My True Life At School

“TIIAAAA BANGUN!” teriak Mama dari luar kamar.

“Ya” sahutku malas. Lalu tidur lagi.

Beberapa menit kemudian.

“Tia, jam berapa?” tanya Lere (adik perempuanku satu-satunya. Nama aslinya Aulia Rivada, entah kenapa dipanggil Lere. Hal ini masih menjadi misteri sampai sekarang), yang tidur satu kamar beda ranjang denganku.

“Jam...” Aku melihat layar handphone dengan mata setengah terbuka. “ENAM KURANG 15!” Aku terpekik kaget.

“Hah?” adikku yang masih awam dengan jarum jam bingung.

“Kita hampir telat.”

“HAH!”

Kami berdua segera beranjak dari ranjang masing-masing dengan kecepatan tinggi. Tali kelambuku sampai putus saking paniknya. Dengan sigap, aku membongkar lemari. Menyiapkan buku dengan tergesa-gesa dan seragam. Lalu masuk ke kamar mandi. Beruntunglah ada dua kamar mandi, sehingga aku dan Lere tidak harus berebutan.

10 menit kemudian, kami sudah siap untuk berangkat. Celakanya, Mama dan Abah masih tidur di kamar. Terus, siapa yang mengantar kami ke sekolah?

“Ma, siapa yang ngantar?” Aku bertanya setengah kesal di luar kelambu orang tuaku (semua anggota keluargaku memakai kelambu saat tidur).

“Hmm..” Mama masih berjuang melawan kantuknya. Lalu menoleh ke arah suaminya di sebelah. “Mas, antar anaknya sana.”

“Malas. Kamu yang antar.”

“Dingin.”

“Aku juga.”

Lalu keduanya terlelap lagi. Lho, kok?

“MA! BAH! SIAPA YANG NGANTAR KAMI KE SEKOLAH?” tanyaku panik. Bagaimana tidak, jika terlambat habis sudah nama baikku di sekolah sebagai siswa teladan.

Akhirnya, setelah perdebatan sengit setengah mengantuk. Mama lah yang mengantar aku dan Lere ke sekolah. Lere kelas 6 SD dan sekolahnya dekat. Sedangkan aku lumayan jauh. Sekitar 15 menit perjalanan.

***

Di sekolah. Aku langsung masuk ke dalam gerbang dengan buru-buru. Syukur, belum ditutup. 

Sesampainya di kelas, Ninda dan Nadia sudah menyambutku di depan pintu.

Aku lupa, kalau di kelasku ini ada anak-anak labil yang cita-citanya menjadi preman tidak kesampaian.

“Apa liat-liat?” tanya Ninda galak. Yang artinya, selamat pagi Tia.

“Apa sih? Pagi-pagi sudah ngajak ribut” sapaku balik, galak. Selamat pagi juga, Ninda, Nadia.

“Ceh, sok preman” Nadia ikut-ikutan. Yang ini asli gak pake arti lain.

Setelah sapa-menyapa harian tadi. Aku masuk ke dalam kelas dan duduk di kursiku yang terletak di baris ketiga dekat dinding. Tempat ideal untuk menyontek. Hoho.

“Eh, pelajaran pertama apa?” tanyaku ke Nadifa yang duduk di belakang. Sebelah kursinya selalu kosong. Dan hanya akan diisi saat penghuninya datang jam 7 pas. Tukang telat. Namanya tidak pernah absen menandatangani DAFTAR ANAK-ANAK TELAT yang selalu terpampang di depan gerbang ketika waktu masuk sudah lewat.

“Matematika Peminatan” jawabnya singkat. Bagi korban Kurikulum 2013, Matematika untuk jurusan MIA—atau IPA—ada dua. Wajib dan Peminatan. Sakit gak? MTK satu aja peningnya minta ampun. Apalagi dua.

“Ouh” Aku menghela nafas lega. Akhirnya ada jam kosong untuk istirahat.

Kenapa kubilang jam kosong? Karena hampir sudah dua bulan ini Pak Guru yang mengajar MTK Peminatan tidak pernah hadir di kelas kami. Kelas lain sering. Bahkan mereka sudah BAB II. Dan kalian tahu kenapa dia tidak ada? Karena dia lebih memilih memancing daripada mengajar kami. Bayangkan sodara-sodara. MEMANCING! Ikan-ikan cungkring nan kurus itu lebih penting daripada kami para muridnya. Sungguh sedih hati saya.

Dan tiba-tiba sebuah keajaiban dunia kedelapan jalan di koridor. Pak Yofie, Guru MTK Peminatan berjalan sambil tersenyum ke arah kelas kami. Eh, gak jadi sedih. Aku lebih suka Bapaknya memancing sekarang.

Tiba-tiba aku merasakan suatu firasat buruk yang aneh. Apa ini? Kenapa jantungku tidak normal seperti biasanya.

