Chris - Rekapitulasi



REKAPITULASI

- Oleh Chris -


Untuk Lii: semoga bisa menghibur, meski ini sangat tidak penting


[A]ku bosan. Begitulah katanya. “Kenapa?” Belum pernah ia mengeluh sedemikian singkatnya selama hampir sepuluh tahun kami bekerja sama (tanpa hitam di atas putih). Ia hanya menggoyang-goyangkan kaki seperti yang juga akan dilakukannya jika sedang di ayunan. Masih di sana: salah satu paragraf dalam cerita Tamu Oktober. Aku jadi ingat komentar seseorang: menyebutkan sesuatu dengan istilah fourth wall yang sama sekali tidak kutahu artinya. Tapi aku yakin Ian juga. Tampangnya yang tidak berpendidikan sedang mengamati dasar halaman dan huruf-huruf yang mengecil di bawah kakinya. Lalu mendongak padaku: “Aku bosan peranmu.”

Aku bersandar pada kursi: menatap kecewa. “Kita sudah sepakat.”

“Tapi melulu cinta, melulu kecewa, melulu penyesalan, siapapun juga bosan, cuy! Perlu dibuatkan yang lain dari yang sudah-sudah!” balasnya mulai emosi.

Kuhembus ketidaksenanganku.

“Demi harga diriku!” katanya lagi.

“Apa hubungannya?”

Iya. Apa hubungannya? Kenapa menyerempet harga diri? Dia memang begitu orangnya. Berlebihan. Caranya melompat turun dari paragraf cerita itu juga berlebihan. Seolah kita semua sepakat itu akan di-slow motion biar dramatis. Lalu mondar-mandir dan menudingku dengan telunjuk kurusnya. “Bodoh kau! Makanya tak pernah masuk koran! Sampai berdarah-darah pun takkan bisa! Bahkan bikin cewek-cewek suka sama tulisanmu saja, kau tak bisa! Hahahaha. Jujur saja, walau cuma peran, aku merasa tak enak terus-terusan dianggap-menyedihkan-begini hanya karena terlalu sering jadi korban cinta! Aku bosan jadi korban cinta! Memangnya tak bisa jadi yang lain apa? Aku mau jadi orang lain; melakukan hal-hal lain yang bukan patah hati atau teringat masa lalu!”

Kugaruk bagian belakang telingaku: masih bersandar pada kursi. Di benakku, karena diingatkan Ian, terbayang lagi hal-hal yang seharusnya cukup kutuliskan saja. Di sudut ingatanku kulihat aku sedang menatap sebuah peti. Terkunci. Penasaran apa isinya, aku-dalam-bayanganku itu merogoh (seolah-olah sudah ditentukan seseorang yang mungkin Tuhan) saku celana dan menemukan sebuah kunci: kurcaci berlapis emas. Ukirannya bagus juga. Lalu ia buka peti itu. Penutupnya cukup berat dan menimbulkan bunyi krek! yang lumayan menyeramkan mengingat hanya ada dia sendiri di sana. Lalu dari dalamnya, hampir serentak, gelembung-gelembung kelabu menyeruak ke langit-langit. Langit-langit? Aku-dalam-bayanganku itu sempat kaget. Di mana itu? Maksudku, sedang di manakah diriku yang itu tepatnya berada? Ia menengadah dan menemukan langit di atasnya tidak berbatas: berwarna kelabu. Sendu, gumamku dari tempatku melihatnya. Lalu gelembung-gelembung tadi pecah. Aku ikut kaget. Bunyinya tar! Lalu diikuti suara-suara berisik: persis ribuan orang sedang berbisik-bisik. Lalu kelebat berkilau milyaran panah hujan jatuh menusuk ia yang sendirian di sana. Di sudut itu ia terkapar dengan luka basah di sekujur tubuhnya. Sementara aku yang mengamatinya dua kali lipat merasakan hal yang sama.

