Fall of Chateau ~~3

“Sang Kekuatan. Tidak ada yang tahu bagaimana wujudnya. Dia seperti sebuah energi luar biasa yang ditanam Ahura di jantung kastil ini untuk melindungi negeri ini. Sang kekuatan yang memberi nafas kehidupan bagi para penghuni Kastil. Sang Kekuatan yang membawa kebahagiaan dan kedamaian di negeri ini. Dan itu semua semakin sempurna ketika dua gadis dari hasil kreasi Ahura Mazda sendiri yang menjadi pengatur keharmonisan negeri ini.”

Semua anak-anak yang ada disana masih terperangah saat Daisius mengakhiri ceritanya. Setelah dia membagikan ikan bakar yang sudah mulai matang terpanggang api unggun di depan mereka kepada anak-anak itu, dia memberi nasihat kecil, “Karena itu, hormatilah Ratu dan Penasihat. Mereka penolong kita!”

Beberapa anak-anak langsung berhamburan pergi setelah mengangguk dan mencium sedapnya aroma ikan bakar di tangan mereka masing-masing. Tapi ada juga yang masih terdiam memandangi pria tua didepannya mulai memanggang lagi beberapa ayam mentah di atas api unggun.

“Apa lagi, Amer? Kau sudah mendapat potongan ikan favoritmu. Masih kurang?”

Pria kecil itu menggeleng. Dia memandangi lekat wajah Daisius sehingga membuat pria itu menghentikan pekerjaannya.

“Ada apa?”

“Paman..., mengapa kita juga harus menghormati Penasihat? Kata papa, dia hanya seorang wanita sombong yang hendak membunuh paman waktu kalian datang...”

Daisius perlahan mengarahkan telunjuknya ke mulut anak itu, menyuruhnya diam.

“Itu hanya kesalahpahaman semata, sebenarnya Paduka Alicia itu sangat baik. Dia hanya kawatir kedatangan kita waktu itu akan membuat kekacauan di negeri ini seperti halnya para raja-raja di luar sana. Tapi selama lima belas tahun kita hidup disini..., kita sudah menunjukkan perilaku yang sangat baik dan mereka juga tidak sedikitpun menunjukkan perilaku buruk terhadap kita, kan?”

Anak itu nampaknya kurang puas dengan ucapan sang pria. “Tapi setiap Sang Ratu mengunjungi paman di kemah kita, Penasihat sepertinya tidak menyukai kunjungan itu.”

“Mereka kaum bangsawan, Amer. Dan kita hanyalah pendatang yang mengharap belas kasihan mereka. Kedatangan mereka ke tempat kita ini saja sudah merupakan berkah luar biasa yang diberikan para penguasa negeri ini kepada pengungsi seperti kita. Kau seharusnya menjaga ucapanmu dan tidak patut menjelek-jelekkan mereka yang menyelamatkan kita, kau mengerti?”

Anak kecil itu mengangguk paham saat tatapan tajam Daisius seakan memaksa anak itu untuk mengerti. Dia mengucapkan terima kasih dan pergi menyusul teman-temannya.

Daisius hanya menghela nafas panjang saat semua anak-anak sudah berhamburan pergi di depan kemahnya. Dia memandangi api unggun yang sedari tadi dihidupkan untuk menghibur anak-anak itu. Pria berusia hampir empat puluh tahun itu mencoba kembali mengingat ucapan Amer tadi.

Ucapan anak kecil itu tidak ada salahnya.

Kenangannya terbawa pada peristiwa silam, lima belas tahun lalu, saat mereka pertama kali menerobos wilayah Chateau demi meminta suaka ke negeri bukan-manusia itu. Dia dan hampir dua ratus kepala keluarga dari sebuah desa kecil di pinggir Porte Nord memulai perjalanan panjang mereka saat kota besar itu diserang oleh tentara Kerajaan Set.

Sebelum Kerajaan Set memulai peperangan mereka dengan beberapa negara kota di wilayah Hyrapter, Daisius adalah seorang summoning scholar yang bekerja sebagai pustakawan di Perpustakaan Besar di Kota Ellioch. Dia sendiri memiliki seorang istri dan dua anak perempuan yang tinggal di desa pinggiran Kota Porte Nord, setidaknya setengah hari perjalanan dari Ellioch. Daisius merupakan sarjana yang cukup pandai dan dikenal kala itu. Dia menamatkan pendidikannya di usia yang teramat muda, hampir 18 tahun, sementara umumnya mereka yang lulus rata-rata di usia 23 tahun.  Daisius memiliki kecerdasan dan daya nalar yang sangat tinggi. Selain itu dia sangat gila ilmu, terlebih dengan bekerja di perpustakaan terlengkap di Hyrapter itu, hampir tidak ada satupun buku yang terlewat disana yang tidak dia baca.