Kelas kami gelagapan seperti anak ayam yang kocar-kacir menyelamatkan diri dari sergapan elang. Semua buru-buru kembali ke kursinya dan merapikan diri serapi mungkin. Seolah mereka sudah ada di situ dari tadi.

“Selamat pagi, anak-anak” sapanya ramah. Firasatku memburuk. Bukan hanya aku yang merasakannya, tapi satu kelas juga. Kedatangan Bapak yang tiba-tiba setelah dua bulan membuat atmosfer kelas berubah canggung dan kaku.

“Kita sudah sampai mana?” pria tua itu membuka buku LKS-nya.

“Bab I, halaman 10, latihan 1, nomor 3.” Jawab Ranggas, ketua kelas XI MIA 3.

“Oke, karena kelas lain sudah ulangan. Hari ini kalian ulangan harian.”

“HAAAHHH??!!” Geger satu kelas bagai mendengar berita kalau Timnas Indonesia juara di Piala Dunia. Tidak, lebih heboh dari itu.

Terbukti sudah firasat burukku.

“Tapi Pak, kami belum belajar” seorang pelajar protes.

“Pak, kita baru latihan 1” Saya setuju itu.

“Ini susah” benar sekali.

“Kami masih belum mengerti” Aku juga belum.

“Pak permisi.” Heni, Si Tukang Telat masuk dengan wajah tak berdosa. Ia langsung mengetuk pintu, jalan ke kursinya, lalu duduk seolah tidak terjadi apa-apa. Sudah biasa telat.

“Oke, kalian boleh lihat buku. Tapi jangan mencontek teman” Pak Yofie mengijinkan.

“Tetap saja.” Satu kelas merengut. Semua protes seperti Buruh yang menuntut kenaikan gaji. Perdebatan menjadi sangat sengit.

Beberapa menit kemudian.

Ulangan tetap dilanjutkan. Titah dan perintah Pak Yofie memang tidak dapat dibantah. Semua pelajar di kelasku frustasi seketika. Bahkan mereka yang pintar pun hanya bisa menggaruk kepala dan menggigit ujung pensil.

Pak Yofie keluar kelas. Aku yang duduk dekat jendela mampu melihatnya menghilang di ujung koridor dan masuk ke dalam ruang guru.

5 menit.

10 menit.

Tidak ada tanda-tanda kemunculan Bapak. Berarti aman. Satu kelas langsung gaduh saat itu juga. Mereka yang pintar berkumpul untuk memecahkan 30 soal yang Pak Yofie tercinta berikan. Bayangkan saja, dua bulan tidak masuk. Tiba-tiba ulangan dadakan. 30 soal lagi.

“Arrgh pusing!” Rara, anak yang terkenal pintar dan rajin mengeluh.

“Sulitnya.” Gaby, teman seperjuangnnya menyerah.

“Aku menyerah.” Fitri ikut-ikutan.

“N’cess, gimana nih?” tanyaku. Tapi yang kupanggil sudah tidak sadarkan diri di atas meja.

Di tengah keputusasaan itulah, tiba-tiba seseorang berseru.

“Teman-teman, lihat!” Yoga menunjuk ke atas meja guru.

Sebuah benda berupa LKS milik Pak Yofie, dengan setumpuk kertas hasil ulangan kelas lain diselipkan di dalamnya. Benda itu tampak bersinar seolah baru diturunkan dari surga untuk kami

Ranggas meneguk liur. Yoga menyiapkan mental. Rara berdiri dari kursinya. 1 detik, 2 detik...

“David, Nadia, jaga pintu. Yoga, lihat buku Bapaknya. Rara, teliti semua kertasnya. Cari nilai paling tinggi” komando Ranggas bak berada di tengah perang.

“Kamu ngapain?” tanya Rara dan Yoga bersamaan.

“Aku nungguin hasil kalian.”

“Yeee..”

Sesaat aku menjadi tegang. Bagaimana bila kebejatan kami ketahuan. Apa yang akan terjadi? Apakah kami semua akan dihukum? Masuk BK kah? Dijemur ramai-ramai? Atau yang lebih buruk, dikeluarkan?

“Woy, dosanya tanggung bersama lah?” teriak Ranggas tiba-tiba.

“Yo!” satu kelas mengacungkan jempol setuju.

Ini kelas, kalau sudah masalah contek-mencontek memang nomor satu.

“Bapak keluar dari ruang guru.” Nadia memberitakan secara singkat sambil mengintip dari jendela (kaca jendela kami kaca gelap. Jadi dari luar tidak terlihat), sedangkan David dari pintu.

Suasana menjadi semakin tegang. Beberapa murid ada yang menggebrak meja, gemas dengan lambatnya tim ahli yang sedang membongkar isi kertas hasil ulangan anak kelas lain.