“Kau mau mencari harta karun?” kutawarkan ide. Jeda-melamun seperti itu bagus demi menjaga luapan emosi. Aku merasakan sudut bibirku ringan dan bisa kutarik ke atas pipi.

Ian malah mendengus, “Aku takkan tertipu...” sambil menggeleng-geleng remeh. “…kamuflase pencarian sebelah jiwa yang kaupercayai ada pada orang lain yang entah siapa!”

Aku ingin terbahak, “Lalu apa lagi?” dan hampir ketahuan.

Ian malah mengelus-elus ekor huruf ‘y’ pada kata “yang” yang tergantung di hadapannya. Sesekali melirikku bagai anak anjing yang merasa bersalah karena menaiki meja. Padahal bukan. Menggaruk-garuk kepala dia. Beberapa detik kemudian barulah bilang: “Mungkin sesekali aku mau jadi pelacur pria!”

Aku hampir terjengkang ke belakang.

“Hahahaha. Kalau tidak, aku jadi seorang pembunuh bayaran atau bandar narkoba skala nasional saja! Yang bengis dan punya isteri di mana-mana. Pasti seru. Tapi tunggu! Lebih baik aku jadi seorang agen lapangan atau peternak ayam!”

Kupijit-pijit kedua alisku: “Peternak ayam?”

“Iya! Peternak ayam dengan bisnis buruk. Ketika Big Boss mengirim anak buahnya untuk panen—mereka bawa mobil dan tempat ayamnya—kami lalu berselisih dan itu membuatku marah besar.”

“Alasannya?”

“Ya, kebutuhan ekonomi! Memangnya apalagi yang jadi sumber masalah di masyarakat kelas menengah ke bawah di negeri setengah-merdeka seperti negaramu ini! Kau jangan sok-sok mapan dan lupa. Peran yang kaupilih melulu cinta, melulu hati. Preet! Sedangkan masalah yang paling mendasar—karena kita sepakat kau juga butuh penghasilan—adalah kebutuhan hidup. Mustahil kau bisa membahas cinta dengan sedemikian hebatnya bila perutmu belum bisa kauatasi! Omong kosong.”

Seperti segitiga apa ya? Ian ini tiba-tiba mengingatkanku pada sebuah pertunjukan drama yang dilakonkan beberapa mahasiswa: Seorang suami dengan perut besar yang berselingkuh. Isterinya yang merasa tak sanggup lagi memuaskannya mengijinkannya diam-diam. Perselingkuhan itu menghasilkan beberapa rupiah demi menyokong kehidupan mereka yang sengsara. Lalu si suami meninggal karena kecelakaan—ah, begitu drama—lalu semua menghilang karena itu hanya mimpi sang isteri yang tertidur di meja kerjanya.

“…adalah bisnis jasa. Kau cuma membesarkan, membuat mereka tidak tidur agar kerjanya cuma makan, hingga mereka cukup gendut untuk dipotong. Semua, termasuk bibit, obat, pakan, vaksin, imunisasi, dan blablabla, mutlak disediakan oleh Big Boss. Ketika situasi pasar sedang kacau, peternak jelas tak pernah punya kendali. Big Boss melihat pasar: missal kebutuhan ayam menurun. Maka ayam di kandangmu tidak dijemput. Jadilah, jasamu tidak jadi uang! Bayangkan semisal aku sebagai peternak sudah menghabiskan jutaan lalu pemanen itu hanya mengambil seratus ekor dari dua ribu ekor yang kupunya, aku esmosi dong ya! Aku juga punya karyawan yang harus kuberi makan, keluarga, bayar listrik, bayar air, beli celana! Ya, sudah. Karena itu aku menghajar mereka. Kami perang di kandang. Terjadi pertumpahan darah—itu rasanya belum pernah difilmkan. Bagaimana menurutmu?”

“Oke,” aku membersihkan tenggorokanku. “Menurutku kau gila.”

