Ciyezone Ending

Aku hanya bisa tersenyum pahit setiap kali melihatmu. Bukan karena aku menbencimu, bukan. Tolong jangan salah paham denganku. Aku hanya tidak bisa melihatmu secara langsung lagi seperti dulu. Menatapmu, hanya akan membangkitkan rasa sakit di hatiku. Karena itulah, aku terus menerus menghindarimu.

Dulu, orang-orang sekelas sering mempermainkan kita berdua. Memasangkan dan menjodohkan kita, seolah kau dan aku adalah sepasang kekasih yang baru saja jadian. Jujur, aku tidak suka akan hal itu. Kau juga bukan? Ah, jangan memalingkan wajah begitu. Aku tahu kau juga membenci semua kalimat “Ciye ciye” itu.

Selama setahun, kita berdua bersabar menghadapi semua olok-olokan mereka. Berusaha menjaga jarak hanya agar orang-orang sekelas tidak mempunyai bahan untuk ejekannya.

Selama itu lah aku diam-diam mulai memperhatikanmu. Tempat dudukmu yang tidak terlalu jauh dariku membuatku mudah untuk mengamati setiap gerak-gerikmu. Aku hanya tinggal berbalik, menatapmu yang berada dua kursi di belakang. Menilai, apa gerangan yang membuatmu bisa berakhir menjadi ejekan teman-teman bersamaku.

Dalam hati aku sebenarnya mengagumimu. Aku baru sadar akan perasaan itu saat kau dan aku duduk bersamaan dalam satu kelompok belajar. Kita saling berhadapan. Kedua mata kita bertemu. Lalu kita terdiam. Dan dunia seolah berhenti berputar.

Aku telah jatuh.

Jatuh cinta padamu lebih tepatnya.

Dan momen indah itu berlalu. Saat seorang kawanmu memergoki kita berdua. Kau langsung menjauh dariku dan menyadari, bahwa jarak di antara kita terlalu dekat.

Aku merasakan sakit saat itu.

Tingkahmu, yang selalu menjauhiku membuatku uring-uringan setiap malam. Padahal, anak laki-laki lainnya bersikap biasa padaku. Kenapa hanya kau yang rasanya begitu asing di hadapanku. Apakah karena olok-olokkan itu? Ah, begitu kekanak-kanakannya dirimu.

Sungguh, sikapmu yang seperti itu justru membuatku semakin penasaran. Ingin rasanya aku menjadi orang dekatmu. Temanmu. Atau apa saja asal bisa bersamamu.

Beberapa hari kemudian, kudapati kau sering menatap ke arahku. Bahkan terkadang kedua mata kita tak sengaja bertemu. Diam-diam aku tersenyum sendiri di balik buku biologiku. Apakah kau juga memiliki rasa terhadapku? Apakah olok-olokan itu juga mempengaruhi otakmu sebagaimana otakku sekarang? Mungkinkah kau juga jatuh kepadaku?

Aku membayangkan kalau kita berdua bisa ‘jadian’ bersama. Kau dan aku, jalan beriringan. Saling mendekatkan diri seperti sepasang muda-mudi yang sedang kasmaran. Merobek semua jarak yang selama ini ada di antara kita.

Aku sangat berharap kau membalas perasaanku.

“Dif, ada yang mau kuceritakan.” Aku ingin mencurahkan isi perasaanku kepada Difa. Sahabat baikku.

“Apa?” Ia tampak penasaran. Lucu melihat wajahnya yang selalu ceria tampak serius sekarang.

“Aku sedang jatuh cinta.” Aku tersipu.

“Sama siapa?” Difa semakin tidak dapat menahan rasa ingin tahunya. “Radith?” tebaknya sambil menudingkan jari telunjuknya ke arahku.

“Tidaklah.” Aku berbohong. Sial! Jika aku berkata kalau aku memang benar menyukai Radith, pasti Difa akan meneriakiku dan mengatakan kalau gosip yang selama ini beredar di kelas adalah benar.

“Terus?”

“Gak jadi deh.” Aku mengurungkan niatku untuk membagi seserpih kisahku. Bukan karena takut ketahuan, aku hanya tidak mau olok-olokan yang ada semakin menjadi-jadi. Hal itu sangatlah tidak bagus untukku dan kau.

Lebih baik aku pendam perasaan ini sendiri.

