Fall of Chateau ~~4

“Dasar pencuri…!” ucap Alicia lirih. Dia melihat dengan mata kepalanya sendiri, dari atas kudanya, Daisius berdiri didepannya sambil membawa kitab yang sangat disakralkan itu.

“Seharusnya aku tidak mempercayaimu, manusia!” ucap Sang Penasihat itu lagi, setengah berteriak. “Kuberi kalian kesempatan untuk mengawal para pendeta dalam melaksanakan upacara suci kami…, tapi kalian malah membunuh mereka semua dan mencuri kitab paling sakral milik kami…”

Bibir Alicia bergetar, berusaha mati-matian menahan amarah yang sudah memuncak di atas kepala. Aura Constantia menyelimuti seluruh badannya, menghadirkan nuansa kelam yang membuat semua yang ada disana bergidik ketakutan. Alicia mengarahkan telapak tangannya ke tanah dimana sebuah gelombang energi hitam dan ungu menari-nari diantaranya. Gelombang itu membentuk sebuah rapier, pedang tipis panjang dengan dua bilah ganda, yang lalu bergerak menuju tangan Alicia seakan ada magnet yang menempel diantara mereka berdua.

Alicia bisa melihat sikap menyerah dari manusia tak berdaya di depannya. Dia melihat pria itu meletakkan dengan hati-hati kitab yang sedari tadi dipegangnya. Dia mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. Dia mengiba-iba, setengah berteriak kalau semua itu bukan dia pelakunya.

Tapi amarah sudah menutup mata hati Penasihat Chateau itu, dia seperti sudah tidak peduli segala celotehan manusia didepannya. Dengan wibawa, Alicia turun dari kudanya. Rapier yang dipegangnya erat seakan sudah siap untuk menebas siapa saja yang telah melukai hati tuannya.

“Aku, Sang Penasihat Chateau sendiri yang akan menghukummu, makhluk hina!”

***

Semuanya berawal ketika Daisius menerima permintaan Alicia ketika Sang Penasihat melakukan kunjungan mendadak di pemukiman manusia malam itu.

Sebuah kesempatan untuk membuktikan kesetiaannya, itulah yang ditawarkan Alicia kepadanya.

“Bila kau bisa menunjukkan kepadaku dan Ratu peran kalian dalam Upacara Perjalanan Suci…, mungkin aku akan memberikan sedikit pengakuan akan keberadaan kalian disini.”

Ketika Alicia mengutarakan hal itu, tentu saja jawaban yang terlontar dari mulut Daisius adalah sebuah kesetujuan. Dia menerima penawaran itu dan dengan sangat hati-hati memilih para pria terbaik untuk pergi bersamanya mengawal para pendeta dalam Upacara Perjalanan Suci.

Sedikit yang diketahui Daisius tentang upacara ini. Dari apa yang dia baca, Upacara Perjalanan Suci adalah salah satu bagian dari Ritual Bulan Merah, sebuah upacara yang diselenggarakan sebagai ucapan rasa terima kasih kepada Sang Ahura atas kelahiran Le Chateau de Phantasm. Inti dari Upacara Perjalanan Suci adalah membawa kitab agung Memoria dari lokasi peristirahatannya di Nokta Kelahiran menuju ke Istana Chateau untuk selanjutnya dilakukan puncak acara yaitu Ritual Bulan Merah.

Sepanjang pelaksanaan upacara, pasukan Daisius bekerja luar biasa baik. Selain karena harapan dari pengakuan Alicia atas kaum mereka, Daisius dan anak buahnya sangat senang mereka bisa menjadi bagian dari sebuah upacara sakral yang diselenggarakan di Chateau. Upacara pengambilan Kitab, pembersihan Kitab, pengurapan Kitab, dan peletakan Kitab di tandu agung semuanya dikawal oleh Daisius dan semuanya berjalan dengan lancar. Daisius sendiri sangat puas dengan hasil yang mereka kerjakan.