“Itu kerenlaaahhh!”

“Keren dari Demak! Aku enggak bisa bikin begitu.”

O, tidak! Ia akan mulai merekapnya. “Apanya yang enggak bisa? Kau bisa menyamarkanku jadi cewek di cerita angkot itu. Lalu tega bikin aku HA-NYA jadi cameo—Cameo lho ya? Cameo!—di Mitos Kamar no. 9. Dengan nama lain pulak! Lalu babak-belur-sial-seharian di Cerita Keterlambatan. Kau bisa bikin aku jadi apapun yang kau mau! Dan sekarang, untuk bikin aku jadi peternak ayam atau pelacur sekalipun, yang mana itu jelas hal yang mudah, kau malah bilang enggak bisa?”

“Aku tak mungkin bikin cerita begitu, Ian…” desahku setelah tinggi nada bicara Ian perlahan-lahan menghilang bersama udara.

“Kenapa? Karena itu enggak-populer? Vulgar? Porno?”

“Enggak begitu juga…”

“Lah, terus?”

Kuhela napas panjang sambil meremas-remas rambut.

Ian ikut-ikutan. “Seorang penulis pernah bilang bahwa semua tokoh di dalam cerita itu harus dibiarkan hidup dan punya pilihannya sendiri,” katanya.

Aku ingat—“Penulis songong!”—itu.

“Memangnya kau mau didikte melulu? Pasti enggak kan? Lah, kami para tokoh juga ingin bebas di dalam jalan cerita. Tuhan saja cukup menciptakan alam semesta. Sisanya urusan mereka yang tinggal di situ!”

“Jadi kau merasa Ku-dikte?”

Ian berdecak. “Tidak juga—tapi jelas aku punya keinginan sendiri. Contohnya: aku tak mau jadi perempuan! Membayangkannya saja aku geli! Hih! Laki-laki kan kuat, garang, dan bisa diandalkan dalam situasi sulit. Di kereta, waktu kecopetan, aku ingin jadi beringas lalu menghajar orang-orang termasuk petugas. Toh aku tak bersalah! Lalu saat jadi cameo: akulah yang harusnya lawan main Difayani, bukan Jonas! Siapa Jonas? Dapat inspirasi dari mana kau sampai pilih nama aneh begitu?”

“Yang nyanyi Lovebug, lho. Eh, tapi Jonas jadian sama tokoh Atha. Aku memotong bagian itu biar tidak terlalu panjang,” kataku membela diri.

“Sama saja! Sejak awal kau kan mengambil nama dari satu orang. Atha Difayani itu orang yang sama: Cewek yang kau PHP-in di Twitter!”

Untung saja Ian ini cuma tokoh fiksi. Kalau tidak, sudah kuhajar sampai tak sanggup minta ampun. “Aku cuma mendadak tak yakin dan itu masalah besar. Kau jangan ikut-ikutan menuduh kayak orang-orang... Sedikit pun kau tak tahu apa yang sesungguhnya kurasakan waktu menulisnya, meski penjiwaanmu cukup baik di cerita itu.”

“Penjiwaan apaan? Aku kan kau bikin jadi tokoh Chris yang tak penting itu!”

“Ahahaha. Sori-sori. Omong-omong, secara konsep Jonas seperti kucing dan tuannya adalah pemilik kamar nomor 9. Siapa saja! Bukan hanya Difayani! Hahahaha!”

“Najong kau! Ayo jadikan aku tokoh yang berbeda. Sesuatu yang baru. Biar aku tak mati kebosanan jadi tokoh ceritamu!”

Tokoh yang berbeda dan sesuatu yang baru?
Apa aku harus menggelandang lagi saja ya?

