I'll Catch You in 20 Days

Deburan ombak yang bergemuruh terasa begitu menenangkan. Kacamata hitam, kaos putih, celana pendek dan ponsel yang tak pernah lepas dari genggaman tangannya. Ia memainkan pasir pantai dengan kedua kaki telanjangnya. Cuaca begitu panas. Diperhatikannya dua sejoli yang tengah asyik bercengkrama dengan meminum kelapa muda. Ia menelan ludah. Ia memikirkan kantongnya yang mulai menipis.

Beberapa hari yang lalu ia mengirimkan lamaran kerja ke sebuah hotel ternama di Indonesia. Mereka mengatakan, akan ada panggilan lewat ponsel. Harusnya itu kemarin. Bahkan sampai hari ini pun ponselnya tak kunjung berdering. Ia menengadahkan kepalanya, menatap matahari yang begitu menyengat melalui kacamata hitamnya.

Kulitnya terasa panas terbakar. Dengan kaki jenjangnya yang malas ia melangkah enggan menuju warung terdekat untuk sekadar menyirami tenggorokannya yang terasa kering. Dilihatnya daftar menu yang terpampang sombong dengan harga yang tidak wajar. Ia menghela nafas besar. Dia hanya mampu membayar es teh seharga lima ribu rupiah, yang termurah dari sekian banyaknya menu. Ia memilih duduk di dekat jendela agar tetap bisa menikmati pemandangan di luar.

Hidupnya berubah drastis sejak lima bulan yang lalu. Perusahaan tempatnya bekerja bangkrut, ia terkena PHK dengan pesangon seadanya yang bila diakumulasikan mungkin hanya cukup untuk hidupnya selama dua bulan dan tentu saja keuangannya berantakan. Setiap hari ia harus diburu rentenir karena berbagai macam kredit yang tak mampu ia bayar. Bahkan orang tuanya di kampung belum tahu bahwa putrinya yang telah sukses di Ibukota, kini justru luntang-lantung di jalanan.

Dipandangnya lelaki tampan yang mengenakan jaket hitam yang nampaknya tengah serius membicarakan sesuatu dengan rekannya. Hidungnya memang tidak begitu mancung tapi kulitnya putih bersih, rambutnya tertata rapi. Lelaki itu merasakan perhatian yang berlebihan, sehingga ia memutar kepalanya menatap gadis yang ada di sebelah mejanya. Ia terperangah melihat gadis cantik di hadapannya.

Alin.” Sapa lelaki tersebut. Gadis itu terdiam. Mengerutkan keningnya untuk berpikir sejenak. Tak ada ingatan apapun tentang siapa lelaki itu. Tapi mengapa dia bisa mengenalinya? Lelaki itu berdiri, menghampiri meja gadis bernama Alin tersebut. Alin menaikkan alisnya, sebagai pertanda ia minta penjelasan.

“Kau tidak ingat aku?” Nada kecewa terdengar dari suara lelaki itu. Alin menggigit bibirnya berusaha mengingat lelaki tampan di hadapannya. “Ini aku, Hans. Kau tidak ingat juga? Dulu kita satu SMP.” Alin masih memutar otaknya, mengaduk-aduk ingatannya tentang Hans. Namun tak satupun muncul dalam ingatannya. Kecuali satu Hans si gendut dan jelek, yang mendapat julukan Boboho.

“Hans ‘Boboho’?” Tanya Alin memberikan penekanan pada kata Boboho. Hans terdiam sesaat. Sedetik kemudian tawa terpingkal-pingkal meledak dari mulut Hans.

“Sayang sekali kenapa kau hanya mengenangku sebagai Boboho, Lin.” Protes Hans di sela tawanya.

“Aku benar-benar tak menyangka, Boboho yang dulu begitu pendek, gendut dan jelek sekarang bisa setampan ini.” Puji Alin tulus. Siapapun yang melihat Hans, pasti tak akan menyangka dulunya ia memiliki riwayat yang bisa dibilang… cukup buruk.

“Kau ini bisa saja. Kau juga jadi lebih cantik. Tadi aku sempat tak mengenalimu.” Puji Hans yang membuat Alin merona. Mereka melanjutkan obrolan mereka, mengenang masa masa SMP hingga masalah pekerjaan yang membuat Alin tercekat. Meskipun sudah beberapa bulan berlalu namun bagi Alin kenyataan bahwa ia telah di PHK bagai duri ikan yang tersangkut di tenggorokan, menyakitkan. Ia menceritakan segalanya pada Hans. Pekerjaan serabutan pun rela ia lakukan untuk menghidupi dirinya sendiri.

