RAHASIA

Embun pagi menggantung di ujung dedaunan lalu jatuh satu persatu ke hamparan tanah yang membasah. Kuperhatikan dengan seksama betapa sejuk hati ini memandangnya. Indah. Selamat pagi, dunia. Aku menyambutmu. Dan secangkir kopi mengawali pagi...

"Itu bukan embun. Tapi sisa air hujan tadi subuh, tahu. Kau ini bangun pagi jam segini!"

"Berapa, pak?"

"Gocap!"

"Yang sekarang kopi satu, gorengan tiga, rokok sebatang."

"Ceban!"

"Tulis! Satuin, pak. Bayar minggu depan!"

"Minggu depan! Minggu depan!"

-------

Seperti biasanya, sehabis sarapan gorengan di warung kopi pak Tatang. Berhutang tentunya, hehe. Aku segera bergegas menuju halte bus. Bukan hendak berangkat kerja hanya ingin menghabiskan waktu saja sembari cuci mata dan pastinya harus jauh dari rumah. Antisepasi. Tindakan pencegahan maksudnya. Aku tak pernah luput dari gosip.

Di halte bus, aku sering memerhatikan orang-orang yang lalu-lalang. Bergerak cepat, tak peduli sekitar, mata tertuju kedepan. Sepertinya mereka tak menganggapku ada. Memangnya aku siapa ingin di anggap, ya?

Masih kuingat peristiwa beberapa hari yang lalu ketika dua orang pengendara motor saling bersenggolan hingga mereka beradu mulut. Tepat di depanku. Mereka tak menganggapku ada.

"Punya mata, gak!"

"Punya. Situ punya mata, gak!"

"Punya. Saya lagi buru-buru!"

"Sama!"

"Istri saya di rumahsakit. Mau melahirkan!"

"Sama!"

"Damai!"

"Oke!"

"Ya, udah!"

"Ya, udah. Sana duluan!"

"Makasih!"

"Sama-sama!"

Aduh, adu mulut yang aneh. Aku yang panas kuping ini.

-------

Aku juga sering memerhatikan orang-orang yang duduk manis menunggu bus. Ada yang mengupil, ada yang pegang-pegang rambut, yang membaca buku, menelfon, dan lain-lain. Bahkan yang sedang makan cemilanpun tak luput kuperhatikan.

"(Melotot) Apa lihat-lihat!"

"(Kaget lalu menggeleng kepala) Nggak."

"(Menyodorkan cemilan) Mau???"

"(Langsung merebut kemudian tersenyum) Makasih."

"(Melongo) ?!?!"

-------

Suatu hari duduklah seorang pria paruh baya dengan gagahnya disampingku. Entah apa yang membuat mataku tertuju fokus pada kacamata hitamnya itu.

"Bagus, Om." Kataku dan ia langsung menoleh. Lama ia menatapku dengan muka tegasnya yang sedikit angkuh mengeryitkan dahi. Aku menatapnya polos tapi ia malah memalingkan muka kembali menatap jalan. Sialan. Tak menghiraukan.

"Beli dimana, Om?" Tanyaku lagi. Ia tetap diam tak bergeming setangguh batu ngarang. Eh, batu karang. Kutoel saja dari samping pelan-pelan dengan telunjuk. Tusuk. Tusuk. Begitu ucapku dalam hati.

Ahaha, berhasil ternyata. Ia terkaget-kaget setengah menghindar, memandangiku sejenak lalu merogoh saku jaketnya mengambil sesuatu. Lama sekali. Aku menanti-nanti.

"Argh, dua ribu! Apa ini?! Aku bertanya kacamata kenapa ia memberiku uang?!" Gumamku dalam hati bertanya-tanya sedang pria paruh baya itu lari terbirit-birit.

Kupandangi uang dua ribuan yang tergeletak dekat tanganku itu lalu kumasukkan ke dalam saku celanaku. Lumayan. Tak kusangka, rupanya orang-orang di halte bus semua menatap ke arahku. Tapi tak lama mereka segera kembali beraktifitas seperti biasa dan tak menganggapku ada.

-------

Tiba-tiba tampaklah seorang bidadari dari kejauhan dengan tangan yang mendekap buku di dadanya. Kuperhatikan cara berjalannya. Wuih, bak peragawati. Angin lembut sepoi-sepoipun langsung membelai wajahku hilir-mudik seketika. Dan, cihuy. Dia duduk disampingku. Hahay, istimewa.

10 menit kemudian...

"Hhm. Hhm." Aku mendehem.

Bidadari itu, sebut saja 'si cantik', menghentikan jemarinya yang sedari tadi sibuk memencet layar ponselnya. Mukanya masih menghadap kedepan hanya matanya saja yang melirik kesamping, ke arahku. Hanya lima detik setelah itu dia sibuk memencet-mencet ponselnya lagi. Eumh, tipe es batu. Dingin. Aku beku.