“Bapak di depan gedung kelas XI” lapor Nadia lagi.

Semua siswi langsung teriak histeris bagai kesurupan massal. Tegang, takut, cemas,  bercampur menjadi satu. Aku sendiri sampai melompat dari kursi tatkala Nadia memberitakan Bapaknya telah berada di depan XI MIA 1.

“Di depan XI MIA 2.”

“RARA CEPAT!!” teriak Ranggas panik.

“Sabar. Ini lagi difoto.”

“CEPAAAT!” Teriak anak satu kelas. Histeria massal terus berlanjut. Bahkan semakin parah ketika sosok Bapak mulai terlihat di ujung jendela sudut kelas.

“RARA!”

*cklik* gambar terambil. Yoga, Rara, dan tim ahli lainnya langsung berlari menuju tempat duduk mereka. Bertepatan saat mereka semua duduk rapi di atas kursi, Pak Yofie datang. Fiuh.. mau meledak rasanya dada akibat dosa terindah ini.

“Sudah selesei? Tadi kok ribut.” Tanya Pak Yofie sambil duduk di balik meja guru. Ia tidak curiga dengan buku dan tumpukan kertasnya yang sedikit berantakan.

“Belum pak.” Jawab Ranggas mewakili isi hati semua anak.

“Oh.”

5 menit.

10 menit.

15 menit.

30 menit.

Argghh! Kenapa Bapak tidak keluar sana lagi?! Aku menggerutu dalam hati. Susah rasanya menanyakan tentang foto ‘Dosa Bersama’ kami jika bapaknya mengetatkan pengawasan di kelas.

Padahal waktu tinggal 15 menit. Apa kujawab saja? Haha, mustahil. Melihatnya saja sudah membuatku mual. Apalagi menjawabnya. Bisa-bisa masuk UGD aku.

“Psst.. lihat Line” bisik Rara. Dan seperti gosip, pesan itu dibisikkan kembali ke anak-anak lainnya.

Benarlah, ternyata di grup XI MIA 3 ada foto ‘Dosa Bersama’ kami. Dan wow, lihat nilai itu. 3,8/4, milik seorang anak yang terkenal cerdas (entah siapa, aku tidak peduli). Cukup tinggi untuk otak isi setengah sepertiku.

Dengan mudahnya aku menyalin semua jawaban tanpa melihat soal sedikit pun. Semua anak begitu. Dan dalam waktu kurang dari 5 menit, semua selesei mengerjakan 30 soal tersebut. Haha, ho, lega rasanya.

Satu Minggu kemudian. Kami mendengar berita dari salah satu anak XI MIA 1-kelas paling unggulan di sekolah kami.

“Kelas kalian hebat. Pak Yofie bilang kalo kalian tuntas semua. Padahal di kelas kami cuma beberapa yang bisa mencapai nilai di atas 3.”

“Haha, begitu” Aku tertawa garing. Satu kelas yang mendengar juga begitu. Bingung, antara mau bahagia atau justru sedih.

Huhu, jadi pelajar memang tidak mudah.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer ninja
ninja at My True Life At School (3 years 42 weeks ago)
70

Salam kenal Thia, saya Ninja :D
Wooh, semangat banget nyonteknya ya. Benar-benar kelas yang kompak. Adem juga ngeliatnya wkwk :D
Jadi ingat dulu juga pernah nyontek bareng teman sebangku, terang-terangan di depan gurunya :P --> cari mati
waktu baca, cuma bisa mringis. Good!

Writer nycto28
nycto28 at My True Life At School (3 years 51 weeks ago)
80

Yosh, kolom komentarmu panjang sekali huehue
cerpen yang menghibur, sangat menghibur
bagi para dewasa sekalian, inilah potret remaja masa sekarang! Hahaha! #digeplak
Kelasku tidak pernah begini sih.. cuman kerasa tegangnya pas contek-menyontek. Slice of Life yang bagus.
Keep up the good work!

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at My True Life At School (3 years 51 weeks ago)

Itu karena saya selalu promo di lapak orang :p <---buka aib.
Sekolah Kakak tidak pernah? Bagus! Pertahankan hal tersebut. Jangan seperti kami yang sudah tercoreng moreng mental dan akhlaknya <---padahal dia juga salah satu pelakunya. Hakakaka :D
Makasih atas kunjungannya ya Kak Nycto :D
Kapan-kapan mampir lagi ya, huehuehue :D

Writer nycto28
nycto28 at My True Life At School (3 years 51 weeks ago)

Oh begitu caranya, promosi lapak huehue
Kelas saya yang tidak pernah (massal begitu nggak pernah, kecil-kecilan mungkin pernah--saya nggak ikut-ikutan), kelas lain sih tidak tahu :p
Tentu, Thiya, kalau rajin buka Kekom :3

Writer ilham damanik
ilham damanik at My True Life At School (4 years 2 days ago)
50

Hahaha ini bener true life ya? Lucu bgt ceritanya. apalagi pas mama sama papanya berdebat (setengah mengantuk). hehehe aku kasih 5 point aja deh biar genap 100.