“Aku ada pekerjaan untukmu. Itu jika kau bersedia, karena mungkin sedikit menguras tenaga.” Pekerjaan untukmu. Dua kata itulah yang dinantikan Alin dari pidato panjangnya beberapa menit terakhir. Peduli setan jika ia harus menjadi kuli bangunan ataupun buruh cuci, walau jauh dari lubuk hatinya ia tak mengharapkan itu.

***

Alin menyibakkan gorden di samping ranjangnya, berniat menantang matahari pagi yang seolah menghina pengangguran yang telah kehilangan segalanya. Namun rupanya matahari enggan menantang dengan Alin pagi ini. Mendung. Angin melolong menelusup melalui celah jendela boborok dalam indekos murahan yang disewa Alin.

Jam dindingnya menunjuk angka enam dengan jarum panjang di angka empat. Rupanya masih pagi. Ia menyeret langkahnya dengan malas untuk membersihkan tubuhnya, langkahnya terhenti di depan meja kecil di dekat pintu kamar mandi. Hans. Pukul delapan Alin harus berada di kantor Hans untuk pekerjaan itu. Alin bergegas membersihkan dirinya, kemudian menjejalkan tubuhnya ke dalam setelan rok dengan blazer hitam terbaiknya yang senada dengan roknya.

Tepat pukul tujuh Alin berniat berangkat, namun perutnya mulai memberontak. Alin menghela nafas berat, langkahnya kembali menuju rak penyimpanan makanan. Ia mendegus kesal, hanya tersisa roti yang telah ditumbuhi jamur kehijauan dan sebuah mie instant yang seperempatnya telah disantap oleh tikus-tikus sialan di sekitar indekosnya. Perutnya kembali bergemuruh. Sungguh ia berharap akan ada ibu peri yang akan menyulap lemarinya menjadi penuh dengan makanan. Ditutupnya kembali lemari itu dengan perasaan kecewa. Terpaksa ia harus berangkat dengan perut kosong.

 

Ia menengadahkan kepalanya. Bukan gedung dengan puluhan lantai seperti tempat kerjanya yang dulu. Mungkin hanya ada dua atau tiga lantai. Sebuah papan penanda bertuliskan William Investigation Agency terpampang megah di atas pintu masuk. Dengan mantap kaki jenjangnya melangkah, menambah kesan anggun pada diri Alin.

“Permisi, saya Alin. Saya sudah ada janji dengan bapak Hans. Bisa saya bertemu dengan beliau?” Tanya  Alin ramah di meja resepsionis.

“Tentu, anda sudah ditunggu. Silahkan.” Gadis cantik nan ramah tersebut mengantar Alin menuju ruangan Hans. Lelaki dengan kemeja hitam itu mengenakan kacamata, membuatnya tampak lebih cerdas dan lebih tampan tentunya. Gadis cantik tersebut meninggalkan Alin dalam ruangan Hans.

“Jadi, kau benar-benar bersedia untuk melakukan pekerjaan ini?” Tanya Hans begitu Alin duduk di hadapannya.

“Apapun akan kulakukan Hans. Jadi seperti apa pekerjaan itu?” Tanya Alin bersemangat.

“Dari dulu aku menyukai semangatmu, Alin” Seringainya melebar. Disodorkannya map biru pada Alin dan ia pun membukanya. Sebuah foto lelaki berhidung mancung ala peranakan bule-bule yang entah dari mana asalnya, mata coklatnya terlihat begitu tajam, rambutnya ikal dan hitam layaknya pribumi, bulu cambang yang baru tumbuh di wajahnya menambah kesan gagahnya, lalu...

“Jangan terpesona padanya Alin, dia adalah kriminal.” Hans memotong lamunan Alin. Alin membuka mulutnya, terperangah mendengar penjelasan Hans. Ia membuka lembar selanjutnya, pembunuhan dan pemerkosaan. Ia menelan ludah dengan susah payah. Sebuah firasat buruk terlintas di pikiran Alin.

“La— lalu apa yang bisa kulakukan?” Tanya Alin dengan suara terbata-bata.

 “Kau harus menangkapnya.” Seringaian nampak tersungging di bibirnya. “Berhati-hatilah. Lelaki ini seperti asap, dia ada namun tak bisa digenggam.” Tangan Hans mengepal, memperagakan sebuah genggaman.

“Hans, kau gila! Riwayatnya menakutkan. Bagaimana jika dia memperkosaku? Lalu membunuhku dan membuang bangkaiku ke sungai?” Keraguan mulai terpancar di hati Alin.

“Bayarannya besar jika kau bisa menangkapnya. Bagaimana dengan satu juta per hari? Lakukan atau lepaskan?” Tegas Hans. Alin tak punya pilihan lain. Ini kesempatannya, ia tak ingin lagi mengandalkan kerja serabutan yang hanya dihargai dua piring nasi Padang perharinya.