Sesungguhnya apa yang diusulkan Ian memang terdengar seperti sebuah tantangan. Namun aku ragu bisa mewujudkannya. Peternak ayam? Aku tidak punya referensi apapun soal itu. Ya, di jaman sekarang, hanya penulis malas yang menjadikannya sebagai alasan. Tapi tetap saja: Aku butuh lebih dari sekadar Google. Lalu jika jadi pelacur pria, aku khawatir itu menjadi lubang yang akan menjerumuskanku ke dalam... Maksudku: “Kalau jadi pelacur pria, aku khawatir asumsi pembaca akan ke mana-mana...”

“Sejak kapan?” tanya Ian remeh.

“Kalau ada kaitannya dengan diri pribadi, aku lebih teliti dan penuh pertimbangan menuliskannya. Aku mau menciptakan sebuah subjek yang akan dikenali pembaca, disadarinya atau tidak, sebagai wujud penilaian benak mereka terhadap sosok penulis. Aku.”

“Bagaimana caranya?”

“Dengan penokohan cerita, dong. Itu yang paliiiing sederhana.”

“Bisa dibikin batasan-batasannya!”

“Nanti kelepasan!”

“Tidak akan! Lagipula apa ruginya? Toh ini fiksi!”

“Kesan di benak pembaca, Ian. Bagiku itu penting.”

“Ya sudah! Jadi peternak ayam saja. Yang beringas dan bengis tadi. Bagaimana? Bisa kan?”

Aku menggeleng dan membuat wajah Ian semakin persegi. Ia menggaruk-garuk kepalanya sekarang. Tampak kebosanannya sudah mencapai level mudah-kecewa dan kalau aku jadi dia, mungkin aku sudah mengacak-acak semua kata-kata di atasku. Peternak ayam? Apa yang kutahu soal ayam? Aku tidak suka ayam; lebih suka ikan. Aha!

“Tapi aku bisa membuatmu jadi ikan…” kataku mendapat ide.

“Ikan?” Ia mendelik. Sekarang alis kami mirip sekali.

“Iya.”

“Fabel?”

“Sesekali kayaknya boleh.”

“Ikan yang bagaimana?”

“Ikan sirip tajam dan menegang kalau terusik. Bentuknya pipih bersisik membuatnya mudah melesat di dalam air bahkan lumpur. Hidupnya penuh petualangan, mewarisi gen ikan yang terbiasa di alam liar, dan ahli bertahan hidup dalam keadaan ekstrim!”

Mata Ian membelalak membulat. Aku malah mengira ia sudah berubah menjadi ikan sejak setitik ide di kepalaku mulai membesar dan membentuk sebuah danau—di mana aku si pemancing amatir dengan sampan kecil, dan sebuah pancing, dan mungkin sebuah jaring—akan menangkapi ikan untuk kupanggang. Ketika langit jingga dan angin berhembus sepoi-sepoi. Aroma ikan itu—yang tercipta oleh perasan jeruk nipis dan bumbu-bumbu khas masakan tropis—akan menyeruak ke udara, menyemarakkan suasana sekalipun aku sadar aku hanya bersama kesendirian di tempat itu. Sambil menunggu bulan muncul di langit malam, aku menirukan beat musik dari sebuah lagu lama konyol yang kurahasiakan mengapa aku menyukainya.

“Apa yang akan terjadi padanya?” kudengar suara Ian menggema di langit. Aku mendongak dan dalam sekejap bobot badanku tertarik ke bawah dan otakku ditarik ke arah berlawanan. Aku menahan napas. Hanya beberapa detik namun cukup bagiku untuk menyadarinya.

Kakiku kembali punya landasan: sepasang Swallow putih nomor 10 setengah. Aku duduk di kursi plastik dengan sandaran punggung yang mulai reyot. Telingaku menangkap sayup-sayup suara anak-anak di kejauhan yang dihembus angin. Ting tong ting tong! Sekarang waktunya pulang. Ting tong ting tong! Di hadapanku berkas laporan bulanan terlipat-lipat. Di depannya layar masih menyala: ikan-ikan 3D berenang tenang di dalamnya. – Lau Rempak, April 2015.