Kitab agung yang mereka kawal juga bukan kitab sembarangan. Kitab Agung Memoria yang legendaris, yang pernah Daisius baca di Perpustakaan Ellioch, adalah kitab yang berisi tentang seluruh rahasia dari Chateau, sebuah manual book yang konon ditinggalkan Ahura untuk dua putrinya sebagai petunjuk dalam memimpin Chateau. Mengingat kini bahkan dia bisa melihat Kitab itu dengan mata kepala sendiri, seakan sebuah mimpi yang menjadi kenyataan bagi Daisius.

Upacara Perjalanan Suci memasuki babak terakhirnya yaitu pengantaran kitab agung menuju Chateau. Kini Daisius dan para pengawal akan kembali mengawal rombongan para pendeta, yang sudah menggotong kitab agung, melalui jalan yang sama dengan yang telah mereka lewati sebelumnya.

Semuanya berjalan sangat lancar. Semua rencana berjalan sesuai dengan harapan Daisius. Tak lama lagi mereka akan segera mendapat pengakuan Alicia. Sebentar lagi mereka akan diakui sebagai warga Chateau yang sah.

Daisius tak bisa membayangkan wajah Marta istrinya dan Lilka anaknya yang masih lima tahun tersenyum girang mendapati betapa berartinya penerimaan Alicia kepada mereka. Betapa baiknya penerimaan dari dua pemimpin negeri ini sehingga mereka tidak perlu kembali ke dunia manusia yang kacau.

Seandainya kakak Lilka masih hidup, anak sulung Daisius masih bersamanya saat ini, Daisius tidak bisa membayangkan betapa bahagianya dia.

***

“PENYERGAPAAAN…!!!!”

Teriakan salah satu pengawal membuat Daisius terperangah. Dia melihat puluhan panah menyeruak dari gelapnya pepohonan dari arah hutan di samping mereka dan menghantam para pengawal yang tengah berjalan di tepian hutan. Perjalanan mereka yang kini tengah mengitari Hutan Timur, batas antara negeri manusia dan bukan manusia, tiba-tiba mengalami serangan tanpa peringatan apapun sebelumnya. Daisius yang menyadari apa yang tengah terjadi segera memerintahkan anak buahnya untuk mengambil posisi bertahan.

“Pertahankan tandu!!! Lindungi para pendeta!!!” teriaknya berkali-kali. Panjangnya rombongan dan kurangnya koordinasi diantara para pengawal itu membuat hampir sebagian prajurit pengawal tidak siap menerima serangan panah yang bertubi-tubi.

“Tetap bertahan!!!” Daisius tak hentinya memberi perintah. Belum selesai dia mengatur prajurit yang tersisa, sejumlah sosok berjubah dan bertudung hitam menyeruak dari balik belukar dan mulai menyerang prajurit yang bertahan. Suara denting pedang dan teriakan perang tak bisa dihindari lagi. Prajurit Daisius harus mempertahankan rombongan upacara dari para penyerang yang tidak diketahui identitasnya itu.

Serangan demi serangan, sabetan demi sabetan, pedang beradu dengan perisai, kapak beradu dengan panah, para penyerang itu seakan terus berdatangan tidak ada habisnya. Pasukan pengawal Daisius mulai kocar-kacir. Daisius sendiri berjuang mati-matian mempertahankan para pendeta dan tandu berisi Kitab Agung Memoria. Tetapi kalah jumlah menjadi penyebab pasukan Daisius takkan bisa bertahan lebih lama lagi. Belum lagi serangan panah membuat beberapa pendeta suci harus meregang nyawa.

Daisius harus berbuat sesuatu. Keselamatan para pendeta ada di pundaknya. Keamanan Kitab Memoria ada di tangannya. Dia berfikir keras untuk menahan para penyerang yang tampaknya ingin merampas kitab itu. Saat itu juga Daisius teringat akan kemampuannya sebagai summoning scholar. Kemampuan yang telah dia pendam lama sejak kedatangannya di negeri ini. Daisius merasa dia membutuhkan kemampuan itu sekarang.

Summoning scholar membutuhkan sebuah kitab untuk merapal mantera pemanggilan. Tetapi di kondisi seperti ini dia mengharapkan ingatannya untuk merapal mantera yang bisa dia ingat.