***

Kembali dibukanya berkas-berkas dalam map biru yang kini berada di tangannya. Sebotol air mineral dingin yang ia ambil paksa dari meja Hans membantu gadis itu mengisi perutnya yang kosong. Matahari yang mulai tegak menantang setelah mendung menyelimuti langit terasa begitu menyengat di jam satu siang ini. Hans William, sialan! umpatnya dalam hati.

Sekarang ia berada di depan sebuah apartemen yang terlihat cukup mahal, sesuai dengan alamat yang telah dicantumkan dalam berkas. Tiga jam Alin menghabiskan waktu untuk mencari alamat tersebut. Apa yang harus kukatakan jika berhadapan dengannya? Pikir Alin. Jantungnya berdebar, pikirannya bercampur aduk. Ia akan bertemu seorang pembunuh dan pemerkosa. Lalu apa yang harus dilakukannya jika ia berakhir diperkosa lalu dibunuh? Pikiran buruk meracuni otaknya membuat keraguan kembali menelusup ke dalam hatinya. Sejenak ia menundukkan kepala untuk mengheningkan cipta, berdoa memohon keselamatannya.

Hatinya sudah mantap. Ia memaksa langkahnya menuju lift yang nyaris tertutup. Beruntung dengan cepat ia dapat menahan pintu lift sehingga ia tak perlu menunggu untuk memberi waktu pada segala pikiran buruk yang hendak meracuni otaknya. Tombol untuk lantai delapan ternyata telah menyala, lelaki bertopi dan berkacamata hitam di sampingnya memiliki tujuan yang sama.

Ting.

Pintu lift terbuka. Angka delapan terpampang jelas di dinding. Lelaki itu melangkah dengan cepat di depan Alin. Alin terdiam sejenak di depan pintu lift untuk menenangkan jantungnya yang seolah hendak meloncat keluar dari tenggorokannya. Setelah lelaki itu menghilang, barulah Alin beraksi. 805. Ia menyusuri lorong untuk mencari nomor kamar tersebut.

805.

Ditatapnya nomor kamar 805. Tangannya bersiap untuk mengetuk pintu di hadapannya. Namun perasaan gugup, takut dan ragu bercampur aduk dalam dirinya. Alin mendesah, dengan seluruh keberanian penuh yang telah ia kumpulkan, ia mengetuk pintu tersebut kuat-kuat. Tak perlu perlu waktu lama seseorang segera membuka pintu tersebut.

“Siapa kau?” Tanya lelaki tersebut dengan memandang tajam gadis asing di hadapannya.

“Brian.” Panggilnya berhati-hati sambil menengadahkan kepalanya. Wow. Lelaki di hadapannya begitu tampan, bahkan jauh lebih tampan dibanding foto yang diberikan Hans.

“Apa kau mengenalku?” Tanya lelaki bernama Brian yang tampaknya masih penasaran. Alin memegangi perutnya yang sejak pagi hanya terisi air. “Kau baik-baik saja?” Tanya Brian sekali lagi. Alin tak tahu harus mengatakan apa pada lelaki ini. Ia terus memutar otak untuk mencari alasan.

“Brian, aku hamil. Anakmu.” Tegas Alin impulsif. Mulut Brian ternganga mendengar pernyataan Alin.

“Kau gila!” Bentak Brian yang kemudian membanting pintu di depan wajah Alin.

“Brian buka pintunya Brian. Dengarkan aku.” Alin kembali menggedor-gedor pintu Brian, hingga kepala Brian muncul kembali di sela pintu yang terbuka sedikit.

“Hentikan! Aku sama sekali tak pernah menyentuhmu, bahkan aku tak mengenalmu. Pulanglah ke rumahmu!” Pintu kembali dibanting di depan wajah Alin. Sial. Brian benar, hanya perempuan gila yang tiba-tiba datang dan mengaku hamil. Kasus Brian sebagai pemerkosa telah membuat Alin beralasan bodoh. Alin memutar tubuhnya, dengan langkah terseok dan memutuskan untuk mengisi perutnya.

***

Sambil mendesah Alin berguling keluar ranjang, tertatih-tatih menuju kamar mandi dengan mata yang masih setengah terpejam. Begitu keluar dari kamar mandi diliriknya jam dinding di kamarnya. Jam sepuluh pagi. Rupanya hari ini telah dimulai tanpanya. Semalaman suntuk ia memikirkan cara untuk mendekati Brian hingga mengambil jatah tidurnya. Buru-buru ia kembali ke kamar mandi untuk segera mengawali pekerjaan barunya.