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at My True Life At School (4 years 2 days ago)

Aih! Kok cuma 5? Apa yang kurang Kak? Apa menurutu Kaka ada yang salah?
Kok cuma buat genapi point?
Aih, saya jadi gak ngerti deh sekarang... huhuhu T_T

Writer ilham damanik
ilham damanik at My True Life At School (4 years 2 days ago)

Hehehe sebenarnya ini bukan soal point tapi ada benernya juga. Gak ada yang salah kok. Gak ngerti kenapa? Udah ah jangan dipikirin. Kadang aku memang agak payah ngomong orangnya.

Writer benmi
benmi at My True Life At School (4 years 5 days ago)
80

Yg ini kelewat jg.. hahahha... itu mamanya hbs bangunin anaknya trus bobo lagi. Oh ya.. kenapa adenya dibilang awam liat jam.. padahal kan uda lelas 6 sd. Utk cerita lumayan lucu... aku ga mau koment eyd.. aku cuma koment kalo yg menurut senses aku aneh aja.. hahhaha...

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at My True Life At School (4 years 5 days ago)

Kayaknya semua postinganku ketutupan sama Kak Benmi T_T
Aduh.... beginilah nasib cerita yang keburu hilang ditelan waktu dan hari.
Makasih udah mau mampir Kak :D
Saya senang Kakak mau berkunjung ke lapak sederhana saya.

Writer citapraaa
citapraaa at My True Life At School (4 years 4 weeks ago)
2550

ini kocak.. mama papanya kocak.. ulangannya udah bisa terduga sih. tanggepan2 si aku lucu juga:) akhirnya sedih(?)

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at My True Life At School (4 years 4 weeks ago)

Wih, Kak Citapraaa mampir :D, salam dari junior.
Hehe, kocak ya?
Sebenarnya happy ending, cuma itu. Ya, cara dapetin nilainya itu yang bikin nyesek. Agak gimana gitu, mau bahagia kok sedih (?)

Writer Ryu.fernandes
Ryu.fernandes at My True Life At School (4 years 6 days ago)

Aku suka bagian ini..

“HAAAHHH??!!” Geger satu kelas bagai mendengar berita kalau Timnas Indonesia juara di Piala Dunia. Tidak, lebih heboh dari itu.

:v ..

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at My True Life At School (4 years 6 days ago)

Kak, komentar di tempat yang semestinya kenapa T_T?
What the? L ada di sini. TIDAAAKK! Jangan tulis nama saya dalam death note (itu kan punyanya Light)

Writer Ryu.fernandes
Ryu.fernandes at My True Life At School (4 years 6 days ago)

Gue newbie di mari ,belum sepenuhnya ngerti tentang komen mengomen di jamban #plakk
Mksud gue d situs ini

Tenang ajah deathnotenya lagi d gadein d olx.com

Um kayanya lu pecinta anime juga ya,kalo lu butuh recomended tentang anime lu bisa kontek gue di gmail gue
Ryudira24@gmail.com
Ronidoank52@gmail.com
Ryu.shin347@gmail.com
j3llals@gmail.com

Atau di fb gue ryuzaki
Atau follow twitter gue.
@Ryudira_24

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at My True Life At School (4 years 6 days ago)

To : Ryu.fernandes
It's okay. Newbie tidak masalah. Tidak ada yang memandang statusmu sebagai pemula di sini. Semua dinilai berdasarkan tulisan masih-masing yang di-post per individu.
Jangan takut, komen aja segaje-gajenya. Asal bertanggung jawab dan tidak menyinggung perasaa. Kritik pedas boleh dibagikan.
Malah, anak-anak sini senang kalau dikomentari. Kan dengan begitu semua dapat saling bersosialisasi. Ayo Kak, jangan malu-malu.
Oke, entar saya simpan itu daftar e-mail. Wokwokwok :D
Ane mah, gak gitu-gitu amat suka anime. Cuma kalau ada yang sreg langsung saya cari sampai ujung dunia (malak teman biasanya) Jadi, maafkan saya bila ada anime yang tidak saya ketahui.
Untuk Kakak, selamat datang di K.com. Semoga betah dan mau berlama-lama di sini :D

Writer Ryu.fernandes
Ryu.fernandes at My True Life At School (4 years 6 days ago)

aligator gozilamashita
#plakk
Arigatou gozaimashita....mau berteman dengan orang aneh agak somplak seperti gue ini..

:v

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at My True Life At School (4 years 6 days ago)

Do itashimashite :)
Saya juga orangnya aneh kok, Kakak belum tahu aja -,-

Writer Ryu.fernandes
Ryu.fernandes at My True Life At School (4 years 5 days ago)

Aneh gmna ade???

