Tikungan

“Ka.”

“Hmm?”

“...ini ide buruk.” Suaranya nyaris terlalu lirih untuk didengar, namun di dalam mobil ini—dengan radio yang sudah dimatikan sejak lima menit lalu dan tidak ada siapa pun lagi kecuali mereka berdua, kalimat barusan sampai juga ke telinga Riska. Gadis itu menoleh dengan pandangan bertanya, terhenti dari kegiatan menyemir bulu mata. Tangan kanan bercat kuku merah yang memegang maskara menggantung diam di udara.

Ia memasang tampang nelangsa. “Gue ragu, deh. Mungkin lebih baik kita pulang aja?”

“Il,” Riska menatapnya, tajam. Sepasang mata gadis itu nampak asimetris; bulu mata yang kanan lebih tebal dari yang kiri. “Kepikiran nggak di kepala lu, bahwa ada saat yang lebih bagus untuk elu ngomong gini?”

“Kayak kapan tuh misalnya?”

“Kayak... Sebelum mata gue kecolok tiga kali ama eyeliner, mungkin?”

Ia mengernyitkan dahi. “Salah sendiri dandan di mobil!”

“Itu gara-gara lo baru bikin keputusan mau pergi di menit terakhir, nyet. Nggak. Gue laper dan elu punya janji. Kita harus turun.” Riska kembali membubuhkan maskara, kini di bulu mata kiri.

Ilham bungkam sejenak. Kukunya menancap di setir mobil, meninggalkan delapan jejak mirip bulan sabit. Napasnya dihela sementara matanya terarah ke luar jendela, mengesankan ketertarikan berlebih pada tumbuhan kuntet di tepi lapangan parkir tempat mereka berada.

Dua jam yang lalu ia masih berpikir bahwa datang kemari adalah ide bagus. Sekarang, setelah ngebut seperti orang gila di dalam tol, memaki belasan kopaja, menyerapahi puluhan pengendara motor dan balas dimaki ratusan kali oleh Riska, ia kembali ragu.

“Nggak ada orang yang suka dateng ke pernikahan mantan pacar.” Ujarnya, mencoba membela diri. “Lo sendiri nggak mau turun dari mobil waktu Faris nikah.”

“Bedanya,” Riska memilah tabung aneka warna dari dalam tas kecil merah marun. “Waktu itu lo yang maksa gue dateng. Ini kan nggak ada yang maksa. Lo mau dateng atas kemauan sendiri. Lagian—”

“Bebancian lo banyak amat sih, itu apaan aja?” potongnya sembari mengamati aneka tabung itu, mengernyit.

“—lo kesini bukan untuk ke nikahannya.” Riska menatapnya dengan alis terangkat. “Kenapa, mau coba pake? Kayaknya lo cocok pake lipstik cokelat.”

Ia mengedikkan bahu. “Gue nggak pernah sapaan lagi sama Arif sejak—”

“—dia ngerebut Mita dari lo—“

“—dan gue nggak pernah ngobrol lagi sama Rendra sejak—”

“—lo ngerebut Mita dari dia. Drama ya, hidup lo ini.”

“Dan elu hafal. Agak kurang sibuk kayaknya hidup lo, ya.”

Riska tertawa, memutar bagian bawah tabung lipstik. “Please. Anak sekampus juga hafal semua, kali.”

“...bantu banget ngurangin gugup, trims.” Sarkastis. Semua orang di dalam gedung itu tahu bahwa dia datang sebagai pecundang, great. “Udah belom sih dandannya? Lama amat.”

Riska mematut diri di cermin kecil tempat bedak padat, memastikan dandanan di wajah sudah sempurna. “Udah. Gimana, cantik nggak?”

“Itu eyeliner emang sengaja tebel begitu? Kayak artis.”

“Siapa? Mila Kunis?”

“Deddy Corbuzier.”

“...elu akan jomblo selamanya. Amplop udah diisi?”

“Udah gue diselingkuhin dan ditinggalin, gue masih harus ngasih dia duit?”

“Eh, sok suci amat. Maling teriak maling?”

Sambil menggerutu, Ilham membuka dompet. Riska menjulurkan kepala lalu memanjangkan telunjuk.

