima puluh ribu kepada Mak Ratna untuk membeli sarung karet buat ponsel barunya agar tidak tergores. Kenapa mak Ratna malah jadi matahari merah jambu?[8] Ha-ha-ha.


[1]  Apa kabar dalam bahasa Jepang.

[2]  Sehat-sehat saja dalam bahasa Jepang

[3]  Dipopulerkan oleh Syahrini

[4]  Terima kasih dalam bahasa Jepang

[5]  Terima kasih kembali dalam bahasa Jepang

[6]  Pesulap fenomenal

[7]  Syair lagu Pok ame ame

[8]  Matahari merah jambu kalau dalam bahasa bule = PINK SUN.:D

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Nine
Nine at Badar Besi (4 years 9 weeks ago)
80

dapet komediny bray, saya suka bagian karekter ikut-ikut membahas pengarang, kocak.. tpi dri segi teknis, msih ada beberapa kata yg salah tulis (cek sndiri), baiknya sebelum posting cerpennya di evaluasi lgi... overall sip dah.. itu aja dri sya

Salam olahraga...

Writer mr rockstars
mr rockstars at Badar Besi (4 years 9 weeks ago)

Oke terima kasih.:)

Evaluasinya sudah tuntas, sebagian cerita badar besi malah telah saya masukan ke dalam buku fiksi komedi saya.

Salam kenal kembali.:)

Writer nusantara
nusantara at Badar Besi (4 years 15 weeks ago)
80

Mantepph hehe

Writer mr rockstars
mr rockstars at Badar Besi (4 years 9 weeks ago)

Terima kasih.:)

Writer syntaxerror
syntaxerror at Badar Besi (4 years 17 weeks ago)

mangstab brow...
terusin berkarya, siapa tahu bisa jadi novel

toyota tegal | toko baju surabaya | jual solar cell - sewa mobil di lombok

Writer mr rockstars
mr rockstars at Badar Besi (4 years 17 weeks ago)

Terima kasih.:)

Writer MeSha
MeSha at Badar Besi (4 years 18 weeks ago)
80

Ceritanya cukup menghibur.
Semangat menulis..^^

Writer mr rockstars
mr rockstars at Badar Besi (4 years 18 weeks ago)

Terima kasih, mba Mesha.:)

Writer Rusty Wilson
Rusty Wilson at Badar Besi (4 years 18 weeks ago)
80

Ini ceritanya asyik sih sebenernya, biarpun plotnya agak terkesan dipaksakan (menurut saya).
.
Bahasanya pun ngalir. Akhir-akhir ini saya jarang nemu cerita yang bahasanya enak dibaca di kemudian.com ini.

Writer mr rockstars
mr rockstars at Badar Besi (4 years 18 weeks ago)

Terima kasih, Bang! Salam kenal dari member baru.:)

Maklum, Bang. Masih belajar merangkai kata ni.:)

Writer Rusty Wilson
Rusty Wilson at Badar Besi (4 years 18 weeks ago)

Uwwooohhh~~
.
Tumben lho masih baru tapi bahasa di ceritanya udah layak baca.
.
Keep nulis ya. :D

Writer mr rockstars
mr rockstars at Badar Besi (4 years 18 weeks ago)

Baru gabung di kemudian.com, Bang.

Kalau nulis di blog pribadi sih sudah dari lima tahun yang lalu.:)

Mohon bimbingan, Bang!

Kebetulan, saya lagi membaca tulisan abang yang berjudul "Album Foto" ni.:)

Writer Rusty Wilson
Rusty Wilson at Badar Besi (4 years 18 weeks ago)

Wah... Itu cerita saya 3 tahun lalu... pas lagi di tahun pertama kuliah.
.
Selamat menikmati. :D

Writer frankriot69
frankriot69 at Badar Besi (4 years 18 weeks ago)
80

yeah

Writer Nine
Nine at Badar Besi (4 years 9 weeks ago)

Komen kayak gini ngak usah di respon, males banget komen cerita orang, ngak nyambung lgi, cerita komedi di komen "Yeah", apa coba? Ngak ada hikmah yg bisa di petik...

Writer mr rockstars
mr rockstars at Badar Besi (4 years 9 weeks ago)

Hehhehee, komen nyari point.:)

Writer mr rockstars
mr rockstars at Badar Besi (4 years 18 weeks ago)

Terima kasih.:)