Sepotong roti di tangannya tanpa terasa telah habis. Diabaikannya sinar matahari yang menyengat siang itu. Alin sedang menunggu lelaki itu keluar dari apartemennya. Satu jam, dua jam, tiga jam. Tak ada tanda-tanda batang hidungnya akan terlihat saat itu. Tak ada cara lain. Semangatnya sedang berkobar siang ini. 805 tunggu aku.

Tok…tok...tok...

Kembali Alin mengetuk pintu dengan berapi-api. Cukup lama hingga lelaki itu muncul dengan penampilan yang cukup berantakan. Lelaki itu memicingkan matanya, menatap gadis di hadapannya.

“Kau lagi? Mau apa lagi?” Nada kesal terdengar dari ucapan Brian.

“Brian, maafkan aku. Aku Alin, apa kau benar tak mengingatku?” Raut sedih Alin rupanya sedikit berpengaruh. Brian mengerutkan dahi, mencoba menggali ingatannya. Namun sayang, Brian tak berhasil mengingatnya. Brian menggeleng.

“Brian, aku benar-benar mencintaimu Brian. Kumohon jangan begini.” Wajah memelas yang terlihat dibuat-buat kali ini tak membuat Brian iba.

“Alin, aku tak ingin diganggu. Sekarang pergi dari sini dan jangan lagi datang kemari!” Bentak Brian. Alin tersentak mendengar teriakan Brian. Rupanya lelaki ini memang sulit didekati, pikir Alin. Kembali pintu dibanting di hadapan Alin. Ini mungkin akan menjadi makanannya sehari-hari. Gadis itu memutuskan untuk menunggu di depan pintu. Satu jam, dua jam, tiga jam. Berdiri, jongkok, duduk. Alin mulai bosan dan lelah. Ia putuskan untuk kembali dan melakukan pendekatan keesokan harinya.

Tiba-tiba pintu terbuka ketika Alin hendak mengakhiri niatnya untuk menunggu. Lelaki dalam balutan jeans abu-abu dan jaket putihnya, ternyata tak menyadari gadis yang tengah duduk di samping pintu. Lelaki itu mengenakan kacamata hitamnya dan setengah berlari menuju lift. Alin tak membuang-buang kesempatan untuk mendekatinya.

“Kau kenapa masih disini?” Tanya Brian menyelidik.

“Brian, dengarkan aku. Kumohon Brian, aku mencintaimu. Kenapa tak kau coba memberiku kesempatan sekali saja?” Lift berhenti di lantai lima, sepasang suami istri yang sudah paruh baya bergabung dalam lift. Alin menggoyang-goyangkan lengan Brian. Namun Brian tak menggubrisnya. Tanpa kehabisan akal Alin memanfaatkan kesempatan yang ia rasa cukup menguntungkannya.

“Brian. Perutku. Oh.. Perutku sakit sekali, anak kita. Bagaimana dengan anak kita? Brian, tolong aku.” Alin membuat suaranya seolah kesakitan. Ia melirik Brian, mencoba menunggu responnya. Lelaki itu menggigit bibirnya, namun tak kunjung bertindak. Hingga tibalah lift di lantai dasar, pintu lift terbuka, pasangan suami istri tersebut segera berhambur keluar diikuti Brian di belakangnya. Brengsek! Seperti inikah kelakuan orang-orang kaya melihat orang lain kesakitan? Alin mengumpat dalam hati. Kemudian ia mengejar targetnya, namun sebuah sedan hitam nampaknya lebih cepat membawa Brian pergi. Alin menarik nafasnya dalam-dalam lalu diembuskannya dengan keras.

***

Sudah nyaris dua minggu, gadis itu masih terus mendekati Brian. Mau tak mau Brian harus menyisikan sedikit perhatiannya pada gadis itu. Pagi, siang, sore, malam, di apartemen, di tempat parkir, di jalan, di supermarket, bahkan di dalam mimpi gadis itu selalu muncul. Rasa penasaran Brian kian bertambah setiap harinya, namun ia harus tetap waspada. Statusnya sebagai buronan membuatnya tak bisa bergerak bebas.

Kepalanya terasa sakit, semalaman Brian tak bisa tidur memikirkan gadis bernama Alin yang selalu membuntutinya. Namun belakangan, gadis itu selalu menggedor pintunya di pagi hari. Hingga pernah suatu hari Brian mendapat peringatan dari tetangganya akan hal itu.

“Alin, kumohon, ini masih pagi. Aku sangat terganggu olehmu. Tolong jangan ganggu aku.” Kata Brian lemah sambil menutup pintunya. Ia sedang tak ada energi untuk berdebat dengan Alin sekarang.