O potens rerum occupants per dimensiones,

Suara parau Daisius hampir mengalahkan suara denting pedang yang beradu di tengah kancah pertarungan itu. Beberapa prajurit didekatnya spontan memandangnya keheranan, mengira orang tua itu sudah kesurupan karena pertempuran.

 Sanguis meus, qui fuit cum te rogo, ut sacrificet mihi contractum cum dux comperisset caeremonialia ferunt…

Tangan tua Daisius menunjuk ke arah datangnya musuh. Tiba-tiba suara gemuruh muncul dari tanah tempat para penyerang itu berpijak. Mereka yang merasakan getaran tanah tempat mereka berdiri berhenti dan berusaha memahami yang terjadi.

Venite ad me, quia ille contrahit.

Tiba-tiba terdengar suara gemeretak yang sangat nyaring. Suara yang seakan-akan hendak membelah daratan tempat mereka berada dan hendak menelan hutan gelap di belakang mereka. Suara yang menggetarkan lawan dan kawan.

Sesosok tangan mencuat dari balik tanah. Tidak hanya satu, hampir di beberapa tempat bermunculan tangan-tangan yang terus mencuat keluar dari gemeretak retakan sepanjang tempat dimana musuh Daisius berdiri. Tangan-tangan itu bermunculan diikuti tubuh pemiliknya. Tubuh berujud tulang tanpa daging, berseragam besi lengkap dengan perisai dan pedangnya. Tubuh berwajah tengkorak tanpa otot dan kulit yang memandang pemanggil mereka dan bersiap patuh. Sosok prajurit yang siap untuk menghabisi siapapun yang mengganggu tuan yang telah memerintahkan mereka hadir di tempat ini.

***

Posisi mulai berbalik ketika pasukan tengkorak Daisius mulai membantai para penyerang misterius itu. Daisius sendiri segera mengambil posisi mengamankan para pendeta dan kitab agung yang mereka bawa. Pasukan manusia Daisius dan pasukan tengkorak mulai mendesak para penyerang untuk masuk hutan sementara Daisius meminta para pengangkut tandu dan pendeta yang selamat untuk terus melanjutkan upacara.

“Para pendeta terus bergerak! Upacara ini harus terus berjalan! Kitab Agung harus sampai di Chateau tepat pada waktunya!” desak Daisius kepada rombongan pendeta. Dia tidak ingin mempertaruhkan amanat yang diberikan Alicia kepadanya untuk melindungi rombongan itu. Biarlah dia mati asalkan para pendeta dan Kitab itu sampai dengan selamat di Chateau dan mereka, kamu manusia, mendapatkan pengakuan dari Sang Penasihat.

Tetapi belum lagi para rombongan itu bergerak, sebuah panah menghantam lengan Daisius sampai dia terjungkal dari kudanya.

Serangan muncul dari arah berbeda. Kali ini Daisius melihat rombongan pasukan berkuda putih muncul dari sisi lain hutan. Pasukan misterius itu menghampiri rombongan pendeta dengan sangat cepatnya sembari mengarahkan senjata mereka dan membantai semua pengangkut tandu.

“Jangan, kumohon!!!” Daisius berteriak putus asa. Dia melihat salah satu pasukan berkuda mengambil Kitab Agung Memoriasementara yang lain terus membantai habis para pendeta yang masih bertahan.

Kumohon…, kumohon…” isak Daisius kepada salah satu sosok yang kini memegang Kitab.

“Kenapa, Daisius? Seharusnya kamu menerima kenyataan bahwa seharusnya kalian tidak layak tinggal di Chateau ini? Kenapa kamu memaksa menerima perintah dari Sang Penasihat?”

Daisius tertegun. Dia mencoba mencari tahu siapa sosok di balik tudung hitam yang duduk diatas kuda putih perkasa itu.

“Tak perlu repot mencari tahu siapa kami. Kami hanyalah kelompok yang tidak menyukai kehadiran kalian di Chateau.”