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at My True Life At School (4 years 5 days ago)

Aneh....

Writer rian
rian at My True Life At School (4 years 5 weeks ago)
2550

Mungkin ini yang dimaksud Mbak Day sebagai cerita remaja yang bener-bener berbahasa remaja. Iya enggak, Mbak Day?

Mulai dari pembukaan. Setuju sama Bang Smoker, adegan orang-telat-bangun-tidur itu udah keseringan dipakai, kalau bisa hindari (atau seenggaknya cara penceritaannya yang dibikin beda;dan ini saya enggak tau gimana caranya, hehe). Dan, menurut saya, bagian pembukaannya enggak berhubungan sama konflik utamanya (menyontek massal), jadi mestinya kalau dipangkas sekalian aja enggak akan jadi masalah.

Untuk komedinya, ada yang kena, ada yang garing, buat saya. Yang kena misalnya yang,

“Apa liat-liat?” tanya Ninda galak. Yang artinya, selamat pagi Tia.

“Apa sih? Pagi-pagi sudah ngajak ribut” sapaku balik, galak. Selamat pagi juga, Ninda, Nadia.

“Ceh, sok preman” Nadia ikut-ikutan. Yang ini asli gak pake arti lain.

Bagian contek-menyontek itu kerasa tegangnya. Dan suasana kelasnya, realistis lah, dengan pe-lebay-an di sana-sini yang wajar dilakukan penulis, meskipun buat saya masih bisa dioptimalkan lagi seandainya diksi lebih beragam.

Kelas saya juga pernah kejadian gini, pas pelajaran Fisika, tapi. Itu satu momen yang bikin saya ngerasa bahwa saya emang ditakdirkan sebagai pengamat kehidupan di dunia ini, huhuu. Pas lagi ulangan juga saya kadang-kadang lebih konsen ngeliatin kegiatan contek-menyontek ketimbang ngerjain soal saya sendiri. Kejadian gini mestinya penting buat kita para penulis (aspiran), secara kita membangun cerita kan dari fenomena sosial macam begini.

Tapi saya cuma bisa ngomong doang. Habis saya lebih sering ngisi waktu dengan ngelamun ketimbang ngamatin orang-orang. Plus baca buku-buku bulukan di perpustakaan.

Salam kenal, ya. Kalau kamu kelas sebelas juga, berarti kita seangkatan:)

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at My True Life At School (4 years 4 weeks ago)

YUHUUU!!! Kak Rian komentar di tempat saya :D
Waks, aku juga kelas sebelas :P berarti kita seangkatan dong. Hehe :D Aku baru tahu kalau Kakak ternyata juga anak SMA, habis tulisannya baku gitu. Kupikir Kakak seorang pria yang sudah berpengalaman dengan kata-kata bahasa indonesia jaman dulu.
Hohoho :D Gak nyangka, oke oke :D
Saya juga sering melamun, lihatlah dalam tulisan contek menyontek itu. Saya lebih sering jadi pengamat daripada tukang menyontek. Meski kalau mereka berhasil mendapatkan jawaban harus diberikan padaku :D Wkwkwk :P
Salam kenal ya Kak :D
Sering-sering mampir ke tempatku :D

Writer amandahidayat
amandahidayat at My True Life At School (4 years 5 weeks ago)
50

Tapi, cerita gini sudah terlalu sering. Aku aja ngerasa kalo ini cerita kesekian dengan isi yang sama yang sudah aku baca. Walalu mungkin agak berbeda, tapi tetap idenya sudah biasa didengar. Mungkin bisa dengan ide lain yang lebih oke. Tetap semangat ;))

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at My True Life At School (4 years 5 weeks ago)

Makasih sudah mampir Kak amandahidayat.
Karena cerita tentang menyontek sudah bertebaran dimana-mana... hohoho :D
Ya... mungkin pelajar-pelajar sebelum saya sudah pernah bikin begini. Setiap pelajar pernah ngalaminnya. Ini 'real story' Kak :D Cerita yang terjadi pada kehidupan nyata saya yang saya tuangkan menjadi sebuah tulisan berbau komedi. Apa yang terjadi di cerita itu benar-benar nyata dalam kehidupan saya. Jadi, ya... mungkin bahasa saya aja kali ya yang terlalu mainstream :3
Makasih ya, atas kritiknya Kak :D
Salam kenal :D

Writer Ryu.fernandes
Ryu.fernandes at My True Life At School (4 years 6 days ago)

:)