Salah satu yang menarik perhatiannya adalah Le Chateau de Phantasm.

Daisius menghabiskan banyak waktunya meneliti tentang negeri yang konon tidak boleh disentuh oleh manusia itu. Terletak di ujung barat Hyrapter, terkepung oleh Pegunungan Saxea yang melingkar di sebelah barat Benua, Le Chateau de Phantasm merupakan negeri yang dikhususkan untuk para makhluk bukan manusia. Perjanjian kuno yang dilakukan oleh pendahulu mereka, Ratu Anastasia dan Raja manusia Edward Maxwell, menyepakati bahwa diantara dua teritori itu tidak boleh saling berhubungan, saling berinteraksi, dan tidak diizinkan masing-masing penghuninya memasuki wilayah lawannya. Perjanjian yang telah diteken sejak hampir satu milenia itu tetap ditaati oleh masing-masing pihak hingga sekarang.

Daisius mendapat informasi bahwa Le Chateau de Phantasm merupakan negeri yang sangat harmonis dan makmur, sejahtera, subur, gemah ripah loh jinawi. Negeri itu, berdasarkan pengamatan para penjelajah dari tapal batas, konon memiliki kekuatan magis yang membuat mereka bisa mempertahankan keharmonisan selama seribu tahun ini. Belum lagi para pemimpin mereka yang abadi, pasangan saudara Ratu Anastasia yang lembut dan Penasihat Utama Alicia yang tegas, membuat negeri ini semakin makmur. Ada yang bercerita bahwa dua saudara itu adalah putri-putri dari Bapa Agung Ahura, dewa utama yang diyakini para manusia sebagai penguasa Cahaya.

Daisius sangat ingin mendatangi negeri itu meskipun pada akhirnya itu hanya menjadi khayalan belaka. Dia tidak akan bisa memasuki dan menjelajahinya. Jangankan dia yang manusia biasa, para pemimpin dari Kerajaan Set, negara militer terkuat di Hyrapter, pun tak punya nyali memasuki tempat yang begitu sakral itu.

Semua berubah ketika Set mulai menginvasi negeri-negeri tetangga, termasuk Ellioch dan Porte Nord, demi alasan sumber daya. Daisius serta merta mengajak semua warga desanya mengungsi ketika Ellioch tempatnya bekerja sudah dibumi-hanguskan oleh Meriam Set. Tidak ingin mengalami nasib sama, Daisius memimpin hampir dua ratus kepala keluarga menjauh dari Porte Nord. Mereka berusaha mengungsi mencari negeri yang aman dari serangan Set.

Tetapi perang ternyata menjalar hampir ke seluruh wilayah Hyrapter. Daisius dan para pengungsi kehilangan tujuan yang aman karena semua negara kota saling angkat senjata melawan keangkaramurkaan Set. Alhasil, ditengah-tengah konflik tak berkesudahan, Daisius kehilangan banyak pengikut. Bahkan dia kehilangan anak gadis sulungnya saat mencoba keluar dari salah satu kota yang tengah dibombardir Set.

Kehilangan harapan dan dirasuki penuh keputusasaan, Daisius nekat mengajak mereka yang tersisa untuk memasuki tanah terlarang Le Chateau de Phantasm. Mereka siap mati kalau itu konsekuensi dari melanggar perjanjian kuno, karena bagaimanapun juga mereka sudah tidak punya pilihan lain untuk tetap hidup dalam peperangan global ini.

Alih-alih mati terbakar oleh serangan para penjaga batas, ternyata Sang Ratu malah menyambut hangat kedatangan mereka.

Ratu Anastasia menyediakan sebidang lahan, tidak jauh dari area perkotaan Chateau, untuk tempat tinggal mereka. Sang Ratu memberikan mereka perlindungan, penjagaan, ketenangan hidup kepada mereka. Sang Ratu menyediakan segala yang mereka butuhkan untuk melanjutkan kehidupan. Daisius dan semua pengungsi sangat berterima kasih atas semua kebaikan penghuni negeri ini. Mereka juga berjanji akan segera kembali apabila konflik sudah berakhir di negeri manusia.

Tapi tidak seperti Sang Ratu, sikap Penasihat Alicia sungguh berbeda jauh.

Penasihat tidak pernah menerima kehadiran mereka. Hingga lima belas tahun menetap, Penasihat bersikap sangat tidak bersahabat kepadanya. Daisius memaklumi perlakuan Alicia. Dia menyadari ras mereka tengah saling membantai di luar sana, satu hal yang Alicia tidak ingin manusia yang sama yang memasuki negerinya juga akan melakukan hal sama dan mengganggu keharmonisan Chateau.