Read previous post:  
Read next post:  
Writer latophia
latophia at Chris - Rekapitulasi (4 years 15 weeks ago)
100

Owalaaah.. saya baca dari "Teman Ngobrol" dulu baru tersesat kesini.. ternyata dari sini toh ide cerita cacing galau itu.. :D
.
Saya ngga ada komen bang... cuma menikmati dan mempelajari dengan seksama... biar punya ilmu bisa ngobrol dengan tokoh rekaan juga :D
.
Nb: Ternyata pemancing mellow bersandal swallow itu bang shinichi sendiri toh :'D Titip salam buat Ian ya bang, saya suka aktingnya jadi ikan nila nan merana :p

Writer bvdi
bvdi at Chris - Rekapitulasi (4 years 15 weeks ago)

saya masih belajar. jadi cukup menikmati saja hehe

Writer Liesl
Liesl at Chris - Rekapitulasi (4 years 16 weeks ago)
80

Seru juga ya seandainya karakter yang kita tulis bisa hidup beneran dan kita bisa berinteraksi dengan mereka :D
Tapi ini berarti dalam cerita2 sebelumnya konsisten menggunakan tokoh dengan sifat yang sama? Atau satu orang tapi bisa ganti2 karakter?

Writer Shinichi
Shinichi at Chris - Rekapitulasi (4 years 15 weeks ago)

sifatnya nggak sama. ahak hak hak. namanya jugak kadang beda. intinya, cerpen ini ada ya setelah cerpen-cerpen yang lain. idenya berasal dari sono :D

Writer vinegar
vinegar at Chris - Rekapitulasi (4 years 16 weeks ago)
100

Hiak, tema cinta dan penyesalan melulu emang preet sekali. Baca cerpen ini kayak lagi ngereview ya buat penulis, udah bikin apa aja selama ini. Oh, baru nyadar.. jadi maksudnya rekapitulasi itu toh. Apa iya, ya?

Mesti baca² cerpen yang disebutin itu ke belakang dulu kayaknya untuk ngikutin maksudnya penulis. Ini strategi pemasaran yang keren, Bang Shinichi. Hihi.

Writer Shinichi
Shinichi at Chris - Rekapitulasi (4 years 16 weeks ago)

ahak hak hak. ya, semacam itulah. lagian, emang kerjaan di mari melulu rekap siy, rekap nomor togel misalnya. ahak hak hak. sebenernya nggak strategi-strategian ah. kan cukup dibaca ini jugak udah bisa paham apa yang terjadi di sana, untuk ukuran pada tokoh Ian. ahahahaha.

Writer rian
rian at Chris - Rekapitulasi (4 years 16 weeks ago)
90

Menghibur. Ian ini kalau beneran hidup di dunia nyata kayaknya bakalan jadi orang yang sangat nyebelin. Tapi ide-idenya dia bagus-bagus sih. Tentang peternak ayam itu absurd nian.

Paragraf terakhirnya yang paling saya suka. Damai rasanya baca deskripsi tentang suara anak-anak itu. Bang, kenapa enggak nulis cerita yang kayak dari "Kandang Babi Hingga ke Lepar" itu lagi? Saya kangen baca yang polos-polos gitu. Kayaknya akhir-akhir ini tulisannya abang kelam semua.

Kepenulisannya kayaknya udah enggak perlu dikomentari lagi, tapi saya mau bertanya sedikit tentang penggunaan tanda titik dua. Sebenernya itu dipakai tujuannya apa? Saya pernah baca di suatu tempat kalau tanda titik dua itu sebenernya enggak ada aturannya di ejaan kita, cuma ada di buku-buku terjemahan aja. Tapi saya enggak tau yang saya baca itu bener apa enggak. Mohon pencerahannya kalau Abang tau.