“Tuh, yang biru.”

“Kebanyakan. Buat mantan mah goceng aja.”

Mereka turun dari mobil; Riska dengan langkah yang berkeletuk atraktif-intimidatif hasil bantuan stiletto, dan dirinya sendiri dengan tungkai seberat gunung. Tapi ia tahu bahwa bagaimanapun juga, Riska benar. Ia tidak datang ke sini sebagai tamu pernikahan. Dia bahkan tidak kebagian undangan berisi doa sakinah-mawadah-warohmah dan tidak ikut mendoakan agar Tuhan di atas sana menghimpun apa pun yang terserak diantara kedua mempelai. Ia tidak peduli serakan-serakan itu berceceran di mana, bukan urusannya.

Ia datang kemari untuk memenuhi undangan yang sama sekali lain.

“Arif udah di sini.” Ujarnya sembari mengangkat kepala dari layar ponsel. Mereka telah berada di pelataran gedung, menemukan beberapa wajah lama yang familiar, namun urung melangkah lebih dekat ke meja penerima tamu sebab ia enggan berbasa-basi.

“Oh? Di dalem?”

Ia menggeleng, lalu menunjuk ke pelataran kecil di samping kiri gedung.

“...oke,” Riska mengangguk, kemudian menepuk punggungnya. “Gue masuk, ya.”

“Kalo ada cowok nakal yang gangguin lo, bilang gue.”

“Oh?” Riska mengulum senyum. “Kalo gue bilang, emang lo mau ngapain?”

“Ngasih tau dia kalo lo tidurnya ngiler.”

“...elu akan jomblo selamanya. Se-la-ma-nya.”

Ia tertawa puas. Riska berlalu. Ia berlama-lama memandangi sosok belakang gadis itu hingga menghilang di kerumunan orang, kemudian beranjak.

 

----

Kedua pria itu berdiri dalam diam, menjaga jarak dan berhati-hati agar pandangan tidak saling bertabrakan; kecanggungan yang dihasilkan setelah empat tahun berada di kubu berlawanan. Kecanggungan yang, dalam kasus mereka berdua, akhirnya leleh dengan:

“Pinjem korek, boleh?”

Ilham mengulurkan korek api besinya. Kling, kress, dan asap rokok mereka jalin-menjalin di udara. Korek api dikembalikan. Dua pemuda duduk bersisian, menunggu pemuda ketiga, gagu menatap mobil yang lalu-lalang. Bingar pesta mengganggu telinga; di dalam pesta punya manusia, di luar sini punya nyamuk betina.

“Tadi kena macet?” Arif membuka percakapan.

“Iya, lumayan. Merayap di tol.”

“Maklum, malem minggu.”

“Hu-uh.”

Ada dengung sayap di dekat telinga kiri. Ilham menepukkan kedua tangan di sana, dan seekor nyamuk jatuh ke tanah, mati. Di kejauhan ada kilat menyambar. Angin membawa bau hujan. Bunyi gemuruh menyebar di udara.

“Wah, kayak mau ujan.” Ujarnya pendek.

“Padahal tadi siang panas banget.”

“Cuacanya lagi nggak jelas.”

“Iya.”

“.........”

Coba hitung. Berapa lama mereka berdua sekolah? SD, SMP, SMA. Tambah kuliah empat tahun. Enam belas tahun, benar? Bahkan untuk Ilham perlu juga ditambahkan empat bulan kuliah master yang sedang dijalani saat ini. Dan kemana semua kemampuan bicaranya pergi? Dua topik percakapan kandas dalam lima belas detik. Ia merasa lebih bebal dari keledai. Dan melihat betapa cepat kaki Arif mengetuk tanah, ia tahu pemuda itu juga sedang setengah mati mencari topik baru.

Sialan sekali. Dulu mereka tidak begini...

Cepat, buka topik baru. “Udah lama—“

“Lo apa kab—“

“Suaminya jelek!”

“—Hu?”

“—Ha?”

Dua pasang mata teralih ke arah yang sama, mendapati sebuah sosok yang lebih jangkung dari mereka berdua. Rendra. Yang ditatap balas menatap, mendekat dan ikut duduk dengan polah santai sembari menukas lagi dengan inosen, “Nggak usah khawatir. Kalian masih lebih ganteng.”