Daisius sangat memahami bagaimana perasaan terluka Alicia ketika mereka, para manusia, nekat menerobos wilayahnya dan melanggar perjanjian yang telah disepakati seribu tahun lalu itu. Daisius tahu betapa tidak terimanya sang penasihat dengan keputusan Sang Ratu yang, alih-alih menghukum mereka yang melanggar perjanjian, menerima mereka dengan begitu terbuka di negeri ini.

Meskipun sebenci apapun Penasihat kepada mereka, demi menjaga kehormatan Sang Ratu yang telah begitu baik menjaga kaumnya, Daisius memilih untuk tetap menganggap Alicia sebagai seorang petinggi yang baik dan selalu menjaga nama baik sang penasihat itu.

Tiba-tiba Daisius mendengar riuh rendah suara dari arah anak-anak itu pergi. Riuh rendah yang telah membuyarkan lamunannya.

“Tuan Daisius..., ada kereta kerajaan di depan...,” seru seorang pengawalnya dari arah berseberangan. Daisius mencoba memperhatikan siapa yang datang dari balik temaram cahaya bulan, tapi dia tidak bisa melihat lebih jelas.

“Apa Yang Mulia Ratu? Mengapa begitu mendadak?” Daisius bertanya kepada pria yang menghampirinya. Dia segera bergegas beranjak ke dalam tenda untuk merapihkan pakaiannya demi menyambut sang tamu agung. Tetapi suara yang sangat dikenal membuatnya kaku untuk melangkah.

“Apa aku mengganggumu, Daisius?”

Pria tua itu melihat semua orang disana sudah terbungkuk menyembah ke arah sumber suara yang kini sudah ada didepannya. Tak ayal, dia juga mengikuti langkah orang-orang itu untuk ikut menyembah hormat.

“Y...Yang Mulia Alicia... sungguh sangat mendadak...”

 

~~to part 4

Read previous post:  
51
points
(1011 words) posted by alcyon 4 years 17 weeks ago
72.8571
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | fantasi | Le Château de Phantasm
Read next post:  
Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at Fall of Chateau ~~3 (4 years 16 weeks ago)
100

Wow, saya sudah lihat gambar draf Anastasia dan Alicia punya Kakak. Keren banget! Saya terpana beberapa saat. Jadi iri deh sama keahlian gambar Kakak. Seumur hidup saya kalau gambar orang pasti lebih mirip pohon mati ketimbang manusia <---gak punya bakat gambar.
Cerita fantasi Kakak selalu keren, selalu mudah untuk dipahami.
Ya sudah deh, full point aja.
Salam kenal ya Kak :D
Mampir juga ke tempatku :D Hehe

Writer Nine
Nine at Fall of Chateau ~~3 (4 years 16 weeks ago)
80

hmmmm, apakah summoning scholar itu punya smacam kekuatan summon?? panasaran...
Ceritany bagus, bkin penasaran... hahay :)

Writer wmhadjri1991
wmhadjri1991 at Fall of Chateau ~~3 (4 years 17 weeks ago)
70

Mudah2an postingan berikutnya ada aksi laga: Pertarungan pedang dan/atau sihir.
*berharap*

Writer alcyon
alcyon at Fall of Chateau ~~3 (4 years 16 weeks ago)

diusahakan. terima kasih udah membaca

Writer Naomi Amaris
Naomi Amaris at Fall of Chateau ~~3 (4 years 17 weeks ago)
90

Saya suka deskripsinya. Perasaan Daisius, dan Alicia tentang Chateau di gambarkan dengan baik. Jadi, Daisius itu summoning scholar dan pustakawan, ya?
Nice story, Kak.
Keep writing! :)

Writer alcyon
alcyon at Fall of Chateau ~~3 (4 years 16 weeks ago)

hehehe... terima kasih sudha membaca

Writer benmi
benmi at Fall of Chateau ~~3 (4 years 17 weeks ago)
30

Alicia itu ratu ato penasehat? Sebaiknya lebih konsisten dengan penjelasannya. Bukannya kakaknya ratu.. ia penasehat? Ato ia merangkap?

Writer alcyon
alcyon at Fall of Chateau ~~3 (4 years 17 weeks ago)

Bukan, itu mksdnya saat alicia datang, dy mengira yg datang itu anastasia (ratu) karena gelap jd gk keliatan, tp rupanya yg datang adalah alicia (penasihat) mangkanya si daisius terkejut. Memang penjelasan di bag akhir itu masih minim.
Terima kasih sudah membaca

Writer alcyon
alcyon at Fall of Chateau ~~3 (4 years 17 weeks ago)

tes nginx