Daisius sangat terkejut saat mendapati pria didepannya itu membuka tudung hitamnya. Mereka manusia seperti dirinya. Daisius tidak paham, siapa para manusia ini dan mengapa mereka menyerang kaum mereka sendiri.

***

Dari kejauhan, di atas kuda tempatnya duduk, Daisius melihat kobaran api menjulang tinggi di kejauhan.

Setelah pertempuran yang melelahkan dan menghabiskan seluruh anak buahnya, Daisius berhasil melarikan diri sembari membawa kitab agung Memoria yang sempat dia selamatkan.

Seandainya dia lupa cara memanggil pasukan griffin untuk melindungi dia setelah semua peserta upacara itu dibantai habis, mungkin dia juga akan bernasib sama dengan mereka. Saat para manusia misterius itu mencoba membunuhnya, Daisius berhasil merapal mantera pemanggilan yang terakhir. Dia ingat ketika puluhan griffin muncul dari balik langit malam dan turun melindunginya. Saat para penyerang disibukkan dengan griffin, dia mengamankan kitab Memoria dan segera mengambil kuda yang masih berdiri untuk selanjutnya lari.

“Maaf… maafkan aku…,” terisak Daisius saat mengingat semua anak buahnya yang gugur. Dia sangat terpukul karena tidak mampu melindungi mereka. Kenapa dia terlambat memanggil para summon? Seandainya dia melakukannya lebih awal, semuanya pasti tidak akan berakhir seperti ini.

Tetapi setidaknya, Kitab Memoria sudah aman di tangannya. Dia harus segera membawa Kitab itu ke Chateau dan mengamankannya sebelum para penyerang kembali mengejarnya.

Tetapi ketika Daisius membalikkan kudanya untuk berlari lagi, dilihatnya berpuluh pasukan berkuda bergerak ke arahnya dari kejauhan. Daisius langsung waspada seandainya mereka adalah para penyerang tadi, tetapi ketika melihat panji-panji besar berlambang Chateau, Daisius merasa sangat lega. Pasukan dari Chateau sudah menjemputnya.

Dia melihat Sang Penasihat berada di barisan terdepan para pasukan berkuda itu.

***

Daisius berdiri pasrah di hadapan Sang Penasihat Alicia yang kini memandang penuh kebencian kepadanya.

Buku itu diletakkannya di tanah. Diangkat tangannya tinggi-tinggi tanda menyerah. Dia tidak ingin memperpanjang permasalahan ini dengan Alicia. Dia telah diserang oleh segerombolan pasukan misterius dan Alicia mengira dia membantai habis semua rombongan upacara dan berniat mencuri kitab itu.

“Yang Mulia, bukan niatan hamba untuk mencuri Kitab ini. Kami telah diserang. Pasukan kami dibantai habis. Hamba sendiri berusaha menyelamatkan Kitab dan mengamankannya ke Chateau.”

Alicia benar-benar tidak bisa diajak berbicara lagi. Daisius merasa kesalahpahaman ini akan semakin panjang. Alicia sudah turun dari kudanya dan sudah bernafsu untuk membunuhnya.

“Yang Mulia, percayalah pada hamba. Titahkanlah pasukan Yang Mulia untuk memeriksa apa yang terjadi disana. Saya mohon Yang Mulia, tolong percayalah! Tolong hentikan kesalahpahaman ini! Saya tahu betapa Anda tidak menyukai kami. Tapi untuk kali ini, saya mohon…, pasukan penyerang itu bisa kapan saja…”

Sebuah ledakan menghancurkan pepohonan di belakang Daisius. Pria itu melihat Alicia sudah mengarahkan rapier itu kepadanya. Dia sudah tidak bisa bernegoisasi lagi. Gadis itu hanya menghendaki kematiannya sebagai seorang pengkhianat.

“Aku, Sang Penasihat Chateau sendiri yang akan menghukummu, makhluk hina!”