“Kau sakit?” Tanya Alin yang tengah mengganjal pintu dengan ujung sepatunya. Brian mendesah kesal. Sorot matanya yang tajam membuat Alin menciut. Ditariknya sepatu yang mengganjal pintu dan ditutupnya pelan agar tak mengganggu Brian. Brian semakin bingung dengan tingkah laku gadis itu. Ponsel Brian berdering, sebuah pesan muncul di layar ponselnya. Roby.

Tempat biasa. Sekarang.

Sahabat Brian, yang selama ini selalu membantunya. Segera ia meraih topi dan kacamata hitam untuk menyamarkan wajahnya. Dengan langkah seribu ia keluar dari kamarnya. Seperti biasa, gadis itu membuntutinya dan mengoceh di belakang Brian. Brian berlari agar Roby tak menunggunya terlalu lama dan untuk menghindari gadis itu tentu saja. Jalanan bagitu ramai, namun dengan lincah Brian dapat menyebrang dengan mudah.

“Kyaaaaaaaa!!” Suara teriakan yang diiringi oleh suara ban mobil yang berdecit membuat jantung Brian seolah berhenti. Alin. Gadis itu tergeletak di depan sebuah mobil. Brian memutar langkahnya untuk menolong Alin. Dengan terburu-buru digendongnya gadis itu menuju apartemennya. Beruntung tak ada luka. Hanya pingsan. Brian menidurkan gadis itu di sofa sambil menepuk-nepuk pipinya untuk menyadarkannya. Kemudian diraihnya ponsel di saku celananya dan mengetik sebuah pesan pada Roby.

Maaf, aku tidak bisa datang.

***

Ia membuka sebelah matanya. Rupanya kali ini rencananya berhasil meski nyawa taruhannya. Membuat Brian peduli padanya adalah hal yang diakuinya begitu sulit. Pria itu mondar-mandir sambil menatap ponselnya.

“Dimana aku?” Tanya Alin dengan suara lemah yang dibuat-buat.

“Kau kecelakaan, pingsan. Aku membawamu ke apartemenku.” Jelas Brian tanpa memandang Alin. Alin pura-pura memeriksa pakaiannya dan tentu saja Brian memperhatikan kejanggalan itu. “Tenang saja aku bahkan tak menyentuhmu selain menggendongmu.”

“Aku— aku pernah mendengar kau adalah em… pemerkosa.” Kata Alin ragu dengan merendahkan suaranya pada kata terakhir. Perhatian penuh Brian ditujukan pada Alin.

“Siapa yang memberitahumu? Kenapa kau tahu masalah itu?” Pandangan menyelidik dengan sorot matanya yang tajam membuat Alin bagai ditodong sebilah pedang yang siap menghunus jantungnya kapan saja.

“Temanku. Namun aku tak percaya pada hal itu.” Rupanya kata-kata itu begitu ampuh untuk memancing respon dari lelaki di hadapannya. Cerita pun mengalir dari mulut Brian.

Saat itu sekitar jam dua dini hari, ia hendak menolong seorang gadis yang telah diperkosa di depan matanya hingga gadis itu pingsan. Brian menghajar pelakunya hingga babak belur dan terkapar tak sadarkan diri. Namun rupanya nasib baik tak berpihak pada Brian. Gadis itu tersadar ketika Brian hendak menolongnya hingga terjadilah kesalah pahaman. Gadis itu menuduh Brianlah si pemerkosa dan si pelaku adalah korban yang telah dibunuh Brian karena telah menolongnya. Hingga warga datang dan mengeroyok Brian. Brian kabur dengan membawa segala tuduhan yang tak pernah dilakukannya.

Bibir Alin membulat, hatinya iba pada nasib Brian. Ini hanya kesalah pahaman. Tak ada saksi, tak ada bukti. Hatinya bimbang. Jika ia tak menangkap lelaki itu, ia harus mengembalikan uang muka yang telah diberikan oleh Hans. Tapi lelaki ini tak bersalah. Jika Alin menangkapnya. maka seumur hidup Alin akan menanggung rasa bersalahnya. Ia mengaduk-aduk isi kepalanya, untuk menemukan sebuah solusi yang tepat.

***

Ini sudah hari ke dua puluh. Seperti janji Alin, ia akan membawa Brian dalam dua puluh hari. Namun hatinya masih ragu. Apa lagi kedekatan di antara mereka telah terjalin selama seminggu terakhir. Matanya nyalang menatap pintu 805. Akhirnya diketuklah pintu itu. Brian membukanya dan mempersilahkan Alin masuk.