Lima menit kemudian...

"Hhm! Hhm!! Hhm!!!" Aku mendehem lebih keras lagi.

Benar saja. Yes, berhasil. Dia menoleh tapi mukanya terlihat memucat. Diapun memerhatikanku dari atas kebawah lalu keatas lagi kemudian tersenyum. Aiiih, manisnya. Hati berbunga-bunga rasanya.

"Terimakasih. Kau satu-satunya perempuan yang mau tersenyum padaku hari ini dan kau juga adalah satu-satunya orang yang tak canggung untuk duduk disampingku. Biasanya hantu." Kucoba membuka percakapan. Dia tersenyum sambil mengangguk. Wuih, senyumnya.

"Kaos bladus, celana pendek mirip celana basket. Kubilang mirip celana basket jadi kau jangan menganggapku atlet basket. Sandalku, sandal jepit. Kau tak sungkan?" Kataku lagi memancingnya bicara. Dia menoleh, masih tersenyum, tapi terlihat agak beda.

Disimpannya ponselnya diatas buku yang berada di pangkuannya. Sedikit menarik nafas panjang lalu kembali tersenyum.

"Kau terlihat seperti masih 17 tahun..." Ucapnya lembut menyambut pembicaraanku. Pasti lancar, begitu pikirku.

"Ahaha, kau bisa saja."

"Bukan tampangmu. tapi kelakuan dan cara bicaramu!!!"

"Owh."

(Kami saling diam beberapa menit)

"Hehe."

"Kau? Tertawa?"

"Hehe. Tidak."

"Kau tertawa. Hehe."

"Jangan ge-er. Setiap orang bisa memberikan sesuatu. Aku tak bisa memberimu uang, waktu lebih dan lain-lain. Aku hanya bisa memberimu senyuman. Jangan harap kau bisa mengenalku, mengerti?!"

"Ya, terimakasih."

"Kau pencopet? Tukang hipnotis? Atau?"

"Pengangguran. Itu saja."

"Owh, pengangguran. Ini kartu nama ayahku, bila butuh pekerjaan tinggal hubungi saja. Aku pergi dulu."

"Oiya, namamu siapa?"

"Rahasia."

"Apa!! ?!?!?! Dadah. Aku pergi dulu."

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Nine
Nine at RAHASIA (4 years 18 weeks ago)
80

Lucuny cuman di bagian si om kacamata kasi uang, sama pengendara motor yg adu mulut, selain itu rasanya datar bro. (Mohon mmaap yh?)

Teteplah berkarya (y)

Writer Jemmy Febryan
Jemmy Febryan at RAHASIA (4 years 26 weeks ago)

Bingung O_O

Writer nusantara
nusantara at RAHASIA (4 years 26 weeks ago)

baca cerita sebelumnya jadi ga bingung hee

Writer 2rfp
2rfp at RAHASIA (4 years 27 weeks ago)
2550

eh buset, baca penjelasan kamu nus bisa2 aja sambungan dari cerita lain ke cerita ini hahaha tapi mungkin sebaiknya kamu sertain di previous post cerita sebelumnya jadi org gak bingung bacanya, kalo saya yang ngikutin dari SURAT NYASAR sih agak nyambung dikit.
oke komen awal masih seperti yg kmarin, seperti di kalimat "Berhutang tentunya, hehe" tertawa disitu malah menghilangkan unsur lucunya (bagi saya) biarkan saja pembaca yang tertawa.
lalu sebenernya masih ada beberapa bagian yang sulit dicerna otak seperti "Aku yang panas kuping ini." tapi setelah saya pikir bahwa tokoh "Aku" ini agak "Stres" saya maklumi saja.
komedinya dapet kali ini, saya ketawa2 sendiri
kan nular stresnya

Writer kemalbarca
kemalbarca at RAHASIA (4 years 27 weeks ago)
70

aku agak bingung menanggapi cerita ini
lucu? iya, saya ketawa2 bacanya :D
tapi kok kayak gak ada tujuan gitu
walaupun komedi, saya ngerasa agak aneh aja cerita yang tanpa tujuan tertentu kayak gini
ini pendapat pribadi sih, agak susah juga jelasinnya
tapi yang penting lucu deh! :D

Writer nusantara
nusantara at RAHASIA (4 years 27 weeks ago)

ini cerita berhubungan satu sama lain.
tokoh Rahasia yang disini adalah yang ngirim surat di cerita SURAT NYASAR.
si cantik yang mendekap buku di dadanya itu tokoh Fahira di SURAT NYASAR.
fahira punya adik angkat namanya rijal.
rijal itu yang ada di AKU BERARTI.
di RAHASIA ada yang beradu mulut gara-gara senggolan. Itu Tsutheejo yang mau ke rumahsakit karena Mae mau melahirkan.