Entah hari apa itu, aku mendengar suatu kabar dari seorang temanmu. Radith, sebaiknya kau jaga mulut teman-temanmu itu. Mereka benar-benar tidak dapat dipercaya. Kawan-kawanmu itu bilang, kalau kau sedang menyukai seorang gadis.

Aku terkejut. Kontan saja aku langsung berpikir keras mencoba menebak siapa kah gerangan gadis tersebut.

Kau dan aku digosipkan pacaran. Diolok-olok jadian oleh teman sekelas. Aku yang sering memandangimu. Dan kau yang sering mencuri pandang ke arahku.

Mungkinkah gadis itu aku? Tanpa sadar pipiku memerah dan terasa panas. Ingin rasanya aku berteriak kegirangan dan berlari sambil menghentakkan kaki keras-keras. Hanya agar perasaan bahagia ini terlampiaskan. Dunia serasai dipenuhi bunga-bunga.

Valentine tiba. Hari kasih sayang. Waktu yang sangat pas bagiku untuk menunjukkan betapa seriusnya aku dengan perasaanku.

Sehari sebelumnya, aku membeli coklat di sebuah minimarket dekat rumahku. Aneh, aku juga mendapatimu di sana. Sedang bingung antara ingin membeli coklat hitam atau coklat susu. Aku tertawa sendiri dari balik rak dan mengamatimu di sana. Hadiah valentine-ku sedang di beli rupanya.

Dan sekarang, di sinilah aku. Di parkiran bersamamu. Dimana hanya ada kita berdua di lapangan yang lengang ini.

Aku hampir berteriak saat ada sms dengan nomor tak dikenal masuk ke handphone­-ku. Isinya adalah perintah tentang pertemuan rahasia di lapangan parkir saat pulang sekolah. Lebih tepatnya, 30 menit setelah bel pulang berbunyi.

Ternyata itu dirimu. Aku senang sekali. Diam-diam aku menyembunyikan kado valentine-ku di belakang punggung. Berusaha menyembunyikannya di balik ransel yang menggantung di belakang tubuhku.

“Thiya.” Kau memanggil namaku, akhirnya. Kau tampak sangat galau dan gelisah. Tenang saja, aku akan menerima kadomu dengan senang hati. Aku bukanlah cewek yang pemilih soal rasa coklat.

“Ini.”

“Ini.”

Kami berdua menyodorkan kotak kado kami bersama-sama. Hihi, lucu. Ternyata kita juga sehati saat memberikan hadiah valentine. Mungkin 14 Februari tahun ini akan menjadi hari paling indah dalam hidupku.

“Thiya, itu?” Kau tampak bingung dan tidak percaya. Tentu saja, kau tidak akan pernah menduga jika aku juga jatuh cinta padamu.

“Coklat untukmu.” Jawabku sambil menundukkan kepala. Malu menatap matanya. “Sebenarnya aku menyukaimu. Aku baru sadar akan hal itu.” Aku mengungkapkan perasaanku duluan. Lebih baik begini, soalnya. Radith adalah tipe cowok pemalu yang akan sangat susah untuk berterus terang. Apalagi soal cinta.

“Untukku?” Radith masih bingung. Aku mengangguk. Lalu Ia mengambil kadoku dengan tangan gemetar. Entahlah, mungkin mendapat pengakuan cinta di hari yang istimewa adalah satu anugerah besar baginya.

Tanpa menunggu basa-basi lagi, aku langsung mengambil kado dari tangan Radith. Hanya untuk memastikan, apakah kado untukku itu berisi coklat susu atau coklat hitam?

“Eh, tunggu!” Radith berusaha mencegahku meneliti bungkusan kado.

“Ini untukku kan?” Dengan percaya diri aku membaca kartu berbentuk hati yang tertempel menggantung di salah satu sisi kado.

To : Difa.

From : Your secret admire. Radith.

 Petir serasa menyambar di telingaku. Dunia seolah rubuh di bawah kakiku. Ini... ini.. aku tidak salah baca kan?

Di...fa? Sahabatku?

Lalu aku sadar. Jika tatapan Radith yang sering tertuju ke arahku itu bukanlah untukku. Tapi untuk Difa, gadis yang duduk tepat di belakangku. Pantas saja kedua mata kami sering tidak sengaja bertemu.

Kau ternyata.... menyukai Difa.

Jadi, semua harapanku itu, hanyalah angan-anganku sendiri?

Selama ini, kau tidak menyukaiku? Kalau semua pikiran indah di otakku itu hanyalah khayalan belaka hasil tingkahmu yang selalu membuatku merasa diperhatikan.