Alin duduk di samping Brian, seperti biasa mereka menonton televisi sambil menyantap keripik kentang milik Brian. Tiba-tiba Brian menyandarkan kepalanya dipangkuan Alin. Jantung Alin berdebar begitu kencang. Hatinya semakin tak karuan. Pikirannya bimbang antara membayar kembali uang muka sebesar delapan juta dari Hans atau segera mendapat dua belas juta sisanya jika ia berhasil menangkap Brian. Ia menarik nafas dalam-dalam kemudian diembuskannya perlahan. Sebuah keputusan akhirnya telah dibuat, lantas diketiknya sebuah pesan singkat.

Hans, aku mendapatkannya.

Send. Pesan telah terkirim, saat itu juga penyesalan menjalar di hati Alin. Beberapa menit berlalu, Alin meninggalkan ponselnya untuk ke kamar mandi. Suatu kebodohan. Brian membuka pesan di ponselnya. Hans William. Menurut Roby, Hans William adalah orang yang perlu dihindari. Tetapi Brian lengah, gadis yang dipercayainya justru telah menikamnya dari belakang.

Klik.

Suara itu membuat Alin panik. Diputarnya knop pintu kamar mandi. Namun ia tak dapat membukanya.

“Brian.. buka! Apa yang kau lalukan?” Teriak Alin dari dalam kamar mandi.

“Brengsek kau! Aku telah mempercayaimu, ternyata kau perempuan licik! Pengkhianat!” Bentak Brian murka dari balik pintu. “Kupikir kau tulus saat kau bilang kau mencintaiku! Sialan kau!” Brian terus mengumpat, membuat Alin semakin merasa bersalah.

Brak.

Pintu terbuka dengan paksa. Beberapa polisi menodongkan pistol untuk meringkus Brian. Hans melangkah, membuka pintu kamar mandi yang terkunci, mengeluarkan Alin dari kamar mandi. Alin menatap wajah Brian yang begitu merah karena amarahannya. Alin mendekat, menjinjitkan kakinya mendekatkan bibirnya pada telinga Brian.

“Beri aku sepuluh hari. Aku akan membebaskanmu. Saat itu tiba, berikan satu kesempatan lagi untukku, Brian.” Bisik Alin. Polisi akhirnya membawa Brian, meninggalkan apartemen 805 dalam keadaan kosong.

“Dua belas jutamu, hari ini akan masuk ada di rekeningmu. Senang bekerja sama denganmu.” Hans menjabat tangan Alin.

***

“Terima kasih kau telah memberiku kesempatan itu. Maafkan aku.” Ucap Alin lirih.

“Sudahlah, semua ini berkat kau juga. Terima kasih, Sayang. Berkat dirimu yang bisa mengumpulkan bukti bahwa aku tidak bersalah, aku bisa bebas. Jika tidak, aku akan terus menerus hidup seperti di penjara. Kau luar biasa. Bahkan Sherlock Homes pun pasti merasa malu karena kalah denganmu.” Ujar Brian, mengurai senyum di bibirnya. Alin masih terus memandang wajah lelaki yang telah menjadi kekasihnya sejak seminggu yang lalu. Ia memberanikan diri untuk mendekatkan wajahnya, mencium pipi kekasihnya yang tampan itu.

Cup.

Brian sengaja menoleh, membuat bibir mereka saling bersentuhan. Mereka saling bertukar pandang. Seringai jahil tersungging di bibir Brian, membuat wajah Alin bersemu merah. Tangan mereka bertautan satu sama lain. Memandang ombak yang berkejar-kejaran sambil menikmati segarnya kelapa muda.

TAMAT

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer rhy_keel
rhy_keel at I'll Catch You in 20 Days (4 years 13 weeks ago)
70

Alin ada-ada aja deh, pake pura-pura hamil orang nggak dikenal segala. Hahaha... LOL! Bagus, Kak! Semangat terus! Maaf ya cuma bisa comment beginian... *peace*