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at My True Life At School (4 years 5 weeks ago)
80

anak2 generasi 90-an ke bawah mungkin masih inget adegan di suatu film mandarin lawas (ga inget judul filmnya, malah mungkin itu satu2nya adegan yang saya inget dari film itu), tentang anak2 satu kelas di suatu sekolahan yang saling bekerja sama selagi ulangan. ada yang nyalin sontekan di paha. ada yang nyembunyiin sontekan di balik teralis. ada2 aja deh pokoknya. cerita ini seakan versi update-nya. anak2 jaman sekarang mah kerja samanya dah pake smartphone sama Line, hahaha.
.
sebelumnya saya mau jawab pertanyaan dari dirimu: "Bagi korban Kurikulum 2013, Matematika untuk jurusan MIA—atau IPA—ada dua. Wajib dan Peminatan. Sakit gak?" Sakit. Minta homeschooling aja, lebih efektif-efisien dan aman bagi hati nurani #jyaah
.
saya lupa waktu SD belajar apa aja, tapi saya heran kenapa adik yang udah kelas 6 SD kok masih awam soal jarum jam. saya kira itu salah satu pelajaran dasar banget.
.
sebetulnya saya penasaran sih kenapa kok pake kelambu, dan kenapa Bapaknya lebih doyan mancing pas pelajaran mereka, dan mancing di mana; nila, mas, atau lele? oh, ya, nilai 3,8/4 itu maksudnya nilainya pakai skala 4 kah? kayak sistem di perkuliahan aja ih, hihihi. saya inget pernah dapet nilai 17/100 untuk Fisika :p dulu saya prinsipnya gini sih: biarkan dunia mengetahui saya bebal dan malas adanya, ketimbang dinilai pintar padahal mah pintar mengelabui #jyaahlagi jangan ditiru, ya, sikap yang buruk itu, jadi anak bebal dan malas aja kok sombong. orang sombong kan temennya setan. *ujuk2 jadi pelajaran agama gini
.
ringan dan segar. lumayan lucunya. entah kenapa saya suka istilah "dosa terindah" mesti setelahnya saya sadar harus istigfar, juga ungkapan "sungguh sedih hati saya", yang mengingatkan pada pernyataan opsir Dewi, "di situ kadang saya merasa sedih", kenapa ga disamain aja sekalian redaksinya? lebih menggelitik kalau buat saya mah.
.
saya bukan tipe seperti Pak Guru Shinichi sih, jadi saya menyarankanmu untuk membuka sendiri pedoman EyD dan lihat bagian tentang penulisan angka, kalimat langsung, dan huruf kapital; serta Kamus Besar Bahasa Indonesia untuk mengecek lagi kata "nafas" dan "mengijinkan". semoga nanti nilai bahasa Indonesianya jadi lebih bagus lagi, yaa.
.
Thiya udah kenalan sama rian belum? kapan dia bikin grup anak2 SMA di Kekom. gabung aja. mudah2an dg begitu jadi makin maju tulis-menulisnya, baik kualitas maupun kuantitas. aamin. tapi kalo ga begitupun, ya dibawa santai dan asyik aja sih ya nulisnya :)

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at My True Life At School (4 years 5 weeks ago)

Ngg.... *menganga* panjangnya.... *masihmenganga*. Tidak saya sangka komentar Kak Day bisa lebih panjang dari Kak Shinichi.
Hoho. film itu ya. Saya tahu kok Kak, ingat malah. Ada adegan dimana mereka ramai-ramai fotoin guru pengawasnya biar mata Bapaknya silau dan mereka bisa melihat contekan dari helikopter mainan yang membawa spanduk contekan. Lucu! Tapi sekarang gak ditayangin lagi.
Oke, saya mau menjelaskan sedikit. Kurikulum 2013 memang memakai sistem penilaian seperti kuliah, biar gak kaget aja waktu udah masuk universitas. Kata Guru kami.
Soal memancing, entahlah Kak. Guru kami memang begitu. Ini kisah nyata dalam kehidupan ber-SMA saya. Tapi beruntunglah kami, karena Bapaknya sudah sadar dan rajin masuk ke kelas (gak ada jam kosong lagi, huaaa T_T).
Adik saya, biar kelas 6 SD, tetap aja yang namanya jam masih bingung. Dia cuma tahu jam tujuh dan setengah tujuh. Selebihnya dia bakal bingung dan dengan lugunya bilang 'Ma, sekarang jarum pendek di antara 5 dan 6 dan jarum panjang di angka 4".
Terus... hmm masalah kenalan sama Kak Rian.
Saya *malu-malu* masih belum kenalan. Hehe :D Segan saya, entah kenapa saya merasa sungkan dengan member satu itu. Tapi... tunggu!
RIAN ITU SMA??!! Tapi, tapi, setiap tulisannya baku dan mirip kayak cerpen-cerpen jadul. Makanya saya pikir kalau user bernama Rian ini adalah orang yang sudah berpengalaman dan saya tidak pantas berada di kolom komentar tulisannya. Minder duluan...
Hmm... mungkin habis ini saya mau berkunjung lagi ke postingannya.
Wow, Kak Rian SMA toh? Wow.
Wow.