Ilham meloloskan tawa kecil, geli. “Ini berita bisa dipercaya, atau sekedar biar gue nggak nangis aja?”

“Serius. Apa, ya... Dekil. Bukan cokelat, bukan sawo matang. Item doff!”

Tawa pecah berderai. Dan bersamaan dengan itu, kecanggungan gagal mengental. Mereka bertukar senyum selayaknya kawan lama, sebagaimana yang harusnya terjadi apabila tidak ada gadis bernama Mita.

“Kalo jelek kenapa Mita mau?” tanya Arif, setengah tidak terima.

“Tajir?” terka Ilham, intuitif.

“Iya, kali.” Rendra turut menyalakan rokok buatnya sendiri. “Tapi gue ngundang kalian ke sini bukan buat ngatain lakinya Mita.”

“Bukan?” Arif menampakkan wajah kecewa.

“Yah, bukan?” sahut Ilham, tidak kalah dramatis. “Nggak seru.”

“....gue mau ngundang kalian ke nikahan gue bulan depan.”

“NGGAK SERU.”

“GANTI TOPIK. Waktu sama kalian, Mita gila origami, nggak?”

“Banget,” Ilham menggeleng selayaknya orang tidak habis pikir. “Ada sekali waktu, dia ngambek dan gue dihukum bikin seribu bangau dalam satu malam.”

“Gue disuruh bikin sebuket mawar origami.” Sahut Rendra sambil tertawa pasrah, tahu tidak bisa memaksa kedua pria di depannya untuk beradab barang semenit.

Arif terbahak. “Gue dipaksa belajar bikin cincin origami.”

Ilham mencibir. “Itu mah gampang, bulet doang.”

“Mata cincinnya harus bentuk bangau.”

“...oke...”

Arif menghembuskan asap dari hidung kemudian berceletuk polos. “Kalo tau bakal ditikung ama item doff, mending gue putusin deh waktu itu.”

Ilham hendak tertawa namun justru asap masuk ke saluran yang salah, membuatnya terbatuk sampai wajahnya merah. Tampang tersiksanya membuat Arif tertawa geli sembari menepuk-nepuk punggung si pemuda dengan iba. Rendra tertawa lebih puas lagi.

“Serius dulu bentar. Kualat nih gue,” ujar Ilham setelah batuknya reda. “Jadi, Ndra, lo kesini mau ngasih undangan?”

“...itu, dan mau bikin kita bertiga berhenti sewot-sewotan kayak gadis lagi PMS.”

“Yah...,” Arif melempar senyum. “Berhasil, sih.”

Ilham menginjak puntung rokoknya yang telah pendek. “Adalah adil kalau sesuatu yang kita curi, dicuri lagi dari kita. Setuju?”

“Ngg... Gue kan nggak nyuri Mita dari siapa-siapa.” Rendra tersenyum mengejek. “Tapi gue jadi ketemu calon bini, sih, jadi makasih buat elo, Il. Kalo nggak ada lo, mungkin sampe hari ini gue masih bikin seribu candi origami.”

“Dan makasih buat lo, Rif,” Ilham membeo.

“Nanti gue kirim kartu ucapan terima kasih deh buat si item doff.”

Mereka tertawa lagi, nyaris biadab. Geli, lega, gembira mengetahui bahwa yang pada akhirnya Mita dapatkan tidak lebih rupawan. Keriaan itu harus terhenti ketika Riska menelepon. Mengajak pulang. Ketiga pemuda beranjak dari duduk, berjalan bersisian ke bagian depan gedung, masih sambil tertawa.

“Itu Riska?” tanya Rendra. “Makin cakep aja. Perasaan dulu pas kuliah nggak begitu. Keren juga lo bisa macarin dia.”

“Gue tikung lagi kali, ya?” ceplos Arif, asal. Ilham menyerapah sembari menjelaskan bahwa ia dan Riska hanya teman dan selamanya tetap teman. Arif menjawab dengan ‘yeah, right’ dan Rendra dengan ‘tikung, Rif’. Ilham menyuruh mereka pergi ke neraka. Dua yang lain tertawa, merasa kalimat itu jenaka.