Writer Shinichi
Shinichi at I'll Catch You in 20 Days (4 years 14 weeks ago)
50

Huft! Penulisan kalimat penjelas, Kakak. Ini masih keliru karena di banyak kejadian, dirimu mengawalinya dengan kapital. Ckckckck. Lama-lama, komentar yang mengomentarin kalimat penjelas begini akan terbaca najong karena saking banyaknya, saking seringnya diulang-ulangin. Ahak hak hak :D Dan wkwkwkwkwkwk! Alasan impulsif! AKU HAMIL! Ahak hak hak. Ya ampuuuunnn! Kalian ini lucu-lucu banget deh. Ahahahahahaha. Dan seperti yang ditanyakan azka, saya ikut baca koment ngeles penulis. Langsung ngakak karena Alin cicilannya banyak. Ahak hak hak. Ya Tuhaaannn! Ampunilah dosa-dosa mereka. Ahak hak hak. Dan yang paling koplak ya, ya komentar kamu yang ngebalas koment azka itu. Ahahahahahaha.
.
Sini, biar saya perjelas: Yang dipertanyakan azka itu lebih ke logikanya, cuy. Ya bisa aja kamu bilang Brian itu kayak asap. tapi logika apa yang dipakai Hans sampe-sampe "memperkerjakan" tokoh Alin yang notabene baru jadi pengangguran yang enggak ketahuan latar belakangnya sebagai apa, untuk menangkap seorang kriminal tampan yang selama ini reputasinya bagaikan "asap"? Logika Hans itu apa? Goblok aja dia? Atau udah mati akal karena banyak cicilan jugak? Ahak hak hak. Sesusah-susahnya seseorang ditangkep, seorang Hans yang agen investiasi, nggak bakal mungkin "menugaskan" Alin yang cicilannya banyak. Cicilannya banyak segala. Saya enggak bisa berhenti ketawa pas baca koment itu. Sumpah. Ahahahahahaha.
.
AMPUUUUNNN! Apa-apaan itu Sejenak ia menundukkan kepala untuk mengheningkan cipta, berdoa memohon keselamatannya?? Ahak hak hak hak. Ampunilah hamba, Tuhaaaannnn! Koplak kalilah ini, Abaaaannngg. Ahahahahahaha. Ada pulak mengheningkan cipta. Eh, asal tau aja ya: hening cipta itu untuk mengenang jasa para pahlawan. Ahak hak hak. Kalau tujuannya untuk yang lain, bukan hening cipta namanya. Wkwkwkwkwkwk. Tradisi anak SD dibawa-bawa di cerpen kriminal niy. Hihihihihi. Padalan, ya, padalan ini, balutan kalimatmu udah cukup apik. Seriusnya dapat. Baku dan sesuai pakem. Jadi, membacanya juga serius. Eh, tau-tau ada mengheningkan cipta segala. Apa enggak bikin ngakak kalakupand jadinya kalok begitu? Ahak hak hak. Dan ya, soal bagai asap, itu emang oke. Tapi bukan sesuatu yang wah kok. Melihatnya dijadiin motif, berasa semakin najong aja. Ahahahahahaha.
.
Saya enggak akan komentarin mendalam soal cerita, karena rasanya itu mustahil dengan keadaaan ngakak berat begini. Lagipula, melihat bagaimana engkau membalas komentar yang masuk, kelihatan kalau dirimu belum cukup mampu masuk ke pembahasan berikutnya. Ahak hak hak. Lebih baik kita koplak-koplakan sahaja. Yang penting hepi! Toh, caramu membuat narasi sudah cukup baik. Runut yang asyik. Selain itu, memang masih banyak yang harus dikerjakan. Tapi tunggu, saya ketawa dulu. Ahak hak hak. Kip nulis dan kalakupand.

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at I'll Catch You in 20 Days (4 years 14 weeks ago)
70

seru sih bacanya meski sambil heran, seperti yang lain, kok bisa seseorang dikasih pekerjaan tanpa jelas pengalaman dulunya gimana, atau dalam bisnis tersebut hal itu lumrah aja, asal ada uang apapun boleh dikerjakan tanpa pandang pengalaman?
tambah aneh ketika Alin menerima begitu aja penjelasan Brian. jadi Brian itu bilang kalau kejahatannya itu salah paham. sebenarnya siapa sih yang ngasih order buat ngincer Brian itu? dikirain dia itu kriminal kelas berat yang kejahatannya udah banyak dan terbukti. bisa aja Brian bohong lo. Alin kok langsung percaya, yang mungkin aja sih kalau misalnya dia emang enggak ada pengalaman ngincer penjahat sebelumnya. ini dari sudut pandangnya Alin. belum dari sudut pandangnya Brian.
alur selanjutnya terasa terlalu cepat bagi saya untuk memahami perkembangan hubungan Alin-Brian ini. kok Alin ceroboh ninggalin hapenya (ya, ya, dia mungkin belum punya pengalaman). kok dengan mudahnya mereka saling jatuh cinta. terus gimana ceritanya itu Brian bisa bebas lagi? bingung, haaa....
soal penulisan, khususnya mengenai kalimat langsung karena ini banyak terjadi dalam cerita ini. sebetulnya ini udah banyak sih yang ngejelasin. saya enggak pandai jelasin, jadi contoh aja, ya, hehehe, gini:
“Aku— aku pernah mendengar kau adalah em… pemerkosa(.)” (K)ata Alin ragu dengan merendahkan suaranya pada kata terakhir. Perhatian penuh Brian ditujukan pada Alin. -> “Aku— aku pernah mendengar kau adalah em… pemerkosa(,)” (k)ata Alin ragu dengan merendahkan suaranya pada kata terakhir. Perhatian penuh Brian ditujukan pada Alin.
“Terima kasih kau telah memberiku kesempatan itu. Maafkan aku(.)” (U)cap Alin lirih. -> “Terima kasih kau telah memberiku kesempatan itu. Maafkan aku(,)” (u)cap Alin lirih.
selengkapnya baca pedoman EyD aja deh, hehehe. itu dasar banget.
semoga karya berikutnya lebih baik :)