Kau jahat Radith. Benar-benar jahat. Kau berikan harapan palsu kepadaku. Bahkan tanpa kau sadari, hatiku sudah hancur karena kenyataan ini.

“Sebenarnya aku ingin meminta tolong kepadamu untuk memberikan kado ini kepada Difa. Tapi, aku tidak tahu kalau kau..” Kau terdiam. Aku juga diam. Dunia di antara kita serasa semakin jauh sekarang.

“Tidak apa-apa.” Aku memeluk kado dari Radith dengan lembut. Seolah di dalam kotak itulah tertinggal sisa perasaanku kepadamu. “Akan kuberikan padanya.” Aku menundukkan kepala. Kali ini bukan karena malu, tapi karena aku ingin kau tidak melihat wajah sedihku sekarang.

Dalam sunyi, aku pun menangis. Bukan karena dirimu. Kau tidak salah Radith. Meski selama ini aku salah mengartikan setiap gerak-gerikmu. Aku hanya menangisi kebodohanku yang terlalu berharap ini terhadapmu. Itu saja.

Hei, jangan suram begitu. Tersenyumlah. Aku berusaha menarik bibirku ke atas. Membuat selengkung senyum berhiaskan air mata kepedihan. Aku janji akan menyerahkan kado ini kepada Difa. Bahkan aku akan mendukung hubungan kalian.

Lalu kau bertanya apakah aku baik-baik saja? Ya, aku baik. Sangat baik malahan. Terima kasih karena sudah menyadarkanku dari mimpi indahku. Sudah selayaknya aku kembali ke dunia nyata dan melupakan semua khayalanku.

Keesokan harinya, gosip baru pun beredar. Kali ini menyebar lebih cepat seperti api yang membakar pepohonan. Antara Radith dan Difa.

Aku senang, karena dengan begitu namaku tidak akan pernah disandingkan lagi denganmu. Aku bebas dari segala olok-olokan teman sekelas.

Saat aku mulai kembali hidup, kau tiba-tiba memanggil namaku. Jarang sekali kudengar suara itu menyebut nama ‘Thiya’ dengan sangat jelas.

Kau tampak merasa bersalah. Radith. Aku berdiri berhadapan denganmu. Lalu tersenyum agak memaksa. Aku tidak apa-apa kok. Perasaanku dulu kini sudah kulupakan. Aku tidak akan lagi berharap kepadamu.

Benarkah? Kau tampak tidak percaya. Anak ini. Ya. Aku menjawab semenyakinkan mungkin. Dan kau pun tersenyum. Sambil menghela nafas lega, kau pergi meninggalkanku. Saat kau berbalik itulah, hatiku kembali terasa sakit. Sama seperti di waktu aku menyadari kenyataan pahit di hari valentine.

Bel istirahat telah usai. Aku bergegas kembali ke tempat dudukku. Saat tangan kananku merogoh laci mejaku, aku mendapati suatu bungkusan kecil di dalamnya. Aneh, perasaan aku tidak memasukkan plastik atau apa pun di dalam sini.

Aku pun menarik benda tersebut.

Sebungkus coklat. Kecil dan imut. Berwarna coklat gelap dengan sebuah kartu ucapan mungil menggantung di leher bungkusannya.

Maaf.

Radith. Aku pun menoleh ke belakang kursiku. Mendapati tatapan matanya bertemu denganku. Kali ini benar-benar ditujukan kepadaku. Kau mengangkat tangan kanan tanda kau sadar aku perhatikan, dan aku mengangkat coklat pemberianmu tanda aku senang mendapatkannya.

Aku membuka bungkus coklatku. Memakannya dan merasakan manis pahitnya bercampur di lidahku. Aneh, kenapa coklat ini terasa tidak enak.

Read previous post:  
93
points
(663 words) posted by Thiya Rahmah 4 years 39 weeks ago
71.5385
Tags: Cerita | Cerita Pendek | cinta | cerita sehari-hari | kisah remaja
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer izaddina
izaddina at Ciyezone Ending (4 years 5 weeks ago)
90

Numpang vote aja. Ternyata Mbak Thiya pernah suka bikin cerita cinta. Ahihi.