***

Read previous post:  
37
points
(1351 words) posted by alcyon 4 years 17 weeks ago
61.6667
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | fantasi | Le Château de Phantasm
Read next post:  
Writer wmhadjri1991
wmhadjri1991 at Fall of Chateau ~~4 (4 years 12 weeks ago)
100

Bang, saya baca2 lagi dari awal, dari part 1. Kebanyakan telling dibanding showing, bang. Mungkin nanti bisa aksi atau dialognya yang diperbanyak, bukan narasi. Biar enggak bosen bang.
Anyway, akhirnya ada adegan pertarungan juga! :D Daisius itu necromancer ya? Atau kebetulan aja summonnya saat itu berwujud tulang-belulang? *edited* ternyata bukan necromancer, kan dia summon griffin juga. Agak mengernyit waktu beberapa kali ada kalimat "Daisius teringat.." "Untung saja Daisius tidak lupa.." merujuk pada kemampuannya sebagai summoning scholar. Agal janggal aja dia bisa lupa. Bukannya itu bidang kemampuannya? Terus kenapa skill itu dia tekan sendiri? Apa ada aturan bahwa manusia enggak boleh pake sihir? Terus, bang, pas ambush, kenapa Daisius yang langsung ambil posisi sebagai pemimpin pasukan? Kasih order sana-sini ke para pengawal? Harusnya ada kapten pengawalnya bang yg bertugas, tapi ini enggak ada, sedangkan Daisisus bukan prajurit, jadi agak janggal aja. Terus, masa enggak ada pengawal dari kerajaan sih bang? Upacara sepenting itu, dengan para pendeta yg posisinya notabene tinggi, semuanya dipercayakan sm Daisius dan prajurit manusia..agak janggal aja :/
Maaf cerewet bang, abis suka sih sama cerita ini, hehe. Lanjut! :)

Writer alcyon
alcyon at Fall of Chateau ~~4 (4 years 12 weeks ago)

btw makasih udah suka dengan cerita ini, hehehe

Writer alcyon
alcyon at Fall of Chateau ~~4 (4 years 12 weeks ago)

iya memang ada beberapa plothole dalam cerita ini seperti tidak adanya pengawal khusus kerajaan. dalam hal ini sya berasumsi bahwa negeri chateau adalah negeri yang damai, tidak ada kerusuhan2 dsb sehingga keberadaan pengawal bukan sebagai penjaga, tapi lebih sebagai pelengkap upacara (seksi keamanan). sementara utk soalan kenapa daisius harus mengingat mantera, karena konsep summoning scholar itu adalah membaca buku mantera utk memanggil monster, bukan menghapal mantera atau semacamnya, hal itu sdh saya sampaikan di cerita:
Summoning scholar membutuhkan sebuah kitab untuk merapal mantera pemanggilan. Tetapi di kondisi seperti ini dia mengharapkan ingatannya untuk merapal mantera yang bisa dia ingat.
...
btw summoning scholar ini bukan konsep murni saya, ini juga konsep dari cerita kolab le chateau de phantasm

Writer wmhadjri1991
wmhadjri1991 at Fall of Chateau ~~4 (4 years 12 weeks ago)

Btw, Le Chateau De Phantasm itu apa?

Writer alcyon
alcyon at Fall of Chateau ~~4 (4 years 12 weeks ago)

itu komunitas kolab yang diciptakan oleh kawan2 di kekom ini tahun 2010 dulu, kegiatannya adalah membuat cerita kolab yang judulnya le chateau de phantasm..., tapi grup ini udah bubaran sekarang dan anggotanya udah lama gak nongol di kekom lagi...
ini contoh kolabnya: www.kemudian.com/node/250434