Mereka berpisah.

“Gimana, sukses?” tanya Riska, menyambutnya.

“Sukses. Elu? Sukses makannya?”

“Banget. Makanannya enak-enak,” Riska menjawab dengan mata berbinar. “Tapi yang pasti elu harus liat adalah suvenirnya.”

“Apa, sih. Palingan pajangan atau kipas kain.”

Riska menggeleng. Tangan gadis itu merogoh tas tangan hitam yang dibawanya, kemudian mengeluarkan sesuatu dari sana. Sekilas benda itu nampak seperti pajangan biasa. Kubus kaca bening yang melindungi bunga mawar merah muda di dalamnya. Mawar origami. Dari kertas.

Kertas...?

“Aaah...,” Ilham terbengong-bengong.

Kertas-kertas merah muda itu, bergambar Soekarno-Hatta dan gedung MPR.

 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer etikawdywt
etikawdywt at Tikungan (3 years 41 weeks ago)
100

Sukses banget bikin aku mesem-mesem sampe ngakak hahaha. Suka suka suka. Dialog, narasi ngalir lancar beuuuh. Si Tiga Sekawan itu bikin greget. Sempet gak ngerti di akhir tapi lama-lama mudeng juga. Ngasih goceng dapet cepe, menang banyak euy. Mau liat post azkashabrina yang lain yaaa. Salam kenal :)

Writer moon eye
moon eye at Tikungan (4 years 4 weeks ago)
90

Kereeeen... suka banget sama kata-katanya, narasinya, dialognya, semuanya.
ajarin dong, Master :D
walaupun waktu baca judulnya sempet mikir Ilham bakal nurunin Riska di tikungan sebelum gedung pernikahan. hehehe.
tapi bagus kok beneran deh.
Semangat ^^
ditunggu tulisan selanjutnya

Writer azkashabrina
azkashabrina at Tikungan (4 years 2 weeks ago)

Wah, makasih udah mampir :D aku juga masih belajar koook :))

Writer rian
rian at Tikungan (4 years 4 weeks ago)
90

Suka suka sukaaa!!! Dialognya, naratornya, bahasanya yang kadang kocak kadang serius, penempatannya pas, porsinya pas, sial, ini keren!

Tapi endingnya lempeng. Kerasa enggak ada puncak konfliknya. Tapi kelempengan itu ketutupan sama unsur-unsur lainnya yang oke banget sih. Udah pernah nerbitin tulisan di media enggak sih, Mbak?

Writer azkashabrina
azkashabrina at Tikungan (4 years 4 weeks ago)

Betul banget, saya emang bingung juga endingnya harus apa. Terima kasih ya, Rian :)
.
Enggak, nggak pernah nerbitin tulisan di media... Saya nggak pernah cukup PD untuk kirim-kirim kemanapun hehe.

Writer Shinichi
Shinichi at Tikungan (4 years 4 weeks ago)
90

Wow! Saya tampaknya harus berguru padamu ini ;) Ciyusan saya sukak banget ini cerpen. Humormu dan caramu mengemas dialog, pro banget. Mungkin, jika mau dibandingkan, udah selevel dengan dialog-dialog di buku-buku yang dijual-jualin di toko-toko buku yang dibilang-bilang orang layak dibaca dan dirame-ramein di Twitter. tapi saya harap kamunya nggak mau. pasalnya, ceritamu, gayamu--meski terlalu dini untuk bilang perbandingannya--jauh lebih baik dan cerdas dari gaya di buku-buku diskonan itu. ahak hak hak.
.
Dan saya sukak sekali dengan tokoh Arif! Perasaan ya, bagi saya, dia yang paling "kelihatan" emosional dalam menghadapi pertemuan itu. Meski rasanya saya nggak bisa menjelaskan dengan detil; hanya itulah kesan yang muncul di pembacaan saya. Dan itu bagus. Keren malah. Ahak hak hak.
.
Btw, pilihan judulnya oke. Namun, ini saya aja yang blo'on kali kenapa bingung dengan kertas muda Soekarno-Hatta dan gedung MPR. Ayolah, saya malu karena nggak ngerti itu apa :(

Writer azkashabrina
azkashabrina at Tikungan (4 years 4 weeks ago)

Waduh, waduh, waduh, paragraf pertamanya... saya jadi ngeri gak balik ke bumi saking terbangnya, hehe. Makasih, bang. Sejujurnya saya agak khawatir bahasanya kelewat kasual. Dan endingnya juga, belum dapet cara mengantarnya ke penutup yang saya maksud.
.
Kertas merah muda Soetta dan Gedung MPR maksudnya uang seratus ribuan, Bang. Heheh.