Writer hidden pen
hidden pen at Ciyezone Ending (4 years 13 weeks ago)
100

ehm aku bosan dan mulai terasa galau dihati
membaca cerita ini membuat rasa yang kupendam seakan muncul dipermukaan begitu saja bagaikan meteor yang jatuh dikepala.

ini hanya perasaanku saja setelah menikmati cerrita ini

ohok ohok maaf cuma cari gara-gara aja di sini ahaha
mampir sebentar di ceritamu ya thiya, gak apa-apakan bila sedikit menyampah ahahaha
ehh apakah aku pernah kesini ya, ehm aku lupa. maklum udah tua. ahaha ehh aku masih merasa 10 tahun lebih muda loh.
cerita ini yang kupikir agak gaje dan romantis walau terasa pahit di hatiku, aahh apakah aku cemburu melihat cerita ini #pletak dihajar thiya menggunakan kapak
benar aku cemburu, ceritamu amat bagus dan menyentuh hati. awalnya dirimu suka ama radith ya. ehm ehm tampaknya dari awal cerita ini radith bermain kucing-kucingan denganmu, kyaaaa aku iri

efek blushnya terasa namun ada kekurangan yang membuatku penasaran, biasalah aku selalu memikirkan pakaian, tapi di sini gak dijelaskan memakai baju apa? ehm aku pengen berimajinasi lebih dalam lagi #PLAAAKK

kata ini aku plagiat dan aku potong dari atas, karena pengen kubahas denganmu,
Benarkah? Kau tampak tidak percaya. Anak ini. Ya. Aku menjawab semenyakinkan mungkin. Dan kau pun tersenyum. Sambil menghela nafas lega, kau pergi meninggalkanku. Saat kau berbalik itulah, hatiku kembali terasa sakit. Sama seperti di waktu aku menyadari kenyataan pahit di hari valentine.

(anak ini) ehm apa ini? dirimu punya anak? ahaha
sedikit mengenai hari valentine. ehm akhir cerita itu juga membuatku penasaran, ada apakah gerangan coklat pahit? apakah coklatnya udah basi? yaahh jika beli di mini market emang cepat basi #KYAAAA ampun
YAAHH akhirnya radith dan difa janjian, aku pengen melihat kelanjutan cinta mereka berdua.
hiks hiks yang sabar ya thiya.
cinta memang menyakitkan tapi ada hikmah dibalik itu semua. ehm ehm
maaf bila tidak berkenan, memang komentarku agak rada membuatmu makin pusing karena aku sangat senang bercanda bercampur serius. yaahh sekiranya itulah sifatku dari dulu sampai sekarang #loh koq curhat
kira kira udah terbalas belum rasa sakit hatimu terhadap radith dan difa (hampir aku sebut diva (pegulat)), buatkan ceritanya yach. yang kejam dan dramatis dari ini
tambahkan aja malam minggu yang horor

hehe salam hangat dari tersembunyi

#kaburrrr

Writer MID_Shady
MID_Shady at Ciyezone Ending (4 years 14 weeks ago)
20

"Aku hanya bisa tersenyum pahit setiap kali melihatmu. Bukan karena aku menbencimu, bukan. Tolong jangan salah paham denganku. Aku hanya tidak bisa melihatmu secara langsung lagi seperti dulu. Menatapmu, hanya akan membangkitkan rasa sakit di hatiku. Karena itulah, aku terus menerus menghindarimu"
Paragraf pertama bikin saya bosan. Kenapa? Karna ini seperti catatan harian bukan cerpen dan begitulah seterusnya dan membaca cerita yang orang-orang bilang"cerpen" ini seperti membaca satu halaman dari buku harian seseorang.
Selebihnya saya tidak tahu lagi harus berkomentar apa, karna cerita ini sama sekali tidak menarik.

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at Ciyezone Ending (4 years 14 weeks ago)

Ugu.....*megang dada* sakit kak, kayak ditombak sama lembing XD
Terima kasih atas kedatangannya Kak MID_Shady, maaf bila cerpen ini membosankan untuk kakak. Duh.... saya memang masih belum berbakat mengolah narasi dan konflik yang matang sewaktu mengolah cerpen ini.
.
Memang kesalahan terbesar dari cerpen ini adalah gaya penceritaannya yang membosankan. Enggg... untuk beberapa pembaca memang berbeda pendapat. Tapi aku hargai kok kritikan kakak. Toh, penghargaan terbesar seorang penulis adalah ceritanya dibaca dan dikomentari.
Kakak mau membaca dan meninggalkan jejak saja sudah merupakan kesenangan tersendiri untukku.
Kapan-kapan mampir lagi ya Kak :D
Pedas pun tak apa, yang pentig bertanggung jawab.
CMIIW ;)

Writer benmi
benmi at Ciyezone Ending (4 years 18 weeks ago)
70

Endingnya aku rada bingung... itu si radith napa kasi coklat ke thiya lagi... coklat giri (coklat kewajiban) ato cowo lain yg ngasi? Ak td hbs bc yg pertama lgsg ke sini... back koment dlu yg part 1.. hahahha..