Writer Zarra14
Zarra14 at Fall of Chateau ~~4 (4 years 12 weeks ago)
100

Kak alycon tampaknya sudah berpengalaman ya bikin cerita bertema fantasi ^^ Ceritanya seru, menarik.
Yang buat saya bingung (atau saya kurang teliti bacanya?) Daisius ini sengaja dijebak atau memang kebetulan diserang?
Penasaran dengan kelanjutannya, apakah Daisius benar-benar dihukum? Mungkinkah ada yang menyelamatkan dia di detik-detik terakhir? *berharap*
Dari segi penulisan, bahasanya mudah dimengerti, istilah-istilah yang digunakan juga menarik (makanya saya suka cerita fantasi). Penjabaran karakter-karakternya juga cukup bagus, tergambar dengan baik bagaimana kepribadian mereka.
Penggunaan tanda baca ada beberapa yang luput, seperti bagian ini: Kumohon…, kumohon…” isak Daisius kepada salah satu sosok yang kini memegang Kitab. --> kurang tanda petik di awal kalimat, lalu 'didepannya' --> di depannya, dll.
Segini dulu mungkin ya, masih belajar mengkritik :D

Writer alcyon
alcyon at Fall of Chateau ~~4 (4 years 12 weeks ago)

Daisius dijebak atau kebetulan diserang? itu ada nanti dijelasin...
makasih atas pujiannya hehehe...

Writer Nine
Nine at Fall of Chateau ~~4 (4 years 12 weeks ago)
100

Halo bang alcyon...
Untuk isi ceritanya, seru!
Namun sayang ada beberapa hal yang sepertinya dipaksakan terjadi bang:
@Daisius berhasil melarikan diri sembari membawa kitab agung Memoria yang sempat dia selamatkan.
.
di sini terlihat dipaksakan bang. kok prajurit berkuda yang sebelumnya memegang kitab nge-biarin aja Daisius merebut kitab itu. Narasi yang ini ngak dibarengi dengan penjelasan yang memadai bang, jadinya terkesan dipaksa terjadi (mohon maaf bang, sekedar pandangan subjektif dari saya)
.
Saya juga mau bertanya:
Kenapa dia (Daisius) terlambat memanggil para summon? Seandainya dia melakukannya lebih awal, semuanya pasti tidak akan berakhir seperti ini.
sama seperti narasimu bang, kok ngak dari awal Daisius melakukan summon??
.
Terus juga bang, ada beberapa kesalahan penulisan kata 'di', abang cek sendiri dah.. hehehe
Sama, saya sempat temukan dialog yang tidak diberi tanda kutip pembuka:
@Kumohon…, kumohon…” isak Daisius kepada salah satu sosok yang kini memegang Kitab.

Sepertinya cerpenmu yang ini ngak dicek ulang dulu sebelum diposting..
.
Terlepas dari semua itu, kejadian di dalam cerpen ini seru.
Seandainya dibarengi dengan penjelasan yang memadai, pasti ini jadi lebih bagus. (Y)
.
Sekian dari saya bang. Mohon maaf kalau ada kata yang kurang berkenan.
.
Salam olahraga :)

Writer alcyon
alcyon at Fall of Chateau ~~4 (4 years 12 weeks ago)

bagian daisius tiba2 lari dgn membawa kitab, itu memang plothole banget, kelemahan saya... hehehe...
Iya, seharusnya summoning scholar itu membutuhkan kitab mantera utk upacara pemanggilan monster tetapi daisius masih bisa menghapal beberapa mantera sehingga tidak membutuhkan kitabnya. btw, konsep summoning scholar adalah milik member kekom bukan saya, saya hanya meminjamnya. cek disini: http://www.kemudian.com/node/250906

Writer benmi
benmi at Fall of Chateau ~~4 (4 years 12 weeks ago)
80

Kasian amat.. kirain berkhianat.. tp ternyata malah salah paham.. n entah kenapa berasanya kyk dijebak.. jgn2 oleh si dewa es.. wkkwkwkwk... yg ikut berkomplot ama si alicia..
hehhehehe... oh ya.. ada yg tulis salah.. kamu.. kaum... berujud.. berwujud.. hahhaha.. itu aja sih yg salah.. trus.. agak sedikit krg sreg pas adegan ingat dia itu bisa summon.. masa keahlian sndiri lupa.. wew.. jdnya berasa janggal aja disitu..

Writer alcyon
alcyon at Fall of Chateau ~~4 (4 years 12 weeks ago)

ehhehehehe... makasih udah baca.

Writer alcyon
alcyon at Fall of Chateau ~~4 (4 years 12 weeks ago)

tes nginx