Writer rian
rian at My True Life At School (4 years 4 weeks ago)

Ternyata bener saya nampak ketuaan. Terkutuklah buku-buku bulukan di perpus itu.

Grup Penulis itu sebenernya bukan grup beneran sih. Cuma waktu itu disaranin sama Mbak Dayeuh supaya ada temen penulis yang seumuran (barangkali karena dia bosen saya gerecoki terus sama email-email enggak jelas itu), jadi saya hunting beberapa member kekom yang saya curigai masih SMA dan mendapatkan dua, username dan emailnya sebagai berikut (seandainya kamu berminat menghubungi mereka berdua):

Citapraaa (citapratiwika@gmail.com)
Nycto28 (rollinggirl2902@gmail.com)

Grup ini dulunya sempet jalan sekitar dua bulanan, tapi setelah itu amburadul lah kita bertiga. Kita masih kontak-kontakan sih, dan sesekali tuker-tukeran cerpen, tapi enggak ada aturan jelas di sini. Memang sih sebenernya salah satu alasan saya bikin grup itu sebagai kedok supaya bisa kenalan sama member-member lain, jadi biarpun enggak jalan sebagaimana seharusnya ya enggak apa-apa.

Mungkin kalau kamu gabung juga, kita bisa adain lagi deadline dua minggu satu cerpen kayak dulu. Jadi kita nyetor satu cerpen/2 minggu, terus kita komentarin. Cuma gitu doang sih. Kapan itu ada gagasan buat bikin cerita estafet atau bikin tantangan nulis dengan tema-tema tertentu, tapi enggak ada yang terealisasi karena kita bertiga juga angin-anginan.

Tapi buat saya yang penting hubungan antar kita aja sih. Seneng rasanya punya kenalan yang bisa dihubungi kalau sewaktu-waktu butuh tanggapan untuk suatu cerita, jadi enggak harus diposting di Kekom melulu.

Saya bisa dihubungi di sini: ristiriantoadi@gmail.com

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at My True Life At School (4 years 4 weeks ago)

Jangan dikutuk bukunya Kak :D
Saya SMP juga makanan di perpustakaan itu, kalo SMA sudah jarang. Gak ada waktu, habis waktu buat istirahat banyak kepotong. Kalaupun mau ke perpustakaan, saya langsung cabut dari sekolah dan pergi ke perpustakaan kota yang lumayan jauh (baca:sebenarnya agak jauh sih) dari sekolah. Di situ lebih banyak bukunya, hehe :D kok jadi malah curhat -_-
Wow, ayo kak, ayo! Kita buat cerpen bersama :D Kapan? Kalau saya sih, sempat-sempatin aja buka kekom dimana pun dan kapan pun.
Kalau saya boleh ikut gak grupnya? Saya juga butuh saran tapi malu mau posting di sini. Istilahnya, revisi dulu sampai benar-benar pas (menurut pandangan saya).
Ini e-mail saya Kak : selestiarahmah@gmail.com
Saya boleh hubungin kakak sewaktu-waktu kan?

Writer citapraaa
citapraaa at My True Life At School (4 years 4 weeks ago)

angin-anginan .________.euh, emang saya bisanya sepik doang -______- kadang kalo nulis gitu berasa jadi harus keren, malah sebaliknya:/

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at My True Life At School (4 years 4 weeks ago)

Sebaliknya? Maksud Kak Citapraaa? :)

Writer citapraaa
citapraaa at My True Life At School (4 years 4 weeks ago)

malah jadi jelek ceritanya

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at My True Life At School (4 years 4 weeks ago)

T_T

Writer Nine
Nine at My True Life At School (4 years 5 weeks ago)
80

Saya pernah baca nih, tpi nga koment soalnya waktu itu belum jdi member kemudian, jadi inilah komen sya:

Nice.

Bingung mo komen apa thiya, soal komedinya, dapet (y)
Saya waktu bacanya senyum-senyum sndiri (sambil mijit kaki nenek)......
Keseluruhan enak lah, jadi keinget waktu sma dulu, :)

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at My True Life At School (4 years 5 weeks ago)

Haha, makasih Kak Nine atas apresiasinya. Walau bingung komen apa, yang penting gak cuma 'nice' atau 'bagus', soalnya. Kata Kak Kemal kalau komen begituan bisa muncul Peri Kemudian. Khi khi khi (tawa apa itu?)