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at Ciyezone Ending (4 years 18 weeks ago)

Sebenarnya begini, kisah ini menceritakan 'saya' yang sedang berkisah pada seseorang. Seperti kepada pembaca begitu, cuma kisahnya aja yang kayak cerita ke Radith.
Aduh... kayaknya saya masih belum bisa memberikan kesan itu kepada Kakak X_X
Makasih Kak Benmi udah mau datang.
Untuk ending. Yah... mungkin Radith pengen minta maaf, makanya kasih coklat. Tapi kecil (pelit amat). Maaf bila masih membuat Kakak bingung.
Sekali lagi maaf.

Writer Cherolita
Cherolita at Ciyezone Ending (4 years 20 weeks ago)
80

Ciyezone emang mematikan banget, bisa membuat baper dan akhirnya rada tertarik. Tapi kenapa kebanyakan hanya ceweknya ya yang sedikit tertarik? Hm mungkin karena cewek lebih peka perasaannya *Nanya sendiri jawab sendiri* wkwkwk.
Temanya unik, Kak Thiya:D Aku kira nanti endingnya mereka bisa bersatu, ternyata :') Tapi memang ending nggak selalu menjadi happy buat semuanya sih wkwk. I like it :D

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at Ciyezone Ending (4 years 20 weeks ago)

Tidak semua hubungan dengan akhir "-zone" bisa berakhir manis :') <---kok malah curhat.
Cewek itu peka, makanya sering berharap lebih, dan akhirnya jatuh sakit karena apa yang diinginkannya tidak sesuai apa yang diimpikannya. Kasihan? Iya, banget malahan T_T

Writer Ryu.fernandes
Ryu.fernandes at Ciyezone Ending (4 years 18 weeks ago)

thiya...kakak awalnya agak melow gmna gitu baca cerita kamu pas d awal ama d pertengahannya,tapi pas baca bagian ini:
Aku membuka bungkus coklatku. Memakannya dan merasakan manis pahitnya bercampur di lidahku. Aneh, kenapa coklat ini terasa tidak enak
Kaka ngakak and kepikiran,kalo coklatnya ga enak kok d makan,kenapa ga beli sendiri...

#peace

Writer Cherolita
Cherolita at Ciyezone Ending (4 years 19 weeks ago)

Iya, Kak. Setujuuuu :') Salah satu contohnya yang lain itu Friendzone .... *ikutan curhat* Wkwkwk
Mungkin gitu kali ya, hmm bener-bener:3

Writer wmhadjri1991
wmhadjri1991 at Ciyezone Ending (4 years 20 weeks ago)
80

Huaaaa, thiyaaaa *peluk virtual*
syedih sekali saya membaca ini..kisah nyatamu ya nak? *pukpuk*
Anyway, idenya sederhana tapi cukup sukses bikin saya terenyuh ;) bikin nostalgia masa-masa SMA saya, hehe. Jaman dahulu kala itu saya banyak penggemarnya, Thiya :D mwahahaha...
btw, pengagum rahasia itu secret admirer, Thiya. Salam kemudian :)

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at Ciyezone Ending (4 years 20 weeks ago)

Makasih sudah mampir Kak wmhadjri1991 <--- ini enaknya dipanggil Kak apa ya? Kak Hadjri boleh?
Hmm... gimana ya, kisah nyata atau bukan? Hayo tebak (kok balik nanya sih?).
Mungkin sebagian ada yang nyata dan ada juga yang dibuat-buat, biar panjang aja ceritanya. Wkwkwkwk :D
Sedih ya Kak? Iya, saya juga (kan kamu yang buat).
Kakak banyak penggemarnya ya? Weeh... dapat banyak coklat dong waktu valentine? Hehehe :D

Writer Nine
Nine at Ciyezone Ending (4 years 22 weeks ago)
80

Bingung mo komen apa, soalny udah di babat abis sama temen-temen di bawah...