Writer benmi
benmi at Tikungan (4 years 4 weeks ago)
100

Keren ceritanya.. tapi paling keren cinderamatanya. Enak banget.. kondangan dimna tuh?

Writer azkashabrina
azkashabrina at Tikungan (4 years 4 weeks ago)

kondangan anak menteri mungkin ya? hehe. Makasih udah mampir :)

Writer vinegar
vinegar at Tikungan (4 years 4 weeks ago)
80

Mhaha, sadis amat cuma goceng, dapatnya seratus ribu. Dialog-dialognya asik. Salute

Writer azkashabrina
azkashabrina at Tikungan (4 years 4 weeks ago)

Pesan moral: berdoalah supaya mantan dapat suami tajir. #nggak
Trims udah mampir! *angkat topi*

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at Tikungan (4 years 4 weeks ago)
100

Keren gila! Gokil. Ada lucunya, ada nyeseknya, komplit deh. Endingnya agak mengejutkan. Gak nyangka aja ke sana.
Ceritanya benar-benar dapat terbayang di otakku. Kayak lagi nonton. Ah, suka deh!
.
Nemuin satu kesalahan:
"Keriaan itu harus terhenti ketika Riska menelepon." <--mungkin maksudnya ceria. Yahh... kesalahan kecil lah. Di-edit dikit selesai.
.
Untuk Kakak, terus menulis ya :D
Semangat~~

Writer azkashabrina
azkashabrina at Tikungan (4 years 4 weeks ago)

Triiiimsss :) Hehe, kamu juga semangaat! Saling mampir terus yaa.

Writer Ryu.fernandes
Ryu.fernandes at Tikungan (4 years 4 weeks ago)

apa kamu seorang penulis juga??

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Tikungan (4 years 4 weeks ago)

"ria", "keriaan" itu ada kok di kbbi

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at Tikungan (4 years 4 weeks ago)

Hoh?! Gitu ya Kak, waduh. Perlu belajar lagi nih. Makasih atas infonya Kak d.a.y.e.u.h

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Tikungan (4 years 4 weeks ago)
80

saya suka kok sama endingnya, seenggaknya ada nyambungnya sama dugaan soal si suami tajir itu. suka juga lah dengan caramu meramu narasi-dialog sukasukasuka XD menghibur dan ga asal. kecuali tokoh2nya kali ya, rasanya pada nyebelin gitu heuheu, tapi begitulah manusia....
udah pernah bikin novel belum? :D

Writer azkashabrina
azkashabrina at Tikungan (4 years 4 weeks ago)

Seneng deh kalo ada yang suka :D
Iya, emang karakternya pada cenderung nyebelin. Soalnya saya pikir, kalo mereka nggak nyebelin, ga akan lah sampe tikung-tikungan pacar begitu... heheh. Wah, kalo novel selama ini belum pernah sukses, saya ga kuat berkomitmen panjang soalnya. Hahaha.

Writer wmhadjri1991
wmhadjri1991 at Tikungan (4 years 4 weeks ago)
100

Pinter banget sih bikin dialog? Saya bener2 nikmatin dialognya. Lucu, witty, bener2 ngegambarin ttg karakter2 n hubungan mereka. Endingnya kurang nendang, sih, tp who cares? saya udah terlanjur jatuh cinta. Ngefans ah~

Writer azkashabrina
azkashabrina at Tikungan (4 years 4 weeks ago)

Saya udah lost gitu pas bikin endingnya, pengen lebih nyubit tapi ga tau gimana caranya biar ga kepanjangan. Saya kadang suka cenderung bertele-tele sih. Hehe, makasih ya udah mampir :D