Writer Shinichi
Shinichi at Chris - Rekapitulasi (4 years 16 weeks ago)

ahak hak hak. nyebelin yak! ternak ayam itu idenya karena pernah sekali saya ikutan ke kandang ayam (ternak ya) ngeliatin orang-orang pada panen. jadinya, dikit-dikit dapat cerita begitu. rasanya emang asyik kalo dibikin jadi cerita. tapi belum nemu garis besarnya biar menarik.
.
kelam ya? ahak hak hak. semoga berikutnya nggak deh. kayaknya siy emang nggak bakal. oh, cerita Kandang Babi itu ya? wah! musti bersemedi lebih husuk itu. ahahahahaha. dan soal penggunaan titik dua, mending kita tanya mbak Day kalok begitu. secara beliau lebih banyak membaca buku-buku terjemahan. setahu saya siy itu soal "hitungan". saya menggunakannya dengan meniru pola kalimat di bacaan yang saya jumpai ada titik duanya :)

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Chris - Rekapitulasi (4 years 16 weeks ago)

mbak Day, mbak Day, mbak Day topan kali :p
saya ga paham fungsi sebenernya dari tanda titik dua selain dari yang tertera pada pedoman yang ada. kalaupun saya ada menggunakannya di luar yang dipedomankan, itu semata keisengan intuitif, hahaha #sotoymania

Writer Shinichi
Shinichi at Chris - Rekapitulasi (4 years 16 weeks ago)

ahak hak hak. mbak Day-nya protes. #kabur

Writer Naomi Amaris
Naomi Amaris at Chris - Rekapitulasi (4 years 16 weeks ago)
100

Interaksi antara penulis dengan tokoh. Setelah saya baca ulang (Maafkan saya yang lemot), ternyata menarik juga dunia khayalan si penulis itu, ehehe. Jadi nanti kira-kira mau bikin cerita tentang ikan, nih kak? Karena di cerita ini, saya baca ada beberapa judul cerita yang lalu. Menarik juga sih.. Bagus deh ceritanya, hehe :)

Writer Shinichi
Shinichi at Chris - Rekapitulasi (4 years 16 weeks ago)

enggak tentang ikan jugak siy. ahak hak hak. tapi emang ini semacam bertalian begitu dengan post berikutnya. ntar mampir lagi yak. ahak hak hak.

Writer hidden pen
hidden pen at Chris - Rekapitulasi (4 years 16 weeks ago)
100

salam kenal kk, pertama-tama anggaplah aku tidak ada dan hanya iseng menikmati karya kk.
awalnya udah cukup membuat saya tertarik dan bertanya-tanya apakah itu tanpa hitam di atas putih.
hmm saya sempat berpikir menengok ke arah belakangku dan ternyata hanya bayangan. maaf becanda.
sepertinya sekarang udah terlihat saya tidak berpendidikan dalam hal menulis komentar. hiks
saya juga sempat melihat kk membahas eh sepertinya hanya pilihan antara agen lapangan dan peternak ayam dan jujur saya juga peternak ayam loh kk. hihi
mau komen apalagi ya. udah cukup bang. saya gak kuat jelasin hal apa lagi yang saya sukai di ceritanya.
sekian dan menghilang #tring

Writer Shinichi
Shinichi at Chris - Rekapitulasi (4 years 16 weeks ago)

hitam di atas putih itu istilah untuk sesuatu yang tertulis. misalnya surat perjanjian, kontrak, dsb. oh, peternak ayam! ahak hak hak. mohon maaf bila ada yang kurang berkenan. hohohoho.