Jadi cuman mo koreksi aja deh, di paragraf 13 kalimat ke 2, ada kata "seperi", yg kayaknya di situ maksudnya seperti.. yh itu aja dari sya, lebihnya mohon di kurangkan, kurangnya mohon di lebihkan, lebih dan kurangnya mohon mampir di postingan saya, hehe :)

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at Ciyezone Ending (4 years 22 weeks ago)

Sudah Kak Nine, sudah diedit. Terima kasih atas kejeliannya, maklum. Ini mata kadang suka kelewatan sama tulisan sendiri. Oke, oke. Saya akan mampir ke tempat anda :D

Writer Kurenai86
Kurenai86 at Ciyezone Ending (4 years 23 weeks ago)
90

Cerita macam ini saya juga ngalamin >.<
dan terjadinya bukan di sekolah, tapi di tempat kerja.
cuma gara-gara saya dan orang itu sama2 masih single, sama agama, dan wajah ada sedikit kemiripan, langsung deh dibilang cocok.
yah, sempat si merasa tertarik, tapi karena satu dan lain hal, salah satunya kekhawatiran akan terjadi hal seperti di ceritamu ini, perasaan itu langsung saya buang jauh-jauh. habisi sebelum tumbuh lebih besar. Lagian toh orang itu juga menjauh, jadi yaa....
akhirnya sampai sekarang jadi kayak musuhan gitu deh.. ngomong seperlunya sebatas urusan kerjaan. sisanya? boro-boro :p

*inimalahjadicurcol*

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at Ciyezone Ending (4 years 23 weeks ago)

Hahaha, tidak apa-apa Kak Kurenai86, curhat sedikit boleh... *senyum-senyumsendiri*
Hati-hati lho, dari musuhan bisa jadi cinta nanti. Mungkin saja selama ini 'Dia' menjauhi Kakak karena takut bakal di-'ciye-ciye'-in. Wkwkwkwk :D
Mungkin sebenarnya dia juga ada rasa sama Kakak.... hihi...
Salam kenal Kak, terima kasih sudah mau mampir ke gubuk saya (apaan coba?)

sijojoz at Ciyezone Ending (4 years 24 weeks ago)
70

meskipun generik temanya, tapi ngerasa enjoy kok bacanya.

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at Ciyezone Ending (4 years 24 weeks ago)

Generik itu apa kak? (bingung)
Makasih atas kunjungannya...

Writer Shinichi
Shinichi at Ciyezone Ending (4 years 25 weeks ago)
90

wah! wah! waaahh! Ini sangat menghibur saya. Serius. Saya sangat menikmatinya. Ada beberapa cerpen yang saya baca dan komentar sebelumnya--setelah sekian bulan nggak mampir di mari--yang nggak senikmat membaca cerpen yang ini. Ahak hak hak. Saya akan kasiy poin penuh. Tapi sayang, ini belum sebagus cerpen saya :p #pletak
.
Btw, untuk hal-hal teknis saja dulu. Penulisan partikel -lah itu disambung kok dengan kata sebelumnya. Itulah, inilah, sekalianlah, batulah. Tapi semisal dirimu punya pedoman yang lain, mari dibagikan :) Selanjutnya kesalahan penulisan itu wajar, meski harusnya bisa diminimalisir. Contohnya kata "menganggumimu". Berikutnya semoga bisa lebih mulus.
.
Lalu ini. Soal kalimat ini: “Dif, ada yang mau kuceritakan.” Aku ingin mencurahkan isi perasaanku kepada Difa. Sahabat baikku. Nggak ada yang salah dengan strukturnya, menurut saya. Hanya saja ini semacam pemborosan. Sebaiknya dihindari. Kenapa saya bilang pemborosan? Coba tengok saja. Dialognya adalah soal "menceritakan". Lalu, diikuti kalimat penjelas yang mengulang soal hendak "menceritakan", yakni "mencurahkan isi perasaanku. Lalu diulang lagi soal Difa. Difa dikatakan "sahabat baikku" di sana. Secara imaji, pembaca pasti bisa ngerti bahwa Difa adalah sosok itu bagi tokoh utama. Karena, ya, seseorang mencurahkan perasaan kepadanya. Secara umum bisa ditarik kesimpulan bahwa Difa adalah sahabat bagi tokoh utama. Jadi nggak perlu dibuat kalimat penjelas begitu lagi. Satu lagi, selain hemat kata, itu juga membiarkan pembaca punya waktu mengimajinasikan cerita yang ia baca.
.
Sebagai komentar cuap-cuapnya, saya merasaa dirimu berhasil mengemas sebuah cerita dengan mengedepankan situasi yang remaja, dan membawa kesan yang demikian pula. Melalui narasimu, pembaca seperti saya bisa membayangkan apa yang terjadi, sekaligus menyelami perasaan-perasaan tokohmu. Kadangkala, penulis memang menghasilkan tulisan seperti itu. Maksudnya, terlahir saja tanpa trik apa-apa. Jadinya berkesan natural, tidak dibuat-buat. Itulah yang membuat saya bisa menikmati cerita ini.
.
Jika ditanya masukan apa yang bisa saya berikan, saya pikir nggak ada. Dari segi keutuhan cerita, bagi saya ini sudah maksimal. Namun ketika bicara soal kekayaan sebuah cerpen, kamu kekurangan ketegangan konflik. Mungkin sekali waktu perlu belajar soal dilema moral. Ya, itu proses lebih lanjut, semisal dirimu belum pernah dengar. Tapi, semoga hal-hal begitu, unsur-unsur pengaya cerpen yang harus diketahui dan dikuasai penulis, nggak membuat kealamian caramu bertutur tentang suatu tema itu menjadi terganggu. Semoga jangan. Soalnya, ntar saya jadi kaku mengomentarinya, dan itu kerugian buat saya :p
.
Anyway: terima kasih buat cerpen yang menghibur ini. Salam dan kip nulis. Ahak hak hak :)