Writer puTrI_keg3lapaN
puTrI_keg3lapaN at I'll Catch You in 20 Days (4 years 14 weeks ago)
60

Yup, setuju dengan dua komentar sebelumny. Agak aneh sih kok tiba-tiba si Alin dikasih pekerjaan berbahaya macam ini. Kecuali kalau duluny dy itu polisi atau apa kek gitu. Tapi setidakny Hans jujur sih, daripada dy engga bilang apa-apa. Soal masalah plot bolong, udah dibahas sama kemal dan azkashabrina

Penceritaan kamu bagus, punya gaya penulisan sendiri. Keep it up!

Writer kemalbarca
kemalbarca at I'll Catch You in 20 Days (4 years 15 weeks ago)
70

sebagai cerita pertama, aku harus bilang kalau cara penceritaanmu udah enak banget, itu nilai plus :D
tapi dari segi plot cerita, menurutku banyak banget bolongnya
aneh banget tiba2 Alin ditawarin kerja buat nyari penjahat, rasanya terlalu terburu2, nyari kriminal itu kan bahaya dan perlu kemampuan khusus, masa sih cewe biasa gitu bisa ditawarin gitu aja
terus apa alamaat si Brian ini ada di berkas? kalo gitu kenapa gak ditangkep aja langsung? kenapa harus cewe ini yang menangkapnya?
gak dijelasin juga gimana caranya si Alin ngebebasin Brian, padahal sebelumnya gak ada bukti dan saksi
ya gitu deh, banyak banget pertanyaan yang berputar di kepalaku selagi baca cerita ini, hehe
kamu seperti terlalu pengen bikin si Alin dan Brian bersama, tapi detail lain terlupakan
sori kalo kurang berkenan
pokoknya dirimu harus tetep sering nulis ya :D

Writer Piring Terbang
Piring Terbang at I'll Catch You in 20 Days (4 years 15 weeks ago)

Makasih yaa udah nyempetin waktunya buat komentar :D

iya ya.. mungkin kalo di kepala saya kan si Brian itu riwayatnya pemerkosa. Jadi tadi Hans lagi ngomongin masalah itu sama rekannya, trus liat cewek yang ternyata itu temennya. Dan Alin cerita kalo dia di-PHK dan butuh kerja. Suatu kebetulan akhirnya Hans nawarin kerja Alin buat mancing si Brian. Penggambaran Hans untuk Brian kan spt asap, ada tapi tak bisa digenggam. Nah krn itu Alin yg dibayar buat mancing.
Kalo cara Alin bebasin Brian memang harusnya digambarkan ya? Lain kali bakal saya coba lebih detail lagi.

Makasih banyak masukannya. Salam kenal yaa :D

Writer azkashabrina
azkashabrina at I'll Catch You in 20 Days (4 years 15 weeks ago)
70

Wah ini saya komen perdana di post perdana :) #gakpenting
.
Hmmm, ada beberapa kejanggalan sih. Kayak misalnya, si Alin ini dulunya kerja apa kok begitu kena PHK bisa langsung melarat yang sampe ga tau mau kerja apaan lagi. Terus, kalo di berkas si Brian udah ada alamatnya kenapa Hans harus bayar Alin mahal-mahal? Apa sayanya aja yang kicer kali ya, nggak nangkep penjelasannya, hehe :p
.
Bahasanya sih udah enak. Maaf kalau ada salah kata dan salam kenal ya :)

Writer Piring Terbang
Piring Terbang at I'll Catch You in 20 Days (4 years 15 weeks ago)

Hihihi.. maksudnya sih si Alin itu kan cicilannya banyak. Jadi duitnya abis buat nyicil gono gini, gitu :p
Trus kalo kenapa Hans harus bayar mahal, karena Brian itu susah ditangkep. Kan Hans pernah bilang kalo Brian itu seperti asap, ada tapi ga bisa digenggam.

Nanti di karya selanjutnya saya coba lebih baik lagi. Makasih banyak yaa udah nyempetin waktunya buat ninggalin komentar. Salam kenal juga :D