Writer benmi
benmi at Chris - Rekapitulasi (4 years 16 weeks ago)
100

Aku jadi tokoh bang cris lah... request.. jadi pelacur pria n peternak ayam.. itu kedengarannya bacaan yg menarik..
Pelacur pria... hmmmm... kenapa dia bisa terjerumus kedalamnya dan kenapa ia memutuskan bertahan.. bagaimana hitam putih hidupnya. Kedengarannya sangat menarik. Trus, peternak ayam. Jgn jadi peternak ayam biasa.. ayam-ayaman kampus kedengarannya seru... wkwkkwkwk... jd peternak ayam kampus aja.. buatnya sadis.. n bengis.. kyknya seru... hahahhaha...
Ayolah buat cerita seperti itu... aku mohonnnnnn...
Plissss... *keluarin jurus mata memelas

anw... cerita ini menarik.. sama seperti cerita membunuh jimiboy.. interaksi antara penulis n tokohnya. Cuma bedanya.. kl di sana.. tokohnya ttp nama yg sama..
aku sedikit bingung.. krn bang shin-chan menceritakan tokohnya dlm nama yg berbeda ya.. agak aneh sih.. cuma masi ngerti lah.. hahhahah...

Writer Shinichi
Shinichi at Chris - Rekapitulasi (4 years 16 weeks ago)

ahak hak hak. malah komentarin yang itu. hohohoho. tapi, memang siy, ada cerita yang akan diposting setelah ini yang dikatakan tokoh "aku". tapi Fabel, bukan pelacur-pelacuran atau ayam-ayaman. idenya ada kalo soal itu, tapi musti sering-sering ke kandang akunya. ayam beneran lho! ahak hak hak. makasiy udah mampir :p

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Chris - Rekapitulasi (4 years 16 weeks ago)
100

cerita tentang interaksi antara penulis dan tokohnya udah lumayan jamak sih. (contohnya, belum lama ini ada "Membunuh Jimiboy" dari arki atsema.) khusus yang satu ini bagi saya agak memusingkan dan menuntut perhatian--pembacaan lebih dari sekali, meski ketika mulai paham konteksnya sebetulnya asyik.
.
pertama. kita mesti ngebedain antara alam napak dan alam ngawang si penulis. alam napak yaitu alam tempat si penulis duduk di kursi plastik bersandaran reyot, berpijakkan sandal swallow 10 1/2, dan sebetulnya sdg menghadapi berkas laporan serta layar akuarium2an sementara pikirannya ke mana2. nah, alam ngawang ini menceritakan isi pikiran si penulis yang ke mana2 itu, yang terbagi lagi, mulai dari alamnya si Ian yang sepertinya alam kertas buku tulis, sampai alam2 lainnya tempat si penulis menggali2 ingatan, khayalan, dsb.
.
kedua. kita perlu referensi akan cerita2 yang telah dibuat si penulis sebelumnya, yang beberapa judulnya telah disebutkan di sini, jadi secara enggak langsung cerita ini merupakan promosi terselubung (kenapa ga diselipin aja link-nya sekalian, bang? :p), dan, bahkan mungkin juga sekelumit pengetahuan tentang kepribadian si penulis itu sendiri yang, misal saja, diam2 tukang PHP-in orang #ups
.
ketiga. cerita ini, sebagaimana judulnya yang ambigu ("Rekapitulasi" atau "Jenuh", bang? aku tambahin satu subjudul lagi deh, "Bingung" karena hawa itu sepertinya ada pulak dimari), menunjukkan fase yang mungkin dialami seorang penulis setelah beberapa lama berkarya. ia mungkin ingin mengembangkan kemampuannya. maka selagi merenungkan karya2 yang telah dibuatnya, ia melakukan brainstorming dg sosok utama yang kerap menyertai proses kreatifnya selama itu.
.
keempat. soal eksplorasi bahasamu, bang, meski ada beberapa kata yang bikinku mikir2 ("ijin", "hembus", "jaman", misal), tapi secara keseluruhan, udahlah. saya suka ide tentang "The Revenge of Peternak Ayam" itu. saya juga suka cara dirimu menyelipkan "Penulis songong!" itu.
.
saya berharap pembaca lainnya ada yang bisa bahas soal jelek2nya cerpen ini, muhahaha.... (soalnya, selain bahwa cerita ini emang ga penting banget, saya ga kepikiran lainnya, sebelsebelsebel)
.
mongomong, situ mau "mulai" apaan, bang? ngajak2 siapa pake "kita"? :p