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at Ciyezone Ending (4 years 25 weeks ago)

Ng.... ngeliat komentar Kak Shinici yang panjang saya jadi takut untuk membalasnya. Apakah harus panjang juga?
Saya senang ternyata Kakak memiliki pandangan lain terhadap cerpen saya.
Dari komentar Kakak yang panjaaaaaanng sekali, saya menangkap beberapa pelajaran.
1. Jangan melakukan pemborosan kata (itu sudah sering dibilang, maklum, namanya penyakit)
2.Biarkan kealamian ceritamu mengalir apa adanya (eh, benar gak?)
3.Bagian yang partikel -lah, sepertinya saya memang salah. Kadang saya tidak tahu harus disambung apa tidak, jad, beginilah hasilnya.
4. Konflik yang kurang dalam membuat ceritamu datar. (komenntar-komentar sebelumnya juga bilang begitu)
Sisanya, saya tidak tahu lagi sudah....
Tapi, terima kasih atas masukannya. Benar-benar berguna.

Writer Shinichi
Shinichi at Ciyezone Ending (4 years 24 weeks ago)

ahak hak hak.
nggak harus panjanglaaaahh :p biasa aja. saya emang gitu orangnya. sukak manjang2in apa yang nggak harus dipanjangin (?) tapi ya, bagusnya dibales dong ya komentar siapapun yang masuk ke tulisanmu. namanya biar ada interaksi. itulah yang paling dikangenin sesama Kemudianers di mari.
poin 2, tepat sekali. jujur, ketika saya membaca ulang tulisan-tulisan saya di awal-awal gabung ini situs, saya merasa ada yang hilang dengan perkembangan saya saat ini. ya, itu dia: kealamian bertutur. polos itu nggak ada lagi. padalan, itu bisa dijaga lho. fokusnya adalah pengayaan teknik bertutur saja dalam menulis ini. sayangnya kagak ada rumusnya. ahak hak hak. di situ saya kadang merasa sedih :p

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at Ciyezone Ending (4 years 24 weeks ago)

Kalau mau buat cerita yang terkesan alami (atau berasa) itu mudah kok, tergantung dengan perasaan Kakak waktu membuatnya itu.
Saya biasanya menulis ketika sedang merasakan emosi yang sangat kuat (mau itu marah, sedih, atau bahagia).
Tinggal ketik, apa yang Kakak rasakan ketika marah, sedih, atau malu. Jangan berlebihan, sedikit didramatisir juga boleh. Jadi kesannya, ini benar-benar dialami oleh si pembaca sendiri. Itu menurut saya.
Masalah membalas komentar orang lain. *malu-malu* Jujur, saya sering merasa takut jika harus mengomentari, komentar dari orang lain. Takut, jika tidak direspon atau apa. Ya... namanya juga anak baru. Masih merasa asing. Hehe...
Walau sebenarnya, balasan dari komentar yang pernah saya tebar itu selalu saya tunggu-tunggu di bagian activity.
Oke, akan saya balas semua komentar yang masuk.
Makasih atas perhatian Kakak :D
Hihi, cara ketawa Kakak lucu. Kalau dibayangan gimana ya?