Writer Nine
Nine at My True Life At School (4 years 5 weeks ago)

Hahahaha.... iya bener2... hehe

Writer puTrI_keg3lapaN
puTrI_keg3lapaN at My True Life At School (4 years 5 weeks ago)
100

Teringat waktu sekolah dulu jadiny, hahaha. Buat EYD dan sebagainy udah dikoreksi sama para sepuh :)

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at My True Life At School (4 years 5 weeks ago)

Makasih poinnya Kak Putri. Haha :D Bukan pelajar namanya kalau gak pernah nyontek, cuma, jangan keseringan. Tidak baik untuk kesehatan. Hoho :D

Writer Naomi Amaris
Naomi Amaris at My True Life At School (4 years 5 weeks ago)
90

Jujur, aku jadi keinget kelas sendiri. Jadi senyum2 sendiri, bacanya. Hehe, humornya kerasa Kak. Keep writing, Kak Thiya! Ganbatte :)

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at My True Life At School (4 years 5 weeks ago)

Ganbatte juga Kak Naomi Amaris, selama ini kemana? Kok jarang kelihatan di kemudian?
Hehe, makasih atas komentarnya.

Writer Naomi Amaris
Naomi Amaris at My True Life At School (4 years 5 weeks ago)

Hehe, soalnya lagi banyak Try Out Kak. :D

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at My True Life At School (4 years 5 weeks ago)

Kak Naomi SMA atau SMP? Hehe kepo mode: on.

Writer Naomi Amaris
Naomi Amaris at My True Life At School (4 years 5 weeks ago)

SD, Kak. Hehe..

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at My True Life At School (4 years 5 weeks ago)

Hahah, sama kaya adik saya. Hah?! TRY OUT?! kenapa adikku tidak memberitahuku dan malah nonton GGS?! Hmm... apa ini karena aku yang kurang perhatian sama dia kali ya? Ah, abaikan.

Writer Naomi Amaris
Naomi Amaris at My True Life At School (4 years 5 weeks ago)

Hehehe

Writer AdeliaPS297
AdeliaPS297 at My True Life At School (4 years 6 weeks ago)

Hihihi :)
Ceritanya lucu, bikin nyengir :D

Writer 2rfp
2rfp at My True Life At School (4 years 6 weeks ago)
50

ikut yang lain, ada kok komedinya, d beberapa bagian saya senyum2 sndiri, kacau banget dr rmh sampe skolah

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at My True Life At School (4 years 6 weeks ago)

Apa yang kacau kak? Apa... apa... bisa jelaskan. Tolong....

Writer 2rfp
2rfp at My True Life At School (4 years 6 weeks ago)

iya hidupmu itu, seru sih hehe

Writer Shinichi
Shinichi at My True Life At School (4 years 6 weeks ago)
50

Ummm...

saya belum membacanya karena melihat sesuatu yang mengganjel mata saya. Langsung saja:
Perhatikan kalimat pertama yang merupakan kalimat langsung (dialog) yang diucapkan tokoh. Kalau kita penggal, itu kalimat ada 2 buah, yakni: 1) TIIAAAA BANGUN! dan 2) Teriak Mama dari luar kamar. Kenapa itu dua kalimat? Ya karena engkau membuatnya begitu. Namun secara "maksud" kalimat itu adalah satu. Sebab, kalimat 2 merupakan penjelas kalimat 1. Artinya, keduanya tidak bisa dipisahkan alias nggak bisa dibaca cuma satu saja dan membuat pembaca paham maksudnya apa. Coba baca kalimat 1! Kamu sebagai pembaca bisa mengerti? Tentu. Tapi bagaimana dengan kalimat 2? Bisa ngerti kalau cuma itu saja? Artinya, Thiya yang Baik, bahwa kalimat penjelas (2) nggak bisa berdiri sendiri. Makanya, selalu diawali huruf kecil, kecuali kata pertamanya itu nama tokoh dan lain-lain yang disepakati selalu diawali kapital. Maka, penulisan kalimat 1 alias kalimat utamanya (dialog) juga nggak boleh diakhiri tanda titik (lihat dialog kedua cerpenmu) jika kalimat setelahnya kamu buat sebagai penjelas. Dan contoh-contoh kalimat penjelas ini, selalu diawali kata-kata seperti; kata, ucap, ujar, sebut, tukas, cetus, teriak, seru, sahut, pekik, tanya, jawab, aku, dll.

Semoga bermanfaat

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at My True Life At School (4 years 6 weeks ago)

Ooooohhhhhh begitu..... paham, paham.
Saya baru tahu tentang hal tersebut. Berarti masih banyak hal yang perlu saya pelajari.
Kadang saya pikir, kalau kalimat di dalam petik itu terpisah dari kalimat yang berada di luar tanda petik.
Hmm.... mungkin itu karena ketidaktahuan saya kali ya.
Bagus, bagus. Saya senang ternyata Kak Shinichi telah membagi ilmunya pada saya.
Terima kasih, ini sangat bermanfaat.
Itu artinya, suatu kalimat tidak dapat dipisah bila tidak dapat berdiri sendiri. Kecuali, bila sudah jelas dan mampu memberi makna yang pas.