Writer Shinichi
Shinichi at Chris - Rekapitulasi (4 years 16 weeks ago)

ahak hak hak. bingung ya? oh, saya lupa edit judulnya yang di badan cerita. udah saya edit. maapkenn :D
.
nyelipin link? ish! #tabok. nggak promo ya. makanya enggak diselipin. ahak hak hak. masiy ada yang salah EyD ya? ahak hak hak. lupa siy. atau jangan-jangan itu menandakan diriku berasal dari jaman yang berbeda (jadul kamsudnya). maapken sekali lagi.
.
soal "mulai" itu, karena sebenarnya cerita ini pembuka (meski nggak nyambung secara alur) sebuah Fabel najong yang sudah selesai akunya buat. jadi, biar klop, maka daku posting ini duluan. begitu ceritannya. kalau "kita" itu, oke, anggaplah aku mengajak engkau :p tapi plis, akunya bukan PHP. HTML aja nggak tamat. ahak hak hak. jangan lupa kangen yaaaa :p #pret btw, kenapa sebelsebelsebel cobak? :p

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Chris - Rekapitulasi (4 years 16 weeks ago)

HTML? apa tuh, bang? Hati Tak Mau Lupakan? #eh

Writer Shinichi
Shinichi at Chris - Rekapitulasi (4 years 16 weeks ago)

itu lhooo Hyper Text Markup Language. PHP itu kan bahasa pemrograman web berbasis database. ahak hak hak. pasangannya, pasti melulu HTML karena itu soal pemrograman web. karena dakunya lulusan IT, seharusnya aku bisa. minimal paham. hohohoho. udah makan? :p

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Chris - Rekapitulasi (4 years 16 weeks ago)

iyooo, bang. setidaknya ilmumu ada kaupraktikkan buat menghias dan merapikan postinganmu :p
berikutnya fabel, ya, bang. sip sip.
emang ajak2 apa sih, ajakin makan pake ikan tegang ekor?

Writer Shinichi
Shinichi at Chris - Rekapitulasi (4 years 16 weeks ago)

kalo itu mah, nggak musti kuliah IT ya kan yak :p
iya, fabel. ini mo nyari-nyari informasi soal ikan. ahahahaha. meski ortu punya kolam ikan, daku kurang banyak tau soal ikan. yuk! bisa mancing? apa musti aku keringin dulu air kolamnya, biar bisa kita ambil beberapa ekor mas atau nila? :D

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Chris - Rekapitulasi (4 years 16 weeks ago)

mau, bang :D lalu kita bakar pakai kecap dan jeruk limau, terus kita makan pakai sambal bawang atau sambal terasi di pinggir kolam itu, bang. minumnya nanti kita bikin orange squash dr jerukku kalau udah ada buahnya (sekarang baru kecambah dua senti). aku nyumbang lalapannya juga deh. makan2nya sambil dengerin dikau deklamasiin fabelmu keras2. kita undang2 dasar 1945 warga Kemudian sekalian. asyik, asyik....

Writer Shinichi
Shinichi at Chris - Rekapitulasi (4 years 16 weeks ago)

ahak hak hak. bikinin cerpen dong yang begitu. ya, dengan tokohnya cwo gebetanmu itu jg gpp :p

ahahaha

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Chris - Rekapitulasi (4 years 16 weeks ago)

ahahaha... coba lah, bang, kau carikan aku dirinya dan pertemukan kami dahulu kalok begitu, yak, bang, yak, ahak ahak uhuk ehem :p

Writer Shinichi
Shinichi at Chris - Rekapitulasi (4 years 16 weeks ago)

ish! mana mau akunya. bikin cemburu aja deh. ahak hak hak :p