Writer Shinichi
Shinichi at Ciyezone Ending (4 years 24 weeks ago)

nggak semudah ketika dirimu udah tau beberapa hal kok. dan gak usah takut kalo ramah2. kalo ada yg gangguin, laporin aja, biar dihajar rame2. tapi saya nggak ikutan. ahak hak hak. cara ketawak ini mah udah melegenda. tapi kalo member baru setahun dua tahun belum taulah. jd nggak usah dibayangin. ntar malah mimpi buruk. ahak hak hak.

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at Ciyezone Ending (4 years 24 weeks ago)

Haha.... bisa, bisa. Oke lah, saya nanti gak akan malu-malu lagi (asal jangan malu-maluin).

Writer augina putri
augina putri at Ciyezone Ending (4 years 26 weeks ago)
70

Ceritanya lumayan bagus, hm, tapi terlalu banyak narasi. Apabila ditambah percakapan, mungkin akan lebih bagus. :)

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at Ciyezone Ending (4 years 25 weeks ago)

Narasi terlalu banyak, tidak bagus. Percakapan ditambah, okelah.
Makasih Kak augina, kritik anda membangun.

Writer 2rfp
2rfp at Ciyezone Ending (4 years 26 weeks ago)
50

saya suka dengan kesederhanaan dalam penceritaan kamu, penggambarannya menurutku sudah bagus. memang kekurangannya hanya di ide cerita kamu yang sepertinya sudah biasa/pasaran. tidak ada daya kejutnya.

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at Ciyezone Ending (4 years 24 weeks ago)

Ide saya basi ya? T_T, okelah Kak 2rfp. Lain kali saya akan menggali ide cerita yang lebih daripada ini. (harapan)

Writer 2rfp
2rfp at Ciyezone Ending (4 years 24 weeks ago)

tidaak, bkn itu, "basi" itu terlalu kejam tiya hahaha
hanya jalan cerita dari ide kamu ini sudah biasa, sudah banyak cerita seperti ini dengan ending seperti ini.
kamu punya nilai lebih tapi dalam gaya penceritaan kamu, saya suka sekali bacanya

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at Ciyezone Ending (4 years 24 weeks ago)

Bukankah kemudian terkenal dengan kritikannya yang kejam dan pedas (eh?). Masalahnya itu, terkadang saya bingung harus menulis apa dan akhirnya mencari sesuatu yang biasa dengan harapan bisa menjadi luar biasa. (harapan, lagi)

Writer 2rfp
2rfp at Ciyezone Ending (4 years 24 weeks ago)

haha memang, tp saya blm sekejam itu
nggak ada salah dengan menjadi biasa, klo km nulis terus nanti juga bisa membuat banyak karya luar biasa, nulis itu kan berkembang, tanpa batasan

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at Ciyezone Ending (4 years 24 weeks ago)

Weiss... mantap kata-katanya. Makasih Kak :D

Writer akubram
akubram at Ciyezone Ending (4 years 26 weeks ago)
60

lumayan.. terlalu banyak narasi, jadi agak membosankan..

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at Ciyezone Ending (4 years 24 weeks ago)

Padahal saya berharap di narasi itu lah perasaan tokoh 'Aku' dapat tersampaikan.

Writer Devita
Devita at Ciyezone Ending (4 years 26 weeks ago)
10

bagus ko :D

Writer citapraaa
citapraaa at Ciyezone Ending (4 years 26 weeks ago)
50

agak ngebosenin. ._.v selain ceritanya yg gampang ketebak, cara menyampaikan cerita yang... kayak gimana ya... nggak ada sesuatu yang gimanaa gitu. yang mengejutkan.
penyampaian itu bisa merubah cerita dgn ide biasa menjadi luar biasa:)
keep writing & baca2 buku bagus / macem2 buku. saran: sang pemimpi-nya Andrea Hirata. kalo Laskar Pelangi ketebelan, hehe.

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at Ciyezone Ending (4 years 25 weeks ago)

Umm.... makasih Mba citapraa... sepertinya saya memang harus banyak membaca lagi. Maklum, waktu untuk membaca tidak sebanyak dulu. Ide... yah, sepertinya ide saya terlalu pasaran. Mungkin lain kali saya akan akan menggali teman cerita yang tidak mainstream (harapan).
Terima kasih atas kritiknya, sangat bermanfaat.
Saran bukunya juga bagus, walau belum dibaca (hehe :P)